Senin, 13 Desember 2010

NABI MUHAMMAD MEMILIKI PRIBADI YANG MULIA
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir diutus oleh Allah Swt. adalah merupakan Nabi yang memiliki kepribadian mulia yang segala sendi-sendi kehidupannya dapat dijadikan teladan untuk kehidupan manusia, sebab kehadirannya membawa rahmat untuk seluruh alam. Nabi Muhammad adalah seorang manusia yang pantas untuk menerima ungkapan kata: Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan, senyum simpulnya penuh dengan persahabatan, uluran tangannya adalah nilai-nilai sedekah, langkah kakinya adalah semangat jihad, untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasihat, diamnya adalah merupakan zikir dan fikir. Dialah sosok manusia yang rindu orang manakala tidak bertemu dengannya, tapi malas orang berpisah pada saat sudah bertemu kepadanya.
Mengkaji tentang pribadi Nabi Muhammad sekurang-kurangnya ada lima hal yang perlu di dalami :
1. Pra Kelahirannya.
            Seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah sebelum Nabi Muhammad Saw. Mereka   berjanji untuk mematuhi beliau. Allah Swt. berfiman dalam surat Ali Imran ayat 81 :
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya".  Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".
2. Pra Kenabiannya.
Banyak tanda-tanda kelebihan yang terjadi pada diri Nabi Muhammad dan yang terpenting adalah bahwa beliau memiliki sifat jujur sehingga beliau deberi gelar oleh masyarakat jahiliyah dengan Al-Amin.
3. Masa Kenabian.
            Kehadiran beliau sebagai seorang Rasul bukan merupakan hal yang baru, sebab sebelumnyapun sudah banyak Rasul yang diutus Allah Swt.
Allah berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 9 :
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلاَ بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ مُبِينٌ
Artinya :  Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
Kendatipun para Rasul yang diutus Allah posisi mereka semuanya sama dalam menyampaikan dakwah, namun ada perbedaan antara mereka dengan Nabi Muhammad Saw.  Para Rasul diutus hanya untuk kaumnya, tapi Nabi Muhammad di utus untuk seluruh manusia. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-A’raaf ayat 158 :
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَا ْلاَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ ا ْلاُمِّـيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون                                                               َ
Artinya :  Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".  
4. Akhlak Beliau.
            Nabi Muhammad memiliki akhlak yang mulia dan dia dipuji karena akhlak mulia tersebut, pujian itu tidak hanya datang dari kalangan ummat Islam semata tetapi juga diakui oleh orang-orang yang menentangnya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul pujian tertinggi yang diberikan masyarakat jahiliyah kepadanya adalah dengan sebutan Al-Amin.
Di sisi lain Allah juga memuji dan mengakui keluhuran akhlak beliau dengan firmannya dalam surat al-Qolam ayat 4 :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Dalam hal menempa kepribadian Nabi Muhammad Saw. Beliau diperintahkan Allah untuk meneladani Nabi-Nabi yang telah terdahulu dari beliau. Allah Swt berfirman :

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

Artinya :   Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah     petunjuk mereka.
            Ulama-Ulama tafsir menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad pasti meneladani Nabi-Nabi sebelumnya sesuai petunjuk ayat di atas, karena itu segala kelebihan yang dimiliki Rasul sebelum beliau semuanya terkumpul dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. Misalnya :
  1. Nabi Nuh, dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam menjalankan tugas dakwahnya.
  2. Nabi Ibrahim, dikenal sebagai seorang yang pemurah dan sangat tekun bermujahadah / beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Nabi Daud, dikenal sebagai seorang yang sangat menonjol rasa syukurnya kepada Allah.
  4. Nabi Zakariya, Yahya dan Nabi Isa, Mereka adalah Nabi-Nabi yang selalu berupaya menghindari kenikmatan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah.
  5. Nabi Yusuf, dikenal sebagai seorang yang sangat tampan dan selalu bersyukur terhadap nikmat Allah serta sabar dalam menghadapi cobaan dan fitnahan.
  6. Nabi Yunus, dikenal sebagai seorang yang terkenal dengan kekhusyukannya dalam berdoa.
  7. Nabi Musa. dikenal sebagai seorang yang pemberani dan gagah serta memiliki sikap tegas dalam mempertahankan kebenaran.
  8. Nabi Harun, dikenal sebagai seorang yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.
  9. Nabi Ya’qub dan Nabi Ayyub, dikenal sebagai orang-orang yang yang memiliki kesabaran yang tinggi dalam menghadapi cobaan.
  10. Nabi-Nabi yang lain juga memiliki kelebihan dan keistimewaan
            Seluruh sifat-sifat mulia yang mereka miliki juga dimiliki Nabi Muhammad Saw.
5. Fungsi Nabi Muhammad.
            Salah satu fungsi kehadiran Nabi Muhammad adalah sebagai teladan bagi ummatnya dan semua sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh para Rasul sebelum beliau terhimpun dalam pribadi Nabi Muhammad Saw.
            Dari semua sifat terpuji yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. Yang paling menonjol dalam diri beliau ada tiga hal, dan ketiga hal tersebut adalah merupakan pernyataan Allah dalam firmannya dalam surat At-Taubah ayat 128 :
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Kesimpulan dari ayat tersebut adalah :
  1. Nabi Muhammad dapat merasakan penderitaan orang lain, terbukti dalam usahanya beliau selalu membantu orang lain dan menghibur orang yang sedang mengalami kesusahan.
  2. Nabi Muhammad selalu menginginkan agar orang lain mendapat kebaikan, dalam hal ini Nabi Muhammad selalu memberikan masukan-masukan dan nasihat-nasihat yang baik dan selalu merasa sedih bila jalan kehidupan yang ditempuh olah seseorang adalah jalan yang tidak benar. Oleh karenanya Nabi Muhammad selalu menunjukkan jalan yang benar yang harus ditempuh orang tersebut.
  3. Nabi Muhammad sangat tinggi rasa belas kasihannya kepada orang lain, sikap yang seperti ini nampak dalam kehidupannya dimana Nabi Muhammad selalu mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan sikap bahwa beliau selalu mendermakan hartanya kepada orang yang membutuhkannya walaupun sebenarnya beliau masih membutuhkan harta tersebut, di sisi lain beliau juga sangat menyayangi anak-anak terutama anak yatim dan beliau juga selalu membantu kaum yang lemah.
  4. Nabi Muhammad sangat penyayang kepada kaum mukmin, hal ini terbukti bahwa beliau dalam bergaul tidak memilih kawan.          
            Dalam uraian yang telah diungkapkan di atas, di sini perlu ditegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah sama dengan manusia biasa dalam bentuk Basyariyahnya ( dalam bentuk kemanusiaan secara fisik ), tapi beliau berbeda dalam hal Insaniyah ( dalam hal bentuk manusia secara ruhaniyah ), sebab beliau diberi wahyu oleh Allah Swt.
Semoga kita dapat menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan dalam kehidupan, dengan demikian kita berharap memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.


Minggu, 12 Desember 2010

MENUJU RUMAHKU SURGAKU


MENUJU RUMAHKU SURGAKU
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Firman Allah dalam Surat An-Nisa’:1.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .
“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu “.

Keadaan surga yang akan dimasuki oleh orang-orang yang beriman kelak di Hari Akhirat, telah termaktub di dalam Kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah SAW. Lalu bagaimana gambaran atau keadaan "Surga" yang ada di dunia ini, khususnya di rumah kita? Bagaimana hakikat "Rumahku adalah surgaku"?

Kita sering menyaksikan, bahkan mungkin mengalami di dalam keluarga kita, di rumah kita, suatu keadaan yang membuat dada menjadi sempit, tegangnya urat leher, naiknya darah ke ubun-ubun, gemertaknya gigi sembari mengepalnya tangan. Itulah keadaan yang diakibatkan oleh berbagai ulah anggota keluarga yang tidak pada tempatnya. Orang sering mengatakan:"Rumahku bagai neraka, yang membuat seluruh anggota keluarga tak kerasan tinggal di dalamnya.Ia penuh dengan malapetaka. Bahtera rumah tangga terhempas karenanya. Cita-cita keluarga hanya tinggal angan-angan belaka. Alangkah sengsara hidupnya". Percekcokan, saling ejek, egoistis, piring terbang sering terjadi, hingga kekerasan fisik mewarnai perjalanan rumah tangga yang jauh dari sakinah mawaddah dan rahmah. Kita semua tentu saja tidak menginginkan hal itu terjadi. Akan tetapi seringkali anggota sebuah rumah tangga tidak mampu menahan hal tersebut, sekaligus tidak memiliki bekal yang cukup dan hidayah dari Allah untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah dan rahmah, untuk merasakan “ Rumahku adalah Surgaku.

Di awal tulisan ini telah dikemukakan firman Allah dalam surat An-Nisa’:1.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .
“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu “.

Kita diseru Allah agar bertakwa kepadaNya. Allah SWT. juga menginformasikan bahwasanya diciptakanNya pula pasangan hidup kita masing-masing. Melalui pasangan suami-istri (pasutri) inilah, Allah SWT mengembakbiakkan  manusia yang banyak jumlahnya, laki-laki dan perempuan. Pergaulan suami istri yang Allah taqdirkan membuahkan hasil berupa anak, hendaknya atas dasar takwa, sehingga pergaulan suami istri tersebut benar-benar membuahkan anak-anak shalih dan shalihah. Selanjutnya jumlah manusia yang banyak itu hendaknya tetap menjaga silaturrahmi, menjaga hubungan baik secara harmonis, sebab pada asalnya manusia adalah dari satu keturunan, yaitu dari Adam dan hawa’ . Untuk menjaga pasangan suami isteri dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya agar tetap hidup harmonis, penuh kasih sayang di bawah ridha Allah SWT (mawaddah dan rahmah) yang hal itu merupakan wujud dari rumahku surgaku, maka beberapa kiat berikut ini layak untuk ditempuh yakni:
Pertama, jaga masing-masing hak dan kewajiban anggota rumah tangga.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman :

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Baqarah: 228).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya :
"Dari Mu'awiyah bin Haidah al-Qusyairi diriwayatkan bahwa ia berkata, 'Aku pernah bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa hak istri salah seorang di antara kami atas suaminya?' Beliau menjawab, 'Hendaknya kamu memberinya makan sebagaimana yang kamu makan, memberinya pakaian sebagaimana yang kamu kenakan, dan jangan kamu pukul wajah, jangan menjelek-jelekkan, serta janganlah kamu tidak mengajak bicara kepadanya kecuali di rumah saja'." (HR. Abu Dawud no.2142, hadits ini hasan shahih menurut al-Albani).

Pada hadits yang lain Rasul bersabda, artinya:.
"Ketahuilah, bahwa kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian, dan istri-istri kalian juga memiliki hak terhadap diri kalian. Adapun hak kalian terhadap istri-istri kalian adalah: Hendaknya mereka tidak membiarkan orang yang tidak kalian sukai untuk tidur di atas tempat tidur kalian, dan tidak mengizinkan orang yang tidak kalian sukai masuk ke rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adalah: Hendaknya kalian memberi pakaian dan makanan yang baik kepada mereka." (HR. at-Tirmidzi no.1161,).

Kedua, saling nasihat-menasihati di dalam kebenaran, kesabaran, dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dan dengan cara yang lembut. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr : 2-3). 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
" Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (Ali Imran: 159).

Saling menasihati merupakan pilar penjaga harmonisasi keluarga, sebab manusia adalah makhluk yang suka lupa. Jika salah satu lupa dan yang lainnya mengingatkan (menasihati) dengan cara yang lembut, maka pasangannya tetap berada di dalam jalan yang benar. Dan ini tentu saja yang dikehendaki bersama.

Ketiga, sebagai pasutri dan anggota keluarga lainnya yang senantiasa menghendaki rumahku adalah surgaku, keluarga yang mulia karena takwa, tinggi derajat karena beriman dan berilmu, maka sudah seharusnya untuk senantiasa berlomba untuk mewujudkan Surga dunia dan akhirat. Sebagaimana yang Allah SWT. gambarkan berikut ini di dalam FirmanNya pada surat Ali Imran:133-135.


وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ الله وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ُ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran: 133-135).

Pasangan suami isteri dan anggota keluarga lainnya yang hendak mewujudkan surga dunia dan akhirat, yang mewujudkan rumahku surgaku, maka hendaknya mereka senantiasa melatih diri:

1. Berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit.
2. Menahan amarah.
3. Memaafkan kesalahan orang lain.
4. Bertaubat.

Keempat, anggota keluarga yang dapat mewujudkan rumahku surgaku adalah mereka yang senantiasa tolong menolong dan bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan. Mereka akan senantiasa menjauhi keburukan, permusuhan, dan perbuatan dosa lainnya. Allah SWT. berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." (Al-Ma`idah: 2).

Berdasarkan kerja sama dan tolong menolong atas dasar kebajikan dan takwa itulah, setiap munculnya problematika keluarga, akan dapat diatasi, dihadapi, dan diselesaikan dengan solusi yang menyenangkan, bukan berakhir dengan mengenaskan.

Itulah sekelumit kiat yang, insya Allah, dapat mengantarkan keluarga kita semuanya menuju kepada cinta sejati, cinta dari Sang Pencipta. Yang apabila kita dapat mewujudkannya, insya Allah dapat membantu untuk meraih ridhaNya, bagaimanapun keadaan kita. Itulah kiat yang dapat mengantarkan kita kepada kebahagiaan yang hakiki dunia dan akhirat. Kebahagiaan yang hanya akan dapat diraih oleh orang-orang yang benar-benar beriman, bertakwa, dan hidup Islami.


Sabtu, 11 Desember 2010

Hasan Al-Bashri



Hasan Al-Bashri Ulama’ Yang Tegas Dan Istiqamah

"Bagaimana mungkin suatu kaum bisa tersesat kalau di antara mereka ada al-Hasan al-Bashri?!" (Maslamah bin Abdul Malik).
Datanglah seorang pembawa kabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya "Khairah" telah melahirkan anak laki-laki. Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu'minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar. Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.
Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya. Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.
Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, "Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?" Khairah menjawab, "Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai."Lalu Ummu Salamah berkata, "Kami memberinya nama dengan memohon barakah dari Allah 'al-Hasan.'" Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo'a memohon kebaikan.
Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu'minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga sampai ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang sahabat besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.
Kaitannya, karena "Yasar" ayah anak bayi ini adalah budaknya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai. Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah. Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya.
Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya. Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits. Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis pada zaman jahiliyah.
Hubungan anak bayi ini dengan Ummul mu'minin bukan hanya sampai di sini. Akan tetapi memanjang lebih jauh dari itu. Khairah ibu al-Hasan waktu itu banyak keluar rumah dalam rangka mengerjakan kebutuhan Ummul mu'minin, dan anak yang masih menetek ini pernah menangis karena lapar dan tangisnya semakin keras, maka Ummu Salamah mengambilnya dan memangkunya dan menyuapinya dengan tetek (mengempeng), supaya anak itu bersabar dan sibuk dengannya sambil menunggu ibunya. Saking cintanya Ummul mu'minin kepadanya, teteknya malah mengeluarkan air susu dan mengalir ke mulutnya, maka anak itu menyusu dan diam karenanya. Maka dengan demikian Ummu Salamah menjadi ibu bagi Al-Hasan dari dua arah; beliau adalah Ibunya karena dia termasuk orang yang beriman (Ummul Mu'minin). Dan beliau adalah Ibunya karena menyusui juga.
Hubungan Ummahat mu'minin yang akrab dan rumah-rumah mereka yang berdekat-dekatan membuat anak kecil yang bahagia ini dengan bebas dapat berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Dia berakhlak dengan akhlak semua para pendidiknya. Mendapatkan petunjuk dari petunjuk yang mereka semua berikan. Sebagaimana dia mengisahkan tentang dirinya, bahwa dia memenuhi rumah-rumah ini dengan gerakannya yang lincah dan permainannya yang gesit, sehingga dia dapat menyentuh atap rumah-rumah Ummahat mu'minin dengan kedua tangannya sambil melompat. Al-Hasan terus bermain di udara yang harum dengan wewangian kenabian yang kemilau dengan sinarnya ini. Dia meneguk dari mata air tawar yang memenuhi rumah-rumah Ummahat mu'minin itu dan berguru kepada pembesar-pembesar sahabat di masjid Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.
Dia meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan selain mereka. Akan tetapi dia banyak bergantung meneladani Amirul mu'minin Ali bin Abi Thalib RA. Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya gambaran orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.
Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya. Dan dari sinilah kemudian kenapa di akhir namanya dicantumkan "al-Bashri", yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri. Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar sahabat dan tabi'in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.
Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang 'Alim umat Muhammad. Darinya dia belajat tafsir, hadits dan Qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya. Sehingga dia menjadi seorang 'alim yang sempurna, dan ahli fiqih yang tsiqah.
Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang. Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat. Mereka menghafal hikmahnya yang bak mencengkeram akal. Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi. Berita tentang al-Hasan al-Bashri telah menyebar di berbagai pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia. Maka para Khalifah dan pejabat mulai bertanya tentangnya dan mengikuti beritanya.
Khalid bin Sufwan bercerita, dia berkata, "Aku telah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hirah (Negeri tua di Irak, kurang lebih sejauh tiga mil dari Kufah namun telah punah dan sekarang tidak ada lagi bekasnya), dia berkata kepadaku: Kabarilah aku wahai Khalid tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya, yang tidak diketahui oleh orang lain." Maka aku berkata, "Mudah-mudahan Allah meluuruskan anda wahai tuan pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepadamu secara yakin. Karena aku adalah tetangganya, teman duduk di majlisnya dan orang Bashrah yang paling mengetahuinya." Maka dia berkata, "Coba ceritakanlah apa yang anda miliki."
Lalu aku berkata, "Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dhahirnya dan ucapannya seperti perbuatannya. Jika menyuruh yang ma'ruf, maka dia adalah orang pertama yang melakukannya. Jika dia melarang kemungkaran, maka dia adalah orang pertama yang meninggalkannya. Sungguh, aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang. Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki." Lalu Maslamah berkata, "Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid!! Bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat kalau di antara mereka ada orang seperti ini?!"
Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak dan, seorang yang sangat kejam dan sombong. Maka al-Hasan al-Bashri adalah termasuk orang langka yang berani menentang kekejamannya tersebut. Beliau membeberkan keburukan perbuatan al-Hajjaj di hadapan orang-orang dan berkata benar di depannya. Di antara contohnya, al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo'akan keberkahan untuknya. Rupanya, al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla.
Ketika al-Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangunan dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah, di antara yang beliau ucapkan adalah, "Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir'aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir'aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu. Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya." Al-Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, "Cukup wahai Abu Sa'id! cukup.!" Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, "Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."
Keesokan harinya, al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, lalu berkata kepada orang-orangnya, "Celakalah kamu! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata tentang kita dengan seenaknya, kemudian tidak seorangpun membalasnya atau mengingkarinya!! Demi Allah, aku akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!" Lalu dia menyuruh supaya pedang dan kempulan darah dihadirkan, lalu keduanya dihadirkan. Selanjutnya, dia memanggil tukang pukul, lalu tukang pukul itu segera berdiri di depannya. Kemudian mengirim sebagian polisinya menemui al-Hasan dan menyuruh mereka supaya membawanya." Tidak lama kemudian datanglah al-Hasan, maka seluruh pandangan orang tertuju padanya. Hati-hati mereka bergetar.
Ketika al-Hasan melihat pedang dan kempulan darah, dia menggerakkan kedua bibirnya, kemudian menghadap kepada al-Hajjaj dengan penuh 'izzah seorang mu'min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da'i yang menyeru kepada Allah." Ketika al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi seperti itu, dia menjadi sangat gentar, lalu berkata kepadanya, "Kemari wahai Abu Sa'id! Kemarilah!", Kemudian terus mempersilahkan jalan kepadanya seraya berkata, Kemarilah!." Sementara orang-orang menyaksikan hal itu dengan penuh rasa kaget dan aneh, hingga akhirnya al-Hajjaj mempersilahkannya duduk di atas permadaninya. Begitu al-Hasan telah duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mulai menanyakan berbagai permasalahan agama kepadanya. Sementara al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.
Lalu al-Hajjaj berkata kepadanya, "Engkau adalah tuannya para ulama' wahai Abu Sa'id.!"
Kemudian dia meminta supaya dibawa ke hadapannya beberapa macam minyak wangi, lalu meminyakinya ke jenggot al-Hasan. Setelah itu, dia berpisah dengannya. Ketika al-Hasan telah keluar, pengawal al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, sungguh, al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan seperti yang baru saja dilakukannya terhadap anda. Aku melihat anda ketika menghadap dan memandangi pedang dan kumpulan darah, seakan anda menggerakkan kedua bibir anda, kiranya apa yang anda baca?"Maka al-Hasan menjawab, "Aku telah membaca (artinya) 'Wahai Pembelaku ni'matku, dan pelindungku pada saat aku dalam bahaya, jadikanlah siksanya dingin dan keselamatan kepadaku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan kepada Ibrahim.'" Sikap al-Hasan al-Bashri seperti ini seringkali terjadi dengan para penguasa dan pejabat, dan dia keluar dari setiap kejadian tersebut dalam kondisi seorang yang Agung di mata penguasa, besar hati dengan Allah serta terjaga di bawah naungan perlidungan-Nya.
Contoh lainnya, setelah Khalifah yang zuhud, Umar binAbdul Aziz berpulang ke rahmatullah dan kekuasaan berpindah ke tangan Yazid bin Abdul Malik, dia menugaskan Umar bin Hubairah al-Fazari sebagai gubernur Irak. Kemudian dia memberinya mandat yang lebih, di samping menjadikan kawasan Khurasan di bawah kekuasaannya. Cara Yazid memperlakukan rakyatnya tidak sama seperti yang pernah dilakukan pendahulunya yang agung. Dia sering mengirim surat kepada Umar bin Hubairah dan memerintahkannya supaya melaksanakan apa yang ada di dalamnya, meskipun terkadang harus melanggar hak. Untuk itu, Umar bin Hubairah mengundang dua orang, yaitu al-HAsan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan "asy-Sya'bi." Dia berkata kepada keduanya, "Sesungguhnya Amirul mu'minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan manusia mentaatinya. Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga kawasan Persia. Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya aku melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya. Karena itu, apakah anda berdua dapat memberikan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?"

Maka asy-Sya'bi menjawab dengan jawaban yang lunak terhadap Khalifah dan memberikan toleransi kepada gubernur. Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, "Apa pendapatmu, wahai Abu Sa'id?" Maka Al-Hasan menjawab, "Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam masalah Yazid dan janganlah kamu takut Yazid dalam masalah Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla dapat melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya dikhawatirkan akan datang padamu malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak pernah durhaka terhadap Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadanya, lalu malaikat itu menurunkanmu dari kursimu ini dan memindahkanmu dari istanamu yang luas ke kuburanmu yang sempit. Bila di sana sudah tidak ada Yazid, maka yang ada hanya amalmu yang kamu gunakan untuk menyalahi perintah Tuhannya Yazid. Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya jika kamu bersama Allah Ta'ala dan mentaati-Nya, maka Allah akan menghindarkanmu dari siksa Yazid bin Abdul Malik di dunia dan akhirat. Dan jika kamu bersama Yazid dalam bermaksiat kepada Allah Ta'ala, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkan kamu kepada Yazid. Dan ketahuilah wahai Ibn Hubairah, bahwasanya tidak ada ketaatan kepada makhluk manapun dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla."
Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya'bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya. Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid. Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan tentang apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak. Maka asy-Sya'bi menoleh kepada mereka seraya berujar, "Wahai manusia! Barangsiapa di antara kamu semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melakukan hal itu. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah adalah perkataan yang keluar lantaran kejahilanku.
Aku menginginkan dari apa yang aku katakan untuk mencari wajah Ibnu hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapatkan wajah Allah. Maka Allah menjauhkan aku dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya."
Al-Hasan al-Bashri berumur panjang, yaitu hingga mencapai umur sekitar 80 tahun. Dan, dalam umur yang sepanjang itu dia mengisi kehidupan dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih.
Warisan paling besar yang dia wariskan kepada generasi demi generasi adalah nasehat dan wasiatnya yang ikut bergulir seiring dengan putaran hari-hari di dalam belahan-belahan hati manusia. Dan nasehat-nasehatnya yang menggetarkan hati dan terus akan menggetarkannya, membuat air mata bercucuran, menunjukkan si tersesat ke jalan Allah dan mengingatkan si terperdaya dan lalai dengan hakikat dunia serta tujuan keberadaan manusia di dunia ini seakan menjadikan orang tengah hadir bersamanya.
Di antara contohnya, perkataannya kepada orang yang bertanya tentang dunia dan hakikat keberadaannya, "Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat. Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!! Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan.? Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih."
Contoh perkataannya yang lain, yaitu ketika ada orang lain bertanya tentang kondisinya dan kondisi orang-orang,
"Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!! Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian. Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, 'Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!! Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.'"

Pada hari Jum'at bulan Rajab tahun 110 H, al-Hasan al-Bashri memenuhi panggilan Tuhannya. Dan pada pagi harinya, tersebarlah berita wafatnya di kalangan orang-orang sehingga Bashrah bergetar karena kematiannya. Dia kemudian dimandikan, dikafani dan dishalati setelah shalat Jum'at di masjid Jami' yang sepanjang hidupnya dia habiskan waktunya di sana sebagai seorang 'alim, pendidik dan penyeru kepada Allah. Kemudian orang-orang semuanya mengiringi janazahnya. Dan shalat ashar pada hari itu tidak dilaksanakan di masjid jami' Bashrah, karena di dalamnya tidak ada seorangpun yang melaksanakan shalat. Dan orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat libur pada hari itu di masjid Bashrah semenjak kaum muslimin membangunnya kecuali pada hari itu, yaitu hari kepulangan al-Hasan al-Bashri menuju sisi Tuhannya.

Catatan:
Sebagai bahan tambahan biografi Al-hasan Al-bashri, lihatlah:
  • Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa'd: 7/156, 179, 182, 188, 195, 197, 202, dan halaman-halaman lainnya (Lihat daftar isi di jilid terakhir)
  • Shifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi: 3/233- 237 (Cetakan Dar An-Nashir di Halb)
  • Hulliyatu Al-Auliya, oleh Al-Ashfahani: 2/131-161.
  • Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath: 123, 189, 287, 331, 354, 189.
  • Wafayat Al-A'yan, oleh Ibnu Khalkan: 1/354-356.
  • Syadzarat Adz-Dzahab: 1/138-139.
  • Mizan Al-I'tidal: 1/254 dan setelahnya.
  • Amali Al-Murtadla: 1/152, 153, 158, 160.
  • Al-bayan wa At-Tabyin: 2/173 dan 3/144.
  • Al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib: 235 dan 378.
  • Kitab Al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib: 108-109.
  • Al-Hasan Al-Bashri, oleh Ihsan Abbas.
Di Posting Kembali Oleh : Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti.

Kamis, 09 Desember 2010

HADIAH TERBAIK DAN TERBURUK


HADIAH TERBAIK DAN TERBURUK
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Seorang ibu yang dermawan menghadiahkan seekor kambing kepada Luqman Al-Hakim. Ibu tersebut berpesan, “ Sembelihlah kambing ini dan berikan saya bahagian yang terburuk daripadanya untuk saya makan.” Luqman pun menyembelih kambing tersebut, kemudian mengambil hati dan lidah kambing yang sudah dia sembelih, lalu mengirimkannya kepada ibu tersebut.

Beberapa hari kemudian, ibu tadi datang kembali kepada Luqman dan menghadiahkan seekor kambing. Kali ini dia berpesan agar Luqman menyembelih kambing tersebut dan mengirimkan bahagian yang terbaik dari daging kambing yang di sembelih. Setelah kambing disembelih, Luqman kembali mengirimkan hati dan lidah kambing kepada ibu tersebut.

Sang ibu merasa heran, diapun bertanya pada Luqman. Kenapa Tuan mengirimkan kepada saya hati dan lidah kambing ketika saya meminta bahagian yang terburuk dari kambing yang di sembelih?. Dan pada saat saya meminta kepada Tuan agar dikirimkan bahagian kambing yang terbaik Tuan juga mengirimkan kepada saya hati dan lidahnya ? Apa maksudnya Tuan ?

Luqman menjawab, “ Hati dan lidah adalah sumber kebaikan dan keburukan “.
Apabila hati dan lidah seseorang baik maka anggota tubuhnya yang lain akan menjadi baik, tetapi apabila hati dan lidah tidak baik maka anggota tubuh yang lain juga ikut menjadi tidak baik “.

Mendengar jawapan tersebut, sang ibu pun mengerti apa yang dimaksud oleh Luqman, bahwa hati dan lidah merupakan faktor untuk kebaikan atau keburukan dalam kehidupan seseorang.

Untuk itu mari kita jaga hati agar kita selalu termotipasi untuk melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan, dan mari kita jaga lidah agar selalu bertutur kata dengan tutur kata yang baik.

Ingatlah……! Seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang……………!
·         Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan.
·         Senyum simpulnya penuh dengan persahabatan.
·         Uluran tangannya adalah nilai-nilai sodaqoh.
·         Langkah kakinyanya semangat jihad.
·         Ungkapan kata-katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasihat.
·         Diam-nya merupakan zikir dan piker.
Ketahuilah ungkapan kata di atas dapat terwujud manakala hati sudah tertata dengan baik.

Semoga kita senantiasa diberi Allah hidayah, sehingga hidup yang sedang kita jalankan selalu menuju keridhaan Allah SWT.

Amiin Ya Robbal ‘Alamiin