Jumat, 24 Desember 2010

MERAIH GELAR IBADUR RAHMAN

ORANG-ORANG YANG MENDAPAT GELAR 'IBADURRAHMAN
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Ada kelompok manusia yang dengan ibadahnya kepada Allah dan perilaku hidupnya yang baik, Allah mencintai mereka, sehingga mereka mendapat julukan “  Ibadur-Rahman ” ( Hamba yang di sayang Allah ). Perilaku sehari-hari mereka sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surat Al-Furqon : 63-76.

1.  Hidup tidak menyombongkan diri dan dalam bertutur kata selalu dengan bahasa yang benar dan penuh dengan kelembutan.
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 63.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الارْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلاماً ﴿٦٣﴾

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

2.      Aktif melaksanakan Qiyamullail ( shalat Tahajjud ) .
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 64.

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّداً وَقِيَاماً ﴿٦٤﴾

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.
( Maksudnya orang-orang yang sembahyang  tahajjud di malam hari semata-mata karena Allah ).

3.      Selalu berdo’a kepada Allah agar dihindarkan dari azab neraka, sebab mereka menyadari azab neraka sangat keras dan pedih sekali.
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 65-66.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَاماً ﴿٦٥﴾ إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرّاً وَمُقَاماً ﴿٦٦﴾

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

4.       Dalam menjalani kehidupan sehari-hari senantiasa menunjukkan sikap sederhana.
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 67.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً ﴿٦٧﴾

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

5.      Tidak menyekutukan Allah dalam penyembahan kepadaNya dan tidak melakukan pembunuhan terhadap jiwa manusia kecuali dengan alasan yang dibenarkan, dan tidak melakukan perbuatan zina. Sebab mereka menyadari berbuat syirik kepada Allah, membunuh dan bezina merupakan perbuatan yang besar dosanya di sisi Allah, bahkan Allah akan menimpakan azab yang berlipat ganda terhadap mereka. Hanya orang-orang yang mau bertobatlah yang dapat terhindar dari azab Allah dan taubat yang dilaksanakan di iringi pula dengan amal-amal yang shalih.
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 68-71.

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً ﴿٦٨﴾ يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً ﴿٦٩﴾ إِلاَّ مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً ﴿٧٠﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً ﴿٧١﴾
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya),
(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
6.      Tidak menjadi saksi palsu, tidak menjadi saksi palsu, dan tetap menjaga kehormatan dirinya manakala bertemu dengan orang-orang yang melakukan perbuatan yang tidak bermanfa’at. Firman Allah pada surat Al-Furqon : 72

وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً ﴿٧٢﴾

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

7.      Mau menerima nasihat melalui ayat-ayat Allah yang di sampaikan kepada mereka.
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 73.

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمّاً وَعُمْيَاناً ﴿٧٣﴾

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

8.      Selalu berdoa kepada Allah agar istri ( pasangan hidupnya ) serta anak keturunannya menjadi penyejuk jiwa, penyenang hati, menjadi cahaya mata dan belahan jiwa. 
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 74.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Terhadap orang-orang yang memiliki prilaku hidup seperti yang tersebut di atas, Allah akan memberikan kemuliaan yang tinggi dan tempat terhormat nantinya di akhirat, dengan mempasilitasi mereka dengan kenikmatan yang ada di dalam Syurga. Di sisi lain Allah mengecam sikap orang-orang musyrik akibat dari kemusyrikan mereka  dan kelak di akhirat Allah tidak mempedulikan mereka.
Firman Allah pada surat Al-Furqon : 75- 77.

أُوْلَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلاَماً ﴿٧٥﴾ خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرّاً وَمُقَاماً ﴿٧٦﴾ قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلاَ دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَاماً ﴿٧٧﴾                                                     
Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)".
Semoga kita ter-masuk orang-orang yang tergolong sebagai “ IBADUR ROHMAN “, yaitu hamba-hamba yang memperoleh kasih sayang dari Allah SWT.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

***

Kamis, 23 Desember 2010

AWAS TIPUDAYA SYAITAN

LANGKAH-LANGKAH SYAITAN  MENYESATKAN MANUSIA
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Syaitan adalah musuh sejati manusia, maka hendaklah manusia berhati-hati serta waspada terhadap segala tipu daya yang mereka lancarkan untuk menyesatkan manusia. Di antara jurus dan tipu daya yang mereka lancarkan ialah melalui celah perbuatan dosa dan maksiat dengan berbagai tingkatannya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya Madaarijus Saalikin telah menjelaskan beberapa jurus dan tipu daya syaitan dalam menjerumuskan manusia. Berikut ini langkah-langkah syaitan dalam menyesatkan manusia:
Pertama: Kekufuran dan Kesyirikan.
Yaitu ajakan syaitan kepada manusia agar kufur kepada Allah subhanahu wata’ala, keluar dari agama-Nya dan mengingkari sifat-sifat-Nya. Di antara bentuk kekufuran yang terkadang masih samar bagi kebanyakan manusia adalah ajakan berbuat kesyirikan.
Syirik merupakan ajakan dan tipu daya syaitan yang terbesar untuk menyesatkan manusia, karena syaitan menyadari dosa syirik tidak akan di ampuni oleh Allah subhanahu wata’ala.
Apabila syaitan itu menang dan mampu menggelincirkan manusia dalam langkah ini, maka permusuhan antara dia dengan manusia akan berkurang. Dia akan menjadikan manusia yang menyambut ajakan dan seruannya tersebut sebagai bala tentaranya (agen-agen syaitan), akan tetapi di hari Kiamat nanti syaitan akan berlepas diri dari tanggung jawabnya terhadap manusia.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأَمْرُ إِنَّ اللّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلاَّ أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُواْ أَنفُسَكُم مَّا أَنَاْ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
 Artinya,
“Dan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, syaitan berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada-mu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tiada kekuasaan bagiku terhadapmu, melain-kan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu menjadikan aku sekutu (bagi Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya hamba-hamba yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22)
Akan tetapi, jika manusia selamat dan tidak tertipu dengan tipu dayanya, karena mendapatkan ilmu dan hidayah dari Allah subhanahu wata’ala, maka syaitan akan berusaha menempuh langkah berikutnya.
Ke Dua: Berbuat Bid’ah.
Apabila syetan gagal menyesatkan manusia dengan cara yang pertama, yakni kemusyrikan maka dia akan berusaha menyesatkan manusia dengan cara yang lain, yaitu melalui celah kebid'ahan. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui perbedaan antara sunnah dengan bid'ah. Bujukan dan ajakan syaitan dalam langkah yang ke dua ini, bisa dengan cara meyakini sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran yang dengan hal itu Allah subhanahu wata’ala telah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, yaitu dengan cara membujuk manusia tersebut agar beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara-cara yang tidak diizinkan oleh-Nya.
Dalam hal ini Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Bid'ah lebih disenangi oleh Iblis daripada perbuatan maksiat, karena pelaku maksiat biasanya bertaubat, sedangkan pelaku bid'ah tidak bertaubat.”
Apabila manusia itu selamat dari bujukan dan tipu daya yang ke dua ini dan dia mampu melawannya dengan cahaya Sunnah, berpegang teguh dengannya, mengikuti dan berjalan di atas manhaj salaf yaitu generasi terbaik dari ummat ini dari kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka syaitan akan menempuh langkah yang ke tiga.

Ke Tiga: Dosa Besar.
Apabila syaitan merasa gagal menjerumuskan manusia lewat jalan kebid'ahan dalam agama, maka dia akan menempuh cara yang lain yaitu mengajak manusia untuk berbuat dosa besar. Syaitan sangat bernafsu untuk menjatuhkan seorang insan ke dalam dosa besar. Jika dia seorang alim yang menjadi panutan ummat, maka nantinya dosa yang dia perbuat tersebar di kalangan ummat, sehingga ummat akan lari dan tidak lagi mau mengambil ilmu darinya. (Tafsir Qayyim hal. 613).
Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Dosa besar adalah setiap dosa yang Allah tutup akhirnya dengan ancaman neraka, murka, laknat dan adzab-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari 5/41).
Maka sudah semestinya setiap muslim untuk menjauhi dosa-dosa besar, agar selamat dari laknat Allah dan ancaman adzab-Nya. Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala berikut ini:
إِن تَجْتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلاً كَرِيماً
Artinya, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang untuk mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia(surga).” (QS. An-Nisa`: 31).
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan, “Berdasarkan nash ini, Allah menjamin akan memberikan jaminan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar untuk memasukkannya ke dalam surga.” (Al-Kabaair tahqiq Sayyid Ibrahim, hal 13).
Orang mukmin yang melakukan dosa besar adalah orang mukmin yang keimanannya sedang menurun. Apabila dia meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dari dosanya, maka perkaranya dikembalikan kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika Allah berkehendak mengadzabnya, maka Dia akan mengadzabnya sesuai dengan dosa yang dia perbuat, kemudian dimasukkan ke dalam surga. Jika Allah subhanahu wata’ala berkehendak mengampuni, maka Dia akan mengampuni dan tidak menyiksanya.
Inilah langkah ke tiga yang ditempuh oleh syaitan, apabila dengan cara ini dia tidak mampu menjerumuskan manusia, maka syaitan itu akan mengambil langkah yang ke empat, yaitu melakukan dosa-dosa kecil.
Ke Empat: Dosa Kecil.
Apabila syaitan telah putus asa untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, maka dia akan membujuknya untuk melakukan dosa-dosa kecil yang apabila terkumpul pada diri manusia, maka dapat membinasa-kannya. (Tafsir Qayyim hal. 613)
Banyak sekali hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang memberikan peringatan akan bahaya dosa-dosa kecil. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadaku, “Wahai 'Aisyah, waspadalah dari meremehkan amalan-amalan, karena ssungguhnya amalan itu akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak.” (HR. Abu Dawud, Darimi, Ibnu Hibban, Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)
Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Dosa-dosa kecil apabila banyak dan dilakukan terus menerus bisa menjadi besar.” (Fathul Bari 11/337).
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Setan akan senantiasa membujuk manusia untuk melakukan dosa kecil hingga dia menganggap enteng dosa tersebut, maka orang berbuat dosa besar dengan rasa takut masih lebih baik ketimbang orang yang meremehkan dosa walaupun kecil.” (Tafsir Qayyim hal. 613).
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang mukmin hendaklah menyikapi dosanya bagaikan orang yang sedang duduk di bawah gunung besar yang nyaris menimpanya, sedangkan orang yang meremehkan perbuatan dosa melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya sekali kibas ia akan terbang.” (riwayat al-Bukhari).
Bilal Bin Sa'id rahimahullah berkata, “Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tapi perhatikanlah kepada siapa engkau berbuat maksiat”.
Semoga kita selamat dari segala langkah-langkah syaitan untuk menjurumuskan kita dari jalan kebenaran, karena itu selalulah memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari godaan syaitan.
Diantara doa yang dimaksud termuat dalam Al-Qur’an surat al-Mukminun :97-98:
وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ . وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ
Artinya : “ Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku ".

Rabu, 22 Desember 2010

PERANAN AGAMA DALAM MEMBENTUK KELUARGA

PERANAN AGAMA DALAM MEMBENTUK KELUARGA
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti
Keluarga adalah kelompok terkecil dari kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dari kelompok terkecil ini akan berkembang menjadi kumunitas masyarakat yang besar bahkan menjadi kelompok masyarakat yang dapat membentuk suatu Negara. Oleh sebab itu baik atau buruknya kehidupan berbangsa dan bernegara sangat erat kaitannya dengan pembentukan keluarga yang baik dimana masing-masing anggota dalam keluarga tersebut memiliki kepribadian dan mentalitas yang baik.
Islam sebagai agama yang kita yakini adalah agama yang sempurna, ajarannya mengatur dan menyentuh segala aspek kehidupan manusia, baik dalam kaitan hubungan manusia kepada Allah sang pencipta, hubungan manusia kepada sesama manusia maupun hubungan manusia kepada alam lingkungannya, termasuk dalam hal kehidupan berkeluarga ajaran Islam memberikan tuntunan bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan dalam keluarga sehingga keluarga yang dibina menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Rahmah. Untuk itu Islam mengajarkan kepada masing-masing anggota keluarga memiliki hak dan tanggung jawab.
Suami sebagai kepala keluarga memiliki hak dan tanggung jawab, Isteri sebagai pendamping suami juga memiliki hak dan tanggung jawab, demikian pula anak-anak dan anggota keluarga lainnya memiliki hak dan tanggung jawab, apabila masing-masing anggota keluarga dapat menjalankan tanggung jawabnya maka dapat diyakini kehidupan keluarga tersebut akan sampai kepada pelabuhan Sakinah, Mawaddah dan Rahmah yang sasarannya tidak lain adalah memperoleh kebahagiaan.
Berbicara masalah pembinaan keluarga tentu semua kita selalu mendambakan rumah tangga yang bahagia, rumah tangga yang didalamnya terasa ketenangan dan kedamaian. Bila rumah tangga yang seperti ini yang kita dambakan, adakah yang bisa kita jadikan acuan sebagai teladan dalam mengharungi kehidupan berkeluarga…?
Tentu dalam hal ini Rasulullah adalah sosok yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membina keluarga yang sendi-sendinya adalah didasari dengan pengamalan ajaran agama. Suatu hal yang sangat menarik dari ungkapan Rasul dalam kehidupan rumah tangganya adalah “ Rumahku adalah Surga untukku “. Kenapa Rasul sanggup menyatakan demikian..?
Jawabannya tidak lain adalah bahwa Rasul mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di dalamnya. Pertanyaannya selanjutnya… Kenapa Rasul memperoleh ketenangan dan kebahagian di dalamnya…? Jawabannya adalah karena di dalam kehidupan keluarga Nabi Muhammad terdapat faktor-faktor untuk itu.
Sekurang-kurangnya ada tiga faktor yang harus ada dalam membina kehidupan keluarga :
Pertama : Ada cinta dan kasih sayang.
Dalam kehidupan berkeluarga, disana harus ada cinta dan kasih sayang yang tulus. Seorang suami harus mencintai Isteri dan anak-anaknya, demikian juga Isteri harus mencintai suami dan anak-anaknya, anak-anak juga harus mencintai ayah dan ibunya. Apabila masing-masing anggota keluarga saling mencintai maka kedamaian akan selalu terasa dalam keluarga tersebut, sehingga yang akan terjadi adalah, suami selalu rindu kepada Isteri dan anak-anaknya manakala beberapa jam tidak bertemu, demikian pula sebaliknya Isteri juga selalu rindu dengan suami dan anak-anaknya bila beberapa saat tidak bertemu, dan seterusnya anak-anak juga demikian, selalu merasa rindu bila tidak bertemu dengan orang tuanya. Bila hal ini sudah tercipta maka dapat disimpulkan bahwa rumah mereka adalah sebagai muara kasih sayang, tempat pertemuan dan tempat berkumpul keluarga dan tidak akan pernah jenuh pada saat berada di rumah, karena di dalamnya pasti ada canda dan tawa yang selalu menghiasi kehidupan keluarga tersebut, semua itu tentu didasari dengan cinta dan kasih sayang yang terjalin antara sesama keluarga.
Penomena yang banyak terjadi dewasa ini adalah banyak anggota keluarga yang tidak betah tinggal di rumah, yang masing-masing anggota keluarga mencari pola kehidupan sendiri-sendiri dan mencari kesenangan di luar rumah, hal tersebut terjadi dengan berbagai faktor diantaranya mungkin disana tidak didapatkan kasih sayang.
Bila sudah demikian jadilah rumah tangga tersebut kandas diperjalanan sebelum sampai ke tempat tujuan yang dicapai. Untuk itu Islam mengajarkan agar di rumah tersebut terjalin cinta dan kasih sayang, dan hal seperti itulah yang terjadi dalam lingkungan keluarga Rasulullah, dimana Rasul memberikan cinta dan kasih sayang kepada Isteri dan anak-anaknya bahkan kepada cucunya tercinta Hasan dan Husain. Demikian pula sebaliknya mereka juga sangat mencintai Nabi Muhammad saw.
Kedua : Pemahaman dan pengamalan nilai-nilai ajaran agama.
            Masing-masing anggota keluarga tidak boleh melupakan tentang kewajibannya menjalankan ajaran agama yang diyakini, dalam hal ini adalah ajaran Islam, sebab orang-orang yang selalu melaksanakan amal ibadah kepada Allah Insya Allah akan mendapat ketenangan batin dan mendapat kemudahan dalam mengatasi  problem-problem kehidupan, karena Allah berjanji melalui firmannya dalam Al-Qur’an surat At-Tholaq ayat 2:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Artinya : “ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari kesulitan-kesulitannya) dan memberikan rezki dari sesuatu yang tidak pernah dia duga samasekali “.
Orang yang rajin melakukan ibadah akan terbuka pintu hatinya untuk memahami makna hidup yang sesungguhnya, sehingga dia sadar bahwa hidup ini adalah ujian, sehingga andai dia tergolong orang yang sukses dan bergelimang dengan harta kekayaan, dia sadar bahwa dia sedang diuji Allah dengan kekayaan tersebut. Andai dia tergolong orang yang susah dan miskin, dia juga sadar bahwa dia sedang diuji Allah dengan kesusahan tersebut. Hanya sebagai seorang Muslim bagaimana kita menyikapi ujian tersebut, atau dengan kata lain andai kita diuji Allah dengan berbagai kekayaan dan fasilitas hidup yang cukup, mampukah kita bersyukur seperti syukurnya nabi Sulaiman. Namun di sisi lain andai kita diuji oleh Allah dengan berbagai kesusahan mampukah kita menyikapinya dengan bersabar seperti sabarnya nabi Ayyub. Bila sikap hidup seperti ini sudah dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga dalam kehidupan rumah tangga maka dapat diyakini anggota keluarga tersebut akan memperoleh ketenangan, sebab itulah peranan agama sangat menentukan dalam pembentukan keluarga.
Ketiga: Saling menghargai.
Anggota keluarga terdiri dari Suami, Isteri dan anak-anak, dalam kehidupan berkeluarga masing-masing memiliki tanggung jawab. Dalam menjalankan tanggung jawab tersebut tentu kita sebagai manusia memiliki kekurangan, terhadap kekurangan tersebut hendaknya masing-masing anggota keluarga dapat memakluminya dan hendaknya saling menutupi, kelemahan suami hendaknya dimaklumi sang Isteri dan dia berusaha untuk menutupinya, jerih payah yang sudah dilakukan oleh suami untuk kepentingan keluarga hendaknya selalu dihargai Isteri, demikian pula sebaliknya kelemahan sang Isteri hendaknya dimaklumi oleh suami dan dia juga berusaha untuk menutupinya, jerih payah yang dilakukan oleh si Isteri juga dihargai oleh suami, demikianlah seterusnya, sebab manusia tidak ada yang sempurna. Apabila sikap saling menghargai dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga maka disana akan ada kedamaian, disana akan ada kebahagian dan disana akan ada ketenangan, Insya Allah keluarga yang seperti ini akan sanggup mengatakan “ Rumahku adalah syurga untukku “.
Di atas telah dikemukakan bahwa anggota rumah tangga adalah terdiri dari Suami/Ayah, Isteri/ Ibu dan anak-anak. Anak-anak adalah cikal bakal penerus generasi yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan agama, bangsa dan Negara. Perkembangan kepribadian mereka sangat erat kaitannya dengan pola pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini oleh kedua orang tuanya. Oleh sebab itu perhatian kita terhadap pendidikan anak-anak terutama pendidikan agama tidak boleh diabaikan. Rasul menyatakan dalam sabdanya.
Artinya : “ setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menjadikan dia menjadi Majusi, menjadi Nasrani dan menjadi Yahudi “.
Orang tua berkewajiban memberikan pendidikan agama kepada anaknya sejak dini agar kelak anak yang dilahirkan menjadi anak-anak yang shaleh dan shalehah, menjadi cahaya mata – belahan jiwa. Dalam melaksanakan tanggung jawab kita untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anak, agaknya pola pendidikan yang diterapkan Luqman dapat dijadikan sebagai acuan.
Pendidikan dasar agama yang harus diterapkan setiap orang tua kepada anak-anaknya dapat mengacu kepada seorang tokoh pendidikan yang namanya diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, beliau adalah Luqman Al-Hakim.
Siapa sebenarnya Lukman Al-Hakim ?. Banyak riwayat yang mengemukakan tentang pribadi Luqman, diantaranya adalah yang dikemukakan oleh Ibnu Ishak, bahwa dia adalah Luqman Bin Ba’ura bin Nahur bin Tariha, yang hidup dimasa Nabi Ibrahim as, tapi ada yang mengatakan dia hidup dimasa Nabi Ayyub as.
Luqman Al-Hakim bukan seorang Nabi dan Rasul tapi dia adalah seorang ahli hikmah yang kata-katanya penuh dengan hikmah dan nasihat terutama nasihat-nasihat yang selalu disampaikan kepada anak-anaknya. Sebagian nasihat Luqman tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan sebagian terdapat di dalam riwayat-riwayat yang ada.
Pola pendidikan yang ditanamkan Luqman kepada anaknya mencakup empat pundamen dasar, yaitu :
Pertama: Menanamkan akidah / Keimanan yang kokoh kepada anaknya, agar tidak berbuat syirik kepada Allah, hal ini tergambar melalui nasihat Luqman yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya : “ Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang   besar ".
Iman adalah merupakan pundamen dasar dalam kehidupan beragama seseorang, bila imannya kepada Allah sudah kokoh maka dapat diyakini agama seseorang akan baik bahkan keimanannya tersebut yang akan memberikan dorongan kepadanya untuk selalu menunjukkan sikap tunduk dan patuh kepada perintah Allah swt.
Kedua : Menanamkan kesadaran bahwa perbuatannya senantiasa diketahui oleh Allah. Hal ini tergambar melalui firman Allah pada surat Luqman ayat 16 :

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الارْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
Artinya : (Luqman berkata): " Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui “.
Kesadaran seperti ini perlu dalam kehidupan seseorang sebab dengan kesadaran tersebut seseorang akan selalu merasakan bahwa Allah selalu dekat dengannya, dengan demikian kehidupannya akan selalu menunjukkan sikap berhati-hati dalam melakukan sesuatu karena dia selalu merasa diawasi oleh Allah swt.
Ketiga : Menanamkan kepada anaknya agar selalu melakukan ibadah dan melaksanakan Amar Makruf dan Nahi Mungkar. Nasihat Luqman ini juga tercantum pada surat Luqman ayat 17:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الامُورِ
Artinya : “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)   ( Q. S. Luqman :  17 )                                         
Melakukan ibadah adalah merupakan ciri dari seseorang yang menunjukkan sikap patuhnya terhadap ajaran agama yang dia yakini, dalam hal ini adalah ajaran agama Islam. Begitu juga dalam melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar adalah merupakan usaha dalam perjuangan menagakkan agama Allah, sebaliknya dalam melaksanakan Amar Makruf dan Nahi Mungkar  tentu akan banyak mengalami rintangan dan dalam menghadapi rintangan tersebut dituntut  agar kita bersabar.
Ke- empat: Menanamkan Akhlak yang mulia.
Akhlak yang mulia adalah merupakan hiasan hidup bagi manusia, dia akan hidup terpuji apabila memiliki akhlak yang mulia. Setinggi apaun jabatan seseorang, sebanyak apapun kekayaannya dan setinggi apapun ilmu pengetahuannya bila tidak dibarengi dengan akhlak yang mulia dia tidak akan mendapat kemuliaan yang sesungguhnya. Nasihat Luqman yang berkaitan dengan akhlak ini dapat dilihat dalam firman Allah pada surat Luqman ayat 18 – 19 :
وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الارْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ  وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الاصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Artinya :
“ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai “.
Empat pundamen sebagai pola pendidikan dasar yang ditanamkan Luqman Al-Hakim kepada anaknya adalah merupakan hal yang sangat mendasar dan akan membawa pengaruh dalam perilaku hidup bagi seorang anak terhadap perkembangan kehidupannya dimasa yang akan datang.
Nasihat Luqman terhadap anaknya seperti yang telah dikemukakan di atas adalah merupakan nasihat-nasihat Luqman yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, sementara nasihatnya yang lain banyak ditemukan dalam berbagai kitab, diantaranya nasihat-nasihat Luqman yang termuat dalam kitab “ Luqman Al-Hakim dan hikmat-hikmatnya “.
Diantara nasihat yang sangat menarik dalam kitab tersebut antara lain adalah:
يَا بُـنـَيَّ اِنَّ الـدُّنـْيـَا بـَحْـرٌ عَـمِـيْـقٌ غَـرِقَ فِـيْـهِ خَـلْـقٌ كـَثِـيْـرٌ فَـلْـتـَكُـنْ سَـفـِيْـنـَتـَكَ فـِيْـهِ اْلإيْـمَـانُ وَلْـيـَكـُنْ حَـشْـوُهَـا الـتـَّقْـوَى وَلْـيـَكـُنْ شِـرَاعُـهَـا الـتـَّـوَكـُّـلُ فـَعَـسَى اَنْ تـَنـْجُـوْا ومَـا اَظُـنـُّكَ بـِنـَاجٍ.
Artinya :   “ Hai anakku, sesungguhnya dunia ini tidak obahnya seperti lautan dalam yang banyak orang tenggelam di sana, maka gunakanlah iman sebagai bahtera untuk mengharunginya, berisikan takwa dan berlayarkan tawakkal. Semoga kamu selamat, tapi aku sendiri sangsi ( pesimis ) akan keselamatanmu ”.
Kata-kata Luqman yang berisikan mutiara hikmah dan nasihat tersebut sungguh sangat mendasar sekali sebagai bekal dalam kehidupan, yaitu hidup di dunia diibaratkan seperti orang yang sedang mengharungi lautan yang sangat dalam, yang tidak pernah luput dari terpaan ombak dan badai, tentunya perlu perahu yang kokoh dan sanggup menahan hantaman ombak dan badai, punya muatan dan bekal yang cukup agar sampai keseberang dan harus punya layar terkembang yang akan memudahkan untuk mengarahkan perahu agar bisa selamat ke tempat tujuan.
Bila hidup ini diibaratkan seperti mengharungi lautan yang sangat dalam maka seseoramg yang hidup di dunia ini tentu memerlukan perahu yang akan menyelamatkannya, dan perahu yang dimaksud adalah iman. Sebab seseorang yang sudah beriman kepada Allah, jalan kehidupan yang ditempuhnya akan selalu menuju kepada nilai-nilai kebaikan karena imannya yang selalu mendorongnya untuk melakukan kebaikan. Setelah memiliki iman sebagai perahu maka perahu itupun harus diisi dengan muatan sebagai bekal, dan bekal tersebut adalah perilaku takwa dan setelah itu harus memiliki layar yang mampu mengarahkan perahu tersebut mencapai tempat tujuan dan layar tersebut adalah tawakkal kepada Allah swt.
Pola pendidikan yang telah dicontohkan oleh Luqman seperti yang telah diuraikan di atas kiranya dapat menjadi pedoman bagi ummat Islam dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya terutama dalam pendidikan agama, sehingga anak-anak yang merupakan amanah yang dititipkan Allah kepada orang tuanya dapat menjalani kehidupan dengan dasar pengenalan agama yang dilandasi dengan iman dan takwa kepada Allah serta dihiasi dengan akhlak yang mulia. Dengan demikian anak tersebut benar-benar menjadi cahaya mata dan belahan jiwa serta menjadi anak-anak yang dapat dibanggakan orang tuanya bahkan berguna bagi agama, bangsa dan negara. Anak-anak yang seperti ini juga dapat menjadi faktor mendapatkan kebahagian dalam kehidupan berumah tangga.
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas kita dapat menyimpulkan, betapa pungsi  agama sangat menentukan dalam mencapai kesuksesan hidup berumah tangga. Untuk itu mari kita hidupkan gairah pengamalan ajaran agama dalam rumah tangga kita, Insya Allah rumah tangga yang sedang kita kayuh menuju pulau bahagia senantiasa mendapatkan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan dibawah naungan ridho ilahi.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
***