Jumat, 14 Januari 2011

KHUTBAH JUM'AT HARI INI


MENATA DIRI UNTUK HARI ESOK 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)
Bersyukurlah orang-orang yang beriman. Hidupnya begitu mudah, tenang, dan membahagiakan. Kesulitan-kesulitan hidup, tak lebih hanya kerikil-kerikil ujian yang sesekali mengguncang jalan.
Kadang terasa kecil, dan tak jarang lumayan besar. Besar kecil guncangan sangat berbanding lurus dari bagaimana teknik kesiapan diri menghadapi jalan hidup. Di antara teknik kesiapan itu adalah kemampuan kita menata hari esok. Hidup perlu perencanaan. Kitalah yang menyiapkan, apa warna hari esok. Kelak, Allah-lah yang menentukan, apa warna yang cocok buat kita.
Ketentuan Allah selalu yang terbaik buat sang hamba. Dan segala upaya perencanaan itu tak akan pernah sia-sia di sisi Allah.
وَكَذَلِكَ مَكَّنِّا لِيُوسُفَ فِي الأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَاء وَلاَ نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٥٦﴾ وَلَأَجْرُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ﴿٥٧﴾
56. Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
57. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.  (QS. Yusuf: 56-57)
Kesempatan tak Berkunjung Dua Kali
Salah satu nikmat Allah yang teramat mahal adalah kesempatan. Di antara wujud kesempatan buat seorang manusia adalah hidup sebelum matinya, sehat sebelum sakitnya, waktu luang sebelum sibuknya, muda sebelum tuanya, dan kaya sebelum miskinnya. Sayangnya, tak sedikit orang yang akhirnya menyadari bahwa sesuatu adalah kesempatan ketika sesuatu itu telah pergi. Dan kepergiannya itu merupakan kehilangan besar. Saat itulah barui terasa kalau luputnya sang kesempatan merupakan kerugian yang teramat besar.
Seperti itulah, mungkin, ketika orang-orang yang durhaka kepada Allah menghadapi dahsyatnya neraka. Mereka berujar, “Andai kami dulu termasuk orang-orang yang bertakwa. Andai kami tidak mendurhakai Rasul. Andai kehidupan bisa terulang diua kal. Andai….”
Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua nikmat di mana manusia banyak tertipu karenanya: kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhari)
Keadaan hari esok, sejenak apa pun waktu yang dibutuhkan, merupakan rahasia Allah. Tak seorang pun yang tahu bagaimana nasibnya di hari esok. Bahagiakah, dukakah, kemudahankah, atau kesulitan dan musibah. Dan persiapan diri dalam menghadapi segala kemungkinan itu adalah modal yang luar biasa. Masalahnya, bagaimana mungkin persiapan bisa teraih tanpa menyiasati kesempatan yang hampir berlalu.
Di situlah, seorang hamba Allah tak boleh menyia-nyiakan nikmat kesempatan. Sebentar apa pun kesempatan itu hinggap. Dan sekecil apa pun takaran kesempatan terlihat. Ketika masih ada nikmat hidup, persiapkanlah ia buat menghadapi mati. Ketika sehat masih melekat, persiapkanlah ia buat datangnya sakit. Ketika waktu luang menyambang, persiapkan ia untuk menyongsong sibuk. Ketika muda masih ada, persiapkanlah ia buat masa tua. Ketika kaya masih jaya, sisihkanlah ia buat datangnya miskin. Dan, tak ada kemiskinan yang paling menyusahkan selain miskin amal di saat hari kebangkitan.
Perencanaan mengikis penyesalan
Orang-orang yang malas mengelola kesempatan selalu bersembunyi di balik tawakal. “Tidak perlu persiapan, tawakal sajalah,” begitulah mungkin kilah mereka.
Saat itulah, orang-orang yang meyakini hal itu sedang terjebak dalam kebodohannya sendiri. Islam tidak pernah memposisikan tawakal sebagai legitimasi kemalasan. Siapakah hamba Allah yang paling tawakal selain Rasulullah saw. Beliau bersusah payah mencari penghasilan sebelum memasuki gerbang pernikahan. Beliau mengirim Mush’ab bin Umair di Madinah sebelum kaum muslimin Mekah hijrah ke sana. Beliau memerintahkan para sahabat untuk berlatih kemiliteran sebelum memasuki arena peperangan.
Sekecil apa pun perencanaan, setidaknya, ia akan menjadikan seseorang siap menghadapi rumitnya hari esok. Karena kumpulan hari-hari esok tak lain adalah ladang ujian. Semakin banyak hari esok yang kita lalui, akan banyak dan meningkat pula ujian yang akan kita hadapi. Hidup bagaikan meniti anak tangga. Semakin banyak anak tangga yang kita lalui, semakin berat beban yang kita bawa, dan semakin besar risiko jatuh. Dengan begitu, semakin jauh hari esok yang kita rencanakan, semakin matang perhitungan-perhitungan yang mesti kita siapkan.
Penyesalan selalu datang kemudian. la bisa menghapus segala nikmat kesempatan yang telah berlalu. Dan rasanya begitu menyakitkan. Jika penyesalan tak segera berubah perencanaan, maka penyesalan akan selalu muncul di hari esok. Tak ada kata terlambat buat melawan penyesalan selama nikmat kesempatan hidup masih tersedia.
Seorang mukmin tak patut merundung penyesalan yang berkepanjangan. la harus bangkit, siap menyongsong kasih sayang Allah selanjutnya. Inilah ucapan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya yang diabadikan Al-Quran dalam Surah Yusuf ayat 87.
يَا بَنِيَّ اذْهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”
Pagari hidup dengan muhasabah
Muhasabah (meng-introspeksi diri )  adalah pelengkap lain dari kesiapan seorang hamba Allah menghadapi hari esok. Boleh jadi, ada rute hidupnya yang nyaris melenceng dari rel perencanaan. Saat itulah, rute itu bisa diluruskan.
Orang yang hidupnya akrab dengan muhasabah menjadikan hatinya senantiasa hidup dan terjaga. Tidak mati dan lalai. la selalu menghitung-hitung prestasinya di hari ini dengan kemampuannya di hari kemarin. Meningkatkah, sama, atau kian berkurang? Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin. Merugilah orang yang hari ini sama dengan kemarin. Dan celakalah mereka yang hari ini lebih buruk dari kemarin.
Umar bin Khaththab adalah di antara sahabat Rasul yang sukses menata hari-harinya. Sebagai apa pun posisinya, termasuk sebagai seorang khalifah. Di masa kekhalifahannyalah, dunia kian mengenal Islam dengan sukarela atau terpaksa. Dan muhasabah, adalah di antara kunci suksesnya. Beliau r.a. pernah mengatakan, hisablah diri sebelum dihisab orang lain. Atau, evaluasilah diri, sebelum dievaluasi orang lain.
Ketika kita mampu menatap hari esok di hari ini, tataplah dengan penuh perhitungan. Karena hari ini adalah rangkaian buat hari esok. Hari kemarin telah menghilang, dan hari ini tak akan berulang. Pilihlah mutu hari esok ketika ia bisa dipilih di hari ini.
Sumber : Buletin An-Nadwah Edisi 673 Thn XIV
Di Poskan kembali oleh Drs. Haji Khairul Akmal Rangkuti , dengan mengedit seperlunya.

Kamis, 13 Januari 2011

Bukti Kebenaran Al-Qur’an

Pria Menikah Lebih Mapan dari Pria Lajang
( Penelitian yang membuktikan Kebenaran Al-Qur’an )
Lagi-lagi penelitian Barat mendukung keaslian dan kebenaran nash-nash dalam Kitabullah Al Qur’an Al Kariim. Seperti yang dilansir oleh salah satu situs berita Yahoo VIVAnews pada hari Minggu 28 Nopember 2010 bahwa mayoritas responden yang disurvei oleh University of Bielefeld Jerman menunjukkan pria menikah lebih mapan daripada pria lajang. Berikut ini adalah cuplikan britanya :
VIVAnews – Jika Anda pria yang memiliki penghasilan pas-pasan semasa lajang, jangan khawatir tak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga saat masuk dalam jenjang pernikahan. Karena sebuah penelitian mengungkap, kebanyakan pria setelah menikah justru penghasilannya makin melimpah.
Seperti dikutip dari laman Daily Mail, pria yang telah menikah mendapatkan tujuh persen penghasilan lebih banyak dibanding pria lajang.
Kesimpulan itu diperoleh dari survei 12.000 orang Jerman yang dilakukan oleh University of Bielefeld. Survei itu sudah mempertimbangkan perbedaan usia, pendidikan dan pengalaman ketika melakukan penelitian.
Para akademisi itu mengatakan bahwa setelah menikah, pria mengambil kepentingan yang lebih besar dalam keuangan mereka dan melakukan upaya lebih keras untuk memperbaiki nasib.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan pria merasa tidak puas dengan pendapatan sebelumnya semasa lajang. Hal ini menyebabkan pria yang sudah menikah lebih berupaya keras mencari pendapatan lebih tinggi dalam pekerjaan mereka. Hasilnya banyak pria menikah mendapatkan upah lebih tinggi,” kata akademisi di Universitas Bielefeld di Jerman.
Untuk mencapai kesimpulan, para peneliti itu menganalisis data dari 12.245 orang yang diwawancarai dari berbagai  status pekerjaan, jam kerja, pendapatan dan waktu yang dihabiskan untuk tugas-tugas rumah tangga.
Peneliti menyimpulkan: “Perubahan gaya hidup yang berhubungan dengan pernikahan, membuat pengeluaran rumah tangga meningkat, dan seterusnya. Untuk itu, bagi Anda pria lajang yang memiliki pendapatan pas-pasan, jangan ragu melangkah untuk merencanakan pernikahan.
Hal senada telah diwahyukan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an Surat An Nuur ayat 32. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT telah berjanji akan mencukupi kebutuhan bagi orang-orang yang telah menikah dengan karunia-Nya.
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٣٢﴾
Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nuur : 32).
Penelitian para ahli di Jerman ini semakin memperkuat bukti keaslian dan kebenaran Al Qur’an yang telah diturunkan kurang lebih 1400 tahun yang lalu. Hal ini semakin membuktikan bahwa Al Qur’an bukanlah buatan Muhammad saw karena tidak mungkin beliau saw melakukan penelitian seperti yang dilakukan oleh para ahli di Jerman tersebut.


Rabu, 12 Januari 2011

ULAMA' DARI BANJAR INI MERUPAKAN ULAMA' YANG BESAR PENGARUHNYA DI BUMI NUSANTARA - DIANTARA KARYANYA ADALAH KITAB " SABILALMUHTADIN "

Biografi: Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

Beliau dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari kamis dinihari 15 Shafar 1122 H, bertepatan 19 Maret 1710 M. Anak pertama dari keluarga muslim yang taat beragama , yaitu Abdullah dan Siti Aminah. Sejak masa kecilnya Allah SWT telah menampakkan kelebihan pada dirinya yang membedakannya dengan kawan sebayanya. Dimana dia sangat patuh dan ta'zim kepada kedua orang tuanya, serta jujur dan santun dalam pergaulan bersama teman-temannya. Allah SWT juga menganugrahkan kepadanya kecerdasan berpikir serta bakat seni, khususnya di bidang lukis dan khat (kaligrafi).
Pada suatu hari, tatkala Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah) mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, dan sampailah ke kampung Lok Gabang alangkah terkesimanya Sang Sultan manakala melihat lukisan yang indah dan menawan hatinya. Maka ditanyakanlah siapa pelukisnya, maka dijawab orang bahwa Muhammad Arsyad yang pelukisnya. Mengetahui kecerdasan dan bakat sang pelukis, terbesitlah di hati sultan keinginan untuk mengasuh dan mendidik Muhammad Arsyad kecil di istana yang ketika itu baru berusia ± 7 tahun.
Sultanpun mengutarakan goresan hatinya kepada kedua orang tua Muhammad Arsyad. Pada mulanya Abdullah dan istrinya merasa enggan melepas anaknya yang tercinta. Tapi demi masa depan sang buah hati yang diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada agama, negara dan orang tua, maka diterimalah tawaran sultan tersebut. Kepandaian Muhammad Arsyad dalam membawa diri, sifatnya yang rendah hati, kesederhanaan hidup serta keluhuran budi pekertinya menjadikan segenap warga istana sayang dan hormat kepadanya. Bahkan sultanpun memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.
Setelah dewasa beliau dikawinkan dengan seorang perempuan yang solehah bernama tuan "BAJUT", seorang perempuan yang ta'at lagi berbakti pada suami sehingga terjalinlah hubungan saling pengertian dan hidup bahagia, seiring sejalan, seia sekata, bersama-sama meraih ridho Allah semata. Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu ke tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.
Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya Siti Aminah mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya.Deraian air mata dan untaian do'a mengiringi kepergiannya.
Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Diantara guru beliau adalah Syekh 'Athoillah bin Ahmad al Mishry, al Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi dan al 'Arif Billah Syekh Muhammad bin Abd. Karim al Samman al Hasani al Madani.
Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muh. Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.
Menurut riwayat, Khalifah al Sayyid Muhammad al Samman di Indonesia pada masa itu, hanya empat orang, yaitu Syekh Muhammad Arsyad al Banjari, Syekh Abd. Shomad al Palembani (Palembang), Syekh Abd. Wahab Bugis dan Syekh Abd. Rahman Mesri (Betawi). Mereka berempat dikenal dengan "Empat Serangkai dari Tanah Jawi" yang sama-sama menuntut ilmu di al Haramain al Syarifain.
Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang diarak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penantiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya Martapura pusat Kerajaan Banjar pada masa itu.

Sultan Tamjidillah (Raja Banjar) menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kerajaan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultanpun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang 'alim lagi wara'.
Dalam menyampaikan ilmunya Syekh Muh. Arsyad mempunyai beberapa metode, di mana antara satu dengan yang lain saling menunjang. Adapun metode-metode tersebut, yaitu:

1. Bil-hal.
Keteladanan yang baik (uswatun hasanah)yang direfleksikan dalam tingkah-laku, gerak-gerik dan tutur-kata sehari-hari dan disaksikan secara langsung oleh murid-murid beliau.
2. Bil-lisan.
Dengan mengadakan pengajaran dan pengajian yang bisa diikuti siapa saja, baik keluarga, kerabat, sahabat dan handai taulan.
3. Bil-kitabah.
Menggunakan bakat yang beliau miliki di bidang tulis-menulis, sehingga lahirlah lewat ketajaman penanya kitab-kitab yang menjadi pegangan umat. Buah tangannya yang paling monumental adalah kitab Sabilal Muhtadin Littafaqquh Fiddin, yang kemasyhurannya sampai ke Malaysia, Brunei dan Pattani (Thailand selatan).
Setelah ± 40 tahun mengembangkan dan menyiarkan Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya pada hari selasa, 6 Syawwal 1227 H (1812 M) Allah SWT memanggil Syekh Muhammad Arsyad ke hadirat-Nya. Usia beliau 105 tahun dan dimakamkan di desa Kalampayan, sehingga beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan.

KISAH TELADAN


HARITSAH BIN SUROQOH
( PEMUDA YANG MENDAMBAKAN MATI SYAHID )
Suatu hari, ketika Nabi Muhammad saw. berjalan di kota Madinah, beliau berpapasan dengan seorang yang bernama Haritsah bin Suroqoh. “Haritsah! Bagaimana keadaanmu pagi ini?” Rasul bertanya. “Ya Rasulallah! Pagi ini aku merasakan telah mencapai hakikat keimanan,” jawab Haritsah. Mendengar jawaban tersebut, Nabi Muhammad bertanya. “Apakah buktinya dan dimanakah bukti akan hakikat keimananmu?” .

“Cinta pada dunia telah hilang dari dalam diriku sehingga nilai emas dan batu sama saja di mataku. Seolah-olah dalam mataku dengan jelas aku dapat melihat Arasy Allah, penghuni Syurga mendapatkan nikmat di Syurga manakala penghuni Neraka menerima azab di Neraka. Ya Rasulallah! Pada waktu malam aku bermunajat dan di siang hari aku berpuasa,” kata Haritsah.

“(Engkau adalah) hamba Allah yang telah memperoleh cahaya di hatimu. Haritsah, engkau telah menerimanya, maka jadikanlah ia sebagai amalan,” kata Nabi Muhammad kepadanya. “Wahai Nabi Muhammad! Kau doakanlah aku mati syahid di jalan Allah,” kata Haritsah. Kemudian, Nabi Muhammad pun mendoakan agar Haritsah berpeluang untuk mati syahid.

Pada suatu hari Nabi Muhammad dan para sahabat keluar dari kota Madinah untuk berperang melawan orang-orang kafir Quraisy di Perang Badar. Jumlah tentara orang kafir lebih dari 950 orang sedangkan tentara Muslim hanyalah 313 orang tanpa memiliki senjata yang memadai, diantara pejuang itu adalah seorang pemuda yang bernama Haritsah, ( menurut ahli sejarah saat itu usia Haritsah baru 17 tahun ).

Walau jumlah tentara ummat islam tidak sebanding dengan tentara kaum kafir Quraisy, Allah memberikan kemenangan kepada mereka. 70 orang tentara kafir Quraisy terbunuh,70 orang tertawan. Sebanyak 14 orang sahabat mati syahid dan Haritsah adalah salah seorang diantara mereka.

Ketika Nabi Muhammad dan para sahabat kembali dari medan perang, ibu Haritsah menemui Rasul dan bertanya.

Wahai Nabi, dimanakah anakku Haritsah?
Wahai ibu Haritsah! Bersabarlah, sesunggahnya anakmu terbunuh dijalan Allah,” jawab Nabi Muhammad.

Ibunya mengulangi pertanyaan tersebut sampai tiga kali, dan dijawab Rasul dengan jawaban yang sama.
Selanjutnya ibu Haritsah berucap, “Ya Rasulallah, aku tahu kalau anakku terbunuh di jalan Allah kerana itu merupakan keinginannya. Tetapi dimanakah anakku berada, di Syurga atau Neraka?”

Nabi Muhammad menjawab, “Wahai ibu Haritsah, apakah engkau tidak tahu? Sesungguhnya Syurga itu bukan hanya satu, tetapi banyak sekali tingkatannya. Dan sesungguhnya anakmu telah mencapai Syurga Firdaus, yaitu Syurga yang paling tinggi. Mendengar jawaban Nabi Muhammad tersebut Ibu Haritsah merasa gembira mendengarnya, dan menjadi tenanglah hati dan perasaanya.

KISAH TELADAN





KOLEKSI FOTO MUSIBAH BANJIR TANGGAL 6 JANUARI 2011

SUASANA BANJIR MELANDA MEDAN
DI ABADIKAN DALAM FOTO
Bapak Nasrun ( saat berjuang melawan derasnya arus air sambil menikmati rokok )
Sarwo Edi Hrp ( Sedang mengabadikan peristiwa banjir tgl. 6-1-2011, terlihat Bapak Nasrun dan seorang pemuda yang menyelamatkan adiknya dari hantaman banjir).

Sofyan Rangkuti ( Sibuk membantu menyelamatkan hartabenda penduduk 

)
H. Suryanto Ginting bersama Bapak Nasrun, saat turun ke lapangan meninjau suasana banjir ke rumah-rumah penduduk
H. Suryanto Ginting, sedang mengamati rumah penduduk yang terkena banjir
Bapak Mahyudin, sedang menyelamatkan hartabendanya
Mahyudin (kiri) Ustaz Khairul Akmal R. (tengah) dan Bapak Rusli Ali (kanan), sedang berada Di Pondok Pembinaan Anak-Anak Yatim sambil berjaga-jaga terhadap perkembangan suasana banjir
Rumah Sarwo Edi Harahap yang terandam banjir sekitar satu meter

Kedalaman air setinggi satu meter di halaman rumah Ustaz Khairul Akmal Rangkuti dan USarwo Edi Harahap.