Selasa, 10 Juli 2012

Pelaksanaan Khitanan Massal


Anak-anak yang akan di Khitan
Yayasan Ar-Ridha Melaksanakan
Khitanan Massal Di Desa Jaring Halus

Yayasan Ar-Ridha Medan telah sukses melaksanakan Khitanan massal di Desa Jaring Halus Kec. Secanggang Kabubaten Langkat. Pelaksanaan Khitanan massal tersebut diprakarsai oleh Yayasan Ar-Ridha bekerjasama dengan masyarakat Desa Jaring Halus yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2012. Pelaksanaan Khitanan massal tersebut dipandang sukses, sebab dalam pelaksanaannya tidak ada kendala yang berarti. Adapun yang di Khitan adalah anak-anak yang berada di Desa Jaring Halus sebanyak 16 orang. Sebelum khitanan dilaksanakan, terlebih dahulu dilaksanakan acara doa’ selamat dan upacara adat sesuai dengan tradisi masyarakat Jaring Halus.
Masyarakat Jaring Halus 
Dilaksanakannya khitanan massal ini adalah merupakan panggilan hati dan rasa tanggung jawab moral untuk membantu masyarakat khususnya masyarakat Jaring Halus. Sebab itulah bagi setiap anak yang di khitan tidak di kenakan biaya apapun. Dalam pelaksanaan Khitanan tersebut Yayasan Ar-ridha juga memberikan bingkisan sekedarnya kepada anak-anak yang di khitan juga kepada Bilal mayit serta kepada Nazir Mesjid yang ada di Desa Jaring Halus.

Khitanan massal seperti ini diharapkan dapat ditindaklanjuti pada tahun-tahun yang yang akan datang melalui kerjasama dengan pengusaha-pengusaha lokal yang ada di Desa Jaring Halus.
Yayasan Ar-Ridha bukan pertamakali ini melaksanakan kegiatan keagamaan di tempat ini, sebab sebelumnya Yayasan Ar-Ridha pernah melaksanakan Tabligh Akbar dan Haflah Al-Qur’an, bekerjasama dengan Qori’-Qori’ah yang tergabung dalam “WASIQOH” (Wadah Silaturrahmi Qori’-Qori’ah Sumatera Utara) dengan menghadirkan Qori’-Qori’ah Nasional dan Internasional.
Penyerahan Santunan
Pada tanggal 5 Juli 2012 yang lalu Yayasan Ar-Ridho juga menghadirkan Ustaz dari Pengurus WASIQOH, yakni Al-Ustaz Muhammad Yusriza S.Pd.I untuk memberikan Tausiyah dalam rangka peringatan Isra’-Mi’raj. Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh  Yayasan Ar-Ridha dan WASIQOH tidak lain adalah dikarenakan panggilan hati dan rasa tanggung jawab moral semata, sebab Desa Jarung Halus merupakan Desa binaan dari Yayasan Ar-Ridha dan Pengurus WASIQOH.
Dalam pelaksanaan khitanan tersebut ada sesuatu yang lain dari pengalaman pengurus Yayasan Ar-Ridha, yakni adanya tradisi adat bagi masyarakat Jaring Halus dimana setiap anak yang akan di khitan terlebih dahulu dirias dengan pakaian adat Melayu dan anak-anak tersebut dipanggul oleh seseorang yang sudah di tunjuk untuk diarak keliling kampung dengan iringan suara syair Barzanji dan Marhaba. Setelah itu masing-masing orang tua memandikan anak-anak mereka yang akan di khitan. Tradisi adat seperti ini oleh Pengurus Yayasan Ar-Ridha merupakan sesuatu yang baru, sebab belum pernah menemukan tradisi adat seperti ini di Medan.
Peng. Ar-Ridha bersama anak-anak

Harapan dari Pengurus Yayasan Ar-Ridha dalam kegiatan ini tidak lain adalah semoga kerjasama yang sudah terbina tetap dapat dipertahankan dan anak-anak yang dikhitan diharapkan lekas sembuh, dapat kembali mengikuti pendidikan dengan baik dan kelak diharapkan menjadi anak-anak yang sholeh.
Setelah selesai segala kegiatan adat dan do’a selamat, petugas Medis mulai menjalankan tugas mereka untuk mengkhitan anak-anak yang sudah siap untuk di khitan. Semua kegiatan pengkhitanan baru selesai sekitar pukul 14.30 Wib.

Penyerahan Bingkisan kpd. Nazir Mesjid

Peng. Ar-Ridha bersama anak-anak
                                                                                                                                                                                    


Jumat, 06 Juli 2012

Mimbar Jum'at Hari ini


SELAMAT DATANG BULAN RAMADHAN
(Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti)

Tanpa terasa sudah satu tahun berlalu dari bulan Ramadhan tahun 1432 H yang lalu, kini bulan Ramadhan 1433 H akan hadir, dan kehadirannya tentu selalu ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. karena bulan Ramadhan mempunyai makna yang istimewa bagi orang-orang yang beriman. Hal ini disebabkan bulan Ramadhan dijadikan Allah memiliki keistimewaan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.
Berkenaan akan datangnya bulan Ramadhan, seharusnyalah setiap muslim mempersiapkan diri untuk masuk kedalam bulan yang mulia tersebut, dan dengan datangnya bulan Ramadhan, hendaknya setiap pribadi muslim menyikapinya dengan beberapa hal :

Pertama : Menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan hati yang gembira, gembira yang dimaksud adalah bahwa kita seharusnya menunjukkan rasa syukur kepada Allah karena umur yang tersisa Insya Allah akan sampai kepada bulan Ramadhan pada tahun ini, sebab tidak semua orang punya kesempatan untuk sampai kepada bulan Ramadhan tahun ini, karena banyak diantara saudara-saudara kita pada tahun yang lalu masih bersama-sama kita melaksanakan kegiatan ibadah di bulan Ramadhan, namun di tahun ini mereka tidak lagi hadir bersama-sama kita  karena mereka telah dipanggil Allah ke hadiratNya. Sebab itulah kita yang masih hidup di dunia ini pantas bersyukur kapada Allah SWT. karena kita Insya Allah masih diberikan Allah kesempatan umur hingga insya Allah akan sampai kepada bulan Ramadhan pada tahun ini.
Sikap gembira dalam menyambut bulan Ramadhan tersebut yang diwujudkan dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah diharapkan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Mungkin orang yang seperti inilah yang digolongkan oleh Rasul seperti yang tertuang dalam sabdanya, artinya : “ Barang siapa yang  gembira dengan datangnya bulan Ramadhan Allah haramkan tubuhnya masuk kedalam Neraka
Kedua: Menanamkan tekad dihati untuk tidak menyia-nyiakan bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini kecuali dengan mengisinya dengan amal yang shalih, dan kesempatan umur yang diberikan Allah hingga kita sampai kepada bulan Ramadhan harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Kekhususan yang ada pada bulan Ramadhan antara lain adanya kewajiban melaksanakan puasa selama satu bulan, di sisi lain adanya anjuran untuk meningkatkan amal ibadah dan mengisi malam-malam bulan Ramadhan tersebut dengan berbagai amal ibadah dan setiap amal ibadah yang dilakukan pada bulan ini pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah.
Kewajiban melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan tersebut didasari dengan firman Allah yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat : 183:
يـَا اَيـُّهـَا الَّـذِيْـنَ امَـنُـوْا كـُـتِـبَ عَـلـَيْـكـُمُ الصِّـيَـامُ كـَمَـا كـُتِـبَ عَـلىَ الـَّـذِيْـنَ مِـنْ قـَـبْـلِـكـُمْ لـَعَـلـَّـكـُمْ تـَـتـَّـقـُـوْنَ 
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “
Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan puasa beserta segenap rangkaian ibadah yang ada di dalamnya adalah untuk mendapatkan ampunan Allah agar mendapat gelar Muttaqin.
Kabar yang menggembirakan bagi orang-orang yang beriman adalah hadits nabi Muhammad saw : Artinya : “ Siapa yang puasa pada bulan Ramadhan dengan dasar iman dan ikhlas akan diampunkan Allah dosa-dosanya yang telah lalu”.
Puasa, disamping merupakan kewajiban yang disyari’atkan Allah, disisi lain puasa juga mendatangkan hikmah bagi kehidupan manusia, baik secara individu maupun secara kolektif dalam kehidupan masyarakat. Hikmah-hikmah yang ada dalam pelaksanaan puasa tersebut bila disederhanakan sekurang-kurangnya ada dua dimensi, yaitu dimensi Spritual dan dimensi Sosial .
Dimensi Spritual maksudnya seseorang yang melakukan ibadah puasa akan selalu merasakan betapa dia selalu merasakan dirinya semakin dekat dengan Allah. Apabila seseorang selalu merasakan dirinya dekat dengan Allah berarti dia memiliki daya control yang baik untuk mengatasi segala godaan dalam kehidupannya, akhirnya melalui penghayatan pelaksanaan puasa akan tercipta pribadi-pribadi yang mulia yang memiliki sifat jujur, disiplin dan sifat terpuji lainnya.
Adapun yang dimaksud dengan dimensi sosial adalah, bahwa dengan hikmah pelaksanaan  ibadah puasa seseorang akan dapat merasakan betapa tidak enaknya haus dan lapar yang bagi orang berharta hanya dia rasakan selama satu bulan, tidak demikian halnya bagi fakir-miskin yang hidupnya selalu dalam kekurangan, terkadang makan dan terkadang tidak.
Maka melalui hikmah puasa yang dilaksanakan diharapkan akan timbul sikap solodaritas sosial untuk saling membantu antar sesama, akhirnya akan tercipta rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Bila demikian halnya dapat diambil kesimpulan, walaupun ada kesenjangan sosial  di masyarakat, kecemburuan sosial tidak akan terjadi, karena masyarakat sudah terbentuk dengan pola kehidupan untuk saling membantu dan bekerjasama.
Ketiga: Memiliki target yang akan dicapai pada saat keluar dari bulan Ramadhan. Target tersebut adalah saat nanti keluar dari bulan Ramadhan dia harus mencapai gelar Muttaqin di sisi Allah SWT.
Apabila seorang mukmin memiliki target seperti itu, tentu bulan Ramadhan yang datangnya hanya setahun sekali tidak akan disia-siakan, karena Ramadhan adalah masa untuk melebur dosa-dosa yang telah lalu.
Ungkapan kata berikut ini agaknya perlu untuk kita jadikan renungan:
“Muslim yang berbahagia adalah seorang muslim yang apabila datang bulan Ramadhan, saat keluar dari bulan Ramadhan dosa-dosanya sudah diampunkan Allah. Muslim yang malang adalah seorang  muslim yang apabila datang bulan Ramadhan, keluar dia dari bulan Ramadhan namun dosa-dosanya belum diampunkan Allah”.
Semoga kita tergolong dalam kelompok orang-orang yang mendapat ampunan dari Allah Swt.

Kepada Ummat Islam, khususnya teman-teman di FB saya ucapkan:
SELAMAT MEMASUKI BULAN SUCI RAMADHAN 1433 H. SEMOGA KITA MAMPU MENGISINYA DENGAN AMAL IBADAH YANG MENGHANTARKAN KITA KEPADA AMPUNAN ALLAH”.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
***

Sabtu, 30 Juni 2012

Mendapatkan Harta Yang Barokah

Harta Yang Penuh Berkah

Sering sekali kita mendengar perihal harta barokah. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan harta yang barokah itu?
Harta yang barokah ialah harta yang menyebabkan seseorang yang mempergunakannya memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa sehingga mampu mendorongnya untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Harta yang demikian inilah pada hakikatnya sangat didambakan dan dicari oleh setiap orang (terutama orang yang beriman), sebab ketenangan dan ketenteraman jiwa itulah yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup seseorang.
Dalam kitab Riyadus Shalihin dijelaskan bahwa yang dimaksud barokah adalah sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadatul khair 'ala al ghair. Bila dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud dengan harta barokah itu sebagaimana yang dipaparkan di atas.
Harta-harta yang barokah itu, haruslah yang halal dan baik, karena sesuatu yang diambil dari yang tidak halal dan tidak baik tidak mungkin mampu mendorong kita kepada kebaikan diri maupun orang lain, sebagaimana isyarat Allah swt. dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (١٦٨)
Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Dalam kesempatan yang lain Nabi Muhammad pernah menyatakan kullu lahmin nabata minal harom, fan naaru aula bihi. Setiap daging yang tumbuh atau dihasilkan dari sesuatu yang haram maka nerakalah yang pantas menjadi tempatnya.
Secara rinci yang dimaksudkan dengan halal di sini adalah:
  1. Halal wujudnya, yaitu apa saja yang tidak dilarang oleh agama Islam, seperti makanan dan minuman yang tidak diharamkan oleh syari'at Islam.
  2. Halal cara mendapatkannya, yaitu cara memperoleh yang tidak dilarang oleh syari'at Islam, seperti harta yang diperoleh dari upah pekerjaan yang halal menurut pandangan syari'at Islam, sedang upah tersebut juga berasal dari hasil pekerjaan yang halal.
  3. Halal karena tidak bercampur dengan hak atau milik orang lain, karena sudah dikeluarkan zakatnya. Harta yang demikian itu, jika berupa bahan makanan dan dimakan oleh seseorang, maka pengaruhnya sangat positif bagi kesehatan mental atau jiwa seseorang.
Setiap orang yang lahir di dunia ini oleh Allah swt. telah dibekali dengan dua macam dorongan nafsu, yakni: Nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat durhaka dan Nafsu yang mendorong untuk berbuat taqwa (kebajikan). Dalam surat As Syams ayat 7 dan 8 Allah swt. telah berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا .
"Demi jiwa dan apa-apa yang menyempurnakannya, maka Allah mengilhamkan pada jiwa tersebut kedurhakaan dan ketaqwaannya".
Kedua macam dorongan tersebut tidak dapat terwujud menjadi perbuatan yang nyata manakala dalam diri seseorang tidak ada energi. Sedangkan energi itu adalah berasal dari bahan makanan. Sehingga apabila bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah halal, maka energi yang ditimbulkan oleh bahan makanan tersebut adalah energi yang halal. Energi yang halal inilah yang mudah diserap dan dipergunakan oleh dorongan yang mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik. Sedang perbuatan-perbuatan yang baik, yang dilakukan oleh seseorang akan diserap oleh organ jiwa yang disebut dengan "Ego Ideal". Ego Ideal inilah yang selalu menghibur dan menenteramkan jiwa seseorang. Sebaliknya, jika bahan makanan yang dimakan oleh seseorang adalah berasal dari harta yang haram, maka energi yang timbul dari bahan makanan tersebut adalah energi yang haram, yang akan diserap oleh nafsu yang mengajak kepada kemunkaran, kesalahan dan kebatilan.
Manakala seseorang telah melakukan perbuatan yang salah atau batil, maka perbuatan ini akan diserap oleh organ jiwa yang akan selalu menuntut jiwa manusia untuk melakukan kebathilan atau kesalahan, sehingga ketenteraman jiwa menjadi terganggu. Semakin banyak kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, maka akan semakin besar pula goncangan dalam jiwanya yang dapat mengakibatkan jiwanya tidak akan merasa tentram.
Sedang yang dimaksud dengan makanan yang baik menurut ayat 168 dari surat Al Baqarah di atas, adalah baik menurut syarat-syarat kesehatan. Sebab makanan yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan akan menyebabkan kondisi jasmani menjadi mudah terserang oleh berbagai penyakit. Seseorang tidak akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa manakala badannya selalu sakit-sakitan.
Disamping itu perlu kita ketahui bahwa harta yang diberikan oleh Allah swt. kepada seseorang di dalamnya terdapat hak milik fakir miskin yang dititipkan oleh Allah swt. kepadanya. Hal ini telah diterangkan Allah swt. dalam Al Qur'an surat Adz Dzaariyaat ayat 19:
وَفِى أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُوْمِ
"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian"
Harta orang miskin yang dititipkan oleh Allah swt. kepada orang-orang kaya itu harus dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak, baik berupa zakat yang wajib dikeluarkan maupun  sedekah sunnat, agar harta orang-orang kaya tersebut menjadi halal, karena tidak lagi bercampur dengan hak milik orang-orang miskin. Jadi zakat ini mempunyai peranan yang penting sekali untuk membuat harta yang kita miliki menjadi barokah, karena zakat juga merupakan elemen yang menjadikan harta itu bisa memberikan kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain.
Banyak terdapat orang-orang kaya yang hartanya tercampur oleh harta yang tidak halal, baik wujudnya, atau cara mendapatkannya, atau hartanya belum atau tidak dizakati, kehidupan keluarga mereka itu ternyata tidak bahagia sebagaimana yang kita bayangkan. Kebahagiaan yang mereka dambakan ternyata hanya sebagai fatamorgana belaka.
Dalam Al Qur'an surat An Nur ayat 39 Allah swt. telah berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ "
Artinya: “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya".
Jadi, harta yang barokah itu sangat besar peranannya dalam mencapai kebahagiaan hidup seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Untuk itu mari kita berupaya untuk mendapatkan dan menjadikan harta yang kita miliki menjadi barokah.

Jumat, 18 Mei 2012

Mimbar Jum'at Hari ini

Orang-Orang Yang Bahagia
Setiap manusia tentu mendambakan hidup yang bahagia, namun manusia banyak yang berbeda dalam memandang kebahagiaan tersebut. Ada yang memandang, kebahagiaan itu akan tercapai manakala seseorang memiliki harta kekayaan. Ada pula yang mamandang apabila dia memiliki pangkat dan jabatan. Ada juga yang mamandang apabila dia memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat.
Lalu, bagaimana dengan pandangan Rasulullah?
Dalam sebuah hadits yang termuat dalam kitab Syarah Mukhtaarul Ahaadits  oleh Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, halaman 113, yang sumbernya dari Ali bin Abi Thalib, diriwayatkan oleh ad-Dailami. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
اربع من سعادة المرء: ان تكون زوجته صالحة, واولاده ابرار, وخلطاؤه صالحين, وان يكون رزقه في بلده ( رواه الديلمى عن على )
Artinya: Ada empat hal yang menjadikan kebahagiaan bagi seseorang, yaitu: memiliki istri yang shalihah, anak-anak yang berbakti, teman-teman yang shalih dan rezkinya berada di negerinya ( tempat tinggalnya ) sendiri.
Untuk itu, yang harus kita lakukan adalah:
1.      Membimbing istri kita agar menjadi istri yang shalihah.
2.      Mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang berbakti.
3.   Menjadikan orang-orang yang gemar melakukan amal-amal yang shalih sebagai teman akrab kita.
4.  Bekerja dengan mengembangkan potensi yang ada di Negara ini, baik dalam meningkatkan sumberdaya manusia yang mumpuni, maupun mengelola sumberdaya alam yang dikaruniakan Allah kepada kita dengan cara yang baik dan benar.
Mari kita resapi firman Allah dalam Al-Qur’an, surat Al-A’raaf;96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya “.

Semoga kita menjadi orang-orang bahagia, baik di dunia ini, terlebih-lebih di akhirat kelak.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Selasa, 15 Mei 2012

Mengenal Makna Kehidupan

Berjuang Menghadapi Kehidupan
Hidup adalah perjuangan “ Demikian ungkapan yang selalu muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Memang manusia hidup harus berjuang, suka dan duka pasti akan selalu kita hadapi. Untuk itu kita harus arif menyikapi setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan, sebab apabila kita tidak pandai-pandai menyikapi segala persoalan yang muncul, maka kita akan menjadi manusia yang merugi.
Harus disadari pula bahwa hidup adalah ujian, baik kesenangan ataupun kesusahan, semua itu adalah ujian dari Allah SWT. Hanya persoalannya apakah kita mampu menyikapi setiap kali datang ujian tersebut?, dengan kata lain, mampukah kita bersyukur manakala kita dikaruniakan Allah berbagai kenikmatan dalam kehidupan ini?, atau mampukah kita bersabar manakala kita dihadapkan kepada berbagai musibah?.
Jawaban dari semua itu tidak lain adalah bahwa kita harus mengembalikan segala persoalan itu kepada ajaran agama ( Islam ). Sebab, agama mengajarkan bahwa seorang mukmin dengan segala persoalan yang dihadapinya akan mengahantarkannya kepada keberuntungan. Kenapa demikian?. Sebab bagai seorang mukmin, apabila ia memperoleh keberuntungan dan dia bersyukur dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, maka rasa syukurnya itu akan menjadikan dirinya baik dalam pandangan Allah. Sebaliknya apabila dia mengalami kesusahan dalam hidupnya dan dia bersabar terhadap kesusahan tersebut, maka sabarnya itupun akan menjadikannnya menjadi manusia yang baik dalam pandangan Allah. Jadi, tidak ada celah bagi seorang mukmin untuk menjadi orang yang merugi dalam kehidupan ini. Kuncinya adalah dia harus mempu memahami tentang makna hakikat dari kehidupan ini. Modal untuk itu adalah iman dan amal shalih.
Bukankah Allah mengingatkan kita melalui firmannya dalam Al-Qur’an suroh Al-‘ashr ayat 1-3:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الانسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾                                                                   
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. “.
Mari kita pertebal iman kepada Allah, tingkatkan amal ibadah kepadaNya, Insya Allah kita menjadi orang-orang beruntung.