Rabu, 18 Juli 2012

Hikmah Puasa


Ibadah Puasa
Membuang Sifat Kebinatangan Dalam Diri
Sekurang-kurangnya ada tiga sifat binatang yang selalu melekat dalam kehidupan manusia, diantaranya:
1.      Sifat monyet. Manusia yang pada dirinya melekat sifat monyet biasanya banyak intrik-intrik yang mewarnai kehidupannya untuk mengecoh orang lain. Hal itu dilakukan demi untuk mendapatkan kesenangan pribadinya. Sebab, bila kita perhatikan kehidupan monyet, banyak intrik yang dia lakukan untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Apabila manusia memiliki sifat yang seperti ini tentu kehadirannya ditengah-tengah masyarakat tidak akan membawa maslahat bagi orang lain, karena itu sifat yang seperti ini harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan manusia. Salah satu upaya untuk menghilangkan sifat tersebut maka puasa adalah solusinya. Sebab dengan penghayatan pengamalan ibadah puasa akan terbentuk sikap yang baik dan tidak mengakal-akali orang lain dalam hidupnya.
2.      Sifat babi. Kita tahu bahwa babi adalah binatang yang paling rakus dan jorok, sebab babi memakan sembarang makanan, bahkan kotorannya sendiripun ia makan. Ummat Islam diajarkan agar menjauhkan diri dari sifat rakus dan dari hal-hal yang kotor. Untuk menghilangkan sifat rakus tersebut maka puasa adalah salah satu sarana latihan untuk itu. Sebab melalui ibadah puasa seseorang menyadari betapa tidak enaknya merasakan lapar sepanjang hari. Maka dengan merasakan hal tersebut diharapkan akan muncul sikap solidaritas sosial kepada orang lain untuk berbagi kepada orang lain dikala dia memiliki kelebihan rezeki. Dengan demikian, melalui penghayatan ibadah puasa sifat serakahnya akan hilang dan berganti dengan sikap suka memberi dan menolong.
3.      Sifat srigala. Srigala adalah satu diantara binatang yang memiliki kecongkakan dan kepongahan, sebab dia merasa kuat dengan taring dan kuku yang dia miliki. Manusia juga ada yang memiliki sifat srigala ini, dimana banyak manusia yang menunjukkan sikap kecongkakan dan kepongahan dihadapan orang lain, seolah-olah dialah yang paling hebat dan tidak ada orang lain yang melebihinya. Sikap seperti ini merupakan sikap yang tidak dicintai oleh Allah. Karenaya, puasa yang dilaksanakan, juga merupakan sarana latihan untuk membuang sifat kecongkakan dan kepongahan tersebut. Sebab, orang yang melaksanakan puasa akan merasakan perutnya terasa lapar, akibat dari merasakan lapar tersebut badannya terasa lemah, tidak ada yang dapat dia banggakan dari dirinya. Dalam suasana yang seperti ini seharusnya seorang muslim menyadari bahwa tidak selamanya kelebihan yang dimiliki dapat dibanggakan, apalagi menjadi kecongkakan dan kepongahan dalam kehidupan. Maka hasil dari didikan puasa ini diharapkan akan muncul sikap lembut dan kasih sayang terhadap sesama. Apabila sikap seperti ini sudah merakyat dalam kehidupan ummat maka tentunya tidak ada lagi kerisauan dan ketakutan dihati ummat, sebab kehidupan masyarakat sudah dibentuk dengan jalinan kasih sayang terhadap sesama.
Bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan hadir dalam kehidpan kita, dan kita sebagai ummat yang beriman akan melaksanakan ibadah puasa di dalamnya, tentu diharapkan melalui ibadah puasa yang akan kita laksanakan mampu membawa hikmah bagi kehidupan kita. Diantaranya, diharapkan akan mampu menghilangkan sifat-sifat kebinatangan yang mungkin ada dalam kehidupan kita. Karena itu, Hilangkanlah baju kebesaran (kesombongan) yang sering dipergunakan untuk mempertontonkan kepongahan. Tanggalkan lambang-lambang status yang sering dipakai untuk memperoleh perlakuan istimewa. Hilangkan sikap rakus yang akibatnya tidak mempedulikan yang halal dan yang haram. Jauhkan diri dari intrik-intrik yang selalu mengecoh orang lain dan hapus sifat-sifat buruk lainnya yang dalam diri kita.
Seorang yang melaksanakan puasa diharapkan kembali menjadi seperti anak bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya, yaitu : Suci dari segala noda yang selanjutnya ia akan melangkah dengan langkah-langkah kesucian, kejujuran, kerendahan hati, dan pengabdian serta sifat-sifat terpuji lainnya. Semoga Puasa Ramadhan kita tahun ini menghantarkan kita kearah yang demikian.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ





Selasa, 17 Juli 2012

Marhaba Ya Ramadhan

Ramadhan Tinggal Menghitung Hari
Bulan Ramadhan yang agung akan hadir kembali dan kehadirannya hanya tinggal menghitung hari. Ummat Islam yang benar-benar beriman tentunya merasa gembira dengan datangnya bulan Ramadhan tersebut, sebab Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu kembali kepada bulan yang banyak mengandung hikmah.
Kalimat Ramadhan itu sendiri apabila ditulis dengan aksara Arab adalah (رمضان). Huruf-hurufnya terdiri dari lima huruf. Yaitu: Huruf ر , م ,  ض , ا dan ن .
Ada pandangan yang mengungkapkan bahwa masing-masing huruf tersebut adalah merupan singkatan dari kemuliaan dan hikmah yang terkandung di bulan Ramadhan itu sendiri.
Huruf pertama adalah huruf “ر “  yang bisa bermakna رحمة   (Rohmatun) yang artinya adalah rahmat dari Allah. Sebab pada bulan Ramadhan Allah banyak mencurahkan rahmatNya kepada orang-orang yang mau mengisi bulan Ramadhan ini dengan peningkatan amal ibadah kepadaNya. Karena itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan kasih sayang Allah pada bulan Ramadhan yang Insya Allah kita akan bertemu lagi pada tahun ini. Ukirlah prestasi ibadah pada bulan ini agar Allah berkenan melimpahkan kasih sayangNya kepada kita.
Huruf kedua adalah huruf “م“  yang bisa bermakna مغفرة   (Maghfiroh)  artinya adalah ampunan. Sebab Allah membuka pintu ampunan yang seluas-luasnya kepada orang-orang yang giat melaksanakan ibadah pada bulan Ramadhan. Karena itu perbanyaklah istighfar untuk bertaubat kepada Allah dengan hati yang bersungguh-sungguh agar mendapatkan ampunan Allah SWT.
Huruf  yang ketiga adalah huruf “ض “    yang bisa bermakna ضمان   (Dhomanun) artinya adalah jaminan. Rasul dalam sabdanya menyatakan yang maksudnya: Siapa yang melaksanakan puasa dan mendirikan Qiyamu Ramadhan dengan landasan iman dan ikhlas maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampunkan Allah.
Huruf yang keempat adalah huruf “ ا “  yang bisa bermakna ايمان  (Imanun) artinya adalah Iman/keyakinan. Dengan giat melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan diharapkan iman seseorang akan bertambah kokoh dan kuat.
Huruf yang kelima adalah huruf “ن “  yang bisa bermakna نعمة  (Nikmatun), artinya adalah nikmat. Sebab banyak nikmat yang diberikan Allah kepada ummat Islam apabila datang bulan Ramadhan.
Saudaraku...................!
Mari kita raih segala kebaikan dan kelebihan yang ada pada bulan Ramadhan dengan berlomba-lomba melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara hamba yang mendapat ampunan Allah melalui tempaan pelaksanaan ibadah pada bulan Ramadhan dan akhirnya kita berharap semoga kita mendapat gelar Muttaqin di sisi Allah.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
 "SELAMAT MEMASUKI BULAN RAMADHAN 1433 H / 2012"






Sabtu, 14 Juli 2012

Marhaba Ya Ramadhan


Berbenah Diri Menyambut Bulan Ramadhan
Beberapa hari lagi umat Islam akan memasuki bulan Ramadhan dan akan menjalankan ibadah puasa. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu ummat Islam. Beberapa hari lagi, kalimat “Marhaba ya Ramadhan”/Selamat datang bulan Ramadhan, patut kita kumandangkan, sebab  Rasul melakukan hal itu ketika datang bulan Ramadhan. Namun, kalimat “Marhaba ya Ramadhan” yang kita ucapkan hendaknya tidak sekedar ucapan di bibir saja, namun seharusnya tertanam semangat di hati untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah agar dapat mengisi bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah kepadaNya.
Sepatutnya kita sambut bulan yang penuh barokah itu dengan berbenah diri. Perbuatan-perbuatan tercela, tidak terpuji, kebohongan, kemalasan kecongkakan dan perbuatan-perbuatan negatif yang (mungkin) pernah kita lakukan sebelumnya harus segera ditinggalkan. Kita sambut bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan jernih. Berbenah diri untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh dan melaksanakan berbagai ibadah sunnah pada malam harinya.
Puasa Ramadhan yang diwajibkan Allah untuk orang-orang beriman berbeda dengan ibadah yang lain, sebab ibadah puasa adalah ibadah “rahasia”. Artinya, hanya Allah dan orang yang berpuasa itu sendiri yang mengetahui apakah ia benar-benar puasa atau tidak.
Bulan Ramadhan memiliki nama yang banyak, diantaranya:
  1. Syahrus Shiyam (bulan melaksanakan kewajiban puasa). Perintah puasa tidak hanya disyari’atkan Allah kepada kita ummat Nabi Muhammad, tetapi kepada ummat sebelum kita juga diwajibkan berpuasa. Sebab puasa banyak mengandung hikmah, terutama dalam pembentukan kepribadian yang baik bagi kehidupan kita.
  2. Syahrul Ibadah (Bulan meningkatkan ibadah). Hendaknya kita maknai bulan Ramadhan ini dengan semangat pengamalan ibadah yang baik dan sempurna. 
  3. Syahrul Fath (bulan kemenangan). Harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. 
  4. Syahrul Huda (bulan petunjuk). Dalam hal ini hendaknya kita implementasikan dengan semangat melaksanakan Amar makruf - Nahi munkar. 
  5. Syahrus Salam (bulan keselamatan). Seyogianya kita maknai pula dengan menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan keselamatan. 
  6. Syahrul Jihad (bulan perjuangan). Kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di bumi ini. 
  7. Syahrul Maghfirah (bulan ampunan ). Di bulan Ramadhan perbanyaklah istighfar untuk memohon ampunan Allah. Jangan lewatkan walau satu malam dari malam-malam bulan Ramadhan kecuali memperbanyak permohonan ampun kepada Allah, karena Allah maha pengampun dan membuka selebar-lebarnya pintu keampunan di bulan Ramadhan. Di sisi lain pada bulan Ramadhan tebarkanlah kemaafan kepada orang lain, sebab Allah suka kepada orang yang memberi ma’af. 
  8. Syahrus Shabri (bulan sabar). Lewat hikmah puasa diharapkan diri kita terlatih untuk menjadi orang-orang yang sabar. 
  9. Syahrul Qur’an ( bulan pertama kali diturunkan Al-Qur’an). Pada bulan Ramadhan hendaknya kita bertambah giat untuk mendalami isi kandungan Al-Qur’an. Bila selama ini mungkin kita baru sebatas membaca Al-Qur’an, untuk Ramadhan tahun ini hendaknya ditingkatkan kepada upaya pemahaman isi kandungan Al-Qur’an dan sekaligus mengamalkannya.
Semoga dengan mempersiapkan diri dalam memasuki bulan Ramadhan secara baik dan merencanakan aktivitas dan ibadah-ibadah dengan ikhlas, serta berniat “Libtighoi Mardhotillah” (mengharapkan keridhaan Allah), kita dapat memanfa’atkan keistimewaan yang ada di bulan Ramadhan dan pada saat keluar nantinya dari bulan Ramadhan diharapkan kita menjadi orang-orang yang mendapat gelar Muttaqin di sisi Allah.
Akhirnya saya ucapkan: “Selamat Memasuki bulan Ramadhan Tahun 1433 H”. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Selasa, 10 Juli 2012

Pelaksanaan Khitanan Massal


Anak-anak yang akan di Khitan
Yayasan Ar-Ridha Melaksanakan
Khitanan Massal Di Desa Jaring Halus

Yayasan Ar-Ridha Medan telah sukses melaksanakan Khitanan massal di Desa Jaring Halus Kec. Secanggang Kabubaten Langkat. Pelaksanaan Khitanan massal tersebut diprakarsai oleh Yayasan Ar-Ridha bekerjasama dengan masyarakat Desa Jaring Halus yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2012. Pelaksanaan Khitanan massal tersebut dipandang sukses, sebab dalam pelaksanaannya tidak ada kendala yang berarti. Adapun yang di Khitan adalah anak-anak yang berada di Desa Jaring Halus sebanyak 16 orang. Sebelum khitanan dilaksanakan, terlebih dahulu dilaksanakan acara doa’ selamat dan upacara adat sesuai dengan tradisi masyarakat Jaring Halus.
Masyarakat Jaring Halus 
Dilaksanakannya khitanan massal ini adalah merupakan panggilan hati dan rasa tanggung jawab moral untuk membantu masyarakat khususnya masyarakat Jaring Halus. Sebab itulah bagi setiap anak yang di khitan tidak di kenakan biaya apapun. Dalam pelaksanaan Khitanan tersebut Yayasan Ar-ridha juga memberikan bingkisan sekedarnya kepada anak-anak yang di khitan juga kepada Bilal mayit serta kepada Nazir Mesjid yang ada di Desa Jaring Halus.

Khitanan massal seperti ini diharapkan dapat ditindaklanjuti pada tahun-tahun yang yang akan datang melalui kerjasama dengan pengusaha-pengusaha lokal yang ada di Desa Jaring Halus.
Yayasan Ar-Ridha bukan pertamakali ini melaksanakan kegiatan keagamaan di tempat ini, sebab sebelumnya Yayasan Ar-Ridha pernah melaksanakan Tabligh Akbar dan Haflah Al-Qur’an, bekerjasama dengan Qori’-Qori’ah yang tergabung dalam “WASIQOH” (Wadah Silaturrahmi Qori’-Qori’ah Sumatera Utara) dengan menghadirkan Qori’-Qori’ah Nasional dan Internasional.
Penyerahan Santunan
Pada tanggal 5 Juli 2012 yang lalu Yayasan Ar-Ridho juga menghadirkan Ustaz dari Pengurus WASIQOH, yakni Al-Ustaz Muhammad Yusriza S.Pd.I untuk memberikan Tausiyah dalam rangka peringatan Isra’-Mi’raj. Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh  Yayasan Ar-Ridha dan WASIQOH tidak lain adalah dikarenakan panggilan hati dan rasa tanggung jawab moral semata, sebab Desa Jarung Halus merupakan Desa binaan dari Yayasan Ar-Ridha dan Pengurus WASIQOH.
Dalam pelaksanaan khitanan tersebut ada sesuatu yang lain dari pengalaman pengurus Yayasan Ar-Ridha, yakni adanya tradisi adat bagi masyarakat Jaring Halus dimana setiap anak yang akan di khitan terlebih dahulu dirias dengan pakaian adat Melayu dan anak-anak tersebut dipanggul oleh seseorang yang sudah di tunjuk untuk diarak keliling kampung dengan iringan suara syair Barzanji dan Marhaba. Setelah itu masing-masing orang tua memandikan anak-anak mereka yang akan di khitan. Tradisi adat seperti ini oleh Pengurus Yayasan Ar-Ridha merupakan sesuatu yang baru, sebab belum pernah menemukan tradisi adat seperti ini di Medan.
Peng. Ar-Ridha bersama anak-anak

Harapan dari Pengurus Yayasan Ar-Ridha dalam kegiatan ini tidak lain adalah semoga kerjasama yang sudah terbina tetap dapat dipertahankan dan anak-anak yang dikhitan diharapkan lekas sembuh, dapat kembali mengikuti pendidikan dengan baik dan kelak diharapkan menjadi anak-anak yang sholeh.
Setelah selesai segala kegiatan adat dan do’a selamat, petugas Medis mulai menjalankan tugas mereka untuk mengkhitan anak-anak yang sudah siap untuk di khitan. Semua kegiatan pengkhitanan baru selesai sekitar pukul 14.30 Wib.

Penyerahan Bingkisan kpd. Nazir Mesjid

Peng. Ar-Ridha bersama anak-anak