Belajar Dari Filosofi Kehidupan Induk AyamAyam adalah golongn hewan sebangsa unggas. Mempunyai dua sayap namun tidak bisa terbang layaknya burung. Untuk bertahan hidup ayam dianugerahi dua kaki yang unik untuk menceker dan sebuah paruh untuk mematuk. Dengan dua organ tubuh inilah ayam mencari makanan disekitarnya, seperti sisa-sisa makanan yang jatuh di tanah, cacing, ulat, semut, daun-daunan, umbi-umbian, dan berbagai jenis makanan lainnya.Menilik dari kehidupan induk ayam, kita sebagai manusia dapat mengambil pelajaran darinya, diantaranya adalah:
- Induk ayam sanggup berkorban demi cikalbakal anak-anaknya dengan berpuasa selama dia mengerami telur-telurnya, dan itu berlungsung lebih kurang 21 hari.
- Induk ayam memiliki tanggung jawab yang tinggi dengan menanamkan sikap kemandirian kepada anak-anaknya. Hal ini dibuktikan, sejak telur yang dia erami menetas, induk ayam langsung membawa anak-anaknya ke tempat-tempat dimana ada makanan, dan mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana apaya untuk mendapatkan makanan agar jangan didahului oleh yang lain. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau ayam tidak pernah kesiangan bangun pagi.
- Induk ayam lebih mengutamakan anak-anaknya dalam hal makan, hal ini terbukti manakala ia mendapatkan makanan dia panggil anak-anaknya untuk memakan makanan yang ia dapatkan.
- Induk ayam selalu memberikan perlindungan terhadap ancaman yang akan membahayakan anak-anaknya, baik dari serangan musuh maupun dari udara dingin yang ekstrim. Kita dapat memperhatikan betapa kuat pembelaan induk ayam kepada anak-anaknya, terbukti manakala anak-anaknya terancam bahaya, induk ayam langsung bertindak memberikan perlawanan demi keselamatan anak-anaknya. Dalam hal melindungi anak-anaknya dari udara dingin yang ekstrim, induk ayam siap mengepakkan sayapnya dan memanggil anak-anaknya untuk mencari kehangatan dari celah bulu-bulu di bawah sayapnya.
- Sepanjang dalam pengasuhan terhadap anak-anaknya, biasanya induk ayam selalu menjauh dari ayam jantan untuk tidak melakukan perkawinan, walaupun terkadang ada unsur pemaksaan dari ayam jantan, namun induk ayam tetap bertahan dan lebih baik lari menghindari ayam jantan yang kadang melakukan pemaksaan untuk melakukan perkawinan, sebab induk ayam masih merasa punya tanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Namun setelah anak-anaknya besar, sudah mampu mandiri, induk ayam mulai berupaya secara berangsur untuk memisahkan anak-anaknya dari dirinya dengan cara mencatuk anak-anaknya agar menjauh darinya. Baru setelah itu induk ayam berkenan didekati oleh ayam jantan dan siap melakukan perkawinan untuk menghadirkan generasi yang baru.
Saudaraku…………………!Begitu indah makna filosofi yang terkandung dalam kehidupan induk ayam. Induk ayam benar-benar bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya. Namun dalam kehidupan manusia dewasa ini, betapa banyak orang tua yang mengorbankan masa depan anak-anaknya. Sering kita temukan berita di berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, betapa seorang ibu tega menjual bayinya karena desakan dan kebutuhan ekonomi. Ada ibu yang tega membunuh bayinya lalu dibuang ke tong sampah dengan menggunakan kantong plastik. Ada yang menggugurkan kandungannya lantaran malu karena anak yang ia kandung dari sebab perselingkuhan atau perzinahan. Ada juga yang menjual anaknya untuk dipekerjakan sebagai budak seks, padahal anak-anak tersebut masih di bawah umur yang selayaknya masih duduk di bangku sekolah. Sangat memprihatinkan tentunya………………….! Kalau demikian, ternyata induk ayam lebih baik dibanding manusia yang diberikan Allah akal dan pikiran.Induk ayam hanyalah cermin betapa seorang ibu seharusnya sayang kepada anak-anaknya. Apapun akan dia lakukan agar anak-anaknya mendapat kebaikan dalam kehidupan mereka. Bukan malah membunuhnya atau mengorbankan masa depan mereka. Seburuk-buruk perangai seorang ibu, seharusnya ia tadak akan tega membiarkan anak-anaknya hidup terlantar dikemudian hari. Begitupun, seorang laki-laki yang menjadi ayah bagi anak-anaknya, harus bertanggung jawab penuh melindungi istri dan buah hatinya. Sebab demikian itulah kondrat hakiki yang harus dimiliki kedua orang tua. Anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Kalau demikian, tidaklah salah mengambil hikmah untuk menjadi pelajaran dari ciptaan Allah terhadap sikap dan prilaku induk ayam.
Minggu, 02 September 2012
Filosofi Kehidupan Induk Ayam
Sabtu, 01 September 2012
Menuju Jenjang Muttaqin
Menuju Jenjang Muttaqin( Memaknai kehidupan Pasca Ramadhan )Islam memandang bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta kekayaan yang dia miliki, tidak pada pangkat dan jabatan yang dia emban, bukan pula pada status sosial yang ia sandang. Tetapi kemuliaan seseorang dalam pandangan Allah terletak pada nilai-nilai ketaqwaan yang ia lakukan.Orang-orang yang dinilai Allah sebagai muttaqin akan dimasukkanNya kedalam surga. Hal ini termaktub dalam firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 133 :وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَArtinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“.Perlu disadari, untuk sampai kepada jenjang muttaqin, seseorang terlebih dahulu harus melalui empat tahap, dalam hal ini Penulis singkat dengan 4M.Pertama: Muslim. Seseorang harus menjadi muslim yang baik, rumusan dan ungkapan yang paling sederhana untuk menjadi muslim yang baik adalah seperti yang pernah dinyatakan Nabi Muhammad dalam sabdanya, artinya: “ Muslim yang baik adalah, selamat orang lain dengan lidah dan tangannya”.Lidah dan tangan adalah merupakan perwakilan dari seluruh komponen anggota badan seseorang. Oleh sebab itu, seorang muslim dilarang mengganggu kehidupan orang lain, membuat keonaran dan kekacauan, membuat orang yang ada disekitarnya menjadi resah dan gelisah dan mengganggu ketentraman orang lain. Intinya adalah, kehadiran seorang muslim sejatinya bisa menjadi kesejukan dan kedamaian bagi masyarakat yang ada di lingkungannya.Kedua: Mukmin. Seseorang harus menjadi mukmin yang baik. Upaya yang harus dilakukan adalah dengan membenahi aqidah agar senantiasa kokoh dengan berpegang teguh kepada konsep islam tentang hal-hal yang wajib di-imani. Seseorang harus benar-benar beriman kepada Allah, kepada rasul-rasulNya, kepada kiab-kitabNya, kepada malaikat-malaikatNya, kepada ketentuan buruk dan baik, dan beriman kepada hari kiamat. Apabila iman seseorang sudah kokoh, tentu imannya itu yang akan mendorongnya untuk beribadah kepada Allah, dan ibadah yang dilaksanakan akan mengantarkannya kepada jenjang muttaqin.Ketiga: Muhsin. Seseorang harus menjadi seorang yang disebut muhsin. Muhsin maksudnya senantiasa melakukan kebaikan dalam hidupnya, terutama melaksanakan ibadah secara langsung kepada Allah. Dalam hal ini Rasul pernah ditanya oleh malaikat Jibril tentang apa yang dimaksud dengan ihsan. Rasul menjawab yang maksudnya: “ Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-oleh engkau melihatNya, andai pada kenyataannya engkau tidak melihat Allah, maka yakinkanlah dirimu bahwa engkau dilihat Allah”. Itu artinya, bahwa seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah. Tingkat kesadaran yang seperti ini akan mangantarkan seseorang kepada sikap hidup untuk selalu berhati-hati dalam kehidupannya. Setiap kali dia akan melakukan sesuatu, tentu dia terlebih dahulu berpikir, apakah perbuatan yang akan dilakukan sesuai dengan syariat Allah atau tidak. Daya control seperti ini yang akan menyelamatkan seseorang dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, dan dengan sikap hidup seperti itu pula yang akan menjadikan seseorang menjadi orang yang muttaqin.Keempat: Mukhlis. Mukhlis maksudnya adalah orang-orang yang ikhlas dalam menjalankan ibadah. Perlu disadari bahwa segala ibadah dan nilai-nilai kebaikan yang dilaksanakan harus didasari dengan keikhlasan kepada Allah. Sebab Allah tidak akan menerima ibadah orang-orang yang tidak ikhlas. Allah SWT berirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 :وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِArtinya: “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus “.Kelima: Muttaqin. Apabila seseorang sudah menjadi “ muslim “ yang baik”, menjadi “mukmin” yang baik, menjadi seorang yang “ muhsin “ dan “ mukhlis”, tentu dia akan naik kepada jenjang yang ke lima, yaitu menjadi seorang yang “ muttaqin “. Terhadap orang-orang yang “ muttaqin “ Allah berjanji akan memasukkan mereka ke dalam surgaNya. Gambaran umum tentang keberadaan orang-orang yang “ muttaqin “ di dalam surga tersebut, seperti yang difirmankan Allah dalam surat An-Naba’ ayat 31 - 36 :إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازاً حَدَائِقَ وَأَعْنَاباً وَكَوَاعِبَ أَتْرَاباً وَكَأْساً دِهَاقاً لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً وَلا كِذَّاباً جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباًArtinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.Mari kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjadikan diri kita sebagai muslim yang baik, mukmin yang baik, menjadi seorang yang muhsin dan mukhlis agar kita mencapai derajat muttaqin. Dengan derajat Muttaqin itu kita berharap, semoga Allah memberikan ampunan dan keridhaanNya kepada kita dan dimasukkanNya kita ke dalam surgaNya.امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
Minggu, 26 Agustus 2012
Merayakan Idul Fitri
Tiga Pilar Merayakan Idul FitriBagi ummat Islam yang telah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, tentu pantas merasa gembira di hari Raya Idul Fitri. Dan Idul Fitri itu sendiri adalah merupakan bentuk penghargaan yang diberikan Allah kepada kaum muslimin. Tentu penghargaan tersebut diberikan setelah ummat Islam berjuang selama bulan Ramadhan untuk melaksanakan puasa dalam upaya mengendalikan diri dari segala rayuan kehidupan dunia yang selalu menggiring manusia kepada perbuatan angkaramurka.Setelah ummat Islam berada dalam ketaatan sepanjang bulan Ramadhan dan tetap konsisten menjalankan ibadah puasa dan berbuat taqwa kepada Allah, maka wajarlah kalau Allah berkenan memberikan penghargaan dalam bentuk Hari Raya Idul Fitri yang pialanya adalah maghfirah atau ampunan Allah. Melalui penghargaan tersebut, wajarlah kalau ummat Islam merayakannya dengan hati yang gembira dan bahagia, namun harus tetap dalam bingkai taqwa.Dalam merayakan Idul Fitri, sebagai hari kemenangan ini, ada tiga pilar yang seharusnya tetap mewarnai kehidupan kaum Muslimin. Tiga pilar yang dimaksud adalah;Pertama: Bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah diberikanNya terutama Hidayah yang menyinari hati kita, sehingga kita dapat melaksanakan perintahnya untuk mencapai keridhaanNya.Kedua: Ketaatan, sebab adanya penghargaan yang diberikan Allah adalah dikarenakan ummat Islam telah mengukir ketaatan yang mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah. Karenanya, kegembiraan yang mewarnai kehidupan ummat Islam pada suasana Idul Fitri ini tidak boleh menjadikannya lalai, apa lagi sampai merusak nilai-nilai kebaikan yang telah diraih. Sebab itu, mempertahankan nilai-nilai ketaqwaan setelah bulan Ramadhan adalah merupakan pilar yang tak boleh diabaikan.Ketiga: Silaturrahmi, Rasul memerintahkan kita untuk menjalin Silaturrahmi, sebab dengan bersilaturrahmi dapat memperbarui sikap kasih sayang dan saling mencintai antar sesama. Islam sesungguhnya telah memberikan pengajaran untuk tetap menjalin Silaturrahmi melalui media harian, mingguan dan tahunan. Media yang dimaksud adalah melalui shalat berjamaah setiap hari, shalat Jumat setiap pekan, shalat Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun.Namun, banyak yang enggan memanfaatkan kesempatan harian dan mingguan ini, malah sebaliknya menunggu-nunggu momentum hari raya yang datangnya hanya setahun sekali. Padahal, jika ummat Islam memanfaatkan kesempatan shalat berjamaah harian dan shalat Jumat mingguan, tentu tidak perlu menunggu momentum silaturahmi tahunan kepada sesamanya. Hal tersebut dipastikan akan lebih efektif dalam menghapus kesalahan dan dosa serta semakin menumbuhkan sikap saling percaya diri, kasih-sayang, persatuan dan kesatuan di antara sesama.Semoga tiga pilar ini ( bersyukur, bertaqwa dan bersilaturrahmi ), tetap mewarnai kehidupan kita yang tidak hanya sekedar di bulan syawal, tetapi pada bulan-bulan berikutnya hendaknya tetap terjalin dengan baik.
Sabtu, 25 Agustus 2012
Halal Bihalal
Arah Yang Dituju Halal BihalalEnam kali kata halal terulang dalam Al-Qur’an. Dua diantaranya dalam konteks kecaman, sedangkan empat sisanya berkaitan dengan perintah “makan”, dan disifati oleh kata thayyibah, yang berarti “baik” atau “menyenangkan”.Kata “makan” merupakan lambang dari segala aktivitas manusia, begitu penggunaan Al-Qur’an, sehingga keempat ayat di atas, seakan-akan berpesan, “Lakukan segala aktivitasmu berdasarkan yang halal tetapi halal yang thayyibah (baik dan menyenangkan).”Memang, dalam ajaran agama, istilah halal mencakup empat hal, yaitu wajib, sunnah (dianjurkan), makruh (tidak disukai), dan mubah (boleh-boleh saja). “Halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq (pemutusan hubungan)” demikian sabda Rasul. Kalau demikian, wajar jika yang dianjurkan oleh Al-Qur’an adalah halal yang thayyib.Al-Qur’an menegaskan cinta Allah terhadap mereka yang memiliki sifat-sifat tertentu sebanyak 18 kali. Hanya sekali penegasan itu ditujukan kepada orang-orang yang sabar, bertobat, dan menyusun satu barisan. Sementara itu, kepada orang yang bertawakkal dua kali dan kepada yang berlaku adil dan yang yang bertaqwa tiga kali, tetapi diulanginya sebanyak lima kali kepada mereka yang bersifat ihsan – satu sifat yang menjadikan pemiliknya memperlakukan pihak lain dengan baik meskipun pihak lain itu memperlakukannya dengan buruk.Ketika mistah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar r.a, ikut menyebarluaskan gosip yang menyangkut kehormatan Aisyah, putri Abu Bakar r.a. dan sekaligus istri Nabi saw., abu Bakar bersumpah untuk tidak membiayainya lagi. Tetapi Al-Qur’an melarang Abu Bakar sambil menganjurkan untuk melakukan al-afwu dan as-shafhu (QS.24:22).Al-afwu yang kemudian diindonesiakan dengan “maaf”, berarti “menghapus” karena yang memaafkan menghapus berkas-berkas luka di hatinya. Sedangkan as-shafhu berarti “kelapangan” dan darinya dapat dibentuk kata shafhat yang berarti “lembaran” atau “halaman”, serta mushafahat yang berarti “berjabat tangan”. Seorang yang melakukan as-shafhu, seperti anjuran ayat di atas, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.As-shafhu yang digambarkan dalam bentuk berjabat tangan itu, tulis Al-Raghib Al-Isfahany, “lebih tinggi nilainya daripada memaafkan”. Bukankan masih ada satu dua titik yang sulit bersih pada lembaran yang salah, walaupun kesalahannya telah dihapuskan? Karenanya, bukalah lembaran baru, tutup lembaran lama, dan wujudkan sikap ihsan. Inilah hal yang disukai Allah, dan karenanya pula para agamawan berpesan: “Jika ada yang memaki Anda, janganlah makiannya Anda balas, tapi berkatalah, “Jika makian Anda benar, saya bermohon semoga Allah mengampuniku, dan jika keliru, maka semoga Allah mengampuni Anda”.Yang demikian itulah “halal yang thayyib” dan kesanalah arah yang seharusnya dituju oleh Halal Bihalal.“Lentera Hati “ M. Quraish Shihab.
Langganan:
Postingan (Atom)



