Jumat, 07 September 2012

Khutbah Jum'at

Menjaga Kesucian Jiwa Pasca Ramadhan
Ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan dapat mengantarkan seorang muslim kepada kesucian jiwa, agar dimensi ruhani lebih dominan dan dimensi jasmani dapat dikendalikan. Ramadhan adalah proses yang ideal untuk meningkatkan kesucian jiwa.
Proses ini tidak boleh berhenti dengan selesainya Ramadhan. Sebab, jiwa manusia mempunyai potensi untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat menggelincirkan seseorang dari jalan yang lurus. Setan sebagai musuh abadi bagi manusia tidak pernah berhenti melakukan tipu dayanya. Karena itu, ketika Ramadhan meninggalkan kita, itu berarti adalah babak baru untuk tetap menjaga kesucian diri dalam rangka mencapai kesuksesan hidup agar menjadi muslim yang bersih jiwa dan raga, jauh dari maksiat dan dari segala yang dilarang Allah SWT.
Kesucian diri adalah tanda kesuksesan, sedangkan mengotorinya adalah tanda kerugian. Allah menggambarkan hal ini dalam Al-Qur’an surat As-Syams;7-10:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
Jiwa harus kita jaga agar tetap suci. Untuk menjaga kesucian jiwa, ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.
Pertama: Menata Hati. Hati berpotensi mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Karena itu, ia harus tetap ditata dengan memohon kepada Allah agar meneguhkan hati kita dalam agama-Nya dan menjauhkannya dari tipu daya setan yang senantiasa berupaya menjerumuskan kita, sedangkan hati adalah sasaran utama bagi setan untuk menggoda manusia. Karena itu, hati hendaklah selalu di isi dengan nilai-nilai Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, banyak berzikir kepada Allah serta menjauhkannya dari lintasan-lintasan yang melahirkan dosa dan khayalan yang tidak berguna.
Menata hati, maksudnya membersihkannya dari semua hal yang mengotorinya, sebab hati yang tertata secara baik dan benar akan mengarahkan kehidupan kita untuk melaksanakan tugas  sebagai manusia muslim dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Hati yang bersih akan tercermin dalam raut wajah yang tenang, mudah melahirkan senyum, sejuk untuk dipandang dan membawa ketenangan. Menuntun anggota tubuh kepada perbuatan yang diridhai Allah SWT., berjalan di atas rel yang telah digariskan Rasulullah SAW, mengikuti teladan yang sudah dicontohkannay.
Kedua: Menahan Pandangan. Banyak perbuatan dosa yang diawali oleh pandangan mata. Mata menjadi pintu bagi hati, seperti dalam pepatah, dari mata turun ke hati. Menahan pandangan mata merupakan langkah awal untuk menghindari dosa. Setan menjadikan pandangan kita sebagai salah satu panah tipu dayanya. Karena itu, Allah SWT secara khusus menyuruh orang-orang beriman, baik lakilaki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan. Sebab, pandangan dapat membawa kepada syahwat. Bahkan jika kita terlanjur melihat sesuatu yang terlarang, Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidak mengikuti pandangan yang pertama. Karena setan bersama pandangan yang selanjutnya. Ketika kita dapat menahan pandangan dari hal-hal yang dilarang atau sesuatu yang dapat membawa kepada dosa, maka sebagai gantinya Allah SWT akan menganugerahkan kesucian dan ketenangan jiwa.
Ketiga: Melakukan perubahan diri. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menjadikan hari ini lebih baik dari yang kemarin. Sebab, orang yang dapat menata hari-harinya lebih baik dari hari sebelumnya, dia adalah orang yang beruntung. Semua itu baru akan dapat tercapai dengan melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik. Faktor perubahan itu berada dalam diri kita sendiri, yaitu adanya keinginan untuk berubah. Untuk itu, langkah yang harus dilakukan adalah menyelaraskan perilaku hidup kita dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.  Karenanya, kita harus berupaya secara maksimal untuk mempelajari kandungan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad, sebab dengan keduanya kita dapat berubah kearah yang diinginkan Islam. Disisi lain  kita harus mampu mengatur waktu di celah-celah kesibukan sehari hari untuk menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Dengan pola hidup seperti itu insya Allah akan ada perubahan yang kita rasakan. Dan Allah pasti membantu kita bila memiliki tekad yang kuat untuk berubah, sesuai janji-Nya yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Ankabut;69:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.
Keempat: Bergaul kepada komunitas yang baik. Secara fitrah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri, tetapi manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan orang lain. Demikian pula dengan kesucian diri yang tidak mungkin tercapai bila tidak didukung oleh lingkungan yang baik. Islam menggambarkan bahwa orang-orang mu’min itu laksana satu tubuh yang saling mendukung antara satu sama yang lain. Karenanya, berafiliasi kepada komunitas orang-orang baik merupakan keharusan dalam rangka mendukung kesalehan sosial dan mengokohkan kesalehan individu. Salah satu contoh adalah anjuran Allah Ta’ala dalam Al Qur’an untuk berinteraksi bersama orang-orang yang benar. Firman Allah dalam surat At-Taubah;119:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.
Apabila komunitas itu terdiri dari orang-orang yang baik dan benar tentu akan tercipta lingkungan yang kondusif untuk menggapai kesucian diri, saling mengingatkan dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Karena itu, hendaknya kita menjauhi sikap individualistis, hanya memikirkan diri sendiri yang tidak akan membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun kepada sesama.
Dalam pandangan Al Qur’an berafiliasi kepada kebaikan adalah ikut serta dalam dakwah, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Aktif bersama dalam berdakwah kepada kebaikan dengan tujuan membumikan Islam dan menjadikannya sebagai sistem hidup bagi pribadi dan masyarakat.
Kelima: Segera bertaubat dan banyak beristighfar. Ibarat rumah, meski setiap hari dibersihkan namun debu akan senantiasa ada. Sebagai manusia yang tidak terpelihara dari dosa, ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih dalam kondisi masyarakat kita saat ini, debu-debu dosa sulit terhindari, baik yang disengaja maupun tidak. Hendaknya setiap kita segera bertaubat dengan membasahi lisan dengan istighfar untuk meminta ampun kepada Allah. Dengan begitu, insya Allah kesucian diri akan tetap terjaga.
Saudaraku…………!
Mari kita lakukan Muhasabah/Intropeksi diri dari waktu ke waktu yang kita lalui untuk melihat sejauh mana perkembangan jiwa kita, adakah peningkatan yang dialami ataukah penurunan. Terkadang jiwa kita mengalami kejenuhan. Manakala itu terjadi, yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai meninggalkan kewajiban. Dan sebaliknya, ketika kondisi jiwa semangat, hendaknya memperbanyak amalan sunnah, sehingga tercipta keseimbangan.
Muhasabah diri bisa dilakukan setiap hari, setiap kali hendak tidur lakukanlah perenungan sejenak, melihat semua perbuatan yang telah dilakukan di siang hari, dari kata yang terucap dan perbuatan yang terjadi. Kita boleh bersyukur terhadap perbuatan yang selaras dengan tuntunan Islam. Tapi segeralah bertaubat atas perbuatan yang menyimpang. Muhasabah atau intropeksi merupakan keharusan sebagai salah satu instrumen penting guna memelihara kesucian diri.
Dengan melakukan itu semua, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membimbing kita dan memberikan kekuatan untuk memiliki jiwa yang suci sebagai tanda kesuksesan kita di dunia dan akhirat.


Kamis, 06 September 2012

Bertadabbur Dengan Alam Ciptaan Allah


Belajar dari Alam untuk Memotivasi Kehidupan
Firman Allah dalam surat Ali Imran; 190-191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Sesungguhnya alam yang diciptakan Allah banyak memberikan inspirasi kepada kita untuk belajar darinya, hasilnya akan mendatngkan ilmu pengetahuan bagi kehidupan kita manusia, dan tidak kalah pentingnya menambah kekuatan iman kepada Allah SWT.
Alam menyimpan banyak misteri yang manusia belum mampu menyibak keseluruhan misteri yang ada. Gunung-gunung yang tinggi, bentangan samudera luas dan dalam, sungai-sungai yang panjang berliku, hutan belantara yang lebat, adalah bagian dari alam yang sampai saat ini selalu menjadi inspirasi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakannya.
Bagi seorang mukmin tentu menyakini bahwa semua itu adalah maha karya dari Allah yang maha pencipta untuk kita renungkan agar keimanan kita senantiasa bertambah kepadaNya.
Tentu kita menyadari bahwa dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang terbatas, sulit bagi kita mengkaji keseluruhan dari apa yang diciptakan Allah di alam raya ini. Namun setidak-tidaknya kita harus terus berupaya untuk mempelajari dan memikirkan dari sebagian ciptaan Allah di bumi ini walaupun dalam bentuk pemikiran yang paling sederhana agar kita dapat mengambil hikmahnya sebagai pelajaran untuk kehidupan kita.
Dalam kehidupan ini terkadang kita merasa kehilangan motivasi dan gairah. Pada saat kondisi seperti ini muncul, sebenarnya kita bisa mencoba untuk membangkitkan gairah itu kembali dengan cara menyaksikan dan merenungkan keindahan alam semesta yang telah diciptakan oleh Allah SWT.
Karena itu, bukalah mata , bangkitlah dari tidur, coba melangkah dan telusuri jalan dipagi hari. Nikmatilah sejuknya udara dan embun di pagi hari sampai mentari menampakkan sinarnya meresap dan menghangatkan tubuh kita. Sayang rasanya jika rumput yang bergoyang dan bunga-bunga mekar menebarkan semerbak harumnya kita biarkan begitu saja tanpa menikmati dan memperhatikannya. Sebagai manusia seharusnya kita mempelajari dan mengambil hikmah dari sesuatu yang tampak dimuka bumi ini sebagai salah satu ayat-ayat Allah yang mengajarkan kepada kita dalam kehidupan ini.
Saudaraku………………..!
Pernahkah kita belajar dari kupu-kupu?. yang awalnya adalah dari ulat yang menjijikkan. Namun melalui perubahan yang terjadi sehingga ulat tersebut menjadi kupu-kupu yang begitu cantik, hinggap pada bunga-bunga yang ada melengkapi keindahan bunga-bunga di taman tempat kita menghilangkan penat.
Pernahkah kita belajar dari nyamuk?, yang berani mengambil resiko meski nyawa menjadi taruhan saat menghisap darah pada manusia, dan tidak jarang menjadi buruan dan santapan cicak-cicak didinding.
Pernahkah kita belajar dari air? yang meskipun terbentur oleh batu-batuan, pohon-pohon atau akar yang menghambat perjalanannya untuk menuju muara, namun tetap selalu teguh dalam pendirian hingga mencapai muara atau laut. Air juga selalu meninggalkan bekas dan menjadi salah satu sumber kehidupan untuk kelangsungan semua makhluk hidup dimuka bumi.
Pernahkah kita belajar dari kura-kura?. Kura-kura tidak pernah mengeluh meski kemana-mana selalu membawa beban berat (cangkangnya) dan ia tidak mau berjalan mundur, akan tetapi terus maju meski perlahan dan lamban namun dengan pasti ia terus maju ke depan untuk melanjutkan perjalanannya.
Pernahkah kita belajar dari lebah?, Lebah tetap mencari makanan yang suci dan bersih, ia tidak mau sembarangan mengkonsumsi makanan kecuali saripati bunga dan menghasilkan madu yang bermanfa’at bagi manusia. Dimanapun dia hinggap tidak pernah merusak lingkungannya. Dan lebah mimiliki sengat, tapi bukan untuk menyakiti namun untuk membela diri. Dia tidak mau mengganggu tapi jangan sekali-kali diganggu, sebab sekali lebah terganggu dia akan mengejar kemanapun musuhnya berlari.
Pernahkah kita belajar dari burung?, yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, pulang dengan perut yang kenyang. Andaipun burung tidak mendapatkan makanan, tapi dia tidak pernah putus asa apalagi bunuh diri, sebab burung tetap optimis akan karunia yang diberikan oleh Allah. Walaupun burung dalam keadaan lapar tapi tetap saja ia berkicau dengan merdu. Nampaknya burung sadar betul tentang lika liku hidup ini.
Pernahkah kita belajar dari cacing?, ia tidak mempunyai sarana untuk mempertahankan diri, ia lemah tidak memiliki tanduk, tangan, sayap atau telinga. Tetapi ia punya perut yang sama seperti manusia yang harus diisi, tetapi dalam keterbatasanya ia tidak mudah putus asa. Ia melata dengan perutnya untuk terus mencari rezeki yang telah disediakan Allah untuknya.
Saudaraku………………..!
Allah menciptakan manusia dengan sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, karena manusia diberi kelebihan akal dan sarana-sarana lainnya. Hanya sayangnya dalam kesempurnaan itu terkadang tingkah manusia lebih rendah dari binatang. Demikian banyaknya anugerah yang telah diberikan Allah tetapi tetap saja manusia banyak yang berkeluh kesah bahkan putus asa.
Karena itu wahai saudaraku……….! Bangkitkan semangatmu, gali bakatmu, kembangkan potensimu, keluarkan obsesimu, raihlah segala impianmu, berjuanglah untuk hidup yang lebih baik dan jangan sia-siakan kehidupan yang sangat singkat ini. Belajarlah dari apa saja yang dapat menambah pengetahuan dan keyakinan termasuk dari alam semesta untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik. Namun ingatlah, jalankan semua itu tetap dalam panji-panji kebenaran.

Rabu, 05 September 2012

I'tibar Dalam Kehidupan


Belajar Dari Prinsif Hidup Burung Merpati
Dalam banyak hal, burung Merpati sering dijadikan simbol, baik simbol perdamaian, kesetiaan juga kesucian. Ada pertanyaan; mengapa demikian?. Hal ini lebih dikarenakan burung Merpati memiliki empat sifat dasar yang patut dipelajari dan dicontoh oleh manusia agar menjadi manusia yang berakhlak dan bermoral, menghormati hak dan milik orang lain. Diantaranya adalah:
  1. Menjaga Kesetiaan : Burung Merpati sangat setia kepada pasangannya. Hal ini dibuktikan manakala Merpati betina sudah melakukan perkawinan dengan seekor merpati jantan, dia tidak akan berkenan melakukan perkawinan dengan pejantan yang lain. Merpati betina akan selalu bersama dengan merpati jantan yang telah melakukan perkawinan dengannya.
  2. Saling Bekerjasama : Jika perkawinan yang telah berlangsung membuahkan hasil, merpati betina bertelur dan tiba masa mengeram, maka merpati betina dan jantan secara bergantian akan mengerami telur yang akan menjadi cikal bakal anak-anak mereka. Jika Merpati betina makan, maka Merpati jantan akan menggantikan posisinya untuk mengerami dan menghangatkan telur sebagai benih mereka, itu berlangsung terus hingga telur menetas.
  3. Tidak Suka Kekerasan : Burung Merpati sangat tidak suka kepada kekerasan, apabila di tempat tinggalnya ada sesuatu kekerasan burung merpati akan mengambil tindakan meninggalkan tempat kediamannya.
  4. Bersaing secara sehat : Burung Merpati menyukai persaingan dengan sesama, namun persaingan yang mereka lakukan mengacu kepada kualitas diri masing-masing. Misalnya, ketika terbang mereka selalu bersaing, tetapi tidak saling menjatuhkan. Namun ketika makan, mereka tidak mengusir teman lain yang juga sedang makan.
  5. Menjaga kehormatan dan harga diri: Burung Merpati tidak suka disepelekan, sebab jika disepelekan mereka akan menunjukkan reaksi keras. Seperti ketika tempat mereka dimasuki Merpati lain, pasti akan ada perseteruan. Dan yang menarik, perseteruan itu hanya terjadi di ruang tersebut, tidak berlaku ketika sedang makan atau sedang terbang.
Saudaraku……………….!
Banyak manusia dewasa ini yang mengabaikan nilai-niai moral dalam kehidupannya. Seperti; tidak menjaga kesetian, baik kepada pasangan hidupnya maupun kepada kelompoknya. Mengabaikan semangat tolong menolong, bahkan saat ini manusia mudah ter-propokasi sihingga mudah tercipta permusuhan antar sesama. Bahkan tidak jarang kita perhatikan terjadi persaingan yang berakibat permusuhan, baik dikalangan elit dalam satu wilayah kekuasaan maupun dikalangan masyarakat biasa. Disisi lain, terkadang demi untuk mencapai tujuan hidupnya manusia tidak lagi peduli tehadap kehormatan dan harga dirinya. Sebab itu, agaknya pantaslah kalau kita mengambil i’tibar dari kehidupan burung Merpati yang diciptakan Allah, yang memiliki prinsif hidup seperti yang telah dikemukakan.
Hidup ini memerlukan kesetiaan, saling bekerjasama dan tolong-menolong, bersama-sama memerangi segala bentuk kekerasan, siap bersaing secara sehat, selalu menjaga kehormatan dan harga diri. Prilaku seperti ini hendaknya dapat diterapkan oleh masing-masing individu, terlebih-lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selasa, 04 September 2012

Nasehat Seorang Tukang Tambal Ban


Nasehat Seorang Tukang Tambal Ban
Suatu hari di tahun 1989 yang lalu saya berhenti di sebuah tukang tambal Ban untuk menambal Ban kenderaan saya yang saat itu bocor. Sambil bekerja menambal Ban yang bocor, banyak pembicaraan yang terjadi antara saya dan Bapak tersebut. Namun yang paling saya ingat dan tidak terlupakan adalah nesehat Bapak tukang tambal Ban tersebut.
Dia katakan kepada saya; Nak, kamu tau tidak sesuatu yang apabila kita beli atau kita miliki tidak akan pernah merugikan kita?.
Saya tidak tau Pak - jawab saya, dan saya lanjut bertanya kepadanya; apa itu Pak?
Ada tiga hal yang apabila kita beli atau kita miliki tidak akan pernah merugi, katanya.
Pertama: Membeli tanah nak, sebab seumur saya yang sudah lebih enam puluh tahun ini, saya mengamati harga tanah tidak pernah turun, malah naik terus, kecuali yang empunya tanah sangat butuh uang dan harus menjual tanahnya, terkadang terpaksa dia jual dengan harga dibawah harga pasaran yang ada.
Saya merenung sejenak terhadap apa yang dikatakan Bapak tersebut, dan di dalam hati saya membenarkannya. Kemudian saya bertanya kepadanya; lantas yang kedua apa Pak?
Kedua: Membeli buku nak, sebab dengan memiliki buku dan membacanya ilmu kita akan bertambah, pikiran akan terbuka dan wawasan juga akan semakin luas, bahkan derajat kita akan mulia di masyarakat. Katakan kamu membeli buku dan tidak sempat membacanya, tapi kelak anak-anakmu atau keluargamu bisa membacanya, itu juga bermanfaat untuk mereka, jadi tidak pernah merugi kalau kita rajin membeli buku nak, ungkap Bapak tersebut kepada saya.
Saya megangguk tanda membenarkan ungkapat Bapak tersebut, untuk selanjutnya saya bertanya kepadanya, lantas yang ke tiga apa Pak?.
Ketiga: Memiliki istri yang sholihah, saat itu saya terdiam sejenak, namun Bapak tersebut melanjutkan bicaranya; Kalau kamu memiliki istri yang sholihah insya Allah hidupmu akan bahagia. Sebab, istri yang sholihah tentu tinggi rasa syukurnya kuat rasa sabarnya. Pada saat kalian banyak mendapat rezki, istri yang sholihah tentu akan memperbanyak rasa syukurnya, melihat sikapnya seperti itu kamupun akan merasa senang nak. Sebaliknya, andaikan hidup kalian susah tentu istri yang sholihah dapat bersabar, sikap sabarnya itu juga akan menjadikan kamu bertambah senang kepadanya, bahkan kamu beruntung mimiliki istri yang sholihah seperti ini. Biduk rumah tangga yang seperti ini tentu jauh dari kehancuran nak, katanya kepada saya mengakhiri pembicaraan kami, sebab Ban yang dia tambal sudah selesai.
Setelah meninggalkan Bapak tukang tambal Ban tadi saya merenung tentang apa yang dia katakan, di dalam hati saya membenarkan nasehat yang dia kemukakan walaupun Bapak tersebut hanya seorang tukang tambal Ban.
Berapa bulan kemudian saya singgah di tempat Bapak tersebut bekerja, dengan tujuan hanya sekedar ingin bercerita dengannya, dengan harapan saya memperoleh petuah-petuah yang baik dalam menjalankan kehidupan ini, namun saya tidak menemukan Bapak tersebut dan menurut informasi beliau telah meninggal sebulan yang lalu. Saya tertegun dan hanya dapat berdo’a; Semoga Allah mengampuninya.
Saudaraku…………!
Jangan sekali-kali memandang hina terhadap orang yang status sosialnya rendah, sebab boleh jadi dari kata-katanya mengandung mutiara hikmah dan nasehat. Sebalikya, tidak sedikit orang yang tinggi ilmu pengetahuannya, tapi bisa jadi kata-katanya merendahkan dan menyepelekan orang lain.
Benar kata sebuah ungkapan: “Lihatlah apa yang dikatakannya, jangan lihat siapa yang mengatakannya”.
Somoga kita dapat mengambil i’tibar dari setiap peristiwa dan pengalaman yang kita dapatkan.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ