Senin, 10 September 2012

Nasehat Perkawinan

Nasehat Perkawinan
 (Disampaikan pada saat pernikahan Sari Wahyuni Manjerang SE.
Dengan Ahmad Hidayat S. Sos. Pada tanggal 9 September 2012)
Oleh: Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـنِ الرَّحِيْم
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جعل لنا متزوجين وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سيدنا محمد رحمة للعالمين وَعَلَى الِهِ الطاهرين واصحابه الذين كالنجوم للمهتدين
Ananda Yuni dan Hidayat. Anggaplah nasehat yang saya sampaikan ini merupakan nasehat dari kedua orang tua ananda berdua. Dan nasehat ini sengaja saya tuliskan agar kelak ananda berdua dapat mengulang-ulang kembali untuk membacanya.

Dalam kesempatan ini tidak banyak yang dapat saya sampaikan, hanya ada luapan di hati yang ingin disampaikan kepada ananda berdua, yaitu Yuni dan Hidayat, yang saat ini sudah menjadi pasangan suami isteri, dengan satu harapan kehidupan kamu berdua dalam mengayuh bahtera rumah tangga akan mendapatkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rohmah ( kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketenangan yang dilandasi cinta dan kasih sayang dibawah naungan rahmat ilahi ).
Untuk itu, kepada anandaku berdua dengarkanlah dan simaklah dengan baik serta camkanlah di dalam hati apa yang akan disampaikan.
Anandaku……………………….!
Ketahuilah, bahwa dengan terlaksananya akad nikah antara kamu berdua maka masing-masing status diantara kamu tentu dengan sendirinya menjadi berubah. Yang tadinya ananda “Hidayat“ masih berstatus perjaka kini berstatus sebagai seorang suami. Karena itu, ananda harus menyadari bahwa konsekuensi dari pernikahan ini, dipundakmu ada tanggung jawab yang besar, karena kamu adalah sebagai seorang suami yang menjadi Nahoda dalam mengayuh biduk rumah tangga. Disisi lain ananda “Yuni”sebagai seorang isteri juga demikian, saat ini kamu sudah berstatus sebagai seorang isteri, dalam kehidupan kamu sebagai seorang isteri, ada kewajiban yang harus kamu laksanakan, yaitu sebagai pendamping suami dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Ketahuilah……....! Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci. Oleh sebab itu jagalah ia agar tidak ternodai dengan hal-hal yang akan merusak kesucian pernikahan kalian. Dan ketahuilah……..! bahwa untuk menjaga kesucian pernikahan itu, kamu berdua harus dapat melaksanakan tanggung jawab masing-masing. Ananda Hidayat sebagai suami bertanggung jawab memenuhi hak-hak isteri, dan ananda Yuni sebagai isteri bertanggung jawab memenuhi hak-hak suami. Kami sebagai orang tua yakin, apabila ananda berdua dapat menjalankan kewajiban masing-masing maka rumah tangga yang akan kalian tempuh insya Allah akan berlabuh di Pantai bahagia dengan bertaburkan buah yang bernama Sakinah, Mawaddah dan Rahmah.

Perlu ananda sadari, bahwa semua pasangan pengantin bercita-cita dan berkeinginan agar rumah tangganya mendapat kebahagaiaan. Namun harapan itu kadang terganjal dengan persoalan-persoalan yang muncul disaat bergulirnya waktu yang terus berjalan. Kami sebagai orang tua dan segenap keluarga tidak berharap hal itu menimpa kalian.

Namun demikian, andai itu terjadi, Kami berpesan……..! Hadapi dan atasilah segala persoalan dengan sikap yang arif dan bijaksana. Kedepankanlah pikiran sehat, insya Allah segala problem yang timbul akan mampu ananda selesaikan berdua. Janganlah mengedepankan emosi, sebab sikap seperti itu adalah awal kehancuran rumah tangga.

Ketahuilah……..! Hidupmu akan jadi mulia bila ananda berdua mampu menjalin dua arah komunikasi yang baik:
Pertama: Perbaikilah hubungan kepada Allah dengan melaksanakan kewajibanmu kepadaNya, terutama jangan lupa untuk mendirikan shalat dan ibadah-ibadah wajib lainnya, dan alangkah mulianya bila ananda mampu menambahnya dengan ibadah-ibadah yang sunnat.
Kedua: Perbaiki hubunganmu kepada sesama manusia dengan berinteraksi dengan baik kepada mereka. Dalam hal ini kami hanya mampu mengatakan : “ Wahai pasangan dua sejoli,  restu kami semua menyertai ananda berdua, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kami semua, sayangilah orang tua, hormatilah sanak saudara, berbuat baiklah kepada tetangga, hidupmu akan mulia “. Ingatlah akan Hadits Nabi,      Artinya : “Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain “.
Anandaku……………………….!
Dalam khutbah nikah Nabi Muhammad, terdapat beberapa hal yang perlu digaris bawahi. Antara lain adalah, keterlibatan Allah melalui sistem yang ditetapkanNya. Yakni, bahwa suksesnya suatu perkawinan bukan hanya ditentukan oleh salah seorang pasangan tetapi kedua-duanya, keduanya harus merasa bahagia. Demikian juga kegagalannya, bukan hanya disebabkan oleh salah satu dari pasangan tetapi keduanya gagal, boleh jadi karena yang satu menuntut dan yang satu enggan untuk mengalah atau tidak mampu memberi.

Terkait dengan pernikahan dalam Al-Qur’an terdapat kalimat “Mawaddah”. Yakni, cinta yang menjadikan seseorang tidak lagi melihat hal yang negatif dari pasangannya. Al-Qur’an menjadikan Mawaddah ini sebagai persyaratan lahir untuk kebahagiaan perkawinan.
                                    
Orang bijak mengatakan: Karena cinta langit dan bumi diciptakan, atas dasar cinta makhluk diwujudkan, demi cinta seluruh Planet beredar, dan dengan cinta pula semua gerak mencapai tujuannya.

Dengan cinta semua jiwa meraih harapannya, dengan cinta pula seseorang mendapatkan idamannya dan terbebas dari segala yang meresahkannya. Karena cinta pula seseorang dapat memberi melebihi dari yang semestinya diberi dan tak pernah menuntut untuk dibalas.

Ketahuilah bahwa cinta antara manusia adalah “ Dialog antara dua aku “. Karena itu cinta bukan saja menuntut pengakuan eksistensi, tetapi juga pengakuan kepribadian kekasih. Menyukai isteri atau suami sebab hartanya bukan cinta yang sesungguhnya, memaksakan kehendak bukanlah cinta sejati. Rasa kasihanpun belum dikatakan cinta. Jangan pernah berkata: “ Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu ” Tetapi katakanlah: “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu”. Bagus dan penting menikahi siapa yang dicintai tetapi lebih penting lagi “ Mencintai siapa yang dinikahi “. Cinta menuntut pengenalan, perhatian, penghormatan dan kesetiaan, tanpa bergabungnya keempat unsur ini maka cinta jauh dari kenyataan.

Perkawinan terjadi antara Pria dan Wanita, Pria selalu diidentikkan dengan kerja keras, kemahiran dalam bidangnya, perhatian dan tanggung jawab, juga pemberian yang tulus dalam kedermawanan, kepercayaan diri tanpa keangkuhan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan berhubungan dan merasakan kehadiran perempuan untuk membela dan memenuhi kebutuhannya.
Adapun ciri kewanitaan antara lain adalah kesadaran akan kewanitaannya, mampu memberi cinta yang suci disertai kelemah lembutan. Yang tidak kalah pentingnya adalah dorongan untuk berhubungan dan merasakan kehadiran laki-laki serta mencintai hanya seorang suami. Cinta yang diselimuti oleh rasa malu yang wajar akan mampu membuat suami merasakan kehadiran kamu di sisinya.

Membina rumah tangga bukan seperti membangun rumah atau merangkai bunga, yang dihadapi adalah manusia yang harus mengemban tugas dan fungsi membangun rumah tangga.

Ketahuilah wahai ananda berdua……………….…….! Kunci utama sukses perkawinan adalah “ Kesesuaian antara suami-isteri “ . Perlu diingat, bahwa sukses melanggengkan perkawinan tidak selalu identik dengan kebahagiaan perkawinan. Bisa saja perkawinan langgeng, tetapi apabila itu dilakukan dengan terpaksa, atau selalu dibarengi dengan cekcok dan perselisihan, maka itu bukanlah perkawinan yang bahagia, itu adalah kebahagiaan yang semu. Jangan pula memastikan jika Anda menumukan pasangan suami isteri yang masing-masing sukses dalam karirnya bahwa mereka bahagia dalam kehidupan rumah tangganya, karena kabahagiaan tidak selalu identik dengan sukses dalam berkarir. Kegagalan dalam rumah tangga dapat bersembunyi dibalik sukses dalam karir.

Selanjutnya perlu diingat bahwa kebahagian bukanlah bersifat Statis, ia tidak juga dapat terus-menerus menyertai seseorang sepanjang hayatnya. Hidup mengalami pasang surut, terkadang senang dan terkadang susah, terkadang gembira juga sedih, bahkan iman juga terkadang mengalami naik dan turun, cintapun bisa demikian. Karena itu, manusia; termasuk pasangan suami isteri dituntut untuk terus berjuang dan terus giat melakukan aneka aktivitas yang dapat menumbuhkembangkan iman, cinta dan perkawinan.

Banyak pakar yang berpandangan bahwa paling tidak ada tahap-tahap yang dilalui oleh pasangan suami-isteri yang berbahagi. Ia dimulai dengan tahap “Bulan madu”, dimana semua terlihat dan terasa indah karena seringkali imitasi masih menyelubungi sikap mereka, tetapi setelah itu cepat atau lambat akan terlihat “keaslian masing-masing” dan disinilah bermula riak, bahkan gelombang perkawinan. Jika masing-masing tidak pandai melakukan adaptasi maka biduk perkawinan akan karam. Preode berikutnya adalah priode “Penyesuaian” dimana masing-masing pihak harus bersedia mengalah atau mundur selangkah atau dua langkah guna meraih penyesuaian, dan jika ini berhasil maka dibutuhkan lagi tahap keempat yaitu tahap “Penghangat hubungan”. Bila tahap ini berhasil, akan menjadikan pasangan suami isteri itu mampu mewujudkan potensi Mawaddah dan Rahmah, dan disana pulalah akan lahir kebahagiaan yang sesungguhnya dalam berumah tangga.

Anandaku berdua……………….! Ketahuilah, yang tidak kalah pentingnya untuk ananda ketahui dalam berumah tangga adalah:
  1. Jangan sekali-kali menampakkan kegembiraan pada saat pasangan Anda gundah, atau jangan menampakkan kesedihan pada saat dia gembira. Ketahuilah bahwa pria saat menghadapi problem lebih senang menyendiri ketimbang diajak berbicara, sebaliknya perempuan amat senang didampingi dan diajak berbicara saat ia menglami problem. Tetaplah bersama dalam kebahagiaan dan kesulitan, cinta kalian akan senantiasa bersemi selalu.
  2. Pahamilah bahasanya, baik bahasa lisan maupun bahasa tubuhnya, terkadang bahasa tubuh bisa lebih jelas dan mesra dari bahasa lisan, tetapi bila terjadi ketidaksesuaian maka bahasa lisan amat diperlukan, disini masing-masing harus memahami bahasa pasangannya. Gaya bicaranyapun harus dipahami karena terkadang ia terdengar keras atau dinilai kasar tapi tidak demikian hatinya, tapi itulah gayanya. Ada ungkapan “ Saya lebih senang di herdik oleh si A ketimbang dirayu oleh si B” karena herdikan si “A” belum tentu menunjukkan amarah, sedangkan rayuan si “ B ” boleh jadi mengandung kecaman.
  3. Jangan pernah menduga bahwa perbedaan pendapat adalah tanda kegagalan perkawinan, bahkan boleh jadi itu pupuk penyuburnya. Ini selama Anda berdua memiliki dorongan yang kuat untuk segera menyelesaikan silang pendapat sambil berfikir dengan kata “ kita “ bukan “ saya “. Berfikir demikian menjadikan seseorang bersedia mengalah karena merasa bahwa kehidupan perkawinan lebih penting daripada membuktikan kebenaran.

Selanjutnya dalam kesempatan ini saya ingin menekankan kepada kedua mempelai:
Pertama saya tujukan kepada ananda Hidayat.
Ketahuilah bahwa: Isteri yang kamu nikahi yang bernama Yuni ini, tidaklah semulia Khadijah, tidaklah setakwa Aisyah, juga tidak setabah Fatimah, apalagi secantik Zulaikha. Justru Isterimu hanyalah wanita biasa yang tentunya banyak kekurangannya. Janganlah ananda melihat kekurangannya semata namun melupakan kelebihannya. Ambillah kelebihan yang ada pada dirinya untuk dijadikan penopang kekuatan dan tutupilah kekurangannya agar kamu tidak merendahkannya. Pernikahan atau perkawinan, mengajarkan kepada kita akan kewajiban bersama. Isteri menjadi tanah, kamu langit penaungnya, Isteri sebagai ladang dan tanaman, kamu sebagai pemagarnya, Isteri kiasan ternak, kamu gembalanya, Isteri sebagai murid, kamu pembimbingnya, Isteri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya. Saat Isteri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya, seketika Isteri menjadi racun, kamulah penawar bisanya, seandainya Istri tulang yang bengkok, berhati-hatilah meluruskannya. Kamu adalah Pria yang kami berharap menjadi suami yang shalih  agar kelak engkau menempati mahligai di dalam syurga Allah bersama isterimu.

Kemudian kepada ananda Yuni, saya berpesan:
Suami yang menikahimu, Tidaklah semulia Muhammad SAW, tidaklah setakwa Ibrahim, tidak setabah Ayyub, tidak segagah Musa, apalagi setampan Yusuf. Suamimu hanyalah pria biasa yang punya cita-cita melaksanakan sunnah Nabi Muhammad dan bercita-cita untuk membangun keturunan yang shaleh dan shalihah. Pernikahan atau perkawinan mengajarkan kepada kita akan kewajiban bersama. Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya, suami sebagai Nahoda kapal, kamu navigatornya, suami bagaikan balita yang nakal, kamu adalah penuntun kenakalannya. Saat Suami menjadi raja, kamu nikmati anggur singgasananya, seketika Suami menjadi racun, kamulah obat penawarnya, seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya. Pernikahan ataupun Perkawinan, mengajarkan kepada kita akan perlunya iman dan takwa untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWT. Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga, bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara, Kamu adalah wanita yang kami berharap menjadi isteri yang shalihah  agar kelak engkau menempati mahligai di dalam syurga Allah bersama suamimu.
Akhirnya mari kita berdo’a : Ya Allah himpunlah apa yang masih berserak dari kedua mempelai ini, satukanlah apa yang masih bertebaran….. Sinarilah hati dan pikiran mereka dengan cahaya wajahMu. Berkatilah jejak dan langkah mereka dengan keberkatanMu yang melimpah di dunia dan akhirat, agar mereka selalu bergandengan tangan dalam pengabdian kepadaMu. Ya Allah wahai Tuhan yang maha kuasa membolak-balik hati manusia, teguhkanlah hati mereka dalam menjalankan agama-Mu, tumbuhkembangkanlah cinta mereka dalam ketaatan kepada-Mu. Ya Allah, satupadukanlah hati mereka dengan cinta dan kasih sayang, berilah mereka keturunan yang shalih dan shalihah yang dapat menjadi belahan jiwa dalam kehidupan mereka. Jauhkanlah mereka dari orang-orang yang iri dan dengki kepada mereka, jadikanlah rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang di dalamnya mereka mendapat kebahagiaan dan ketenangan.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Sabtu, 08 September 2012

Hati Yang Galau

Mengatasi Kegalauan Hati
Dalam hidup ini banyak problem yang kita hadapi, kadang menggembirakan tapi tak jarang membuat hati menjadi galau. Makna galau itu sendir selalu dipahami adanya keresahan, kepanikan dan kegelisahan di dalam hati. Hati yang galau merupakan buah dari kurang fahamnya seseorang memahami makna kehidupan yang sesungguhnya, akhirnya setiap kali menghadapi problema kehidupan yang tidak menyenangkan hatinya mudah menjadi galau, hidupnya menjadi kacau,  sehingga hilang kejernihan berpikir yang membuatnya menjadi lemah dan kehilangan semangat hidup. Dan tidak jarang pula mengambil jalan pintas untuk mengakhiri kehidupannya dengan cara bunuh diri.
Adakah resep yang ampuh untuk mengatasi kegalauan ini?.
Bila menilik kepada konsep ajaran Islam tentu kita akan menemukan solusi untuk mengatasi kegalauan tersebut. Tapi yang terpenting harus disadari terlebih dahulu bahwa segala problematika kehidupan ini tentu ada yang mengaturnya, yaitu Allah sang Maha Pencipta dan semua itu adalah bentuk-bentuk ujian dari Allah SWT., sebab boleh jadi dengan ujian itu Allah akan menaikkan derajat kita disisi-Nya.
Saudaraku………………….!
Al-Qur’an telah melukiskan, akar permasalahan hati yang galau ini tidak lain adalah bahwa kita telah menjauh dari Allah SWT., bahkan mungkin telah melupakan Allah disetiap langkah kehidupan. Maka, wajarlah bila kita tercebur dalam kegalauan, bingung terhadap diri sendiri, tidak tau hendak melangkah kemana, ragu-ragu dengan setiap tindakan, karena kita telah melupakan sandaran terkuat dalam menjalani kehidupan ini, yakni Allah Yang Maha Kuat dan tempat bersandar segala makhluk.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an pada surat Al-Hasyr;19:
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.
Begitu sombongkah kita sebagai manusia sehingga melupakan Allah?. Padahal tidak pantas kita melupakan-Nya. Karenanya wajarlah kalau rasa bingung terhadap diri sendiri melanda kita, bisa jadi disebabkan karena kita lupa dalam mengingat-Nya. Solusinya adalah kita harus kembali mengingat Allah. Memohon ampun ketika perasaan yang terombang ambing itu mendera, kemudian menjauhi sesuatu yang tidak bermanfat dalam hidup kita, kembali menguatkan hubungan kepada sang Khalik dan bersandar kepada kekuatan-Nya yang Maha dahsyat agar kita memproleh kekuatan untuk menjalani hidup ini.
Saudaraku………………….!
Penyakit galau itu berurat-berakar dalam hati, sebab dihatilah penyakit galau itu bersarang. hatilah muara dari segala kegalauan, kebingungan, kesediahan, was-was, keresahan dan kecemasan,. Penyakit galau itu ibarat tumor yang yang menggerogoti hati kita, awalnya kecil, namun bila tidak segera diobati ia akan segera membesar dan menjadi galau stadium tinggi yang akan menjadi kronis.
Berikut tips praktis yang mungkin bisa dilakukan ketika hati kita merasa galau, merasa sedih dan cemas yang merasuk ke dalam jiwa:
1. Memperteguh dan memperbaharui kadar iman. Karena Iman dapat berkurang dengan kemaksiatan yang kita lakukan dan bertambah karena ketaatan. Keimanan akan menghapuskan segala keresahan, melenyapkan kegundahan, menghilangkan rasa cemas, was-was. Dan merupakan benteng pertahanan diri yang paling kokoh.
2. Memperbanyak ingat kepada Allah (dzikrullah). Yakinkanlah diri bahwa dengan berzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang, jiwa akan menjadi tentram, Allah akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan, sebab Allah yang menjanjikannya seperti firmanNya dalam surat Ar-Ra’du ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artiya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.
3. Shalat. Saat kita diliputi rasa cemas, ketakutan, dihimpit kesedihan dan kerisauan, maka segeralah bangkit untuk memperbanyak melakukan shalat, insya Allah jiwa akan kembali tentram dan tenang. Namun hendaknya shalat yang dilaksanakan penuh dengan penjiwaan dan penghayatan agar hati kita menjadi lunak kembali.
4. Berinteraksilah dengan Al-Qu’an. Hiduplah bersama Al-Qur’an, baik dengan cara menghafal, membaca, mendengarkan ataupun merenungkan kandungannya. Sebab, ini merupakan obat yang mujarab untuk mengusir kesedihan dan kedukaan. Jadikan Al-Qur’an bagian dari bacaan wajib kita. Sediakan waktu khusus bagi kita untuk membaca Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an. Seperti dalam  perjalan menuju dan pulang dari tempat kerja, sambil menyetir mobil dengarkanlah Al-Qur’an, selepas shalat lima waktu biasakanlah membaca menimal selambar Al-Qur’an. Jika hati telah sibuk dengan Al-Qur’an insya Allah tidak ada celah bagi hati untuk galau dan sedih.
5. Memperbanyak doa kepada Sang Khaliq, sebab doa memiliki rahasia yang sangat ajaib untuk melepaskan seseorang dari kesulitan. Doa merupakan sarana yang mudah dan bisa dilakukan setiap hamba yang ditimpa kesedihan dan kesulitan untuk mengadukan permasalahannya kepada Tuhannya.
6. Isilah waktu kosong dengan berbuat aktivitas yang bermanfaat. Kegalauan akan  lebih banyak melanda orang-orang yang banyak menganggur, tidak mempunyai aktivitas hidup yang berarti, maka pikirannya akan mudah menerawang dan melayang tak tentu arah. Maka bangkitlah sekarang, lakukan aktivitas yang berfaedah,  kegiatan-kegiatan yang bermanfaat sehingga hati disibukkan dengan kegiatan tersebut.
7. Yakinkan diri bahwa kita tidak pernah sendiri. Ketika kita dilanda masalah, beban hidup terasa berat, cobaan hidup yang datang silih berganti, keruwetan hidup yang semakin kompleks dan tenggelam di dalam kegalauan yang tak pasti, yakinlah bahwa Allah selalu bersama kita, dan kepadanya tempat mengadukan segala keluh kesah. Merasa kehadiran Allah akan selalu membawa harapan, merasakan Cinta Allah akan selalu membelai kita. Yakinkan diri bahwa cobaan dan ujian adalah cara terindah dari-Nya untuk menaikan derajat kita disisi-Nya. Insya Allah hati akan tenang kembali.
8. Luangkan sedikit waktu untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang-orang yang kita sayangi, bercanda dan bercengkrama denga mereka, hal ini akan membantu mengurangi beban  pikiran yang menyababkan kita galau. Boleh jadi kita mendapatkan nasehat dan solusi dari permasalahan kita.
9. Sambutlah kegalauan dengan kebesaran hati sebab disana terbentang tangga menuju jenjang berikutnya, hadapi dengan berani dan jangan pernah melarikan diri. Maka hadapilah dengan lapang dada, berdamailah dengan segala kesedihan. Terimalah segala ketentuan Allah dengan sepenuh hati namun tetap optimis bahwa hari esok masih ada dan kita harus secara optimal untuk berusaha keluar dari himpitan hidup yang membuat kita menjadi galau.
10. Jangan sampai hal-hal sepele membuat kita galau dan membinasakan diri kita. Banyak orang galau, cemas, gelisah dan bersedih karena hal-hal sepele yang tak berarti. Jangan jadikan masalah yang kecil menjadi lebih besar dari kenyataan yang sebenarnya.
11. Selalu berpandangan positif dan menjauhi pikiran-pikiran negatif. Pandanglah hidup dengan indah, selalu ambil sisi baik dari setiap peristiwa yang  menimpa kita. Setiap momen tentu mempunya makna yang akan berproses untuk mengantarkan kita menjadi manusia dewasa.  Maknai hidup dengan benar, maka kebenaran memaknai hidup itulah yang akan menjadikan seseorang memiliki ketenangan jiwa. Orang-orang yang seperti ini menurut Ibnu Qayyim adalah orang-orang yang tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut ketika orang lain takut, tidak menangis ketika orang lain menangis.Wajah dan hati mereka bersinar karena cahaya Allah.
12. Keluarlah ke tempat yang nyaman, berekreasi ketempat-tempat yang indah, nikmati alam ciptaan Allah, renungkan kekuasaaNya, insya Allah kegalauan akan sirna.
13. Tata kembali tatanan hidup yang kacau, perbaharuilah sikap dan semangat hidup kita. Jadikan hidup lebih bervariasi. Ubah rutinitas hidup yang membosankan, singkirkan segala kejenuhan hidup, lakukan variasi dalam rutinitas harian kita. Kerjakanlah sesuatu dengan keteraturan dan  kerapian. Lihatlah bahwa semesta ini di bangun diatas sebuah keteraturan. Ruangan dan tempat yang teratur akan memberikan kenyamanan dalam pandangan mata dan akan menjadikan hati senang melihatnya.
14. Jangan membaca buku-buku yang memanjakan pesimisme dan putus asa, hindarilah tayangan media yang membuat kita bertambah galau, tukar cenel TV yang menayangkan cerita kesedihan dan keputusasaan. Alternatifnya lakukanlah kegiatan-kegiatan yang bisa mengalihkan perhatian kita dari acara-acara yang menambah kegalauan hati. Seperti menulis, membaca, berekreasi, atau pilihlah tontonan yang menarik dan inspiratif serta yang bisa menambah wawasan kita.
15. Datanglah ke tempat-tempat yang dapat menyejukkan hati. Seperti majlis ta’lim, majlis tilawah Al-Qur’an, dengarkan dan simak bacaan mereka. Dan bentangkan sajadah di keheningan malam, mengadulah kepada Rabb yang menciptakan kita.

Saudaraku………………….!
Yang lalu biarlah berlalu, tapi raihlah masa depan, jangan bunuh semangat hidup dengan berkepanjangan dalam kegalauan yang akan memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi. Maka...............!  Hiduplah dengan batasan hari ini, hari ini adalah milik kita. Selagi ada kesempatan diwaktu pagi jangan tunggu sampai sore. Dan ketika sore, jangan tunggu sampai pagi. Kerahkanlah semangat yang ada untuk menjadi lebih baik di hari ini.
Bacalah kisah orang-orang shalih, sejarah dan biografi orang-orang sukses, orang-orang yang pernah diuji, hal ini akan memotivasi dan menguatkan semangat kita dalam menjalani kehidupan. Dan mengambillah pelajaran berharga dari mereka, bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan, melawan segala rintangan dan sikap meraka tentang hidup dan kehidupan.
Sadarilah bahwa kehidupan akan menjadi sangat indah jika kita menikmatinya dengan senyuman, bukan dengan muram durja dan kesedihan yang berlarut-larut.
Bertemanlah dengan orang-orang yang baik, teman yang shalih, yang selalu optimis dan dapat membantu meringankan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dan membukan pintu harapan.
Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu memahami makna kehidupan ini dengan baik dan benar, sehingga kita terhidar dari hati yang galau. Andaipun rasa galau itu muncul kita mampu mengatasinya.
Insya Allah......................................!                      
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Jumat, 07 September 2012

Khutbah Jum'at

Menjaga Kesucian Jiwa Pasca Ramadhan
Ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan dapat mengantarkan seorang muslim kepada kesucian jiwa, agar dimensi ruhani lebih dominan dan dimensi jasmani dapat dikendalikan. Ramadhan adalah proses yang ideal untuk meningkatkan kesucian jiwa.
Proses ini tidak boleh berhenti dengan selesainya Ramadhan. Sebab, jiwa manusia mempunyai potensi untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat menggelincirkan seseorang dari jalan yang lurus. Setan sebagai musuh abadi bagi manusia tidak pernah berhenti melakukan tipu dayanya. Karena itu, ketika Ramadhan meninggalkan kita, itu berarti adalah babak baru untuk tetap menjaga kesucian diri dalam rangka mencapai kesuksesan hidup agar menjadi muslim yang bersih jiwa dan raga, jauh dari maksiat dan dari segala yang dilarang Allah SWT.
Kesucian diri adalah tanda kesuksesan, sedangkan mengotorinya adalah tanda kerugian. Allah menggambarkan hal ini dalam Al-Qur’an surat As-Syams;7-10:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
Jiwa harus kita jaga agar tetap suci. Untuk menjaga kesucian jiwa, ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.
Pertama: Menata Hati. Hati berpotensi mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Karena itu, ia harus tetap ditata dengan memohon kepada Allah agar meneguhkan hati kita dalam agama-Nya dan menjauhkannya dari tipu daya setan yang senantiasa berupaya menjerumuskan kita, sedangkan hati adalah sasaran utama bagi setan untuk menggoda manusia. Karena itu, hati hendaklah selalu di isi dengan nilai-nilai Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, banyak berzikir kepada Allah serta menjauhkannya dari lintasan-lintasan yang melahirkan dosa dan khayalan yang tidak berguna.
Menata hati, maksudnya membersihkannya dari semua hal yang mengotorinya, sebab hati yang tertata secara baik dan benar akan mengarahkan kehidupan kita untuk melaksanakan tugas  sebagai manusia muslim dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Hati yang bersih akan tercermin dalam raut wajah yang tenang, mudah melahirkan senyum, sejuk untuk dipandang dan membawa ketenangan. Menuntun anggota tubuh kepada perbuatan yang diridhai Allah SWT., berjalan di atas rel yang telah digariskan Rasulullah SAW, mengikuti teladan yang sudah dicontohkannay.
Kedua: Menahan Pandangan. Banyak perbuatan dosa yang diawali oleh pandangan mata. Mata menjadi pintu bagi hati, seperti dalam pepatah, dari mata turun ke hati. Menahan pandangan mata merupakan langkah awal untuk menghindari dosa. Setan menjadikan pandangan kita sebagai salah satu panah tipu dayanya. Karena itu, Allah SWT secara khusus menyuruh orang-orang beriman, baik lakilaki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan. Sebab, pandangan dapat membawa kepada syahwat. Bahkan jika kita terlanjur melihat sesuatu yang terlarang, Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidak mengikuti pandangan yang pertama. Karena setan bersama pandangan yang selanjutnya. Ketika kita dapat menahan pandangan dari hal-hal yang dilarang atau sesuatu yang dapat membawa kepada dosa, maka sebagai gantinya Allah SWT akan menganugerahkan kesucian dan ketenangan jiwa.
Ketiga: Melakukan perubahan diri. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menjadikan hari ini lebih baik dari yang kemarin. Sebab, orang yang dapat menata hari-harinya lebih baik dari hari sebelumnya, dia adalah orang yang beruntung. Semua itu baru akan dapat tercapai dengan melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik. Faktor perubahan itu berada dalam diri kita sendiri, yaitu adanya keinginan untuk berubah. Untuk itu, langkah yang harus dilakukan adalah menyelaraskan perilaku hidup kita dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.  Karenanya, kita harus berupaya secara maksimal untuk mempelajari kandungan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad, sebab dengan keduanya kita dapat berubah kearah yang diinginkan Islam. Disisi lain  kita harus mampu mengatur waktu di celah-celah kesibukan sehari hari untuk menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Dengan pola hidup seperti itu insya Allah akan ada perubahan yang kita rasakan. Dan Allah pasti membantu kita bila memiliki tekad yang kuat untuk berubah, sesuai janji-Nya yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Ankabut;69:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.
Keempat: Bergaul kepada komunitas yang baik. Secara fitrah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri, tetapi manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan orang lain. Demikian pula dengan kesucian diri yang tidak mungkin tercapai bila tidak didukung oleh lingkungan yang baik. Islam menggambarkan bahwa orang-orang mu’min itu laksana satu tubuh yang saling mendukung antara satu sama yang lain. Karenanya, berafiliasi kepada komunitas orang-orang baik merupakan keharusan dalam rangka mendukung kesalehan sosial dan mengokohkan kesalehan individu. Salah satu contoh adalah anjuran Allah Ta’ala dalam Al Qur’an untuk berinteraksi bersama orang-orang yang benar. Firman Allah dalam surat At-Taubah;119:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.
Apabila komunitas itu terdiri dari orang-orang yang baik dan benar tentu akan tercipta lingkungan yang kondusif untuk menggapai kesucian diri, saling mengingatkan dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Karena itu, hendaknya kita menjauhi sikap individualistis, hanya memikirkan diri sendiri yang tidak akan membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun kepada sesama.
Dalam pandangan Al Qur’an berafiliasi kepada kebaikan adalah ikut serta dalam dakwah, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Aktif bersama dalam berdakwah kepada kebaikan dengan tujuan membumikan Islam dan menjadikannya sebagai sistem hidup bagi pribadi dan masyarakat.
Kelima: Segera bertaubat dan banyak beristighfar. Ibarat rumah, meski setiap hari dibersihkan namun debu akan senantiasa ada. Sebagai manusia yang tidak terpelihara dari dosa, ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih dalam kondisi masyarakat kita saat ini, debu-debu dosa sulit terhindari, baik yang disengaja maupun tidak. Hendaknya setiap kita segera bertaubat dengan membasahi lisan dengan istighfar untuk meminta ampun kepada Allah. Dengan begitu, insya Allah kesucian diri akan tetap terjaga.
Saudaraku…………!
Mari kita lakukan Muhasabah/Intropeksi diri dari waktu ke waktu yang kita lalui untuk melihat sejauh mana perkembangan jiwa kita, adakah peningkatan yang dialami ataukah penurunan. Terkadang jiwa kita mengalami kejenuhan. Manakala itu terjadi, yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai meninggalkan kewajiban. Dan sebaliknya, ketika kondisi jiwa semangat, hendaknya memperbanyak amalan sunnah, sehingga tercipta keseimbangan.
Muhasabah diri bisa dilakukan setiap hari, setiap kali hendak tidur lakukanlah perenungan sejenak, melihat semua perbuatan yang telah dilakukan di siang hari, dari kata yang terucap dan perbuatan yang terjadi. Kita boleh bersyukur terhadap perbuatan yang selaras dengan tuntunan Islam. Tapi segeralah bertaubat atas perbuatan yang menyimpang. Muhasabah atau intropeksi merupakan keharusan sebagai salah satu instrumen penting guna memelihara kesucian diri.
Dengan melakukan itu semua, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membimbing kita dan memberikan kekuatan untuk memiliki jiwa yang suci sebagai tanda kesuksesan kita di dunia dan akhirat.