Jumat, 14 September 2012

Walikota Termuda Di Dunia


Kisah Bashaer Menjadi Wali Kota Termuda di Dunia Selama 2 Bulan
Bashaer Othman, gadis Palestina berusia 15 tahun selama 2 bulan menduduki kursi wali kota Allar di Tepi Barat, Palestina. Awal mulanya, dia menantang wali kota yang menjabat untuk memberi kesempatan kepada kaum muda.
"Saya menantang wali kota untuk memberi waktu seminggu menjabat wali kota, dan dia mengizinkan," kata Bashaer dalam kuliah umum di Kampus Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (13/9/2012). Kuliah umum ini diikuti sekitar 50 mahasiswa.
Sang wali kota, tidak hanya memberi waktu seminggu, tetapi 2 bulan bagi Bashaer untuk memerintah. Sejak 2 Juli-2 September 2012, gadis berwajah manis yang duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama di kota itu pun duduk sebagai wali kota.
"Dan saya diberi waktu 2 bulan bersama 11 orang lainnya. Awalnya banyak kesulitan, tapi kami berusaha keras dan bisa membuktikan," terang Bashaer didampingi penerjemah. Bashaer menyampaikan kuliah dengan bahasa Arab.
Dari apa yang dilakukannya, dia pun mengajak kaum muda Indonesia untuk berani tampil dan di segala bidang termasuk di ranah politik dan pemerintahan.
Apa yang dia lakukan di Palestina, bersama rekan-rekannya itu kemudian membuka kesempatan yang lebih besar bagi anak-anak muda yang lainnya.
"Kami ingin berbagi dengan kaum muda di Indonesia. Bagaimana kepemimpinan kaum muda Palestina bisa dipraktekkan di Indonesia. Kami menuntut pada pemerintah untuk mengizinkan para pemuda untuk mendirikan dan membentuk organisasi kepemudaan, dan pemerintah memfasilitasi untuk berkiprah secara nyata, bukan kumpul-kumpul biasa tetapi dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat," terang Bashaer yang datang ke Indonesia disponsori World Peace Movement ini.
Saat memberikan kuliah, Bashaer yang mengenakan jilbab modis ini tampak percaya diri. Dia bercerita di depan para mahasiswa sambil duduk di depan dan didampingi Dubes Palestina. Hingga pukul 13.30 WIB, acara masih berlangsung.
http://news.detik.com/read/2012/09/13/133721/2017288/10/kisah-bashaer-menjadi-wali-kota-termuda-di-dunia-selama-2-bulan

Mimbar Jum;at

Ilmu dan Kebahagiaan
Dalam kondisi bagaimanapun hendaklah kita “menyenangkan hati”. Pada saat anda kaya, senangkanlah hatimu, sebab dihadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit. Jika anda miskin, senangkan pula hatimu! Karena engkau terlepas dari penyakit sombong dan terlepas dari  orang yang dengki kepadamu lantaran kemiskinanmu. Kalau engkau tidak terkenal, senangkan pula hatimu! Karena orang lain tidak banyak yang mencela dan mencercamu mu.
Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan! Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan! Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan! Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!
Benarkah demikian.................?
Sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak seperti pada ungkapan di atas. Semua kenikmatan duniawi hanya sekedar tangga untuk mengantarkan kepada kebahagiaan, semua itu hanya sarana, bukan kebahagiaan itu sendiri.
Betapa banyak pejabat yang menjadi pablik pigur namun hidupnya diakhiri dengan penderitaan. Betapa banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat penenang! Lalu, apakah itu ”bahagia”?
Dalam pandangan banyak tokoh, mereka memberi pemahaman yang berbeda dalam menentukan tolok ukur kebahagiaan. Namun yang jelas, kebahagiaan itu sangat terkait dengan keyakinan diri seseorang akan Hakikat kehidupan ini. Dalam pandangan Islam, hidup ini adalah ujian. Orang yang mengerti tentang hal ini, tentu dalam situasi dan kondisi apapun yang sedang dia hadapi, akan merasakan bahagia selalu.
Jadi, kebahagiaan itu adalah kondisi hati seseorang yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya.
Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia, meskipun harus dimasukkan ke dalam penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Ibnu Taimiyah merasakan bahagia meskipun harus mati dalam penjara. Mereka itu adalah orang-orang yang merasakan kebahagiaan, kendatipun secara pisik mereka tersiksa, tapi hati mereka tidak mampu dikuasai oleh orang yang menyiksa mereka, sebab itulah mereka tetap merasakan kebahagiaan, karena mampu mempertahankan prinsip-prinsip kehidupan untuk tetap pada keyakinan yang telah tertanam di dalam hati.
Ketahuilah............! Bahwa kesenangan atau kebahagiaan  tiap-tiap sesuatu ialah bila merasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya, kelezatan itu ialah sesuai dengan tabiat penciptaannya masing-masing. Misalnya; kenikmatan mata  ialah melihat sesuatu yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, kenikmatan lidah menikmati lezatnya citarasa makanan, demikian pula segala anggota tubuh yang lain dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh dalam ma’rifat kepada Allah, karena hati dijadikan untuk mengingat Allah.
Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan Menteri, namun kegembiraan itu akan berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan Presiden. Tentu saja berkenalan dengan Allah merupakan puncak dari segala kegembiraan, lebih dari apa yang dapat perkirakan oleh manusia. Sebab, tidak ada di dunia ini yang melebihi kemuliaan Allah. Oleh karena itu, tidak ada perkenalan akan sesuatu yang lebih lezat daripada ma’rifatullah (mengenal Allah).
Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan ” لااِلــهَ اِلا الله ”( Tiada Tuhan selain Allah ). Maka, untuk dapat meraih kebahagiaan yang hakiki, manusia harus meraih ilmu yang mampu mengantarkannya kepada keyakinan untuk beriman dan taat kepada Allah dan Rasulnya dengan menerima syari’at Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, bukan ilmu yang justru membuat dirinya ragu akan kebenaran Islam. Karena itu, satu kerugian besar jika manusia mencari ilmu yang justru tidak pernah mengantarkannya kepada keyakinan, karena selamanya dia tidak akan pernah menikmati kebahagiaan yang hakiki.

Kamis, 13 September 2012

Memaknai Hidup Yang Sesungguhnya

Hina Tapi Dianggap Mulia?
Meniru adalah merupakat tabiat manusia. Tidak selamanya meniru itu buruk, tergantung siapa yang ditiru, dalam hal apa dan bagaimana kita meniru. Ada nasehat dalam hal meniru yang baik; Tirulah orang yang mulia, andaipun kamu tidak bisa persis seperti mereka, tapi sesungguhnya meniru orang yang mulia itu merupakan keberuntungan.
Persoalannya adalah, dalam kehidupan ini banyak sekali pilihan yang memungkinkan untuk ditiru. Dari yang tingkat lokal maupun tingkat sekaliber dunia. Dari yang paling baik, hingga yang paling buruk, dan dari zaman nabi Adam hingga zaman kita sekarang, dari yang berwujud sosok perorangan maupun kaum atau golongan.
Pada umumnya dalam meniru ini standartnya sama, bahwa semua orang tentu memilih untuk meniru tokoh atau kaum yang dianggapnya mulia, lebih mulia dari posisinya saat ini. Hanya saja, penilaian tentang siapa yang mulia dan siapa yang hina berbeda-beda, tergantung dari sisi mana memandangnya.
Ketika kehidupan manusia dihinggapi penyakit “ cinta dunia “ maka kacamata duniawilah menjadi sudut pandang yang paling utama baginya. Ukuran mulia selalu difahami dalam kemewahan dan kebebasan dalam mengekspresikan apa yang diinginkan. Kaum seperti inilah yang kelihatannya dianggap mulia, untuk kemudian dijadikan sebagai panutan dan idola. Singkat kata, sekarang banyak yang menjatuhkan pilihannya kepada komunitas Barat untuk ditiru. Walaupun tidak semua pola hidup orang Barat negatif, tetapi dipandang dari sudut ajaran Islam banyak yang tidak sesuai dan menyimpang. Dengan meniru  gaya kehidupan orang-orang Barat mereka merasa bisa “ikut mulia dan merasa hebat”, ada juga yang sekedar ikut-ikutan dengan budaya Barat. Padahal, mereka adalah representasi dari kaum Yahudi dan Nasrani, atau bahkan orang kafir secara umum. Padahal Nabi Muhammad SAW sejak lama sudah mengingatkan dengan sabdanya, artinya:
“Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb (semacam biawak), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami (sahabat) bertanya, “Ya  Rasul”, apakah yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Bukhari dan Muslim).
Karena gandrungnya terhadap kehidupan orang-orang Barat, apapun yang berasal dari Barat diadopsi sebagai pegangan dan tradisi, meskipun berupa perilaku maksiat maupun pola pikir yang bertentangan dengan syariat, pergaulan bebas dengan lawan jenis, kebiasaan minum khamar, nyanyian-nyanyian yang mengobral kata-kata cabul, dandanan yang mempertontonkan aurat dan pola pikir liberal. Semua itu adalah sebagian produk Barat dan menjadi menu utama yang dikonsumsi oleh banyak umat Islam.
Muliakah mereka, atau hinakah mereka?
Naif sekali, jika kaum muslimin terkesima dan terpesona oleh ke-glamouran Barat. Atau menganggap mereka mulia, sehingga dengan suka hati menjadi penerus budaya mereka. Seharusnya kaum muslimin tidak layak merasa rendah diri, apalagi bersedih lantaran tidak bisa bebas seperti mereka. Karena kemuliaan kita terletak pada keimanan yang kita yakini, dan kehinaan itu apabila kita tanggalkan ketaatan dan keimanan, lalu menggantinya dengan perbuatan dosa dan kekafiran. Bagaimana mungkin kita menganggap orang kafir mulia, sementara Allah menganggap mereka makhluk paling hina?.
Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 6:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”.
Bila ditanya mengapa mereka dianggap hina?, akan banyak alasan yang kita temukan dalam ayat-ayat maupun hadits Rasul. Kehinaan suatu kaum bisa ditilik dari rendahnya tujuan dan cita-cita mereka. Orang-orang kafir itu dipandang hina oleh Allah, karena puncak obsesi mereka adalah dunia yang hina, yang paling mereka buru adalah kenikmatan yang fana, tak sebanding dengan kenikmatan akhirat, baik dari sisi kadar maupun masanya. Allah telah menyingkap keinginan yang diimpikan mereka melalui firmanNya dalam surat An-Najm ayat 29-30:
فَأَعْرِضْ عَن مَّن تَوَلَّى عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿٢٩﴾ ذَلِكَ مَبْلَغُهُم مّنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى ﴿٣٠﴾
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.
Memburu kesenangan duniawi adalah obsesi terbesar mereka. Padahal, gambaran rendahnya nilai dunia dibanding akhirat digambarkan Nabi Muhammad seumpama tetesan air yang menempel di jari-jari, dibanding seluruh air yang ada di Samudera, sungguh tak terukur jauhnya selisih antara keduanya. Karena murahnya nilai dunia di sisi Allah, maka Allah memberikan kekayaan dunia kepada siapapun, tanpa membedakan yang mukmin dan yang kafir, yang dicinta maupun yang dibenci. Andai saja dunia itu berharga di sisi Allah, tentu Dia hanya akan menganugerahkan kepada orang-orang yang dicintainya saja. Rasulullah SAW bersabda, artinya:“Seandainya dunia itu di sisi Allah senilai dengan sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak memberikan minum kepada orang kafir, meski hanya seteguk air.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan shahih).
Begitu rendah cita-cita orang yang tak beriman. Karenanya, sehebat apapun mereka, Allah menganggapnya sebagai kaum yang tidak menggunakan akal untuk menuju Allah, tidak memahami hakikat makna hidup yang sesungguhnya. Bagaimana mereka jadikan dunia sebagai tujuan akhir hidupnya, sedangkan ujung dari kehidupannya adalah kematian?. Boleh jadi ajal datang sebelum mereka sempat menikmati jerih payahnya, selain hanya sedikit saja. Tidak jarang pula, kenikmatan dunia yang nilainya rendah itu harus dibayar dengan penderitaan yang kekal di neraka. Maha Suci Allah yang berfirman:
لاَ يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ فِي الْبِلاَدِ ﴿١٩٦﴾ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ﴿١٩٧﴾
”Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS. Ali Imran 196 – 197).
Mungkin umat yang meniru orang kafir hanya melihat yang enak-enaknya saja. Seakan hidup tanpa beban, bersenang-senang dan menyalurkan keinginan sesuka hati. Padahal, realitanya tidak seperti yang mereka duga. Tidak ada satupun manusia hidup tanpa pernah menghadapi masalah. Selalu dan pasti ada dua keadaan dalam hidup, sedih dan gembira, sehat dan sakit, tangis dan tawa serta kemudahan dan kesulitan. Justru orang yang beriman memiliki nilai lebih dibanding orang-orang kafir.
Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 104:
وَلاَ تَهِنُواْ فِي ابْتِغَاء الْقَوْمِ إِن تَكُونُواْ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللّهِ مَا لاَ يَرْجُونَ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. An-Nisa’ 104)
Harapan inilah yang menjadi faktor menjadi ringan dari beban manusia yang beriman. Harapan untuk mendapatkan ganti yang lebih baik dalam bentuk pahala dan keridhaan Allah di akhirat kelak.
Berbeda dengan orang-orang kafir yang tidak ada alasan untuk meringankan mereka dari siksa Allah dan tidak ada pula kompensasi di akhirat atas musibah yang dideritanya. Derita dunia bagi mereka hanyalah ’pendahuluan’ dari siksa yang akan menimpa mereka di akhirat. Maka layakkah kita meniru kaum yang memiliki masa depan begitu suram seperti mereka?
Alangkah indah motto hidup Khalifah Umar bin Khathab: Kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka kami tidak mengharapkan lagi kemuliaan selain dengannya.
Saudaraku..............................!
Jangan jadikan kesenangan dunia sebagai obsesi dalam mencapai kesenangan hidup, tapi jadikanlah apa yang kita peroleh di dunia ini sebagai jembatan menuju kebahagiaan hidup di akhirat.