Hina Tapi Dianggap Mulia?
Meniru adalah merupakat
tabiat manusia. Tidak selamanya meniru itu buruk, tergantung siapa yang ditiru,
dalam hal apa dan bagaimana kita meniru. Ada nasehat dalam hal meniru yang
baik; Tirulah orang yang mulia, andaipun kamu tidak bisa persis seperti mereka,
tapi sesungguhnya meniru orang yang mulia itu merupakan keberuntungan.
Persoalannya
adalah, dalam kehidupan ini banyak sekali pilihan yang memungkinkan untuk
ditiru. Dari yang tingkat lokal maupun tingkat sekaliber dunia. Dari yang
paling baik, hingga yang paling buruk, dan dari zaman nabi Adam hingga zaman
kita sekarang, dari yang berwujud sosok perorangan maupun kaum atau golongan.
Pada umumnya
dalam meniru ini standartnya sama, bahwa semua orang tentu
memilih untuk meniru tokoh atau kaum yang dianggapnya mulia, lebih mulia dari
posisinya saat ini. Hanya saja, penilaian tentang siapa yang mulia dan siapa
yang hina berbeda-beda, tergantung dari sisi mana memandangnya.
Ketika kehidupan
manusia dihinggapi penyakit “ cinta dunia “ maka kacamata duniawilah
menjadi sudut pandang yang paling utama baginya. Ukuran
mulia selalu difahami dalam kemewahan dan kebebasan dalam mengekspresikan apa
yang diinginkan. Kaum seperti inilah yang kelihatannya dianggap mulia, untuk
kemudian dijadikan sebagai panutan dan idola. Singkat kata, sekarang banyak
yang menjatuhkan pilihannya kepada komunitas Barat untuk ditiru. Walaupun tidak semua pola hidup orang Barat negatif, tetapi dipandang dari sudut ajaran Islam banyak yang tidak sesuai dan menyimpang. Dengan meniru gaya kehidupan orang-orang Barat mereka merasa
bisa “ikut mulia dan merasa hebat”, ada juga yang sekedar ikut-ikutan dengan budaya Barat. Padahal, mereka adalah
representasi dari kaum Yahudi dan Nasrani, atau bahkan orang kafir secara umum.
Padahal Nabi Muhammad SAW sejak lama sudah mengingatkan dengan sabdanya, artinya:
“Kalian
sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang
dhabb (semacam biawak), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami
(sahabat) bertanya, “Ya Rasul”, apakah
yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi kalau
bukan mereka?” (HR Bukhari dan Muslim).
Karena
gandrungnya terhadap kehidupan orang-orang Barat, apapun yang berasal dari
Barat diadopsi sebagai pegangan dan tradisi, meskipun
berupa perilaku maksiat maupun pola pikir yang bertentangan dengan syariat, pergaulan bebas dengan lawan jenis, kebiasaan minum khamar,
nyanyian-nyanyian yang mengobral kata-kata cabul, dandanan yang mempertontonkan aurat dan pola pikir liberal. Semua itu adalah sebagian produk Barat dan menjadi menu utama yang
dikonsumsi oleh banyak umat Islam.
Muliakah
mereka, atau hinakah mereka?
Naif
sekali, jika kaum muslimin terkesima dan terpesona oleh ke-glamouran Barat.
Atau menganggap mereka mulia, sehingga dengan suka hati menjadi penerus budaya
mereka. Seharusnya kaum muslimin tidak layak merasa rendah diri, apalagi bersedih lantaran tidak bisa bebas seperti mereka.
Karena kemuliaan kita terletak pada keimanan yang kita yakini, dan kehinaan itu
apabila kita tanggalkan ketaatan dan keimanan, lalu menggantinya dengan perbuatan
dosa dan kekafiran. Bagaimana mungkin kita menganggap orang kafir mulia,
sementara Allah menganggap mereka makhluk paling hina?.
Firman
Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 6:
إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
”Sesungguhnya
orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka
Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”.
Bila
ditanya mengapa mereka dianggap hina?, akan banyak alasan yang kita
temukan dalam ayat-ayat maupun hadits Rasul. Kehinaan suatu kaum bisa ditilik
dari rendahnya tujuan dan cita-cita mereka. Orang-orang kafir itu dipandang hina
oleh Allah, karena puncak obsesi mereka adalah dunia yang hina, yang paling
mereka buru adalah kenikmatan yang fana, tak sebanding dengan kenikmatan
akhirat, baik dari sisi kadar maupun masanya. Allah telah menyingkap keinginan
yang diimpikan mereka melalui firmanNya dalam surat An-Najm ayat 29-30:
فَأَعْرِضْ
عَن مَّن تَوَلَّى عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
﴿٢٩﴾ ذَلِكَ مَبْلَغُهُم مّنَ
الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِمَنِ اهْتَدَى ﴿٣٠﴾
“Maka
berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan
Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah
sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling
mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling
mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.
Memburu kesenangan duniawi adalah
obsesi terbesar mereka. Padahal, gambaran rendahnya
nilai dunia dibanding akhirat digambarkan Nabi Muhammad seumpama
tetesan air yang menempel di jari-jari, dibanding seluruh air yang ada di Samudera, sungguh tak terukur jauhnya
selisih antara keduanya. Karena murahnya nilai dunia di
sisi Allah, maka Allah memberikan kekayaan dunia kepada siapapun, tanpa
membedakan yang mukmin dan yang kafir, yang dicinta maupun yang dibenci. Andai
saja dunia itu berharga di sisi Allah, tentu Dia hanya akan menganugerahkan
kepada orang-orang yang dicintainya saja. Rasulullah SAW bersabda, artinya:“Seandainya dunia itu di sisi Allah senilai dengan sebelah
sayap nyamuk, niscaya Allah tidak memberikan minum kepada orang kafir, meski hanya
seteguk air.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan shahih).
Begitu rendah cita-cita orang yang tak beriman. Karenanya,
sehebat apapun mereka, Allah menganggapnya sebagai kaum yang tidak menggunakan
akal untuk menuju Allah, tidak memahami hakikat makna
hidup yang sesungguhnya. Bagaimana mereka jadikan dunia sebagai tujuan
akhir hidupnya, sedangkan ujung dari kehidupannya adalah kematian?. Boleh jadi ajal datang sebelum mereka sempat menikmati jerih
payahnya, selain hanya sedikit saja. Tidak jarang pula,
kenikmatan dunia yang nilainya
rendah itu harus
dibayar dengan penderitaan yang kekal di neraka. Maha Suci Allah yang berfirman:
لاَ
يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ فِي الْبِلاَدِ ﴿١٩٦﴾ مَتَاعٌ قَلِيلٌ
ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ﴿١٩٧﴾
”Janganlah
sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam
negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah
Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS. Ali Imran 196 – 197).
Mungkin
umat yang meniru orang kafir hanya melihat yang enak-enaknya
saja. Seakan hidup tanpa beban, bersenang-senang dan menyalurkan keinginan
sesuka hati. Padahal, realitanya tidak seperti yang mereka duga. Tidak ada satupun manusia hidup tanpa pernah menghadapi
masalah. Selalu dan pasti ada dua keadaan dalam
hidup, sedih dan gembira, sehat dan sakit, tangis dan tawa serta kemudahan dan
kesulitan. Justru orang yang beriman memiliki nilai lebih dibanding orang-orang
kafir.
Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 104:
وَلاَ
تَهِنُواْ فِي ابْتِغَاء الْقَوْمِ إِن تَكُونُواْ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ
يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللّهِ مَا لاَ يَرْجُونَ وَكَانَ
اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً
“Janganlah
kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita
kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana
kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka
harapkan.” (QS. An-Nisa’ 104)
Harapan
inilah yang menjadi faktor menjadi ringan
dari beban manusia yang beriman. Harapan untuk mendapatkan ganti yang lebih baik dalam bentuk
pahala dan keridhaan Allah di akhirat kelak.
Berbeda
dengan orang-orang
kafir yang tidak ada alasan untuk meringankan mereka dari siksa Allah dan tidak ada pula kompensasi di akhirat
atas musibah yang dideritanya. Derita dunia bagi mereka hanyalah ’pendahuluan’
dari siksa yang akan menimpa mereka di akhirat. Maka layakkah kita meniru
kaum yang memiliki masa depan begitu suram seperti mereka?
Alangkah indah motto hidup Khalifah Umar bin Khathab: Kami
adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka kami tidak
mengharapkan lagi kemuliaan selain dengannya.
Saudaraku..............................!
Jangan jadikan kesenangan dunia sebagai obsesi dalam
mencapai kesenangan hidup, tapi jadikanlah apa yang kita peroleh di dunia ini
sebagai jembatan menuju kebahagiaan hidup di akhirat.