Sabtu, 27 Oktober 2012

Ikhlas Berqurban

Menyadari Tujuan Berqurban
Semua pelaksanaan ibadah yang dilaksanakan bertujuan untuk mencapai derajat takwa di sisi Allah. Sebab, kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan terletak pada pangkat dan jabatan yang di pegang, tidak pada harta kekayaan yang dia punya, dan bukan pada status sosial yang dia sandang, tetapi pada nilai-nilai ketakwaan yang ada pada diri seseorang.
Demikian pula dengan ibadah Qurban yang dilaksanakan ummat Islam, Allah hanya melihat pada kesungguhan dari seseorang dalam melaksanakan ibadah qurban tersebut. Kendatipun yang disembelih adalah hewan qurban yang sudah ditentukan jenis hewannya, tetapi bukanlah darah atau daging hewan qurban itu yang di nilai Allah, sebab daging dan darah hewan itu tidak berarti apa apa di sisi Allah, hanya ketakwaan seorang yang berqurban itu yang menjadi penilain Alah, apakah dia laksanakan qurban hanya sekedar tradisi semati atau memang karena menjunjung tinggi perintah Allah untuk berqurban. Karena itu, setiap manusia yang melaksanakan qurban haruslah didasari dengan keikhlasan bukan karena riya atau pamer.
Allah berfirman dalam surat A-Hajj ayat 37:
………………. لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya………………..“.
Disamping ibadah qurban bertujuan untuk mencapai keridhaan Allah, namun di sisi lain ibadah qurban juga memiliki nilai-nilai filosofi yang harus dihayati. Nilai filosofi yang dimaksud adalah, bahwa dengan menyembelih hewan qurban diharapkan seorang yang berqurban dapat membuang jauh-jauh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada dirinya. Seperti, serakah, kikir, ego dan lain-lainnya.
Disisi lain disunnahkan bagi yang melaksanakan qurban menyaksikan penyembelihan hewan qurbannya, semoga dengan melihat darah yang mengalir dari hewan qurban yang disembelih, mengalir dan keluar pulalah sifat-sifat kebiatangan dari dalam dirinya.
Semoga kita dapat menghayati nilai-nilai ibadah qurban yang kita laksanakan dengan berharap keridhaan Allah semata.


Kamis, 25 Oktober 2012

Memaknai Ibadah Qurban



Makna Filosofi Ibadah Qurban

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Satu diantara upaya memaknai hari Raya Idul Adha, ummat Islam yang mampu diperintahkan Allah untuk menyembelih hewan qurban, dan membagikan dagingnya kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Makna utama dari peristiwa qurban adalah kesediaan untuk berqurban sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim dan Ismail.

Idul Adha dan peristiwa qurban yang setiap tahun dirayakan ummat Islam, seharusnya tidak hanya dimaknai sebatas prosesnya saja, tetapi hendaknya dipahami dalam nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sebagaimana pesan utama dari agama tentang berqurban ini.

Qurban tidak sama dengan korban. Qurban dalam makna harfiah berarti mendekatkan diri. Munurut syar’i artinya mendekatkan diri kepada Allah melalui penyembelihan hewan qurban pada hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik (tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah).

Makna yang lebih luas dari itu adalah mendekatkan diri kepada sesama manusia lewat pembagian daging qurban, khususnya mereka-mereka yang lebih membutuhkannya.

Dengan berqurban, kita mengingat saudara-saudara kita yang fakir untuk dapat berbagi rasa dengan mereka. Sebab, bila kita memiliki kelebihan rezeki seharusnyalah kita berbagi kenikmatan itu dengan orang lain, khususnya mereka-mereka yang tergolong kaum dhu’afa’ (fakir-miskin), dengan demikian fungsi sosial dapat dirasakan dalam ibadah qurban yang dilaksanakan.

Di sisi lain, bagi yang berqurban berarti mereka telah menumbuhkan sikap solidaritas sosial dalam dirinya, dan sikap seperti itu hendaknya tidak sebatas pada hari raya Idul Adha semata, tetapi berkesinambungan pada hari-hari yang akan dilalui setelah Idul Adha.

Ibadah qurban juga memiliki makna filosofi. Maksudnya, dengan berqurban hendaknya kita dapat membuang jauh-jauh dan menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita. Seperti sifat rakus, tamak, dan sifat-sifat kebinatangan lainnya.

Kehidupan manusia akan kacau dan jauh dari rasa ketenangan dan kedamaian manakala sifat-sifat kebinatangan itu tidak dimusnahkan. Dan latihan untuk itu, kita diperintahkan Allah dengan cara menyembelih hewan qurban. Itulah sebabnya Allah menyatakan bukan daging dan darah hewan qurban itu yang sampai kepada Allah, tetapi nilai-nilai ketaqwaan dari orang-orang yang berqurban itu yang di nilai oleh Allah. Karena itu, setiap yang berqurban dituntut agar ikhlas dalam melakukannya.

Firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 37:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Jika dianalogikan dengan kondisi kekinian dari apa yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim dengan menyembelih puteranya Ismail yang sangat dia cintai, tentu bagi kita saat ini banyak hal yang kita cintai dalam hidup ini. Antara lain, rumah yang megah, tanah yang luas, uang yang banyak dan lain-lain dari yang kita miliki. Tapi semua itu tidak dipinta oleh Allah. Yang dipinta oleh Allah hanya sedikit dari harta yang kita miliki, itupun agar kita dapat berbagi rasa dengan orang lain yang hidupnya dalam kesusahan.

Bila dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim dengan kesiapannya menyembelih putera yang sangat dia cintai, tentu belumlah sebanding dengan pengorbanan yang kita lakukan. Oleh karena itu, sejatinya kita menjadikan momentum Idul qurban ini untuk kembali menyadari bahwa apa yang kita miliki hanyalah sekedar titipan dari Allah. Bisa saja sewaktu-waktu Allah mengambilnya kembali.

Dengan berqurban diharapkan kita terdidik untuk mampu menghilangkan sifat-sifat buruk yang tidak terpuji. Seperti, kikir, tamak, serakah, egois, hasud, dengki dan sifat-sifat buruk lainnya.


Selasa, 23 Oktober 2012

Menyambut Idul Adha

Menelusuri Jejak Kehidupan Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim adalah satu diantara Nabi yang harus diteladani. Ketundukannya kepada sistem nilai-nilai dan aturan ilahiah selalu menjadi contoh untuk kehidupan sepanjang masa. Ketika Allah memerintahkannya agar tunduk dan patuh, Nabi Ibrahim tidak menunda-nundanya walau sesaat, tidak pernah terbetik keraguan dihatinya sedikit pun, apa lagi menyimpang. Ia menerima perintah Allah dengan tulus dan ikhlas.
Keimanan dan Keislaman serta ketundukan Nabi Ibrahim tidak hanya untuk dirinya sendiri, bahkan tidak hanya untuk generasi pada zamannya, melainkan untuk seluruh generasi ummat manusia. Nabi Ibrahim telah mewariskan Islam untuk anak cucunya, untuk generasi berikutnya sampai akhir masa.
Allah berfirman:
وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٣٠﴾ إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٣١﴾ وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٣٢﴾
Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Q.S. Al-Baqarah: 130-132).
Nabi Ibrahim mewasiatkan agar anak cucunya menerima dan menegakkan Islam secara utuh dan konsisten dalam merealisasikannya. Ketulusan dalam menerima dan menegakkan Islam serta konsisten dalam mengamalkannya merupakan jaminan untuk memperoleh kebaikan hidup. Sebaliknya, ketidakpatuhan dan mengambil ajaran selain ajaran Islam dapat mengakibatkan kehidupan manusia menjadi  centang perenang, bahkan akan mengakibatkan manusia terjebak ke dalam krisis multi dimensi yang berkepanjangan.
Empat belas abad yang lalu Rasulullah telah memberikan isyarat tentang situasi yang akan menimpa sebuah bangsa yang tidak konsisten menjalankan aturan agama, bahwa mereka akan dilanda berbagai krisis, baik krisis sosial, politik, ekonomi, moral, dan budaya yang berkepanjangan.
Kelihatannya isyarat Rasul tersebut pada saat ini telah bermunculan di tengah-tengah bangsa yang sedang dirundung krisis multi dimensi.
Kita dapat menyaksikan adanya manusia-manusia yang secara lahir berpenampilan rapi, bersih dan menarik, dengan gaya dan isi pembicaraan yang memukau, seolah ingin menggambarkan tingginya kemampuan intelektual mereka dan keberpihakan mereka kepada kebenaran dan keadilan. Padahal, kondisi sebenarnya mereka membenci dan memusuhi tegaknya kebenaran dan keadilan dalam kehidupan. Orang-orang seperti itulah yang kemudian populer disebut politisi busuk dan birokrat nakal.
Penampilan mereka yang meyakinkan bisa menutupi pandangan orang-orang tentang kondisi bathin mereka yang sesungguhnya, hidup mereka penuh dengan kepura-puraan, dan kelihatannya hal demikian telah menjadi realitas sosial yang membudaya. Akibatnya, terjadi pergeseran norma-norma sosial dan budaya, yang pada akhirnya menumbuhkan berbagai perilaku menyimpang yang berpengaruh besar terhadap keamanan dan kenyamanan dalam hidup bermasyarakat.
Gaya hidup seperti itulah yang mengobarkan kemunafikan dan kepura-puraan di berbagai sektor kehidupan. Di sana ada politisi busuk, birokrat nakal, pemimpin yang tidak berkualitas, yang kerjanya hanya mengeruk kekayaan buat dirinya sendiri, pedagang yang tidak mengindahkan norma-norma yang ada, dan merebaknya dekadensi moral yang dilakukan masyarakat secara terang-terangan. Dalam waktu yang bersamaan masyarakat tidak berdaya untuk memberantas berbagai jenis perilaku yang menyimpang itu,  akibatnya persepsi dan pandangan orang menjadi berubah, yang salah dipandang benar dan yang benar dipandang salah.
Tiga puluh tahunan yang lalu kita dapat merasakan adanya suatu pandangan yang sama di tengah masyarakat bahwa berhubungan seksual di luar nikah merupakan aib besar buat keluarga dan merupakan dosa besar yang harus benar-benar dijauhi.
Pandangan ini diterima secara umum sebagai suatu norma yang berlaku di masyarakat, sehingga bila ada orang yang melanggarnya akan mendapat perlakuan yang sama dari seluruh lapisan masyarakat di mana saja. Ia akan menerima sangsi sosial berupa tereleminasinya dari pergaulan sosial, dan akan merasakan sebagai pihak yang terhukum, yang akhirnya menimbulkan efek jera.
Tapi tidak demikian dengan kondisi masyarakat dewasa  ini. Berzina dianggap sebagai salah satu ciri gaya hidup modern, demikian juga perbuatan menyimpang lainnya dipandang hal yang biasa dan tidak ada rasa bersalah bila melakukannya. Kemudian pandangan seperti ini menjadi  populer di tengah masyarakat, sehingga norma-norma sosial menjadi berubah.
Berbagai perilaku menyimpang terjadi di mana-mana. Mulai dari kejahatan politik sampai kejahatan moral. Akibatnya masyarakat terutama yang awam merasa kesulitan untuk memilih dan membedakan mana perbuatan baik yang dapat membawa keamanan dan kebahagiaan hidup, dan mana perbuatan buruk yang dapat membawa kesengsaraan pada kehidupan. Kebejatan moral seperti itu masih diperparah oleh perilaku para pemimpin bangsa yang buruk. Mereka masih banyak yang melakukan korupsi dan manipulasi, melakukan penipuan dan penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Akibatnya dunia ekonomi kita mengalami keterpurukan luar biasa yang menyebabkan kita dikangkangi sistem kapitalisme global yang terus memiskinkan bangsa-bangsa di dunia.
Kelihatannya sampai saat ini belum terlihat tanda-tanda yang jelas bangsa ini dapat keluar dari krisis yang telah mengepung. Lebih celaka lagi apabila masih banyak masyarakat dan pemimpin di negeri ini yang enggan untuk kembali kepada pengamalan agama yang sesungguhnya dan melestarikan akar budaya yang baik. Yaitu ajaran Islam yang  dilukiskan Nabi Ibrahim sebagai satu-satunya jalan menuju pencapaian cita-cita untuk memperoleh kesejahteraan dan kedamaian. Sebab harus diyakini, Islam adalah satu-satunya jalan untuk menuju masyarakat yang adil, sejahtera, aman dan damai.
Dalam kondisi kekinian, dimana kita ummat Islam yang akan merayakan Hari Raya Idul Adha pada tanggal 26 Oktober 2012, sewajarnyalah kalau kita menelusuri kembali jejak-jejak kehidupan yang telah diwariskan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk kita jadikan sebagai icon dalam menata kehidupan menuju pribadi-pribadi yang senantiasa tunduk kepada kehendak dan ketentuan Allah SWT. Bila hal itu dapat dilakukan insya Allah Negara ini akan memiliki pemimpin-pemimpin dan masyarakat yang hatinya selalu tunduk kepada Allah.
Semoga...................................!