Minggu, 25 November 2012

Hari Guru

Peran Guru Dalam Pendidikan
( Terkait Dengan Peringatan Hari Guru )
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Sekurang-kurangnya ada tiga tugas pokok seorang guru. Yaitu, tugas Professional, tugas Manusiawi dan tugas Kemasyarakatan.

Tugas professional maksudnya, seorang guru bertugas mentransper ilmu pengetahuan kepada anak-anak didik untuk memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang belum diketahui anak-anak didik. Karena itu, seorang guru seharusnya senantiasa mengembangkan diri untuk menambah pengetahuan sesuai dengan perkembangan dan waktu yang berjalan, agar selalu dinamis dan mampu mengikuti perkembangan yang ada.

Tugas manusiawi maksudnya, guru bertugas membantu anak didik agar dapat memahami dan memenuhi tugas-tugas kemanusiaan agar kelak mereka dapat menjalankan misi kemanusiaan dengan baik dan benar, juga bermanfaat untuk masyarakat dan lingkungannya berdasarkan pengetahuan yang sudah mereka dapatkan.

Tugas kemasyarakatan maksudnya, seorang guru adalah sebagai warga masyarakat yang membawa pengaruh besar terhadap maju mundurnya suatu bangsa. Sebab, ilmu pengetahuan yang ditranspormasi kepada anak didik akan menentukan masa depan suatu bangsa untuk meraih kemajuan. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah, disamping memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, seorang guru juga selayaknya dapat membentuk kepribadian anak-anak didik untuk menjadikan mereka memiliki kepribadiaan yang baik, berakhlak mulia, memiliki sikap jujur dan memiliki prilaku baik lainnya dalam kehidupan. Maka dalam hal ini seorang guru harus mampu menjadi teladan bagi  murid-muridnya.

Ketiga tugas ini harusnya dapat dijalankan secara terpadu. Idealnya, melalui pendidikan, seorang guru hendaknya mampu membantu anak didik untuk mengembangkan daya pikir atau penalaran sedemikian rupa sehingga mampu pula untuk memiliki skiil yang nantinya dapat secara kreatif menjadi penggerak untuk melakukan perubahan-perubahan kearah yang positif untuk kemajuan bangsa. Semua itu tentunya diharapkan didasari dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.

Seorang guru hendaknya tidak hanya mengajar di dalam kelas, sejatinya mampu pula menjadi motivator dan dinamisator terhadap kondisi kemasyarakatn di tempat dia berdomisili.

Ketiga tugas ini, jika dikaitkan kepada anak-anak didik maka seharusnya seorang guru dapat memberikan nilai-nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Pengetahuan yang diberikan kepada anak didik hendaknya dapat membuat anak didik memilki kemampuan memilih nilai-nilai hidup yang semakin komplek dan mampu pula membuat anak-anak didik berkomunikasi secara baik dengan sesamanya di dalam masyarakat.

Insya Allah dengan penerapan tiga pola di atas pelaksanaan pendidikan yang dilaksanakan akan menghasilkan generasi yang handal dan bermartabat.

Akhirnya saya ucapkan ”Selamat Hari Guru”. Kepada segenap guru di bumi pertiwi ini. Semoga apa yang dilakukan dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak kita menjadi nilai ibadah di sisi Allah SWT.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Jumat, 23 November 2012

Masyarakat Islami

Masyarakat Islami Yang Dibina Rasul
Allah tidak hanya menurunkan Al-Qur’an sebagai doktrin bagi umat manusia, tetapi juga mengutus Nabi-Nya untuk memberi contoh dan membimbing manusia menuju kepada kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, aman dan damai.
Menilik kepada proses yang dilakukan Nabi dalam membentuk masyarakat Islam, sekurang-kurangnya ada lima hal yang dibangun oleh Nabi:
Pertama: Menanamkan aqidah ummat, terutama pada masa priode Makkah. Hal ini menjadi prioritas untuk mempersiapkan ummat  menerima tanggung jawab untuk menjalankan syari’at Allah dalam mengemban tugas khalifah Allah di muka bumi. Proses ini dilakukan lebih kurang 13 tahun. Setelah dilihat matang, Nabi mengutus sebagian sahabat menjadi juru dakwah untuk mengembangkan syi’ar Islam. Ada yang dikirim ke Ethiopia, ke Madinah dan ke daerah-daerah lainnya. Ketika dakwah sudah menampakkan hasilnya, terutama di Madinah, maka keadaan ini dipandang tepat bagi ummat Islam untuk hijrah ke Madinah, sebab kondisi di Makkah dipandang sudah tidak semakin kondusip.
Kedua: Sesampainya di Madinah Nabi Muhammad membangun Masjid sebagai sentral pembinaan ummat, dan hasilnya nampak dalam kenyataan bahwa dari Masjid ini muncul kader-kader yang mumpuni yang mereka siap menopang dakwah Nabi Muhammad sesuai dengan kahlian dan propesi masing-masing.
Ketiga: Nabi Muhammad mempersaudarakan antara ummat Islam dari kalangan muhajirin dengan kaum Anshar. Persaudaraan yang diikat dengan dasar ukhuwah Islamiyah maka ummat Islam benar-benar menyatu dalam kekompakan yang tidak mudah diadu-domba. Dan dengan ukhuwah tersebut ummat Islam memiliki kekuatan yang tak dapat dibayangkan sebelumnya.
Keempat: Nabi Muhammad mengikat perjanjian kerjasama dengan pihak lain yang ada di Madinah, yang kita kenal dengan "Piagam Madinah" untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan kota Madinah.
Kelima: Nabi Muhammad siap melakukan perang bagi siapa saja yang ingin memaksakan kehendaknya untuk merusak tatanan masyarakat Islam. Dan, beliau tampil sebagai penglima perang.
Dengan penerapan lima hal seperti yang dilakukan Rasul tersebut maka terbentuklah masyarakat Islami yang dilandasi dengan syari’at Allah SWT.
Sejatinya, kitapun hari ini perlu menerapkan apa yang sudah dicontohkan Rasul dengan para sahabatnya, terutama dalam kaitan bahwa kita baru saja memasuki tahun 1434 H. Dengan semangat hijrah, hendaknya kita bertekad untuk hijrah dari segala prilaku yang tidak baik kepada yang lebih baik.
Semoga………………………………………….!

Kamis, 22 November 2012

Memaknai Hidup Di Tahun 1434 H

Pesan Di Awal Tahun
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan-pun berganti tahun. Tahun 1433 H. sudah berlalu dari kehidupan kita, kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Tahun 1434 H. telah hadir dalam kehidupan kita. Siap atau tidak, kita harus menjalaninya. Namun, apakah tahun yang akan kita jalani ini dapat lebih bermakna dari tahun sebelumnya?.
Agaknya ungkapan berikut bisa menjadi motivasi bagi kita untuk mengukir kehidupan kepada arah yang lebih baik:
  1. Tanamkan dihati agar hidup Anda bisa bermanfaat bagi orang lain. Sebab, manusia yang terbaik adalah orang yang paling banyak manfa’atnya untuk orang lain (makna hadits Nabi).
  2. Ingatlah….. Nabi pernah bersabda, maknanya: “ Siapa yang nilai hidupnya hari ini lebih baik dari hari yang kemarin, dia adalah orang yang beruntung. Siapa yang nilai hidupnya sama dengan hari yang kemarin, dia adalah orang yang tertipu. Siapa yang nilai hidupnya lebuh buruk dari hari yang kemarin, dia adalah orang yang terkutuk.
  3. Jangan sia-siakan waktu yang kita miliki. Jadikan waktu dan kesempatan yang ada untuk diisi dengan hal-hal positif, dengan demikian hidup akan lebih bermakna. Ingatlah……….! seringkali waktu yang sudah berlalu menjadi penyesalan pada diri seseorang.
  4. Jangan lupa bersyukur terhadap apa yang telah diraih. Sebab, dengan bersyukur berarti Anda sadar bahwa apa yang Anda miliki adalah karunia dari Allah SWT. Dan, orang yang bersyukur pertanda hatinya akan selalu tentram. Ingatlah………! Dalam urusan dunia jangan lihat keatas, Anda akan sulit untuk bersyukur. Tapi, lihatlah kebawah, Anda akan merasa bahwa hidup Anda masih lebih baik dari mereka yang Anda lihat.
  5. Jangan terlalu sensitif atas kritikan orang kepada kita, sebab kritikan itu merupakan anak tangga untuk menjadikan kita lebih dewasa dalam hidup. Dan,  dengan kritikan itu pula kita bisa mengintropeksi diri untuk melangkah kepada hidup yang lebih berkwalitas. Benar, kalau setiap orang ingin dihargai. Tapi sayangnya, tidak setiap orang bisa menghargai orang lain.
  6. Jangan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada orang lain atau kepada sesuatu. Sebab, tidak jarang Anda akan kecewa karenanya. Tapi, gantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah setelah Anda berusaha secara maksimal, karena Allah punya kuasa tiada batas. Andaipun harapan Anda belum juga terkabul, sadarlah bahwa boleh jadi Anda sedang diuji oleh Allah. Disinilah letak ketenangan yang akan Anda rasakan.
  7. Ingatlah, hukum sebab akibat berlaku dalam kehidupan ini. Apa yang Anda terima hari ini adalah hasil kerja Anda pada waktu atau hari sebelumnya. Jika baik yang Anda lakukan, Anda akan menerima kebaikan, demikian sebaliknya. Perlu disadari, jika Anda telah melakukan kebaikan, namun balasannya adalah keburukan, maka sadarlah; boleh jadi Iman Anda sedang diuji.
Semoga tahun 1434 H ini bisa kita isi dengan nilai-nilai yang lebih baik dan akan mengantarkan kita menjadi orang-orang yang mulia di sisi Allah.

Minggu, 18 November 2012

Membina Ukhuwah

Menangkap Pesan Hijrah Untuk Membina Ukhuwah
Setelah Rasul Hijrah ke Madinah masyarakat muslim di Madinah terdiri dari kelompok, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Kaum Muhajirin adalah kelompok ummat Islam yang hijrah bersama Rasul dari Makkah ke Madinah. Sedangkan kaum Anshar adalah penduduk muslim yang ada di Madinah yang memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin.
Adanya kelompok Muhajirin dan Anshar, bukanlah berarti terjadi dua kubu yang bertentangan dikalangan ummat Islam. Justru, mereka menyatu dalam satu kekuatan yang dahsat untuk mendukung dakwah Islam yang disampaikan Rasul. Hasilnya, dalam waktu yang relatif singakat Rasulullah dan para sahabatnya mampu menorehkan tinta emas merubah sejarah peradaban manusia sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Kelompok Muhajirin dan Anshar ini menjadi satu kekuatan karena hidup mereka ditempa oleh Rasul dengan semangat ukhuwah yang saling menopang antara satu dengan yang lain untuk mencapai cita-cita yang sama, yaitu menegakkan kalimah Tauhid dan mengikuti agama Allah yang hak.
Rasul sebagai pemimpin mengajarkan, ummat Islam harus menjadi seperti satu tubuh, apabila yang satu merasa sakit yang lain juga harus ikut merasakan sakit. Gambaran hidup seperti ini pada kenyataannya telah terwujud dalam kehidupan ummat Islam di era Nabi Muhammad.  Akhirnya mereka kompak dan memiliki kekuatan yang mengantarkan mereka kepada kejayaan.
Sebagai ummat Islam yang hidup di abad moderen ini sejatinya kita memiliki semangat hijrah seperti yang ada dalam sejarah Rasul, salah satunya adalah menciptakan semangat ukhuwah untuk membina persatuan dan kesatuan demi meraih masa depan yang lebih baik.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurot ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat“.
Semoga kita dapat menangkap pesan hijrah untuk membina ukhuwah yang utuh dalam menciptakan persatauan dan kesatuan.