Kamis, 16 Desember 2010

TUJUH PERILAKU HIDUP BAGI SEORANG MUSLIM

TUJUH PERILAKU HIDUP BAGI SEORANG MUSLIM 

Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

               
Hendaklah setiap pribadi muslim memiliki sikap Istiqomah ( memiliki pendirian yang teguh ) dalam kehidupannya, untuk itu ada tujuh sikap perilaku hidup yang harus melekat dalam kehidupannya.
1.       “ حُـسْـنُ ا ْلاِرَادَة “ Mempunyai keinginan yang baik. Keinginan yang baik akan hadir dalam kehidupan seseorang manakala hatinya bersih, dan manakala hati seseorang sudah baik maka dorongan-dorongan yang timbul dari hati seseorang adalah dorongan yang baik pula, maka dengan keinginan yang baik tersebut seseorang akan selalu berbuat kebaikan.
2.       “حُـسْـنُ ا لـْـكـَـلاَم “ Baik perkataan. Rasul bersabda : Barang siapa beriman kepada Allah dan Rasulnya maka hendaklah ia berkata-kata dengan baik, atau ( kalau tidak mampu berkata-kata dengan baik ) maka lebih baik dia diam. Pepatah orang tua mengatakan : Diam itu adalah emas. Lidah kamu adalah harimau kamu. Kata-kata yang sudah diucapkan tidak akan dapat dimasukkan kembali.
3.       “حُـسْـنُ الـْـعَـطـَا “ Baik pemberian. Dalam memberikan sesuatu hendaklah dilakukan dengan pemberian yang baik dan tidak menyakiti hati orang yang menerimanya, dan tolong-menolong adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya.
4.       “حُـسْـنُ الـنـَّــظَـرِ “ Baik penglihatan. Pandangan mata yang tidak terkendali dapat menimbulkan hal yang tidak baik, bahkan bisa menimbulkan dosa, oleh karena itu kendalikanlah pandangan mata dari hal-hal yang mendatangkan dosa.
5.       “حُـسْـنُ الـسَّـمْـعِ “ Baik pendengaran. Pendengaran juga harus terbiasa digunakan untuk hal-hal yang baik. Untuk itu biasakanlah dalam kehidupan untuk mendengarkan nasihat-nasihat yang baik dan mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
6.       “حُـسْـنُ الـْـمَـشْــِي  “ Baik perjalanan. Biasakanlah kaki kita melangkah ketempat-tempat yang baik dan hindarkanlah agar jangan melangkah ketempat-tempat maksiat.
7.       “ تـَرْكُ الـشُّـبْـهَـا ت “ Meninggalkan hal-hal yang syubhat. Syubhat adalah sesuatu yang tidak jelas halal atau haramnya. Untuk itu seorang muslim hendaklah menjauhkan diri dari hal-hal yang berkenaan dengan yang syubhat, sebab sesuatu yang syubhat lebih dekat kepada haram.
Dari tujuh prilaku hidup yang telah dikemukakan di atas, dapat di simpulkan bahwa untuk menjadi seorang muslim yang baik seseorang hendaklah memiliki prilaku sebagai berikut :
1.       Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan.
2.       Senyum simpulnya penuh dengan persahabatan.
3.       Uluran tangannya adalah nilai-nilai sedekah.
4.       Langkah kakinya semangat jihad.
5.       Untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasihat
6.       Diamnya adalah merupakan zikir dan fikir.
Manusia yang seperti inilah menjadi manusia yang rindu orang manakala tidak bertemu dengannya, tapi malas orang berpisah saat sudah bertemu kepadanya.

Rabu, 15 Desember 2010

SEPULUH CARA HIDUP UNTUK MENDAPATKAN KEMULIAAN



   1.        Takutlah Kepada Allah Dan Ikuti Ajaran Rasulullah.
        2.        Sayangi Orang Tua Dan Patuhi Perintahnya.
        3.        Hilangkan Sifat iri, Dengki, Takabbur, Rendah Diri Dan Buruk Sangka.
        4.        Kurangi Sifat Terlalu Banyak Berharap Kepada Sesama Makhluk.
        5.        Perbanyak Rasa Syukur Kepada Allah.
        6.        Hormati Dan Sayangi Sesamamu.
        7.        Timbulkan Sopan Santun Dalam Setiap Gerak Langkah Kehidupan.
        8.        Perbanyak Melakukan Perbuatan Baik.
        9.        Jangan Banyak Berkeluh Kesah Dan Berkhayal.
   10.   Berusahalah Menimbulkan Keyakinan Yang Utuh Bahwa Kebahagiaan Dunia Sifatnya Semu Sedangkan Kebahagiaan Akhirat Kekal Dan Abadi. 

Selasa, 14 Desember 2010

MENANAMKAN PENDIDIKAN DASAR AGAMA SEJAK DINI KEPADA ANAK


MENANAMKAN PENDIDIKAN DASAR AGAMA SEJAK DINI KEPADA ANAK
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti
         Perkembangan kepribadian seorang anak sangat tergantung kepada pendidikan yang diterima oleh sang anak terutama dari orang tuanya, terlebih-lebih dalam hal pendidikan agama, karena itu peran aktif orang tua dalam memberikan pendidikan terhadap anak-anaknya sangat menentukan sekali terhadap perkembangan kehidupan sang anak di masa yang akan datang, karena itu ajaran Islam memerintahkan kepada setiap orang tua agar menanamkan pendidikan agama kepada anak-anaknya dari sejak dini agar nantinya perkembangan kehidupan mereka diwarnai dengan nilai-nilai yang baik, memiliki budi pekerti dan memiliki kepribadian yang mulia.
           Pendidikan dasar agama yang harus diterapkan setiap orang tua kepada anak-anaknya dapat mengacu kepada seorang tokoh pendidikan yang namanya diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, beliau adalah Luqman Al-Hakim.
Siapa sebenarnya Lukman Al-Hakim ?. Banyak riwayat yang mengemukakan tentang pribadi Luqman, diantaranya adalah yang dikemukakan oleh Ibnu Ishak, bahwa dia adalah Luqman bin Ba’ura bin Nahur bin Tariha, yang hidup dimasa Nabi Ibrahim as, tapi ada yang mengatakan dia hidup dimasa Nabi Ayyub as.
Luqman Al-Hakim bukan seorang Nabi dan Rasul tetapi dia adalah seorang ahli hikmah yang kata-katanya penuh dengan hikmah dan nasihat terutama nasihat-nasihat yang selalu disampaikan kepada anak-anaknya. Sebagian nasihat Luqman tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan sebagian terdapat di dalam riwayat-riwayat yang ada. Pola pendidikan yang ditanamkan Luqman kepada anaknya mencakup empat pundamen dasar, yaitu :
Pertama: Menanamkan akidah / Keimanan yang kokoh kepada Allah swt. agar tidak berbuat syirik kepadaNya, hal ini tergambar melalui nasihat Luqman yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 13:
وَاِذ ْ قـَالَ لـُقـْمَـانُ لاِبْـنِـه وَهـُوَ يَـعِـظُـه يـبُـنـَيَّ لا َ تـُشـْرِكْ بـِاللهِ اِنَّ الـشـِّـرْ كَ لـَظُـلـْـمٌ عَـظِـيْـمٌ .                         
Artinya : “ Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang   besar ".
Iman adalah merupakan pundamen dasar dalam kehidupan beragama seseorang, bila imannya kepada Allah sudah kokoh maka dapat diyakini agama seseorang akan baik bahkan keimanannya tersebut yang akan memberikan dorongan kepadanya untuk selalu menunjukkan sikap tunduk dan patuh kepada perintah Allah swt.
Kedua   : Menanamkan kesadaran bahwa perbuatannya senantiasa diketahui oleh Allah. Hal ini tergambar melalui firman Allah pada surat Luqman ayat 16 :
يـبـُنـَيَّ اِنـَّـهَـا اِنْ تـَكُ مِـثـْـقـَالَ حَـبـَّـةٍ مِـنْ خـَرْدَ لٍ فـَـتـَـكـُنْ فِـيْ صَـخـْرَ ةٍ اَوْ فِـى الـسـَّمـوتِ اَوْ فِـى اْلا َرْضِِ يـَأ ْتِ بـِـهَـا اللهُ اِنَّ اللهَ لـَطِـيْـفٌ خـَـبـِـيْــرٌ.
Artinya : (Luqman berkata): " Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui “.
                Kesadaran seperti ini perlu dalam kehidupan seseorang sebab dengan kesadaran tersebut seseorang akan selalu merasakan bahwa Allah selalu dekat dengannya, dengan demikian kehidupannya akan selalu menunjukkan sikap berhati-hati dalam melakukan sesuatu karena dia selalu merasa senantiasa diawasi oleh Allah swt.
Ketiga   : Menanamkan kepada anaknya agar selalu melakukan ibadah dan melaksanakan Amar Makruf - Nahi Mungkar. Nasihat Luqman ini juga tercantum pada surat Luqman ayat 27:
يـبـُنـَيَّ اَ قـِمِ الـصـَّلـوة َ وَأ ْ مُـرْ بـِـا لـْمـَعـْرُوْفِ وَانـْهَ عَـن ِ الـْمـُنـْـكـَــِر وَاصْـبـِـرْ عَـلى مَـا اَصـَا بـَـكَ اِنَّ ذ لكَ مِـنْ عَـزْمِ اْلا ُمُـوْ ِر. 
Artinya : “   Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)   ( Q. S. Luqman :  17 )                                        
                Melakukan ibadah adalah merupakan ciri dari seseorang yang menunjukkan sikap patuhnya terhada ajaran agama yang dia yakini, dalam hal ini adalah ajaran agama Islam. Begitu juga dalam melaksanakan Amar makruf - Nahi mungkar adalah merupakan usaha dalam perjuangan menagakkan agama Allah, sebaliknya dalam melaksanakan Amar Makruf - Nahi Mungkar,  tentu akan banyak mengalami rintangan dan dalam menghadapi rintangan tersebut dituntut pula agar bersabar.
Keempat: Menanamkan Akhlak yang mulia.
                Akhlak yang mulia adalah merupakan perhiasan hidup bagi manusia, dia akan hidup terpuji apabila memiliki akhlak yang mulia. Setinggi apaun jabatan seseorang, sebanyak apapun kekayaannya dan sedalam apapun ilmu pengetahuannya bila tidak dibarengi dengan akhlak yang mulia dia tidak akan mendapat kemuliaan yang sesungguhnya. Nasihat Luqman yang berkaitan dengan akhlak ini dapat dilihat dalam firman Allah pada surat Luqman ayat 18 – 19 :
وَلا َ تـُصَـعِّـرْ خـَدَّ كَ لِـلـنـَّـا ِس وَلا َ تـَمْـِش فـِى اْلا َرْ ِض مـَرَحًـا اِنَّ اللهَ لا َيُـحِـبُّ كـُـلَّ مُـخـْــتـَـا ٍل فـَـخُـوْ ٍر. وَاقـْصِـدْ فِىْ مَـشـْيـِـكَ وَاغْـضُـضْ مِـنْ صَـوْ تـِكَ اِنَّ اَنـْـكـَرَ اْلاَصْـوَاتِ لـَصَـوْتُ الـْـحَـمِـيْــِر .                                                          
Artinya : “ Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai “.
Empat pundamen sebagai pola pendidikan dasar yang ditanamkan Luqman Al-Hakim kepada anaknya adalah merupakan hal yang sangat mendasar dan akan membawa pengaruh dalam perilaku hidup bagi seorang anak terhadap perkembangan kehidupannya dimasa yang akan datang.
                Nasihat Luqman terhadap anaknya seperti yang telah dikemukakan di atas adalah merupakan nasihat-nasihat Luqman yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, sementara nasihatnya yang lain banyak ditemukan dalam berbagai kitab, diantaranya nasihat-nasihat Luqman yang termuat dalam kitab “ Luqman Al-Hakim dan hikmat-hikmatnya “.
Diantara nasihat yang sangat menarik dalam kitab tersebut antara lain adalah:
يَا بُـنـَيَّ اِنَّ الـدُّنـْيـَا بـَحْـرٌ عَـمِـيْـقٌ غَـرِقَ فِـيْـهِ خَـلْـقٌ كـَثِـيْـرٌ فَـلْـتـَكُـنْ سَـفـِيْـنـَتـَكَ فـِيْـهِ اْلإيْـمَـانُ وَلْـيـَكـُنْ حَـشْـوُهَـا الـتـَّقْـوَى وَلْـيـَكـُنْ شِـرَاعُـهَـا الـتـَّـوَكـُّـلُ فـَعَـسَى اَنْ تـَنـْجُـوْا ومَـا اظُـنـُّكَ بـِنـَاجٍ.                                                                                     
Artinya :   “ Hai anakku, sesungguhnya dunia ini tidak obahnya seperti lautan dalam yang menenggelamkan banyak orang, maka gunakanlah iman sebagai bahtera untuk mengharunginya, berisikan takwa dan berlayarkan tawakkal. Semoga kamu selamat, tapi aku sendiri sangsi akan keselamatanmu ”.
                Kata-kata Luqman yang berisikan mutiara hikmah dan nasihat tersebut sungguh sangat mendasar sekali sebagai bekal dalam kehidupan, yaitu hidup di dunia diibaratkan seperti orang yang sedang mengharungi lautan yang sangat dalam, yang tidak pernah luput dari terpaan ombak dan badai, tentunya perlu perahu yang kokoh dan sanggup menahan hantaman ombak dan badai, punya muatan dan bekal yang cukup sampai keseberang dan harus punya layar terkembang yang akan memudahkan untuk mengarahkan perahu agar bisa selamat ke tempat tujuan.
Bila hidup ini diibaratkan seperti mengharungi lautan yang sangat dalam maka seseorang yang hidup di dunia ini tentu memerlukan perahu yang akan menyelamatkannya, dan perahu yang dimaksud adalah iman, sebab seseorang yang sudah beriman kepada Allah, jalan kehidupan yang ditempuhnya akan selalu menuju kepada nilai-nilai kebaikan karena imannya yang selalu mendorongnya untuk melakukan kebaikan
Setelah memiliki iman sebagai perahu maka perahu itupun harus diisi dengan muatan sebagai bekal dan bekal tersebut adalah perilaku takwa dan setelah itu harus memiliki layar yang mampu mengarahkan perahu tersebut mencapai tempat tujuan dan layar tersebut adalah tawakkal kepada Allah swt.
Pola pendidikan yang telah dicontohkan oleh Luqman seperti yang telah diuraikan di atas kiranya dapat menjadi pedoman bagi ummat Islam dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya terutama dalam pendidikan agama, sehingga anak-anak yang merupakan amanah yang dititipkan Allah kepada orang tuanya dapat menjalani kehidupan dengan dasar pengenalan agama yang dilandasi dengan iman dan takwa kepada Allah serta dihiasi dengan akhlak yang mulia. Dengan demikian anak tersebut benar-benar menjadi cahaya mata dan belahan jiwa serta menjadi anak-anak yang dapat dibanggakan orang tuanya bahkan berguna bagi agama, bangsa dan negara.

***


MANUSIA YANG HATINYA TELAH MATI

MANUSIA YANG HATINYA TELAH MATI
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Persepsi tentang mati memang berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa sudah mati ketika kehilangan kekasihnya. Ada yang merasa mati ketika harta bendanya habis. Dan, ada yang menganggap hidupnya tak berarti saat dirundung kegagalan dan kedukaan akibat musibah.

Mati bukan hanya ketika seseorang telah menghembuskan napas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti, dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis. Kematiannya masih bermanfaat karena menjadi pelajaran bagi yang hidup. Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan." (HR At-Thabrani dari Ammar RA).
Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, yakni masjid atau madrasah yang mereka bangun, buku yang mereka tulis, anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah diajarkan. Meraka mati jasad, tapi pahala terus hidup (lihat QS al-Baqarah: 154).

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ

Artinya : “ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya ” .
Sesungguhnya yang perlu diwaspadai adalah mati hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup. Tak ada yang bisa diharapkan dari manusia yang hatinya telah mati. Boleh jadi dia hanya menambah jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan orang lain. Bagaimana halnya dengan koruptor, orang yang merusak, dan menebar kejahatan di muka bumi?
Tanda manusia yang hatinya telah mati, antara lain:
1.     Kurang berinteraksi dengan kebaikan.
2.     Kurang kasih sayang kepada orang lain.
3.     Mendahulukan dunia daripada akhirat.
4.     Tidak mengingkari kemungkaran.
5.     Menuruti syahwat.
6.     Lalai dan senang berbuat maksiat.
Ada tiga hal yang bila kita tinggalkan akan menyebabkan kematian hati.
1.     Meninggalkan shalat, itu akan membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah kemungkaran dan kesesatan

Firman Allah dalam Surat Al-Ankabut : 45:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Firman Allah dalam Surat Maryam : 59,
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً
Artinya : Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

2.     Meninggalkan sedekah. Itu berarti kita egois, individualis, dan enggan berbuat baik. Kepedulian sosial seperti sedekah adalah bukti keimanan. Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.
3.     Ketiga, meninggalkan zikrullah adalah awal kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati
Firman Allah dalam surat Ar-Ra'd: 28:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya :  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.



Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang baik, memiliki hati yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat, sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa.
Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami untuk berbuat ta’at kepada perintahMu dan perintah RasulMu. Hidupkanlah kami dalam iman dan Islam dan matikanlah kami tetap dalam iman dan Islam. Amiin………………………………………………!

Senin, 13 Desember 2010

NABI MUHAMMAD MEMILIKI PRIBADI YANG MULIA
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir diutus oleh Allah Swt. adalah merupakan Nabi yang memiliki kepribadian mulia yang segala sendi-sendi kehidupannya dapat dijadikan teladan untuk kehidupan manusia, sebab kehadirannya membawa rahmat untuk seluruh alam. Nabi Muhammad adalah seorang manusia yang pantas untuk menerima ungkapan kata: Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan, senyum simpulnya penuh dengan persahabatan, uluran tangannya adalah nilai-nilai sedekah, langkah kakinya adalah semangat jihad, untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasihat, diamnya adalah merupakan zikir dan fikir. Dialah sosok manusia yang rindu orang manakala tidak bertemu dengannya, tapi malas orang berpisah pada saat sudah bertemu kepadanya.
Mengkaji tentang pribadi Nabi Muhammad sekurang-kurangnya ada lima hal yang perlu di dalami :
1. Pra Kelahirannya.
            Seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah sebelum Nabi Muhammad Saw. Mereka   berjanji untuk mematuhi beliau. Allah Swt. berfiman dalam surat Ali Imran ayat 81 :
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya".  Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".
2. Pra Kenabiannya.
Banyak tanda-tanda kelebihan yang terjadi pada diri Nabi Muhammad dan yang terpenting adalah bahwa beliau memiliki sifat jujur sehingga beliau deberi gelar oleh masyarakat jahiliyah dengan Al-Amin.
3. Masa Kenabian.
            Kehadiran beliau sebagai seorang Rasul bukan merupakan hal yang baru, sebab sebelumnyapun sudah banyak Rasul yang diutus Allah Swt.
Allah berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 9 :
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلاَ بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ مُبِينٌ
Artinya :  Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
Kendatipun para Rasul yang diutus Allah posisi mereka semuanya sama dalam menyampaikan dakwah, namun ada perbedaan antara mereka dengan Nabi Muhammad Saw.  Para Rasul diutus hanya untuk kaumnya, tapi Nabi Muhammad di utus untuk seluruh manusia. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-A’raaf ayat 158 :
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَا ْلاَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ ا ْلاُمِّـيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون                                                               َ
Artinya :  Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".  
4. Akhlak Beliau.
            Nabi Muhammad memiliki akhlak yang mulia dan dia dipuji karena akhlak mulia tersebut, pujian itu tidak hanya datang dari kalangan ummat Islam semata tetapi juga diakui oleh orang-orang yang menentangnya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul pujian tertinggi yang diberikan masyarakat jahiliyah kepadanya adalah dengan sebutan Al-Amin.
Di sisi lain Allah juga memuji dan mengakui keluhuran akhlak beliau dengan firmannya dalam surat al-Qolam ayat 4 :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Dalam hal menempa kepribadian Nabi Muhammad Saw. Beliau diperintahkan Allah untuk meneladani Nabi-Nabi yang telah terdahulu dari beliau. Allah Swt berfirman :

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ

Artinya :   Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah     petunjuk mereka.
            Ulama-Ulama tafsir menyatakan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad pasti meneladani Nabi-Nabi sebelumnya sesuai petunjuk ayat di atas, karena itu segala kelebihan yang dimiliki Rasul sebelum beliau semuanya terkumpul dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. Misalnya :
  1. Nabi Nuh, dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam menjalankan tugas dakwahnya.
  2. Nabi Ibrahim, dikenal sebagai seorang yang pemurah dan sangat tekun bermujahadah / beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Nabi Daud, dikenal sebagai seorang yang sangat menonjol rasa syukurnya kepada Allah.
  4. Nabi Zakariya, Yahya dan Nabi Isa, Mereka adalah Nabi-Nabi yang selalu berupaya menghindari kenikmatan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah.
  5. Nabi Yusuf, dikenal sebagai seorang yang sangat tampan dan selalu bersyukur terhadap nikmat Allah serta sabar dalam menghadapi cobaan dan fitnahan.
  6. Nabi Yunus, dikenal sebagai seorang yang terkenal dengan kekhusyukannya dalam berdoa.
  7. Nabi Musa. dikenal sebagai seorang yang pemberani dan gagah serta memiliki sikap tegas dalam mempertahankan kebenaran.
  8. Nabi Harun, dikenal sebagai seorang yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.
  9. Nabi Ya’qub dan Nabi Ayyub, dikenal sebagai orang-orang yang yang memiliki kesabaran yang tinggi dalam menghadapi cobaan.
  10. Nabi-Nabi yang lain juga memiliki kelebihan dan keistimewaan
            Seluruh sifat-sifat mulia yang mereka miliki juga dimiliki Nabi Muhammad Saw.
5. Fungsi Nabi Muhammad.
            Salah satu fungsi kehadiran Nabi Muhammad adalah sebagai teladan bagi ummatnya dan semua sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh para Rasul sebelum beliau terhimpun dalam pribadi Nabi Muhammad Saw.
            Dari semua sifat terpuji yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw. Yang paling menonjol dalam diri beliau ada tiga hal, dan ketiga hal tersebut adalah merupakan pernyataan Allah dalam firmannya dalam surat At-Taubah ayat 128 :
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Kesimpulan dari ayat tersebut adalah :
  1. Nabi Muhammad dapat merasakan penderitaan orang lain, terbukti dalam usahanya beliau selalu membantu orang lain dan menghibur orang yang sedang mengalami kesusahan.
  2. Nabi Muhammad selalu menginginkan agar orang lain mendapat kebaikan, dalam hal ini Nabi Muhammad selalu memberikan masukan-masukan dan nasihat-nasihat yang baik dan selalu merasa sedih bila jalan kehidupan yang ditempuh olah seseorang adalah jalan yang tidak benar. Oleh karenanya Nabi Muhammad selalu menunjukkan jalan yang benar yang harus ditempuh orang tersebut.
  3. Nabi Muhammad sangat tinggi rasa belas kasihannya kepada orang lain, sikap yang seperti ini nampak dalam kehidupannya dimana Nabi Muhammad selalu mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan sikap bahwa beliau selalu mendermakan hartanya kepada orang yang membutuhkannya walaupun sebenarnya beliau masih membutuhkan harta tersebut, di sisi lain beliau juga sangat menyayangi anak-anak terutama anak yatim dan beliau juga selalu membantu kaum yang lemah.
  4. Nabi Muhammad sangat penyayang kepada kaum mukmin, hal ini terbukti bahwa beliau dalam bergaul tidak memilih kawan.          
            Dalam uraian yang telah diungkapkan di atas, di sini perlu ditegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah sama dengan manusia biasa dalam bentuk Basyariyahnya ( dalam bentuk kemanusiaan secara fisik ), tapi beliau berbeda dalam hal Insaniyah ( dalam hal bentuk manusia secara ruhaniyah ), sebab beliau diberi wahyu oleh Allah Swt.
Semoga kita dapat menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan dalam kehidupan, dengan demikian kita berharap memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat.


Minggu, 12 Desember 2010

MENUJU RUMAHKU SURGAKU


MENUJU RUMAHKU SURGAKU
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti

Firman Allah dalam Surat An-Nisa’:1.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .
“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu “.

Keadaan surga yang akan dimasuki oleh orang-orang yang beriman kelak di Hari Akhirat, telah termaktub di dalam Kitabullah dan hadits-hadits Rasulullah SAW. Lalu bagaimana gambaran atau keadaan "Surga" yang ada di dunia ini, khususnya di rumah kita? Bagaimana hakikat "Rumahku adalah surgaku"?

Kita sering menyaksikan, bahkan mungkin mengalami di dalam keluarga kita, di rumah kita, suatu keadaan yang membuat dada menjadi sempit, tegangnya urat leher, naiknya darah ke ubun-ubun, gemertaknya gigi sembari mengepalnya tangan. Itulah keadaan yang diakibatkan oleh berbagai ulah anggota keluarga yang tidak pada tempatnya. Orang sering mengatakan:"Rumahku bagai neraka, yang membuat seluruh anggota keluarga tak kerasan tinggal di dalamnya.Ia penuh dengan malapetaka. Bahtera rumah tangga terhempas karenanya. Cita-cita keluarga hanya tinggal angan-angan belaka. Alangkah sengsara hidupnya". Percekcokan, saling ejek, egoistis, piring terbang sering terjadi, hingga kekerasan fisik mewarnai perjalanan rumah tangga yang jauh dari sakinah mawaddah dan rahmah. Kita semua tentu saja tidak menginginkan hal itu terjadi. Akan tetapi seringkali anggota sebuah rumah tangga tidak mampu menahan hal tersebut, sekaligus tidak memiliki bekal yang cukup dan hidayah dari Allah untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah dan rahmah, untuk merasakan “ Rumahku adalah Surgaku.

Di awal tulisan ini telah dikemukakan firman Allah dalam surat An-Nisa’:1.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا .
“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu “.

Kita diseru Allah agar bertakwa kepadaNya. Allah SWT. juga menginformasikan bahwasanya diciptakanNya pula pasangan hidup kita masing-masing. Melalui pasangan suami-istri (pasutri) inilah, Allah SWT mengembakbiakkan  manusia yang banyak jumlahnya, laki-laki dan perempuan. Pergaulan suami istri yang Allah taqdirkan membuahkan hasil berupa anak, hendaknya atas dasar takwa, sehingga pergaulan suami istri tersebut benar-benar membuahkan anak-anak shalih dan shalihah. Selanjutnya jumlah manusia yang banyak itu hendaknya tetap menjaga silaturrahmi, menjaga hubungan baik secara harmonis, sebab pada asalnya manusia adalah dari satu keturunan, yaitu dari Adam dan hawa’ . Untuk menjaga pasangan suami isteri dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya agar tetap hidup harmonis, penuh kasih sayang di bawah ridha Allah SWT (mawaddah dan rahmah) yang hal itu merupakan wujud dari rumahku surgaku, maka beberapa kiat berikut ini layak untuk ditempuh yakni:
Pertama, jaga masing-masing hak dan kewajiban anggota rumah tangga.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman :

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Baqarah: 228).
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya :
"Dari Mu'awiyah bin Haidah al-Qusyairi diriwayatkan bahwa ia berkata, 'Aku pernah bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa hak istri salah seorang di antara kami atas suaminya?' Beliau menjawab, 'Hendaknya kamu memberinya makan sebagaimana yang kamu makan, memberinya pakaian sebagaimana yang kamu kenakan, dan jangan kamu pukul wajah, jangan menjelek-jelekkan, serta janganlah kamu tidak mengajak bicara kepadanya kecuali di rumah saja'." (HR. Abu Dawud no.2142, hadits ini hasan shahih menurut al-Albani).

Pada hadits yang lain Rasul bersabda, artinya:.
"Ketahuilah, bahwa kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian, dan istri-istri kalian juga memiliki hak terhadap diri kalian. Adapun hak kalian terhadap istri-istri kalian adalah: Hendaknya mereka tidak membiarkan orang yang tidak kalian sukai untuk tidur di atas tempat tidur kalian, dan tidak mengizinkan orang yang tidak kalian sukai masuk ke rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adalah: Hendaknya kalian memberi pakaian dan makanan yang baik kepada mereka." (HR. at-Tirmidzi no.1161,).

Kedua, saling nasihat-menasihati di dalam kebenaran, kesabaran, dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dan dengan cara yang lembut. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr : 2-3). 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
" Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (Ali Imran: 159).

Saling menasihati merupakan pilar penjaga harmonisasi keluarga, sebab manusia adalah makhluk yang suka lupa. Jika salah satu lupa dan yang lainnya mengingatkan (menasihati) dengan cara yang lembut, maka pasangannya tetap berada di dalam jalan yang benar. Dan ini tentu saja yang dikehendaki bersama.

Ketiga, sebagai pasutri dan anggota keluarga lainnya yang senantiasa menghendaki rumahku adalah surgaku, keluarga yang mulia karena takwa, tinggi derajat karena beriman dan berilmu, maka sudah seharusnya untuk senantiasa berlomba untuk mewujudkan Surga dunia dan akhirat. Sebagaimana yang Allah SWT. gambarkan berikut ini di dalam FirmanNya pada surat Ali Imran:133-135.


وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ . وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ الله وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ ُ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali Imran: 133-135).

Pasangan suami isteri dan anggota keluarga lainnya yang hendak mewujudkan surga dunia dan akhirat, yang mewujudkan rumahku surgaku, maka hendaknya mereka senantiasa melatih diri:

1. Berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit.
2. Menahan amarah.
3. Memaafkan kesalahan orang lain.
4. Bertaubat.

Keempat, anggota keluarga yang dapat mewujudkan rumahku surgaku adalah mereka yang senantiasa tolong menolong dan bekerja sama di dalam kebajikan dan ketakwaan. Mereka akan senantiasa menjauhi keburukan, permusuhan, dan perbuatan dosa lainnya. Allah SWT. berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." (Al-Ma`idah: 2).

Berdasarkan kerja sama dan tolong menolong atas dasar kebajikan dan takwa itulah, setiap munculnya problematika keluarga, akan dapat diatasi, dihadapi, dan diselesaikan dengan solusi yang menyenangkan, bukan berakhir dengan mengenaskan.

Itulah sekelumit kiat yang, insya Allah, dapat mengantarkan keluarga kita semuanya menuju kepada cinta sejati, cinta dari Sang Pencipta. Yang apabila kita dapat mewujudkannya, insya Allah dapat membantu untuk meraih ridhaNya, bagaimanapun keadaan kita. Itulah kiat yang dapat mengantarkan kita kepada kebahagiaan yang hakiki dunia dan akhirat. Kebahagiaan yang hanya akan dapat diraih oleh orang-orang yang benar-benar beriman, bertakwa, dan hidup Islami.