Menuju Jenjang Muttaqin
(
Memaknai kehidupan Pasca Ramadhan )
Islam memandang bahwa
kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta kekayaan yang dia miliki, tidak
pada pangkat dan jabatan yang dia emban, bukan pula pada status sosial yang ia
sandang. Tetapi kemuliaan seseorang dalam pandangan Allah terletak pada
nilai-nilai ketaqwaan yang ia lakukan.
Orang-orang yang
dinilai Allah sebagai muttaqin akan dimasukkanNya kedalam surga. Hal ini termaktub
dalam firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 133 :
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: “Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“.
Perlu disadari, untuk sampai kepada jenjang muttaqin,
seseorang terlebih dahulu harus melalui empat tahap, dalam hal ini Penulis
singkat dengan 4M.
Pertama:
Muslim. Seseorang harus menjadi muslim yang baik,
rumusan dan ungkapan yang paling sederhana untuk menjadi muslim yang baik
adalah seperti yang pernah dinyatakan Nabi Muhammad dalam sabdanya, artinya: “ Muslim
yang baik adalah, selamat orang lain dengan lidah dan tangannya”.
Lidah dan tangan adalah
merupakan perwakilan dari seluruh komponen anggota badan seseorang. Oleh sebab
itu, seorang muslim dilarang mengganggu kehidupan orang lain, membuat keonaran
dan kekacauan, membuat orang yang ada disekitarnya menjadi resah dan gelisah
dan mengganggu ketentraman orang lain. Intinya adalah, kehadiran seorang muslim
sejatinya bisa menjadi kesejukan dan kedamaian bagi masyarakat yang ada
di lingkungannya.
Kedua:
Mukmin. Seseorang harus menjadi mukmin yang baik.
Upaya yang harus dilakukan adalah dengan membenahi aqidah agar senantiasa kokoh
dengan berpegang teguh kepada konsep islam tentang hal-hal yang wajib di-imani.
Seseorang harus benar-benar beriman kepada Allah, kepada rasul-rasulNya, kepada
kiab-kitabNya, kepada malaikat-malaikatNya, kepada ketentuan buruk dan baik,
dan beriman kepada hari kiamat. Apabila iman seseorang sudah kokoh, tentu
imannya itu yang akan mendorongnya untuk beribadah kepada Allah, dan ibadah
yang dilaksanakan akan mengantarkannya kepada jenjang muttaqin.
Ketiga:
Muhsin. Seseorang harus menjadi seorang yang disebut
muhsin. Muhsin maksudnya senantiasa melakukan kebaikan dalam hidupnya, terutama
melaksanakan ibadah secara langsung kepada Allah. Dalam hal ini Rasul pernah
ditanya oleh malaikat Jibril tentang apa yang dimaksud dengan ihsan. Rasul
menjawab yang maksudnya: “ Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-oleh
engkau melihatNya, andai pada kenyataannya engkau tidak melihat Allah, maka
yakinkanlah dirimu bahwa engkau dilihat Allah”. Itu artinya, bahwa
seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah. Tingkat kesadaran yang
seperti ini akan mangantarkan seseorang kepada sikap hidup untuk selalu
berhati-hati dalam kehidupannya. Setiap kali dia akan melakukan sesuatu, tentu
dia terlebih dahulu berpikir, apakah perbuatan yang akan dilakukan sesuai
dengan syariat Allah atau tidak. Daya control seperti ini yang akan
menyelamatkan seseorang dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, dan dengan
sikap hidup seperti itu pula yang akan menjadikan seseorang menjadi orang yang
muttaqin.
Keempat:
Mukhlis. Mukhlis maksudnya adalah orang-orang yang
ikhlas dalam menjalankan ibadah. Perlu disadari bahwa segala ibadah dan
nilai-nilai kebaikan yang dilaksanakan harus didasari dengan keikhlasan kepada
Allah. Sebab Allah tidak akan menerima ibadah orang-orang yang tidak ikhlas. Allah
SWT berirman dalam surat
Al-Bayyinah ayat 5 :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ
الْقَيِّمَةِ
Artinya:
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus “.
Kelima:
Muttaqin. Apabila seseorang sudah menjadi “ muslim
“ yang baik”, menjadi “mukmin” yang baik, menjadi seorang yang “ muhsin
“ dan “ mukhlis”, tentu dia akan naik kepada jenjang yang ke
lima, yaitu menjadi seorang yang “ muttaqin “. Terhadap orang-orang
yang “ muttaqin “ Allah berjanji akan memasukkan mereka ke dalam
surgaNya. Gambaran umum tentang keberadaan orang-orang yang “ muttaqin
“ di dalam surga tersebut, seperti yang difirmankan Allah dalam surat An-Naba’
ayat 31 - 36 :
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازاً حَدَائِقَ وَأَعْنَاباً
وَكَوَاعِبَ أَتْرَاباً وَكَأْساً دِهَاقاً لا يَسْمَعُونَ فِيهَا
لَغْواً وَلا كِذَّاباً جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً
Artinya: “ Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah
anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi
minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak
(pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup
banyak.
Mari kita berupaya dengan
sungguh-sungguh untuk menjadikan diri kita sebagai muslim yang baik,
mukmin yang baik, menjadi seorang yang muhsin dan mukhlis
agar kita mencapai derajat muttaqin. Dengan derajat Muttaqin itu kita berharap, semoga
Allah memberikan ampunan dan keridhaanNya kepada kita dan dimasukkanNya kita ke
dalam surgaNya.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ
الـْعـَالـَمِـيْـنَ