Sabtu, 08 September 2012

Hati Yang Galau

Mengatasi Kegalauan Hati
Dalam hidup ini banyak problem yang kita hadapi, kadang menggembirakan tapi tak jarang membuat hati menjadi galau. Makna galau itu sendir selalu dipahami adanya keresahan, kepanikan dan kegelisahan di dalam hati. Hati yang galau merupakan buah dari kurang fahamnya seseorang memahami makna kehidupan yang sesungguhnya, akhirnya setiap kali menghadapi problema kehidupan yang tidak menyenangkan hatinya mudah menjadi galau, hidupnya menjadi kacau,  sehingga hilang kejernihan berpikir yang membuatnya menjadi lemah dan kehilangan semangat hidup. Dan tidak jarang pula mengambil jalan pintas untuk mengakhiri kehidupannya dengan cara bunuh diri.
Adakah resep yang ampuh untuk mengatasi kegalauan ini?.
Bila menilik kepada konsep ajaran Islam tentu kita akan menemukan solusi untuk mengatasi kegalauan tersebut. Tapi yang terpenting harus disadari terlebih dahulu bahwa segala problematika kehidupan ini tentu ada yang mengaturnya, yaitu Allah sang Maha Pencipta dan semua itu adalah bentuk-bentuk ujian dari Allah SWT., sebab boleh jadi dengan ujian itu Allah akan menaikkan derajat kita disisi-Nya.
Saudaraku………………….!
Al-Qur’an telah melukiskan, akar permasalahan hati yang galau ini tidak lain adalah bahwa kita telah menjauh dari Allah SWT., bahkan mungkin telah melupakan Allah disetiap langkah kehidupan. Maka, wajarlah bila kita tercebur dalam kegalauan, bingung terhadap diri sendiri, tidak tau hendak melangkah kemana, ragu-ragu dengan setiap tindakan, karena kita telah melupakan sandaran terkuat dalam menjalani kehidupan ini, yakni Allah Yang Maha Kuat dan tempat bersandar segala makhluk.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an pada surat Al-Hasyr;19:
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.
Begitu sombongkah kita sebagai manusia sehingga melupakan Allah?. Padahal tidak pantas kita melupakan-Nya. Karenanya wajarlah kalau rasa bingung terhadap diri sendiri melanda kita, bisa jadi disebabkan karena kita lupa dalam mengingat-Nya. Solusinya adalah kita harus kembali mengingat Allah. Memohon ampun ketika perasaan yang terombang ambing itu mendera, kemudian menjauhi sesuatu yang tidak bermanfat dalam hidup kita, kembali menguatkan hubungan kepada sang Khalik dan bersandar kepada kekuatan-Nya yang Maha dahsyat agar kita memproleh kekuatan untuk menjalani hidup ini.
Saudaraku………………….!
Penyakit galau itu berurat-berakar dalam hati, sebab dihatilah penyakit galau itu bersarang. hatilah muara dari segala kegalauan, kebingungan, kesediahan, was-was, keresahan dan kecemasan,. Penyakit galau itu ibarat tumor yang yang menggerogoti hati kita, awalnya kecil, namun bila tidak segera diobati ia akan segera membesar dan menjadi galau stadium tinggi yang akan menjadi kronis.
Berikut tips praktis yang mungkin bisa dilakukan ketika hati kita merasa galau, merasa sedih dan cemas yang merasuk ke dalam jiwa:
1. Memperteguh dan memperbaharui kadar iman. Karena Iman dapat berkurang dengan kemaksiatan yang kita lakukan dan bertambah karena ketaatan. Keimanan akan menghapuskan segala keresahan, melenyapkan kegundahan, menghilangkan rasa cemas, was-was. Dan merupakan benteng pertahanan diri yang paling kokoh.
2. Memperbanyak ingat kepada Allah (dzikrullah). Yakinkanlah diri bahwa dengan berzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang, jiwa akan menjadi tentram, Allah akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan, sebab Allah yang menjanjikannya seperti firmanNya dalam surat Ar-Ra’du ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artiya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.
3. Shalat. Saat kita diliputi rasa cemas, ketakutan, dihimpit kesedihan dan kerisauan, maka segeralah bangkit untuk memperbanyak melakukan shalat, insya Allah jiwa akan kembali tentram dan tenang. Namun hendaknya shalat yang dilaksanakan penuh dengan penjiwaan dan penghayatan agar hati kita menjadi lunak kembali.
4. Berinteraksilah dengan Al-Qu’an. Hiduplah bersama Al-Qur’an, baik dengan cara menghafal, membaca, mendengarkan ataupun merenungkan kandungannya. Sebab, ini merupakan obat yang mujarab untuk mengusir kesedihan dan kedukaan. Jadikan Al-Qur’an bagian dari bacaan wajib kita. Sediakan waktu khusus bagi kita untuk membaca Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an. Seperti dalam  perjalan menuju dan pulang dari tempat kerja, sambil menyetir mobil dengarkanlah Al-Qur’an, selepas shalat lima waktu biasakanlah membaca menimal selambar Al-Qur’an. Jika hati telah sibuk dengan Al-Qur’an insya Allah tidak ada celah bagi hati untuk galau dan sedih.
5. Memperbanyak doa kepada Sang Khaliq, sebab doa memiliki rahasia yang sangat ajaib untuk melepaskan seseorang dari kesulitan. Doa merupakan sarana yang mudah dan bisa dilakukan setiap hamba yang ditimpa kesedihan dan kesulitan untuk mengadukan permasalahannya kepada Tuhannya.
6. Isilah waktu kosong dengan berbuat aktivitas yang bermanfaat. Kegalauan akan  lebih banyak melanda orang-orang yang banyak menganggur, tidak mempunyai aktivitas hidup yang berarti, maka pikirannya akan mudah menerawang dan melayang tak tentu arah. Maka bangkitlah sekarang, lakukan aktivitas yang berfaedah,  kegiatan-kegiatan yang bermanfaat sehingga hati disibukkan dengan kegiatan tersebut.
7. Yakinkan diri bahwa kita tidak pernah sendiri. Ketika kita dilanda masalah, beban hidup terasa berat, cobaan hidup yang datang silih berganti, keruwetan hidup yang semakin kompleks dan tenggelam di dalam kegalauan yang tak pasti, yakinlah bahwa Allah selalu bersama kita, dan kepadanya tempat mengadukan segala keluh kesah. Merasa kehadiran Allah akan selalu membawa harapan, merasakan Cinta Allah akan selalu membelai kita. Yakinkan diri bahwa cobaan dan ujian adalah cara terindah dari-Nya untuk menaikan derajat kita disisi-Nya. Insya Allah hati akan tenang kembali.
8. Luangkan sedikit waktu untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang-orang yang kita sayangi, bercanda dan bercengkrama denga mereka, hal ini akan membantu mengurangi beban  pikiran yang menyababkan kita galau. Boleh jadi kita mendapatkan nasehat dan solusi dari permasalahan kita.
9. Sambutlah kegalauan dengan kebesaran hati sebab disana terbentang tangga menuju jenjang berikutnya, hadapi dengan berani dan jangan pernah melarikan diri. Maka hadapilah dengan lapang dada, berdamailah dengan segala kesedihan. Terimalah segala ketentuan Allah dengan sepenuh hati namun tetap optimis bahwa hari esok masih ada dan kita harus secara optimal untuk berusaha keluar dari himpitan hidup yang membuat kita menjadi galau.
10. Jangan sampai hal-hal sepele membuat kita galau dan membinasakan diri kita. Banyak orang galau, cemas, gelisah dan bersedih karena hal-hal sepele yang tak berarti. Jangan jadikan masalah yang kecil menjadi lebih besar dari kenyataan yang sebenarnya.
11. Selalu berpandangan positif dan menjauhi pikiran-pikiran negatif. Pandanglah hidup dengan indah, selalu ambil sisi baik dari setiap peristiwa yang  menimpa kita. Setiap momen tentu mempunya makna yang akan berproses untuk mengantarkan kita menjadi manusia dewasa.  Maknai hidup dengan benar, maka kebenaran memaknai hidup itulah yang akan menjadikan seseorang memiliki ketenangan jiwa. Orang-orang yang seperti ini menurut Ibnu Qayyim adalah orang-orang yang tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut ketika orang lain takut, tidak menangis ketika orang lain menangis.Wajah dan hati mereka bersinar karena cahaya Allah.
12. Keluarlah ke tempat yang nyaman, berekreasi ketempat-tempat yang indah, nikmati alam ciptaan Allah, renungkan kekuasaaNya, insya Allah kegalauan akan sirna.
13. Tata kembali tatanan hidup yang kacau, perbaharuilah sikap dan semangat hidup kita. Jadikan hidup lebih bervariasi. Ubah rutinitas hidup yang membosankan, singkirkan segala kejenuhan hidup, lakukan variasi dalam rutinitas harian kita. Kerjakanlah sesuatu dengan keteraturan dan  kerapian. Lihatlah bahwa semesta ini di bangun diatas sebuah keteraturan. Ruangan dan tempat yang teratur akan memberikan kenyamanan dalam pandangan mata dan akan menjadikan hati senang melihatnya.
14. Jangan membaca buku-buku yang memanjakan pesimisme dan putus asa, hindarilah tayangan media yang membuat kita bertambah galau, tukar cenel TV yang menayangkan cerita kesedihan dan keputusasaan. Alternatifnya lakukanlah kegiatan-kegiatan yang bisa mengalihkan perhatian kita dari acara-acara yang menambah kegalauan hati. Seperti menulis, membaca, berekreasi, atau pilihlah tontonan yang menarik dan inspiratif serta yang bisa menambah wawasan kita.
15. Datanglah ke tempat-tempat yang dapat menyejukkan hati. Seperti majlis ta’lim, majlis tilawah Al-Qur’an, dengarkan dan simak bacaan mereka. Dan bentangkan sajadah di keheningan malam, mengadulah kepada Rabb yang menciptakan kita.

Saudaraku………………….!
Yang lalu biarlah berlalu, tapi raihlah masa depan, jangan bunuh semangat hidup dengan berkepanjangan dalam kegalauan yang akan memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi. Maka...............!  Hiduplah dengan batasan hari ini, hari ini adalah milik kita. Selagi ada kesempatan diwaktu pagi jangan tunggu sampai sore. Dan ketika sore, jangan tunggu sampai pagi. Kerahkanlah semangat yang ada untuk menjadi lebih baik di hari ini.
Bacalah kisah orang-orang shalih, sejarah dan biografi orang-orang sukses, orang-orang yang pernah diuji, hal ini akan memotivasi dan menguatkan semangat kita dalam menjalani kehidupan. Dan mengambillah pelajaran berharga dari mereka, bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan, melawan segala rintangan dan sikap meraka tentang hidup dan kehidupan.
Sadarilah bahwa kehidupan akan menjadi sangat indah jika kita menikmatinya dengan senyuman, bukan dengan muram durja dan kesedihan yang berlarut-larut.
Bertemanlah dengan orang-orang yang baik, teman yang shalih, yang selalu optimis dan dapat membantu meringankan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi dan membukan pintu harapan.
Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu memahami makna kehidupan ini dengan baik dan benar, sehingga kita terhidar dari hati yang galau. Andaipun rasa galau itu muncul kita mampu mengatasinya.
Insya Allah......................................!                      
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Jumat, 07 September 2012

Khutbah Jum'at

Menjaga Kesucian Jiwa Pasca Ramadhan
Ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan dapat mengantarkan seorang muslim kepada kesucian jiwa, agar dimensi ruhani lebih dominan dan dimensi jasmani dapat dikendalikan. Ramadhan adalah proses yang ideal untuk meningkatkan kesucian jiwa.
Proses ini tidak boleh berhenti dengan selesainya Ramadhan. Sebab, jiwa manusia mempunyai potensi untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat menggelincirkan seseorang dari jalan yang lurus. Setan sebagai musuh abadi bagi manusia tidak pernah berhenti melakukan tipu dayanya. Karena itu, ketika Ramadhan meninggalkan kita, itu berarti adalah babak baru untuk tetap menjaga kesucian diri dalam rangka mencapai kesuksesan hidup agar menjadi muslim yang bersih jiwa dan raga, jauh dari maksiat dan dari segala yang dilarang Allah SWT.
Kesucian diri adalah tanda kesuksesan, sedangkan mengotorinya adalah tanda kerugian. Allah menggambarkan hal ini dalam Al-Qur’an surat As-Syams;7-10:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
Jiwa harus kita jaga agar tetap suci. Untuk menjaga kesucian jiwa, ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.
Pertama: Menata Hati. Hati berpotensi mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Karena itu, ia harus tetap ditata dengan memohon kepada Allah agar meneguhkan hati kita dalam agama-Nya dan menjauhkannya dari tipu daya setan yang senantiasa berupaya menjerumuskan kita, sedangkan hati adalah sasaran utama bagi setan untuk menggoda manusia. Karena itu, hati hendaklah selalu di isi dengan nilai-nilai Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, banyak berzikir kepada Allah serta menjauhkannya dari lintasan-lintasan yang melahirkan dosa dan khayalan yang tidak berguna.
Menata hati, maksudnya membersihkannya dari semua hal yang mengotorinya, sebab hati yang tertata secara baik dan benar akan mengarahkan kehidupan kita untuk melaksanakan tugas  sebagai manusia muslim dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Hati yang bersih akan tercermin dalam raut wajah yang tenang, mudah melahirkan senyum, sejuk untuk dipandang dan membawa ketenangan. Menuntun anggota tubuh kepada perbuatan yang diridhai Allah SWT., berjalan di atas rel yang telah digariskan Rasulullah SAW, mengikuti teladan yang sudah dicontohkannay.
Kedua: Menahan Pandangan. Banyak perbuatan dosa yang diawali oleh pandangan mata. Mata menjadi pintu bagi hati, seperti dalam pepatah, dari mata turun ke hati. Menahan pandangan mata merupakan langkah awal untuk menghindari dosa. Setan menjadikan pandangan kita sebagai salah satu panah tipu dayanya. Karena itu, Allah SWT secara khusus menyuruh orang-orang beriman, baik lakilaki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan. Sebab, pandangan dapat membawa kepada syahwat. Bahkan jika kita terlanjur melihat sesuatu yang terlarang, Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidak mengikuti pandangan yang pertama. Karena setan bersama pandangan yang selanjutnya. Ketika kita dapat menahan pandangan dari hal-hal yang dilarang atau sesuatu yang dapat membawa kepada dosa, maka sebagai gantinya Allah SWT akan menganugerahkan kesucian dan ketenangan jiwa.
Ketiga: Melakukan perubahan diri. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menjadikan hari ini lebih baik dari yang kemarin. Sebab, orang yang dapat menata hari-harinya lebih baik dari hari sebelumnya, dia adalah orang yang beruntung. Semua itu baru akan dapat tercapai dengan melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik. Faktor perubahan itu berada dalam diri kita sendiri, yaitu adanya keinginan untuk berubah. Untuk itu, langkah yang harus dilakukan adalah menyelaraskan perilaku hidup kita dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.  Karenanya, kita harus berupaya secara maksimal untuk mempelajari kandungan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad, sebab dengan keduanya kita dapat berubah kearah yang diinginkan Islam. Disisi lain  kita harus mampu mengatur waktu di celah-celah kesibukan sehari hari untuk menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Dengan pola hidup seperti itu insya Allah akan ada perubahan yang kita rasakan. Dan Allah pasti membantu kita bila memiliki tekad yang kuat untuk berubah, sesuai janji-Nya yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Ankabut;69:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.
Keempat: Bergaul kepada komunitas yang baik. Secara fitrah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri, tetapi manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan orang lain. Demikian pula dengan kesucian diri yang tidak mungkin tercapai bila tidak didukung oleh lingkungan yang baik. Islam menggambarkan bahwa orang-orang mu’min itu laksana satu tubuh yang saling mendukung antara satu sama yang lain. Karenanya, berafiliasi kepada komunitas orang-orang baik merupakan keharusan dalam rangka mendukung kesalehan sosial dan mengokohkan kesalehan individu. Salah satu contoh adalah anjuran Allah Ta’ala dalam Al Qur’an untuk berinteraksi bersama orang-orang yang benar. Firman Allah dalam surat At-Taubah;119:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.
Apabila komunitas itu terdiri dari orang-orang yang baik dan benar tentu akan tercipta lingkungan yang kondusif untuk menggapai kesucian diri, saling mengingatkan dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Karena itu, hendaknya kita menjauhi sikap individualistis, hanya memikirkan diri sendiri yang tidak akan membawa kebaikan bagi diri sendiri maupun kepada sesama.
Dalam pandangan Al Qur’an berafiliasi kepada kebaikan adalah ikut serta dalam dakwah, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Aktif bersama dalam berdakwah kepada kebaikan dengan tujuan membumikan Islam dan menjadikannya sebagai sistem hidup bagi pribadi dan masyarakat.
Kelima: Segera bertaubat dan banyak beristighfar. Ibarat rumah, meski setiap hari dibersihkan namun debu akan senantiasa ada. Sebagai manusia yang tidak terpelihara dari dosa, ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih dalam kondisi masyarakat kita saat ini, debu-debu dosa sulit terhindari, baik yang disengaja maupun tidak. Hendaknya setiap kita segera bertaubat dengan membasahi lisan dengan istighfar untuk meminta ampun kepada Allah. Dengan begitu, insya Allah kesucian diri akan tetap terjaga.
Saudaraku…………!
Mari kita lakukan Muhasabah/Intropeksi diri dari waktu ke waktu yang kita lalui untuk melihat sejauh mana perkembangan jiwa kita, adakah peningkatan yang dialami ataukah penurunan. Terkadang jiwa kita mengalami kejenuhan. Manakala itu terjadi, yang harus kita perhatikan adalah jangan sampai meninggalkan kewajiban. Dan sebaliknya, ketika kondisi jiwa semangat, hendaknya memperbanyak amalan sunnah, sehingga tercipta keseimbangan.
Muhasabah diri bisa dilakukan setiap hari, setiap kali hendak tidur lakukanlah perenungan sejenak, melihat semua perbuatan yang telah dilakukan di siang hari, dari kata yang terucap dan perbuatan yang terjadi. Kita boleh bersyukur terhadap perbuatan yang selaras dengan tuntunan Islam. Tapi segeralah bertaubat atas perbuatan yang menyimpang. Muhasabah atau intropeksi merupakan keharusan sebagai salah satu instrumen penting guna memelihara kesucian diri.
Dengan melakukan itu semua, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membimbing kita dan memberikan kekuatan untuk memiliki jiwa yang suci sebagai tanda kesuksesan kita di dunia dan akhirat.


Kamis, 06 September 2012

Bertadabbur Dengan Alam Ciptaan Allah


Belajar dari Alam untuk Memotivasi Kehidupan
Firman Allah dalam surat Ali Imran; 190-191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
Sesungguhnya alam yang diciptakan Allah banyak memberikan inspirasi kepada kita untuk belajar darinya, hasilnya akan mendatngkan ilmu pengetahuan bagi kehidupan kita manusia, dan tidak kalah pentingnya menambah kekuatan iman kepada Allah SWT.
Alam menyimpan banyak misteri yang manusia belum mampu menyibak keseluruhan misteri yang ada. Gunung-gunung yang tinggi, bentangan samudera luas dan dalam, sungai-sungai yang panjang berliku, hutan belantara yang lebat, adalah bagian dari alam yang sampai saat ini selalu menjadi inspirasi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakannya.
Bagi seorang mukmin tentu menyakini bahwa semua itu adalah maha karya dari Allah yang maha pencipta untuk kita renungkan agar keimanan kita senantiasa bertambah kepadaNya.
Tentu kita menyadari bahwa dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang terbatas, sulit bagi kita mengkaji keseluruhan dari apa yang diciptakan Allah di alam raya ini. Namun setidak-tidaknya kita harus terus berupaya untuk mempelajari dan memikirkan dari sebagian ciptaan Allah di bumi ini walaupun dalam bentuk pemikiran yang paling sederhana agar kita dapat mengambil hikmahnya sebagai pelajaran untuk kehidupan kita.
Dalam kehidupan ini terkadang kita merasa kehilangan motivasi dan gairah. Pada saat kondisi seperti ini muncul, sebenarnya kita bisa mencoba untuk membangkitkan gairah itu kembali dengan cara menyaksikan dan merenungkan keindahan alam semesta yang telah diciptakan oleh Allah SWT.
Karena itu, bukalah mata , bangkitlah dari tidur, coba melangkah dan telusuri jalan dipagi hari. Nikmatilah sejuknya udara dan embun di pagi hari sampai mentari menampakkan sinarnya meresap dan menghangatkan tubuh kita. Sayang rasanya jika rumput yang bergoyang dan bunga-bunga mekar menebarkan semerbak harumnya kita biarkan begitu saja tanpa menikmati dan memperhatikannya. Sebagai manusia seharusnya kita mempelajari dan mengambil hikmah dari sesuatu yang tampak dimuka bumi ini sebagai salah satu ayat-ayat Allah yang mengajarkan kepada kita dalam kehidupan ini.
Saudaraku………………..!
Pernahkah kita belajar dari kupu-kupu?. yang awalnya adalah dari ulat yang menjijikkan. Namun melalui perubahan yang terjadi sehingga ulat tersebut menjadi kupu-kupu yang begitu cantik, hinggap pada bunga-bunga yang ada melengkapi keindahan bunga-bunga di taman tempat kita menghilangkan penat.
Pernahkah kita belajar dari nyamuk?, yang berani mengambil resiko meski nyawa menjadi taruhan saat menghisap darah pada manusia, dan tidak jarang menjadi buruan dan santapan cicak-cicak didinding.
Pernahkah kita belajar dari air? yang meskipun terbentur oleh batu-batuan, pohon-pohon atau akar yang menghambat perjalanannya untuk menuju muara, namun tetap selalu teguh dalam pendirian hingga mencapai muara atau laut. Air juga selalu meninggalkan bekas dan menjadi salah satu sumber kehidupan untuk kelangsungan semua makhluk hidup dimuka bumi.
Pernahkah kita belajar dari kura-kura?. Kura-kura tidak pernah mengeluh meski kemana-mana selalu membawa beban berat (cangkangnya) dan ia tidak mau berjalan mundur, akan tetapi terus maju meski perlahan dan lamban namun dengan pasti ia terus maju ke depan untuk melanjutkan perjalanannya.
Pernahkah kita belajar dari lebah?, Lebah tetap mencari makanan yang suci dan bersih, ia tidak mau sembarangan mengkonsumsi makanan kecuali saripati bunga dan menghasilkan madu yang bermanfa’at bagi manusia. Dimanapun dia hinggap tidak pernah merusak lingkungannya. Dan lebah mimiliki sengat, tapi bukan untuk menyakiti namun untuk membela diri. Dia tidak mau mengganggu tapi jangan sekali-kali diganggu, sebab sekali lebah terganggu dia akan mengejar kemanapun musuhnya berlari.
Pernahkah kita belajar dari burung?, yang keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, pulang dengan perut yang kenyang. Andaipun burung tidak mendapatkan makanan, tapi dia tidak pernah putus asa apalagi bunuh diri, sebab burung tetap optimis akan karunia yang diberikan oleh Allah. Walaupun burung dalam keadaan lapar tapi tetap saja ia berkicau dengan merdu. Nampaknya burung sadar betul tentang lika liku hidup ini.
Pernahkah kita belajar dari cacing?, ia tidak mempunyai sarana untuk mempertahankan diri, ia lemah tidak memiliki tanduk, tangan, sayap atau telinga. Tetapi ia punya perut yang sama seperti manusia yang harus diisi, tetapi dalam keterbatasanya ia tidak mudah putus asa. Ia melata dengan perutnya untuk terus mencari rezeki yang telah disediakan Allah untuknya.
Saudaraku………………..!
Allah menciptakan manusia dengan sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, karena manusia diberi kelebihan akal dan sarana-sarana lainnya. Hanya sayangnya dalam kesempurnaan itu terkadang tingkah manusia lebih rendah dari binatang. Demikian banyaknya anugerah yang telah diberikan Allah tetapi tetap saja manusia banyak yang berkeluh kesah bahkan putus asa.
Karena itu wahai saudaraku……….! Bangkitkan semangatmu, gali bakatmu, kembangkan potensimu, keluarkan obsesimu, raihlah segala impianmu, berjuanglah untuk hidup yang lebih baik dan jangan sia-siakan kehidupan yang sangat singkat ini. Belajarlah dari apa saja yang dapat menambah pengetahuan dan keyakinan termasuk dari alam semesta untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik. Namun ingatlah, jalankan semua itu tetap dalam panji-panji kebenaran.