Senin, 17 September 2012

Ibadah Haji


NILAI-NILAI SUFISTIK IBADAH HAJI
           
I. Ibadah Haji Dapat Ditinjau Dari Dua Sisi:

  1. Syari’at ( Makna formal ), menyangkut masalah syarat, wajib dan rukun haji yang berkaitan dengan penilaian sah atau tidaknya ibadah haji seseorang.
  2. Hakikat ( Makna bathin ), menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan makna ibadah secara bathiniyah untuk dapat merasakan hikmah dari nilai-nilai ibadah dalam kehidupan seseorang, dan diharapkan dapat membentuk kepribadian yang baik lewat tempaan ibadah yang dilaksanakan, karena itu pendekatan ibadah melalui nilai-nilai bathiniyah sangat penting, karena secara mendasar dapat merasakan nilai-nilai sufistik dalam ibadah tersebut.
 II. Proses Sederhana Dalam Pelaksanaan Ibadah Haji:

  1. Memenuhi undangan Allah
  2. Praktikum menjadi hamba Allah yang sempurna 
  3. Geladi resih  mempersiapkan diri untuk  menghadap kepada Allah yang sesungguhnya.

III. Tahapan Kegiatan Pelaksanaan Ibadah Haji:

  1. Buka dan ganti pakaian kebesaran dengan pakaian kematian.
  2. Mandi dan sucikanlah badan sebagai persiapan untuk pensucian jiwa. 
  3. Gunakan pakaian ihrom, karena itulah pakaian yang sesungguhnya.  
  4. Shalatlah dua raka’at dan mantapkan tekad. 
  5. Pasang niat, kuatkan ikrar.
  6. Kumandangkan Talbiyah sebagai tanda menyahuti panggilan Allah dan sebagai tanda pengukuhan tujuan anda datang. 
  7. Laksanakan Thawaf di Ka’bah mulia untuk sadarkan diri bahwa tujuh hari dalam seminggu harus di isi dengan nilai-nilai ketaatan. 
  8. Laksanakan Sa’i antara Bukit Shofa dan Marwah dengan menyadari bahwa hidup harus penuh dengan perjuangan.
  9. Sadarkan diri saat wukuf di Padang Arofah bahwa wukuf di Padang Arofah adalah tamsilan bentuk miniatur kehidupan Padang Mahsyar.
  10. Melontar Jumroh di Mina sebagai lambang membuang jauh-jauh nafsu syaitoniah dari dalam diri kita.
  11. Melaksanakan Thawaf Wada’ (perpisahan), untuk menyadarkan diri bahwa setiap perpisahan hendaknya bernilai dengan kebaikan. Terlebih pada saat berpisah dengan dunia, sejatinya kita dalam keadaan husnul Khotimah.

Sabtu, 15 September 2012

Ibadah Haji

Pesan Untuk Jama’ah Calon Haji
Jama’ah calon haji untuk tahun 1433 H ini, tentu sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tanah suci. Kloter I untuk jama’ah calon haji asal Sumatera Utara akan diberangkatkan pada tanggal 20 September 2012. Bagi jama’ah yang akan berangkat tentunya sudah mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji ini, baik persiapan secara fisik maupun pengetahuan yang berkenaan dengan manasik haji.
Tentu setiap jama’ah yang akan menunaikan ibadah haji menginginkan ibadah haji yang ia laksanakan mendapatkan haji yang mabrur atau haji yang diterima di sisi Allah SWT. Untuk mendapatkan haji yang mabrur tentunya amat berat, harus menjaga kesempurnaan ibadah haji tersebut, baik dari syarat, rukun dan wajib haji. Semua itu tentunya harus dilandasi dengan niat yang ikhlas karena Allah semata. Karena itu, setiap jama’ah seharusnya menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan dalam melaksanakan ibadah haji, baik kesalahan dalam memahami ibadah haji maupun kesalahan dalam pelaksanaannya.  
Dalam kesempatan ini Penulis akan mengemukakan beberapa catatan tentang kesalahan-kesalahan jama’ah haji dalam melaksanakan ibadahnya. Hal ini penulis rangkum dari kitab yang diterbitkan oleh Badan Penerangan Haji yang disahkan oleh Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa, oleh Ulama besar Timur Tengah yaitu, Syeikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin.
Kesalahan-kesalahan yang dimaksud antara lain adalah:
Pertama:  Kesalahan Dalam Ihram.
Melewati Miqot yang dilaluinya tanpa berihram atau berniat dari Miqot tersebut sehingga sampai ke Makkah, kemudian ia melakukan ihram di sana. Hal ini bertentangan dengan perintah Rasulullah SAW. yang mewajibkan setiap jama’ah haji harus melakukan ihram dari Miqot yang dilaluinya. Maka bagi yang melanggar ketentuan tersebut bila memungkinkan wajib kembali ke Miqot yang sudah dilaluinya dan berihram dari sana. Jika tidak memungkinkan, ia wajib membayar kifarat, yaitu menyembelih seekor kambing di Makkah, kemudian dagingnya dibagi-bagikan semuanya kepada fakir miskin. Ketentuan ini berlaku bagi jama’ah yang datang melalui udara, darat maupun laut. Jika kedatangannya tidak melalui Miqot yang sudah ditentukan oleh Rasulullah, maka ia harus berihram dari tempat yang sejajar dengan Miqot pertama yang dilaluinya.  
Kedua:  Kesalahan Dalam Pelaksanaan Thawaf.
  1. Memulai thawaf tidak dari sudut Hajar Aswad, padahal ketentuan dalam pelaksanaan thawaf haruslah dimulai dari sudut Hajar Aswad.
  2. Thawaf di dalam Hijir Ismail. Thawaf seperti itu berarti ia tidak mengelilingi seluruh Ka’bah, tetapi hanya sebagiannya saja, karena Hijir Ismail termasuk bahagian dari Ka’bah. Oleh sebab itu putaran thawaf yang dilaksanakannya di dalam Hijir Ismail tersebut tidak sah. 
  3. Melakukan Ramal ( berlari-lari kecil ) pada seluruh putaran thawaf yang tujuh kali, padahal Ramal itu hanya dilakukan khusus pada thawaf Qudum saja. Bagi jama’ah yang melaksanakan haji Tamattu’ tentu tidak ada thawaf Qudum. 
  4. Berdesak-desakan untuk dapat mencium Hajar Aswad, bahkan terkadang sampai saling sikut, saling pukul  dan saling caci. Hal itu tidak dibenarkan, bahkan kalau sudah terjadi saling sikut, saling pukul dan saling caci, itu berarti jama’ah haji sudah melakukan pelanggaran yang dilarang dalam pelaksanaan ibadah haji, yaitu jidal. Penulis ingin menegaskan kepada jama’ah calon haji, bahwa mencium Hajar Aswad hukumnya adalah sunnat. Karena itu, jangan dikarenakan ingin mendapatkan pahala yang sunnat, justru perbuatan yang haram dan dosa yang didapatkan.
  5. Mengusap-usap Hajar Aswad dan dinding-dinding Ka’bah  dengan maksud untuk mendapatkan berokah dari batu dan dinding Ka’bah tersebut. Kalaupun ada kesempatan untuk mencium Hajar Aswad tujuannya tidak lain adalah dengan niat ibadah kepada Allah swt. 
  6. Memandang wajib membaca do’a-do’a khusus untuk setiap putaran dalam thawaf, hal itu tidak dilakukan Rasulullah, apalagi membaca do’a tersebut dengan mengeluarkan suara yang keras dan dapat mengganggu ketenangan orang lain dalam melakukan thawaf. Adapun yang dilakukan Rasul adalah setiap melewati Hajar Aswad adalah bertakbir, dan diantara rukun Yamani dan Hajar Aswad Rasulullah membaca do’a: " رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ". Artinya: “ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka“. 
  7. Memaksakan diri untuk melaksanakan shalat di dekat Maqom Ibrahim, hal ini dapat mengganggu orang lain dalam melaksanakan thawaf. Padahal shalat sunnat dua rakaat setelah selesai thawaf apabila tidak memungkinkan dilakukan di dekat Maqom Ibrahim, bisa saja dilaksanakan di tempat lain di sekitarnya atau di dalam Masjidil Haram.
Ketiga:  Kesalahan Dalam Pelaksanaan Sa’i. 
  1. Ada sebagian jama’ah haji ketika naik ke bukit Shafa dan Marwah, mereka menghadap ke Ka’bah sambil mengangkat tangan ke arahnya sewaktu membaca takbir, seolah-olah mereka bertakbir untuk shalat. Yang diajarkan Rasul adalah mengangkat kedua tangan seperti ketika berdo’a. 
  2. Berjalan cepat pada waktu sa’i antara Shafa dan Marwah pada seluruh perjalanan sa’i. Padahal menurut sunnah Rasulullah berjalan cepat itu hanyalah dilakukan antara dua tanda hijau saja, adapun sisanya hanya berjalan biasa saja.
 Keempat:  Kesalahan di Arafah.
  1. Sebagian jama’ah haji ada yang berhenti atau melaksanakan wuquf di luar batas Arafah, dan mereka tetap berada di tempat tersebut hingga terbenam matahari. Kemudian mereka berangkat ke Muzdalifah tanpa wukuf di Arafah. Hal ini adalah kesalahan besar, yang mengakibatkan ibadah haji mereka tidak sah, karena sesungguhnya puncak ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah, orang yang tidak wukuf di Arafah tentu hajinya tidak sah.  
  2. Berdesak-desakan untuk naik ke Jabal Rahmah yang banyak menimbulkan mudarat. Padahal disudut manapun selagi masih berada di lingkungan batas Arafah adalah tempat berwukuf.
  3. Ada sebagian jama’ah haji ketika berdo’a menghadap ke Jabal Rahmah, hal tersebut tidak sesuai dengan sunnah, sebab yang di sunnahkan dalam berdo’a adalah menghadap kiblat.
Kelima: Beberapa Kesalahan di Muzdalifah. 
  1. Sebagian jama’ah haji ada yang memahami bahwa untuk melempar jumrah, batu yang digunakan harus diambil di Muzdalifah. Padahal tidak demikian, batu kerikil yang digunakan untuk melempar jumrah tidak musti diambil di Muzdalifah, tetapi boleh juga mengambil batu di Mina.   
  2. Sebagian jama’ah ada pula yang memahami bahwa batu tersebut harus dicuci dengan air, hal itu sebenarnya tidak di syari’atkan.
Keenam: Beberapa Kesalahan Ketika Melontar Jumrah.
  1. Ketika melontar jumrah bila ada jama’ah yang meyakini bahwa dia sedang melempar syaitan, itu adalah suatu kesalahan. Melempar jumrah itu hanya semata-mata melaksanakan satu diantara rangkaian ibadah haji yang niatnya adalah semata-mata ibadah kepada Allah.
  2. Ada jama’ah melontar jumrah dengan sendal, hal itu juga merupakan kesalahan. Yang diwajibkan melontar jumrah adalah dengan batu, dan disunnatkan pula dengan batu yang kecil.
  3. Merupakan kesalahan juga ketika melontar jumrah dengan berdesak-desakan, apalagi saling sikut dan saling menginjak. Yang disyari’atkan adalah agar melontar dengan tenang dan hati-hati, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti orang lain. 
  4. Ada jama’ah yang melontar jumrah dengan melontarkan batu sekaligus, yang disyari’atkan adalah dengan melemparkan batu-batu dengan satu persatu sambil bertakbir setiap lontaran.
  5. Merupakan kesalahan pula apabila ada jama’ah haji dia wakilkan melontar jumrah kepada orang lain karena dirinya tidak mau mengalami kesulitan dalam melontar tersebut, padahal sebenarnya dia mampu dan tidak sakit bahkan tidak ada halangan apa-apa.
Ketujuh:  Kesalahan dalam thawaf wada’.
  1. Sebagian jama’ah ada yang meninggalkan Mina untuk menuju Makkah pada hari nafar ( tanggal 12 atau 13 Dzulhijjah ) sebelum melontar jumrah pada tanggal tersebut, sesampainya di Makkah mereka laksanakan thawaf wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melontar jumrah. Setelah selesai melontar, mereka langsung pergi atau pulang menuju negeri masing-masing, dengan demikian akhir perjumpaan mereka adalah dengan jumrah bukan dengan Baitullah, padahal Nabi telah bersabda, Artinya:”Janganlah sekali-sekali seseorang meninggalkan Makkah sebelum mengakhiri perjumpaannya dengan melakukan thawaf di Baitullah”. Maka dari itu thawaf wada’ wajib dilakukan setelah selesai dari semua rangkaian ibadah haji, dan dilakukan beberapa saat akan meninggalkan Makkah. Setelah thawaf wada’ ia tidak lagi menetap di Makkah kecuali untuk sedikit keperluan. 
  2. Sebagian jama’ah pada saat selesai melakukan thawaf wada’ ada yang berjalan mundur sambil menghadapkan wajah ke Ka’bah. Mereka beranggapan bahwa hal itu merupakan penghormatan terhadap Ka’bah. Perbuatan itu adalah kesalahan dan bukan yang diperintahkan Rasul.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menambah bekal bagi jama’ah calon haji, dan semoga ibadah haji yang akan dilaksanakan terhindar dari kesalahan-kesalahan. Mudah-mudahan ibadah haji yang dilaksanakan menjadi Haji yang mabrur.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Jumat, 14 September 2012

Walikota Termuda Di Dunia


Kisah Bashaer Menjadi Wali Kota Termuda di Dunia Selama 2 Bulan
Bashaer Othman, gadis Palestina berusia 15 tahun selama 2 bulan menduduki kursi wali kota Allar di Tepi Barat, Palestina. Awal mulanya, dia menantang wali kota yang menjabat untuk memberi kesempatan kepada kaum muda.
"Saya menantang wali kota untuk memberi waktu seminggu menjabat wali kota, dan dia mengizinkan," kata Bashaer dalam kuliah umum di Kampus Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (13/9/2012). Kuliah umum ini diikuti sekitar 50 mahasiswa.
Sang wali kota, tidak hanya memberi waktu seminggu, tetapi 2 bulan bagi Bashaer untuk memerintah. Sejak 2 Juli-2 September 2012, gadis berwajah manis yang duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama di kota itu pun duduk sebagai wali kota.
"Dan saya diberi waktu 2 bulan bersama 11 orang lainnya. Awalnya banyak kesulitan, tapi kami berusaha keras dan bisa membuktikan," terang Bashaer didampingi penerjemah. Bashaer menyampaikan kuliah dengan bahasa Arab.
Dari apa yang dilakukannya, dia pun mengajak kaum muda Indonesia untuk berani tampil dan di segala bidang termasuk di ranah politik dan pemerintahan.
Apa yang dia lakukan di Palestina, bersama rekan-rekannya itu kemudian membuka kesempatan yang lebih besar bagi anak-anak muda yang lainnya.
"Kami ingin berbagi dengan kaum muda di Indonesia. Bagaimana kepemimpinan kaum muda Palestina bisa dipraktekkan di Indonesia. Kami menuntut pada pemerintah untuk mengizinkan para pemuda untuk mendirikan dan membentuk organisasi kepemudaan, dan pemerintah memfasilitasi untuk berkiprah secara nyata, bukan kumpul-kumpul biasa tetapi dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat," terang Bashaer yang datang ke Indonesia disponsori World Peace Movement ini.
Saat memberikan kuliah, Bashaer yang mengenakan jilbab modis ini tampak percaya diri. Dia bercerita di depan para mahasiswa sambil duduk di depan dan didampingi Dubes Palestina. Hingga pukul 13.30 WIB, acara masih berlangsung.
http://news.detik.com/read/2012/09/13/133721/2017288/10/kisah-bashaer-menjadi-wali-kota-termuda-di-dunia-selama-2-bulan

Mimbar Jum;at

Ilmu dan Kebahagiaan
Dalam kondisi bagaimanapun hendaklah kita “menyenangkan hati”. Pada saat anda kaya, senangkanlah hatimu, sebab dihadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit. Jika anda miskin, senangkan pula hatimu! Karena engkau terlepas dari penyakit sombong dan terlepas dari  orang yang dengki kepadamu lantaran kemiskinanmu. Kalau engkau tidak terkenal, senangkan pula hatimu! Karena orang lain tidak banyak yang mencela dan mencercamu mu.
Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan! Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan! Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan! Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!
Benarkah demikian.................?
Sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak seperti pada ungkapan di atas. Semua kenikmatan duniawi hanya sekedar tangga untuk mengantarkan kepada kebahagiaan, semua itu hanya sarana, bukan kebahagiaan itu sendiri.
Betapa banyak pejabat yang menjadi pablik pigur namun hidupnya diakhiri dengan penderitaan. Betapa banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat penenang! Lalu, apakah itu ”bahagia”?
Dalam pandangan banyak tokoh, mereka memberi pemahaman yang berbeda dalam menentukan tolok ukur kebahagiaan. Namun yang jelas, kebahagiaan itu sangat terkait dengan keyakinan diri seseorang akan Hakikat kehidupan ini. Dalam pandangan Islam, hidup ini adalah ujian. Orang yang mengerti tentang hal ini, tentu dalam situasi dan kondisi apapun yang sedang dia hadapi, akan merasakan bahagia selalu.
Jadi, kebahagiaan itu adalah kondisi hati seseorang yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya.
Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia, meskipun harus dimasukkan ke dalam penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Ibnu Taimiyah merasakan bahagia meskipun harus mati dalam penjara. Mereka itu adalah orang-orang yang merasakan kebahagiaan, kendatipun secara pisik mereka tersiksa, tapi hati mereka tidak mampu dikuasai oleh orang yang menyiksa mereka, sebab itulah mereka tetap merasakan kebahagiaan, karena mampu mempertahankan prinsip-prinsip kehidupan untuk tetap pada keyakinan yang telah tertanam di dalam hati.
Ketahuilah............! Bahwa kesenangan atau kebahagiaan  tiap-tiap sesuatu ialah bila merasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya, kelezatan itu ialah sesuai dengan tabiat penciptaannya masing-masing. Misalnya; kenikmatan mata  ialah melihat sesuatu yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, kenikmatan lidah menikmati lezatnya citarasa makanan, demikian pula segala anggota tubuh yang lain dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh dalam ma’rifat kepada Allah, karena hati dijadikan untuk mengingat Allah.
Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan Menteri, namun kegembiraan itu akan berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan Presiden. Tentu saja berkenalan dengan Allah merupakan puncak dari segala kegembiraan, lebih dari apa yang dapat perkirakan oleh manusia. Sebab, tidak ada di dunia ini yang melebihi kemuliaan Allah. Oleh karena itu, tidak ada perkenalan akan sesuatu yang lebih lezat daripada ma’rifatullah (mengenal Allah).
Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan ” لااِلــهَ اِلا الله ”( Tiada Tuhan selain Allah ). Maka, untuk dapat meraih kebahagiaan yang hakiki, manusia harus meraih ilmu yang mampu mengantarkannya kepada keyakinan untuk beriman dan taat kepada Allah dan Rasulnya dengan menerima syari’at Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, bukan ilmu yang justru membuat dirinya ragu akan kebenaran Islam. Karena itu, satu kerugian besar jika manusia mencari ilmu yang justru tidak pernah mengantarkannya kepada keyakinan, karena selamanya dia tidak akan pernah menikmati kebahagiaan yang hakiki.