Senin, 15 Oktober 2012

Adil Memimpin Arif Bertindak


Menilik Kepemimpinan Abu Bakar
( Refleksi; terkait pelantikan Gubernur DKI-Jokowi-Ahok)

Pasca wafatnya Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih dan disepakati oleh kaum Muslimin melalui musyawarah mupakat untuk menjadi pemimpin menggantikan Rasulullah SAW.
Banyak kesulitan yang dihadapi Abu Bakar dalam kepemempinannya. Di satu sisi beliau menggantikan posisi Rasulullah yang begitu berwibawa dan dipatuhi oleh ummat. Di sisi lain Abu Bakar menghadapi gejolak yang timbul dikalangan ummat setelah wafatnya Rasul. Gejolak yang dimaksud diantaranya; Banyaknya diantara ummat Islam yang murtad setelah wafatnya Rasulullah. Dilain pihak adanya orang yang mengaku menjadi Nabi (Musailama Al-Kazzab) dan memiliki pengikut yang tidak sedikit. Dan adanya dikalangan ummat Islam yang tidak mau membayar zakat.
Terhadap kelompok-kelompok ini Abu bakar memprioritaskan untuk menumpasnya, karena beliau memandang kelompok-kelompok ini akan menjadi batu sandungan dalam kepemimpinannya, yang lambat laun apabila mereka tidak di tumpas habis tentu akan mempengaruhi terhadap persatuan ummat.
Abu Bakar menyadari betapa beratnya mentranspormasi konsep "Jama’ah Islamiyah" menjadi "Daulah Islamiyah". Abu Bakar menyadari pula bahwa untuk mencapai utuhnya suatu bangsa sangat tergantung kepada kebijaksanaan pemimpinnya. Karena itu, Abu Bakar juga melakukan langkah-langkah untuk menjalin kesatuan hati dan pemahaman yang sama tentang konsep kekuasaan, kendatipun tentu perbedaan pandangan dalam memahami suatu persoalan sangat dimungkinkan untuk terjadi, tetapi perbedaan pandangan itu harus tetap bermuara kepada sikap patuh kepada pemimpin. Untuk mencapai hal tersebut Abu Bakar telah menerapkan konsep kepemimpinan yang benar, yaitu pemimpin yang di taati oleh masyarakatnya.
Program pertama yang digagas Abu Bakar adalah memerangi orang-orang murtad (keluar dari agama Islam) pasca wafatnya Rasulullah SAW. Memerangi orang yang mengaku menjadi Nabi dan segenap pengikutnya. Juga menindak mereka-mereka yang tidak mau membayar zakat. Untuk menyukseskan gagasan tersebut, Abu Bakar melakukan berbagai rangkaian pendekatan dan konsultasi kepada para sahabat. Sebagian sahabat setuju, namun ada juga yang menentang. Namun, walaupun mereka berbeda pandangan, tidak satu pun diantara mereka yang tidak mematuhi kepemimpinan beliau. Sebab mereka sadar perselisihan yang mengabaikan persatuan tentu tidak menguntungkan dan Islam tidak akan jaya. Oleh karenanya, ketaatan kepada pemimpin menjadi perkara yang wajib bagi para sahabat karena di dalamnya terkandung kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan.
Salah-satu contoh tentang sikap taat yang ditunjukkan ummat Islam kepada Abu Bakar yaitu, ketika Abu Bakar menunjuk Usamah bin Zaid menjadi pimpinan pasukan perang ummat Islam, banyak diantara sahabat yang tidak setuju. Alasan mereka bahwa Usamah masih relatif muda untuk memimpin peperangan di Medan tempur, sementara banyak lagi sahabat-sahabat lain yang lebih mumpuni dan berpengalaman. Akan tetapi, Abu Bakar meyakinkan mereka bahwa Usamah mampu untuk melaksanakan tugas berat itu. Setelah Abu Bakar meyakinkan mereka dan bertekad melaksanakan gagasannya, semua sahabat tanpa kecuali taat dan menjalankan perintahnya. Para sahabat tetap mengambil sikap untuk taat kepada pemimpin karena ketaatan kepada pemimpin memiliki rahasia untuk memperoleh kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan.
Hasilnya Nampak jelas, dalam waktu yang relatif singkat, kaum Muslimin berhasil menjalin persatuan yang kuat, disamping mengangkat martabat, kemuliaan dan keagungan umat Islam. Orang-orang murtad berhasil ditumpas. Musailamah Al-Kazzab yang mengaku Nabi dengan segenap pengikutnya berhasil dilumpuhkan, kendatipun dengan pengorbanan banyaknya yang gugur menjadi syuhada, termasuk mereka-mereka yang hafal Al-Qur’an.
Demikianlah etika mulia dari para sahabat dalam kisah kepemimpinan yang memprioritaskan kepentingan ummat dibanding kepentingan diri sendiri maupun kelompok.
Dengan tonggak-tonggak kepemimpinan yang sudah dipancangkan oleh Rasulullah, diikuti oleh Abu Bakar dan khalifah-khalifah berikutnya, ummat Islam mengalami kemajuan dan kejayaan.
Selayaknya kita saat ini kembali mengacu kepada sistem masyarakat Islam yang sudah di ukir dengan tinta emas oleh sahabat-sahabat Nabi. Baik sebagai seorang pemimpin maupun sebagai rakyat biasa.
Beberapa wilayah di Indonesia saat ini disibukkan dengan PILKADA. Khususnya Daerah Ibu Kota Jakarta yang hari ini (15 Oktober 2012) Gubernur dan wakil Gubernur terpilih (JOKOWI Dan AHOK) siap dilantik.
Mampukah mereka memimpin DKI Jakarta yang terdapat segudang persoalan yang harus diselesaikan?. Hal ini tentu kembali kepada komitmen mereka saat-saat kempanye ketika menarik simpati masyarakat DKI. Yang jelas, masyarakat DKI banyak menaruh harapan kepada mereka.
Yang tidak kalah pentingnya, sosok pemimpin hari ini selayaknya meneladani pola kepemimpinan yang sudah dicontohkan Rasulullah dan para Khalifah sesudahnya.
Kuncinya tidak lain adalah; Jabatan tidak boleh dipandang sebagai anugerah. Tetapi….. Jabatan harus dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggung jawabkan, baik di dunia terlebih-lebih di akhirat.

Minggu, 14 Oktober 2012

Kisah Tukang Sepatu Yang Ikhlas Dan Anak Muda Yang Bersyukur


Ikhlash Dan Syukur

(Kisah tukang sepatu yang ikhlas Dan anak muda yang bersyukur)

Dibawah sinar terik matahari yang panas, pak Qodri mengayuh sepedanya menelusuri jalanan di Kota Medan untuk berusaha mendapatkan rezeki. Pak Qodri sudah lama berprofesi sebagai tukang jahit sepatu/sendal keliling, sudah lama dia tekuni pekerjaan ini.

Sudah lama Pak Qodri berkeliling tapi belum satu orang-pun yang memanggilnya untuk memperbaiki sendal atau sepatu. Tapi dia tidak berputus asa, sebab dia memandang bekerja adalah kewajiban yang harus dia jalankan. Dan dia dikenal terutama oleh pelanggannya seorang yang sangat jujur, meskipun hidupnya miskin ia tak pernah mengambil hak orang lain.

Jam saat itu sudah menunjukkan pukul 10.30 Wib. Pak Qodri tiba di depan sebuah rumah yang cukup mewah, dia dipanggil seorang pemuda yang terlihat sangat terburu-buru dan meminta pak Qodri untuk memperbaiki sepatunya.

Ketika pak Qodri memperbaiki sepatunya, sang pemuda terus menerus melihat jam ditangannya. Karena pekerjaan ini sudah digeluti pak Qodri bertahun-tahun, dalam waktu singkat ia sudah selesai memperbaiki sepatu anak muda tadi.
Sudah selesai nak, kata pak Qodri. Wah, cepat sekali?. Berapa pak? Tanya sang pemuda.
Lima ribu rupiah nak, jawab pak Qodri.
Pemuda tadi megeluarkan uang lembaran seratus ribu rupiah. Ini pak, katanya. pak Qodri kaget dan berkata, wah, tidak ada kembaliannya nak, hari ini baru sepatu anak yang saya perbaiki.
Gimana ya pak? Saya tidak ada uang receh, dan saya buru-buru ini. Katanya kepada pak Qodri.
Begini saja, kata pak Qodri; anak pakai saja dulu sepatunya. Kapan-kapan kalau kita bertemu dan anak ada uang receh baru anak bayar.
Anak muda tadi tertegun sejenak dan berkata; bapak percaya sama saya?. Ya percaya………. kata pak Qodri.
Anak muda tadi-pun berulang kali mengucapkan terima kasih kepada pak Qodri, sambil terburu-buru ia pakai sepatunya, dan berangkat meninggalkan pak Qodri.
Setelah memasukkan peralatannya ke dalam kotaknya, pak Qodri kembali berkeliling untuk mendapatkan pelanggan. Namun, sampai jam empat sore dia tidak mendapatkan seorang pelanggan-pun. Saat dia mengayuh sepedanya, dia melewati sebuah Masjid dan dia ingat belum melaksanakan shalat ashar. Pak Qodri pun berhenti di Masjid tersebut untuk melaksanakan shalat ashar.
Selesai shalat, pak Qodri berdoa kepada Allah, salah satu isi doanya adalah:”Ya Allah, izinkan aku mencicipi sedikit rezekiMu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakMu”.
Selesai berdoa diapun bangkit dari duduknya dan keluar dari Masjid, kemudian duduk di bawah  pohon dekat sepeda yang ia parkirkan untuk menghilangkan rasa penatnya. Tak lama berselang, tiba-tiba muncul dihadapannya anak muda yang tadi siang memperbaiki sepatunya. Anak muda tersebut menegur pak Qodri dan mengatakan; Bapak di sini juga rupanya? Betul nak, beru selesai melaksanakan shalat ashar dan ini lagi istirahat, Anak lagi ngapain di sini? gantian pak Qodri bertanya. Saya juga baru shalat ashar pak, jawab sang pemuda.
Oh iya pak, kebetulan ni…. Saya sekalian bayar uang membetulkan sepatu tadi. Dia buka dompetnya, dia keluarkan uang kertas pecahan seratus ribu rupiah sebanyak lima lembar, kemudian dia berikan kepada pak Qodri.
Melihat uang sebanyak itu, pak Qodri terkejut dan berkata, wah nak, ongkosnya tadikan cuma lima ribu rupiah…… ini terlalu banyak nak, kata pak Qodri.
Sudah pak, terima saja, yang lima ribu untuk bayar ongkos perbaikan sepatu saya tadi, dan sisanya hadiah dari saya untuk bapak karena bapak sudah berbuat baik kepada saya dan sekaligus syukuran saya pak.
Syukuran apa nak? Tanya pak Qodri.
Sebenarnya saya tadi buru-buru berangkat ketempat saya melamar pekerjaan, hari ini adalah hari penentuan saya diterima atau tidak, terlambat sedikit saja saya akan gagal pak. Untung bapak tadi membiarkan saya pergi, jadi saya tidak terlambat, dan saya diterima bekerja pak.
Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Qatar. Saya diterima bekerja di salah satu perusahaan di sana.
Saudaraku…………….!
Allah punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba. Tapi yakinlah……!
Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan. Kesuksesan dan keikhlasan harus diiringi dengan rasa syukur.
Karena itu……! Ikhlaslah dalam berbuat, bersyukurlah kala mendapat nikmat, hidup akan selamat, baik dunia maupun akhirat.
Semoga kita bisa mengambil I’tibar dari kisah ini.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Menapak Tilas Kehidupan Nabi Ibrahim


Meneladani Nabi Ibrahim Dalam Membina Keluarga

Al-Qur’an banyak bercerita tantang kisah orang-orang yang terdahulu untuk kita jadikan teladan dalam membina keluarga. Sebab, persoalan keluarga dalam suatu masyarakat tak kalah pentingnya dengan persoalan - persoalan yang lain. Karena keluarga adalah ujung tombak untuk perbaikan di lingkungan masyarakat. Jika suatu keluarga gagal dalam mendidik anak-anaknya, tentu masa depan akan suram. Pendidikan dalam lingkungan keluarga adalah untuk membentuk pribadi- pribadi yang baik.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar pada pembinaan keluarga. Sebab keluarga merupakan instrumen penting dalam masyarakat. Apabila tidak dibina dengan baik dan benar, tentu akan sulit terwujudnya sebuah tatanan masyarakat idaman. Sebab itulah peranan keluarga dipandang penting dalam menciptakan masyarakat yang baik dan sejahtera.
Karenanya, perlu diketengahkan profil keluarga yang pernah dilukiskan dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini adalah keluarga Nabi Ibrahim AS. Diharapkan dapat diteladani atau diambil hikmahnya agar dapat menginspirasi terbentuknya keluarga harmonis. Keluarga-keluarga yang harmonis akan mewujudkan masyarakat yang aman dan damai. Selanjutnya masyarakat-masyarakat yang damai akan mengantarkan kepada negara yang kokoh dan sejahtera. Maka, jika ingin mewujudkan negara yang kokoh dan sejahtera, kita harus membangun masyarakat yang damai. Dan, jika ingin menciptakan masyarakat yang damai, kita harus membina keluarga-keluarga yang baik dan harmonis.
Kisah populer yang berkenaan dengan kehidupan Nabi Ibrahim antara lain adalah, ketika Allah mengaruniakan kepadanya seorang putra pada saat usianya sudah lanjut. Namun, Allah Maha kuasa untuk berbuat apa saja. Ibrahim yang sudah lanjut usia  akhirnya memperoleh seorang putra yang diberi nama Ismail. Penantian panjang yang sekian lama untuk mendapatkan anak membuat Ibrahim sangat mencintai anaknya.
Ditengah kehidupan yang menggembirakan dengan putra tercinta, Allah menguji imannya melalui sebuah mimpi. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya.
Allah menceritakan rangkaian kisah penyembelihan yang dilakukan oleh Ibrahim ini, mulai dari datangnya mimpi, kepasrahan Ismail terhadap perintah Allah, kemudian meminta ayahnya agar meletakkannya tepat di pelipisnya, kemudian setelah itu barulah terdengar panggilan kepada Ibrahim, “Sesungguhnya engkau telah membenarkan/melaksanakan mimpi itu. Kisah ini tercantum dalam Al-Qur’an surat Ash-shaffat; 100-107:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاء الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾
Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.  “.
Hal yang menarik dalam kisah ini adalah, sebelum Ibrahim melaksanakan perintah penyembelihan itu, terjadi dialog yang sangat harmonis dan menyentuh hati antara anak dan bapak. Tidak disangka sebelumnya, sang anak dengan hati yang tegar siap menjalani semua kehendak Allah. Ia bersedia disembelih oleh ayahnya demi menjalankan perintah Allah SWT. Ketegaran sang ayah untuk menyembelih anaknya, kesabaran anak untuk disembelih ayahnya, dan ketabahan sang ibu untuk menyerahkan anaknya, telah membuat mereka berhasil menempuh ujian yang maha berat. Allah menebus Ismail dengan seekor domba, dan peristiwa bersejarah itu diabadikan dalam rangkaian ibadah qurban pada hari Idul Adha.
Dengan demikian, keikhlasan itu tidak hanya milik Ibrahim, tetapi keikhlasan itu juga milik isterinya Hajar dan putranya Ismail. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang berserah diri kepada Allah. Sehingga jadilah mereka keluarga teladan sepanjang zaman, keluarga yang menjadi mercusuar penerang kegelapan. Keluarga yang memiliki tujuan meraih keridhaan Allah yang menjelma menjadi keluarga yang di dalamnya tumbuh rasa saling tolong-menolong untuk melaksanakan perintah Allah.
Pantas dan wajar kalau keluarga Nabi Ibrahim AS. termasuk keluarga pilihan di alam semesta ini. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 33:
إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحاً وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),“.
Kisah keluarga Ibrahim ini menginspirasikan kepada umat Islam untuk meneladani beberapa langkah yang ditempuh Nabi Ibrahim.
Pertama: Pentingnya komunikasi dialogis antara anggota keluarga, dalam konteks ini, antara ayah dan anak. Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah menyembelih anaknya itu wajib dilaksanakan, tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog dengan putranya untuk meminta pendapat.
Tradisi inilah yang dewasa ini mulai terkikis dalam pembinaan keluarga. Posisi anak dalam keluarga cenderung diabaikan dan dipandang sebelah mata. Anak seolah-olah hanya berkewajiban untuk sekedar menuruti segala perintah orang tua tanpa memiliki hak bicara dan berpendapat. Akhirnya, hubungan orang tua dengan anak ibarat hubungan atasan dengan bawahan.
Hubungan seperti ini apabila dibiarkan, tidak menutup kemungkinan akan menghambat perkembangan karakter dan pribadi seorang anak. Biasanya, anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan tidak percaya diri. Atau, kepatuhan yang ditampilkan pada orang tua hanyalah kepatuhan semu, sementara dalam jiwanya, ia menyimpan sikap menentang. Ia hanya mampu memendam sikap menentang dan tidak mampu melampiaskannya. Sikap seperti ini akan menjadi bom waktu dalam jiwa anak yang suatu saat akan meledak jika situasi dan kondisinya mendukung dan memungkinkan. Karena itu perlu dibangun komunikasi dan dialog yang harmonis antara orang tua dan anak. Orang tua yang mau meminta pendapat anaknya, khususnya yang berhubungan langsung dengan dirinya, akan memberikan rasa percaya diri yang besar dalam jiwa anak. Ia akan merasa keberadaannya dalam keluarga dihargai dan diperhatikan. Selanjutnya, perasaan ini akan menumbuhkan sikap kreatif dan proaktif dalam jiwa anak di tengah-tengah masyarakat.
Kedua: Kasih sayang dan cinta kepada anak adalah ujian dari Allah. Dalam surat al-Taghabun ayat 14-15 Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٤﴾ إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ﴿١٥﴾
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar“.
Dari firman Allah diatas kita memahami bahwa anak dan istri bisa menjadi musuh bagi seseorang jika semua itu akan melalaikannya dari mengingat Allah. Bagaimanapun cintanya orang tua kepada anaknya, tidak boleh menyamai apalagi melebihi cintanya kepada Allah. Ketika istri, anak-anak dan keluarga lebih dicintai daripada Allah, saat itulah mereka akan berubah menjadi musuh di akhirat kelak.
Ketiga: Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah akan selalu mendatangkan hasil yang baik. Ketika Ibrahim dan Ismail serta Hajar bersikap sabar dan tabah dalam menjalankan perintah Allah, meskipun itu sangat berat, Allah menerima pengorbanan mereka dan menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga pilihan di alam semesta. Mereka telah lulus menjalani sebuah ujian yang sangat berat. Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah itu hanya dapat diperoleh dengan keimanan yang kuat dan keyakinan yang kokoh bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik meskipun bertentangan dengan hawa nafsu manusiawi.
Ada sisi lain dari kehidupan Ibrahim dan keluarganya yang patut diteladani. Yaitu metode pembinaan keluarga. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 37:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur“.
Doa Nabi Ibrahim yang termuat dalam firman Allah di atas, ia mohonkan saat akan meninggalkan isterinya Hajar dan anaknya Ismail di lembah yang tandus, tidak ada tumbuhan, tanaman dan hal-hal yang menopang untuk kehidupan. Dari sinilah, banyak hikmah yang dapat diteladani, terutama terkait dengan metode pendidikan yang diterapkan oleh Nabi Ibrahim kepada keluarganya, diantaranya:  
1. Ibrahim tidak meninggalkan keluarganya di sembarang tempat, melainkan di dekat Baitullah (rumah Ibadah). Tentu saja ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebagai pertanda bahwa sejak awal Nabi Ibrahim ingin mengkondisikan keluarganya (isteri dan anaknya) untuk selalu dekat dengan Baitullah. Seakan beliau yakin betul, bahwa tidak mungkin anak dan keluarganya menjadi shalih dan taat tanpa mengenal dan dekat dengan Baitullah.
Dalam konteks kekinian, yang kita saksikan adalah sesuatu yang sangat  kontras dengan apa yang terjadi pada anak-anak sekarang, mereka banyak yang lebih suka ke Mall daripada ke Masjid. Lebih akrab dengan playstation daripada Al-Qur’an. Hal ini terjadi karena banyak orang tua (walau tidak semua) yang tidak mempertautkan hati anak-anaknya dengan Masjid, sehingga rumah ibadah menjadi tempat yang asing bagi mereka.
2. Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya di lembah yang kering, tandus, tidak ada tanaman dan tumbuhan. Sepantasnya yang pertama dia pinta kepada Allah adalah makanan, minuman dan apa saja yang dapat menopang kehidupan mereka. Namun hal itu tidak dia lakukan. Justru yang beliau pinta dalam doanya adalah “agar mereka mendirikan shalat”. Ini adalah permohonan yang berorientasi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah permohonan yang tidak populer dan jarang dikumandangkan oleh orang tua dan kaum pendidik.Visi dan misi dunia pendidikan banyak yang lebih dominan pada material. Lebih menitikberatkan  kepada kecerdasan intelektual tapi mengabaikan kecerdasan spritiual. Shalat yang merupakan cara membina keharmonisan hubungan kepada Allah akan membuahkan kesuksesan, keberhasilan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Keberhasilan Nabi Ibrahim mendidik keluarganya menjadi orang-orang yang bertakwa terlihat dari pernyataan istrinya Hajar saat mengejar suaminya dengan memanggilnya berulangkali,“Wahai suamiku, apakah engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang tidak ada penghuninya dan tidak ada sesuatu apa pun?” Ibrahim tidak menjawab. Kemudian Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” Ibrahim menjawab,“Benar.” Dan Hajar berkata kembali, “Kalau demikian, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Ungkapan seperti itu hanya bisa diucapkan oleh orang yang dihatinya sudah tertanam iman yang kokoh kepada Allah.
3. Permohonan  Nabi Ibrahim berikutnya adalah “jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka”. Nabi Ibrahim berharap agar keluarganya menjadi orang-orang yang dicintai oleh masyarakat. Dan seseorang akan dicintai karena kemuliaan akhlaknya. Inilah indikasi keberhasilan metode pendidikan, yaitu ketika mampu mendidik anak-anak yang berakhlak mulia.
Semakin lama seseorang belajar sejatinya semakin baik akhlaknya. Semakin tinggi gelar seseorang idealnya semakin bermoral hidupnya. Sayangnya, kenyataan yang ada tidak demikian. Banyak mereka yang bergelar tinggi justru tidak bermoral, mengambil uang negara (korupsi) dan melakukan banyak kezaliman. Begitu pentingnya akhlak yang mulia ini, sehingga Nabi Muhammad SAW, menyatakan bahwa salah satu misi kedatangannya adalah untuk memperbaiki akhlak manusia (demikian makna hadits Nabi).
4. Nabi Ibrahim menutup doanya dengan permohonan rezeki material, “dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan.” Secara logika tentunya yang pertama dipinta Nabi Ibrahim harusnya persediaan makanan, mengingat keberadaan keluarganya di lembah yang kering dan tandus. Namun, realitanya permohonan ini menempati urutan terakhir.
Untuk apa rezeki material itu? Apakah hanya untuk sekedar dinikmati? Apakah supaya disebut sebagai orang kaya? Sekali-kali, tidak! Melainkan agar mereka menjadi orang-orang yang bersyukur. Sebab, tidak semua orang yang kaya pandai bersyukur, tetapi orang yang bersyukur akan ditambah Allah nikmat untuknya.
Saudaraku............................!
Dalam rangka memasuki bulan Dzulhijjah 1433 H tahun ini, mari kita kembali mendalami nilai-nilai kehidupan dalam membina keluarga seperti yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dengan harapan, keluarga kita merupakan keluarga yang mendapat keridhaan Allah SWT.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ