Meneladani Nabi Ibrahim Dalam Membina
Keluarga
Al-Qur’an banyak bercerita tantang
kisah orang-orang yang terdahulu untuk kita jadikan teladan dalam membina
keluarga. Sebab, persoalan keluarga dalam suatu masyarakat tak kalah pentingnya
dengan persoalan - persoalan yang lain. Karena keluarga adalah ujung tombak untuk
perbaikan di lingkungan masyarakat. Jika suatu keluarga gagal dalam mendidik
anak-anaknya, tentu masa depan akan suram. Pendidikan dalam lingkungan keluarga
adalah untuk membentuk pribadi- pribadi yang baik.
Islam memberikan perhatian yang
sangat besar pada pembinaan keluarga. Sebab keluarga merupakan instrumen penting
dalam masyarakat. Apabila tidak dibina dengan baik dan benar, tentu akan sulit
terwujudnya sebuah tatanan masyarakat idaman. Sebab itulah peranan keluarga dipandang
penting dalam menciptakan masyarakat yang baik dan sejahtera.
Karenanya, perlu diketengahkan
profil keluarga yang pernah dilukiskan dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini adalah
keluarga Nabi Ibrahim AS. Diharapkan dapat diteladani atau diambil hikmahnya
agar dapat menginspirasi terbentuknya keluarga harmonis. Keluarga-keluarga yang
harmonis akan mewujudkan masyarakat yang aman dan damai. Selanjutnya
masyarakat-masyarakat yang damai akan mengantarkan kepada negara yang kokoh dan
sejahtera. Maka, jika ingin mewujudkan negara yang kokoh dan sejahtera, kita
harus membangun masyarakat yang damai. Dan, jika ingin menciptakan masyarakat yang
damai, kita harus membina keluarga-keluarga yang baik dan harmonis.
Kisah populer yang berkenaan dengan
kehidupan Nabi Ibrahim antara lain adalah, ketika Allah mengaruniakan kepadanya
seorang putra pada saat usianya sudah lanjut. Namun, Allah Maha kuasa untuk
berbuat apa saja. Ibrahim yang sudah lanjut usia akhirnya memperoleh seorang putra yang diberi
nama Ismail. Penantian panjang yang sekian lama untuk mendapatkan anak membuat Ibrahim sangat mencintai anaknya.
Ditengah kehidupan yang
menggembirakan dengan putra tercinta, Allah menguji imannya melalui sebuah
mimpi. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya.
Allah menceritakan rangkaian kisah
penyembelihan yang dilakukan oleh Ibrahim ini, mulai dari datangnya mimpi,
kepasrahan Ismail terhadap perintah Allah, kemudian meminta ayahnya agar meletakkannya
tepat di pelipisnya, kemudian setelah itu barulah terdengar panggilan kepada
Ibrahim, “Sesungguhnya engkau telah membenarkan/melaksanakan mimpi itu. Kisah
ini tercantum dalam Al-Qur’an surat Ash-shaffat; 100-107:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا
كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاء الْمُبِينُ
﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾
Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk
orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia
kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama
Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab:
"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah
kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya
atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian
yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar. “.
Hal yang menarik dalam kisah ini
adalah, sebelum Ibrahim melaksanakan perintah penyembelihan itu, terjadi dialog
yang sangat harmonis dan menyentuh hati antara anak dan bapak. Tidak disangka
sebelumnya, sang anak dengan hati yang tegar siap menjalani semua kehendak Allah.
Ia bersedia disembelih oleh ayahnya demi menjalankan perintah Allah SWT.
Ketegaran sang ayah untuk menyembelih anaknya,
kesabaran anak untuk disembelih ayahnya, dan ketabahan
sang ibu untuk menyerahkan anaknya, telah membuat mereka berhasil menempuh ujian
yang maha berat. Allah menebus Ismail dengan seekor domba, dan peristiwa
bersejarah itu diabadikan dalam rangkaian ibadah qurban pada hari Idul Adha.
Dengan demikian, keikhlasan itu
tidak hanya milik Ibrahim, tetapi keikhlasan itu juga milik isterinya Hajar dan
putranya Ismail. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang berserah diri kepada Allah. Sehingga jadilah mereka keluarga teladan sepanjang
zaman, keluarga yang menjadi mercusuar penerang kegelapan. Keluarga yang
memiliki tujuan meraih keridhaan Allah yang menjelma
menjadi keluarga yang di dalamnya tumbuh rasa saling tolong-menolong untuk
melaksanakan perintah Allah.
Pantas dan wajar kalau keluarga Nabi
Ibrahim AS. termasuk keluarga pilihan di alam semesta ini. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat
Ali Imran ayat 33:
إِنَّ
اللّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحاً وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى
الْعَالَمِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah
memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat
(di masa mereka masing-masing),“.
Kisah keluarga Ibrahim ini
menginspirasikan kepada umat Islam untuk meneladani beberapa langkah yang
ditempuh Nabi Ibrahim.
Pertama: Pentingnya komunikasi dialogis antara
anggota keluarga, dalam konteks ini,
antara ayah dan anak. Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah menyembelih
anaknya itu wajib dilaksanakan, tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog dengan
putranya untuk meminta pendapat.
Tradisi inilah yang dewasa ini mulai
terkikis dalam pembinaan keluarga. Posisi anak dalam keluarga cenderung
diabaikan dan dipandang sebelah mata. Anak seolah-olah hanya berkewajiban untuk
sekedar menuruti segala perintah orang tua tanpa memiliki hak bicara dan
berpendapat. Akhirnya, hubungan orang tua dengan anak ibarat hubungan atasan
dengan bawahan.
Hubungan seperti ini apabila
dibiarkan, tidak menutup kemungkinan akan menghambat perkembangan karakter dan
pribadi seorang anak. Biasanya, anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang
penakut dan tidak percaya diri. Atau, kepatuhan yang ditampilkan pada orang tua
hanyalah kepatuhan semu, sementara dalam jiwanya, ia menyimpan sikap menentang.
Ia hanya mampu memendam sikap menentang dan tidak mampu melampiaskannya. Sikap seperti
ini akan menjadi bom waktu dalam jiwa anak yang suatu saat akan meledak jika
situasi dan kondisinya mendukung dan memungkinkan. Karena
itu perlu dibangun komunikasi dan dialog yang harmonis antara orang tua dan
anak. Orang tua yang mau meminta pendapat anaknya, khususnya yang berhubungan
langsung dengan dirinya, akan memberikan rasa percaya diri yang besar dalam
jiwa anak. Ia akan merasa keberadaannya dalam keluarga dihargai dan
diperhatikan. Selanjutnya, perasaan ini akan menumbuhkan sikap kreatif dan
proaktif dalam jiwa anak di tengah-tengah masyarakat.
Kedua: Kasih sayang dan cinta kepada anak adalah ujian dari Allah. Dalam
surat al-Taghabun ayat 14-15 Allah berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ
أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ
عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا
فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٤﴾ إِنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ
فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ﴿١٥﴾
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu
dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu
terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni
(mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah
pahala yang besar“.
Dari firman Allah diatas kita
memahami bahwa anak dan istri bisa menjadi musuh bagi seseorang jika semua itu
akan melalaikannya dari mengingat Allah. Bagaimanapun cintanya orang tua kepada
anaknya, tidak boleh menyamai apalagi melebihi cintanya kepada Allah. Ketika istri, anak-anak dan keluarga lebih
dicintai daripada Allah, saat itulah mereka akan berubah menjadi musuh di
akhirat kelak.
Ketiga: Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah akan
selalu mendatangkan hasil yang baik. Ketika
Ibrahim dan Ismail serta Hajar bersikap sabar dan tabah dalam
menjalankan perintah Allah, meskipun itu sangat berat, Allah menerima
pengorbanan mereka dan menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga pilihan di
alam semesta. Mereka telah lulus menjalani sebuah ujian yang sangat berat.
Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah itu hanya dapat
diperoleh dengan keimanan yang kuat dan keyakinan yang kokoh bahwa kehendak
Allah adalah yang terbaik meskipun bertentangan dengan hawa nafsu manusiawi.
Ada sisi lain
dari kehidupan Ibrahim dan keluarganya yang patut diteladani. Yaitu metode pembinaan
keluarga. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 37:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن
ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا
لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat
rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar
mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung
kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka
bersyukur“.
Doa Nabi
Ibrahim yang termuat dalam firman Allah di atas, ia mohonkan saat akan
meninggalkan isterinya Hajar dan anaknya Ismail di lembah yang tandus, tidak
ada tumbuhan, tanaman dan hal-hal yang menopang untuk kehidupan. Dari sinilah,
banyak hikmah yang dapat diteladani, terutama terkait dengan metode pendidikan
yang diterapkan oleh Nabi Ibrahim kepada keluarganya, diantaranya:
1. Ibrahim tidak
meninggalkan keluarganya di sembarang tempat, melainkan di dekat Baitullah (rumah
Ibadah). Tentu saja ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebagai
pertanda bahwa sejak awal Nabi Ibrahim ingin mengkondisikan keluarganya (isteri
dan anaknya) untuk selalu dekat dengan Baitullah. Seakan beliau yakin betul,
bahwa tidak mungkin anak dan keluarganya menjadi shalih dan taat tanpa mengenal
dan dekat dengan Baitullah.
Dalam konteks kekinian,
yang kita saksikan adalah sesuatu yang sangat kontras dengan apa yang terjadi pada anak-anak
sekarang, mereka banyak yang lebih suka ke Mall daripada ke Masjid. Lebih akrab
dengan playstation daripada Al-Qur’an. Hal ini terjadi karena banyak orang tua
(walau tidak semua) yang tidak mempertautkan hati anak-anaknya
dengan Masjid, sehingga rumah ibadah menjadi tempat yang asing bagi mereka.
2. Nabi Ibrahim
meninggalkan keluarganya di lembah yang kering, tandus, tidak ada tanaman dan
tumbuhan. Sepantasnya yang pertama dia pinta kepada Allah adalah makanan,
minuman dan apa saja yang dapat menopang kehidupan mereka. Namun hal itu tidak dia lakukan.
Justru yang beliau pinta dalam doanya adalah “agar
mereka mendirikan shalat”. Ini adalah permohonan yang berorientasi
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebuah permohonan yang tidak populer dan
jarang dikumandangkan oleh orang tua dan kaum pendidik.Visi dan misi
dunia pendidikan banyak yang lebih dominan pada material. Lebih menitikberatkan
kepada kecerdasan intelektual tapi
mengabaikan kecerdasan spritiual. Shalat yang merupakan cara membina keharmonisan hubungan kepada
Allah akan membuahkan kesuksesan, keberhasilan, dan kebahagiaan di dunia dan
akhirat.
Keberhasilan Nabi
Ibrahim mendidik keluarganya menjadi orang-orang yang bertakwa terlihat dari
pernyataan istrinya Hajar saat mengejar suaminya dengan memanggilnya berulangkali,“Wahai suamiku, apakah engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang tidak
ada penghuninya dan tidak ada sesuatu apa pun?” Ibrahim
tidak menjawab. Kemudian Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu
melakukan ini?” Ibrahim menjawab,“Benar.” Dan Hajar
berkata kembali, “Kalau demikian, pasti Allah tidak
akan menyia-nyiakan kami.” Ungkapan seperti itu hanya bisa diucapkan oleh orang yang
dihatinya sudah tertanam iman yang kokoh kepada Allah.
3. Permohonan Nabi Ibrahim berikutnya
adalah “jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka”. Nabi Ibrahim berharap agar keluarganya menjadi orang-orang yang dicintai
oleh masyarakat. Dan seseorang akan dicintai
karena kemuliaan akhlaknya. Inilah indikasi keberhasilan metode pendidikan,
yaitu ketika mampu mendidik anak-anak yang berakhlak mulia.
Semakin lama seseorang belajar sejatinya semakin baik akhlaknya. Semakin tinggi gelar seseorang idealnya semakin bermoral hidupnya. Sayangnya, kenyataan yang ada tidak
demikian. Banyak mereka yang bergelar tinggi justru tidak bermoral, mengambil uang negara (korupsi) dan melakukan banyak kezaliman.
Begitu pentingnya akhlak yang mulia ini, sehingga Nabi Muhammad SAW, menyatakan bahwa salah satu misi kedatangannya adalah
untuk memperbaiki akhlak manusia (demikian makna hadits Nabi).
4. Nabi Ibrahim menutup doanya dengan permohonan rezeki
material, “dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan.” Secara logika tentunya yang pertama dipinta Nabi Ibrahim harusnya
persediaan makanan, mengingat keberadaan keluarganya di
lembah yang kering dan tandus. Namun, realitanya permohonan ini
menempati urutan terakhir.
Untuk apa rezeki material itu?
Apakah hanya untuk sekedar dinikmati? Apakah supaya disebut sebagai orang kaya?
Sekali-kali, tidak! Melainkan agar mereka menjadi orang-orang yang bersyukur.
Sebab, tidak semua orang yang kaya pandai
bersyukur, tetapi orang yang bersyukur akan ditambah Allah nikmat untuknya.
Saudaraku............................!
Dalam rangka
memasuki bulan Dzulhijjah 1433 H tahun ini, mari kita kembali mendalami
nilai-nilai kehidupan dalam membina keluarga seperti yang telah dicontohkan
Nabi Ibrahim, dengan harapan, keluarga kita merupakan keluarga yang mendapat
keridhaan Allah SWT.
امـِـيْــنَ
يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ