Bercermin
Kepada Umar Bin Abdul Aziz
Melakukan
pemberantasan korupsi nampaknya memang harus menelusuri jalan yang panjang dan
terjal, bahkan upaya untuk memberantas korupsi ini terasa kian berliku. Salah
satu sebabnya antara lain, bahwa perang melawan korupsi kelihatannya lebih banyak
dalam bentuk wacana ketimbang menjadi gerakan.
Kita
selalu menyimak pemberitaan, betapa banyak pembesar di Republik ini baik dalam
pidato maupun diskusi-diskusi yang dilaksanakan menyampaikan betapa pentingnya melakukan pemberantasan korupsi ini
tanpa pandang bulu, tapi pada saat bersamaan kita saksikan ada saja pejabat
terjerat kasus korupsi bahkan dengan skala yang lebih besar.
Agaknya
para pembesar dan masyarakat di negeri ini perlu disuguhkan kembali kisah
pemimpin yang bernama Umar bin Abdul Aziz.
Umar
bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang adil, arif dan bijaksana serta
hidup dalam kesederhanaan. Beliau juga pemimpin yang sangat berhati-hati dan takut
memakan uang Negara walau sedikit.
Dikisahkan;
Suatu hari Umar bin Abdul Aziz kerja lembur sampai malam. Maklum,
masa itu belum ada listrik sebagai lampu penerang. Yang dia gunakan adalah
lampu sentir untuk menerangi ruangan di tempat dia bekerja.
Saat
Umar bin Abdul Aziz sibuk bekerja, tiba-tiba anaknya masuk ke ruang kerjanya.
Umar-pun bertanya kepada anaknya; kamu ada keperluan pada ayah nak? Benar ayah,
jawab puteranya.
Umar
kembali bertanya; Keperluanmu kemari terkait dengan urusan Negara atau
keluarga?
Urusan
keluarga ayah, jawab anaknya.
Begitu
mendengar jawaban anaknya bahwa kedatangannya adalah terkait urusan keluarga,
sepontan Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu yang ada
dihadapannya. Seketika ruangan menjadi gelap.
Anaknya
bertanya kepadanya; kenapa ayah matikan lampu itu?
Karena
kamu kemari urusan keluarga, jawab Umar kepada anaknya.
Lantas,
apa kaitannya urusan keluarga dengan lampu itu ayah? Tanya anaknya.
Minyak
lampu ini adalah milik Negara, tadi aku gunakan karena aku sedang melakukan
tugas-tugas kenegaraan. Sedangkan kamu datang kemari bukan untuk urusan
kenegaraan. Jadi kalau ayah tetap menghidupkannya selama berbicara denganmu,
itu berarti ayah sudah menyalahgunakan wewenang sebagai petugas Negara. Ayah
tidak mau dibakar Allah dihari kiamat kelak dikarenakan setetes minyak lampu
yang ayah gunakan untuk melayani kamu yang datang kemari bukan untuk
kepentingan Negara.
Subhanallah……………! Betapa
menakjubkan, Seorang pemimpin yang penuh tanggung jawab dan sangat berhati-hati
dalam menggunakan pasilitas Negara. Umar bin Abdul Aziz tidak
berani menggunakan pasilitas Negara walau hanya setetes minyak yang dia gunakan
untuk keperluan keluarga.
Bagaimana
dengan koruptor yang mengambil uang rakyat dengan milyaran rupiah?.
Semoga
Pejabat atau siapapun yang dipercaya untuk menjalankan suatu amanat, dapat menjalankan
amanat dengan baik dan benar. Dan selayaknya orang-orang yang menerima amanat mau
bercermin kepada pola kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.