Kamis, 13 Desember 2012

Mimbar Jum'at


Nikmat Mengenal Allah S.W.T.
Bagi seorang mukmin tidak ada kenikmatan yang lebih besar di dunia ini daripada mengenal Allah. Bahkan bagi seseorang yang sudah mengenal Allah, nikmat dunia dan seisinya tidak akan mampu menandinginya. Alam semesta ini hanya bahagian kecil dari nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya.
Manusia tidak akan dapat mengukur nikmat Allah dengan tolok ukur yang dia miliki di dunia ini. Bahkan, alam semesta dengan segenap isinya tidak akan mampu mendatangkan kenikmatan seperti yang diberikan Allah. Sebab, kekuasaan Allah tidak ada tandingannya. Karena itu, bagi orang yang mengenal Allah, segala kejadian yang menimpa dirinya semuanya akan dirasakan sebagai nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
Tidak ada uang dirasakan mukmin sebagai satu kenikmatan. Sebab, dengan demikian dia harus selalu berusaha di jalan Allah untuk mendapatkan rezeki. Dan berusaha untuk mendapatkan rezeki akan menjadi nilai ibadah di sisi Allah. Hal yang demikian, bagi seorang mukmin adalah satu kenikmatan tersendiri. Di sisi lain, banyak uang bagi seorang mukmin adalah kenikmatan, karena dengan uang tersebut dia dapat meningkatkan ibadahnya kepada Allah. Hal seperti ini adalah kenikmatan tersendiri bagi seorang mukmin.
Kesehatan yang dirasakan adalah kenikmatan, karena dengan kesehatan tersebut seorang mukmin akan lebih mudah melaksanakan ibadah kepada Allah. Sakit-pun bisa menjadi kenikmatan tersendiri bagi seorang mukmin, sebab dengan sakitnya itu dia selalu berusaha bersabar menerimanya dengan tetap berusaha untuk berobat. Sikap sabar dan upaya untuk mendapatkan obat untuk kesembuhannya akan bernilai ibadah dan itu adalah kenikmatan bagi seorang mukmin.
Mendapat pujian adalah nikmat, karena dia dapat merasakan kebesaran Allah yang menyebabkan dia mendapat pujian, dan seorang mukmin yang mendapat pujian tidak lantas menjadikan dia sombong karena dia sadar bahwa pujian itu hanya semata-mata karunia Allah kepadanya.
Dihina-pun bagi seorang mukmin bisa merupakan nikmat untuknya, karena dapat melihat aib pada dirinya sendiri di samping dapat menjadi lumbung pahala manakala dia bersabar atas hinaan yang ditujukan kepadanya.
Bagi orang yang sudah mengenal Allah dengan baik dan benar, tidak ada celah kehidupan yang dia rasakan kecuali semuanya adalah kenikmatan.
Orang yang sudah benar-benar mengenal Allah, tidak akan merasa kesepian dikala sendirian, sebab dia selalu merasakan Allah bersamanya. Dan tidak akan terlena dikala ramai, karena dia merasakan senantiasa diawasi oleh Allah.
Semoga kita termasuk golongan orang yang benar-benar mengenal Allah.
Ya Allah Zat Yang Maha Agung, ,  tanamkanlah rasa cinta bagi kami untuk senantiasa beriman kepadaMu, jadikanlah iman itu menghisi hati kami. Tanamkanlah kebencian bagi kami dalam berbuat kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadikanlah kami orang-orang yang cerdas. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami agar kami dapat mencintaiMu dan mencintai orang-orang yang  mencintaiMu, dan mencintai sesuatu yang dapat mendekatkan kami kepada mencintaiMu. Ya Allah yang maha ramah  terhadap hambanya, tempat menyampaikan segala maksud, wahai Allah yang memiliki kalam yang sempurna lagi maha pemurah, tuntunlah kami kepada jalanMu yang benar, jauhkanlah hati kami dari kecendrungan berbuat maksiat dan mudahkan kami untuk berbuat taat kepadaMu.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Jumat, 07 Desember 2012

Siraman Qolbu


Merenungkan Penciptaan Alam
Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 190-191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لاولِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” 
Langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang dan keberadaan semua makhluk merupakan  bagian dari tanda kekuasaan Allah. Semua itu akan dapat dirasakan oleh orang-orang yang menggunakan akalnya. Orang berakal yang dimaksud adalah mereka-mereka  yang senantiasa memikirkan alam semesta yang diciptakan Allah. Memahami tujuan alam ini diciptakan dan  menyadari bahwa  dunia ini  ada penciptanya membuat kita memahami bahwa penciptaan ini tentu ada tujuan tertentu.
Bila kita memahami bahwa dunia ini diciptakan ada tujuannya, harus pula kita sadari, apa peran kita di dunia ini. Sejauh-mana kita dapat memanfaatkan alam semesta  dan  sejauh mana pula  kita melakukan kewajiban yang diperintahkan sang pencipta.
Al-Quran menyatakan, orang-orang yang berakal, selalu memikirkan tentang perkara ini.  Oleh sebab  itu, orang yang menggunakan akal pikirannya akan selalu memohon ampun kepada Allah atas kesalahan dan kekhilafan mereka agar dibebaskan Allah dari siksa neraka. 
Dari ayat di atas sekurang-kurangnya terdapat  tiga  poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
  1. Tanda ketinggian akal adalah mengingat Allah dalam kondisi apapun. Sejatinya, ahli pikir juga menjadi ahli zikir.
  2. Iman akan lebih bernilai bila berlandaskan  pikiran. Sebaliknya zikir juga demikian, akan menjadi lebih bernilai dengan disertai pemikiran.
  3. Berpikir tentang alam semesta yang diciptakan Allah dan memahami tujuan penciptaannya,  akan lebih dapat mendekatkan diri kepada Allah. Semakin jauh kita dari tujuan ini,  akan semakin dekat  kita dengan neraka.


Kamis, 06 Desember 2012

Untuk Kita Renungkan

Menyambut Tamu Terakhir
Banyak yang tidak berpikir tentang siapa yang akan menjadi tamu terakhir dalam kehidupan ini.  Tidak menyadari tujuan kedatangannya dan apa yang ia pinta dari kita.
Tamu itu datang bukan untuk meminta harta kita, tidak meminta makan karena kelaparan, tidak untuk berhutang kepada kita, bukan pula meminta rekomendasi kepada seseorang untuk melancarkan upaya yang tidak mampu ia laksanakan.
Tamu ini datang untuk misi penting dalam kehidupan kita. Seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolak kehadirannya dalam merealisasikan misi kedatangannya.
Andai-pun kita tinggal di istana yang mewah, berlindung di benteng yang kokoh, dikelilingi pengawal yang setia, kita tidak akan mampu mencegahnya masuk untuk menemui kita dan menuntaskan urusannya dengan kita.
Untuk menemui kita, dia tidak butuh pintu masuk, tidak perlu meminta izin terlebih dahulu dan tidak harus membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Bisa saja ia datang saat kita sedang sibuk, sedang beristirahat atau sedang apa saja.
Tamu kita itu tidak memiliki hati yang mudah luluh. Ia tidak akan terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangisan kita bahkan oleh jeritan kita. Ia tidak akan bisa disogok dengan harta, sebab harta kita tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuan kedatangannya.
Tamu itu hanya menginginkan diri kita, bukan orang lain, Ia menginginkan diri kita seutuhnya bukan separoh badan. Ia ingin memisahkan kita dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Ia tidak pernah salah untuk masuk ke rumah orang yang menjadi sasarannya. Intinya, Ia ingin memisahkan jasad dengan ruh kita. Tamu itu adalah Malikat Maut yang akan mencabut nyawa kita dan memisahkan kita dari dunia ini.
Semoga kita siap menyambut tamu terakhir manakala ia datang kehadapan kita. Dan semoga kita punya bekal yang cukup untuk menyeberang ke kampung akhirat.
Ya Allah, gerakkanlah hati kami agar kami dapat melakukan nilai-nilai kabaikan dalam hidup ini, ampunkalah segala kesalahan kami dan berikanlah ridhaMu kepada kami.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 28 November 2012

Membersihkan Hati


Tujuh Cara Membersihkan Hati
Perbuatan seseorang selalu digerakkan oleh dorongan hati, apabila hati mendorongnya untuk melakukan kebaikan, maka anggota tubuhnya akan melaksanakan kebaikan, sebaliknya juga demikian. Karena itu, Allah tidak melihat kepada penampilan pisik seseorang, tapi melihat hati seseorang. Demikian makna hadits yang dapat dipahami dari sabda Rasu SAW.
Ibarat pakaian, hati kita bisa kotor dan harus dibersihkan. Hanya membersihkannya tentu berbeda dengan cara membersihkan pakaian.
Sekurang-kurangnya ada tujuh cara membersihkan hati:
  1. Bersihkan hati dengan  An-Nadamah. Nadamah maksudnya menyesali segala perbuatan tidak baik yang pernah dilakukan.
  2. Bersihkan hati dengan taubat. Maksudnya kembali kepada nilai-nilai kebaikan sesuai dengan syari’at Islam, karena kebenaran yang mutlak hanya pada agama Allah.
  3. Bersihkan hati dengan meninggalkan cinta dunia. Cinta dunia adalah satu diantara faktor penyebab hati kita menjadi kotor, maka cara membersihkannya hendaklah meninggalkan rasa cinta kepada dunia, sebab hidup di dunia tidak kekal.
  4. Bersihkan hati dengan menjauhkan diri dari ambisi pada kekuasaan. Sesunggunya kekuasaan sering menyibukkan manusia dan memalingkannya dari Allah. Andaipun kekuasaan itu diamanahkan kepada kita maka laksanakanlah amanah itu dengan baik sesuai dengan ajaran agama dan hindarkan diri dari melakukan penyimpangan.
  5. Bersihkan hati dengan meninggalkan suka dipuji. Sebab, pujian selalu membuat seseorang menjadi lalai bahkan menyombongkan diri.
  6. Bersihkan hati dengan meninggalkan rasa dendam. Orang yang menyimpan rasa dendam hatinya tentu sulit untuk mendapat ketenangan.
  7. Bersihkan hati dengan meninggalkan sifat dengki. Dengki adalah merupakan sifat yang sangat membahayakan, sama halnya seperti api menghanguskan kayu bakar.
Semoga kita dapat membersihkan hati dengan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan ini sesuai dengan Syari’at Allah SWT.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ