Selasa, 25 Juni 2013

Nenek Terdakwa Dan Hakim Yang Bijaksana

NENEK TERDAKWA DAN HAKIM YANG BIJAKSANA
Seorang nenek dituntut jaksa karena telah mencuri singkong. Sang nenek berdalih bahwa hidupnya sangat susah dan miskin, anak lelakinya dalam keadaan sakit, sementara cucunya dalam kelaparan. Namun sang pemilik kebun singkong tetap bersikukuh pada tuntutannya, yang katanya agar menjadi contoh bagi warga yang lain.
Setelah terjadi beberapa kali sidang, sampailah Hakim pada putusan sidang. Sebelum membacakan keputusan sidang, sang Hakim memandang pada nenek tersebut dan berkata: “ Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap dijalankan sesuai dengan ketentuan yang ada. Jadi, anda harus dihukum. Saya putuskan, anda harus membayar denda Rp.1000.000,-  dan jika anda tidak mampu membayarnya maka anda harus masuk penjara selama 2,5 tahun.
Sang nenek tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara sang hakim membuka topi toganya dan membuka dompetnya. Lalu memasukkan uang sebesar Rp.1000.000,-  ke topi toganya, lalu berkata kepada hadirin di ruang sidang itu:
“Saya atas nama pengadilan, menjatuhkan denda kepada diri saya sebesar Rp.1000.000,-  dan kepada anda semua yang hadir di ruang sidang ini, masing-masing sebesar Rp.50.000.-. Anggaplah uang yang anda kumpulkan itu sebagai denda kepada kita yang telah membiarkan warga kita dalam kelaparan sehingga harus mencuri untuk memberi makan cucunya”.
Kemudian sang hakim berkata kepada Panitera.
Saudara Panitera, tolong jalankan topi toga saya ini untuk mengumpul uang dari para hadirin, lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa agar dia bisa menebus keputusan hukum yang ditetapkan kepadanya. Kalau ada sisanya berikanlah untuknya agar dia dan keluarganya tidak mencuri lagi karena kelaparan.
Kemudian setelah mengetuk palu, sang hakim meninggalkan ruangan sidang.
Sang nenek menerima uang dari hasil urunan mereka yang hadir di ruang sidang sebesar Rp.5.000.000.- termasuk uang Rp.50.000.- dari pemilik kebun singkong yang tersipu malu karena sudah menuntut sang nenek yang tidak berdaya.
Akhirnya sang nenek dapat pulang dengan tenang karena akhirnya dia telah memenuhi keputusan hakim dengan membayar uang denda sebesar Rp.1000.000.-.
Saudara:
Dalam hidup bermasyarakat dan bernegara diperlukan ketegasan dalam penegakan hukum, diperlukan pula Hakim yang arif dan bijaksana. Di sisi lain diperlukan orang-orang yang memiliki kepekaan sosial terhadap sesama.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.

Senin, 18 Februari 2013

Anak Usia Tiga Tahun Hafal Alquran



Anak Usia Tiga Tahun Hafal Alquran
Sungguh menakjubkan bocah asal Nigeria yang satu ini. Ia mampu menghafal seluruh isi Alquran di usia tiga tahun delapan bulan. Rukkayatu Fatahu Umar, demikian nama bocah perempuan tersebut.
Dikutip dari Nigerian Tribune, Rukkayatu begitu gembira dengan prestasinya. Ia sangat senang menghafal Alquran bahkan ingin anak-anak di seluruh dunia dapat belajar dan menghafal Kitabullah sepertinya.
"Saya bersyukur kepada Allah," ujar Rukkayatu saat ditanya bagaimana perasaannya dapat menghafal Quran di usia sangat belia.
Rukkayatu mulai menghafal kitab suci di sebuah sekolah Quran milik Yayasan Syekh Dahiru Usman di Barkin Ruwa Askulaye di Kaduna. Syaikh Dahiru Uslam bukan lain merupakan kakek Rukkayatu. Bukan ikut bersekolah, gadis kecil tersebut selalu turut serta sang ibu yang merupakan pengajar di sekolah tersebut.
Di kelas hafalan, ia pun terbiasa mendengarkan bacaan Alquran. Hingga kemudian Rukkayatu ikut membaca ayat-ayat Quran bersama para siswa, bahkan menghafalnya. "Ia terus menghadiri kelas menghafal hingga saat ini ia telah menyelesaikan hafalan seluruh Alquran," ujar sang ibu, Sayyada Maimunatu.
Hafalan Quran bagi Rukkayatu seperti halnya bermain yang sangat menyenangkan. Ia bahkan begitu rajin ke sekolah setiap hari sejak pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 18.00 sore. "Ini bukan berarti seolah-olah ia tak bermain dengan teman-temannya. Ia melakukannya (bermain), terutama dengan mereka yang juga menghafal Al-Qur'an seperti dia. Hal ini memudahkan mereka sebagai perhatian dan fokus pada tujuan yang sama, yakni menghafal Al-Qur'an," kata sang ibu.
Kabar hafalan Rukkayatu pun didengar seluruh penjuru Baauchi. Masyarakat Bauchi pun digemparkan oleh bocah hafizah Quran tersebut. Mereka terus membicarakan Rukkayatu. Kemudian pada Kamis (24/1) lalu, sang hafizah kecil unjuk gigi pada acara wisuda dari sekolah yayasan Syekh Dahiru. Saat itu lah menjadi ujian hafalan Rukkayati untuk kali pertama. 

Sang kakek, Sheikh Dahiru Usman, ingin menunjukkan kebenaran kabar prestasi cucunya. Ia ingin membuktikan bahwa prestasi si kecil Rukkayatu bukanlah sebuah kebetulan melainkan karena ia belajar dengan sungguh-sungguh. Syaikh pun kemudian meminta Rukkayatu berdiri dihadapan sekumpulan orang-orang termasuk beberapa ulama. Mereka menguji hafalan dan kebenaran bacaan Qur'an Rukkayatu. Hasilnya begitu menakjubkan mereka.
Sepertinya menghafal Quran sudah menjadi prestasi keluarga Rukkayatu. Ibunya, Sayyada Maimunatu telah menjadi hafizhah di usia 12 tahun. Ayahnya, Fatahu Umar Pandogari pun merupakan hafiz Qur'an. Didikan sang kakek, yang merupakan ulama terkenal di kawasan Bauchi, Sheikh Dahiru Usman menghasilkan keluarga penghafal AlQuran.
Menanggapi putri kecilnya yang hafal di usia balita, Sayyada Maimunatu menyatakan kegembiraannya. Ia pun bersyukur memiliki ayah seorang ulama yang telah membangun keluarganya mencintai Al-Qur'an. "Jujur, saya tidak bisa mengatakan apa-apa, tapi saya sangat bersyukur kepada Allah atas semua ini. Ini memang berkat darat Allah. Saya sangat bersyukur kepada Allah untuk ini,'' tuturnya.
''Saya juga bersyukur memiliki ayah seperti Syaikh Dahiru Bauchi yang mendidikku di jalan Islam. Semoga Allah memberinya umur panjang sehingga beliau dapat terus mengabdikan diri kepada Allah dan bermanfaat bagi umat Islam dan umat manusia pada umumnya," tuturnya.
Sang ibu pun bertekad akan terus menjaga hafalan putrinya. Usia putrinya masih teralu muda untuk diambil hak bermain. Belum lagi saat memasuki sekolah umum yang mengharuskannya mempelajari banyak hal selain hafalan Alquran. Namun ia terus memberikan pelatihan hafalan pada putrinya. Maimunatu berniat baru akan memasukkan Rukkayatu ke sekolah umum setelah usianya 10 tahun.
Sebelum usia 10 tahun, Rukkayatu akan fokus pada pembelajaran Alquran dan Islam. Namun setelah berdiskusi dengan suaminya, zaman sudah berubah, peradaban semakin berkembang, Rukkayatu akan mengenyam bangku sekolah di usia enam tahun. Meski demikian, pendidikan Islam tak akan luput dari pembelajaran Rukkayatu hingga dewasa.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/02/18/mie366-subhanallah-anak-usia-tiga-tahun-hafal-alquran

Senin, 04 Februari 2013

Kisah Inspiratif

Meraih Mimpi

Di Desa terpencil terdapat satu keluarga yang hidup mereka sangat miskin. Keluarga ini memiliki seorang anak laki-laki yang pintar dan rajin sekolah. Suatu hari saat belajar di Sekolah, murid-murid disuruh guru membuat gambar rumah impiannya. Sangat tidak disangka anak petani miskin tadi membuat gambar rumah yang sangat besar dan mewah, dia yakin gurunya akan memberi nilai A. Namun apa yang terjadi?. Ternyata sang guru hanya memberikan nilai E untuk gambarnya tersebut.
Sang anak memprotes sang guru. Kenapa Bapak memberikan aku nilai E?, padahal gambar yang aku buat jauh lebih bagus dari teman-temanku?.
Sang guru menjawab; Kamu terlalu menghayal! Bagaimana mungkin kamu seorang anak petani miskin dapat memiliki rumah sebesar dan semewah ini? Sangat tidak masuk akal kata sang guru.
Rupanya anak tersebut benar-benar kecewa dengan penilaian gurunya, namun dia tidak putus asa. Kejadian ini membuat dia benar-benar berjuang keras untuk mewujudan mimpinya. Dia bertambah rajin sekolah untuk mengejar impiannya menjadi orang sukses, punya rumah yang besar dan mewah. Akhirnya dia mampu menyelesaikan pendidikannya sampai ke jenjang S2, dan menjadi pengusah yang sukses.
Setelah mencapai sukses, dia membangun rumah yang besar dan mewah di kampung halamannya sesuai dengan gambar yang dulu dia buat saat masih SD.
Setelah rumah selesai dibangun, ia mengundang teman-temannya dan masyarakat sekitar rumahnya, termasuk guru yang dulu memberi nilai gambarnya dengan nilai E.
Sang guru tertegun saat melihat sebuah gambar rumah yang sudah usang dipajang di dinding rumah dengan nilai E.
Saat sang guru tertegun melihat gambar tersebut, sang anak yang sudah sukses tadi menegur sang guru; itulah gambar yang dulu saya buat dan Bapak beri nilai E dengan alasan tidak mungkin saya dapat meraihnya. Hari ini dengan izin Allah saya dapat membuatnya dan mencapai mimpi saya untuk memiliki rumah besar dan mewah.
Sang guru merasa malu dan langsung pamitan untuk pulang sebab merasa salah tingkah dihadapan sang anak yang dulu dia rendahkan cita-citanya.
Saudaraku..............! Ada hikmah yang dapat kita ambil dari cerita di atas, antara lain:
  1. Jangan pernah berkecil hati kalau orang menertawakan dan merendahkan kita, tapi jadikan itu sebagai motovasi untuk meraih sukses di hari yang akan datang.
  2. Jangan takut mengejar mimpi sepanjang yang diimpikan itu sesuatu yang mungkin untuk di raih.
  3.  Jangan pernah meremehkan orang lain dengan keinginan dan cita-citanya, sebab kita tidak tahu nasibnya di masa yang akan datang.
  4.  Ingatlah ada ungkapan  مَنْ جَدَّ وَجَدَ Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan sukses”.

Senin, 28 Januari 2013

Berbenah Menghadapi MTQ

MTQ DAN PENOMENANYA

Musabaqah Tilawatil Qur’an di Indonesia sudah merupakan tugas Nasional untuk dilaksanakan. Untuk tingkat Nasional dan tingkat Propinsi Sumatera Utara secara rutin dilaksanakan dua tahun sekali. Untuk tingkat Kabupaten/Kota (khususnya Kota Medan) dilaksanan setiap tahun.
Pelaksanaan MTQ tahun 2013 untuk tingkat Kota Medan direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Maret 2013. Karenanya, masing-masing Kecamatan sudah berbenah diri untuk melaksanakan MTQ ditingkat Kecamatan masing-masing.

Penomena yang selalu muncul setiap kali akan dilaksanakan MTQ diantaranya adalah masalah minimnya calon peserta yang akan di rekrut. Selalu dirasakan kurangnya peserta yang dapat dihandalkan untuk dijadikan utusan mewakili Kecamatan atau Daerah terkait. Salah satu sebabnya adalah dikarenakan kurangnya pembinaan di masing-masing Kecamatan atau Daerah.

Untuk Daerah Medan misalnya hanya ada beberapa Majelis Pembinaan Tilawah Al-Qur’an yang secara rutin melakukan pembinaan, seperti WASIQOH (Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah Sumatera Utara), BAPQAH SIKA dan beberapa Majlis Pembinaan Tilawah Al-Qur’an lainnya.

Disisi lain, penyebabnya adalah kurangnya perhatian dari pihak pemerintahan terkait terhadap pembinaan Tilawah Al-Qur’an ini.  Dan yang sangat disayangkan, banyak Qori’Qori’ah yang tidak memiliki kader atau murid sebagai penerus untuk mengembangkan ilmu-ilmu Al-Qur’an khususnya dalam bidang Tilawah. Andaikan masing-masing Qori-Qori’ah memiliki 5 orang murid saja setiap tahunnya (Khususnya dibidang Tilawah) tentu tidak sulit mencari peserta setiap kali MTQ akan dilaksanakan. Demikian pula mereka-mereka yang memiliki spesipikasi keilmuan pada cabang yang lain, sejatinya memiliki murid-murid yang dapat menjadi penerus dalam keilmuan tersebut.

Melalui tulisan ini Penulis mengajak kepada Qori’-Qori’ah dan rekan-rekan lain yang aktiv melaksanaan pembinaan sesuai dengan keilmuannya masing-masing agar tetap melakukan pembinaan dan menargetkan minimal 5 orang murid dalam setahun seperti ungkapan di atas.

Namun perlu disadari bahwa pembinaan yang dilakukan hendaknya tidak hanya sekedar beroreantasi kepada meraih keberhasilan dalam MTQ, tapi hendaknya beroreantasi kepada pengembangan ilmu-ilmu Al-Qur’an itu sendiri, sehingga Al-Qur’an benar-benar melekat dihati ummat. Andaipun ada diantara murid-murid kita yang berhasil dalam MTQ, hal itu hendaknya dipandang sebagai berkah yang diberikan Allah karena sudah mempelajari kitabNya, apalagi mengamalkannya. Dan kita sebagai tenaga didik semoga menjadi amal jariyah bagi kita di sisi Allah.

Untuk itu, Penulis sangat meng-apresiasi sepenuhnya terhadap sudara-saudaraku yang tak kenal lelah dalam membina Qori’-Qori’ah di Sumatera Utara, diantaranya:
  1. Ustadz H. Lagut Sutan Pulungan (Mak Lagut) yang aktiv melakukan pembinaan di Majlis BAPQAH SIKA yang beliau sendiri sebagai pendirinya. 
  2. Pengurus WASIQOH (Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah Sumatera Utara), saat ini ketuanya adalah Al-Ustadz Muhammad Yusriza S.Pd.I, dan Penulis sendiri sebagai pendiri dan pembinanya. 
  3. Ustadz H. Mahyudin S.Pd. yang mendirikan POPTIQ (Pondok Pembinaan Tilawatil Qur’an) dan POPTIQ ini berada dalam naungan WASIQOH. 
  4. Ustadz Muhammad Ridwan At-Tauris S.Pd.I yang melakukan pembinaan di Majelis Tilawah Al-Qur’an Al-Fikri. Dan majelis Al-Fikri ini juga berada dalam naungan WASIQOH. 
  5. Ustadz H. Irham Taufik S.Ag bersama Ustadz Suharso, yang melakukan pembinaan dalam wadah Lembaga Pendidikan Ilmu Al-Qur’an (LPIQ). 
  6. Ustadz Ahmad Muhajir yang melakukan pembinaan di Al-Muhajirin. 
  7. Ustadz Sarifuddin TL, yang melakukan pembinaan di wadah BITIQ SOMAN. 
  8. Ustadz H. Tuah Sirait S.Ag, yang aktif mengajar Al-Qur’an di TVRI Medan. 
  9. Rekan-rekan lain yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu.
Semoga kita menjadi mulia disisi Allah dengan berkah belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Rasul bersabda:
خـَيْـرُ كـُمْ مَـنْ تـَعَـلـَّمَ ا لـْـقـُرْ آ نَ وَعَـلـَّـمَــهُ ﴿  رَوَاهُ الـْـبُــخـَـارِي  ﴾
“Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya ”. (Hadits Riwayat Al-Bukhori).