Kamis, 15 Agustus 2013

Melestarikan Nilai-Nilai IbadahRamadhan

Melestarikan Nilai-Nilai IbadahRamadhan
Ramadhan sudah semakin jauh meninggalkan kita, setelah Ramadhan berakhir bukan berarti berakhir suasana ketaqwaan kita kepada Allah, justeru tugas kita adalah membuktikan apakah ibadah Ramadhan berhasil menempa kita menjadi manusia yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya atau tidak. Pembuktian itu dapat terlihat dari prilaku hidup seseorang setelah Ramadhan, disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan.
Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak sampai Ramadhan tahun yang akan datang.
Pertama: Menjaga diri dari perbuatan dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan diharapkan dapat memperoleh ampunan Allah, semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita harus menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan dosa. Ibarat pakaian yang sudah di dibersihkan hendaknya jangan lagi dikotori. Demikian juga diri kita yang sudah mendapat ampunan Allah, jangan lagi tercebur ke dalam perbuatan dosa agar kesucian itu dapat dipertahankan.
Secara harfiyah, Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa kita ibaratkan seperti pohon, maka apabila pohon itu sudah dibakar, tentu pohon tersebut tidak mudah tumbuh kembali, bahkan bisa jadi mati. Demikian pula dengan dosa-dosa kita, manakala sudah dibakar dengan ibadah Ramadhan seyogianya kita tidak melakukannya lagi. Dengan demikian, jangan sampai perbuatan dosa yang kita hindarkan melakukannya pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan, kemudian setelah Ramadhan  dilakukan kembali. Kalau demikian adanya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi cabang-cabang yang lain. Sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi dihadapan Allah swt, sebagaimana firman-Nya:
ِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka bisa masuk ke dalam syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS Al A’ra]:40).
Kedua: Berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Selama puasa Ramadhan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu, sebab kita tidak ingin ibadah puasa yang dilakukan menjadi sia-sia. Ramadhan dapat juga diartikan mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dapat membelah atau membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi.
Kehati-hatian dalam hidup ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam melakukannya, Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al Isra :36)
Ketiga: Melestarikan sikap jujur. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan manusia cenderung menjaga sikap jujur, karena ia takut puasanya menjadi tidak bermilai dihadapan Allah, karena itu orang yang berpuasa selalu menjaga nilai-nilai kejujuran ini. Dia  jujur dalam berperilku dan berucap. Sikap jujur ini perlu dilestarikan selepas Ramadhan, sebab dengan kejujuran yang dimiliki oleh seseorang dapat menciptakan tatanan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu, setelah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang lain, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya. Bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan ke depan, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan yang kita lakukan berarti menemukan kegagalan, meskipun secara hukum, ibadah puasanya tetap sah.
Ke-empat: Melestarikan semangat berjama’ah. Selama pelaksanaan ibadah yang kita lakukan pada bulan Ramadhan semangat berjama’ah begitu nampak terlihat. Hal ini dapat dibuktikan ramainya masjid-masjid atau tempat-tempat ibadah lainnya dipenuhi oleh ummat Islam untuk melaksanakan ibadah secara berjama’ah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnat, sehingga kebersamaan sepanjang bulan Ramadhan benar-benar dapat dirasakan. Kondisi seperti ini perlu dilestarikan selepas Ramadhan agar ummat Islam menjadi kokoh dalam persatuan.
Disamping itu, ibadah Ramadhan yang membuat kita dapat merasakan lapar dan haus, telah memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki solidaritas sosial kepada mereka yang menderita dan mengalami berbagai macam kesulitan, itupun sudah kita tunjukkan dengan zakat yang kita tunaikan. Karena itu, semangat berjamaah kita sesudah Ramadhan semestinya menjadi lebih baik lagi, apalagi kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap memerlukan  pihak lain. Itu pula sebabnya, dalam konteks perjuangan Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjamaah, yang saling kuat menguatkan antara satu dengan yang lain, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh (QS Ash Shaf :4)
Ke-lima:Melestarikan pengendalian diri.  Puasa Ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang bukan pokok. Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang penting, bila tidak,  kehidupan ini akan berjalan seperti tanpa aturan, tidak ada lagi halal dan haram, tidak ada lagi haq dan bathil, bahkan tidak ada lagi yang pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak sopan. Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal oleh Allah. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ
لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya  untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang  ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al A’raf :179).

Dengan demikian, perlu kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan hanya pada bulan Ramadhan semata, tapi penting untuk disadari adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu melestarikan nilai-nilai kebaikan yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 07 Agustus 2013

Idul Fitri 1434 H


KELUARGA BESAR WASIQOH-SU 

( Wadah Silaturrahmi Qori' - Qori'ah Sumatera Utara ) 

Mengucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H.

MOHON MA'AF LAHIR & BATIN

Kamis, 25 Juli 2013

Hikmah Ramadhan 1434 H. di hari ke 16:

Meningkatkan Tradisi Membca
Melalui Semangat Peringatan Nuzul Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan pertama sekali Al Qur’an diturunkan. Diantara fungsinya adalah untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar kehidupan manusia tertata dengan baik sesuai dengan kehendak Allah yang maha pencipta. Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan Allah, karena itu wajarlah kalau isi dan kandungannya lebih lengkap dari kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelum Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan kitab yang berisikan tatanan untuk kehidupan manusia yang isi dan kandungannya menyentuh segala sendi-sendi kehidupan manusia, baik kehidupan secara individu maupun kehidupan kolektif dalam berbangsa dan bernegara.

Perlu disadari, kendatipun Al-Qur’an banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, atau sekalipun Al-Qur’an selalu menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya akan tetapi Al-Qur’an tidak dapat kita sebut sebagai kitab astronomi. Atau sekalipun Al-Qur’an sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya, tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab pengetahuan Alam atau fisika. Tetapi Al-Qur’an adalah sebagai kitab Hidayah atau petunjuk bagi seluruh alam.

Jadi, walaupun terdapat cerita atau gambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain, hal tersebut hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan, yaitu Hidayah Allah swt. Karena itu, untuk samapai kepada tujuan agar kita mendapat hidayah dari Al-Qur’an tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita terapkan dalam kehidupan kita.

Pertama: Membaca dan mempelajari Al-Qur’an secara seksama. Dalam hal membaca ini, tentu kita mendapat pesan dari wahyu pertama dalam surat Al-‘Alaq, yang memerintahkan kepada kita untuk  membaca.

Kedua: Berupaya untuk memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Sebab, dengan membaca saja tidak cukup untuk dapat mengetahui rahasia kandungan dan maksud yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an tersebut. Karena itu, harus sampai kepada memahami isi dan kandungannya.

Ketiga: Mengajarkannya kepada orang lain, agar orang lain pun dapat membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori Rasul bersabda:
خـَيْـرُ كـُمْ مَـنْ تـَعَـلـَّمَ ا لـْـقـُرْ آ نَ وَعَـلـَّـمَــهُ ﴿  رَوَاهُ الـْـبُــخـَـارِي  ﴾
Artinya: “Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya ”.

Keempat: Mengamalkan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pada tahap pengamalan inilah yang selalu dirasakan berat oleh sebagian orang. Pengetahuan yang didapat tentu tidak akan berguna jika tidak dibarengi dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menerapkan keempat hal tersebut, barulah Al-Qur’an akan dapat dirasakan manfaatnya. Sebab, Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk/hidayah. Apalagi jika kita kaitkan dengan kebutuhan hidup saat ini, dimana setiap orang dengan segala kemajuan dan kecanggihan yang dicapai oleh manusia, justru malah banyak yang mencari sistem nilai yang mereka anggap absolut.

Sebagai ummat Islam tentu kita tidak perlu lagi meragukan apalagi mencari sistem nilai selain Al-Qur’an. Perlu dicatat, bahwa kemunduran ummat Islam bukan terletak pada inti ajaran Al-Qur’an atau disebabkan ummat Islam setia pada ajaran Al-Qur’an, sehingga alam pikir dan daya kreatifitas mereka terhambat oleh Al-Qur’an, akan tetapi justru kemunduran ummat Islam dikarenakan faktor budaya, sebab ummat Islam sedikit demi sedikit telah menjauhkan diri dari Al-Qur’an.

Sangat ironis memang, di saat ajaran Al-Qur’an menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca, namun kenyataannya negara dan ummat yang terbesar buta hurufnya justru adalah negara-negara yang banyak ummat Islamnya. Dapat kita lihat pula, terkait dengan minat baca umat Islam Indonesia, dan orang Indonesia secara umum sangatlah lemah minat membacanya. Namun sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, adalah ironis kalau muslim Indonesia belum mampu menerjemahkan wahyu pertama dalam kehidupan sehari-hari. Sementara di belahan bumi lain kondisinya lebih baik, dan tradisi keilmuan yang memang telah mengakar terus lestari hingga kini.

Untuk itu, tradisi tulis-baca serta mengembangkan keilmuan perlu dikembangkan. Dibutuhkan kerja keras untuk mencapai hal tersebut. Memperingati Nuzul Qur’an bisa menjadi jawaban untuk itu. Dengan merujuk kepada Al-Qur’an adalah merupakan ungkapan yang tepat untuk mengatakan bahwa menjadi seorang muslim yang baik adalah menjadi pembaca yang baik.

Semoga momentum Nuzul Al-Qur’an dapat dijadikan pijakan awal transformasi budaya untuk menciptakan masyarakat yang gemar membaca.
Semoga…………………………!

Ya Allah, tunjukilah kami dengan hidayah Qur’anMu, gerakkanlah hati kami untuk bersungguh-sungguh mempelajarinya, berilah kami kekuatan untuk dapat mengamalkan kandungannya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai syafa’at bagi kami di akhirat kelak. Dan jadikanlah bacaan Al-Qur’an yang kami baca menjadi penghantar bagi kami untuk menuju surgaMu. Ya Allah Tuhan yang maha lembut lagi maha penyayang.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 24 Juli 2013

Ramadhan 1434 H


Meraih Piala Keagungan Ramadhan
Tahapan kedua dari perjalanan Ramadhan sedang kita lalui. Ibarat kompetisi dalam olah raga, saat ini kita sudah masuk babak semi final. Tentu saingan akan bertambah hebat dan bertambah berat, sebab semua menginginkan kemenangan.
Hari ini hari ke limabelas kita melaksanakan puasa Ramadhan, detik-detik kemenangan dalam merebut piala keagungan Ramadhan semakin terbuka. Kalau hari-hari pertama suasana jama’ah di Masjid penuh dan sesak, saat ini Masjid sudah mulai terasa lengang dan lapang. Sebab, satu persatu berguguran kalah di babak penyisihan.
Kalau di awal Ramadhan jama’ah saling berdesakan masuk ke Masjid, hari ini suasana itu tidak terlihat lagi. Berdesakan jama’ah sudah berpindah ke pusat-pusat perbelanjaan terutama ketika akan membayar barang-barang belanjaan.
Banyak manusia yang terpanggil kepada seruan beli 1 dapat dua, tapi tidak terpanggil kepada seruaan Allah dan Rasulnya baca satu huruf Al-Qur’an dapat sepuluh kebaikan. Panggilan mana yang paling hebat dan banyak bonusnya?
Anehnya………….! Banyak  yang menangis ketika membaca novel ayat-ayat cinta. Tetapi berapa banyakkah di kalangan ummat ini yang menangis ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an?
Mari kita raih Piala Keagungan Ramadhan yang akan mengangkat martabat kita di hadapan Allah. Sebab Ramadhan memberikan peluang bagi kita untuk menghapus dosa dan menambah pundi-pundi pahala. Seharusnya itu menjadi Deklamasi kita setiap berada di bulan Ramadhan.
Saudaraku se-Iman dan se-‘Aqidah…………….! Khususnya Qori’ dan Qori’ah. Sudah berapa juz-kah Al-Qur’an yang anda baca sampai hari yang ke 15 Ramadhan tahun ini?
Tentu Anda memiliki jawabannya…………….!
Semoga Piala keagungan Ramadhan dapat kita raih melalui ibadah puasa Ramadhan dengan segenap rangkaian ibadah-ibadah lain yang kita lakukan di dalamnya.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Kamis, 18 Juli 2013

Jangan Kehilangan Momentum Ramadhan

Hati orang yang beriman tentu bahagia karena tahun ini masih diberi Allah kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan dan dapat menjalankan ibadah di dalamnya. Orang yang memiliki iman tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebab....!, kita tidak mengetahui apakah Ramadhan tahun ini  merupakan Ramadhan terakhir bagi kita.
Arti Ramadhan adalah panas yang membakar, dalam hal ini bisa diartikan; Melalui ibadah yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan ini dapat membakar kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Tujuannya agar kita bisa memulai hidup seperti terlahir kembali (fitrah). Tiada pinta dan harapan yang paling utama dari seorang muslim selain pengampunan atas dosa dan kesalahannya, dan Ramadhan merupakan kesempatan untuk mendapatkannya. 
Bila diibaratkan komputer, Ramadhan seperti melakukan RESET agar kembali ke default semula.
Ramadhan bulan penuh barokah dan manfaat. Siapa saja yang hatinya tidak buta, ia akan menemui banyak kebaikan. Output yang didapatkannya adalah taqwa atau puncak kesempurnaan manusia di hadapan Allah.
Untuk itu marilah kita memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan cara memperkuat rasa takut kepada Allah, belajar agar tidak melakukan apapun kecuali atas perintah Al-Qur’an dan Hadits, jadilah orang yang puas dengan pemberian Allah walau sedikit, persiapkan bekal untuk menuju kematian dan perbaharui niat murni dan tulus karena Allah SWT.
Semoga kita kembali kepada Fithrah.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Sabtu, 06 Juli 2013

Menyambut Bulan Ramadhan


SELAMAT DATANG BULAN RAMADHAN
( Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti )

Tanpa terasa sudah satu tahun berlalu dari bulan Ramadhan yang lalu, kini bulan Ramadhan akan hadir kembali dan kehadirannya selalu ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang beriman kepada Allah SWT. karena bulan Ramadhan mempunyai makna yang istimewa bagi orang-orang yang beriman. Hal ini disebabkan bulan Ramadhan dijadikan Allah memiliki keistimewaan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
Berkenaan akan datangnya bulan Ramadhan, sejatinya setiap muslim mempersiapkan diri untuk masuk kedalam bulan yang mulia tersebut, dan setiap pribadi muslim seharusnya menyikapinya dengan beberapa hal :
Pertama : Menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan hati yang gembira. Gembira yang dimaksud adalah bahwa kita menunjukkan rasa syukur kepada Allah karena umur yang masih tersisa ini insya Allah masih sampai kepada bulan Ramadhan tahun ini, sebab tidak semua orang punya kesempatan untuk sampai kepada bulan Ramadhan tahun ini, karena banyak diantara saudara-saudara kita pada tahun yang lalu masih bersama kita melaksanakan ibadah dibulan yang mulia ini, namun pada tahun ini mereka tidak lagi bersama kita  karena telah dipanggil pulang oleh Allah SWT. Sebab itulah, kita yang masih hidup ini pantas bersyukur kapada Allah, karena insya Allah kita masih diberikan Allah kesempatan untuk bertemu kembali kepada bulan Ramadhan tahun ini.
Sikap gembira dalam menyambut bulan Ramadhan yang diwujudkan dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah tersebut, diharapkan dapat memberikan motipasi untuk meningkatkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Mungkin orang yang seperti inilah yang digolongkan oleh Rasul dalam sabdanya, artinya : “ Barang siapa yang  gembira dengan datangnya bulan Ramadhan Allah haramkan tubuhnya masuk kedalam Neraka
Kedua: Menanamkan tekad dihati untuk mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan ibadah dengan sebanyak-banyaknya, sehingga bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini tidak berlalu dengan dia-sia.
Kekhususan yang ada pada bulan Ramadhan antara lain adanya kewajiban melaksanakan puasa pada siang hari selama satu bulan, di sisi lain adanya anjuran untuk meningkatkan amal ibadah dan mengisi malam-malam bulan Ramadhan tersebut dengan berbagai amal ibadah, dan setiap amal ibadah yang dilakukan pada bulan ini pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Kewajiban melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan tersebut didasari dengan firman Allah yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat : 183:
يـَا اَيـُّهـَا الَّـذِيْـنَ امَـنُـوْا كـُـتِـبَ عَـلـَيْـكـُمُ الصِّـيَـامُ كـَمَـا كـُتِـبَ عَـلىَ الـَّـذِيْـنَ مِـنْ قـَـبْـلِـكـُمْ لـَعَـلـَّـكـُمْ تـَـتـَّـقـُـوْنَ.
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ .
Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan puasa beserta segenap rangkaian ibadah yang ada di dalamnya adalah mencapai predikat takwa dan ampunan Allah. Kabar yang menggembirakan bagi orang-orang yang beriman adalah hadits nabi Muhammad saw :
مـَنْ صـَامَ رَمَـضَـانَ اِيْـمَـانًا وَاحْـتِـسَـابًا غُـفِـرَ لـَهُ مَـا تـَقـَدَّمَ مِـنْ ذَنـْبـِهِ
Artinya : “ Siapa yang puasa pada bulan Ramadhan dengan dasar iman dan ikhlas, akan diampunkan Allah dosa-dosanya yang telah lalu” .
Puasa yang disyari’atkan Allah, disamping merupakan kewajiban bagi ummat Islam, disisi lain puasa tersebut mendatangkan hikmah bagi kehidupan manisia, baik secara individu maupun secara kolektif dalam kehidupan masyarakat. Hikmah-hikmah yang ada dalam pelaksanaan ibadah puasa tersebut bila disederhanakan ada dua dimensi, yaitu dimensi Spritual dan dimensi Sosial.
Dimensi Spritual maksudnya adalah; Bahwa seseorang yang melakukan ibadah puasa akan selalu merasakan betapa dia selalu merasakan dirinya semakin dekat dengan Allah. Apabila seseorang selalu merasakan dirinya dekat dengan Allah berarti dia memiliki daya control yang baik untuk mengatasi segala godaan dalam kehidupannya, akhirnya melalui penghayatan pelaksanaan ibadah puasa akan tercipta pribadi-pribadi yang mulia yang memiliki sifat jujur, disiplin dan sifat terpuji lainnya.
Dimensi sosial maksudnya adalah; Bahwa dengan hikmah pelaksanaan  ibadah puasa, seseorang akan dapat merasakan betapa tidak enaknya haus dan lapar yang bagi orang berharta hanya dia rasakan selama satu bulan, tidak demikian halnya bagi fakir-miskin yang hidupnya selalu dalam kekurangan, terkadang makan dan terkadang tidak.
Maka, melalui hikmah puasa yang dilaksanakan, diharapkan akan timbul sikap solodaritas sosial untuk saling membantu antar sesama, akhirnya akan tercipta rasa kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Bila demikian halnya dapat diambil kesimpulan bagaimanapun terjadinya kesenjangan sosial  di masyarakat, kecemburuan sosial tidak akan terjadi, karena masyarakat sudah terbentuk dengan pola kehidupan untuk saling membantu dan bekerjasama.
Ketiga: Cara ketiga menyikapi datangnya bulan Ramadhan adalah, bahwa setiap pribadi muslim harus memiliki target yang akan dicapai pada saat keluar dari bulan Ramadhan. Target tersebut adalah, dia harus mencapai predikat taqwa di sisi Allah SWT.
Apabila seorang mukmin memiliki target seperti itu maka bulan Ramadhan yang datangnya hanya setahun sekali tidak akan dia sia-siakan., karena Ramadhan adalah masa untuk melebur dosa-dosa yang telah lalu.
Ungkapan kata berikut ini agaknya merupakan kesimpulan dari pokok bahasan ini :
Muslim yang berbahagia adalah seorang muslim yang apabila datang bulan Ramadhan, saat keluar dari bulan Ramadhan dosa-dosanya sudah diampunkan Allah. Muslim yang malang adalah seorang  muslim yang apabila datang bulan Ramadhan, keluar dia dari bulan Ramadhan namun dosa-dosanya belum diampunkan Allah”.
Semoga kita tergolong dalam kelompok orang-orang yang mendapat ampunan dari Allah Swt. Amiiin.
Selamat memasuki bulan suci Ramadhan tahun 1434 H, semoga hati kita tergerak selalu untuk melakukan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan ini.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
***