Sabtu, 17 Agustus 2013

Meraih Ampunan Allah Mencapai SurgaNya

Indikasi Orang Yang Bertakwa
( Upaya menata kehidupan Pasca Ramadhan 1434 H )

Firman Allah dalam Surat Ali Imron:133-136.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾ أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ﴿١٣٦﴾
Artinya: “ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. 
Ayat di atas adalah firman Allah yang menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa. Pada ayat pertama dari bahagian ayat diatas, Allah SWT memerintahkan terhadap orang-orang yang beriman untuk bersegera meraih ampunan dan surga yang sangat luas yang disediakan Allah untuk orang-orang yang bertakwa. Kemudian pada ayat-ayat selanjutnya Allah SWT menjelaskan beberapa perilaku orang-orang yang bertakwa tersebut. 
Pertama: Berinfak pada saat lapang maupun sempit.
Dalam situasi apapun, baik pada saat berkecukupan maupun dalam keadaan kekurangan orang-orang yang beriman sejatinya selalu berupaya untuk dapat membantu orang lain sesuai dengan kemampuan yang ada, kendatipun mereka sedang kesulitan. Hal yang demikian dinyatakan Allah merupan ciri dari orang yang berakwa.
Rasulullah memerintahkan kepada ummatnya agar menjauhkan diri dari api neraka walaupun hanya bersedekah dengan sebutir kurma. Demikian makna hadits Nabi SAW. 
Allah memulai gambaran orang yang bertakwa dengan infaq karena dua hal: Pertama; infaq adalah kebalikan dari riba yang dilarang oleh Allah melalui ayat sebelumnya (Qs. Ali Imran 130). Riba adalah pemerasan yang dilakukan oleh orang kaya terhadap orang yang membutuhkan pertolongan dengan memakan hartanya dari bayaran hutang yang berlipat ganda. Sedangkan infaq adalah bentuk bantuan kepada orang yang membutuhkan tanpa berharap adanya imbalan. Kedua: Infaq adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan karena kecintaan manusia terhadap harta. Oleh karena itu, siapa saja yang sanggup menginfakkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, tentu perilaku seperti itu mengindikasikan bahwa orang tersebut menunjukkan sikap patuh terhadap Allah SWT, karena ketundukkan hati merupakan sebuah ketakwaan.
Berinfak pada waktu lapang memiliki hikmah untuk menghilangkan rasa sombong, rakus, aniaya dan cinta yang berlebihan terhadap harta. Sedangkan berinfak pada saat sulit memiliki hikmah untuk merobah sifat manusia yang punya kecenderungan lebih suka diberi daripada memberi. Terkadang sikap untuk suka memberi ini tidak muncul dihati ummat, karena itu Agama Islam menumbuhkan kesadaran untuk berinfak ini, bahkan Allah mengindikasikan orang yang mau berinfak sebagai orang-orang yang takwa, terlebih bagi mereka yang berinfak walau dalam keadaan sulit. 
Kedua: Mengendalikan Emosi.
Orang yang bertakwa adalah orang yang bisa menahan marah walaupun sebenarnya dia mampu melakukannya. Kalimat “ الْكَاظِمِينَ “ yang terdapat pada ayat di atas bermakna penuh dan tertutup dengan rapat, seperti ember yang penuh berisi air lalu ditutup dengan rapat agar tidak tumpah. Demikin pula dengan rasa marah, sakit hati, atau keinginan untuk menuntut balas yang ada di hati, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. Perilaku seperti ini adalah ciri dari orang yang bertakwa. 
Ketiga: Mau Memaafkan.
Memaafkan berarti menghapus kesalahan orang lain. Seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka di hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah sikap mema’afkan ini dianggap perilaku orang yang bertakwa.
Allah memerintahkan kepada manusia agar mau memberi ma’af, seperti firman Allah yang tercantum pada surat Al-A’raf: 199:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Artinya: “Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh“. 
Keempat: Berbuat Ihsan.
وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan

Berbuat ihsan maksudnya melakukan segala nilai-nilai kebaikan yang mendatangkan keridhaan Allah. Berbuat ihsan adalah perilaku takwa yang lebih tinggi dari tiga perilaku sebelumnya. Allah sangat mencintai orang yang berbuat ihsan dengan berbagai cara yang mungkin dapat dilakukan orang tersebut.
Ada kisah menarik dari contoh orang yang berbuat ihsan ini.
Dikisahkan ada seorang budak melakukan suatu pelanggaran yang membuat tuannya sangat marah. Budak itu berkata kepada tuannya: Tuan, Allah SWT berfirman “وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ ”. ( Allah menyatakan orang yang bertakwa itu adalah orang yang mampu menahan marahnya ), maka tuannya menjawab: Aku telah menahan marahku.
Budak itu berkata lagi, Allah telah berfirman وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ, (Orang yang bertakwa juga adalah orang yang mau mema’afkan orang). Lalu tuannya menjawab; Kamu telah kumaafkan.
Budak itupun melanjutkan lagi, bahwa Allah telah berfirman وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ, (Allah mencintai orang-orang berbuat baik ) tuannya menjawab: Pergilah kamu! Engkau merdeka karena Allah. Demikian gambaran orang yang berbuat baik. 
Kelima: Menyadari kesalahan lalu beristighfar.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka”.
Perilaku ini menggambarkan bagaimana orang yang bertakwa menghadapi dirinya sendiri, yaitu, bila melakukan perbuatan dosa baik sengaja atau tidak, seperti, membunuh, memakan riba, korupsi, berzina, atau menganiaya diri sendiri seperti minum khamar, membuka aurat, tidak shalat, tidak berpuasa, dan sebagainya, mereka langsung ingat Allah, sehingga merasa malu dan takut kepadaNya. Lalu ia cepat menyesali semua perbuatannya dan memohon ampun dan bertekad tidak akan mengulangi lagi kesalahan itu, maka hal yang demikian adalah sikap hidup orang yang bertakwa.
Ayat di atas dapat juga dipahami bahwa hanya Allah lah tempat memohon ampunan, karena hanya Allah juga yang mampu memberi ampunan. Disisi lain ayat ini juga menunjukkan batapa Maha Pemaaf dan Pengampunnya Allah.
Orang-orang yang memenuhi lima kriteria diatas, Allah menjanjikan balasan berupa ampunan, selamat dari siksaan, mendapat pahala yang besar, dan memperoleh surga yang sangat luas dan menyenangkan. Itu semua adalah sebaik-baik balasan dan imbalan Allah terhadap amal yang telah mereka lakukan.
Semoga pasca Ramadhan tahun 1434 H ini kita sebagai pribadi-pribadi muslim dapat mengamalkan lima kreteria yang termuat dalam firman Allah di atas. Isya Allah kita mendapat ampunan Allah dan masuk ke dalam syurgaNya.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Kamis, 15 Agustus 2013

Melestarikan Nilai-Nilai IbadahRamadhan

Melestarikan Nilai-Nilai IbadahRamadhan
Ramadhan sudah semakin jauh meninggalkan kita, setelah Ramadhan berakhir bukan berarti berakhir suasana ketaqwaan kita kepada Allah, justeru tugas kita adalah membuktikan apakah ibadah Ramadhan berhasil menempa kita menjadi manusia yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya atau tidak. Pembuktian itu dapat terlihat dari prilaku hidup seseorang setelah Ramadhan, disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan.
Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak sampai Ramadhan tahun yang akan datang.
Pertama: Menjaga diri dari perbuatan dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan diharapkan dapat memperoleh ampunan Allah, semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita harus menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan dosa. Ibarat pakaian yang sudah di dibersihkan hendaknya jangan lagi dikotori. Demikian juga diri kita yang sudah mendapat ampunan Allah, jangan lagi tercebur ke dalam perbuatan dosa agar kesucian itu dapat dipertahankan.
Secara harfiyah, Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa kita ibaratkan seperti pohon, maka apabila pohon itu sudah dibakar, tentu pohon tersebut tidak mudah tumbuh kembali, bahkan bisa jadi mati. Demikian pula dengan dosa-dosa kita, manakala sudah dibakar dengan ibadah Ramadhan seyogianya kita tidak melakukannya lagi. Dengan demikian, jangan sampai perbuatan dosa yang kita hindarkan melakukannya pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan, kemudian setelah Ramadhan  dilakukan kembali. Kalau demikian adanya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi cabang-cabang yang lain. Sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi dihadapan Allah swt, sebagaimana firman-Nya:
ِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka bisa masuk ke dalam syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS Al A’ra]:40).
Kedua: Berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Selama puasa Ramadhan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu, sebab kita tidak ingin ibadah puasa yang dilakukan menjadi sia-sia. Ramadhan dapat juga diartikan mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dapat membelah atau membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi.
Kehati-hatian dalam hidup ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam melakukannya, Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al Isra :36)
Ketiga: Melestarikan sikap jujur. Ketika berpuasa di bulan Ramadhan manusia cenderung menjaga sikap jujur, karena ia takut puasanya menjadi tidak bermilai dihadapan Allah, karena itu orang yang berpuasa selalu menjaga nilai-nilai kejujuran ini. Dia  jujur dalam berperilku dan berucap. Sikap jujur ini perlu dilestarikan selepas Ramadhan, sebab dengan kejujuran yang dimiliki oleh seseorang dapat menciptakan tatanan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu, setelah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang lain, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya. Bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan ke depan, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan yang kita lakukan berarti menemukan kegagalan, meskipun secara hukum, ibadah puasanya tetap sah.
Ke-empat: Melestarikan semangat berjama’ah. Selama pelaksanaan ibadah yang kita lakukan pada bulan Ramadhan semangat berjama’ah begitu nampak terlihat. Hal ini dapat dibuktikan ramainya masjid-masjid atau tempat-tempat ibadah lainnya dipenuhi oleh ummat Islam untuk melaksanakan ibadah secara berjama’ah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnat, sehingga kebersamaan sepanjang bulan Ramadhan benar-benar dapat dirasakan. Kondisi seperti ini perlu dilestarikan selepas Ramadhan agar ummat Islam menjadi kokoh dalam persatuan.
Disamping itu, ibadah Ramadhan yang membuat kita dapat merasakan lapar dan haus, telah memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki solidaritas sosial kepada mereka yang menderita dan mengalami berbagai macam kesulitan, itupun sudah kita tunjukkan dengan zakat yang kita tunaikan. Karena itu, semangat berjamaah kita sesudah Ramadhan semestinya menjadi lebih baik lagi, apalagi kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap memerlukan  pihak lain. Itu pula sebabnya, dalam konteks perjuangan Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjamaah, yang saling kuat menguatkan antara satu dengan yang lain, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh (QS Ash Shaf :4)
Ke-lima:Melestarikan pengendalian diri.  Puasa Ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang bukan pokok. Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang penting, bila tidak,  kehidupan ini akan berjalan seperti tanpa aturan, tidak ada lagi halal dan haram, tidak ada lagi haq dan bathil, bahkan tidak ada lagi yang pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak sopan. Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal oleh Allah. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ
لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya  untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang  ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al A’raf :179).

Dengan demikian, perlu kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan hanya pada bulan Ramadhan semata, tapi penting untuk disadari adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu melestarikan nilai-nilai kebaikan yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 07 Agustus 2013

Idul Fitri 1434 H


KELUARGA BESAR WASIQOH-SU 

( Wadah Silaturrahmi Qori' - Qori'ah Sumatera Utara ) 

Mengucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H.

MOHON MA'AF LAHIR & BATIN

Kamis, 25 Juli 2013

Hikmah Ramadhan 1434 H. di hari ke 16:

Meningkatkan Tradisi Membca
Melalui Semangat Peringatan Nuzul Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan pertama sekali Al Qur’an diturunkan. Diantara fungsinya adalah untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar kehidupan manusia tertata dengan baik sesuai dengan kehendak Allah yang maha pencipta. Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan Allah, karena itu wajarlah kalau isi dan kandungannya lebih lengkap dari kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelum Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan kitab yang berisikan tatanan untuk kehidupan manusia yang isi dan kandungannya menyentuh segala sendi-sendi kehidupan manusia, baik kehidupan secara individu maupun kehidupan kolektif dalam berbangsa dan bernegara.

Perlu disadari, kendatipun Al-Qur’an banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, atau sekalipun Al-Qur’an selalu menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya akan tetapi Al-Qur’an tidak dapat kita sebut sebagai kitab astronomi. Atau sekalipun Al-Qur’an sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya, tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab pengetahuan Alam atau fisika. Tetapi Al-Qur’an adalah sebagai kitab Hidayah atau petunjuk bagi seluruh alam.

Jadi, walaupun terdapat cerita atau gambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain, hal tersebut hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan, yaitu Hidayah Allah swt. Karena itu, untuk samapai kepada tujuan agar kita mendapat hidayah dari Al-Qur’an tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita terapkan dalam kehidupan kita.

Pertama: Membaca dan mempelajari Al-Qur’an secara seksama. Dalam hal membaca ini, tentu kita mendapat pesan dari wahyu pertama dalam surat Al-‘Alaq, yang memerintahkan kepada kita untuk  membaca.

Kedua: Berupaya untuk memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Sebab, dengan membaca saja tidak cukup untuk dapat mengetahui rahasia kandungan dan maksud yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an tersebut. Karena itu, harus sampai kepada memahami isi dan kandungannya.

Ketiga: Mengajarkannya kepada orang lain, agar orang lain pun dapat membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori Rasul bersabda:
“خـَيْـرُ كـُمْ مَـنْ تـَعَـلـَّمَ ا لـْـقـُرْ آ نَ وَعَـلـَّـمَــهُ ﴿  رَوَاهُ الـْـبُــخـَـارِي  ﴾“
Artinya: “Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya ”.

Keempat: Mengamalkan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pada tahap pengamalan inilah yang selalu dirasakan berat oleh sebagian orang. Pengetahuan yang didapat tentu tidak akan berguna jika tidak dibarengi dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menerapkan keempat hal tersebut, barulah Al-Qur’an akan dapat dirasakan manfaatnya. Sebab, Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk/hidayah. Apalagi jika kita kaitkan dengan kebutuhan hidup saat ini, dimana setiap orang dengan segala kemajuan dan kecanggihan yang dicapai oleh manusia, justru malah banyak yang mencari sistem nilai yang mereka anggap absolut.

Sebagai ummat Islam tentu kita tidak perlu lagi meragukan apalagi mencari sistem nilai selain Al-Qur’an. Perlu dicatat, bahwa kemunduran ummat Islam bukan terletak pada inti ajaran Al-Qur’an atau disebabkan ummat Islam setia pada ajaran Al-Qur’an, sehingga alam pikir dan daya kreatifitas mereka terhambat oleh Al-Qur’an, akan tetapi justru kemunduran ummat Islam dikarenakan faktor budaya, sebab ummat Islam sedikit demi sedikit telah menjauhkan diri dari Al-Qur’an.

Sangat ironis memang, di saat ajaran Al-Qur’an menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca, namun kenyataannya negara dan ummat yang terbesar buta hurufnya justru adalah negara-negara yang banyak ummat Islamnya. Dapat kita lihat pula, terkait dengan minat baca umat Islam Indonesia, dan orang Indonesia secara umum sangatlah lemah minat membacanya. Namun sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, adalah ironis kalau muslim Indonesia belum mampu menerjemahkan wahyu pertama dalam kehidupan sehari-hari. Sementara di belahan bumi lain kondisinya lebih baik, dan tradisi keilmuan yang memang telah mengakar terus lestari hingga kini.

Untuk itu, tradisi tulis-baca serta mengembangkan keilmuan perlu dikembangkan. Dibutuhkan kerja keras untuk mencapai hal tersebut. Memperingati Nuzul Qur’an bisa menjadi jawaban untuk itu. Dengan merujuk kepada Al-Qur’an adalah merupakan ungkapan yang tepat untuk mengatakan bahwa menjadi seorang muslim yang baik adalah menjadi pembaca yang baik.

Semoga momentum Nuzul Al-Qur’an dapat dijadikan pijakan awal transformasi budaya untuk menciptakan masyarakat yang gemar membaca.
Semoga…………………………!

Ya Allah, tunjukilah kami dengan hidayah Qur’anMu, gerakkanlah hati kami untuk bersungguh-sungguh mempelajarinya, berilah kami kekuatan untuk dapat mengamalkan kandungannya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai syafa’at bagi kami di akhirat kelak. Dan jadikanlah bacaan Al-Qur’an yang kami baca menjadi penghantar bagi kami untuk menuju surgaMu. Ya Allah Tuhan yang maha lembut lagi maha penyayang.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ