Senin, 24 Januari 2011

MENJADI MANUSIA PARIPURNA

TIGA KRITERIA MENJADI MANUSIA TERBAIK
Makhluk yang diciptakan Allah dimuka bumi ini manusia adalah merupakan makhluk yang paling mulia, demikian pernyataan Allah SWT dalam Al-Qur’an pada surat  Al-Israa ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً ﴿٧٠﴾
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan“.
Kemuliaan yang Allah berikan disertai dengan segala potensi manusia, baik akal, alat indera, fisik, hati, dan sebagainya. Potensi-potensi tersebut harus diaktualisasikan selain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya juga sebagai bentuk ekspresi syukur kepada sang Khaliq. Diantara sekian banyak umat manusia, mereka ada yang bersyukur (orang beriman) dan ada yang kufur (musyrik). Orang yang bersyukur inilah yang sesuai dengan harapan Allah untuk senantiasa beribadah kepada-Nya sebagaimana Allah nyatakan dalam Al-Qur’an pada surat .Al-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaku.”
Menjadi seorang mu’min tentulah harus menjadi seorang yang terbaik di antara mu’min yang lainnya. Predikat inilah yang Rasulullah SAW harapkan agar menjadi mu’min yang berkualitas. Dalam beberapa haditsnya, Rasul SAW telah memberikan kriteria mu’min yang terbaik. Diantaranya adalah :
Pertama, man-yuridillaahu khairan yufaqqihhu fid diin (siapa orang yang Allah kehendaki menjadi orang terbaik, Dia akan menjadikan orang tersebut faham dalam urusan agama). Menjadi orang yang faham dalam urusan agama merupakan suatu keharusan bagi umat Islam karena pemahaman terhadap agama akan sangat berpengaruh pada pengamalan ajaran agamanya. Rasulullah SAW sendiri sempat memberikan isyarat betapa urgennya memahami ajaran agama dan Allah SWT pun menegaskan dalam Al-Qur’an pada surat  At-Taubah ayat122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ ﴿١٢٢﴾”

“ Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya “.
Mendalami ajaran agama bersifat abadi, tidak mengenal waktu, usia dan tempat. Selama hayat masih dikandung badan, selama napas masih berhembus, selama kita masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah SWT. Hadits Rasul SAW mengatakan, artinya: Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat “. Kefahaman seseorang dalam agama akan memberikan cahaya penerang bagi umat yang lainnya. Memberikan bimbingan bagi yang sesat, memberikan peringatan bagi yang lalai.
Selain alasan di atas, kelangkaan orang yang faqih dalam agama bisa menjadi kekhawatiran bagi umat Islam. Hilangnya seorang pemimpin di pemerintahan atau perusahaan tidak perlu dikhawatirkan karena sudah banyak orang yang siap menggantikannya. Berbeda halnya jika seorang ulama meninggal, maka akan sangat sulit mencari siapa penggantinya.
Sebuah ungkapan kata menyatakan,” Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Tapi jangan menjadi orang yang kelima, maka engkau akan hancur/rusak.”
Kedua, khairukum man ta’allamal Qur’aan wa ‘Allamahu (orang yang terbaik dii antara kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya (pada orang lain). Mempelajari Alquran adalah kewajiban individu (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim karena merupakan sumber utama petunjuk hidup manusia bahkan lebih khususnya lagi orang Islam. Keselamatan hidup di dunia ini tentu akan dirasakan jika manusia itu sendiri berpegang teguh pada petunjuk tersebut sebagaimana telah dijaminkan oleh Rasul SAW.
Seorang ulama bernama Abdullah Darraz mengatakan, “Alquran bagaikan mutiara yang indah berkilau. Dari sudut manapun orang melihat mutiara tersebut, pasti akan mendapatkan pancaran keindahan.” Begitu pula Alquran, siapapun orang yang membacanya, ia akan mendapatkan hidayah darinya, dari mulai orang awam sekalipun sampai tingkat ulama atau intelektual.
Ketiga, khairunnaas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia yang lainnya). Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain merupakan perkara yang sangat dianjurkan oleh agama. Hal ini menjadi indikator berfungsinya nilai kemanusiaan yang sebenarnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi tidak berguna bagi yang lainnya. Contoh umum yang selalu diungkapkan adalah “hiduplah seperti lebah, jangan seperti lalat.”
Lebah hidup selalu dari yang indah/bersih, dia hinggap di tangkai bunga tanpa mematahkannya, dia mengeluarkan sesuatu zat yang sangat berguna atau menyehatkan, yaitu madu. Sedangkan lalat, dia hidup selalu di lingkungan yang kotor, memberikan atau menyebarkan penyakit ke mana-mana.

Kalau kita coba menginstrospeksi diri, maka lihatlah keluarga kita, tetangga kita, saudara, kerabat, dan umat secara keseluruhan. Apakah mereka semua merasa senang ketika kita ada atau malah sebaliknya ? Secara filosofis keberadaan kita itu harus berimbas kemaslahatan buat yang lain bukan hanya sekedar berguna untuk diri kita semata.
Dari uraian di atas, kita harus bertekad untuk menjadi manusia yang terbaik (khairunnaas) menurut versi Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal itu akan mendatangkan  kebahagian dunia dan akhirat, tidak hanya bahagia dunia semata seperti halnya penghargaan antar manusia (award-award) yang sifatnya hanya untuk dunia.
Untuk itu, jadilah kita, orang yang faham akan ajaran agama, orang yang mengajar atau belajar Al-Qur’an dan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.


Sabtu, 22 Januari 2011

HIDUP ADALAH UJIAN, SEBAB ITU KENALILAH MAKNA HIDUP YANG SESUNGGUHNYA


Hampir kebanyakan orang belum mengenal atau mengerti tentang apa itu arti hidup yang sebenarnya.Banyak orang tidak paham untuk apa ia hidup di dunia ini, sehingga kehidupannya bebas tanpa batas seperti yang kita lihat dalam kehidupan masyarakat saat ini. Mereka biasa berhubungan seksual tanpa melewati pernikahan, mengambil harta yang bukan haknya, membunuh, menipu, merampok, berpakaian yang serba minim, makan dan minum yang haram. Orang-orang seperti diatas disebut tidak memahami arti hidup. Bagaimana seseorang mampu memahami arti hidup?, maka ia harus mampu memecahkan tiga persoalan mendasar berikut:
Dari mana saya berasal?
Untuk apa saya hidup di dunia ini?
Kemana saya setelah mati?
Darimana saya berasal?
Ini merupakan pertanyaan yang wajar dan sesuai dengan fitrah manusia, bahkan seorang anak kecil-pun akan bertanya dari mana ia sebelum dilahirkan dan paling-paling ibunya menjawab bahwa ia berasal dari perut ibunya. Tetapi kita sebagai manusia dewasa yang berakal tentu tidak akan puas dengan jawaban dari perut ibu kita, untuk itu Sang Maha Pencipta telah memberikan informasi tentang keberadaan kita melalui wahyu-Nya yang tercantum dalam Al-Quran.
Banyak ayat dan hadist yang menjelaskan bahwa Allah swt yang menciptakan kita, perkawinan, kehamilan dan kelahiran merupakan perantara saja dari proses penciptaan manusia oleh Allah swt.

Untuk apa saya hidup didunia ini?
Allah swt secara tegas menyatakan bahwa Ia menciptakan kita semata-mata untuk menyembah-Nya, artinya menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Seorang manusia pada saat mencapai baligh, maka semua hukum syara’ (syari’at Islam) terbebani kepada dirinya (taklif). Ia harus tahu perintah yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan. Setiap gerak langkahnya harus diukur dari kacamata syari’at, dia wajib menjalankan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji, kewajiban sebagai suami dan istri, kewajiban menutup aurat, mencari rezki yang halal, menghindari mengambil yang bukan haknya (suap, korupsi, dan lain-lain.), tidak mengambil/memakan riba, berkewajiban untuk berdakwah, berjuang untuk membela agama Allah dan lain-lain.
Mereka bisa saja mengaku beragama Islam tetapi tidak menjalankan perintah agama, bahkan ibadah ritual seperti: shalat, puasa, zakat dan haji-pun tidak dilakukan. Padahal Islam tidak sebatas ibadah ritual semata, Islam mengatur seluruh sisi kehidupan kita, seperti: sistem sosial (mu’amalah), ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), peradilan, sanksi (‘uqubat), dan lain-lain.
Syari’at Islam melalui Al-Quran dan sunnah tidak akan melewatkan satu hal-pun dalam mengatur kehidupan manusia, karena aturan tersebut datang dari Sang Maha Pencipta yang tahu persis kebutuhan manusia dari dulu, sekarang dan akan datang.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ( Q.S. Al-Maidah : 3 ).
Mereka yang memahami arti hidup maka setiap gerak langkahnya dalam mengarungi kehidupan selalu mengacu kepada syari’at, ia akan selalu berhati-hati dalam berbuat, lebih baik menunda sejenak dalam berbuat sebelum ia tahu persis apakah hal tersebut halal atau haram. Inilah manusia yang bertaqwa dan akan selamat dalam menempuh kehidupan dunia serta beruntung diakhirat nanti.
Orang-orang yang mengabaikan syari’at Allah swt, merekalah orang yang merugi karena mereka telah mengorbankan kehidupan akhirat yang abadi dengan mengutamakan kehidupan dunia yang sementara. Rasulullah saw menganalogikan kehidupan dunia “Bagaikan berteduh sejenak dibawah pohon (dunia) dalam menempuh perjalanan panjang yang abadi (akhirat)”. Kehidupan dunia bagaikan senda gurau belaka yang menyilaukan dan seharusnya akhiratlah tujuan utama kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩﴾
ِArtinya : “ Hai orang-orang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi (Al-Munafiqun 9).
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ ﴿٣٢﴾
Artinya : Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am 32).
فَأَمَّا مَن طَغَى ﴿٣٧﴾ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿٣٨﴾ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٣٩﴾ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٤١﴾
Artinya : Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya (An-Nazi’at 37-41).
Kemana saya setelah mati? Setiap jiwa pasti mati dan jika sudah tiba saatnya (ajal) tidak akan dimajukan atau dimundurkan sedetik-pun, saat inilah sudah terlambat untuk bertaubat.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ ﴿٣٤﴾
Artinya : Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Apabila ajal itu sudah datang tidak dapat mereka meminta diundurkan atau dimajukan sesaat juapun (Al-A’raf 34).
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ﴿٢٤﴾
Artinya : Dia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku beramal dahulu untuk hidupku ini” (Al-Fajr 24).
Ketika kita dibangkitkan diakhirat nanti, semua yang kita lakukan di dunia akan dihisab satu persatu, tidak terkecuali, dosa kecil maupun besar, pahala kecil maupun besar. Keputusannya hanya dua, syurga atau neraka.
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ﴿٣٨﴾
Artinya : Tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya (Al-Mudatsir 38).
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿١٠﴾
Artinya : Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentu kami tidak termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala ini” (Al-Mulk 10).
Akhirul saya ingin mengatakan, jika kita memahami arti hidup maka kita harus mengutamakan kehidupan akhirat karena hidup di dunia ini hanya tempat persinggahan sementara dari perjalanan panjang untuk menuju kehidupan akhirat kelak. Kehidupan dunia harus digunakan untuk menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan abadi diakhirat nanti.

Jumat, 21 Januari 2011

PEMIMPIN TELADAN


UMAR BIN ABDUL AZIZ
(Pemimpin Yang Layak Dijadikan Teladan)
Diantara pemimpin yang pantas dijadikan teladan adalah khalifah Umar bin Abdul aziz, sebagai seorang pemimpin dia mencurahkan segenap pemikiran untuk kepentingan rakyatnya. Maka tidak heran pada saat beliau diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu-sedu. Anaknya yang melihat ayahnya menangis hampir seharian berusaha mencari tahu penyebabnya, tapi tidak berhasil. berusaha mencari tahu penyebabnya, tapi tidak berhasil. Fatimah, sebagai istrinya menemuinya dan bertanya, "Wahai suamiku, mengapa engkau menangis seperti ini?" Umar pun menjawab, " Sungguh aku telah diangkat untuk menjadi pemimpin ummat ini “. Lantas aku termenung memikirkan nasib pakir miskin yang sedang kelaparan, orang orang yang tidak bisa membeli pakaian, orang-orang sakit yang tidak bisa berobat,  orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membela mereka, orang-orang yang memiliki keluarga besar tapi hanya mempunyai sedikit harta, orang orang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang ditawan atau dipenjara, serta orang-orang yang menderita di pelosok negeri ini. Aku sadar dan tahu bahwa Allah pasti akan meminta pertanggungjawabanku tentang amanah ini. Namun, aku khawatir tidak sanggup memberikan bukti bahwa aku telah melaksanakan amanah ini dengan baik sehingga aku menangis. Sambil  menyeka air matanya, ia membaca Al-Qur’an,
إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿١٥﴾
“ Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)".."(QS Yunus: 15).
Bagaimana dengan pemimpin kita yang ada pada hari ini…?, apakah mereka memiliki kesadaran eskatologis (pertanggungjawaban di hari akhir) seperti yang ditunjukkan Umar?  Faktanya, para pemimpin cenderung berpesta pora ketika memperoleh kemenangan dalam pemilu (pilpres dan pilkada), padahal amanah yang diberikan kepadanya  sungguh berat dan harus dipertanggungjawabkan kepada public, terlebih-lebih di hadapan pengadilan Allah SWT kelak. Menyadari bahwa rakyatnya masih banyak yang miskin, menderita, dan sengsara, Umar bin Abdul aziz memutuskan untuk tidak tinggal di istana, tapi hanya menempati rumah sederhana tanpa pengawal pribadi Beliau juga menolak menggunakan fasilitas negara, termasuk berbagai perhiasan yang diwariskan Khalifah Malik bin Marwan untuk istrinya.
Ketika dorongan untuk berkuasa membara, banyak yang  menjual diri dengan janji-janji politik yang muluk-muluk. Tapi ketika berkuasa, ia cenderung lupa dan tidak sadar akan janji-janji yang telah di obral, sehingga janji tinggal janji. Keadilan tidak ditegakkan. Kekuasaan dijalankan menurut hawa nafsunya. Rakyat dilupakan, bahkan disengsarakan.
Begitulah potret penguasa yang lupa diri sekaligus lupa Allah SWT.
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿١٩﴾
"Janganlah kamu seperti orang orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS al-Hasyr : 19).
Karena itu, penguasa harus sadar bahwa kekuasaan itu bukan kesempatan untuk meraih kenikmatan, tapi kesempatan untuk mengemban amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan publik dan terutama di hadapan Allah SWT.
Figur seoang pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz ini pantas untuk di teladani oleh pemimpin bangsa ini, karena Umar bin Abdul Aziz adalah  pemimpin teladan yang sadar diri, tidak lupa rakyat, sekaligus tidak lupa kepada Allah SWT. Sungguh karakter pemimpin seperti Umar di negeri ini masih sangat langka, meski rakyat selalu mendambakannya.
Ya Allah...... Bukakanlah hati pemimpin kami agar mereka dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik dan benar sesuai dengan jalan yang Engkau ridhai. Tanamkanlah rasa takut dihati mereka akan azabMu manakala mereka melakukan penyimpangan dalam menjalankan kepemimpinan mereka. Timbulkan dihati mereka rasa tanggung jawab dan kasih sayang untuk mencintai rakyatnya, sehingga dengan itu mereka selalu mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kesejahteraan rakyat di negeri ini.
Ya Allah..... Andaikan Engkau murka kepada bangsa kami akibat kelalaian dan dosa-dosa yang kami lakukan, janganlah Engkau turunkan bala kepada kami, tetapi bukakanlah pintu hati kami untuk bertaubat kepadaMu dari kesalahan yang pernah kami lakukan, sehingga dengan itu kami berharap ridhaMu akan mengalahkan murkaMu.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ