Selasa, 08 Februari 2011

Sudah Benarkah Islam Kita?

Menjadi Muslim Sejati

Saat ini, banyak orang mengaku dirinya sebagai muslim. Data statistik dunia terakhir menunjukan ada 1,7 milyar lebih di dunia ini jumlah penduduk dunia yang beragama Islam. Tapi, dari sekian jumlah yang ada itu, sangat sedikit yang memiliki kepribadian sebagai seorang muslim sejati. Selebihnya, mempunyai kepribadian yang beragam. Orang semacam ini agamanya saja islam, namun, perilaku, sikap, dan tindakannya sama sekali tidak menunjukkan keislamannya. Kalau demikian adanya, bagaimana Islam dapat menjadi rahmah? Jika para pemeluknya tidak memahami, menghayati dan mengamalkan Islam? Persis seperti apa yan telah disinggung oleh rasulullah Saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُوشِكُ الاُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى ا ْلاَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ  الْمَوْتِ . سنن أبي داود

Rasulululullah Saw bersabda: “suatu saat nanti kalian akan dikelilingi oleh berbagai suku bangsa seperti mereka mengelilingi makanan”. Salah seorang bertanya: “Apakah kami saat itu sedikit ya Rasululallah?” “Tidak”, jawab Rasulullah, “bahkan saat itu jumlah kalian banyak, tetapi hanya sebagai busa. Allah hilangkan rasa takut di hati musuh-musuh kalian dan Allah tumbuhkan di dalam hati kalian penyakit wahan! Lantas ada yang bertanya: “ apa yang dimaksud penyakit wahan itu ya Rasul?. Nabi pun menjawab: “cinta dunia dan takut mati”.

Lihatlah kondisi masyarakat kita saat ini yang berada dalam keadaan lemah, hina, rendah diri, terbelakang, dan ditimpa berbagai krisis maupun perpecahan. Lengkap sudah segala penderitaan yang ada, berbagai simbol negatif pun tersematkan dalam kehidupan kita, termasuk bagi kita ummat islam di indonesia. Padahal dahulu Indonesia di kenal sebagai bangsa yang sangat santun dan welas asih! Mengapa ini bisa terjadi? Nyawa manusia lebih rendah harganya dari sekarung beras. Hanya karena gara-gara dituduh mencuri uang sepuluh ribu rupiah, seseorang dapat menemui kematiannya. Atau hanya karena sepedanya dipinjam tanpa ijin, seseorang berani membunuh kawan sekerjanya sendiri. Di mana-mana kerusakan merajalela, kebodohan, dekadensi moral dan hal-hal negatif lainnya. Indonesia telah mengalami krisis diberbagai aspek kehidupan, krisis multi dimensial!

Kondisi semacam ini tidak mungkin terus menerus dibiarkan. Siapapun yang merasa sebagai muslim yang memiliki ghirah (semangat) keislaman, tidak akan merelakan hal ini. Agama kita bukan agama fardiyah (individual), tetapi agama pemersatu (ummatan wahidah), bahkan digambarkan Rasulullah seperti satu jasad. Jika sakit salah satu anggota tubuh, maka yang lain akan merasakannya. Islam bukan hanya agama ibadah. Tetapi merupakan the way of life (jalan hidup) yang paripurna, mengatur segala urusan dunia-akhirat. Agama kita mengajak kepada wihdah (persatuan), al-quwwah (kekuatan), al ‘izzah (harga diri), al-‘adl (keadilan), dan juga kepada jihad (perjuangan).

Maka, misi risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) ini bertujuan untuk memberikan hidayah (petunjuk) bagi manusia pada agama yang haq, yang diridhoi Allah. Fungsi Islam yang menyejukkan bagi seluruh umat manusia ini, tidak mungkin terwujud, kecuali jika benar-benar diamalkan oleh orang-orang yang memiliki kepribadian, atau mempunyai jati diri sebagai seorang muslim. Karenanya, semua itu pasti berawal dari diri, lalu keluarga, masyarakat dan lingkungan.

Sebagaimana kita tahu, hidup merupakan suatu perjalanan dari satu titik ke titik yang lain, beranjak dari garis masa lalu, melewati masa kini, untuk menuju masa depan. Masa lalu adalah sebuah sejarah, masa kini adalah realita dan masa yang akan datang adalah cita-cita. Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak akan membiarkan hidup ini sia-sia. Hidup di dunia ini menjadi terlalu singkat jika hanya dipenuhi dengan keluhan-keluhan, kegelisahan, rasa pesimis dan angan-angan. Jiwa-jiwa seperti itu,tidak mencerminkan jati diri seorang muslim sejati.

Rasulullah Saw bersabda: “Seorang muslim tidak akan pernah ditimpa kecuali kebaikan, apabila ditimpa kejelekan ia bersabar, dan jika dilimpahkan kenikmatan ia bersyukur.”

Seorang Muslim tidak akan pernah mengeluh menghadapi kehidupan, karena ia telah memiliki kepribadian yang utuh dalam menghadapi segala macam ujian hidup.
Untuk menjadi pribadi muslim sejati, sesuai dengan apa yang digariskan oleh Islam, sudah semestinya memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits, juga telah dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi maupun salafus shâleh ( orang-orang shalih sebelum kita ), yaitu pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya diwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt dan rasul-Nya. Nilai-nilai tersebut, jika disederhanakan, setidaknya ada sepuluh sifat yang mesti melekat di dalam diri seorang muslim:
1. Salâmatul ‘aqîdah (Keyakinan yang benar).
Hidup di dunia ini bagai orang yang tengah mengadakan suatu perjalanan. Coba anda bayangkan, seandainya dalam suatu perjalanan anda tidak mengetahui arah mana yang akan anda tuju. Di terminal bus, di dermaga, atau di bandara, anda terduduk sambil bertanya hendak kemanakah diri ini harus pergi? Apa yang akan terjadi? Sudah bisa dipastikan anda akan mudah tersesat. Mengapa? Karena anda tidak mempunyai keyakinan pasti untuk sampai kepada suatu tujuan. Demikian halnya dengan perjalanan seorang muslim di dunia ini, dia harus mempunyai keyakinan yang lurus, sebagai sarat untuk dapat sampai kepada tujuannya.
Ada enam hal yang membuat seorang muslim yakin terhadap tujuan perjalanannya. Iman (yakin) kepada keberadaan Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari akhir, dan Qadla-Qadar. Sebagaimana Sabda nabi Saw:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ الايمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Nabi Saw bertanya kepada Jibril As:”Beritahukan aku tentang iman? Jibril menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun buruknya”.

Keyakinan terhadap Allah membuat Muslim selalu dalam keadaan optimis akan pertolongan-Nya. Yakin terhadap Malaikat membuat Muslim menyadari bahwa makhluk Allah yang paling taat ini, akan selalu mencatat segala perbuatannya di dunia, sehingga amal perbuatan Muslim selalu dipenuhi dengan hal-hal positif. Yakin terhadap kitab, membuat muslim selalu membaca panduan hidupnya setiap saat. Yakin terhadap Rasul, membuat Muslim memantapkan langkahnya hidup di dunia, bahwa Allah tidak meninggalkannya tanpa pemandu perjalanan yang panjang ini. Yakin terhadap hari akhir, membuat muslim tahu akan tujuan akhirnya. Iman kepada qadla dan qadar membuat muslim menyadari akan tanggung jawabnya hidup di dunia, sehingga tidak terjatuh pada keyakinan jabariyah atau keyakinan qadariyah.
2. Shihhatul ‘Ibâdah (Ibadah yang benar).
Anda sekarang sudah yakin dengan perjalanan yang sedang anda lakukan ini. Tinggal bagaimana anda harus melaluinya dengan baik, sehingga tidak tersesat. Karenanya, ibadah adalah implementasi dari sebuah keyakinan. Yang perlu kita sadari adalah, bahwa ibadah dalam Islam bukanlah merupakan taklif (pembebanan), melainkan tasyrif (pemuliaan) dari Allah Swt. Ketika seorang manusia dijuluki oleh Allah ‘ibadullah, maka ia termasuk orang-orang yang dikasihi-Nya.
Ibadah dalam Islam bukan hanya mencakup ritual keagamaan semata, semisal: shalat, zakat, puasa dan haji, tetapi semua lini kehidupan di dalam memakmurkan dunia ini yang tidak bertentangan dengan landasan Al-Quran dan Sunnah, seperti mencari nafkah secara halal, berhubungan baik dengan keluarga, menuntut ilmu dan lain sebagainya. Sebagaimana firmannya:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Jika shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.Q.S. Al-Jumu’ah : 10 ).
Demikianlah, seorang Muslim harus memahami arti ibadah dengan benar. Ibadah yang benar lahir dari aqidah yang benar. Ibadah yang benar adalah ibadah yang membawa pengaruh bagi dirinya, orang lain dan melahirkan ketaqwaan.

3. Matînul Khulûq Akhlaq yang kokoh.
Memang, menjadi orang baik itu sulit, namun amat mudah bagi yang memiliki tekad dan kemauan. Awal dari segala sesuatu itu susah. Namun, jika anda sudah terbiasa, anda tidak akan pernah mengatakannya sulit. Ingatkah ketika pertama kali anda belajar naik sepeda? Mungkin anda pernah berfikir, bagaimana caranya menjalankan sepeda yang hanya mempunyai dua roda. Pertama yang anda lakukan adalah duduk di sadel, menurunkan kedua kaki di tanah, dan tangan memegang kendalinya. Semuanya berjalan dengan baik. Lalu, salah satu dari kaki anda mulai untuk menggenjot sadel di satu sisinya. Anda gugup, baru beberapa meter, anda kehilangan kendali dan.... kemungkinan bisa terjatuh. Setelah beberapa kali mencobanya, anda sudah mulai terbiasa memegang kendali, menjaga keseimbangan dan menggenjot pedal dengan nyaman. Anda sudah lupa, kesulitan pertama kali menjalankannya, dan ternyata naik sepeda itu nikmat. Demikianlah, ketika anda berlatih mengendalikan diri, membiasakan dengan hal-hal yang baik, dan menjauhi sikap-sikap yang tidak berguna. Semakin dibiasakan, perilaku itu keluar dengan sendirinya secara otomatis. Inilah yang disebut akhlaq, yaitu perilaku yang keluar secara otomatis, dan mencerminkan ekspresi diri seseorang di segala tempat dan waktu. Jadi, akhlaq bukanlah perilaku kondisional, yang hanya diekspresikan pada waktu-waktu tertentu saja, tetapi memiliki akhlak yang komit, tidak fluktuatif, dan tidak berubah dalam kondisi bagaimana pun.
Allah Swt berfirman dalam surah Al-Qolam:4.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ


" Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung".

4. Tsaqôfatul Fikr (Wawasan pengetahuan yang luas).
Menjalani kehidupan di dunia ini tidak hanya sekedar mengandalkan keyakinan, ibadah dan akhlaq. Siapapun orangnya, ketika sedang melakukan perjalanan pasti membutuhkan pengetahuan tentang apa yang sedang ia tuju. Ketika anda hendak beranjak ke Kairo, misalnya, anda tentu mencari informasi tentang kondisinya, cuacanya, budayanya, makanannya, dan hal-hal lain yang perlu anda persiapkan sejak dini. Dengan informasi itulah anda mampu mengira-ngira apa yang dapat anda kerjakan sekarang, untuk persiapan nanti.
Begitu pula halnya dengan kehidupan yang sedang kita jalani ini. Anda tentu membutuhkan informasi-informasi yang diperlukan dalam melanjutkan perjalanan hidup. Wawasan itulah yang akan memandu perjalanan hidup anda. Proses yang sedang anda jalani dalam hidup ini juga tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang akan menjadi guru terbaik bagi anda. Allah Swt berfirman pada surah Az-Zumar: 9.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الالْبَابِ

“Katakanlah: “Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesunguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.
Karenanya, bagi seorang muslim, mencari ilmu pengetahuan merupakan salah satu kewajiban.

5. Quwwatul Badân (Tubuh yang kuat)
.
Kesempurnaan itu dambaan setiap orang. Masing-masing akan mencoba mencapai kesempurnaan diri, sesuai dengan kemampuannya. Dengan kekuatan itulah setiap orang akan berusaha mencapai keseimbangannya. Seahli apapun anda mengendarai sepeda, jika ban-nya kempes, tentu anda tidak akan dapat berbuat banyak, hingga ban itu baik kembali.
Karenanya, persiapkanlah jasmani Anda sebaik mungkin untuk dapat melanjutkan perjalanan anda secara prima. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Nabi bersabda
, artinya :

"Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah”. (HR. Muslim, Ibnu majah dan Imam Ahmad)

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Namun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu terjadi.

6. Al-Qudrah ‘ala al-Kasbi (Mampu mencari nafkah).
Sekarang, anda sudah sedikit-banyak, mengerti tentang bagaimana seharusnya menempuh perjalanan hidup ini. Sebagaimana seseorang yang sedang dalam perjalanan, anda harus mempunyai dua bekal. Pertama, bekal persiapan untuk tujuan akhir nanti setelah sampai tujuan. Yang kedua, bekal dalam perjalanan.
Nah, begitu pula di dunia ini. Hidup di dunia adalah suatu perjalanan, tujuan kita adalah akhirat. Namun, persiapan bekal untuk akhirat, tidak menutup kita untuk mempersiapkan bekal dalam perjalanan hidup di dunia ini untuk diri sendiri dan keluarga. Rasulullah pernah mengingatkan kita untuk bisa menyeimbangkan antara keduanya. “Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan kau akan hidup selamanya. Dan beramal buat akhiratmu, seakan-akan kau akan menemui ajal esok pagi.”
Agama kita melarang umatnya untuk bersikap santai, bermalas-malasan dan bertopang dagu. Para sahabat mencontohkan, jika terdengar adzan mereka segera ke masjid, jika selesai melaksanakan kewajibannya mereka kembali bertebaran di muka bumi untuk kembali melanjutkan usahanya sambil berdoa,”Ya Allah, kami telah memenuhi panggilan-Mu dan telah melaksanakan apa yang telah Engkau wajibkan, sekarang kami menyebar (berusaha) sebagaima Engkau perintahkan, maka berilah kami rizki karena Engkaulah sebaik-baik Pemberi Rizki.

7. Nâfi’an li Ghairihi (Bermanfaat bagi lainnya).
Banyak orang yang menyangka, bahwa keberhasilan adalah semata-mata kesuksesan yang diperoleh seseorang secara individu. Kita akan merasa bangga telah berhasil memperoleh gelar sarjana, majister, atau bahkan doktor. Atau kita merasa bangga telah memperoleh keuntungan bermilyar-milyar, masuk dalam kantong sendiri. Benarkah itu yang disebut keberhasilan dalam pribadi seorang Muslim?
Seorang muslim yang berhasil adalah yang mampu menjadi pelita bagi sekelilingnya. Ia mampu menerangi keluarga dan masyarakatnya, dengan sikap, perilaku, ilmu, harta, dan amal nyata. Pantulan dirinya sebagai muslim benar-benar dirasakan, sehingga dapat menebar kesejukan bagi orang-orang yang bersamanya. Sebaik-baik muslim adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Demikian ungkapan hadits Rasul.
Relevan dengan sabda Rasulullah Saw:

Dalam ungkapan yang lain Rasul menyatakan, atinya : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang selalu diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, adapun seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Ahmad)

8. Hârisan ‘ala waqtihi (Mampu mengatur waktu).
Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
Banyak masalah yang timbul, karena seseorang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik. Ia tidak bisa mencapai target dari rencana. Ia kehilangan beberapa momen penting, hanya karena waktu yang telah berlalu begitu saja di hadapannya. Untuk itu, pribadi Muslim selalu siap dengan situasi dan waktu. Ia dapat mengatur seberapa banyak waktu untuk beribadah mahdhah, dan untuk bermu’amalah. Semuanya perlu diatur sehingga seimbang.

Waktu adalah kehidupan, sehingga orang yang tidak bisa mengatur waktu akan kehilangan momen hidupnya, bahkan bisa tergilas dengan waktunya sendiri. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:

الوقت كالسيف فإن لم تقطع به فإنه قطعك!

“Waktu itu bagaikan sebilah pisau, jika tidak kamu gunakan untuk memotong, niscaya ia yang akan memotongmu!”
Sehingga seorang muslim tidak akan menjadi manusia yang merugi sebagaimana yang disinyalir dalam QS. Al Ashr:1-3.

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
9. Munâzhzhoman fi syu’ûnihi (Mampu mengatur urusannya).
Hidup kita di dunia ini penuh dengan berbagai aktifitas yang luar biasa banyaknya. Karena itu, sebagai seorang muslim harus pandai untuk memilah dan memilih, mana saja aktifitas yang sesuai dengan pandangan hidupnya sebagai seorang muslim berdasarkan skala prioritas. Karena pada prinsipnya, tugas atau kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia.
Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme harus selalu diperhatikan.
10. Mujâhidan linafsihi (Berjuang melawan hawa nafsu).
Mujâhadatunnafs merupakan salah satu upaya yang mesti bagi setiap pribadi muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan kepada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya tekad dan kesungguhan. Karena mengendalikan hawa nafsu adalah sebesar-besarnya jihad di dalam Islam.
Demikianlah sepuluh sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim agar menjadi muslim sejati sebagaimana yang digariskan oleh Al-Quran dan Sunnah. Hal tersebut tidak akan kita miliki, kecuali dengan amal usaha yang sungguh-sungguh, melalui pendidikan dan pengarahan yang intensif secara berkesinambungan dan kontinyu, hingga akhir hayat kita. Orang yang memiliki kesepuluh sifat ini, insya Allah dapat diandalkan dalam memikul Misi Risalah Islam. Dengan kesepuluh sifat ini, Islam akan benar-benar memancarkan rahmatan lil ‘alamin.
Semoga.....................................!
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Senin, 07 Februari 2011

Orang Yang Beriman Adalah Orang Yang Selalu Melakukan Muhasabah Terhadap Dirinya


SEGERA BERTAUBAT

Umumnya manusia berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi impiannya. Upaya mereka berpusat pada satu tujuan, yaitu kesempurnaan. Menurut mereka manusia yang ideal adalah manusia yang mampu menyebarkan aura kesempurnaan. Namun, konsekuensi logis dari usaha itu adalah kemungkinan terjadinya kesalahan dalam melangkah untuk mencapai impian dan kesempurnaan tersebut, terlebih bila usaha menuju kesempurnaan itu tanpa didasari background spiritual yang cukup.
Meski demikian, gambaran ideal itu hanyalah tujuan yang ilusioner (khayalan). Gambaran seperti itu bagi seorang mukmin tidak akan pernah ada. Hal itu dikarenakan pada hakikatnya seorang mukmin menyadari bahwa manusia itu lemah, rendah, dan tidak berdaya di hadapan Allah SWT. Konsekuensinya, manusia dapat berbuat kesalahan sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, manusia seharusnya berusaha melakukan hal yang terbaik untuk menghindari dosa dan kesalahan. Sebagai hamba yang lemah dihadapan Allah, manusia tidak pernah lepas dari kesalahan.
Berkenaan dengan kesalahan yang selalu dilakukan manusia, Allah berfirman dalam Al Qur'an pada surah Fathir : 5.
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً ﴿٤٥﴾                   
" Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.". (QS. Fathir: 45).
Melalui ayat tersebut seharusnya manusia menyadari bahwa sebenarnya dikarenakan rahmat Allah sajalah manusia itu masih berada di muka bumi ini, sebab andaikan Allah memperturutkan akan kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia, pasti Allah akan membinasakan manusia dari muka bumi ini. Tetapi Allah tidak melakukannya, itu berarti Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk bertaubat kepadanya dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
Bertaubat sekaligus memohon ampunan Allah adalah merupakan sifat yang membedakan antara orang mukmin dan orang kafir. Orang kafir selalu berusaha menutupi kesalahan dan dosa yang mereka lakukan, sedangkan orang mukmin tidak melakukan hal itu. Hal yang paling penting bagi orang mukmin adalah merasakan penyesalan dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada Allah seraya memohon ampunanNya. Dengan membaca Al Qur'an, manusia akan mendapati bahwa keinginan untuk memohon ampun pada Allah adalah suatu kewajaran. Tantang sifat orang mukmin yang selalu menyadari akan kesalahannya dan mau bertaubat kepada Allah dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an pada surah At-Taubah ; 112.
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ ﴿١١٢﴾
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, beribadah dan memuji (Allah), melawat, ruku', sujud, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar dan memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu". (QS. At Taubah: 112).
Memohon ampunan Allah adalah aspek keseharian dalam ibadah orang mukmin. Manusia dapat meminta ampunan setiap saat atas segala kesalahan dan dosanya, baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Di samping seorang mukmin dapat meminta ampun untuk dirinya sendiri dia juga dapat memintakan ampun untuk saudaranya sesama mukmin.
Dalam hal keharusan bertaubat, Allah SWT. Berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Tahrim:8.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya". (QS. At Tahrim: 8).
Yang dimaksud murni dalam ayat tersebut adalah taubat yang semata-mata karena Allah dan tidak ada motif-motif lain yang mencampurinya. Bagi mereka yang mampu memurnikan jiwanya dari orientasi keliru dalam bertaubat, maka berarti orang itu telah mengantongi salah satu tanda orang yang bertaqwa. Dalam pandangan Allah orang yang bertaqwa bukanlah orang yang sempurna tanpa cacat. Tetapi mereka yang setiap melakukan kesalahan, dia mengingat Allah kemudian bertaubat. Berkaitan dengan hal ini Allah menyatakan dalam firmannya pada surah Ali Imron:135.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾
"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imron: 135).
Kesimpulan :
  1. Tidak ada manusia yang tidak bersalah, hanya orang yang beriman selalu dan segera menyadari akan kesalahannya dan langsung bertaubat kepada Allah, juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan.
  2. Orang yang beriman juga selalu khawatir akan azab Allah di akhirat kelak, karena itu sebagai hamba yang beriman dia selalu berupaya untuk menjalankan kehidupan yang sesuai dengan syari’at yang telah di turunkan Allah SWT.
  3. Keinginan yang kuat dari seorang mukmin adalah mendapatkan keridhaan Allah, karena itu upaya yang dia lakukan adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangannya.

Minggu, 06 Februari 2011

MENGENAL MAKNA KEHIDUPAN DUNIA

Hidup Di Dunia ini Seperti Pengembara
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .  [رواه البخاري]
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “ (Riwayat Bukhori).
Pelajaran yang dapat diambil dari Hadits di atas:
  1. Segera melakukan pekerjaan yang baik dan memperbanyak keta’atan, tidak lalai dan menunda-nunda kesempatan, karena kita tidak tahu kapan ajal datang menjemput.
  2. Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum kesempatan itu hilang dan berlalunya waktu.
  3. Zuhud terhadap kehidupan dunia dan tidak bergantung kepadanya, sebab orang yang terpengaruh akan kehidupan dunia akan  mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala dan tidak akan punya bekal untuk kehidupan akhirat.
  4. Hati-hati dan selalu takut akan azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar hidupnya tidak tersesat.
  5. Waspada terhadap teman yang tidak baik hingga tidak terhalang dari tujuannya untuk menuju keridhaan Allah.
  6. Dalam kehidupan di dunia dituntut untuk senantiasa menjaga jiwa agar hidupnya mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan kebahagiaannya di akhirat.
  7. Seorang mukmin harus bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu agar di-isi dengan nilai-nilai kebaikan sebagai persiapan diri menuju kematian, serta senantiasa bertaubat untuk mendapatkan ampunan Allah serta mengisi hidup dengan amal yang shaleh.
  8. Dalam memberikan nasehat kepada Abdullah bin Umar, Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, bertujuan agar Abdullah bin Umar memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Ini menunjukkan bahwa seorang yang akan menerima ilmu harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu ke dalam jiwa muridnya. Hal ini dapat menyebabkan ilmu itu akan mudah di dapatkan oleh sang murid, di sisi lain hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.


Sabtu, 05 Februari 2011

Rasulullah Memiliki Hati Yang Mulia

RASULULLAH S.A.W DAN PENGEMIS WANITA YAHUDI YANG BUTA
Di sudut Pasar kota Madinah Al-Munawwarah ada seorang wanita Yahudi, keadaannya buta dan pekerjaannya sebagai pengemis. Apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata: Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia pembohong, dia tukang sihir, apabila kalian mendekatinya aku khawatir kalian akan dipengaruhinya.
Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatangi pengemis wanita itu dengan membawakan makanan, tanpa berkata sepatah katapun Rasulullah s.a.w. menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis tersebut selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad s.a.w. dan Rasulullah tetap melakukan hal tersebut sampai akhir hayatnya. Setelah Rasulullah wafat tidak ada lagi orang yang membawakan makanan kepada pengemis tersebut.
Suatu hari Abu Bakar r.a datang ke Rumah anaknya Aisyah dan beliau bertanya kepada anaknya. Wahai anakku…..! Menurutmu adakah sunnah Rasulullah yang belum aku laksanakan?. Wahai ayahku……! Engkau adalah orang yang telah melakukan sunnah Rasulullah kecuali satu hal. Apakah itu wahai anakku…? Aisyah menjawab… ! Setip pagi Rasulullah s.a.w. pergi ke sudut pasar dengan membawakan makanan untuk pengemis Yahudi buta yang berada di sana, dan menyuapi wanita itu makan.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar memberikan makanan itu kepadanya, hanya ketika Abu Bakar menyuapinya, pengemis itu marah sambil berkata : Siapa kamu ini….? Abu Bakar menjawab, Aku orang yang biasa menyuapimu. Bukan, kata pengemis itu. Orang yang biasa datang kepadaku, biasanya menyuapiku dengan lembut, sedangkan kau menyuapiku dengan kasar.
Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya lalu menangis tersedu-sedu. Mendengar tangisan tersebut, pengemis Yahudi bertanya…. Kenapa anda menagis……..? Abu Bakar menjawab : Benar, aku bukan orang yang biasa datang kepadamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Dia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. yang setiap hari membawa makanan dan menyuapkannya untkmu. Alangkah terkejutnya pengemis tersebut mendengar penuturan Abu Bakar tentang orang yang menyuapinya setiap hari itu adalah Nabi Muhammad yang selalu di fitnah oleh-nya. Dia-pun berkata : Benarkah dia Muhammad…..? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi dia tidak pernah marah kepadaku, tidak membenciku, bahkan tetap memberiku makan dan menyuapiku. Alangkah mulianya Muhammad itu. Akhirnya Pengemis Yahudi buta tersebut bersyahadat menyatakan diri memeluk islam di hadapan Abu Bakar.
Subhanallah………………………………!