Kamis, 24 Maret 2011

Hati-Hati ...... Tipudaya Setan

JEJAK – JEJAK IBLIS

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلاَ مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٩﴾ فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَـذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ ﴿٢٠﴾ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ ﴿٢١﴾ فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَاتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَآنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٢﴾

Artinya : 

(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim".

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)".

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (Al-A'raf: 19 - 22).

Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis iri dibuatnya. Ia menyimpan dendam kesumat terhadap keduanya. Iblis pun berjanji akan mengeluarkan mereka dari surga. Tidak hanya itu, Iblis juga berjanji menggelincirkan anak cucu Adam dari jalan Allah sampai hari kiamat. Demi ambisinya, Iblis bahkan meminta dispensasi kepada Allah untuk bisa hidup sampai akhir zaman. Ia pun mencari celah untuk menggoda Adam dan Hawa. Celah itu akhirnya ia temukan. Iblis membujuk keduanya agar mendekati pohon yang dilarang Allah memakan buahnya. Keduanya tertipu, mereka mendekati dan memakan buahnya. Iblis tertawa. Akhirnya, mereka dikeluarkan dari surga.

Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya. Setan tahu jika keduanya mendekati pohon larangan, aurat mereka akan tampak, karena mendekatinya adalah larangan dan melanggar larangan adalah berbuat maksiat kepada Allah. Bisikan setan kepada Adam dan Hawa adalah bisikan ke dalam hati yang sangat halus dengan suara yang pelan dan kadang tidak terdeteksi. Bisikan tersebut menyuarakan :
وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَـذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ ﴿٢٠﴾
" dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)".
Pintu tipu daya terbesar adalah ketika Iblis berhasil mempengaruhi keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Demikian dikatakan oleh Ibnu Qoyyim. Keinginan…, itulah yang banyak menjadi pintu tipu daya setan. Seperti dimaklumi, setan menggoda Anak Adam melalui aliran darah. Ia mencapai nafsu manusia dengan merasuk dan menanyainya, termasuk menanyai apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, apa yang diingini dan apa yang tidak diingini. Anak Adam banyak terperdaya melalui pintu ini.
Setelah iblis berhasil mempengaruhi keinginan moyang manusia, ia menerapkan politik berikutnya. Apa itu? ia berkedok menjadi penasihat bagi keduanya. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan Adam dan Hawa, ia harus bersumpah dengan nama Allah. Untaian kalimatnya pun dibuat simpatik, وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ  Dia bersumpah kepada keduanya, 'Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua....').
Sebuah ungkapan yang membuai, Ada penegasan dengan sumpah (وَقَاسَمَهُمَا) , ada penegasan dengan kata sesungguhnya (إِنِّي), unsur objek dikedepankan dari subjek (kalimat لَكُمَا sebelum النَّاصِحِينَ) yang mengandung makna pengkhususan, sehingga ayat tersebut bisa bermakna, "Nasihatku ini kuberikan khusus untuk kalian berdua, dan manfaatnya kembali kepada kalian berdua, bukan kepadaku."  
Pekerjaan menasihati juga diungkapkan dengan menunjukkan sifat, bukan menunjukkan kejadian yang baru terjadi, sehingga ia dapat dimaknai, memberikan nasihat adalah sifat, watak, dan profesiku, bukan hal yang bersifat insiden.
Iblis juga menggambarkan dirinya sebagai salah satu dari banyak penasihat (لَمِنَ النَّاصِحِينَ  ), dengan begitu seolah dia berkata, "Banyak orang menasihatimu dalam hal ini, sedangkan aku hanya salah seorang dari mereka." Ini serupa dengan ungkapan, "Semua orang sependapat denganku dalam masalah ini, dan aku hanyalah salah seorang yang menyuruhmu berbuat begitu."

Singkatnya, iblis menggunakan politik meyakinkan, membesarkan hati, dan memberikan solusi untuk sebuah tindakan membohongi, menipu, dan memperdaya. Untuk meyakinkan, ia tampil sebagai pemberi nasihat atau konsultan profesional, yang pendapatnya diklaim mewakili pendapat kebanyakan. Bahkan, untuk menipu Adam dan Hawa, Iblis perlu menjuluki pohon larangan dengan pohon kekekalan, seperti dalam firman Allah:
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لا يَبْلَى
" Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Thaha: 120).
Politik Iblis banyak ditiru oleh pengikut-pengikutnya. Termasuk pengikutnya dari golongan manusia. Ada politik "penghalusan" seperti di atas. Kemungkaran banyak dijuluki dengan nama yang menarik. Judi dinamakan adu ketangkasan. Dahulu, judi bahkan dinamakan sumbangan dana sosial, pelacur dijuluki wanita idaman, riba disebut uang jasa, pengingkaran terhadap ayat dinamakan kontekstualisasi, penyelewengan Al-Qur’an diklaim sebagai upaya memahaminya dengan kondisi kekinian, pembantaian penduduk sipil disebut penegakan demokrasi, memerangi Islam disebut memberantas teroris, dan seterusnya.
Mendompleng keinginan orang juga biasa digunakan para pengikut setan. Jika mereka bermaksud mempengaruhi orang, agar maksud jahatnya terwujud, mereka memulai menyinggung keinginan, kemauan, dan kebutuhan orang yang dipengaruhi, seperti keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Kadang "sentuhan" itu berupa rangsangan untuk menuju keinginan, kadang keinginan itu sendiri yang dipenuhi sebagai semacam "suapan". Betapa banyak upaya yang dilakukan untuk membujuk umat Islam dengan kedok bantuan-bantuan kemanusiaan, terutama saat mereka tertimpa musibah atau terdesak akan kebutuhan. Juga betapa sering suatu bangsa memperalat pemerintahan negeri-negeri Islam untuk memerangi orang Islam dengan iming-iming yang menggiurkan.
Sebagaimana Iblis berkedok menjadi penasihat profesional, para pengikutnya di era moderen juga demikian. Penasihat yang memberikan arahan dan solusi. Jika iblis melegalisasi profesionalismenya dengan sumpah atas nama Allah, dan dengan argumen-argumen yang lain, para penasihat moderen juga tampil dengan performa yang meyakinkah, kredibel, bonafid, dan yang sejenisnya karena sebelumnya memang telah diopinikan demikian. Maka, ketika sebuah negara sakit, mereka tampil menjadi dokter. Orang sakit tentu susah dan kurang etis jika membantah sang dokter, tak peduli diagnosanya keliru, juga tak peduli obat yang diberikan racun sekalipun. Betapa banyak negeri yang sami'na waata'na didikte oleh lembaga-lembaga Internasional dengan dalih penyelamatan, meskipun sesungguhnya penjerumusan.
Jika setan suka mengatasnamakan orang banyak dengan ungkapan  (إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua"), setan moderen demikian juga. Untuk menjustifikasi kemauannya, ia perlu menyatakan bahwa ia didukung oleh banyak pihak. Meski kadang dukungan tersebut lebih bersifat klaim, misalanya penganugerahan nobel perdamaian dan sejenisnya. Bukankah pada era moderen opini media massa yang membentuk fakta dan bukan fakta yang membentuk opini? Contoh menarik dewasa ini adalah daftar kelompok teroris versi PBB yang diklaim atas masukan banyak negara, seolah daftar tersebut mewakili aspirasi mayoritas penduduk dunia.
Akhirnya, marilah kita berlindung kepada Allah dari tipu daya setan, seperti diajarkan Allah dalam Alquran:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ ﴿٦﴾
1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.
4. dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
6. dari (golongan) jin dan manusia. " (An-Naas: 1 - 6).
Renungkanlah..............! Iblis yang sudah berada di dalam Surga dikeluarkan Allah karena kesombongannya, bagaimana dengan kita yang belum berada di surga apabila sombong......? Tentunya sulit untuk masuk Surga.........!

Selasa, 22 Maret 2011

Sayangi Kedua Orang Tua

Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak

Pada suatu sore, seorang ayah bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.  Si ayah lalu menunjuk ke arah burung gagak sambil bertanya, Nak, apakah benda itu? Burung gagak, jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, Itu burung gagak, Ayah! Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak heran dengan pertanyaan ayahnya yang diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, BURUNG GAGAK!! Si ayah terdiam seketika.

Namun tidak lama berselang, sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, Itu gagak, Ayah. Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang kesabaran dan menjadi marah.

Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah.., kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah catatan yang sudah usang. Coba kamu baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam catatan ini, pinta si Ayah.

Si anak setuju dan membaca paragraf demi paragraf, akhirnya sampai kepada paragraf yang bertliskan, Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, Ayah, apa itu? Dan aku menjawab, Burung gagak. Walau pertanyaannya sudah aku jawab, namun anakku terus bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan aku terus menjawab dengan jawaban yang sama, sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku kepadanya, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah Ayahnya yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara, Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran dan marah kepada ayah.

Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tua, hormatilah mereka. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita. Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam yang berkenaan dengan berbakti kepada kedua orang tua. Tetapi……….!
Sudahkah kita amalkan ?????????????????.

Ingatlah ……………….! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurga.

Selasa, 15 Maret 2011

Pengurus : “ Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara Mendapat Hadiah Biaya Perjalanan Haji

Musabaqah Tilaatil Qur’an ( MTQ ) Medan Berakhir
Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke 44 tingkat Kota Medan 2011 yang dilaksanakan sejak tanggal 7-14 telah berkhir. Acara penutupan MTQ tersebut diwarnai dengan suasana hujan lebat yang mengguyur kota Medan, sehingga para pengunjung menyerbu tenda-tenda yang disiapkan untuk para undangan. Dalam suasana hujan tersebut ketua Dewan Hakim H. Hasan Basri Sa’i mengumumkan nama-nama pemenang dari seluruh cabang yang dipertandingkan. Diantara pemenang yang meraih juara tersebut adalah para  Qori-Qori’ah yang tergabung dalam Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara.
Mereka Yang meraih juara tersebut adalah :
  1. Sarwo Edi Harahap ( Juara I Cabang Tilawah golongan Dewasa Putra ).
  2. Jakfar Hasibuan ( Juara I Cabang Qiro’at Saba’ Putra ).
  3. Abdullah ( Juara I Khat Cabang Naskah Putra ).
  4. Ahmad Azro’i Hasibuan ( Juara II Cabang Tilawah golongan Dewasa Putra ).
  5. Mazlan ( Juara II Khat Cabang Dekorasi Putra ).
  6. Siti Raudhah ( Juara III Khat Cabang Naskah Putri ).
  7. Muhammad Ilyas ( Harapan I Tilawah Golongan Cacat Netra ).
  8. Muhammad Hubbillah Nasution ( Harapan I Tahfizh 5 Juz dan Tilawah ).
  9. Fahmil Qur’an ( Harapan II ).
  10. Ismail ( Juara Harapan III Khat Cabang Hiasan Mushaf Putra ).
  11. Ria Damayanti  ( Juara Harapan III Khat Cabang Hiasan Mushaf Putri ).
Dari nama-nama pemenang yang telah disebutkan, ada kebanggaan tersendiri yang dibarengi rasa syukur kepada Allah dimana satu diantara peserta yang tergabung di “ Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara, Sarwo Edi Harahap, memperoleh hadiah biaya perjalanan menunaikan Ibadah Haji. Sementara Jakfar Hasibuan mendapat hadiah satu unit Sepeda Motor.

Terhadap Para pemenang saya ucapkan selamat atas prestasi yang diraih dan tetaplah mamacu diri untuk lebih berprestasi lagi dimasa yang akan datang. Kepada yang belum berhasil jangan berputus asa, namun teruslah berlatih secara maksimal agar di tahun mendatang dapat menjadi yang terbaik.
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti
Pendiri & Pembina
Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara



Minggu, 06 Maret 2011

Menggapai Ampunan Allah


Meraih Ampunan Dan Syurga Allah
Khilaf dan salah adalah merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, namun bukan berarti manusia harus larut dalam khilaf dan salah tersebut. Kekhilafan dan kesalahan harus ditebus dengan upaya memperbaikinya dengan mengisi kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan. Ada dua sisi kesalahan yang selalu dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya. Pertama, kesalahan kepada Allah, kedua kesalaha kepada sesama manusia. Kesalahan kepada Allah hendaklah ditebus dengan bertaubat kepadaNya dengan cara berupaya untuk meraih keampunanNya, dan kesalahan kepada sesama manusia hendaklah berupaya untuk mendapatkan kema’afan dari orang yang kita bersalah kepadanya.
Perlu disadari bahwa kehidupan manusia itu akan terhina manakala dia tidak mampu menjalin dua arah komunikasi dalam kehidupannya, yaitu hubungan vertical kepada Allah dengan mengabdikan dirinya kepada Allah, dan hubungan horizontal kepada sesama manusia dengan berinteraksi secara baik kepada sesama manusia. Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan melalui firmanNya di dalam Al-Qur’an surat Ali Imron : 112 .
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ
Artinya:“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia“.............................
Atas segalah kekhilafan dan kesalahan yang pernah dilakukan, kita sebagai hamba-hamba Allah di perintahkanNya agar berupaya secara maksimal untuk mendapatkan ampunan daripadaNya, dan juga berupaya untuk mendapatkan syurga yang hanya dijanjikan Allah untuk orang-orang yang bertaqwa. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 133.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾
Artinya:“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“.
Indikasi orang-orang yang bertaqwa itu antara lain adalah sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah pada surat Ali Imron ayat 134-135.
  1. Orang-orang yang mau meng-infakkan hartanya. ( untuk kepentingan-kepentingan yang dibutuhkan oleh ummat ), baik pada saat lapang maupun sempit. Hal ini tergambar dalam lanjutan firman Allah di atas, yaitu :………….. الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء  , (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.
  2. Orang-orang yang mempu mengendalikan emosional.  ………. وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ , dan orang-orang yang menahan amarahnya.
  3. Orang-orang yang mau memberi ma’af terhadap orang yang bersalah kepadanya, ............ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ  dan mema`afkan (kesalahan) orang. Tiga sikap yang telah disebutkan di atas adalah merupakan perbuatan baik yang sangat dipuji oleh Allah. Dalam hal ini dinyatakan Allah dengan firmannya „ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
  4. Orang-orang yang menyadari kesalah-kesalahan yang pernah dia lakukan dan bertaubat kepada Allah serta bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Allah berfirman „وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Orang-orang yang memiliki indikasi sebagai orang-orang yang bertaqwa seperti yang telah dikemukakan di atas, Allah menjanjikan untuk mereka ampunan dan syurga yang penuh dengan beragam kenikmatan. Hal ini tertuang dalam firman Allah pada lanjutan ayat di atas:
أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Artinya:“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.
Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki perilaku baik seperti yang telah disebutkan di atas, dan dengan itu pula kita berharap mendapat ampunan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Jumat, 04 Maret 2011

Bersyukur Akan Nikmat Allah

Sudahkah Kita Menjadi Manusia yang Bersyukur?

Syukur merupakan perbuatan yang amat utama dan mulia, oleh karena itu Allah SWT. memerintahkan kita semua untuk bersyukur kepada-Nya, mengakui segala keutamaan yang telah Dia berikan, sebagaimana dalam firman Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
Artinya : " Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.” (Al-Baqarah :152)

Allah SWT juga memberitahukan, bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang mau bersyukur, sebagaimana yang difirmankan:

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِراً عَلِيماً
Artinya : “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman, dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisaa :147)

Orang yang mau bersyukur merupakan kelompok orang yang khusus di hadapan Allah, Allah mencintai kesyukuran dan para pelakunya serta membenci kekufuran dan pelakunya. Dia telah berfirman:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya : “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu. ” (QS Az Zumar:7)

Allah juga menegaskan, bahwa syukur merupakan sebab dari kelangsungan sebuah nikmat, sehingga tidak lenyap dan bahkan malah semakin bertambah, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya : “Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema'lumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim : 7)

Dan masih banyak lagi keutamaan dan manfaat dari syukur kepada Allah, maka tak heran jika Allah menyatakan, bahwa amat sedikit dari hamba-hamba-Nya yang bersyu-kur (dengan sebenarnya).

Hakikat Syukur

Kesyukuran yang hakiki di bangun di atas lima pondasi utama. Barang siapa merealisasikannya, maka dia adalah seorang yang bersyukur dengan benar.  Lima asas tersebut adalah:

  1. Orang yang bersyukur senantiasa merendahkan diri dihadapan yang dia syukuri, yaitu Allah SWT. 
  2. Kecintaannya senantiasa tercurah kepada Sang Pemberi nikmat (Allah).
  3. Mengakui seluruh kenikmatan yang ada, datangnya dari Allah.
  4. Senantiasa memuji-Nya, atas nikmat tersebut.
  5. Tidak menggunakan nikmat yang dia dapatkan untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah.
Maka dengan demikian syukur adalah merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati senantiasa mencintai Nya, anggota badan taat kepada-Nya serta lisan tak henti-henti menyebut Nya.

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika pagi dan sore mengucapkan pujian (dzikir) sebagai berikut, yang artinya:

"Ya Allah tak satu pun kenikmatan yang menyertaiku di pagi /sore ini atau yang tercurah kepada salah satu dari makhluk Mu, maka itu adalah semata dari Mu, tiada sekutu bagi Mu, untuk Mu lah segala puji dan untuk Mu pula segenap syukur."

Macam-Macam Syukur

Imam Ibnu Rajab berkata, "Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan”.

  1. Syukur dengan hati adalah mengakui nikmat tersebut dari Sang Pemberi nikmat, berasal dari-Nya dan atas keutamaan-Nya. 
  2. Syukur dengan lisan yaitu selalu memuji yang memberi nikmat, menyebut nikmat itu, mengulang-ulangnya serta menampakkan nikmat tersebut, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: Artinya : “Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutNya (dengan bersyukur)”.(QS. 93:11)
  3. Syukur dengan anggota badan yaitu tidak menggunakan nikmat tersebut, kecuali dalam rangka ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, berhati hati dari menggunakan nikmat agar tidak dijadikan untuk berbuat maksiat kepada-Nya.