Minggu, 10 April 2011

Kunci Meraih Kebahagiaan

Dua Puluh Tiga Kiat Mencapai Bahagia
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di di dalam kitabnya yang berjudul “Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah” ( Kiat-kiat mencapai kabahagian hidup ) memaparkan, bahwa sekurang-kurangnya ada dua puluh tiga kiat yang dapat diterapkan untuk mencapai hidup bahagia. Di sini dinukilkan kesimpulan dari kitab tersebut:
  1. Beriman dan beramal shalih dengan sebenarnya, sebab orang yang beriman dan beramal shalih akan selalu menyandarkan hidupnya kepada kekuasaan Allah, dan itu akan membuat hatinya bahagia selalu.
  2. Berprilaku baik melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk yang ma’ruf/baik.
  3. Bersikap adil dan bijaksana dalam bergaul, sebab hidup dalam lingkungan pergaulan yang kondusip akan membuat hati menjadi tentram.
  4. Melakukan tindakan-tindakan yang utama/mulia dan tidak membuat orang lain merasa resah.
  5. Menciptakan suasana jernih dibalik kekeruhan yang ada.
  6. Menjadikan ketenangan bathin dan pemusatan pikiran untuk membantu anda dalam menangani pekerjaan penting.
  7. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tanpa menunda-nundanya, sebab kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.
  8. Pandai-pandailah memilih pekerjaan agar tidak terjerumus kepada perbuatan yang mendatangkan dosa.
  9. Jangan terpancing emosi oleh tutur kata buruk dari seseorang yang diarahkan kepada anda.
  10. Arahkan pikiran kepada sesuatu yang bemanfa’at untuk kehidupan akhirat maupun kehidupan dunia.
  11. Menata hati untuk semata-mata mengharap keridhaan Allah dalam berbuat kebajikan.
  12. Konsentrasikan pikiran untuk menghadapi hari ini, sebab dengan demikian pekerjaan akan mudah dilaksanakan dan itu akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri.
  13. Masa kehidupan dunia yang pendek ini jangan dipendekkan lagi dengan kegundahan hati dan larut dalam kekeruhan pikiran.
  14. Yakinkan diri bahwa cobaan dalam hidup adalah kecil bila dibandingkan dengan banyaknya karunia Allah.
  15. Lupakanlah cobaan yang telah berlalu apabila itu mengganggu konsentrasi dan melemahkan semangat dalam kehidupan, namun kenanglah apabila dapat menjadikan intropeksi diri untuk mengarahkan kehidupan kepada yang lebih baik lagi.
  16. Sikapilah cobaan yang menimpa kita adalah merupakan masalah yang ringan, agar tidak melemahkan semangat dalam kehidupan.
  17. Jangan mudah terguncang oleh bayangan buruk, sebab itu akan menjadikan diri anda lemah.
  18. Memohonlah kepada Allah agar segala urusan dimudahkanNya.
  19. Perbanyaklah zikir kepada Allah karena dengan berzikir hati akan menjadi tentram.
  20. Syukurilah  segala nikmat yang diberikan Allah, karena itu akan mendatangkan ridha Allah
  21. Sibukkan diri dengan melakukan suatu pekerjaan atau mengkaji ilmu pengetahuan yang bermanfa’at, sebab dengan ilmu pengetahuan seseorang akan mengalami kemajuan.
  22. Dalam kehidupan dunia pandanglah ke bawah agar kita lebih bersyukur kepada Allah, dan untuk kehidupan akhirat pandanglah ke atas agar semangat beribadah senantiasa meningkat.
  23. Percayalah sepenuhnya akan kekuasaan Allah agar hidup tidak takluk kepada bayangan-bayangan buruk yang menghantui kehidupan.

Sabtu, 09 April 2011

Belajar Membaca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad

Belajar Tilawah Al-Qur'an dengan cara Mujawwad oleh Syaikh Ahmad Mustafa.
Bagi Qori' - Qori'ah yang menekuni dan mendalami bacaan Al-Qur'an secara mujawwad, video ini dapat membantu anda untuk menambah ilmu pengetahuan dalam seni baca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad ( membaca Al-Qur'an dengan menerapkan lagu-lagu Al-Qur'an ).  Untuk itu bagi yang berminat silakan Download, Semoga bermanfa'at.

Belajar Membaca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad

Belajar Tilawah Al-Qur'an dengan cara Mujawwad oleh Syaikh Ahmad Mustafa.
Bagi Qori' - Qori'ah yang menekuni dan mendalami bacaan Al-Qur'an secara mujawwad, video ini dapat membantu anda untuk menambah ilmu pengetahuan dalam seni baca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad ( membaca Al-Qur'an dengan menerapkan lagu-lagu Al-Qur'an ).  Untuk itu bagi yang berminat silakan Download, Semoga bermanfa'at.

Ratapan Gadis Kecil di Kubur Ayahnya


Hasan al-Bashri dan Gadis Kecil
Suatu sore Hasan al-Bashri sedang duduk di teras rumahnya, ia sedang bersantai menikmati semilir angin yang berhembus. Tidak lama setelah ia duduk, lewat iring-iringan orang membawa jenazah. Bersama dengan iring-iringan tersebut berjalan seorang gadis kecil sambil menangis terisak. Rambutnya tampak kusut dan terurai tidak beraturan. Hasan al-Bashri tertarik akan penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan ikut dalam iring-iringan tersebut. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.
Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya belum pernah mengalami peristiwa seperti ini.
Keesokan harinya, usai shalat subuh, ketika matahari terbit di ufuk timur, sebagaimana biasanya Hasan al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil yang kemarin, lewat di depan rumahnya menuju ke ke arah kubur ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Hasan al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu".
Gadis kecil itu tiba di kubur ayahnya. Hasan al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-gerik gadis kecil tersebut. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah kuburan ayahnya. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar oleh Hasan al-Bashri.
Ayah, bagaimana keadaanmu yang tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur?
Ayah………..! kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu?
Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah?
Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah?
Kemarin aku yang menyiapkan minum untuk ayah, siapa yang memberimu minum tadi malam?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu tadi malam, Ayah?.
Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau tadi malam, ayah?
Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan wajahmu tadi malam, Ayah?
Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam.
Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, tadi malam siapakah yang menyuapimu, Ayah?
Kemarin malam aku memasakkan makanan untukmu, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tidak tahan mendengar rintihan tersebut. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyapa gadis kecil itu dan berkata.
Hai, gadis kecil! Jangan berkata seperti itu nak. Tetapi, ucapkanlah:
Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah.
Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik.
Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"
Ayah, Ulama mengatakan bahwa seorang hamba yang mati ditanya tentang imannya. Ada yang mampu menjawab dan ada juga yang tidak mampu menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?.
Ayah, Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?.
Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sehingga tulang-belulangnya berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?.
Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?.
Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan tanah di kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?.
Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat kelak.
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah kata-kata yang engkau ajarkan kepadaku untuk pengganti ratapanku kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari kelalaianku.
Ya Allah, ampunkanlah aku dan kedua orang tuaku, pertemukanlah kami kelak diakhirat dalam naungan rahmat dan keridhoanMu.
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan kubur. Mereka pulang sembari berderai air mata.
Subhanallah……………….! Mari kita jadikan kisah ini sebagai I’tibar bagi kita semua, semoga di akhirat kelak kita dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan orang tua dan keluarga kita.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah.

Jumat, 08 April 2011

Siraman Rohani Di Hari Jum'at

Meraih Ampunan Allah Dengan Bertaubat

Sebagian besar manusia hidup untuk mengejar impian sepanjang hidup mereka. Upaya mereka berpusat pada satu tujuan yaitu kesempurnaan. Menurut mereka manusia yang ideal adalah manusia yang mampu menyebarkan aura kesempurnaan. Namun, konsekuensi logis dari usaha itu adalah keniscayaan terjadinya kesalahan dalam melangkah terlebih bila ikhtiar menuju kesempurnaan itu tanpa didasari background spiritual yang cukup.
Meski demikian, gambaran ideal itu hanyalah tujuan yang ilusioner (khayalan). Gambaran orang mukmin seperti itu tidak pernah ada. Hal itu karena pada hakikatnya manusia itu lemah, rendah, dan tidak berdaya di hadapan Allah Tuhan semesta alam. Konsekuensinya, manusia dapat berbuat kesalahan sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, manusia akan berusaha melakukan hal yang terbaik untuk menghindari dosa dan kesalahan. Sebagai hamba yang lemah dihadapan Allah, manusia tidak pernah lepas dari kesalahan.
Al Qur'an menyebutkan bahwa manusia selalu melakukan dosa dan kesalahan:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً
" Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya“. (QS. Fathir: 45).
Ayat tersebut memerintahkan agar manusia selalu memohon ampunan Allah. Itulah sifat yang membedakan antara orang mukmin dengan orang kafir. Orang kafir selalu berusaha menutupi kesalahan dan dosa yang mereka lakukan sedangkan orang mukmin tidak pernah melakukan hal itu. Hal yang paling penting bagi orang mukmin adalah merasakan penyesalan dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada Allah seraya memohon ampunanNya. Dengan membaca Al Qur'an, manusia akan mendapati bahwa keinginan untuk memohon ampun pada Allah adalah suatu kewajaran.
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
" Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.". (QS. At Taubah: 111-112).
Memohon ampunan Allah adalah aspek keseharian dalam ibadah orang mukmin. Manusia dapat meminta ampunan sepanjang hari atas segala kesalahan dan dosa baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Lebih jauh lagi, seperti halnya meminta ampunan bagi diri sendiri, orang mukmin dapat memintakan ampun bagi orang mukmin yang lainnya.
Dalam bahasa arab, istilah untuk meminta ampun adalah istighfar yang berarti menutupi, melindungi dan menyembunyikan semuanya atau mengembalikan pada keadaan semula. Taubat dapat dimaknai dengan "Kembali". Maksudnya berjanji tidak melakukan lagi melakukan dosa.
Berkenaan dengan hal ini, seseorang yang bertaubat kepada Allah haruslah berjanji dan menerapkan dalam hidupnya beberapa hal berikut ini :
  1. Hendaklah benar-benar beristighfar atau memohon ampunan Allah atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
  2. Meninggalkan perbuatan maksiat dan bercita-cita untuk meninggalkannya pada waktu yang akan dating.
  3. Menyesali segala perbuatan maksiat yang telah dilakukan.
  4. Apabila perbuatan dosa itu berkaitan dengan hak-hak manusia, hendaklah memohon kema’afan dari orang yang dia bersalah kepadanya.
  5. Mengganti perbuatan maksiat dengan perbuatan yang baik dan bernilai ibadah disisi Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الانْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. At Tahrim: 8).
Yang dimaksud murni dalam ayat tersebut adalah taubat yang semata-mata karena Allah dan tidak ada motif-motif lain yang mencampurinya. Bagi mereka yang mampu memurnikan jiwanya dari orientasi keliru dalam bertaubat, maka orang itu telah mengantongi salah satu tanda orang yang bertaqwa. Dalam diskripsi Al Quran, orang yang bertaqwa bukanlah orang yang sempurna tanpa cacat. Tetapi mereka yang setiap melakukan kealpaan, dia mengingat Allah kemudian bertaubat.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imron: 135).

Kamis, 07 April 2011

Kisah Teladan

Keteladanan Ali Dan Fatimah
Untuk Kehidupan Keluarga

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللّهَ قَرْضاً حَسَناً فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافاً كَثِيرَةً وَاللّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan“. ( Q. S. Al-Baqoroh: 245 ).
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang waktu Ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari penuh mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah semakin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sedikitpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala." Begitu lembut dan menyejukkan hati ucapan Fatimah ini.
Terima kasih, jawab Ali.
Berlinang air mata Ali menahan rasa haru karena istrinya begitu sabar dan tawakal. Padahal persediaan makanan di dapur sudah tidak ada sama sekali, namun Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau bersedih. Ali lalu berangkat ke Masjid untuk menjalankan shalat berjama'ah. Sepulang dari melaksanakan shalat, di perjalanan menuju pulang ia dihentikan oleh seseorang yang sudah tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?"
Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?'
Orang tua itu merogoh sakunya seraya menjawab, Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, keburu ayahmu meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya. Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar. Sesampainya di rumah Ali menceritakan peristiwa yang dia alami di jalan menuju pulang dari Masjid tadi. Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka itu. Dan Fatimah meminta agar Ali membelanjakan uang tersebut untuk keperluan keluarga.  Ali pun bergegas berangkat ke pasar.
Sebelum masuk ke dalam pasar, ia bertemu dengan seorang fakir menadahkan tangan meminta sedekah, dengan ungkapat kata, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, saya adalah seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.
Melihat orang fakir itu, timbul rasa prihatin dihati Ali,Tanpa berpikir panjang, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu. Kemudian Ali-pun pulang. Adapun Fatimah merasa heran melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya di pasar.
Fatimah tersenyum dan berkata, Keputusan kanda adalah yang terbaik, seandainya saya mengalami hal yang seperti itu, saya juga akan melakukan seperti apa yang telah kanda lakukan. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita. Aku ridho dengan apa yang kanda lakukan.
Ali pun merasa semakin terharu atas sikap istrinya yang begitu ikhlas dan bersabar dalam derita serta sangat bertawakkal kepada Allah. Ali bersyukur sembari memuji Allah atas karuniaNya yang telah memberi istri yang shalihah kapadanya.
Hikmah Yang Dapat Diambil Dari Kisah Di Atas:
  1. Seorang suami harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan harus berusaha secara maksimal. Setelah berupaya secara maksimak barulah bertawakkal kepada Allah. Dalam hal ini Ali sudah memberi contoh dengan berupaya seharian mencari rezki untuk kehidupan keluarganya.
  2. Seorang istri harus mampu menerima keadaan sepahit apapun kehidupan yang sedang dihadapi, terlebih lagi apabila suami sudah merupaya dengan maksimal untuk mencari rezeki demi kehidupan keluara. Hal ini sudah dicontohkan oleh Fatimah, dia masih dapat tersenyum menyambut kepulangan suaminya kendatipun kepulangan suaminya dari mencari nafkah tidak membawa hasil apa-apa, bahkan dihiburnya hati suaminya agar tidak berputus asa.
  3. Jangan cerca suami dengan menyudutkan dan meremehkannya, tapi hiburlah hatinya dengan menunjukkan sikap bahwa kesusahan yang dihadapi akan di hadapi secara bersama. Dengan sikap seperti itu insya Allah suami merasa ada teman dalam derita dan mungkin di hari esok dia akan lebih bersemangat untuk berusaha. Ingatlah………….! Kebahagiaan dalam berumah tangga tidak hanya dapat diukur pada saat segala pasilitas kehidupan dapat terpenuhi, namun tidak jarang dalam kesulitan ekonomi keluarga, justru banyak pasangan suami istri tetap hidup dalam kebahagiaan. Semua itu tergantung kepada kemampuan dalam memahami arti kehidupan. Disisi lain banyak pula terdapat pasangan suami istri yang hidup mereka dilengkapi dengan segala pasilitas yang mendukung segala kebutuhan dan keinginan, namun keluarga mereka jauh dari memperoleh kebahagiaan. Memang harus diakui bahwa harta kekayaan merupakan salah satu faktor untuk memperoleh kebahagiaan, namun harus pula disadari bahwa harta kekayaan bukan satu-satunya faktor untuk menjadikan seseorang bahagia.
  4. Bersedekah adalah perbuatan yang disenangi Allah, uang yang kita sedekahkan itu adalah sesuatu yang kita pinjamkan kepada Allah dan kelak di akhirat Allah akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.



Rabu, 06 April 2011

Perbuatan Baik Akan Dibalas Allah Dengan Kebaikan

Saat berada di Kaki Jabal Tsur Makkah
SIKAP WARA' YANG MENGUNTUNGKAN

Jangan pernah berpikir bahwa orang yang sempurna dan mulia adalah orang yang mengenakan pakaian yang mewah, akan tetapi orang yang sempurna dan mulia dalam pandangan Allah adalah yang menjauhi maksiat, menekuni amal secara rutin, beramal saleh, dan menuntut ilmu dengan penuh adab, karena ilmu akan menuntun pemiliknya mencapai kemuliaan.

Al-Kisah:
Suatu hari Abdullah bin Mubarak berkata, "Aku akan mengerjakan perbuatan yang akan membuatku mulia." Ia lalu menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang alim. Waktu ia memasuki kota Madinah, masyarakat berbondong-bondong menyambut kedatangannya, hingga hampir-hampir saja mereka saling terbunuh karena berdesak-desakan. Ibu suri raja yang kebetulan menyaksikan kejadian itu bertanya, "Siapakah orang yang datang ke kota kita ini? "Ia adalah salah seorang ulama Islam," jawab pelayannya.

Ibu suri kemudian berkata kepada anaknya yang telah diangkat menjadi Raja, "Perhatikanlah wahai anandaku, bagaimana masyarakat berbondong-bondong mendatanginya. Dia tidak seperti kamu. Kamu, jika menginginkan sesuatu, harus memerintah seseorang untuk melakukannya, dan mereka mamatuhimu karena kamu seorang raja. Tetapi, mereka mendatanginya dengan sukarela, itu dikarenakan kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya.

Abdullah sesungguhnya adalah anak seorang budak berkulit hitam bernama Mubarak. Budak ini betisnya kecil, bibirnya tebal dan telapak kakinya pecah-pecah. Walaupun demikian, ia adalah seorang yang sangat wara`(sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu). Ke-wara'-annya ini akhirnya membuahkan anak yang shaleh.

Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun. Suatu hari tuannya datang ke kebun.

Mubarak, petikkan aku anggur yang manis," perintah tuannya.

Mubarak pergi sebentar lalu kembali membawa anggur dan menyerahkannya kepada tuannya.

Mubarak, anggur ini asam rasanya, tolong carikan yang manis!" kata tuannya setelah memakan anggur itu.

Mubarak segera pergi, tidak lama kemudian ia kembali dengan anggur yang lain. Anggur itu dimakan oleh tuannya.

Bagaimana kamu ini, aku suruh petik anggur yang manis, tapi lagi-lagi kamu memberiku anggur yang asam, padahal kamu telah dua tahun tinggal di kebun ini," tegur tuannya dengan perasaan kesal.

Tuanku, aku tidak bisa membedakan anggur yang manis dengan yang asam, karena Tuan mempekerjakan aku di kebun ini hanya sebagai penjaga. Sejak tinggal di sini aku belum pernah merasakan sebutir anggur pun, bagaimana mungkin aku dapat membedakan yang manis dengan yang asam?" jawabnya.
Tuannya tertegun mendengar jawaban Mubarak. Ia seakan-akan memikirkan sesuatu. Kemudian pulanglah ia ke rumah.

Pemilik kebun itu memiliki seorang anak gadis. Banyak pedagang kaya telah melamar anak gadisnya, namun ia belum berkenan menerima pinangan mereka.

Sesampainya dirumah, ia berkata kepada istrinya, "Aku telah menemukan calon suami untuk anak kita."

Siapa dia?" tanya istrinya.

Mubarak, pemuda yang menjaga kebun kita.

Bagaimana kamu ini? Apakah puteri kita hendak kamu nikahkan kepada seorang pemuda hitam yang tebal bibirnya. Kalau pun kita rela, belum tentu anak kita sudi menikah dengan pemuda itu.

Cobalah kamu sampaikan maksudku ini kepada anak kita, aku melihat pemuda itu sangat wara' dan senantiasa bertakwa kepada Allah.

Kemudian sang istri pergi menemui anak gadisnya, anakku, Ayahmu akan menikahkanmu dengan seorang pemuda yang bernama Mubarak. Aku datang untuk meminta persetujuanmu.

Ibu, jika ayah dan ibu memilih dia untuk menjadi suamiku, aku pun tentu setuju. Siapakah yang mampu memperhatikanku lebih tulus daripada kedua orang tuaku? Lalu mengapa aku harus tidak setuju?

Sang ayah yang kaya raya itu kemudian menikahkan anak gadisnya dengan Mubarak. Dari pernikahan mereka, lahirlah Abdullah bin Mubarak yang kelak menjadi seorang yang ‘alim, zuhud, tekun beribadah dan menjadi ulama’ terkemuka.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini:

  1. Sikap wara’ ( berhati-hati ) dalam tindakan akan selalu mendatangkan kemulian bagi seseorang.
  2. Orang mukmin yang beriman tidak membeda-bedakan status sosial terhadap seseorang.
  3. Seorang istri seharusnya selalu mendukung niat baik dari suaminya.
  4. Seorang anak harus menunjukkan sikap pengabdiannya kepada kedua orang tua, terlebih-lebih apabila keputusan orang tua untuk dirinya itu berdasarkan penilaian dari sudut pandang agama.



Senin, 04 April 2011

Carilah Sahabat Yang Baik

NILAI PERSAHABATAN
Suatu hari, Nabi Isa AS melakukan perjalanan dengan seorang temannya. Mereka hanya berbekal tiga potong roti. Ketika sampai di suatu tempat, mereka berdua beristirahat. "Bawa roti itu kemari," kata Nabi Isa AS kepada temannya. Lelaki itu memberikan dua potong roti. "Mana yang sepotong lagi?" tanya Nabi Isa."Aku tidak tahu."Jawab temannya.
Setelah masing-masing memakan sepotong roti, Nabi Isa dan temannya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tepi laut. Nabi Isa menggelar sajadahnya di atas air laut, mereka berdua berlayar ke seberang. Sajadah yang dapat dijadikan sebagai perahu adalah satu diantara mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Isa.
Demi Allah yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, aku bertanya kepadamu, siapakah yang telah memakan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa kepada temannya."Aku tidak tahu." Jawabnya.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka melihat seekor kijang. Nabi Isa memanggil kijang itu. Lalu kijang itu pun datang menghampiri beliau. Beliau lalu menyembelih, memanggang dan mereka berdua memakannya. Sehabis makan, Nabi Isa berkata kepada tulang-tulang kijang, "Berkumpullah kamu." Tulang-tulang itu pun berkumpul. Beliau lalu berkata, "Dengan izin Allah, jadilah kalian seperti semula." Tulang-tulang itu segera bangkit dan berubah menjadi kijang. Setelah itu Nabi Isa berkata kepada temannya, "Demi Allah yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang telah memakan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa AS."Aku tidak tahu," jawab temannya.
Nabi Isa bersama temannya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai pada sebuah tempat. Mereka duduk beristirahat. Nabi Isa memungut tiga bongkahan batu. Lalu berkata kepada batu itu, "Dengan izin Allah, jadilah emas. Batu itu pun segera berubah menjadi emas. Kemudian Nabi Isa berkata: "Ini untukku, yang ini untukmu dan yang satu lagi untuk orang yang telah memakan sepotong roti itu. Lantas teman Nabi Isa itu pun mengatakan, "Akulah yang telah memakan roti itu. Lantas Nabi Isa berkata kepadanya, "Ambillah semua emas ini, aku tidak mau berteman dengan pendusta. Nabi Isa pun meninggalkan temannya.
Lelaki tadi lalu duduk di dekat emasnya. Ia tidak mampu membawa ketiga-tiganya, tetapi juga tidak rela meninggalkan sebagian darinya. Ketika ia sedang memikirkan cara membawa ketiga bongkahan emas itu, datanglah dua orang lelaki. Melihat keindahan emas itu, timbul keinginan di hati kedua orang itu untuk memilikinya. Kalian tidak pantas mengambil milikku dan kalian sama sekali tidak akan mendapatkan bagian, kata pemilik emas.

Melihat mereka berdua hendak membunuhnya, ia segera berkata, "Emas ini kita bagi saja, satu untukku dan sisanya untuk kalian berdua."Mereka pun rela dengan pembagian itu. Ambillah sedikit dari bongkahan emas ini, pergilah beli makanan, kata pendatang kepada pemilik emas. Setelah mengambil sedikit emas tersebut, ia lalu pergi membeli makanan untuk mereka bertiga.
Dalam perjalanan membeli makanan si pemilik emas berpikir: "Untuk apa aku membagi emas itu dengan mereka berdua, emas itu kan milikku," maka timbullah niat jahat dihatinya untuk meracuni makanan yang ia bawa. "Jika mereka berdua mati, emas itu akan jatuh kembali ke tanganku, pikir si pemilik emas. Ia lalu membeli racun yang paling ganas, siapa pun yang memakannya pasti akan mati seketika. Racun itu lalu ia taburkan di atas makanan mereka.
Kedua pendatang tadi juga mempunyai rencana, "Mengapa kita harus memberi dia. Jika telah kembali, kita bunuh saja dia. Emas itu semua akan menjadi milik kita berdua.
Mereka berdua kemudian membunuh si pemilik emas. Dan dengan perasaan senang karena mendapat emas lebih banyak, kedua lelaki itu kemudian menyantap dengan lahap makanan yang baru saja dibeli. Maka keduanya-pun seketika mati.
Beberapa tahun kemudian Nabi Isa bersama kaumnya melewati tempat itu. Mereka melihat tiga bongkahan emas dan tiga kerangka manusia. Maka Nabi Isa menceritakan kisah yang terjadi dan berkata kepada kaumnya. Inilah akibat dari orang-orang yang dipengaruhi kehidupan dunia.
Nabi Isa kemudian berdiri di depan emas dan berkata, "Jadilah seperti asalmu." Emas itu pun kembali menjadi batu.
Hikmah yang dapat diambil:
  1. Tidak baik berteman kepada pembohong.
  2. Banya manusia yang hidupnya hanya mementingkan dunia semata, padahal hidup di dunia ini sifatnya hanya sementara.
  3. Manusia yang hanya mementingkan kehidupan dunia, tidak akan pernah merasa cukup dari apa yang sudah dia miliki.

Ingatlah………! Mengejar dunia seperti meminum air laut, semakin diminum bahkan semakin dahaga.




Minggu, 03 April 2011

Kajian Hadits


Terowongan Mina, Makkah Arab Saudi
Jauhilah Perbuatan Yang Meresahkan
عَنْ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ . [رَوَاهُ مُسْلِم] .
وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جِئْتَ تَسْألُ عَنِ الْبِرِّ قُلْتُ : نَعَمْ، قَالَ : اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ "
[حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين أحمد بن حنبل والدارمي بإسناد حسن]
Artinya : Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengaggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui  manusia “ (Riwayat Muslim).
Dan dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahuanhu dia berkata : Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda : Engkau datang untuk menanyakan kebaikan ?, saya menjwab : Ya. Beliau bersabda : Mintalah pendapat dari hatimu, kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya. (Hadits hasan kami riwayatkan dari dua musnad Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad Darimi dengan sanad yang hasan).
Pelajaran yang terdapat dalam hadits:
  1. Tanda perbuatan dosa adalah timbulnya keragu-raguan dalam jiwa dan tidak suka kalau hal itu diketahui orang lain.
  2. Siapa yang ingin melakukan suatu perbuatan hendaklah dia menanyakan hal tersebut pada hatinya, sebab hati selalu tidak dapat dibohongi tentang kebenaran apa yang akan dia lakukan
  3. Hadits ini juga menganjurkan agar kita berakhlak mulia karena akhlak yang mulia termasuk unsur kebaikan yang besar nilainya di sisi Allah.
  4. Biasanya hati seorang mukmin akan tenang dengan perbuatan baik yang dia lakukan dan akan merasa gusar dengan melakukan perbuatan yang haram.
  5. Seorang mukmin hendaknya terlebih dahulu melihat ketetapan hukum tentang sesuatu perbuatan yang akan dia lakukan.
  6. Rasulullah SAW. ketika menyampaikan sesuatu kepada para sahabatnya selalu mempertimbangkan kondisi mereka, dengan kata lain Rasulullah berbicara selalu menyesuaikan pembicaraan dengan daya nalar lawan bicaranya.
  7. Syari’at islam sangat memberikan perhatian terhadap pendidikan agama seseorang, sehingga Rasul menyarankan agar apabila seseorang akan melakukan sesuatu hendaknya terlebih dahulu bertanya kepada hatinya apakah perbuatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan syari’at islam apa tidak.
Sumber data: Syarhul Arba'iina Hadiitsan An Nawawiyah