Selasa, 12 April 2011

Perbaiki Diri Dari Kelalaian


LALAI AKAN MEMBAWA CELAKA
Dalam menjalankan kehidupan di bumi ini banyak manusia yang lalai akan kewajibannya kepada Allah. Sifat lalai itu merupakan racun yang sangat mematikan, penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merusak jiwa, serta melumpuhkan gairah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Kelalaian man usia dari mengingat Allah akan merugikannya terutama dalam kehidupan di akhirat kelak. Banyak manusia yang terjebak dengan kesenangan hidup di dunia ini,  angan-angan yang berlebihan telah menipunya. Banyak manusia yang disetir oleh keinginan-keinginan buruk, dipengaruhi dorongan hawa nafsu dan bisikan syaitan yang selalu menyuruh kepada perbuatan tercela, namun sayangnya menusia yang seperti itu masih banyak yang mengira bahwa mereka sudah banyak berbuat kebaikan.
Allah SWT.  berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 1:
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مَّعْرِضُونَ
 Artinya: " Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).
Manusia yang memperturutkan keinginan nafsunya berakibat ia akan lalai dari mengingat Allah, urusan dan kepentingannya terutama untuk kehidupan akhirat akan terabaikan, dia kurang memperhatikan terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan/kebaikan untuk kehidupannya. Manusia yang seperti ini akan selalu menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat, bahkan justru mendatangkan malapetaka baginya.
Dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 103 Allah berfirman :
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman-walaupun kamu sangat menginginkannya”.
Firman Allah dalam surat Al An'am ayat 116
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Artinya: " Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.
Firman Allah dalam surat Yunus ayat 92:
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ  …………………………

Artinya: "………………………Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami".
Manusia yang lalai dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah pada hari kiamat kelak tidak akan dapat memberikan argumen dalam membela diri bahwa kelalaiannya semasa hidupnya di dunia diakibatkan tidak mengetahui kejadian yang akan dialaminya dalam kehidupan akhirat. Argumen apapun tidak akan diterima, sebab Allah telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, melarang untuk menyekutukanNya. Rasul yang diutus menyampaikan kepada manusia agar meninggalkan jalan-jalan yang menyesatkan. Disisi lain Allah telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan agar manusia jangan tertipu akan kehidupan dunia, dan manusia diberi peringatan akan adanya kehidupan akhirat dan dalam kehidupan akhirat itu akan diminta pertanggung jawaban dari segala apa yang dikerjakan manusia semasa hidupnya di dunia. Oleh sebab itu manusia tidak akan dapat mengelak dari tuntutan Allah terhadap kelalaiannya untuk beribadah kepadaNya.
Siksa bagi orang yang lalai .
Orang-orang yang lalai akan kewajibannya untuk beriman dan beribadah kepada Allah akan mendapatkan sangsi, baik di dunia maupun di akhirat. Allah SWT. berfirman tentang ummat Nabi Musa as tatkala mereka mendustakan dan menyakitinya.
فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَكَانُواْ عَنْهَا غَافِلِينَ
Artinya: "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggalamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." (Qs: Al-A'raf: 136) .
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyiapkan neraka Jahannam sebagai tempat siksaan di akhirat bagi orang-orang yang lalai. Firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: " Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Ayat ini menjelaskan bahwa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah neraka Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan tergerak sedikitpun akan pengajaran dan perintan Allah dan RasulNya, hati mereka bagaikan batu, bahkan lebih keras.
Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan dhahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.
Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, kebohongan, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sunnah Rasul-Nya.
Firman Allah dalam surat Yunus ayat 7 -8 :
إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ  أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan “.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menginformasikan bahwa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang ridha dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai.
Allah berfirman An Nahl :106-108.
مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَـكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٠٦﴾ ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّواْ الْحَيَاةَ الْدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿١٠٧﴾ أُولَـئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿١٠٨﴾
Artinya: " Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai.
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas mari kita melakukan intropeksi diri apakah kita termasuk dari golongan manusia yang lalai. Andaikan kita termasuk di dalamnya mari kita segera memperbaiki diri, kejarlah ketinggalan, dan mulailah menata diri dengan cara-cara yang disyari'atkan Allah agar kita mampu melepaskan diri dari cengkaraman kelalaian sepanjang masa, dengan demikian insya Allah kita akan selamat baik di dunia maupun di akhirat, dan kita berharap semoga ridha Allah akan menyertai kita.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Senin, 11 April 2011

TUJUH KRITERIA MENJADI HAMBA YANG SHALIH

KRITERIA HAMBA YANG SHALIH

Banyak menusia yang menginginkan dirinya menjadi hamba Allah yang shalih. Bahkan, saat selesai berwudhu’ kita disunnatkan berdo’a, salah satu do’a yang kita mohon kepada Allah adalah agar kita dijadikan Allah menjadi hamba-hambanya yang shalih.

Nabi Ibrahim AS sebagai seorang nabi-pun berdo'a kepada Allah agar ia dijadikan sebagai hamba yang shalih. Do’a nabi Ibrahim ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu'ara ayat 83:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

"(Ibrahim berdo`a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih”.

Untuk menjadi hamba yang shalih, perlu diketahui kriteria sebagai hamba yang shalih tersebut. Dengan mengetahui kriteria tersebut, diharapkan kita dapat berupaya untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga di hadapan Allah kita termasuk dalam golongan hamba-hambanya yang shalih.

Adapun kriteria hamba yang shalih itu, disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 113-114.

لَيْسُواْ سَوَاء مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللّهِ آنَاء اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ﴿١١٣﴾ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُوْلَـئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١١٤﴾

Artinya : “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh “.

Dalam ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa ada tujuh kreteria sebagai hamba yang shalih, yaitu :

Pertama, orang yang berlaku lurus, memiliki karakter istiqamah. Yakni, teguh pendirian, konsisten, dan memiliki komitmen dalam meyakini dan melakukan kebenaran.

Kedua, senantiasa membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis maupun yang tercipta di alam yang terbentang ini.

Ketiga, mereka yang senantiasa sujud di tengah keheningan malam, dengan melaksanakan shalat malam.

Keempat, beriman kepada Allah. Setiap perbuatan dan tingkah lakunya dilandasi dengan selalu ingat kepada Allah.  Dengan selalu ingat kepada Allah akan menjadi alat kontrol dan stabilitator baginya dari berbagai kemaksiatan dan dosa.

Kelima, beriman kepada hari akhir. Kehidupan hamba yang shalih senantiasa beroritenasi kepada kehidupan akhirat. Ia mengisi waktunya dengan kegiatan positif yang bernilai ibadah.

Keenam, mengajak orang lain untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan atau kemaksiatan. Ia selalu berupaya menjadi teladan, sehingga orang lain bisa mengikutinya.

Ketujuh, segera melakuan kegiatan positif. Hamba yang shaleh senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan yang dilandasi dengan keikhlasan dan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Tujuh karakter di atas merupakan karakter hamba yang shalih. Dari ayat ini pula dapat disimpulkan bahwa keshalehan tersebut mencakup dua hal, yaitu keshalihan Spritual dan keshalihan sosial.

Semoga kita mempu menerapkan tujuh kriteria di atas sehingga kita termasuk ke dalam katagori orang-orang yang shalih.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

 


Minggu, 10 April 2011

Kunci Meraih Kebahagiaan

Dua Puluh Tiga Kiat Mencapai Bahagia
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di di dalam kitabnya yang berjudul “Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah” ( Kiat-kiat mencapai kabahagian hidup ) memaparkan, bahwa sekurang-kurangnya ada dua puluh tiga kiat yang dapat diterapkan untuk mencapai hidup bahagia. Di sini dinukilkan kesimpulan dari kitab tersebut:
  1. Beriman dan beramal shalih dengan sebenarnya, sebab orang yang beriman dan beramal shalih akan selalu menyandarkan hidupnya kepada kekuasaan Allah, dan itu akan membuat hatinya bahagia selalu.
  2. Berprilaku baik melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk yang ma’ruf/baik.
  3. Bersikap adil dan bijaksana dalam bergaul, sebab hidup dalam lingkungan pergaulan yang kondusip akan membuat hati menjadi tentram.
  4. Melakukan tindakan-tindakan yang utama/mulia dan tidak membuat orang lain merasa resah.
  5. Menciptakan suasana jernih dibalik kekeruhan yang ada.
  6. Menjadikan ketenangan bathin dan pemusatan pikiran untuk membantu anda dalam menangani pekerjaan penting.
  7. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tanpa menunda-nundanya, sebab kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.
  8. Pandai-pandailah memilih pekerjaan agar tidak terjerumus kepada perbuatan yang mendatangkan dosa.
  9. Jangan terpancing emosi oleh tutur kata buruk dari seseorang yang diarahkan kepada anda.
  10. Arahkan pikiran kepada sesuatu yang bemanfa’at untuk kehidupan akhirat maupun kehidupan dunia.
  11. Menata hati untuk semata-mata mengharap keridhaan Allah dalam berbuat kebajikan.
  12. Konsentrasikan pikiran untuk menghadapi hari ini, sebab dengan demikian pekerjaan akan mudah dilaksanakan dan itu akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri.
  13. Masa kehidupan dunia yang pendek ini jangan dipendekkan lagi dengan kegundahan hati dan larut dalam kekeruhan pikiran.
  14. Yakinkan diri bahwa cobaan dalam hidup adalah kecil bila dibandingkan dengan banyaknya karunia Allah.
  15. Lupakanlah cobaan yang telah berlalu apabila itu mengganggu konsentrasi dan melemahkan semangat dalam kehidupan, namun kenanglah apabila dapat menjadikan intropeksi diri untuk mengarahkan kehidupan kepada yang lebih baik lagi.
  16. Sikapilah cobaan yang menimpa kita adalah merupakan masalah yang ringan, agar tidak melemahkan semangat dalam kehidupan.
  17. Jangan mudah terguncang oleh bayangan buruk, sebab itu akan menjadikan diri anda lemah.
  18. Memohonlah kepada Allah agar segala urusan dimudahkanNya.
  19. Perbanyaklah zikir kepada Allah karena dengan berzikir hati akan menjadi tentram.
  20. Syukurilah  segala nikmat yang diberikan Allah, karena itu akan mendatangkan ridha Allah
  21. Sibukkan diri dengan melakukan suatu pekerjaan atau mengkaji ilmu pengetahuan yang bermanfa’at, sebab dengan ilmu pengetahuan seseorang akan mengalami kemajuan.
  22. Dalam kehidupan dunia pandanglah ke bawah agar kita lebih bersyukur kepada Allah, dan untuk kehidupan akhirat pandanglah ke atas agar semangat beribadah senantiasa meningkat.
  23. Percayalah sepenuhnya akan kekuasaan Allah agar hidup tidak takluk kepada bayangan-bayangan buruk yang menghantui kehidupan.

Sabtu, 09 April 2011

Belajar Membaca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad

Belajar Tilawah Al-Qur'an dengan cara Mujawwad oleh Syaikh Ahmad Mustafa.
Bagi Qori' - Qori'ah yang menekuni dan mendalami bacaan Al-Qur'an secara mujawwad, video ini dapat membantu anda untuk menambah ilmu pengetahuan dalam seni baca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad ( membaca Al-Qur'an dengan menerapkan lagu-lagu Al-Qur'an ).  Untuk itu bagi yang berminat silakan Download, Semoga bermanfa'at.

Belajar Membaca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad

Belajar Tilawah Al-Qur'an dengan cara Mujawwad oleh Syaikh Ahmad Mustafa.
Bagi Qori' - Qori'ah yang menekuni dan mendalami bacaan Al-Qur'an secara mujawwad, video ini dapat membantu anda untuk menambah ilmu pengetahuan dalam seni baca Al-Qur'an dengan cara Mujawwad ( membaca Al-Qur'an dengan menerapkan lagu-lagu Al-Qur'an ).  Untuk itu bagi yang berminat silakan Download, Semoga bermanfa'at.

Ratapan Gadis Kecil di Kubur Ayahnya


Hasan al-Bashri dan Gadis Kecil
Suatu sore Hasan al-Bashri sedang duduk di teras rumahnya, ia sedang bersantai menikmati semilir angin yang berhembus. Tidak lama setelah ia duduk, lewat iring-iringan orang membawa jenazah. Bersama dengan iring-iringan tersebut berjalan seorang gadis kecil sambil menangis terisak. Rambutnya tampak kusut dan terurai tidak beraturan. Hasan al-Bashri tertarik akan penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan ikut dalam iring-iringan tersebut. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.
Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya belum pernah mengalami peristiwa seperti ini.
Keesokan harinya, usai shalat subuh, ketika matahari terbit di ufuk timur, sebagaimana biasanya Hasan al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil yang kemarin, lewat di depan rumahnya menuju ke ke arah kubur ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Hasan al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu".
Gadis kecil itu tiba di kubur ayahnya. Hasan al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-gerik gadis kecil tersebut. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah kuburan ayahnya. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar oleh Hasan al-Bashri.
Ayah, bagaimana keadaanmu yang tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur?
Ayah………..! kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu?
Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah?
Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah?
Kemarin aku yang menyiapkan minum untuk ayah, siapa yang memberimu minum tadi malam?
Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu tadi malam, Ayah?.
Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau tadi malam, ayah?
Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan wajahmu tadi malam, Ayah?
Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam.
Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, tadi malam siapakah yang menyuapimu, Ayah?
Kemarin malam aku memasakkan makanan untukmu, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tidak tahan mendengar rintihan tersebut. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyapa gadis kecil itu dan berkata.
Hai, gadis kecil! Jangan berkata seperti itu nak. Tetapi, ucapkanlah:
Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah.
Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik.
Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"
Ayah, Ulama mengatakan bahwa seorang hamba yang mati ditanya tentang imannya. Ada yang mampu menjawab dan ada juga yang tidak mampu menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?.
Ayah, Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?.
Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sehingga tulang-belulangnya berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?.
Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?.
Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan tanah di kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?.
Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat kelak.
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah kata-kata yang engkau ajarkan kepadaku untuk pengganti ratapanku kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari kelalaianku.
Ya Allah, ampunkanlah aku dan kedua orang tuaku, pertemukanlah kami kelak diakhirat dalam naungan rahmat dan keridhoanMu.
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan kubur. Mereka pulang sembari berderai air mata.
Subhanallah……………….! Mari kita jadikan kisah ini sebagai I’tibar bagi kita semua, semoga di akhirat kelak kita dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan orang tua dan keluarga kita.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah.

Jumat, 08 April 2011

Siraman Rohani Di Hari Jum'at

Meraih Ampunan Allah Dengan Bertaubat

Sebagian besar manusia hidup untuk mengejar impian sepanjang hidup mereka. Upaya mereka berpusat pada satu tujuan yaitu kesempurnaan. Menurut mereka manusia yang ideal adalah manusia yang mampu menyebarkan aura kesempurnaan. Namun, konsekuensi logis dari usaha itu adalah keniscayaan terjadinya kesalahan dalam melangkah terlebih bila ikhtiar menuju kesempurnaan itu tanpa didasari background spiritual yang cukup.
Meski demikian, gambaran ideal itu hanyalah tujuan yang ilusioner (khayalan). Gambaran orang mukmin seperti itu tidak pernah ada. Hal itu karena pada hakikatnya manusia itu lemah, rendah, dan tidak berdaya di hadapan Allah Tuhan semesta alam. Konsekuensinya, manusia dapat berbuat kesalahan sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, manusia akan berusaha melakukan hal yang terbaik untuk menghindari dosa dan kesalahan. Sebagai hamba yang lemah dihadapan Allah, manusia tidak pernah lepas dari kesalahan.
Al Qur'an menyebutkan bahwa manusia selalu melakukan dosa dan kesalahan:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً
" Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya“. (QS. Fathir: 45).
Ayat tersebut memerintahkan agar manusia selalu memohon ampunan Allah. Itulah sifat yang membedakan antara orang mukmin dengan orang kafir. Orang kafir selalu berusaha menutupi kesalahan dan dosa yang mereka lakukan sedangkan orang mukmin tidak pernah melakukan hal itu. Hal yang paling penting bagi orang mukmin adalah merasakan penyesalan dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada Allah seraya memohon ampunanNya. Dengan membaca Al Qur'an, manusia akan mendapati bahwa keinginan untuk memohon ampun pada Allah adalah suatu kewajaran.
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
" Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.". (QS. At Taubah: 111-112).
Memohon ampunan Allah adalah aspek keseharian dalam ibadah orang mukmin. Manusia dapat meminta ampunan sepanjang hari atas segala kesalahan dan dosa baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Lebih jauh lagi, seperti halnya meminta ampunan bagi diri sendiri, orang mukmin dapat memintakan ampun bagi orang mukmin yang lainnya.
Dalam bahasa arab, istilah untuk meminta ampun adalah istighfar yang berarti menutupi, melindungi dan menyembunyikan semuanya atau mengembalikan pada keadaan semula. Taubat dapat dimaknai dengan "Kembali". Maksudnya berjanji tidak melakukan lagi melakukan dosa.
Berkenaan dengan hal ini, seseorang yang bertaubat kepada Allah haruslah berjanji dan menerapkan dalam hidupnya beberapa hal berikut ini :
  1. Hendaklah benar-benar beristighfar atau memohon ampunan Allah atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
  2. Meninggalkan perbuatan maksiat dan bercita-cita untuk meninggalkannya pada waktu yang akan dating.
  3. Menyesali segala perbuatan maksiat yang telah dilakukan.
  4. Apabila perbuatan dosa itu berkaitan dengan hak-hak manusia, hendaklah memohon kema’afan dari orang yang dia bersalah kepadanya.
  5. Mengganti perbuatan maksiat dengan perbuatan yang baik dan bernilai ibadah disisi Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الانْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. At Tahrim: 8).
Yang dimaksud murni dalam ayat tersebut adalah taubat yang semata-mata karena Allah dan tidak ada motif-motif lain yang mencampurinya. Bagi mereka yang mampu memurnikan jiwanya dari orientasi keliru dalam bertaubat, maka orang itu telah mengantongi salah satu tanda orang yang bertaqwa. Dalam diskripsi Al Quran, orang yang bertaqwa bukanlah orang yang sempurna tanpa cacat. Tetapi mereka yang setiap melakukan kealpaan, dia mengingat Allah kemudian bertaubat.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imron: 135).