Minggu, 15 Mei 2011

Manakala Nabi Muhammad Tidak Lagi di Idolakan

Manakala Nabi Muhammad 
Tidak Lagi di Idolakan
Ummat Islam sesungguhnya mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang mulia (Khuluqun ‘azim). Tidak ada orang yang mampu menandingi kemuliaan akhlaknya. Jangankan kepada teman, kepada lawan pun ia menunjukkan akhlak yang terpuji. Bahkan, saat Aisyah (istri Nabi) ditanya orang tentang bagaimana akhlak Nabi Muhammad, beliau mengatakan akhlak Rasul adalah Al-Qur’an. Maksudnya, apa yang ada dalam Al-Qur’an, semuanya sudah teraplikasi dalam kehidupan Rasulullah SAW.

Pengakuan itu bukan hanya diakui oleh para sahabatnya dan orang-orang yang hidup pada zamannya, tetapi Allah pun menyanjungnya dengan sanjungan yang tinggi, seperti yang tertuang dalam firman Allah pada surat Al-Qolam ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya : “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung“.
Kalau ada ungkapan seperti berikut ini, agaknya yang pantas untuk menerimanya adalah Nabi Muhammad SAW: “ Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan. Senyum simpulnya penuh dengan persahabatan. Uluran tangannya adalah nilai-nilai sodaqoh. Langkah kakinya semangat jihad. Untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasehat. Diamnya pun merupakan zikir dan fikir “.  Inilah sosok manusia yang rindu orang untuk bertemu dengannya, tapi malas orang berpisah pada saat sudah berjumpa dengannya. Dalam hal ini Penulis ingin mengatakan, jangankan bertemu kepada orangnya secara langsung, berada dekat kuburnya saja pun orang malas untuk beranjak meninggalkan kuburnya. Hal yang demikian dapat penulis saksikan pada saat jama’ah haji berziarah ke kuburnya di Madinah Al-Munawwaroh.

Karena itu, tepatlah kalau Allah memerintahkan kepada kita sebagai ummatnya untuk menjadikan Rasulullah sebagai Uswatun hasanah (idola) dalam segala aspek kehidupan; Baik dalam kehidupan berumah tangga, sosial, bahkan politik sekalipun. Akhlak Rasulullah sangat luas, tidak hanya mencakup satu aspek saja. 

Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21 :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “.

Namun sangat disayangkan……..! Kenyataan yang biasa kita lihat saat ini, di zaman yang Modern ini, kebanyakan orang justru meng-idolakan para artis - artis dan bintang sinetron. Bahkan segala gaya hidup sang artis selalu ditiru, baik dari gaya bicara, penampilan, bahkan sampai kepada gaya berpakaian. Padahal sering sekali gaya hidup mereka tidak sesuai dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Bahkan, yang sangat menyedihkan, manakala ada orang yang menerapkan pola kehidupan seperti yang sudah dicontohkan Nabi, ada sementara orang yang memandangnya kolot, tidak jaman, bukan anak gaul, dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Sebab itu wajarlah kalau pola kehidupan masyarakat dewasa ini penuh dengan kekacauan dan kegalauan, sebab Nabi Muhammad yang sepantasnya di idolakan, justru malah sudah jauh ditinggalkan. Betapa hati menjadi pilu, setiap kali kita mengikuti berita, disana-sini terjadi kekacauan, tauran pelajar dan penduduk sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi, berita korupsi dan kolusi di kalangan petinggi negara sudah merupan santapan berita dikalangan publik, Prostitusi dan pemerkosaan sudah merupakan hal yang tidak mengherankan lagi. Semua dekadensi moral itu terjadi tidak lain sumbernya adalah bahwa manusia sudah tidak menjadikan Nabi Muhammad sebagai idola dalam hidupnya.

Apakah kondisi seperti ini dapat kita katakan “ Jahiliyah Modern “?. Tentu jawabannya ada pada diri anda .....................!

Mari kita rubah pola hidup dari yang kurang baik menjadi yang lebih baik, dengan menjadikan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah dan Idola kita semua.

Sabtu, 14 Mei 2011

Adakah Kebanggaan Yang Tersisa?

Adakah Kebanggaan Yang Tersisa?
Pada abad pertengahan ada seorang hukama’ yang bernama Ahnaf bin Qais. Suatu kesempatan ia pernah ditanya  oleh orang-orang yang gelisah melihat perilaku masyarakat yang sedang mengalami berbagai kebobrokan dalam kehidupan, yang sudah tidak lagi mementingkan nilai-nilai kemuliaan.

Wahai tuan guru, dengan kondisi masyarakat seperti sekarang ini, apakah ada yang tersisa pada kita yang masih dapat kita banggakan?.

Hukama’ tadi menjawab: ‘Aqlun Ghoriziyyun (Akal yang jernih). Orang-orang berkata: Tuan, sekarang sangat sulit mendapatkan orang yang akalnya masih jernih, kalau akal jernih tidak punya lalu adakah hal lain yang dapat dibanggakan?, tanya mereka.

Hukama kembali menjawab: Adabun shalihun (sopan santun yang terjaga). Saat ini masyarakat juga sudah tidak lagi menjaga sopan santun Tuan…..! Apakah ada selain dua hal itu yang dapat kita banggakan?.

Jawab Hukama’: Shohibun muwafiqun (sahabat sejati ). Orang-orang pun berkata: waduh…..! sahabat sejati juga  susah didapat, karena orang tidak lagi membela yang benar tetapi membela yang bayar. Masih adakah selain yang tiga itu wahai tuan guru?

Jawab Hukama’: Qalbun murabbithun (hati yang peka ), Wah, lagi-lagi yang itu juga saat ini jarang  didapat, kata orang-orang. Sekarang kebanyakan orang hatinya gelap, tidak peka, nuraninya mati. Apakah masih ada yang dapat kita banggakan wahai tuan guru?.

Sang Hukama’ kembali menjawab:  Thul as shumti (banyak diam). Benar, benar, benar, sebab diam itu emas, kata mereka. Namun sejenak kemudian diantara mereka ada yang berkata, tapi tuan guru, sekarang ini, semuanya mau bicara meski asal bicara, walaupun yang dibicarakan bukan bidang ilmu yang dikuasainya, sekarang ini sulit mencari orang yang mau diam merenung. Kalau lima hal itu juga tidak punya, masih adakah yang dapat kita banggakan tuan guru?.

Sang guru menjawab, Ada, dan ini adalah yang terakhir, yaitu; Mautun hadirun (hadirnya kematian). Mendengar jawaban dari Hukama tersebut semua yang hadir terdiam dan tertunduk, sejenak kemudian terdengar suara serempak mendesah mengucapkan kalimat “Subhanallaaah”.

Jadikan kisah di atas untuk menjadi renungan bagi kita semua……………….!

Kamis, 12 Mei 2011

Motivasi Dalam Melaksanakan Ibadah


Motivasi Dalam Melaksanakan Ibadah
Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya : Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Dalam menjalankan ibadah kepada Allah, manusia memiliki beragam motivasi, diantaranya adalah:
  1. Seperti sifat pedagang: Yaitu dalam menjalankan ibadah kepada Allah karena ada sesuatu yang diharapkan dari Allah, seperti mengharapkan pahala, syurga dan lain-lain.
  2. Seperti sifat budak: Dia melaksanakan ibadah hanya karena takut kepada Allah, sama seperti seorang budak yang mengerjakan tugasnya hanya sekedar takut kepada tuannya, bukan karena kesadaran yang timbul dari rasa tanggung jawabnya. Biasanya orang yang seperti ini dalam melaksanakan tugasnya apabila ada tuannya semata, namun apabila tuannya sudah tidak mengawasinya dia selalu berleha-leha dan bermalas-malasan. Begitu juga seseorang dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah, apabila dia tidak merasakan bahwa dirinya sedang diawasi oleh Allah maka dia selalu melalaikan ibadahnya.
  3. Sifat orang ‘arif : Dia melaksanakan ibadah karena ia sadar betapa banyak nikmat yang telah ia peroleh dari Allah, untuk itu ia lakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah, karena ia merasa pantas melakukannya tanpa ada keterpaksaan, dan bukan pula sebagai balas jasa kepada Allah, sebab karunia yang diberikan Allah tidak dapat dibalas dengan sesuatu apapun. Dia merasakan bahwa ibadah yang dilaksanakannya semata-mata sebagai pengabdian seorang hamba kepada Allah dan tidak ada pamrih dibalik ibadah yang dilaksanakannya. Dengan dasar ibadah yang seperti ini biasanya seseorang dalam melaksanakannya tidak ada paksaan dari pihak manapun, karena itu ibadah yang dilaksanakannya tentu akan dirasakan sebagai suatu kenikmatan yang tiada taranya, dan pada akhirnya melalui pelaksanaan ibadah tersebut dia akan mendapat ketenangan batin, bahkan hikmah dari ibadah yang dilaksanakannya akan mampu membentuk kepribadian yang baik sehingga prilakunya dalam kehidupan sehari hari selalu menunjukkan sikap yang baik dan benar.
  4. Sifat Robot : Biasanya orang yang seperti ini dalam melakukan ibadah tidak ada motivasi apa-apa. Ia melakukan ibadah hanya menurut apa yang diperintahkan, tanpa mengetahui apa tujuan dari perbuatan yang dia laksanakan. Ibadah yang seperti ini tentu tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap pelakunya, sebab ibadah yang dilakukan hanya sebatas rutinitas ritual belaka ( hanya sekedar melaksanakan kewajiban ).
Dari uraian di atas coba renungkan dimana posisi ibadah kita selama ini......................?. Semoga ibadah kita semakin baik nilainya di sisi Allah.
 امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ