Bukti Kebenaran Al-Qur’anAdakah mushaf Al-Qur’an disetiap rumah keluarga Muslim?. Diduga jawabannya adalah “tidak“. Apakah anggota keluarga Muslim yang memiliki mushaf telah mampu membaca Kitab suci itu? Diduga keras jawabannya adalah “belum”. Apakah setiap Muslim yang mampu membaca Al-Qur’an mengetahui garis besar kandungannya serta fungsi kehadirannya ditengah-tengah ummat? Sekali lagi, jawaban yang diduga serupa dengan yang sebelumnya.Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. antara lain dinamai Al-Kitab dan Al-Qur’an ( bacaan yang sempurna ), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang ditemuinya tidak mengenal baca-tulis. Ini semua, dimaksudkan agar mereka dan generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama Al-Kitab adalah memberikan petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya.Dari celah-celah redaksinya ditemukan tiga bukti kebenarannya.Pertama, keindahan, keserasian dan keseimbangan kata-katanya. Kata yaum yang berarti “hari” dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali ( ini sama dengan satu tahun ), dalam bentuk jamak diulang sebanyak 30 kali ( ini sama dengan satu bulan ). Sementra itu kata yaum yang berarti “bulan” hanya terdapat 12 kali. Kata panas dan dingin masing-masing diulang sebanyak empat kali, sementara dunia dan akhirat, hidup dan mati, setan dan malaikat dan masih banyak lainnya, semuanya seimbang dalam jumlah yang serasi dengan tujuannya dan indah kedengarannya.Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkannya. Awal surah Al-Rum menegaskan kekalahan Romawi oleh Persia pada tahun 614:Firman Allah dalam surah Ar-Rum, 2-4:“غُلِبَتِ الرُّومُ ﴿٢﴾ فِي أَدْنَى الارْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ ﴿٣﴾ فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الامْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ “.Artinya: “ Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman“.Dan itu benar adanya, tepat pada saat kegembiraan kaum Muslim memenangkan Perang Badar pada 622, bangsa Romawi memperoleh kemenangan melawan Persia.Pemberitaannya tentang keselamatan badan Fir’aun yang tenggelam dilaut merah 3.200 tahun yang lalu, baru terbukti setelah muminya (badannya yang diawetkan) ditemukan oleh Loret di Wadi Al-Muluk Thaha, Mesir, pada 1896 dan dibuka pembalutnya oleh Eliot Smith 8 Juli 1907. Maha benar Allah yang menyatakan kepada Fir’aun pada saat kematiannya:فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَArtinya : “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami “. ( QS. Yunus 92 ).Ketiga, Isyarat-Isyarat ilmiyahnya sungguh mengagumkan ilmuan masa kini, apalagi yang menyampaikannya seorang ummi yang tidak pandai membaca dan menulis serta hidup dilingkungan masyarakat terkebelakang. Bukti kebenaran (mukjizat) rasul-rasul Allah bersifat suprarasional. Hanya Nabi Muhammad yang datang membawa bukti rasional. Ketika masyarakatnya meminta bukti selainnya, Tuhan berpesan agar mereka mempelajari Al-Qur’an.Firman Allah:وَقَالُوا لَوْلا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِّن رَّبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الايَاتُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ . أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَArtinya: “ Dan orang-orang kafir Mekah berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mu`jizat-mu`jizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mu`jizat-mu`jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata". Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman “. (QS. Al-Ankabut: 50-51).Sungguh disayangkan bahwa tidak sedikit ummat Islam dewasa ini bukan hanya tak pandai membaca Kitab Sucinya, tetapi juga tidak memfungsikannya, kecuali sebagai penangkal bahaya dan pembawa manfa’at dengan cara-cara yang irasional.Rupanya, ummat generasi inilah antara lain yang termasuk diadukan oleh Nabi Muhammad:وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراًArtinya:”Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". ( QS Al-Furqon:30 ).Tahap pertama untuk mengatasi kekurangan dan kesalahan di atas adalah meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an. Janganlah anak-anak kita disalahkan jika kelak dikemudian hari merekapun mengadu kepada Allah, sebagaimana dikemukakan dalam sebuah riwayat: “ Wahai Tuhanku, aku menuntut keadilanMu terhadap perlakuan orang tuaku yang aniaya ini “.
Sumber: Lentera Hati – M. Quraish Shihab. ( Dengan menambahkan pencantuman ayat Al-Qur’an ).
Sabtu, 20 Agustus 2011
Al-Qur'an Bacaan Yang Sempurna
Kamis, 18 Agustus 2011
Peringatan Nuzul Al-Qur’an
Meningkatkan Tradisi MembcaMelalui Semangat Peringatan Nuzul Al-Qur’an
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci ummat islam diturunkan Allah pada bulan Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar kehidupan manusia tertata dengan baik sesuai dengan kehendak Allah yang maha pencipta. Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan Allah, karena itu wajarlah kalau isi dan kandungannya lebih lengkap dari kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelum Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kitab yang berisikan tatanan untuk kehidupan manusia yang isi dan kandungannya menyentuh segala sendi-sendi kehidupan manusia, baik kehidupan secara individu maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.Perlu dikemukakan di sini, kendatipun isi Al-Qur’an banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, atau sekalipun Al-Qur’an selalu menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya, akan tetapi Al-Qur’an tidak dapat kita sebut sebagai kitab astronomi. Atau sekalipun Al-Qur’an sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya ini, akan tetapi Al-Qur’an bukanlah kitab pengetahuan Alam atau fisika. Tetapi Al-Qur’an adalah sebagai kitab Hidayah atau petunjuk bagi seluruh alam.Jadi, walaupun terdapat cerita atau gambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain, hal tersebut hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan, yaitu Hidayah Allah swt. Karena itu, untuk samapai kepada tujuan agar kita mendapat hidayah dari Al-Qur’an tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita terapkan dalam kehidupan kita.Pertama: Terlebih dahulu hendaklah kita membaca Al-Qur’an tersebut secara seksama, dalam hal membaca ini, tentu kita mendapat pesan dari wahyu pertama dalam surat Al-‘Alaq, yang memerintahkan kepada kita untuk membaca.Kedua: Harus ada upaya untuk memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hal ini disebabkan membaca saja tidak cukup untuk dapat mengetahui rahasia kandungan dan maksud yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an tersebut apabila tidak ada upaya untuk mengetahui isi kandungannya.Ketiga: Setelah kita memahami isi dan kandungan Al-Qur’an tersebut, hendaknya kita mengajarkannya kepada orang lain, agar orang lain pun dapat membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik. Dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori Rasul bersabda:“خـَيْـرُ كـُمْ مَـنْ تـَعَـلـَّمَ ا لـْـقـُرْ آ نَ وَعَـلـَّـمَــهُ ﴿ رَوَاهُ الـْـبُــخـَـارِي ﴾“Artinya: “Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya ”.
Keempat: Mengamalkan ajaran dan kandungan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pada tahap pengamalan inilah yang selalu dirasakan berat oleh sebagian orang. Pengetahuan yang didapat tentu tidak akan berguna jika tidak dibarengi dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.Dengan menerapkan keempat hal tersebut, barulah Al-Qur’an akan dapat dirasakan manfaatnya oleh kita semua, sebab Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk/hidayah. Apalagi jika kita kaitkan dengan kebutuhan hidup saat ini, dimana setiap orang dengan segala kemajuan dan kecanggihan yang dicapai oleh manusia, justru malah banyak yang mencari suatu sistem nilai yang mereka anggap absolut.Sebagai ummat Islam tentu kita tidak perlu lagi meragukan apalagi mencari sistem nilai selain Al-Qur’an. Perlu dicatat, bahwa kemunduran ummat Islam bukan terletak pada inti ajaran Al-Qur’an atau disebabkan ummat Islam setia pada ajaran Al-Qur’an, sehingga alam pikir dan daya kreatifitas mereka terhambat oleh Al-Qur’an, akan tetapi justru dikarenakan faktor budaya dan ummat Islam malah sedikit demi sedikit telah menjauhkan diri dari Al-Qur’an.Sangat ironis memang, di saat ajaran Al-Qur’an menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca, namun kenyataannya negara dan ummat yang terbesar buta hurufnya justru adalah negara-negara yang banyak ummat Islamnya. Dapat kita lihat pula, terkait dengan minat baca umat Islam Indonesia, dan orang Indonesia secara umum sangatlah lemah minat membacanya. Namun sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, adalah ironis kalau muslim Indonesia belum mampu menerjemahkan wahyu pertama dalam kehidupan sehari-hari. Sementara di belahan bumi lain kondisinya lebih baik, dan tradisi keilmuan yang memang telah mengakar terus lestari hingga kini.Untuk itu, tradisi tulis-baca serta mengembangkan keilmuan perlu dikembangkan. Dibutuhkan kerja keras untuk mencapai hal tersebut. Memperingati Nuzul Qur’an bisa menjadi jawaban untuk itu. Dengan merujuk kepada Al-Qur’an adalah merupakan ungkapan yang tepat untuk mengatakan bahwa menjadi seorang muslim yang baik adalah menjadi pembaca yang baik.Semoga momentum Nuzul Al-Qur’an dapat dijadikan pijakan awal transformasi budaya untuk menciptakan masyarakat yang gemar membaca.Semoga…………………………!
Jumat, 05 Agustus 2011
Hikmah Puasa Ramadhan
PUASA MERUPAKAN KEBUTUHAN MANUSIA( Oleh: Drs. Khairul Akmal Rangkuti )
Ditinjau dari sudut kajian filsafat, ibadah puasa tidak hanya merupakan kewajiban bagi manusia, akan tetapi juga merupakan kebutuhan bagi kehidupan manusia. Dari ungkapan di atas seharusnya timbul pertanyaan apakah manusia perlu melaksanakan puasa ?. Tulisan sederhana ini akan memberikan jawaban tentang pertanyaan diatas, sehingga kita sampai kepada suatu kesimpulan bahwa puasa memang merupakan suatu kebutuhan bagi kehidupan manusia.Manusia diciptakan Allah memilki tiga potensi dasar yang sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan kehidupannya.Pertama : “ Quwwatul Fikriyah “ .Yaitu, bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berfikir, karena Allah memberikan akal kepadanya, melalui potensi ini manusia dapat menentukan tentang nilai baik dan buruk dalam kehidupannya. Namun harus disadari bahwa kemampuan manusia melalui akal fikirannya dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk sangat terbatas sekali dengan pengalamannya. Maksudnya, terkadang menurut akal manusia baik ternyata menurut Allah tidak baik. Misalnya; meminum minuman yang memabukkan, berjudi, melakukan seks bebas di luar ikatan pernikahan, mungkin menurut akal manusia baik untuknya, tapi ternyata menurut Allah tidak baik.Disisi lain kadangkala ada yang dinilai manusia tidak baik dalam kehidupannya ternyata baik menurut Allah, misalnya bersedekah atau mengeluarkan zakat, mungkin manusia memandang bersedekah atau berzakat adalah merugikannya, tapi sesungguhnya perbuatan tersebut adalah perbuatan yang dicintai Allah, karena disamping menimbulkan sikap solidaritas sosial dalam kehidupan bermasyarakat, disisi lain dapat menimbulkan rasa keterpautan hati antara yang kaya dan yang miskin, akhirnya akan menimbulkan rasa kasih sayang antara sesama manusia dalam hidup bermasyarakat.Disebabkan keterbatasan manusia dalam menentukan baik dan buruk tersebut, maka Allah berkenan menurunkan syari’atnya, agar manusia mempunyai dasar dalam menentukan nilai baik dan buruk, sehingga manusia itu tidak salah dalam menempuh jalan kehidupannya, karena Allah sebagai sang pencipta tidak ingin manusia hidup tanpa memiliki aturan.Dengan penjelasan diatas dapat dipahami pentingnya agama dalam kehidupan manusia dan agama yang mengatur kehidupan manusia tersebut haruslah agama yang datang dari Allah SWT, sebab Allah sebagai sang pencipta maha mengetahui apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, aturan seperti apa yang dapat memberikan kemaslahatan untuk kehidupan manusia, dengan demikian keberadaan agama dalam kehidupan manusia mutlak diperlukan.Kedua: “ Quwwatul Ghadhobiyah “ .Yaitu, bahwa manusia memiliki pembawaan dasar untuk menolak segala yang merugikan atau yang membahayakan kepada dirinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan disini, orang yang tidak pernah belajar ilmu bela diri, dia pasti akan mengelak apabila dia mengetahui ada orang yang akan memukulnya. Dalam posisi ini manusia sama seperti binatang, sebab binatang juga mempunyai pembawaan dasar untuk menghindar dari segala yang membahayakan dirinya, maka dalam hal ini manusia tidak lebih mulia dari bunatang.Quwwatul Ghadhabiyah ini apabila berkembang dengan baik dan benar dalam kehidupan manusia, maka yang akan timbul adalah hal yang positif, yaitu manusia dalam hidupnya akan selalu memiliki sikap waspada dalam kehidupannya, sebab dia tidak ingin mengalami sesuatu yang membahayakan dalam dirinya. Namun apabila Quwwatul Ghadhabiyah ini berkembang dalam kehidupan seseoang secara berlebihan, maka yang akan timbul dalam kehidupan seseorang adalah hal yang negatif, orang tersebut selalu mununjukkan sikap pengecut, orang yang seperti ini tidak siap menghadapi tantangan dalam kehidupan dan selalu takut dalam mengambil keputusan dalam kehidupannya.Ketiga: “ Quwwatus Syahwiyah “.Maksudnya manusia mempnyai pembawaan dasar untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan terhadap dirinya. Dalam tingkatan Quwwatus Syahwiyah ini posisi manusia dan binatang masih sama, hal ini tergantung bagaimana manusia menguasai dorongan Quwwatus Syahwiyah yang berkembang dalam dirinya. Oleh karenanya bila Quwwatus yahwiyah ini berkembang dengan baik dan benar dalam kehidupan seseorang maka hal positiflah yang akan berkembang dalam diri seseorang, orang tersebut akan selalu memiliki sikap dinamis, dia ingin selalu berkembang dan orang yang seperti ini biasanya memiliki ethos kerja yang tinggi, karena dia mengnginkan hari ini harus lebih baik dari hari yang lalu.Disisi lain bila Quwwatus Syahwiyah ini berkembang secara berlebihan dalam kehidupan seseorang, maka yang akan timbul adalah hal yang negatif, orang tersebut selalu memiliki sifat serakah, biasanya orang yang seperti ini tidak memikirkan apakah orang lain sengsara dan dirugikan karenanya, yang penting buatnya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa berfikir tentang halal dan haram, benar dan salah. Kehidupan seperti ini adalah pola kehidupan binatang, apabila pola kehidupan seperti ini yang berkembang dalam kehidupan manusia maka jadilah kehidupan manusia sama seperti binatang.Allah sebagai sang pencipta tidak menginginkan manusia hidup seperti binatang, untuk mengantisipasi agar manusia tidak seperti binatang, maka ajaran yang paling ideal untuk menghilangkan perilaku seperti binatang tersebut adalah syari’at puasa, karena puasa membawa hikmah yang banyak dalam pembentukan kepribadian manusia diantaranya melalui hikmah puasa diharapkan sifat-sifat buruk yang dapat berkembang dalam kehidupan seseorang dapat dihilangkan, seperti sifat serakah, egois, mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya. Akhirnya akan muncul sifat-sifat yang baik lewat penghayatan ibadah puasa. Bila demikian halnya puasa bukan hanya merupakan kewajiban tapi sebenarnya puasa juga merupakan kebutuhan bagi kehidupan manusia.Dari tiga potinsi dasar yang dimiliki oleh manusia dalam kehidupannya dapat diketahui tentang pentingnya ibadah puasa tersebut, karena ibadah puasa disatu sisi merupakan ibadah yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan dan targetnya ingin mendapat predikat takwa disisi Allah dan ingin mendapatkan ridhonya, namun disisi lain terdapat hikmah-hikmah yang dapat dirasakan oleh manusia, baik secara individu maupun secara kolektif dalam kehidupan masyarakat. Diantara hikmah yang dimaksud adalah diharapkan terbentuknya sikap solidaritas sosial dalam kehidpan masyarakat, dengan demikian akan berbeda pola kehidupan antara manusia dan binatang.Semoga puasa yang kita laksanakan mampu menghantarkan kita menjadi manusia yang memiliki watak dan kepribadian yang mulia, sehingga sifat-sifat kebinatangan tidak berkembang dalam kehidupan kita, karena itu mari kita jadikan puasa tidak hanya sebagai kewajiban tapi harus kita rasakan bahwa puasa juga merupakan suatu kebutuhan.
***
Langganan:
Postingan (Atom)


