Tukang Cukur Dan Pelanggannya
Tak jauh dari perempatan jalan yang ramai terdapat seorang tukang cukur yang sudah berpuluh tahun melaksanakan pekerjaannya di tempat itu. Suatu hari datang seseorang pelanggan untuk memotong dan merapikan rambutnya. Tukang cukur mulai melaksanakan pekerjaannya, dan mereka-pun terlibat dalam pembicaraan. Pembicaraan bermula dari pertanyaan tukang cukur kepada pelanggannya.
Bapak tadi dari mana? Dari menghadiri kegiatan Majlis Ta’lim, kebetulan kajiannya hari ini masalah ketuhanan, jawab sang pelanggan.
Wah kebetulan, saya mau tanya boleh apa tidak? Boleh, jawab pelanggan. Tukang cukur bertanya, Bapak percaya adanya Tuhan? Tentu saya percaya, jawabnya. Saya tidak percaya samasekali Tuhan itu benar-benar ada, kata tukang cukur. “Kenapa kamu berkata begitu ?” tanya si pelanggan.
“Begini, coba Bapak perhatikan, kalau Tuhan ada seharusnya tidak ada orang yang susah, kita semuakan mau senang dan kaya, seharusnya tidak ada orang yang susah. Tidak ada orang yang sakit dan macam-macam kesusahan lainnya. Terus bagaimana kita mau percaya Tuhan itu ada. Kalau Tuhan itu ada tentu seharusnya Dia tidak membiarkan kita menjadi susah. Lihatlah seperti saya ini, dari dulu saya susah terus, sudah berpuluh tahun saya jadi tukang cukur di tempat ini nyatanya saya tidak pernah hidup senang. Kata si tukang cukur.
Coba Bapak lihat di perempatan jalan itu, di situ banyak orang susah dan meminta-minta “Jika Tuhan itu ada, pasti tidak ada anak-anak yang terlantar, tidur di kolong jembatan dan tidak tentu makannya. “Saya tidak dapat membayangkan Tuhan yang katanya Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi”!.
Si pelanggan diam sejenak untuk berpikir mencari-cari jawaban, namun tidak memperoleh jawaban untuk ungkapan yang di kemukakan si tukang cukur.
Tanpa terasa, ternyata tukang cukur berkata, sudah selesai pak. Bapak pelanggan tadi-pun berdiri dan bertanya, berapa bayarannya?. Limabelas ribu, jawab tukang cukur.
Setelah membayar ongkos cukurnya, Bapak tersebut pergi. Sambil berjalan dia terus berpikir tentang apa yang dikatakan tukang cukur kepadanya, tentang tidak benar Tuhan itu ada.Tak jauh dia melangkah, Bapak tersebut melihat banyak anak-anak jalanan yang rambutnya panjang tidak terurus, ada orang yang brewok, jambang, kumis juga janggutnya tidak rapi dan tidak terurus.
Akhirnya Bapak pelanggan tersebut dapat ilham untuk menjawab ungkapan tukang cukur tadi. Maka dia-pun kembali ke tempat tukang cukur tadi dan berkata: “Kamu tahu, sebenarnya di dunia ini tidak ada tukang cukur..!” Si tukang cukur tidak terima, dia bertanya : “Kenapa Bapak bisa bilang begitu?”. “Saya sebagai tukang cukur di tempat ini sudah puluhan tahun. Dan saya baru saja mencukur Bapak!” “Tidak! tetap saya tidak percaya” kata Bapak tersebut. “ Yang pasti tukang cukur itu tidak ada! Sebab jika tukang cukur ada, mana mungkin ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan, macem-macem gaya rambut seperti orang yang ada di perempatan jalan itu, Kalau tukang cukur ada, mestinya semua orang itu rapi seperti saya”, katanya meyakinkan.
“Ah tidak, tukang cukur itu tetap ada!”, sanggah si tukang cukur. “Apa yang Bapak lihat itu adalah salah mereka sendiri, mengapa mereka tidak mau datang dan mendekati saya untuk mencukur dan merapikan rambutnya, coba kalau mereka datang tentu saya cukur dan saya rapikan rambut mereka. Jawab si tukang cukur membela diri.
“Benar…... kalau begitu saya setuju..!” kata Bapak pelanggan tadi. “Itulah point utamanya…..! Sama halnya dengan Tuhan.
“Maksud Bapak bagaimana?”, tanya tukang cukur tidak mengerti. Sebenarnya Tuhan itu ada! Tapi apa yang terjadi sekarang ini.? Mengapa orang-orang tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya. enggan pula mendekatiNya.? Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Si tukang cukur terbengong!!!! Dalam hati dia berkata : “Benar juga apa yang dikatakan Bapak ini…....!, mengapa aku tidak mau datang kepada Tuhanku, untuk beribadah dan berdoa, memohon agar dihindarkan dari segala kesusahan dalam hidup ini..?”. Tukang cukur itu-pun menyadari kesalahannya dalam memandang tentang keberadaan Tuhan.
Akhirnya Bapak pelanggan tadi-pun pulang dengan hati yang puas dan tenang. Puas karena sudah mampu menjawab pertanyaan si tukang cukur. Tenang karena dia dapat menyadarkan tukang cukur dari kesalahannya dalam memandang keberadaan Tuhan.
Saudaraku………………….Pertebal iman kepada Allah.Perbanyak ilmu agar hidup menjadi mudah.Dekatkan diri kepada Allah dengan ibadah.Hiasi pula hidup dengan Akhlaqul Karimah.Insya Allah hidup akan barokah.Ridho Allah akan tercurah.Hidup-pun akan terhindar dari rasa gundah.Sebab hati telah berlabuh dalam lautan ma’rifah kepada Allah.
Kamis, 19 Januari 2012
Jangan Berburuk Sangka Kepada Allah
Selasa, 17 Januari 2012
Bekerja Itu Ibadah
BEKERJA ADALAH SUATU KEMULIAANBekerja dalam pandangan Islam dinilai ibadah. Baik pekerjaan yang berkaitan dengan mencari kebutuhan hidup maupun pekerjaan yang berkaitan dengan peran sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat.Rasulullah sangat menghargai seseorang yang mau bekerja, berusaha mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehingga, pekerjaan apa-pun, selama tidak melanggar syariat Islam, yang dikerjakan dengan bersungguh-sungguh dan penuh keikhlasan, pekerjaan tersebut dinilai sebagai ibadah di sisi Allah SWT.Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim Rasul bersabda, yang maknanya lebih kurang seperti berikut ini: “ Seseorang yang membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian memikulnya ke pasar, lalu menjualnya, pekerjaan seperti itu adalah lebih baik daripada ia harus meminta-minta”.Dalam catatan sejarah dapat kita lihat betapa hebatnya prestasi kerja para sahabat Nabi. Diantara mereka ada yang bertani, berdagang, beternak dan berbagai pekerjaan halal lainnya. Mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian masing-masing, disamping tetap berjuang menegakkan agama Islam. Wajarlah kalau dikemudian hari mereka dikenal sebagai generasi yang terbaik, generasi yang mampu memadukan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk bermalas-malasan dan berpangku tangan tanpa mau giat bekerja. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah: 105:وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَArtinya: “ Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan ".Pekerjaan yang dilakukan seseorang, disamping merupakan kewajiban dalam hidup, juga merupakan tanda bahwa dengan bekerja dia akan dinilai baik oleh masyarakat, sebab dengan bekerja seseorang akan dimuliakan oleh masyarakatnya. Seseorang akan dinilai baik oleh masyarakatnya bergantung pada apa yang dia kerjakan. Misalnya, Seseorang dikatakan sebagai pahlawan, pembangun semangat kebangsaan atau tokoh masyarakat, karena apa yang dia kerjakan membawanya kepada sebutan itu. Sebaliknya, sebutan penjahat, koruptor atau sebutan buruk lainnya tidak akan ditujukan kepada seseorang kecuali ia telah melakukan pekerjaan yang tidak baik dan tidak terpuji.Karena itu, galilah potensi positif yang ada pada diri kita masing-masing untuk dikembangkan, agar menjadi karya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian insya Allah kita akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah, dan terhormat di sisi manusia.
Jumat, 13 Januari 2012
I'tibar Untuk Kehidupan
Bebek merupakan binatang yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah bila dibandingkan dengan anjing. Anjing mudah dilatih dan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Anjing juga mampu mendengar suara yang rendah (pelan) pada jarak sekitar 20 meter. Suara rendah (pelan ) seperti ini tidak bisa didengar oleh telinga manusia.
Namun pada kenyataannya, kita jarang melihat bebek tertabrak di jalan, sementara anjing sering kita lihat tertabrak oleh pengguna jalan raya! Mengapa?
Ternyata…………! Bebek memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh anjing. Bebek senantiasa hidup berjamaah, kompak dan satu gerak. Kemana pun bebek pergi selalu dalam jama’ah atau rombongannya. Bebek juga binatang yang istiqomah dalam bersikap dan bertindak. Ketika bebek sedang berada di dalam kandang ia bersuara, “wek... wek... wek!” Begitu juga ketika bebek berada di jalan, di sawah, di perkampungan dan dimana saja berada, tetap bersuara wek.. wek.. wek!, sungguh istiqamah! Ketika rombongan bebek berada di jalan raya dan bermaksud menyeberang, seketika para pengguna jalan berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada iring-iringan bebek untuk dapat menyeberang.
Berbeda dengan anjing, kebanyakan hidupnya sendiri-sendiri atau nafsi-nafsi, tidak mau dan bahkan jarang berjamaah. Anjing juga binatang yang tidak istiqamah dalam bersikap. Kepada orang lain yang tidak ia kenal ia menggonggong tetapi kepada tuannya ia bermanja-manja. Meskipun memiliki tingkat kepekaan tinggi dalam mendengarkan suara rendah atau pelan, tapi ternyata karena hidupnya tidak berjamaah maka ia sering tertabrak di jalan raya.Mari belajar dari sikap bebek yang selalu hidup berjamaah dan istiqomah dalam bersikap. Pertolongan Allah selalu datang pada keutuhan jamaah. Janganlah seperti anjing, tidak istiqomah dalam bersikap dan tidak mau berjamaah, kalaupun berjamaah selalu ribut dan bertengkar dengan sesamanya.
Bagaimana dengan kondisi kekinian di Republik Indonesia tercinta ini?. Terutama para pemimpinnya?. Barangkali Anda punya jawabannya…………………………!
Langganan:
Postingan (Atom)