Jumat, 20 April 2012

Dunia Hanya Tempat Persinggahan


Persiapkan Diri Menuju Hari Akhir
Kehidupan di dunia ini ibarat tempat penyeberangan yang sedang dilalui oleh orang-orang yang hidup di dalamnya. Setiap orang akan melewati dan meninggalkannya, lalu menuju kehidupan yang sesungguhnya. Allah SWT menjadikan dunia ini sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan amalan. Maka setiap orang yang beramal, dia akan melihat balasannya. Dan orang yang lalai akan menyesali perbuatannya. Setiap orang yang menjalani kehidupan dunia ini akan ada saat berakhirnya. Hari pembalasan pasti akan datang, karena itu janganlah kita tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia yang sementara ini, sehingga melalaikan kita dari kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan di akhirat kelak.
Kematian adalah suatu kepastian yang akan menimpa seseorang. Kematian akan memisahkan dirinya dari keluarga, harta, serta tempat tinggalnya. Allah SWT telah memberitakan melalui firman-Nya, bahwa di antara manusia ada yang akan mendapatkan pertolongan dan mendapatkan kabar gembira pada saat kematiannya, ada pula yang merasakan ketakutan yang luar biasa. Allah SWT menyebutkan keadaan orang-orang yang bahagia saat kematiannya dalam firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الاخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-31).
Semua kita tentunya mengharapkan kabar gembira di saat malaikat maut hendak mencabut nyawa kita. Karena dengan itu seseorang akan mengawali kehidupan bahagia di alam akhirat kelak. Kebahagiaan hidup di akhirat itu tentu dimulai dengan kenikmatan di alam kubur dan kemudahan-kemudahan yang akan terus dialami pada kehidupan akhirat nantinya. Keutamaan yang Allah karuniakan akan dirasakan oleh orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, hal ini ditandai dengan menerima dan menjalankan syariat-Nya. Yaitu orang-orang yang senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan mengikuti jalan Rasulullah SAW dan para ulama yang mengikuti jejaknya. Adapun orang-orang yang menyerahkan diri kepada selain Allah SWT, maka dia akan merasakan siksa yang sangat pedih. Dimulai dari saat kematiannya dan begitu pula ketika berada di alam kuburnya serta kejadian-kejadian berikutnya.
Sudah merupakan keyakinan, bahwa kehidupan dunia ini akan berakhir dan akan datang saatnya hari kebangkitan. Seluruh manusia, sejak yang pertama kali diciptakan hingga yang terakhir akan dibangkitkan dari alam kuburnya, serta akan dikumpulkan di padang mahsyar. Selanjutnya, kehidupan akhirat akan berujung pada dua tempat tinggal yang sesungguhnya, yaitu surga atau neraka. Maka di antara manusia, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, akan menjadi penduduk surga dan dikatakan kepada mereka:
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَآأَسْلَفْتُمْ فِي اْلأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Makan dan minumlah kalian dengan penuh kesenangan disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (saat di dunia).” (Al-Haqqah: 24)
Sementara yang lainnya akan menjadi penduduk neraka. Mereka akan menyesal terhadap kelalain mereka saat menjalankan kehidupan di dunia dengan mengatakan seperti yang difirmankan Allah.
يَاحَسْرَتَى عَلَى مَافَرَّطتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ
“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan aku sungguh dahulu termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (Az-Zumar: 56)
Saudaraku..............! Marilah kita berlomba-lomba dalam beramal shalih dalam kehidupan yang singkat ini. Janganlah kita menjadi orang yang memiliki sifat sombong sehingga menolak kebenaran yang datang kepada kita. Begitu pula, janganlah kita menjadi orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia dan mengikuti hawa nafsu. Allah SWT meenyatakan dalam firman-Nya:
فَأَمَّا مَن طَغَى . وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى . وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (An-Nazi’at: 37-41).
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita, sehingga kita tetap istiqomah dalam menjalankan pengabdian diri kepadaNya, dan dengan itu kita berhak untuk mendapatkan keridhoanNya dan mendapatkan surga yang dijanjikanNya untuk orang-orang yang beriman.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Minggu, 08 April 2012

Renungan Buat Kita Hari Ini

TENTANG KITA

Banyak Diantara Ummat Ini Yang................!
  1.  Lebih gembira menyambut 1 Januari daripada 1 Muharram.
  2. Lebih tahu tentang tanggal 14 Februari (hari Valentine ) daripada 12 Rabiulawal. 
  3. Lebih membesarkan hari Sabtu, Ahad  daripada  hari Jum’at. 
  4. Lebih khusyuk mendengar lagu daripada  mendengar Azan. 
  5. Lebih khusyu’ melihat Sinetron daripada Shalat. 
  6. Lebih hafal nama Artis daripada nama Nabi-Nabi Allah dan Malaikat.  
  7. Lebih suka menyebut hello!.. hai!  daripada memberi salam. 
  8. Lebih banyak menyanyikan lagu daripada berzikir, bertahmid dan membaca Al-Qur’an. 
  9. Lebih suka memuji manusia daripada memuji Allah. 
  10. Lebih suka membaca majalah hiburan daripada buku-buku agama. 
  11.  Lebih suka ke konsert, karaoke daripada ke Majlis Ta’lim. 
  12. Lebih suka memaki, mengupat orang daripada  memuji mereka.
  13.   Lebih suka berkata kotor daripada  menyebut Masya Allah dan Subhanallah.  
  14. Lebih suka berbuat mungkar daripada  berbuat kebaikan.  
  15. Lebih bangga dengan kejahilan daripada bersyukur dengan keimanan. 
  16. Lebih iri terhadap orang yang punya kelebihan harta daripada yang punya kelebihan ilmu  
  17. Lebih cinta terhadap urusan dunia daripada  urusan akhirat. 
  18. Lebih berhitung dalam urusan sedekah daripada belanja untuk urusan dunia.  
  19. Lebih sibuk mencari aib orang lain daripada bermuhasabah & intropeksi diri sendiri.  
  20. Lebih punya sikap pendendam  daripada jadi pema’af

Saudarakau………………..! Mari kita renungkan firman Allah berikut ini:

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الاخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ . مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “ Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”.

Semoga kita dapat mengisi kehidupan ini dengan penuh pengabdian kepada Allah SWT.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Kamis, 05 April 2012

Jangan Putus Asa Manakala Do'a Belum Terkabul


Ada seorang pemuda yang rajin berdo’a dalam hidupnya, meminta sesuatu kepada Allah. Dia seorang yang shaleh, ibadahnya baik, tetapi dia merasa do’a-nya belum juga dikabulkan Allah. Berbulan bahkan bertahun do’a-nya belum juga terkabul, namun dia tetap juga ber-do’a.
Sementara dia melihat temannya. Orangnya biasa saja, tidak ada yang istimewa, terutama dalam masalah ibadah. Shalatnya masih bolong-bolong, prilakunya juga tidak mencerminkan kebaikan, sering menipu orang, berbohong sudah merupakan kebiasaannya. Tetapi anehnya, apa yang dia inginkan dan apa yang dia pinta kepada Allah  semuanya terpenuhi.

Pemuda tadi menjadi heran, akhirnya dia datang kepada seorang Ulama’. Dia ceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya, terutama hal yang berkenaan dengan do’a-nya yang belum juga terkabul, padahal dia merasa dirinya lebih taat dari temannya tadi, sedangkan temannya yang nakal selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.

Setelah mendengar penuturannya, Ulama’ tadi tersenyum, dan bertanya kepada pemuda itu.

Kalau Kamu lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, main musiknya tidak bagus, suaranya fals, bagaimana sikapmu?

Pemuda tadi menjawab; tentu saya jengkal Pak. Lantas apa yang kamu lakukan agar pengamen tadi segera pergi dari tempatmu? . Tanya Ulama’ kepadanya.

Pemuda tadi menjawab; Segera saya kasih dia uang agar dia cepat pergi, sebab saya jengkel dengan kehadiran dan penampilannya, apa lagi mendengar suaranya yang tidak bagus.

Ulama’ kembali bertanya kepadanya; Kalau pengamen yang datang itu penampilannya rapi, main musiknya bagus, suaranya enak di dengar, apa lagi lagu yang dibawakannya lagu yang kamu senangi, bagaimana sikapmu?.

Sang Pemuda menjawab; Wah, kalau seperti itu Pak, saya biarkan terus dia bernyanyi sampai selesai walaupun lama, dan saya sengaja belum memberinya uang agar dia menyelesaikan lagu yang dia nyanyikan, bahkan kalau perlu dia tambah lagi lagunya sampai saya puas. Setelah itu baru dia saya beri uang.

Setelah mendengar jawaban pemuda tadi, Ulama’ tadi-pun tersenyum. Lalu berkata kepada Pemuda itu; Begitulah anakku. Allah…….. ketika melihat Engkau yang shaleh datang menghadap-Nya, sesungguhnya Allah betah mendengarkan do’a-do’amu, Allah senang melihat-mu, dan Allah pingin sering bertemu kamu dalam waktu yang lama. Buat Allah, memberi apa saja yang kamu inginkan adalah masalah yang mudah dan tidak ada yang sulit bagiNya, tetapi Allah pingin menahan kamu biar khusyuk, biar kamu dekat terus denganNya. Coba kamu bayangkan, kalau do’a-mu cepat dikabulkan, apa kamu bakal sedekat ini kepadaNya? Dan ketahuilah anakku………..! di satu saat nanti, bisa jadi kamu akan mendapatkan yang jauh lebih besar dari apa yang kamu inginkan dan yang kamu minta, terlebih-lebih di akhirat kelak, bisa saja do’a-do’a-mu itu akan diganti Allah dengan nilai pahala yang besar. Itu tandanya Allah sayang kepadamu anakku.
Berbeda dengan temenmu itu. Boleh jadi Allah tidak mau deket-deket dengannya. Karena hidupnya banyak dosa maka Allah segera memberi apa yang dia pinta, sebab Allah tidak suka berlama-lama dengannya. Jadi jatahnya hanya sedemikian itu.

Yakinlah anakku, kata Ulama’ meneruskan kata-katanya; Kalaupun apa yang kamu minta ternyata tidak diberi Allah di dunia ini, Insya Allah di akhirat kelak do’a-do’a-mu itu akan diganti Allah dalam bentuk pahala yang banyak. Sebaik-baik pembalasan adalah surga yang disiapkan Allah untuk orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.

Pemuda yang menyampaikan keluh-kesahnya tadi tersentak sadar bahwa apa yang ia rasakan selama ini adalah sesuatu yang salah dalam memahaminya, lantas dia-pun beristighfar memohon ampun kepada Allah atas kekeliruannya selama ini karena sudah berburuk sangka kepada Allah. Sejak saat itu perasaannya menjadi tenang dan semakin bersemangat untuk berbuat amal shaleh dalam kehidupannya.

Saudaraku…………….!

Semoga kita mampu mengambil I’tibar dari kisah di atas.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ



Selasa, 03 April 2012

Cerita Inspiratif

PERJALANAN SPRITUAL TUKANG BAKSO
Allah berfirman dalam Hadits Qudsi,
Artinya : Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : "Allah Ta'ala berfirman : "Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil". (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Hadits diatas tentunya bagi kita ummat Islam sudah sering terdengar dan memang terbukti benar adanya, kisah berikut insya Allah bisa lebih meyakinkan kita.

Suatu sore Pak Afif dan keluarganya sedang duduk santai di depan rumahnya, sedang mereka asik berbincang, terdengar suara Pedagang bakso menjajakan dagangannya. Pak Afif-pun memanggil Pedagang bakso dan memesan empat mangkok buat dirinya dan istri serta dua orang anaknya.

Selesai makan bakso, lalu Pak Afif membayarnya. Namun pada saat ia membayar bakso tadi ada sesuatu yang mengherankan Pak Afif atas tindakan Pedagang bakso. Pedagang bakso memisahkan uang yang diterimanya.
Sebagian disimpan di laci, sebagian lagi dimasukkan ke dompet, dan yang sebagiannya lagi di masukkan ke kotak kecil. Lalu, dengan keheranannya Pak Afif bertanya, kenapa uang-uang itu dipisahkan?. Apa maksudnya?.

“Iya pak, jawab Pedagang bakso. Selama menjadi pedagang bakso saya memisahkan setiap uang yang saya dapatkan menjadi tiga bagian, dan ini sudah saya lakukan selama 15 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.

Maksudnya gimana?, Tanya Pak Afif.

Pedagang bakso menjawab. “Iya Pak, agama islam-kan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi uang yang saya dapatkan mejadi tiga tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

Pertama: Uang yang saya masukkan ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari buat keluarga saya.

Kedua: Uang yang saya masukkan ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 15 tahun menjadi Pedagang bakso saya tetap dapat  ikut melaksanakan ibadah qurban dengan membeli seekor kambing.

Ketiga: Uang yang saya masukkan ke kotak kecil ini maksudnya, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya yakini yaitu agama Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka saya dan istri sepakat bahwa setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan Alhamdulillah selama 15 tahun menabung, Insya Allah kami akan berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun depan.
Setelah medengar penjelasan Pedagang bakso tadi, Pak Afif berkomentar. “ Iya…. tapi-kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

Pedagang bakso menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Allah kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rezeki oleh Allah. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..? yang penting berusaha dulu, buktinya kami bisa…….. dan insya Allah saya dan istri tahun depan berangkat haji.

Kemudia pedagang bakso melanjutkan kata-katanya: Menurut saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang yang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia yang tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenanganNya, Allah akan memberi kemampuan pada kita kok."
Hati Pak Afif sangat tersentuh mendengar jawaban Pedagang bakso itu. Sambil tertegun Pak Afif bergumam dalam hati. Dia……… Hanya Pedagang bakso saja sudah mampu berangkat haji tahun depan, kenapa aku yang hidup berkecukupan bahkan berlebih tidak pernah berpikir tentang pergi haji?. Akhirnya pak Afif membulatkan tekad untuk berangkat menunaikan ibadah haji bersama istrinya.
Saudaraku…………..!
Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia dari seorang Pedagang bakso. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si Pedagang bakso tersebut, belum tentu memiliki Pikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali ada orang yang berlindung di balik pernyataan tidak mampu atau belum ada rezeki.
Cerita perjalanan spiritual ini tentu sangat sederhana, namun diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kita dalam menjalankan kehidupan, dan semoga cerita ini memberi hikmah yang baik bagi kehidupan kita.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Sabtu, 31 Maret 2012

Merasakan Cinta Kepada Allah

MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH
Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram tumbuh-tumbuhan di kebun. Ketika pemuda itu melihat Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, mintakanlah kepada Allah agar Dia memberi kepadaku seberat biji sawi saja agar aku cinta kepada-Nya."
Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan mampu untuk mananggung cinta walau seberat itu."
Pemuda tadi berkata lagi, "Wahai Nabi Isa a.s, kalau aku tidak mampu seberat biji sawi, maka kamu mintalah untukku setengahnya saja."
Oleh kerana pemuda itu sangat berkeinginan untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat biji sawi cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Setelah beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya untuk di doakan, tetapi Nabi Isa a.s tidak bertemu dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang ada di sekitar tempat tersebut tentang keberadaan pemuda tersebut. Salah seorang diantara mereka mengatakan bahwa pemuda tersebut telah menjadi gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang keberadaan pemuda itu." Selesai berdoa Nabi Isa a.s pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara dua gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa". Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu kepada Nabi Isa a.s. "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar pembicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat biji Sawi cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak merasakannya”.
Subhanallah………….! Begitulah, apabila seseorang sudah merasakan cinta kepada Allah dia tidak merasakan kelezatan yang lain dari kehidupannya. Bisa saja manusia memandangnya sudah menjadi gila dan menghinakannya tapi ternyata dia mulia di sisi Allah. Karena itu, barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku ikhlas dalam beramal, tetapi dia ingin mendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Allah yang menciptakannya, tetapi tidak mau merendahkan diri   kepadaNya.

Rasulullah S.A.W telah bersabda, "Akan datang waktunya dimana umatku akan mencintai lima hal tetapi lupa kepada lima hal :

1. Mereka cinta kepada dunia, tetapi lupa akan akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda, tetapi lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk, tetapi lupa kepada sang Khaliq ( Allah S.W.T ).
4. Mereka cinta kepada dosa, tetapi lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah, tetapi mereka lupa kepada kubur.