Sabtu, 22 Januari 2011

HIDUP ADALAH UJIAN, SEBAB ITU KENALILAH MAKNA HIDUP YANG SESUNGGUHNYA


Hampir kebanyakan orang belum mengenal atau mengerti tentang apa itu arti hidup yang sebenarnya.Banyak orang tidak paham untuk apa ia hidup di dunia ini, sehingga kehidupannya bebas tanpa batas seperti yang kita lihat dalam kehidupan masyarakat saat ini. Mereka biasa berhubungan seksual tanpa melewati pernikahan, mengambil harta yang bukan haknya, membunuh, menipu, merampok, berpakaian yang serba minim, makan dan minum yang haram. Orang-orang seperti diatas disebut tidak memahami arti hidup. Bagaimana seseorang mampu memahami arti hidup?, maka ia harus mampu memecahkan tiga persoalan mendasar berikut:
Dari mana saya berasal?
Untuk apa saya hidup di dunia ini?
Kemana saya setelah mati?
Darimana saya berasal?
Ini merupakan pertanyaan yang wajar dan sesuai dengan fitrah manusia, bahkan seorang anak kecil-pun akan bertanya dari mana ia sebelum dilahirkan dan paling-paling ibunya menjawab bahwa ia berasal dari perut ibunya. Tetapi kita sebagai manusia dewasa yang berakal tentu tidak akan puas dengan jawaban dari perut ibu kita, untuk itu Sang Maha Pencipta telah memberikan informasi tentang keberadaan kita melalui wahyu-Nya yang tercantum dalam Al-Quran.
Banyak ayat dan hadist yang menjelaskan bahwa Allah swt yang menciptakan kita, perkawinan, kehamilan dan kelahiran merupakan perantara saja dari proses penciptaan manusia oleh Allah swt.

Untuk apa saya hidup didunia ini?
Allah swt secara tegas menyatakan bahwa Ia menciptakan kita semata-mata untuk menyembah-Nya, artinya menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Seorang manusia pada saat mencapai baligh, maka semua hukum syara’ (syari’at Islam) terbebani kepada dirinya (taklif). Ia harus tahu perintah yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan. Setiap gerak langkahnya harus diukur dari kacamata syari’at, dia wajib menjalankan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji, kewajiban sebagai suami dan istri, kewajiban menutup aurat, mencari rezki yang halal, menghindari mengambil yang bukan haknya (suap, korupsi, dan lain-lain.), tidak mengambil/memakan riba, berkewajiban untuk berdakwah, berjuang untuk membela agama Allah dan lain-lain.
Mereka bisa saja mengaku beragama Islam tetapi tidak menjalankan perintah agama, bahkan ibadah ritual seperti: shalat, puasa, zakat dan haji-pun tidak dilakukan. Padahal Islam tidak sebatas ibadah ritual semata, Islam mengatur seluruh sisi kehidupan kita, seperti: sistem sosial (mu’amalah), ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), peradilan, sanksi (‘uqubat), dan lain-lain.
Syari’at Islam melalui Al-Quran dan sunnah tidak akan melewatkan satu hal-pun dalam mengatur kehidupan manusia, karena aturan tersebut datang dari Sang Maha Pencipta yang tahu persis kebutuhan manusia dari dulu, sekarang dan akan datang.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ( Q.S. Al-Maidah : 3 ).
Mereka yang memahami arti hidup maka setiap gerak langkahnya dalam mengarungi kehidupan selalu mengacu kepada syari’at, ia akan selalu berhati-hati dalam berbuat, lebih baik menunda sejenak dalam berbuat sebelum ia tahu persis apakah hal tersebut halal atau haram. Inilah manusia yang bertaqwa dan akan selamat dalam menempuh kehidupan dunia serta beruntung diakhirat nanti.
Orang-orang yang mengabaikan syari’at Allah swt, merekalah orang yang merugi karena mereka telah mengorbankan kehidupan akhirat yang abadi dengan mengutamakan kehidupan dunia yang sementara. Rasulullah saw menganalogikan kehidupan dunia “Bagaikan berteduh sejenak dibawah pohon (dunia) dalam menempuh perjalanan panjang yang abadi (akhirat)”. Kehidupan dunia bagaikan senda gurau belaka yang menyilaukan dan seharusnya akhiratlah tujuan utama kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩﴾
ِArtinya : “ Hai orang-orang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi (Al-Munafiqun 9).
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ ﴿٣٢﴾
Artinya : Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am 32).
فَأَمَّا مَن طَغَى ﴿٣٧﴾ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿٣٨﴾ فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٣٩﴾ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ﴿٤٠﴾ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ﴿٤١﴾
Artinya : Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya (An-Nazi’at 37-41).
Kemana saya setelah mati? Setiap jiwa pasti mati dan jika sudah tiba saatnya (ajal) tidak akan dimajukan atau dimundurkan sedetik-pun, saat inilah sudah terlambat untuk bertaubat.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ ﴿٣٤﴾
Artinya : Dan bagi setiap umat ada ajalnya. Apabila ajal itu sudah datang tidak dapat mereka meminta diundurkan atau dimajukan sesaat juapun (Al-A’raf 34).
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ﴿٢٤﴾
Artinya : Dia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku beramal dahulu untuk hidupku ini” (Al-Fajr 24).
Ketika kita dibangkitkan diakhirat nanti, semua yang kita lakukan di dunia akan dihisab satu persatu, tidak terkecuali, dosa kecil maupun besar, pahala kecil maupun besar. Keputusannya hanya dua, syurga atau neraka.
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ﴿٣٨﴾
Artinya : Tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya (Al-Mudatsir 38).
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿١٠﴾
Artinya : Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentu kami tidak termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala ini” (Al-Mulk 10).
Akhirul saya ingin mengatakan, jika kita memahami arti hidup maka kita harus mengutamakan kehidupan akhirat karena hidup di dunia ini hanya tempat persinggahan sementara dari perjalanan panjang untuk menuju kehidupan akhirat kelak. Kehidupan dunia harus digunakan untuk menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan abadi diakhirat nanti.

Jumat, 21 Januari 2011

PEMIMPIN TELADAN


UMAR BIN ABDUL AZIZ
(Pemimpin Yang Layak Dijadikan Teladan)
Diantara pemimpin yang pantas dijadikan teladan adalah khalifah Umar bin Abdul aziz, sebagai seorang pemimpin dia mencurahkan segenap pemikiran untuk kepentingan rakyatnya. Maka tidak heran pada saat beliau diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu-sedu. Anaknya yang melihat ayahnya menangis hampir seharian berusaha mencari tahu penyebabnya, tapi tidak berhasil. berusaha mencari tahu penyebabnya, tapi tidak berhasil. Fatimah, sebagai istrinya menemuinya dan bertanya, "Wahai suamiku, mengapa engkau menangis seperti ini?" Umar pun menjawab, " Sungguh aku telah diangkat untuk menjadi pemimpin ummat ini “. Lantas aku termenung memikirkan nasib pakir miskin yang sedang kelaparan, orang orang yang tidak bisa membeli pakaian, orang-orang sakit yang tidak bisa berobat,  orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membela mereka, orang-orang yang memiliki keluarga besar tapi hanya mempunyai sedikit harta, orang orang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang ditawan atau dipenjara, serta orang-orang yang menderita di pelosok negeri ini. Aku sadar dan tahu bahwa Allah pasti akan meminta pertanggungjawabanku tentang amanah ini. Namun, aku khawatir tidak sanggup memberikan bukti bahwa aku telah melaksanakan amanah ini dengan baik sehingga aku menangis. Sambil  menyeka air matanya, ia membaca Al-Qur’an,
إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿١٥﴾
“ Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)".."(QS Yunus: 15).
Bagaimana dengan pemimpin kita yang ada pada hari ini…?, apakah mereka memiliki kesadaran eskatologis (pertanggungjawaban di hari akhir) seperti yang ditunjukkan Umar?  Faktanya, para pemimpin cenderung berpesta pora ketika memperoleh kemenangan dalam pemilu (pilpres dan pilkada), padahal amanah yang diberikan kepadanya  sungguh berat dan harus dipertanggungjawabkan kepada public, terlebih-lebih di hadapan pengadilan Allah SWT kelak. Menyadari bahwa rakyatnya masih banyak yang miskin, menderita, dan sengsara, Umar bin Abdul aziz memutuskan untuk tidak tinggal di istana, tapi hanya menempati rumah sederhana tanpa pengawal pribadi Beliau juga menolak menggunakan fasilitas negara, termasuk berbagai perhiasan yang diwariskan Khalifah Malik bin Marwan untuk istrinya.
Ketika dorongan untuk berkuasa membara, banyak yang  menjual diri dengan janji-janji politik yang muluk-muluk. Tapi ketika berkuasa, ia cenderung lupa dan tidak sadar akan janji-janji yang telah di obral, sehingga janji tinggal janji. Keadilan tidak ditegakkan. Kekuasaan dijalankan menurut hawa nafsunya. Rakyat dilupakan, bahkan disengsarakan.
Begitulah potret penguasa yang lupa diri sekaligus lupa Allah SWT.
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿١٩﴾
"Janganlah kamu seperti orang orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS al-Hasyr : 19).
Karena itu, penguasa harus sadar bahwa kekuasaan itu bukan kesempatan untuk meraih kenikmatan, tapi kesempatan untuk mengemban amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan publik dan terutama di hadapan Allah SWT.
Figur seoang pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz ini pantas untuk di teladani oleh pemimpin bangsa ini, karena Umar bin Abdul Aziz adalah  pemimpin teladan yang sadar diri, tidak lupa rakyat, sekaligus tidak lupa kepada Allah SWT. Sungguh karakter pemimpin seperti Umar di negeri ini masih sangat langka, meski rakyat selalu mendambakannya.
Ya Allah...... Bukakanlah hati pemimpin kami agar mereka dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik dan benar sesuai dengan jalan yang Engkau ridhai. Tanamkanlah rasa takut dihati mereka akan azabMu manakala mereka melakukan penyimpangan dalam menjalankan kepemimpinan mereka. Timbulkan dihati mereka rasa tanggung jawab dan kasih sayang untuk mencintai rakyatnya, sehingga dengan itu mereka selalu mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kesejahteraan rakyat di negeri ini.
Ya Allah..... Andaikan Engkau murka kepada bangsa kami akibat kelalaian dan dosa-dosa yang kami lakukan, janganlah Engkau turunkan bala kepada kami, tetapi bukakanlah pintu hati kami untuk bertaubat kepadaMu dari kesalahan yang pernah kami lakukan, sehingga dengan itu kami berharap ridhaMu akan mengalahkan murkaMu.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Kamis, 20 Januari 2011

BONA PAPUTUNGAN ( Pencipta Lagu Andai Aku Gayus )


PENCIPTA LAGU “ ANDAI AKU GAYUS “
Setelah menciptakan lagu 'Andai Aku Gayus', tak hanya membuat namanya tenar. Kini, Bona Paputungan bak selebritis. Dia tidak hanya wira wiri di televisi tapi tawaran di dunia entertaiment datang silih berganti.
Pria asal Gorontalo ini telah mendapatkan tawaran iklan, juga akting dalam Film Televisi (FTV). Khusus lagu Andai Aku Jadi Gayus Tambunan salah satu label siap meng-RBT kan lagu yang telah dipopulerkan.

"Memang ada penawaran FTV, iklan tapi masih kita diskusikan dengan teman lain karena bagaimanapun banyak orang lain yang terlibat dalam mempopulerkan lagu ini," ungkap Bona yang ditemui di salah satu hotel di Jakarta, Selasa (18/1/2011) tengah malam.
Khusus untuk RBT, tawaran yang adalah dirinya mendapat pembagian merata dengan label yakni masing-masing 25 persen sedangkan sisanya 50 persen hak operator telepon. "Kalaupun nantinya RBT jadi, kami tidak mau musiknya dirubah. Ya tetap saja seperti itu karena itu yang diterima masyarakat," ungkapnya. Bona menambahkan hasil yang diperolehnya 30 persen akan diberikan untuk pendidikan anak-anak kurang mampu.
Apakah Bona mempunyai niatan untuk merintis karir di Jakarta? "Kalau merintis di sini, nanti kita lihat karena saya harus kumpul dengan keluarga. Jadi belum memutuskan dan perlu pembahasan nanti," ungkapnya.
Sumber : http://www.tribunnews.com/2011/01/19/pencipta-lagu-andai-aku-gayus-mulai-jadi-selebitis

SABAR DALAM MENGHADAPI COBAAN HIDUP, SALAH SATU KUNCI MERAIH SUKSES

Meraih Kemenangan Hidup yang Sesungguhnya
Kita semua pasti pernah atau akan mendapatkan masalah. Setiap musibah yang kita hadapi pasti ada hikmahnya. Sebab, setiap yang melanda dalam hidup kita pasti menuju kepada arah kehidupan yang lebih baik. Ingatlah, Allah tidak akan memberikan cobaan yang berat di luar batas kemampuan hamba-Nya. Bersikaplah sabar, karena dengan bersabar, insya Allah hidup ini akan tenang dan kita mampu menjadi pemenang.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh : 286.
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ﴿٢٨٦﴾
Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
Menyelesaikan masalah tidak harus dengan emosi atau beradu otot. Pemenang bukanlah yang terkuat, melainkan seseorang yang mampu menyikapi masalah dengan bersabar, menahan diri dari godaan yang menimbulkan kebencian dan emosi. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits, yang maksudnya seperti  ungkapan di bawah ini:
Artinya : "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah." (HR Bukhari)
Sabar bukan berarti pasrah dalam cobaan. Sabar berarti mampu berlapang dada atas musibah dan cobaan yang menimpa, dan memahaminya sebagai takdir yang harus dijalani sambil terus berusaha mencari pemecahannya. Ketika ujian datang, sabar adalah sikap paling utama, karena sikap inilah yang bisa mengantarkan kita pada ridha Allah. Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya telah memuji seorang mukmin karena kesabarannya.  
Artinya : “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Hal yang demikian itu tidak akan ada kecuali hanya pada orang mukmin: yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim).
Sabar itu indah. Allah sayang terhadap orang-orang yang bersabar. 
وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Allah Mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran [3]: 146).
Oleh sebab itu, jangan memvonis setiap problem kehidupan ini tidak ada jalan keluarnya. Sekalipun pada saat cobaan selesai, tapi datang lagi dan datang lagi, tetaplah bersabar. Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran.
Kita diperintahkan untuk bersabar dalam menghadapi segala bentuk ujian tujuannya tidak lain agar kita mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Jadikanlah kesabaran kunci bagi kehidupan kita, Insya Allah kita memperoleh kesuksesan, memperoleh keseimbangan jiwa, mendapatkan kemuliaan, hingga menjadi hamba yang disayangi Allah SWT. Pada akhirnya, kita menjadi seorang pemenang sejati yang sesungguhnya.