Selasa, 01 Februari 2011

HATI ITU IBARAT RAJA

MENGENAL MACAM-MACAM HATI
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً ﴿٣٦﴾
" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS Al-Isra’: 36).
Peran hati dalam kehidupan manusia sangat besar pengaruhnya terhadap anggota tubuh yang lain, karena itu kedudukannya dalam kehidupan manusia sangat penting. Hati itu bagaikan Raja yang mengatur anak buahnya, karena dia bagaikan Raja di mana seluruh anggotanya tersebut bergerak dan bekerja sesuai dengan perintah sang Raja (qalbu/hati), maka dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, artinya :
"Ingatlah ! Bahwa dalam tubuh itu ada segumpal darah. Bila dia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya; dan bila ia rusak, maka rusak jugalah seluruh tubuhnya. Itulah Qalbu!" (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi, Hati merupakan Raja dari seluruh anggota badan, di mana mereka melaksanakan segala apa yang diperintahkannya. Suatu amal (perbuatan) tidaklah benar, kecuali bila diawali dengan "Niat" yang Benar di dalam Hati. Sebab Hati itupun kelak harus bertanggungjawab terhadap segala amal perbuatan kita. Bukankah setiap pemimpin dipinta pertanggungjawaban terhadap semua hal yang dipimpinnya….?
Dengan demikian, meluruskan dan membuat Niat menjadi BENAR adalah pekerjaan yang paling utama yang harus dilaksanakan oleh hamba-hamba yang meniti jalan menuju Allah Ta'ala. Segala sesuatu dinilai dari Niat yang tumbuh berasal dari dalam Qalbu (Hati).
Mengobati penyakit-penyakit Hati adalah suatu kewajiban setiap hamba Allah Ta'ala, karena kita manusia Dia ciptakan hanyalah untuk ber Ibadah lahir dan batin kepada-Nya, karena beribadah  merupakan salah satu tujuan manusia di ciptakan Allah. Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zariyat ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالانسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Pembagian Qalbu (Hati) :
1. Hati yang Selamat (Sehat)
2. Hati yang mati
3. Hati yang mengandung penyakit-penyakit (sakit)
1. Hati yang Selamat (Sehat)/Qalbun Salim, adalah Hati yang hanya dengannya manusia dapat datang dan berjumpa Allah Ta'ala dengan Selamat di hari Kiamat.
يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾
"Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat. Kecuali manusia yang datang kepada Allah dengan Hati yang Selamat (Sehat)." (QS ِAsy-Syu’ara’ :88-89).
Qalbu yang Selamat ini adalah Qalbu yang Selamat dari setiap keinginan yang menyalahi perintah Allah Ta'ala. Selamat dari setiap syubhat dan kesalahfahaman yang bertentangan dengan Kebaikan (Kebenaran), sehingga sang Hati ini selamat dari penghambaan kepada selain Allah. Akhirnya qalbu seperti ini akan membuahkan keikhlasan dalam setiap perilaku, sehingga apa yang dilakukan semata-mata hanya kepada Allah. Dengan demikian dalam hati kita akan dipenuhi dengan sikap Mahabbah, Tunduk, Tawakkal, Taubat, berharap hanya kepada Allah dan beragam sikap terpuji lainnya.
Bila ia mencintai sesuatu, maka ia mencintainya hanya karena Allah. Dan bila ia membenci sesuatu, maka ia pun membencinya hanya karena Allah jua. Bila ia memberi, hanyalah karena Allah, dan bila ia melarang ataupun mencegah sesuatu, itupun hanya karena Allah SWT.
Bahkan tidak hanya sampai di situ, hati yang selamat adalah hati yang terikat kuat kepada ajaran Rasulullah Saw, baik dalam setiap ucapan maupun perbuatan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 49:1)
2. Qalbu (Hati) yang mati, adalah hati yang tidak mengenal Allah SWT, tidak beribadah kepada-Nya, dengan tidak menjalankan perintah dan hal apapun yang diridhai-Nya.
Hati yang seperti ini selalu berada dan berjalan bersama keinginan / kehendaknya semata, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia tidak peduli apakah Allah  ridha kepadanya atau tidak.

Bila ia mencintai sesuatu, ia mencintainya karena mengikuti hawa nafsunya, begitu pula apabila ia membenci sesuatu, ia membencinya karena hawa nafsunya. Manusia yang seperti ini hidupnya dikuasai oleh hawa nafsunya, bahkan nafsunya menjadi pemimpin sekaligus pengendali bagi dirinya. Kebodohan dan kelalaian adalah supirnya. Ia diselubungi, dipenjara oleh kecenderungan / kecintaannya kepada dunia (yaitu hal-hal selain Allah Ta'ala dan Rasul-Nya). Hatinya telah ditutupi oleh selubung kabut gelap cinta kehidupan dunia dan hawa nafsunya.
Ia tidak menyambut dan menerima panggilan Allah, seruan Allah, seruan tentang hari kiamat, karena ia mengikuti syaitan yang menunggangi hawa (nafsu) nya. Hawa nafsunya telah membuatnya tuli dan buta, sehingga ia tidak tahu lagi mana yang haq dan mana yang batil. Maka berteman dan bergaul dengan orang-orang yang hatinya telah mati seperti ini berarti mencari penyakit.
3. Qalbu (Hati) yang sakit, adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit-penyakit.
Hati semacam ini mengandung 2 unsur :
Di satu pihak mengandung Iman, Ikhlas, Tawakal, Mahabbah, dan sejenisnya yang membuatnya menjadi hidup, namun di pihak lain mengandung kecintaan / kecenderungan kepada hawa (nafsu), seperti cinta pada kehidupan dunia, sombong, ego, harga diri tinggi, keluhan, iri, dengki dan sifat-sifat lain yang dapat mencelakakan dan membinasakannya.
Hati seperti ini diisi oleh dua seruan: Seruan Allah  dan Rasul-Nya dan seruan kecintaan kepada dunia. Mana seruan yang di sambutnya diantara dua seruan tersebut maka kepada seruan tersebutlah dia akan lebih dekat.
Maka, Hati yang pertama itulah yang selamat karena sehat dari berbagai macam penyakit Hati, senantiasa khusyu', tunduk, bersifat lembut. Sedangkan hati jenis kedua itulah hati yang mati, dan hati jenis ketiga yaitu hati yang sakit karena mengandung penyakit, yang mungkin bisa kembali dengan selamat (Sehat) atau ia akan Celaka (Mati).
Akhirnya perbanyaklah berdo’a kepada Allah agar kita senantiasa diberi Allah hidayah untuk menuju jalan yang di ridhainya, dengan demikian kita akan memperoleh keselamatan di dunia ini dan di akhirat kelak.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Senin, 31 Januari 2011

Pengaruh Jejaring Sosial terhadap Pergolakan Politik

Adanya gelombang demonstrasi yang terjadi di Mesir tak lepas dari peran situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Untuk itu, pihak Mesir telah memutus akses internet untuk menanggulangi demonstrasi tersebut. Pemutusan akses internet itu sendiri dilakukan sejak Kamis, 27 Januari 2011.
Tampaknya tindakan preventif itu tidak berhasil, karena demonstrasi massal kembali pecah secara serentak di penjuru Mesir, Jumat 28 Januari 2011, untuk menuntut rezim Hosni Mubarak mundur.
Bagi kalangan pengamat, langkah pemerintah Mesir memutus akses internet menandakan bahwa laman-laman sosial media telah berperan penting dalam menciptakan pergolakan massal. Maka, bagi rezim Mubarak, jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter harus diblokir, bahkan semua akses internet jangan sampai tetap beredar.
Menurut kolumnis Computerworld, Jaikumar VijayanRezim, Mubarak tidak ingin mengulang kejadian di Tunisia sekaligus ingin mengadopsi langkah-langkah China dan Iran dalam membendung gerakan populer yang dibantu oleh media-media sosial di internet.
Selama ini. para aktivis dan kubu oposisi bisa dengan mudah memobilisasi massa dan melakukan koordinasi gerakan unjuk rasa melalui akun di Facebook dan Twitter. Mereka juga bisa menjadi media alternatif dengan menayangkan video-video bentrokan yang segera tersebar ke seluruh dunia melalui laman YouTube dan blog.
Data dari laman pemantau media sosial, Social Bakers, menunjukkan bertambahnya jumlah pengguna Facebook di Mesir. Enam bulan lalu, jumlah pengguna jejaring sosial itu tidak sampai 3,2 juta. Namun, hingga pekan lalu, pengguna Facebook di Negeri Piramid ini berjumlah lebih dari lima juta orang. Sekitar 85 persen pengguna masuk dalam angkatan usia produktif, yaitu 18 hingga 44 tahun.
Berdasarkan data tersebut, tidak heran bila jejaring sosial seperti Facebook menjadi alat perjuangan para aktivis untuk berkoordinasi dan memobilisasi massa. Grup-grup di Facebook pun bermunculan. Walau menonjolkan tema-tema yang berbeda – dari kesulitan ekonomi hingga kekerasan aparat – tujuan grup-grup itu sama, yaitu bersatu menggulingkan pemerintahan Mubarak melalui gerakan massa.
Harian The Guardian mencatat, salah satu grup di Facebook yang populer adalah “We are all Khaled Said.” Grup itu mengadopsi nama seorang pemuda di Kota Alexandria yang dipukul hingga mati oleh polisi tahun lalu.
Grup online itu membawa pesan solidaritas melawan aparat keamanan yang semena-mena atas kaum muda. Dengan cepat, grup itu diakses oleh ratusan ribu pengguna Facebook di Mesir.
Kaum oposisi tradisional pun akhirnya ikut pola kaum muda dalam menyampaikan pesan ke banyak orang melalui media sosial. Itulah yang dilakukan Mohamed El Baradei, salah seorang tokoh oposisi.
Peraih Nobel Perdamaian 2005 ini memanfaatkan Twitter untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya. “Dukung penuh seruan untuk demonstrasi damai melawan represi,” demikian kicau ElBaradei di Twitter, seperti yang dipantau majalah Newsweek.
Kedatangan ElBaradei ke Kairo untuk mendukung demonstrasi pada 28 Januari itu disebarluaskan melalui internet.
Perkembangan pesat jumlah pengguna media sosial di Mesir itulah yang membuat rezim Mubarak memutuskan melakukan tindakan frontal, yaitu memutus semua akses internet.
Richard Stiennon, pengamat dari IT-Harvest, menilai bahwa upaya pemerintah Mesir itu menunjukkan bahwa stabilitas pemerintahan, pengambilan kebijakan, bahkan pemilihan umum bisa dipengaruhi oleh akses yang bebas dan terbuka atas informasi dan publik.
“Pemerintah punya kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam memblokir semua akses ke layanan-layanan tertentu. Masalahnya, sampai seberapa lama tindakan itu bisa dilakukan,” kata Stiennon seperti dikutip laman Computerworld.
Menurut dia, pihak berwenang harus memutus semua akses internet secara serentak di semua wilayah untuk mencegah massa berkoordinasi satu sama lain.
Pemblokiran itu sukses dilakukan oleh Iran ketika menghadapi gelombang demonstrasi massal pada 2009. Saat itu kubu oposisi sukses menghimpun massa melalui berbagai pesan di Twitter dan Facebook untuk menentang hasil pemilu, yang mereka anggap sarat kecurangan sehingga memenangkan kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
Namun, Iran saat itu bertindak sigap dengan memblokir semua akses internet untuk publik. Massa demonstran pun kesulitan berkoordinasi di berbagai kota dan akhirnya gerakan anti Ahmadinejad berhasil ditangkal.
China pun menerapkan kontrol yang ketat atas penggunaan internet. Bahkan, pengguna internet di China tidak bisa mengakses jejaring sosial yang populer seperti Facebook, Twitter, dan Youtube. Ini berkat upaya serius pemerintah China dalam mengendalikan teknologi informasi di negeri mereka dengan mengerahkan dana yang besar dan kampanye yang terus-menerus.
Namun, China dan Iran berbeda dengan Mesir. Kedua negara itu bisa melakukan kontrol internet yang ketat karena memiliki infrastruktur dan keuangan yang memadai. Sebaliknya, Mesir tengah mengalami krisis ekonomi. Harga-harga kebutuhan pokok naik, begitu pula tingkat pengangguran.
Memutus jaringan internet di hampir penjuru Mesir selama berhari-hari bisa turut memperburuk situasi ekonomi di negara itu. Di hampir semua negara, teknologi informasi seperti internet telah menjadi elemen penting untuk menggerakkan perekonomian.
“Cuma masalah waktu sebelum internet kembali berfungsi di Mesir,” kata Sherif Mansour, pengamat dari Freedom Watch, seperti dikutip Wired.com. “Pemerintah pun butuh internet untuk menggerakkan ekonomi, investasi, dan beroperasi,” lanjut Mansour. (Vivanews.com)
http://beritaterbaru.net/facebook-twitter-jadi-musuh-baru-mesir.php

Minggu, 30 Januari 2011

KEMATIAN ITU MERUPAKAN SUATU KEPASTIAN


Terlebih dahulu mari renungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿١٨٥﴾
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan “.
Rasul saw. Bersabda, artinya : “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi).
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tidak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tidak lari dan menyimpang.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan, diantarany :
1. Kematian mengingatkan kita bahwa waktu itu sangat berharga.
Tidak ada sesuatu-pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tidak seorang-pun tahu berapa lama lagi jatah waktu untuk berada di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang-pun tahu di mana kematian akan menjemputnya. Allah swt berfirman dalam surat Luqman : 34:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الارْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿٣٤﴾
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “.
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu, pada hakikatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tidak ada satu detik pun waktu berlalu melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan hal ini dalam surah Al-Anbiya ayat 1:
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مَّعْرِضُونَ ﴿١﴾
“ Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan waktu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.
Firman Allah swt dalam surah Ibrahim ayat 44:
وَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُواْ رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُواْ أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ ﴿٤٤﴾
“ Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?,”
2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa.
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan kisah Sinetron, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika Sutradara mengatakan ‘selesai’, usailah sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya. Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, Sinetron sudah berakhir.
Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang Sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian. 
3. Kematian mengingatkan bahwa kita tidak memiliki apa-apa.
Fikih Islam menggariskan kepada kita bahwa tidak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. hanya tubuh kecil yang tidak berbalut, walau sehelai benang.
Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan?. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga?.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun akan kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah?. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
4. Kematian mengingatkan bahwa hidup hanya sementara.
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya, hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tidak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.
Ketika sinyal kematian mulai datang berupa rambut yang memutih, tenaga yang kian melemah, kulit yang semakin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: Awal, Berkembang, dan kemudian Berakhir.

5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga.
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup itu amat berharga. Hidup tidak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.
Dalam hal ini seorang mukmin sepantasnya selalu mengingat firman Allah dalam surah Al-Qoshos ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الاخِرَةَ وَلا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الارْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾
“  Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.  “.
Wajarlah kalau di katakan : “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat).
Orang yang mencintai sesuatu tidak akan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat yang ia cintai. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.