Selasa, 22 Maret 2011

Sayangi Kedua Orang Tua

Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak

Pada suatu sore, seorang ayah bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.  Si ayah lalu menunjuk ke arah burung gagak sambil bertanya, Nak, apakah benda itu? Burung gagak, jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, Itu burung gagak, Ayah! Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak heran dengan pertanyaan ayahnya yang diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, BURUNG GAGAK!! Si ayah terdiam seketika.

Namun tidak lama berselang, sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, Itu gagak, Ayah. Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang kesabaran dan menjadi marah.

Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah.., kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah catatan yang sudah usang. Coba kamu baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam catatan ini, pinta si Ayah.

Si anak setuju dan membaca paragraf demi paragraf, akhirnya sampai kepada paragraf yang bertliskan, Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, Ayah, apa itu? Dan aku menjawab, Burung gagak. Walau pertanyaannya sudah aku jawab, namun anakku terus bertanya dengan pertanyaan yang sama, dan aku terus menjawab dengan jawaban yang sama, sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku kepadanya, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah Ayahnya yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara, Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran dan marah kepada ayah.

Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

PESAN:
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tua, hormatilah mereka. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita. Kita sudah banyak mempelajari tuntunan Islam yang berkenaan dengan berbakti kepada kedua orang tua. Tetapi……….!
Sudahkah kita amalkan ?????????????????.

Ingatlah ……………….! Banyak ilmu bukanlah kunci masuk syurga.

Selasa, 15 Maret 2011

Pengurus : “ Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara Mendapat Hadiah Biaya Perjalanan Haji

Musabaqah Tilaatil Qur’an ( MTQ ) Medan Berakhir
Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke 44 tingkat Kota Medan 2011 yang dilaksanakan sejak tanggal 7-14 telah berkhir. Acara penutupan MTQ tersebut diwarnai dengan suasana hujan lebat yang mengguyur kota Medan, sehingga para pengunjung menyerbu tenda-tenda yang disiapkan untuk para undangan. Dalam suasana hujan tersebut ketua Dewan Hakim H. Hasan Basri Sa’i mengumumkan nama-nama pemenang dari seluruh cabang yang dipertandingkan. Diantara pemenang yang meraih juara tersebut adalah para  Qori-Qori’ah yang tergabung dalam Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara.
Mereka Yang meraih juara tersebut adalah :
  1. Sarwo Edi Harahap ( Juara I Cabang Tilawah golongan Dewasa Putra ).
  2. Jakfar Hasibuan ( Juara I Cabang Qiro’at Saba’ Putra ).
  3. Abdullah ( Juara I Khat Cabang Naskah Putra ).
  4. Ahmad Azro’i Hasibuan ( Juara II Cabang Tilawah golongan Dewasa Putra ).
  5. Mazlan ( Juara II Khat Cabang Dekorasi Putra ).
  6. Siti Raudhah ( Juara III Khat Cabang Naskah Putri ).
  7. Muhammad Ilyas ( Harapan I Tilawah Golongan Cacat Netra ).
  8. Muhammad Hubbillah Nasution ( Harapan I Tahfizh 5 Juz dan Tilawah ).
  9. Fahmil Qur’an ( Harapan II ).
  10. Ismail ( Juara Harapan III Khat Cabang Hiasan Mushaf Putra ).
  11. Ria Damayanti  ( Juara Harapan III Khat Cabang Hiasan Mushaf Putri ).
Dari nama-nama pemenang yang telah disebutkan, ada kebanggaan tersendiri yang dibarengi rasa syukur kepada Allah dimana satu diantara peserta yang tergabung di “ Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara, Sarwo Edi Harahap, memperoleh hadiah biaya perjalanan menunaikan Ibadah Haji. Sementara Jakfar Hasibuan mendapat hadiah satu unit Sepeda Motor.

Terhadap Para pemenang saya ucapkan selamat atas prestasi yang diraih dan tetaplah mamacu diri untuk lebih berprestasi lagi dimasa yang akan datang. Kepada yang belum berhasil jangan berputus asa, namun teruslah berlatih secara maksimal agar di tahun mendatang dapat menjadi yang terbaik.
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti
Pendiri & Pembina
Wadah Silaturrahmi Qori-Qori’ah “ ( WASIQOH ) Sumatera Utara



Minggu, 06 Maret 2011

Menggapai Ampunan Allah


Meraih Ampunan Dan Syurga Allah
Khilaf dan salah adalah merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, namun bukan berarti manusia harus larut dalam khilaf dan salah tersebut. Kekhilafan dan kesalahan harus ditebus dengan upaya memperbaikinya dengan mengisi kehidupan dengan nilai-nilai kebaikan. Ada dua sisi kesalahan yang selalu dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya. Pertama, kesalahan kepada Allah, kedua kesalaha kepada sesama manusia. Kesalahan kepada Allah hendaklah ditebus dengan bertaubat kepadaNya dengan cara berupaya untuk meraih keampunanNya, dan kesalahan kepada sesama manusia hendaklah berupaya untuk mendapatkan kema’afan dari orang yang kita bersalah kepadanya.
Perlu disadari bahwa kehidupan manusia itu akan terhina manakala dia tidak mampu menjalin dua arah komunikasi dalam kehidupannya, yaitu hubungan vertical kepada Allah dengan mengabdikan dirinya kepada Allah, dan hubungan horizontal kepada sesama manusia dengan berinteraksi secara baik kepada sesama manusia. Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan melalui firmanNya di dalam Al-Qur’an surat Ali Imron : 112 .
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ
Artinya:“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia“.............................
Atas segalah kekhilafan dan kesalahan yang pernah dilakukan, kita sebagai hamba-hamba Allah di perintahkanNya agar berupaya secara maksimal untuk mendapatkan ampunan daripadaNya, dan juga berupaya untuk mendapatkan syurga yang hanya dijanjikan Allah untuk orang-orang yang bertaqwa. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 133.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾
Artinya:“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“.
Indikasi orang-orang yang bertaqwa itu antara lain adalah sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah pada surat Ali Imron ayat 134-135.
  1. Orang-orang yang mau meng-infakkan hartanya. ( untuk kepentingan-kepentingan yang dibutuhkan oleh ummat ), baik pada saat lapang maupun sempit. Hal ini tergambar dalam lanjutan firman Allah di atas, yaitu :………….. الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء  , (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.
  2. Orang-orang yang mempu mengendalikan emosional.  ………. وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ , dan orang-orang yang menahan amarahnya.
  3. Orang-orang yang mau memberi ma’af terhadap orang yang bersalah kepadanya, ............ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ  dan mema`afkan (kesalahan) orang. Tiga sikap yang telah disebutkan di atas adalah merupakan perbuatan baik yang sangat dipuji oleh Allah. Dalam hal ini dinyatakan Allah dengan firmannya „ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
  4. Orang-orang yang menyadari kesalah-kesalahan yang pernah dia lakukan dan bertaubat kepada Allah serta bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Allah berfirman „وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَDan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Orang-orang yang memiliki indikasi sebagai orang-orang yang bertaqwa seperti yang telah dikemukakan di atas, Allah menjanjikan untuk mereka ampunan dan syurga yang penuh dengan beragam kenikmatan. Hal ini tertuang dalam firman Allah pada lanjutan ayat di atas:
أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Artinya:“Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.
Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki perilaku baik seperti yang telah disebutkan di atas, dan dengan itu pula kita berharap mendapat ampunan dan kemuliaan dari Allah SWT.

Jumat, 04 Maret 2011

Bersyukur Akan Nikmat Allah

Sudahkah Kita Menjadi Manusia yang Bersyukur?

Syukur merupakan perbuatan yang amat utama dan mulia, oleh karena itu Allah SWT. memerintahkan kita semua untuk bersyukur kepada-Nya, mengakui segala keutamaan yang telah Dia berikan, sebagaimana dalam firman Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
Artinya : " Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.” (Al-Baqarah :152)

Allah SWT juga memberitahukan, bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang mau bersyukur, sebagaimana yang difirmankan:

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِراً عَلِيماً
Artinya : “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman, dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisaa :147)

Orang yang mau bersyukur merupakan kelompok orang yang khusus di hadapan Allah, Allah mencintai kesyukuran dan para pelakunya serta membenci kekufuran dan pelakunya. Dia telah berfirman:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya : “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu. ” (QS Az Zumar:7)

Allah juga menegaskan, bahwa syukur merupakan sebab dari kelangsungan sebuah nikmat, sehingga tidak lenyap dan bahkan malah semakin bertambah, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya : “Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema'lumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim : 7)

Dan masih banyak lagi keutamaan dan manfaat dari syukur kepada Allah, maka tak heran jika Allah menyatakan, bahwa amat sedikit dari hamba-hamba-Nya yang bersyu-kur (dengan sebenarnya).

Hakikat Syukur

Kesyukuran yang hakiki di bangun di atas lima pondasi utama. Barang siapa merealisasikannya, maka dia adalah seorang yang bersyukur dengan benar.  Lima asas tersebut adalah:

  1. Orang yang bersyukur senantiasa merendahkan diri dihadapan yang dia syukuri, yaitu Allah SWT. 
  2. Kecintaannya senantiasa tercurah kepada Sang Pemberi nikmat (Allah).
  3. Mengakui seluruh kenikmatan yang ada, datangnya dari Allah.
  4. Senantiasa memuji-Nya, atas nikmat tersebut.
  5. Tidak menggunakan nikmat yang dia dapatkan untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah.
Maka dengan demikian syukur adalah merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati senantiasa mencintai Nya, anggota badan taat kepada-Nya serta lisan tak henti-henti menyebut Nya.

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika pagi dan sore mengucapkan pujian (dzikir) sebagai berikut, yang artinya:

"Ya Allah tak satu pun kenikmatan yang menyertaiku di pagi /sore ini atau yang tercurah kepada salah satu dari makhluk Mu, maka itu adalah semata dari Mu, tiada sekutu bagi Mu, untuk Mu lah segala puji dan untuk Mu pula segenap syukur."

Macam-Macam Syukur

Imam Ibnu Rajab berkata, "Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan”.

  1. Syukur dengan hati adalah mengakui nikmat tersebut dari Sang Pemberi nikmat, berasal dari-Nya dan atas keutamaan-Nya. 
  2. Syukur dengan lisan yaitu selalu memuji yang memberi nikmat, menyebut nikmat itu, mengulang-ulangnya serta menampakkan nikmat tersebut, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: Artinya : “Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutNya (dengan bersyukur)”.(QS. 93:11)
  3. Syukur dengan anggota badan yaitu tidak menggunakan nikmat tersebut, kecuali dalam rangka ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, berhati hati dari menggunakan nikmat agar tidak dijadikan untuk berbuat maksiat kepada-Nya.

Kamis, 03 Maret 2011

Nabi Muhammad Sebagai Teladan Hidup





( Irham Khairuddarain Rangkuti Saat Khatam Al-Qur'an )




DI ANTARA AKHLAK
RASULULLAH SAW
Firman Allah dalam Surat Al-Qolam:4.
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya : “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung  “.
Firman Allah dalam Surat Al-Ahzab:21.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “.

Akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah Al-Qur’an, membenci apa yang dibenci Al-Qur’an dan  merasa senang dengan apa yang disenanginya. Tidak dendam dan marah kepada seorang kecuali jika melakukan hal-hal yang diharamkan Allah sehingga kemarahannya karena Allah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam merupakan orang yang paling jujur ucapannya, paling memenuhi tanggung-jawabnya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, lebih pemalu dari perawan dalam pingitan, rendah hati dan selalu berpikir, tidak keji dan pengutuk, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi membalasnya dengan memberi ma’af dan jabat tangan, tidak pernah menolak siapa yang meminta sesuatu kebutuhan kecuali dipenuhi kebutuhannya atau dengan kata-kata yang halus dan tidak dengan hati kasar dan sikap keras, tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali jika bertentangan dengan kebenaran sehingga memotong pembicaraannya dengan larangan atau berdiri, tidak menganggap bohong kepada seseorang, tidak dengki kepadanya dan  tidak memintanya untuk bersumpah.
Rasulullah menghormati tetangganya dan memuliakan tamunya, waktunya tidak pernah berlalu tanpa beramal untuk Allah atau mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan, cinta kepada optimis dan benci kepada pesimis, jika ada dua pilihan beliau memilih yang teringan di antara keduanya selama tidak merupakan dosa, senang menolong orang yang membutuhkan dan membantu orang  yang teraniaya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga senang kepada sahabat-sahabatnya, bermusyarwarah dengan mereka dan memeriksa  keadaan mereka, yang sakit dikunjunginya, yang tidak hadir diundangnya, yang meninggal dunia dido’akannya seerta menerima alasan orang yang uzur kepadanya. Baginya, orang yang kuat dan orang yang lemah mempunyai hak yang sama. Beliau ketika berbicara, jika orang menghitung pembicaraanya tentu akan dapat menghitungnya karena kefasihan dan diuacapkan dengan teratur. disamping itu, beliau juga bergurau, hanya gurauannya tidak berlebihan, dan tidak mengucapkan sesuatu kecuali kebenaran.