Minggu, 17 April 2011

Diduga Pelaku Bom Bunuh Diri

Teman Dekat Yakin Foto yang Disebar Polisi Adalah M Sarip
Jakarta - Kepolisian masih menunggu hasil tes untuk memastikan terduga pelaku pembom Masjid Ad-Zikra di kompleks Mapolres Cirebon adalah Mochamad Sarip atau bukan. Namun salah satu temannya mengenali bila foto yang disebar polisi sebagai pelaku bom bunuh diri adalah Sarip.
"Kalau dilihat dari foto yang dirilis dari polisi itu sangat mirip Sarip. Saya bisa kenali dia," ujar Ketua Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) Cirebon, Andi Mulya saat dihubungi detikcom, Minggu (17/4/2011).
Menurut Andi, ada berapa ciri fisik yang ia kenali dari Sosok Sarip. Salah satu gigi di sebelah kiri Sarip patah.
"Mukanya juga persis begitu, saya sih bisa bilang yakin tapi sebaiknya menunggu kepolisian dulu saja," terangnya.
Andi mengaku mengenal Sarip sejak 3 tahun silam di Masjid At-Taqwa, Cirebon. Namun Sarip tidak pernah masuk dalam organisasi yang dipimpin Andi. Andi juga mengaku ia sering menasehati Sarip, karena pemuda tersebut cenderung tempramental.
"Dia tidak pernah masuk GAPAS. Saya tidak tahu dia punya organisasi atau tidak. Yang jelas dulu kita dekat, karena setiap salat di Masjid ketemu terus," imbuhnya.
Sebelumnya, Mabes Polri telah mengirim sampel darah keluarga M Sarip, terduga pelaku bom bunuh diri di masjid Ad-Zikra, di lingkungan Mapolresta Cirebon. Polri saat ini masih meneliti apakah DNA keluarga dengan DNA jenazah sama.
"Kalau DNA-nya cocok, besok Minggu (hari ini) kira-kira jam 13.00 WIB, kami akan lansir di Mabes Polri," ujar Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam saat dihubungi, Sabtu (16/4).
Anton menjelaskan, Mabes Polri telah membawa sampel darah keluarga M Sarip ke Jakarta. Pernyataan ini sekaligus menepis kabar pihak keluarga M Sarip diboyong ke Jakarta.
"Bukan orangnya, orangnya masih di Cirebon. Kita mau mencocokan dengan jenazah. Kalau cocok, baru mereka boleh melihat dan mengambil jenazahnya di sini," jelas mantan Kapolda Jatim ini.
Sumber data :
http://www.detiknews.com/read/2011/04/17/081614/1619072/10/teman-dekat-yakin-foto-yang-disebar-polisi-adalah-m-sarip?9911022

Ilmu, Fikir Dan Zikir

Memadukan Ilmu, Fikir Dan Zikir

Agama Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu, karena itu Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umatnya agar giat menuntut ilmu dan mendaya­guna­kan akal pikiran dalam menjalani setiap langkah kehidupan serta mengadakan penelitian dan pem­bahasan dalam menemukan pengetahuan guna keperluan hidup dan kehidupan.

Hal itu kita lakukan karena meyakini bahwa ilmu adalah sebagai azas untuk menuju kemajuan dan merupakan tonggak­ bangkitnya peradaban. Perlu dipahami dengan sebaik-baiknya bahwa Islam adalah agama yang menata kehidupan manusia, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Islam adalah agama yang mementingkan keselamatan akhirat, namun tetap menyuruh untuk memperoleh kehidupan yang baik di dunia.

Allah SWT berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Aartinya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS.16 An Nahl : 97).

Untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan pada dua kehidupan tersebut, ajaran Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu, bahkan ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat yang mendorong untuk belajar dalam rangka memperoleh ilmu, sedangkan jalan atau cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah dengan jalan mempergunakan pena dan membaca, yakni tulis baca.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الانسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الانسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. 96 Al-‘Alaq : 1-5).

Allah SWT memuliakan manusia melebihi hewan dengan adanya ilmu yang dimilikinya dan diamalkannya dalam menata hidup dan kehidupannya. Jadi, ilmu itu merupakan sifat khas manusia, yang apabila kehidupan manusia tidak didasari ilmu, niscaya tercabutlah sifat kemanusiaan dari dirinya, dan ilmu pengetahuan adalah merupakan sarana untuk meningkatkan kehidupan dari alam hayawani menjadi alam insani, bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk hormat kepada Adam disebabkan karena Adam a.s. mempunyai kelebihan berupa ilmu tentang nama-nama yang telah diajarkan Allah kepadanya.

Antara ilmu, fikir, dan dzikir harus ada perpaduan, yang direalisasikan dalam bentuk amalan kehidupan yang nyata guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لاوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. 3 Ali Imram : 190-191).

Dari firman Allah tersebut dapat diambil pemahaman bahwa fikir dan dzikir merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam memperkokoh iman kepada Allah SWT. Dalam hal ini kita hanya dibolehkan merenungkan dan memikirkan tentang fenomena alam semesta dan tentang ciptaan Allah terhadap diri kita sendiri, sedangkan mengenai Zat Allah tidak dibenarkan untuk merenung dan memikirkannya.

Rasulullah SAW bersabda : artinya : “Berfikirlah tentang makhluk Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Zat-Nya niscaya kamu akan binasa karenanya” (Al-Hadits).

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa zikir dan fikir haruslah beroreantasi untuk memperkokoh Tauhid Rububiyah maupun Tauhid ‘Uluhiyah kita, yaitu tauhid yang melahirkan pemahaman tentang kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya, dan tauhid yang melahirkan amalan berupa ibadah kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam berbagai bentuk ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lainnya.

Sebenarnya yang paling inti di dalam ajaran Islam itu adalah Tauhid Uluhiyah, yang merupakan ajaran yang dibawa oleh para Nabi terdahulu, yaitu seruan untuk menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dari makhluk-Nya. Sebab kalau hanya Tauhid Rububiyah saja, kaum musyrikin di Makkah pun bertauhid secara Tauhid Rububiyah, karena sebenarnya mereka-pun mengakui Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, namun mereka tetap menyembah berhala, dengan alasan bahwa berhala-berhala itu yang menjadi perentara bagi mereka untuk sampai kepada Allah. Bahkan Iblis pun mengakui Allah sebagai pencipta dirinya sendiri, namun Iblis enggan tunduk melakukan perintah Allah pada saat diperintahkan Allah untuk memberi hormat kepada Adam.

Karena itu marilah kita padukan antara ilmu, fikir, dan dzikir dalam meningkatkan kualitas iman dan kuali­tas ibadah kita kepada Allah SWT. Ilmu merupakan lampu penerang bagi setiap muslim dalam menjalani hidup dan kehidupannya agar tidak salah dalam mengerjakan dan mengamalkan perintah Allah, sedangkan fikir me­ru­pakan penjernihan akal dan jiwa untuk mengakui kebesaran Allah dan memahami kelemahan diri kita, se­da­ngkan dzikir mengarahkan hati kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbagai macam be­n­tuk kegiatan yang bersifat ibadah.

Ibadah inilah sebenarnya menjadi fokus utama kehadiran kita di muka bumi ini, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Adz Dzariyaat : 56 :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Artinya :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”.

Mari kita jadikan firman Allah tersebut sebagai petunjuk dan pedoman utama dalam melaksanakan seluruh pengabdian kita kepada Allah SWT dan menjadikannya sebagai dasar setiap amal yang kita lakukan, yang intinya ialah ikhlas semata-mata karena untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Mari kita jadikan ilmu sebagai pelita dalam melalui jalan kehidupan yang penuh dengan rintangan, dan kita jadikan fikir dan dzikir sebagai penjernih jiwa dan pikiran dalam menempuh berbagai macam tantangan. Dengan demikian insya Allah kita akan mampu mengadakan pilihan dan ikhtiar untuk menentukan sikap dalam melaksanakan kewajiban dan amanat yang dipikulkan kepada kita.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Sabtu, 16 April 2011

Jangan Tinggalkan Shalat Walau Di Perjalanan


MENJAMA’ SHALAT
Pelaksanaan shalat bagi ummat islam adalah merupakan ibadah pokok, dalam kondisi apapun seseorang itu, namun ibadah shalat tidak boleh ditinggalkan. Bagi orang yang sedang dalam keadaan sakit yang tidak mempu melaksanakan shalat dengan berdiri, dibenarkan melaksanakannya dengan duduk. Dalam keadaan yang lebih sulit lagi shalat boleh dilaksanakan dengan berbaring, bahkan dengan isyarat sekalipun, namun shalat tidak boleh ditinggalkan. Demikian pula bagi orang yang sedang musafir, tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Namun dalam syari’at islam diberikan kelonggaran bagi ummat islam yang sedang musafir tersebut melaksanakan shalat dengan cara mengqoshor atau menjamaknya. Mengqoshor maksudnya adalah shalat wajib yang jumlah raka’atnya empat raka’at (zhuhur, ashar dan isya’), boleh dilaksanakan dengan dua raka’at. Apabila dalam posisi yang lebih sempit lagi boleh menjama’ shalat tersebut, maksudnya menyatukan dua waktu shalat pada waktu shalat yang lain. 
Menjama’ shalat itu dapat dilakukan dengan dua cara:
Pertama : Jama’ Taqdim.
Yaitu, shalat ashar dikerjakan pada waktu zuhur atau shalat isya’ dikerjakan pada waktu maghrib. Cara menjama’ shalat seperti ini disebut jama’ taqdim, sebab shalat ashar dan isya’ yang belum masuk waktunya sudah dikerjakan pada waktu shalat sebelumnya ( yaitu setelah shalat zhuhur dan maghrib ).
Cara pelaksanaannya adalah: Setelah masuk waktu zhuhur, terlebih dahulu dilaksanakan shalat zhuhur, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat ashar. Demikian pula dengan shalat maghrib dan isya’, dengan cara: Pada saat setelah masuk waktu maghrib, terlebih dahulu dilaksanakan shalat maghrib, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat isya’.
Kedua : Jama’ Ta’khir.
Yaitu, shalat zuhur dikerjakan pada waktu ashar atau shalat maghrib  dikerjakan pada waktu isya’. Cara menjama’ shalat seperti ini disebut jama’ ta’khir, sebab shalat zhuhur dan maghrib yang sudah masuk waktunya tidak dikerjakan pada saat itu, tetapi diakhirkan pelaksanaannya pada waktu masuk waktu shalat berikutnya. Yaitu waktu shalat ashar dan isya’.
Cara pelaksanaannya adalah: Setelah masuk waktu ashar, terlebih dahulu dikerjakan shalat zhuhur, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat ashar. Demikian pula dengan shalat maghrib dan isya’, dengan cara: terlebih dahulu dikerjakan shalat maghrib, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat isya’.
Dalam hal menjama’ shalat ini, ada hal lain yang perlu diketahui, yaitu:
  1. Shalat yang dapat dijama’ adalah shalat zhuhur dengan ashar dan shalat maghrib dengan isya’.
  2. Baik menjama’ shalat dengan jama’ taqdim maupun dengan jama’ ta’khir, ada dua pilihan lain dalam pelaksanaannya, yaitu: Menjama’ shalat dengan mengqoshor/memendekkan shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at, atau tetap menyempurnakan empat raka’at bagi shalat yang jumlah raka’atnya empat raka’at. Misalnya, seseorang yang akan menjama’ shalat zhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir, dia dapat melaksanakan shalat zhuhur dan ashar masing-masing empat raka’at, atau shalat maghrib dengan shalat isya’ dengan menyempurnakan jumlah raka’at shalat isya’ dengan empat raka’at. Hal yang demikian disebut menjama’ shalat dengan menyempurnakan jumlah raka’atnya. Tetapi bisa juga seseorang menjama’ shalat zhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir, dia dapat melaksanakan shalat zhuhur dan ashar masing-masing dua raka’at, atau shalat maghrib dengan shalat isya’ dengan mengqoshor shalat isya’ menjadi dua raka’at. Hal yang demikian disebut menjama’ shalat dengan jama’ qoshor.
  3. Menjama’ shalat dengan jama’ taqdim atau dengan jama’ ta’khir dapat dilaksanakan dengan sendirian atau berjama’ah. Tetapi dengan berjama’ah tentu lebih baik atau lebih afdhal.


Jumat, 15 April 2011

Jadilah Ummat Terbaik


Menjadi Manusia Yang Terbaik
Firman Allah dalam surat Ali Imran:110.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Keberadaan ummat islam dalam perkembangan peradaban manusia, dinyatakan oleh Allah sebagai khairu ummah (ummat yang terbaik ). Hal itu akan terwujud apabila ummat islam mampu melaksanakan faktor-faktor yang menghantarkan ummat islam itu menjadi ummat yang terbaik. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firmanNya di atas.
Pertama: Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Amar ma’ruf artinya selalu melakukan dan mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Sedang nahi munkar artinya selalu menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak, dan merendahkan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Kedua upaya ini adalah bahagian dari dakwah. Apabila dua upaya ini dapat terlaksana dan berhasil maka dalam kehidupan manusia akan terasa lebih kondusip, tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dalam kehidupan sehari-hari, sebab dimanapun seseorang berada dia akan merasakan aman, tentram dan damai. Oleh sebab itu ummat islam yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar tersebut pantas mendapat pujian dari Allah dengan sebutan khairu ummah( ummat yang terbaik ).

Kedua: Beriman kepada Allah.
Ummat islam yang disebut Allah sebagai Khairu ummah tersebut tidak cukup hanya sekedar melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, tetapi harus didasari dengan beriman kepada Allah. Sebab orang yang melakukan sesuatu dengan dasar iman kepada Allah, diharapkan apa yang dilakukannya semata-mata ingin mendapatkan keridhaan Allah swt. Oleh sebab itu keimanan kita kepada Allah harus senantiasa dipupuk agar iman tersebut terus bertambah. Apabila iman semakin bertambah maka akan semakin timbul kesadaran dalam diri seseorang untuk berbuat kebaikan dalam kehidupannya. Apabila kesadaran tersebut merakyat dalam kehidupan ummat, baik dalam skala Lokal atau dalam skala Nasional maupun Internasional dapat diyakini bahwa kehidupan ummat manusia itu akan lebih tercipta keamanan dan kedamaian. Dengan terciptanya kedamaian pada masyarakat di dunia melalui upaya melaksanakan amar ma’mur dan nahi munkar, maka wajarlah terhadap mereka-mereka yang giat melaksanakan dakwah tersebut diberi Allah julukan sebagai Khairu Ummah. Mereka pantas memperoleh kedudukan tinggi, karena mereka selalu mempunyai keyakinan dan keimanan yang benar dan teguh akan adanya Allah SWT dan keesaan-Nya serta beriman akan kebenaran semua ajaran-Nya. Mereka juga selalu melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Hal ini juga diungkapkan Allah pada ayat sebelumnya, yaitu pada surat Ali Imran : 104.
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung“ .
Rasulullah juga bersabda, artinya : “Siapapun di antara kamu melihat kemunkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan (kekuasaan-Nya), kalau dia tidak mampu (tidak memiliki kekuasaan) maka dengan lidah / ucapannya, kalau (yang inipun) dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (Al-Hadits).
Tiga ciri tersebut di atas, yaitu beriman kepada Allah, melaksanakan amar ma’ruf, dan nahi munkar merupakan syarat bagi lahirnya suatu masyarakat unggulan (ummat terbaik); yaitu suatu masyarakat yang di dalamnya berlangsung tata ke­hidupan yang manusiawi, tata kehidupan yang sendi-sendinya didasarkan atas persaudaraan, kesetiakawanan, saling percaya, kejujuran dan keadilan. Dalam kondisi ini, setiap warga akan terpenuhi kebutuhan lahiriah dan batiniahnya, duniawi dan akhiratnya, sesuai dengan do’a yang ummat islam selalu berdo’a dengan do’a:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Tuhan kami, ka­runia­kanlah kepada kami di dunia ini kebaikan dan di akhirat (nanti) kebaikan (pula) dan hindarkanlah kami dari siksa neraka” (QS.2 Al Baqarah : 201).
Untuk mewujudkan masyarakat Khairu Ummah semestinya mampu dilakukan oleh ummat islam seperti dinyatakan Allah di atas, maka setiap muslim dalam kedudukan dan dalam profesi apapun, terutama sebagai pemimpin, baik pemimpin rumah tangga, masyarakat dan bangsa harus menghiasi dirinya dengan nilai-nilai yang terpuji. Dalam hal ini Nabi Muhammad adalah contoh yang dapat dijadikan teladan.
Untuk berhasilnya pelaksanaan amar ma’ruf – nahi munkar tersebut, sekurang-kurangnya ada lima hal yang menjadi faktor penopangnya.
1. اَلصِّدْقُ  . Memiliki sifat Kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan.
Bentuk pengamalan ini adalah jujur dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatan. Orang yang menjadikan sifat shiddiq ini sebagai ciri khasnya, ia akan mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah bersama para Nabi dan syuhada. Mereka inilah yang selalu menga­ta­kan yang benar, tidak menutupi kesalahan, baik yang dilakukan dirinya maupun oleh kawannya, serta menjaga satunya kata dengan perbuatan, menjauhi kebohongan, termasuk jujur dalam berdiskusi dan bermusyawarah.
2. الأَمَانَةُ  . Selalu menepati janji dan bertanggung jawab dalam melaksanakan hal-hal yang dipercayakan kepada­nya. Orang-orang yang mengemban amanah ini senantiasa memegang teguh amanat yang dipercayakan kepadanya.
Amanat kepada Allah dengan menyadari tugas kekhalifahannya di bumi sehingga ia selalu menjadi manusia yang bertanggung jawab dan senantiasa melakukan kebaikan, bukan membuat kerusakan.
Amanat kepada keluarga dengan membimbing dan mendidik mereka kepada tuntunan ilahi, serta tidak memberikan nafkah kecuali yang halal lagi baik.
Amanat kepada sesama anggota masyarakat dengan selalu mengajak kepada kebaikan dan kepada kesabaran.
Adapun amanat kepada diri sendiri dengan menghindarkan segala yang haram baik dalam profesi maupun yang dikonsumsi.
Rasulullah bersabda لاَدِيْنَ لِمَنْ لاَاَمَانَةَ لَهُ , artinya : “Tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah” (HR. Addailami).
3. اَلْعَدَالَةُ . Bersikap dan berlaku adil.
Ini mengandung pengertian berpihak dan berpegang kepada yang benar, tidak sewenang-wenang, bertin­dak sepatutnya dan tidak berat sebelah. Bentuk pengamalannya selalu bersedia untuk saling mengingatkan antara sesamanya, saling menyuarakan kebenaran dan sikap kesabaran, serta saling menghar­gai pendapat yang lain, tidak memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mau memahami kepentingan dan kehen­dak pihak lain. Kebenciannya terhadap seseorang atau satu kelompok tidak menjadikannya menahan hak-hak mereka, baik berupa harta ataupun penghargaan prestasi. Sebaliknya, kasih dan sayangnya kepada seseorang, tidak membutakan matanya untuk bersikap tegas dalam memberi hukuman. Karena sesungguhnya sifat adil inilah yang selalu men­dekatkan orang kepada ketakwaan. Allah berfirman : اِعْدِلُوْاهُوَاَقْرَبُ ِللتَّقْوى  “Adillah karena ia lebih dekat kepada takwa” (QS.5 Al Maaidah : 8).

4. اَْلأُخُوَّةُ والتَّعَاوُن . Menjaga persaudaraan dan persatuan serta saling membantu sesamanya.
Untuk itu, setiap muslim harus menyadari bahwa dia bersaudara dengan orang lain, baik sesama muslim (ukhuwwah islâmiyah), sesama bangsanya (ukhuwwah wathoniyah), maupun sesama manusia (ukhuwwah basyariyah). Ketiga macam ukhuwah tersebut tidak perlu diprtentangkan, tetapi harus diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Hal ini akan menciptakan rasa kebersamaan, bukan memperuncing perbedaan.
5. الإٍسْتِقَامَةُ . Berlaku konsisten, senantiasa berada dan mengikuti jalan kebenaran menurut Allah. Islam selalu menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat istiqomah dalam kebajikan. Bagi mereka yang selalu istiqomah dijamin akan terhindar dari kerisauan, kekhawatiran dan ketakutan, baik dalam kehidupan di dunia ini maupun pada hari kiamat nanti, bahkan mendapat berita gembira dengan janji dan jaminan masuk surga.
Firman Allah dalam surat Fushshilat:30-32.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾
Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Semoga kita bisa menjadi manusia terbaik dengan mempertahankan keimanan kita kepada Allah dan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.