Rabu, 20 April 2011

Persiapkan Diri Untuk Menghadapi Kematian

Pentingnya Mengingat Mati
Kematian adalah merupakan persinggahan pertama manusia untuk kehidupannya di alam akhirat. Kematian ialah terputusnya hubungan antara ruh dengan jasad, berpisahnya kaitan antara keduanya, bergantinya kondisi, dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain (alam kubur). Mati itu terbagi dua, al-maut kubra dan al-maut shughra.
Adapun yang dimaksud dalam kajian ini adalah al-maut kubra, sedangkan al-maut shughra sebagaimana yang dimaksud oleh para ulama, ialah tidur. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zumar:42.
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأ ُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.
Orang yang memahami tujuan hidupnya adalah orang yang cerdas. Orang yang cerdas dalam memahami kehidupan di dunia ini, dia akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Sebab orang yang demikian, sepenuhnya menyadari bahwa akhir dari kehidupan dunia ini adalah kematian. Karena itu dia pasti mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi kematian itu.
Ibnu Umar ra. berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitamiy.
Kematian Pemutus Segala Kelezatan
Dari Abu Hurairah ra. beliau berkata, “Rasulullah SAW. bersabda, artinya:‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi) .
Kepada kita dianjurkan untuk banyak-banyak mengingat mati, baik yang sehat maupun yang sakit, karena mengingat mati dapat mencegah dari berbuat maksiat dan mendorong untuk berbuat kebaikan. Hal ini dikarenakan kematian merupakan pemutus segala kelezatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati di kala sempit, tidak melupakan arah tujuan hidup yang sesungguhnya.
Sebaliknya orang-orang yang semasa hidupnya sangat sedikit mengingat mati, akan meminta tangguh ketika bertemu dengan Tuhan mereka di akhirat kelak. Inilah penyesalan yang paling mendalam bagi manusia yang tidak mengingat kematian.
Firman Allah dalam surat Ibahim: 44.
وَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُواْ رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُواْ أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ
Artinya : “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?.
Firman Allah dalam surat Al-Munafiqun:10-11.
وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠﴾ وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١١﴾
Artinya : “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Firman Allah dalam surat Al-Mu’minun: 99-100.
حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ﴿٩٩﴾ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿١٠٠﴾
Artinya : “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.
Penyesalan orang-orang yang ingkar terhadap ajaran Allah seperti yang tertuang dalam firman Allah di atas, adalah dikarenakan mereka menyesal dengan kondisinya ketika melihat harta mereka tidak berguna lagi, buruknya amalan mereka, hingga mereka meminta untuk dikembalikan ke dunia. Permohonan mereka itu adalah dalam bentuk penyesalan pada saat melihat azab Allah. Padahal, andaikan Allah mengembalikan mereka kembali ke dunia, merekapun akan kembali melanggar perintah Allah.
Dalam menghadapi kematian, yang perlu juga kita jaga adalah jangan panjang angan-angan, sebab sikap panjang angan-angan akan membuat seseorang malas beramal, mengira hidup dan umur mereka masih panjang, sehingga menunda-nunda dalam beramal shalih.
Kitapun harus menyadari bahwa setiap manusia akan menjadi tua dan hanya dua hal yang tersisa, yaitu, ambisi dan angan-angannya. Demikian ungkapan Rasul dalam haditsnya.
Oleh karena itu, di antara bentuk megingat mati adalah memperpendek angan-angan, dan tidak menunda-nunda dalam beramal shalih.
Dari Ibnu ra. ia berkata (artinya ): Rasulullah pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda : “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “. Ibnu Umar berkata : “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. (HR. Al-Bukhari, lihat Al Fath I/233).
Agar Mudah Mengingat Kematian.
  1. Rajin berziarah kubur dan renungkan hikmahnya agar mendapat pelajaran dari Ziarah tersebut. Artinya agar kita menyadari bahwa kitapun suatu saat akan mengalami kematian.
  2. Hadir pada saat ada seseorang yang meninggal dunia dan melihat jasad seseorang yang telah meninggal dunia, tujuannya tidak lain adalah agar kita menyadari bahwa suatu saat nanti kitapun akan seperti mayat tersebut yang terbujur kaku dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi.
  3. Menyaksikan sseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut, agar kita dapat i’tibar dari susah dan sakitnya menghadapi kematian itu.
  4. Ikut men-shalatkan, mengantar jenazah dan ikut menguburkannya, dengan melihat posisi jenazah saat diletakkan di kuburnya, tujuannya agar kita menyadari betapa sempitnya kebur tersebut.
  5. Membaca Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang berkenaan dengan kematian.
  6. Merenungkan peristiwa-peristiwa alam yang telah terjadi, seperti, gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, badai, dan sebagainya.
  7. Menelaah kisah-kisah orang terdahulu ketika menghadapi kematian, dan kaum yang didatangkan bencana kepada mereka.
Hikmah Mengingat Kematian
Di antara hikmah mengingat kematian adalah :
  1. Sebagai motivasi untuk mempersiapkan diri sebelum terjadinya kematian.
  2. Memendekkan angan-angan, karena panjangnya angan-angan merupakan sebab utama kelalaian.
  3. Menjadikan sikap wara’, qona’ah dan zuhud terhadap dunia, dan ridha dengan bagian dunia yang telah diraih walaupun sedikit.
  4. Menjadi motivasi untuk berbuat ketaatan.
  5. Sebagai penghibur seorang hamba tatkala memperoleh musibah di dunia.
  6. Mencegah dari berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam menikmati kelezatan dunia.
  7. Memotivasi diri untuk segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat.
  8. Melembutkan hati dan mengalirkan air mata karena mengenang kesalahn yang telah dilakukan, mendorong semangat untuk beragama, dan mengekang hawa nafsu.
  9. Menjadikan diri tawadhu’ dan menjauhkan dari sikap sombong dan zhalim
  10. Memotivasi untuk saling memaafkan dan menerima permohonan maaf dari orang lain.



Selasa, 19 April 2011

Kisah Pemuda Pencuri Kain Kapan

Tujuh Perkara Aneh
Ada seorang pemuda yang kerjanya menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut menemui seorang guru agama dan ahli ibadah, tujuannya adalah untuk menyatakan keinginannya bertaubat kepada Allah s. w. t. Dia bercerita dan ingin bertanya kepada ahli ibadah tersebut tentang pengalaman-pengalaman aneh yang dia lihat sepanjang mengerjakan kebiasaannya selama ini. Pemuda tadi berkata, "Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku melihat tujuh peristiwa aneh yang menimpa mayat-mayat tersebut.
Pertama: Aku lihat mayat pada saat dikubur pada siang hari dihadapkan ke arah kiblat, tetapi pada saat aku menggali kuburnya di malam hari untuk mengambil kain kafannya, aku lihat wajahnya  telah berbalik membelakangi kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" tanya pemuda itu. Tuan guru menjawab, " Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang kafir dan menyekutukan Allah semasa hidupnya di dunia. Sebab itu Allah  s. w. t. menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, untuk membedakan mereka dari orang-orang yang beriman kepada Allah.
Kedua: Aku lihat wajah mereka biasa saja pada saat dimasukkan ke dalam kubur, tetapi pada saat aku menggali kuburnya di malam hari, aku lihat wajah mereka telah berubah menjadi muka babi. Mengapa begitu tuan guru?" Tuan guru menjawab, " Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang memandang ringan dan meninggalkan shalat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya shalat merupakan ibadah yang pertama dihisab. Jika shalatnya baik, maka ibadah yang lain akan menjadi baik.
Ketiga: Aku lihat pada waktu mayat dimasukkan ke kubur badannya biasa saja, tetapi pada malam hari aku lihat perutnya membesar, dan dari perutnya keluar ulat yang sangat banyak, kenapa bisa begitu guru?. Sang guru berkata: Mereka itulah golongan yang memakan harta dari sumber yang haram.
Keempat: Aku melihat ada mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" Jawab ahli ibadah itu, " Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang durhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hidupnya. Sesungguhnya Allah s. w. t. sama sekali tidak ridha kepada manusia yang durhaka kepada ibu bapanya.
Kelima: Aku melihat ada mayat yang kukunya sangat panjang, hingga melilit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi perutnya. Apa maknanya tuan guru?. Tuan guru menjawab: Anak muda, mereka itulah golongan yang suka memutuskan silaturrahmi. Dimasa hidupnya mereka suka menimbulkan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari. Bukankah Rasulullah s. a. w. pernah bersabda, artinya:  Barang siapa yang tidak bertegur sapa melebihi tiga hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda.
Keenam: Aku melihat, ada kubur pada siang harinya dalam keadaan kering, tetapi pada malam hari aku lihat kuburnya penuh dengan air berwarna hitam yang sangat bau sekali, dan mayat yang ada di kubur tersebut terapung. Apa makna dari itu tuan guru?. Anak muda, itulah orang yang memakan harta dari hasil riba, jawab sang guru.
Ketujuh: Aku melihat ada mayat yang terus tersenyum dan wajahnya putih berseri. Apa maknanya guru?.  Mereka itulah golongan manusia yang berilmu, dan mereka mengamalkan ilmunya sewaktu hidupnya di dunia. Mereka adalah golongan yang memperoleh keridhaan dan kemuliaan di sisi Allah s. w. t.
Ingatlah………………….! Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang pernah kita lakukan saat kehidupan kita di dunia.
Mari kita renungkan ayat-ayat Allah berikut ini:
إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَاداً ﴿٢١﴾ لِلْطَّاغِينَ مَآباً ﴿٢٢﴾ لابِثِينَ فِيهَا أَحْقَاباً ﴿٢٣﴾ لا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلا شَرَاباً ﴿٢٤﴾ إِلا حَمِيماً وَغَسَّاقاً ﴿٢٥﴾ جَزَاء وِفَاقاً ﴿٢٦﴾ إِنَّهُمْ كَانُوا لا يَرْجُونَ حِسَاباً ﴿٢٧﴾ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّاباً ﴿٢٨﴾ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَاباً ﴿٢٩﴾ فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلا عَذَاباً ﴿٣٠﴾
Artinya :
021. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai,
022. lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,
023. mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,
024. mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,
025. selain air yang mendidih dan nanah,
026. sebagai pembalasan yang setimpal.
027. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab,
028. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya,
029. dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.
030. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.( Surat An-Naba’: 21 – 30 ).

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازاً ﴿٣١﴾ حَدَائِقَ وَأَعْنَاباً ﴿٣٢﴾ وَكَوَاعِبَ أَتْرَاباً ﴿٣٣﴾ وَكَأْساً دِهَاقاً ﴿٣٤﴾لايَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً وَلا كِذَّاباً ﴿٣٥﴾ جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً ﴿٣٦﴾
Artinya :
031. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,
032. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,
033. dan gadis-gadis remaja yang sebaya,
034. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
035. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.
036. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,
( Surat An-Naba’: 31 - 36 ).

Mari kita isi kehidupan di dunia ini dengan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Semoga kita mendapat ampunan  dan ridha Allah s.w.t, dengan demikian kita berharap, semoga kita selamat dari siksa kubur dan azab neraka.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Senin, 18 April 2011

Dampak Amal Dalam Kehidupan Manusia

Amal Manusia dan Pengaruhnya
Bagi Kehidupan Dunia dan Akhirat

Amal atau perbuatan manusia terbagi dua, yaitu yang baik ( amal saleh ) dan yang buruk. Amal saleh tidak berarti hanya ibadah dalam arti sempit, tetapi juga mencakup segala pekerjaan yang mengandung nilai kebaikan dan dikerjakan karena Allah swt., seperti memberi makan orang yang lapar, membersihkan jalan, membangun Negara, menegakkan keadilan, dan menghapus kezaliman. Setiap amal atau perbuatan, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk mempunyai pengaruh, baik dalam kehidupan pribadi dan keluarga maupun masyarakat dan bangsa.
Diriwayatkan dalam kitab shahih al-Bukhari jilid II, halaman 259-260 bahwa dizaman dahulu ada tiga orang yang sedang dalam perjalanan. Karena hujan mereka masuk ke dalam gua. Tiba-tiba pintu gua tertutup oleh batu besar. Mereka merasa tidak mungkin lagi keluar dari gua itu melainkan dengan pertolongan Allah. Karena itu masing-masing mereka mengingat amal saleh terbaik yang pernah dilakukannya dengan ikhlas karena Allah. Orang pertama berdoa dengan kebaikannya terhadap karyawannya yang pergi dengan meninggalkan gajinya, akan tetapi, ia memelihara dan mengembangkan gaji karyawannya yang tertinggal itu sampai menjadi beberapa ekor sapi. Kemudian, karyawan itu datang menanyakan upahnya yang dahulu belum diambilnya. Lalu, majikan ini menunjukkan sapi-sapi yang dikembangkan dari modal gaji karyawannya tersebut. Setelah terjadi dialog antara keduanya, karena karyawan tidak dapat membayangkan upahnya menjadi demikian besar, akhirnya ia terima. Sang majikan memohon kepada Allah, seandainya itu amal saleh yang diterima Allah, dia memohon agar pintu gua dibukakan oleh Allah. Ternyata batu yang menutupi pintu gua itu sedikit bergerak.
Orang kedua berdoa dengan kebaikannya menyediakan susu setiap malam buat kedua orang tuanya. Pada suatu malam, ia terlambat pulang sehingga kedua orang tuanya sudah tertidur. Namun demikian, karena segannya membangunkan mereka, ia terus menunggu mereka bangun sampai shubuh dan tidak memberikan susu itu kepada anak-anaknya. Ia memohon kepada Allah, seandainya perbuatan itu terhitung amal saleh yang diterima Allah, kiranya Allah membukakan pintu gua. Batu itupun bergerak dan pintu gua semakin terbuka.
Orang ketiga berdoa dengan maksud baiknya mengurungkan niat berbuat mesum dengan anak pamannya. Pada mulanya, anak pamannya menolak kecuali dengan uang seratus dinar. Setelah ia mengusahakan uang itu dan menyerahkannya, anak pamannya itu menyerahkan dirinya. Ketika dia sudah duduk di antara kedua kaki perempuan itu, ia diingatkan perempuan itu agar takut kepada Allah. Ia pun tersadar, bangun dan pergi serta membiarkan uang itu. Ia berdoa, andaikan meninggalkan perbuatan zina dan mengikhlaskan uang itu menjadi milik perempuan itu merupakan amal yang diterima Allah, ia memohon kepada Allah agar kiranya pintu gua dibukakan. Tiba-tiba pintu gua terbuka lebar, sehingga mereka dapat keluar.
Ini adalah salah satu contoh bahwa amal saleh itu bermanfaat untuk keselamatan di dunia. Memang demikian halnya dengan amal-amal dalam Islam. Manfaatnya bukan hanya untuk kehidupan di akhirat semata, tetapi juga untuk kebaikan hidup manusia di dunia. Sehubungan dengan ini, secara umum dalam Al-Qur’an surat An-Nahl :97,  disebutkan:
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Artinya :” Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. “.
Sebagian mufassir menjelaskan bahwa kehidupan yang baik itu berarti di dunia dan balasan pahala itu berarti di akhirat.
Demikian juga sebaliknya, perbuatan yang tidak baik mempunyai dampak kepada kehidupan manusia, baik kepada pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Allah berfirman dalam surat Al-Anfal :25:
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. “.
Ini didukung oleh teori ilmu pengetahuan hidup modern. Kita tidak ikut menggunduli hutan, tetapi apabila banjir melanda, kita pun ikut terkena banjir, Kita tidak pernah membakar hutan, tetapi kita terkena asapnya. Rumah dan lingkungan kita bersih, tetapi kita bisa digigit nyamuk demam berdarah. Itulah yang dimaksud apabila musibah datang, tidak hanya menimpa orang yang berbuat zalim, tetapi yang lain juga terkena akibatnya. Hal ini mungkin dikarenakan manusia belum maksimal dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Bila melihat sejarah ummat terdahulu, bencana yang menimpa mereka selalu merupakan balasan dari Allah atas kekufuran dan kezaliman mereka.
Kaum Samud dibinasakan Allah dengan petir yang dahsyat. Kaum ‘Ad dibinasakan dengan anging dingin yang sangat kencang.  Firaun dan pengikutnya pernah dikirim Allah bala dalam bentuk angin topan, belalang, kutu, kodok, dan darah, hal itu dikarenakan mereka menolak ajaran yang disampaikan nabi Musa as. kepada mereka. Kaum Iram pernah membangun 1700 kota, tetapi habis hancur karena kemurkaan Allah. Kisah-kisah ini menunjukkan adanya kemurkaan dan campur tangan Tuhan ( Allah ) dalam menghancurkan bangsa-bangsa terdahulu karena kekafiran dan kezaliman mereka sendiri. Berbagai macam bencana ditimpakan Allah kepada kaum yang melawanNya, menurut Al-Qur’an, itu adalah sunnah Allah yang dapat menimpa kaum mana saja, karena sunnah Allah tidak akan berubah.
Ulat bulu yang menyerang sebagian wilayah di Indonesia ini pun, boleh jadi bagian dari azab Allah, atau sekurang-kurangnya peringatan dariNya. Hanya sayang, banyak manusia yang tidak mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi.
Dampak perbuatan yang tidak baik bisa saja melanda semua orang, termasuk orang Mumin. Orang baik kadang-kadang layak menerima bencana, karena upaya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar belum setimpal dengan kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya. Karena itu, kita perlu introspeksi diri dan meningkatkan perjuangan untuk memperbaiki masyarakat. Dalam menghadapi bencana dan kesulitan, baik bersifat pribadi maupun bersifat umum, seorang mukmin hendaknya selalu melakukan introspeksi diri, meningkatkan iman dan takwa kepada Allah, meningkatkan rasa tanggung jawab sosial, memperbanyak zikir dan doa serta amal-amal lain yang mendekatkan diri kepada Allah di samping ibadah wajib yang disyari’atkan Allah swt, karena amal saleh bukan hanya menjadi pahala di akhirat, tetapi juga membawa maslahat/kebaikan dalam kehidupan di dunia.
Sumber data: Kuliah Agama – Ilmiah Populer. Dr. H. Ramli Abdul Wahid.