Jumat, 29 April 2011

PEMUDA UJUNG TOMBAK KEMAJUAN ISLAM

PEMUDA UJUNG TOMBAK KEMAJUAN ISLAM

Menjelang keberangkatan Rasulullah dan para sahabatnya ke medan perang Badar, seorang remaja datang menghadap Rasulullah SAW. Usianya masih 13 tahun. Ia datang dengan membawa sebilah pedang yang panjangnya melebihi panjang badannya. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Anda, wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panji Anda.”

Rasulullah gembira dan takjub dengan remaja itu. Tetapi, beliau tidak mengizinkannya untuk berperang karena usianya yang masih sangat muda. Remaja itu pun kembali, dengan kesedihan yang mendalam, niatnya untuk memperjuangkan Islam belum bisa dilaksanakan. Sementara itu, ibunya yang dari tadi melihat dari kejauhan, tidak kalah sedihnya. Sebab, putranya belum mendapat kesempatan membela Islam.

Tapi mereka tidak menyerah, cita-cita remaja itu tidak melemah, bahkan semakin kuat, demikian pula dengan ibunya. Karenanya, si ibu menghubungi kerabat-kerabatnya untuk menyampaikan tekad anaknya; berkontribusi untuk Islam dalam bidang lain yang lebih besar peluangnya untuk diterima. Mereka pun menghadap Rasulullah.

"Wahai Rasulullah! Ini anak kami, dia hafal tujuh belas surat dari kitab Al-Qur’an, bacaannya baik, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Anda. Di samping itu dia pandai pula baca tulis Arab, tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin selalu mendampingi Anda. Jika Anda menghendaki, silakan mendengarkan bacaannya." Pinta salah seorang pamannya. Setelah Rasulullah mendengar bacaannya, beliaupun menyuruh remaja itu untuk mempelajari bahasa Ibrani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan diangkat sebagai sekretaris Rasulullah ketika berinteraksi dengan orang-orang Yahudi. Remaja itulah yang membacakan surat Yahudi dan menuliskan surat Rasulullah untuk mereka.

Rasulullah kemudian menyuruhnya untuk belajar bahasa Suryani. Dalam waktu singkat ia berhasil, dan tugasnya bertambah. Ia pula yang menjadi sekretaris saat Rasulullah berinteraksi dengan orang-orang yang berbahasa Suryani. Setelah Rasulullah benar-benar yakin dengan kompetensi dan keahliannya, remaja itu pun diangkat menjadi penulis wahyu. Setiap kali ayat Al-Qur'an turun, ia segera dipanggil Rasulullah SAW untuk menulisnya dan meletakkannya dengan urutan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Remaja itu bernama Zaid bin Tsabit. Demikianlah profil pemuda yang diinginkan Islam. Ia tidak hanya menikmati keislamannya seorang diri tetapi juga memiliki komitmen untuk memperjuangkan Islam.

Informasi terakhir yang diperoleh bahwa jumlah umat Islam dewasa ini tidak kurang dari 1,57 milyar orang. Jumlah yang sangat banyak dan perkembangan yang sangat pesat, yang patut untuk kita syukuri. Secara kuantitas jumlah kaum muslimin memang luar biasa. Tetapi itu belum mampu untuk membuat umat Islam kembali memperoleh kemuliaannya. Izzul Islam wal Muslimin.

Lalu bagaimana realita hari ini? Islam justru dicurigai, dipenuhi dengan stigma negatif, bahkan dianggap terbelakang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman. Umat Islam yang banyak itupun ternyata sebagian besarnya baru sebatas berislam dalam identitas, belum mengaplikasikan Islam dalam kehidupannya. Sedangkan Allah SWT sendiri memerintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 208)

Melihat ketimpangan antara realita dan cita-cita Islam ini, kita memerlukan para pemuda untuk mengubahnya. Mengapa para pemuda? Sebab pemudalah yang memiliki empat karakter yang diperlukan untuk mewujudkan itu. Empat karakter itu adalah iman, ikhlas, semangat, dan amal.

Hasan Al-Banna dalam Majmu'atur Rasail mengatakan:

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

Itulah mengapa Al-Qur'an mengisahkan para pemuda yang memperjuangkan agama-Nya; diantaranya ada Ibrahim, Musa, Ashabul Kahfi. Itulah mengapa sejarah Islam juga diwarnai oleh para pemuda. Sebagian dari assaabiquunal awwalun yang di kader oleh Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam ternyata adalah pemuda. Da’i yang ditugaskan Rasulullah untuk berdakwah di Madinah dan mengislamkan mereka adalah Mush'ab bin Umair, beliau juga adalah seorang pemuda. Komandan perang sekaligus khalifah yang mampu menaklukkan konstantinopel ternyata juga seorang pemuda; Muhammad Al-fatih namanya.

Maka, para pemuda Islam sekarang sudah saatnya untuk menjadi seperti Zaid bin Tsabit yang memiiliki komitmen untuk memperjuangkan Islam, dan Anda akan memperoleh pahala besar di sisi Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad : 7)

Tidak mungkin Islam ini memperoleh kembali kejayaannya, jika umat Islam hanya diam dan pasrah dengan kondisi yang ada. Sementara para pemudanya hanya berfoya-foya dan terjatuh dalam budaya hedonisme yang telah dikembangkan pihak Barat. Umat Islam, khususnya para pemudanya haruslah menjadi seperti hawariyyin yang difirmankan Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونوا أَنصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ فَآَمَنَت طَّائِفَةٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَت طَّائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. Ash-Shaf : 14)

Memperjuangkan Islam pada saat ini harus disesuaikan dengan kompetensi dan bidang masing-masing. Sebagaimana Zaid bin Tsabit yang berjuang dengan ilmunya, Khalid bin Walid dengan kemampuan strategi perangnya, Utsman bin Affan dengan hartanya, dan lain sebagainya.

Maka, bagi Anda yang memiliki harta, gunakanlah harta itu untuk memperjuangkan Islam. Bagi Anda yang memiliki kemampuan menulis gunakanlah ia untuk memperjuangkan Islam. Bagi Anda yang memiliki kompetensi di bidang teknik, kedokteran, ekonomi, dan lain-lain, gunakanlah itu semua sebagai sarana memperjuangkan Islam.

Semoga Islam kembali jaya……………………………………!



Kamis, 28 April 2011

Jangan Sakiti Hati Ibumu


Jangan Sakiti Hati Ibumu
Alqomah merupakan seorang pemuda yang sangat rajin beribadah. Pada suatu hari, dia jatuh sakit secara tiba-tiba. Isterinya menyuruh seseorang memberitahu Nabi Muhammad tentang keadaan suaminya yang sakit parah dan dalam keadaan naza’ ( sakaratul maut ).

Setelah menerima berita ini, Nabi menyuruh Bilal, Ali, Salaman dan Ammar melihat keadaan Alqomah. Sesampainya mereka di rumah Alqomah, mereka membantunya membacakan kalimah “لا إله إلاَّ الله “, tetapi Iidah Alqomah tidak mampu melafazhkannya.

Setelah melihat keadaan Alqomah yang semakin mendekati ajalnya, mereka menyuruh Bilal memberitahu Nabi. Saat Bilal sampai di rumah Nabi, Bilal menceritakan hal yang terjadi di rumah Alqomah.

Lalu Nabi bertanya kepada Bilal, “Apakah ayah Alqomah masih hidup?” Jawab Bilal, “Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan usianya sudah sangat tua.”

Kemudian Nabi berkata lagi, “Pergilah kamu menemui ibunya dan sampaikan salamku. Katakan kepadanya, kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang menjumpaiku. Kalau dia tidak dapat berjalan, katakan aku yang akan datang ke rumahnya.”

Saat Bilal sampai di rumah ibu Alaqomah, Bilal pun menyampaikan pesan Nabi, dan ibunya berkata bahawa dia yang akan datang menemui Nabi. Lalu ibu Alqomah mengambil tongkatnya dan terus berjalan menuju rumah Nabi. Setelah sampai, dia memberi salam dan duduk di hadapan Nabi.

Nabi berkata kepadanya, ceritakan kepadaku perkara yang sebenarnya mengenai Alqomah. Jika kamu berdusta, niscaya akan turun wahyu kepadaku.

Nabi kembali bertanya, “Bagaimana keadaan Alqomah?”

Jawab ibunya, “Alqomah sangat rajin beribadah, menunaikan shalat, berpuasa dan sangat suka bersedekah sehingga tidak terhitung banyaknya.”

Nabi bertanya lagi, “Bagaimana hubungan kamu dengan dia?”

Jawab ibunya, “Aku sangat marah kepadanya.

Lalu Nabi bertanya, “Mengapa?

Kerana dia lebih mengutamakan isterinya daripada diriku dan menuruti kata-kata isterinya sehingga dia menentangku.

Nabi berkata, kalau begitu, sebab kemarahanmu itulah lidahnya telah terkunci dari mengucap kalimah “لا إله إلاَّ الله “.
Kemudian Nabi menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Alqomah. Begitu ibu Alqomah mendengar perintah Nabi tersebut, dia bertanya, “Wahai Rasullullah, kamu hendak membakar anakku di depan mataku? Bagaimana hatiku dapat menerimanya?”

Nabi berkata “Siksa Allah itu lebih berat dan kekal, oleh karena itu jika kamu mau Allah mengampunkan dosa anakmu, maka ma’afkanlah dia. Demi Allah yang jiwaku di tangannya, tidak akan berguna shalatnya, sedekahnya, selagi kamu murka kepadanya.”

Maka ibu Alqomah berkata sambil mengangkat kedua tangannya, “Ya Rasullallah, aku persaksikan kepada Allah dan Engkau dan mereka-mereka yang hadir di sini bahawa aku ridha dan mema’afkan anakku Alqomah.”

Kemudian Nabi menyuruh Bilal pergi melihat Alqomah sambil berkata, “Pergilah kamu wahai Bilal, lihat apakah Alqomah dapat mengucapkan kalimat “ لا إله إلاَّ الله “ atau tidak.

Aku khawatir, kalau-kalau ibu Alqomah mengucapkan itu semata-mata kerana aku , bukan karena keikhlasan hatinya,” sambung Nabi.

Saat Bilal sampai di rumah Alqomah tiba-tiba terdengar suara Alqomah mengucapkan kalimat, “لا إله إلاَّ الله “.

Lalu Bilal masuk sambil berkata, Wahai semua orang yang berada di sini. Ketahuilah sesungguhnya kemarahan seorang ibu menghalangi Alqomah untuk mengucapkan kalimah        “لا إله إلاَّ الله “. Dan kerana ridha ibunyalah maka Alqomah dapat menyebut kalaimah  “لا إله إلاَّ الله “ tersebut.

Setelah Nabi sampai di rumah Alqomah, mereka segera memandikan dan mengkafankan lalu menshalatkan jenazah Alqomah. Sesudah selesai menguburkannya, Nabi berkata sambil berdiri di dekat kubur, “Wahai sahabat Muhajirin dan Ansar. Barangsiapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya, maka dia dilaknat oleh Allah dan ibadah fardu dan sunatnya tidak diterima Allah.

Semoga kita mendapat ridha kedua orang tua dan terhindar dari kemurkaan mereka.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Rabu, 27 April 2011

Orang yang Dinyatakan Rasul Sebagai Penghuni Surga

Penghuni Surga
Suatu ketika Nabi Muhammad saw. duduk di masjid berbincang-bincang dengan sahabatnya. Tiba-tiba beliau bersabda: “ sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari”. Semua mata tertuju ke pintu masjid dan pikiran para hadirin membayangkan seorang yang luar biasa. “Penghuni surga, penghuni surga,” demikian gumam mereka.
Beberapa saat kemudian masuklah seseorang dengan air wudhu’ yang masih membasahi wajahnya dan dengan tangan menjinjing sepasang alas kaki. Apa gerangan keistimewaan orang itu sehingga mendapat jaminan surga?. Tidak seorang pun yang berani bertanya walau seluruh hadirin merindukan jawabannya.
Keesokan harinya peristiwa di atas terulang kembali. Ucapan Nabi dan “si penghuni” surga dengan keadaan yang sama semuanya terulang, bahkan pada hari ketiga pun terjadi hal yang demikian.
Abdullah ibnu ‘Amr tidak tahan lagi, meskipun ia tidak berani bertanya dan khawatir jangan sampai ia mendapat jawaban yang tidak memuaskannya. Maka timbullah sesuatu dalam benaknya. Dia mendatangi si penghuni surga sambil berkata: Saudara…………!, telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan orang tuaku, dapatkah aku menumpang di rumah anda selama tiga hari?.
Tentu, tentu……, jawab si penghuni surga.
Rupanya, Abdullah bermaksud melihat secara langsung “amalan” si penghuni surga.
Tiga hari tiga malam ia memperhatikan, mengamati bahkan mengintip si penghuni surga, tetapi tidak ada sesuatupun yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus yang dilakukan si penghuni surga. Tidak ada shalat malam, tidak pula puasa sunnah. Ia bahkan tidur dengan nyenyaknya hingga beberapa saat sebelum fajar. Memang sesekali ia terbangun dan ketika itu terdengar ia menyebut nama Allah di pembaringannya, tetapi sejenak saja dan tidurnya pun berlanjut.
Pada siang hari si penghuni surga bekerja dengan tekun, Ia ke pasar, sebagaimana halnya semua orang yang ke pasar. “Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau yang tidak sempat kulihat. Aku harus berterus terang kepadanya,” demikian pikir Abdullah.
Apakah yang anda perbuat sehingga anda mendapat jaminan surga? tanya Abdullah.
Apa yang anda lihat ituah! Jawab si penghuni surga.
Dengan kecewa Abdullah bermaksud kembali saja ke rumah, tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata: “ Apa yang anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu saya tidak pernah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Tidak pernah pula saya melakukan penipuan dalam segala aktivitas saya”.
Dengan menundukkan kepala Abdullah meninggalkan si penghuni surga sambil berkata: “Rumanya yang demikian itulah yang menjadikan Anda mendapat jaminan surga”.
Kisah di atas di sadur dari buku Faidh Al-Nubuwah. Petunjuknya demikian jelas, sehingga tidak perlu rasanya diberi komentar guna menjadi pelita hati. Saya hanya berkata: Astaghfirullah, mampukah kita mengikuti jejaknya…..? Wallahu A’lam.
Sember : Lentera Hati, M.Quraish Shihab.

Selasa, 26 April 2011

Tilawah Al-Qur'an Oleh: Syaikh Musthafa Ismail

Bacaan Al-Qur'an Oleh: Syaikh Musthafa Ismail, Qori' Mesir.

Semut, Laba-Laba dan Lebah


Semut, Laba-Laba dan Lebah
Tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an, yaitu An-Naml (semut), Al-‘Ankabut (laba-laba), dan An-Nahl (lebah).
Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga dia berusaha dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.
Dalam surah An-Naml antara lain diuraikan sikap Fir’aun, juga Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia baik sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.
Lain lagi uraian Al-Qur’an tetntang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh.
وَإِنَّ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ …………………
Artinya: …………….. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui).
Namun ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari jenis binatang ini.
Akan halnya lebah, memiliki insting yang dalam bahasa Al-Qur’an “ atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal”.
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Artinya :”Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia".
Sarngnya dibuat berbentuk segi enam bukan lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah saripati kembang dan tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya. Lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lilin digunakan untuk penerang dan madu menurut Al-Qur’an dapat menjadi obat yang menyembuhkan.
ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya :” kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan".(Surah An-Nahl:69).
Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mau mengganggu kecuali dia diganggu, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.
Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia yang hidupnya “berbudaya semut”, yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu tanpa mengolahnya, dan memnumpuk materi atau makanan tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya. Budaya semut adalah budaya menumpuk yang disuburkan oleh budaya mumpung. Tidak sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung dari budaya ini yang mengundang hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukum indah untuk dipandang dan bermanfa’at untuk digunakan. Dapat dipastikan  bahwa dalam masyarakat kita, banyak sekali semut-semut yang berkeliaran.
Entah berapa banyak pula jumlah laba-laba yang berkeliaran disekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagu butuh berpikir apa, di manan dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah siapa lagi yang mereka jadikan mangsa.
Nabi saw. mengibaratkan kehidupan Mukmin seperti lebah, sesuatu yang tidak merusak dan tidak pula menyakiti bila tidak disakiti, tidak memakan sesuatu kecuali yang baik-baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfa’at dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.
Dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba?.
Sember : Lentera Hati, M.Quraish Shihab.