Selasa, 17 Mei 2011

Pesan Untuk Jama’ah Calon Haji

Pesan Untuk Jama’ah Calon Haji
Setiap jama’ah yang menunaikan ibadah haji tentu menginginkan ibadah haji yang dilaksanakan mendapatkan haji yang mabrur atau haji yang diterima di sisi Allah SWT. Untuk mendapatkan haji yang mabrur tersebut tentu sangat berat dan harus menjaga kesempurnaan ibadah haji tersebut, baik dari syarat, rukun dan wajib haji, semua itu tentunya harus dilandasi pula dengan niat ikhlas karena Allah semata. Karena itu, setiap jama’ah seharusnya menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan dalam melaksanakan ibadah haji, baik kesalahan dalam memahami ibadah haji tersebut maupun kesalahan dalam pelaksanaannya.  
Dalam kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa catatan tentang kesalahan-kesalahan jama’ah haji dalam melaksanakan ibadahnya. Hal ini penulis rangkum dari kitab yang diterbitkan oleh Badan Penerangan Haji yang disahkan oleh Lembaga Riset Ilmiah dan Fatwa dan oleh Ulama besar Timur Tengah yaitu, Syeikh Muhammad Saleh Al-Utsaimin.
Kesalahan-kesalahan yang dimaksud antara lain adalah:
Pertama: Beberapa Kesalahan Dalam Ihram.
Melewati Miqot yang dilaluinya tanpa berihram atau berniat dari Miqot tersebut sehingga sampai ke Makkah, kemudian ia melakukan ihram di sana. Hal ini bertentangan dengan perintah Rasulullah SAW. yang mewajibkan setiap jama’ah haji harus melakukan ihram dari Miqot yang dilaluinya. Maka bagi yang melanggar ketentuan tersebut bila memungkinkan wajib kembali ke Miqot yang sudah dilaluinya dan berihram dari sana. Jika tidak memungkinkan, ia wajib membayar kifarat, yaitu menyembelih seekor kambing di Makkah, kemudian dagingnya dibagi-bagikan semuanya kepada fakir miskin. Ketentuan ini berlaku bagi jama’ah yang datang melalui udara, darat maupun laut. Jika kedatangannya tidak melalui Miqot yang sudah ditentukan oleh Rasulullah, maka ia harus berihram dari tempat yang sejajar dengan Miqot pertama yang dilaluinya.  
Kedua: Beberapa Kesalahan Dalam Pelaksanaan Thawaf.
  1. Memulai thawaf tidak dari sudut Hajar Aswad, padahal ketentuan dalam pelaksanaan thawaf haruslah dimulai dari sudut Hajar Aswad.
  2. Thawaf di dalam Hijir Ismail. Thawaf seperti itu berarti ia tidak mengelilingi seluruh Ka’bah, tetapi hanya sebagiannya saja, karena Hijir Ismail termasuk bahagian dari Ka’bah. Oleh sebab itu putaran thawaf yang dilaksanakannya di dalam Hijir Ismail tersebut tidak sah.
  3. Melakukan Ramal ( berlari-lari kecil ) pada seluruh putaran thawaf yang tujuh kali, padahal Ramal itu hanya dilakukan khusus pada thawaf Qudum saja. Bagi jama’ah yang melaksanakan haji Tamattu’ tentu tidak ada thawaf Qudum.
  4. Berdesak-desakan untuk dapat mencium Hajar Aswad, bahkan terkadang sampai saling sikut, saling pukul  dan saling caci. Hal itu tidak dibenarkan, bahkan kalau sudah terjadi saling sikut, saling pukul dan saling caci, itu berarti jama’ah haji sudah melakukan pelanggaran yang dilarang dalam pelaksanaan ibadah haji yaitu jidal. Penulis ingin menegaskan kepada jama’ah calon haji, bahwa mencium Hajar Aswad hukumnya adalah sunnat. Karena itu, jangan dikarenakan ingin mendapatkan pahala yang sunnat, justru perbuatan yang haram dan dosa yang didapatkan.
  5. Mengusap-usap Hajar Aswad dan dinding-dinding Ka’bah  dengan maksud untuk mendapatkan berokah dari batu dan dinding Ka’bah tersebut. Kalaupun ada kesempatan untuk mencium Hajar Aswad tujuannya tidak lain adalah dengan niat ibadah kepada Allah swt.
  6. Memandang wajib membaca do’a-do’a khusus untuk setiap putaran dalam thawaf, hal itu tidak pernah dilakukan Rasulullah, apalagi membaca do’a tersebut dengan mengeluarkan suara yang keras dan dapat mengganggu ketenangan orang lain dalam melakukan thawaf. Adapun yang dilakukan Rasul adalah setiap melewati Hajar Aswad adalah bertakbir, dan diantara rukun Yamani dan Hajar Aswad Rasulullah membaca do’a: " رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ". Artinya: “ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka“. 
  7. Memaksakan diri untuk melaksanakan shalat di dekat Maqom Ibrahim, hal ini dapat mengganggu orang lain dalam melaksanakan thawaf. Padahal shalat sunnat dua rakaat setelah selesai thawaf apabila tidak memungkinkan dilakukan di dekat Maqom Ibrahim, bisa saja dilaksanakan di tempat lain di sekitarnya atau di dalam Masjidil Haram.
Ketiga: Beberapa Kesalahan Dalam Pelaksanaan Sa’i.
  1. Ada sebagian jama’ah haji ketika naik ke bukit Shafa dan Marwah, mereka menghadap ke Ka’bah sambil mengangkat tangan ke arahnya sewaktu membaca takbir, seolah-olah mereka bertakbir untuk shalat. Yang diajarkan Rasul adalah mengangkat kedua tangan seperti ketika berdo’a.
  2. Berjalan cepat pada waktu sa’i antara Shafa dan Marwah pada seluruh perjalanan sa’i. Padahal menurut sunnah Rasulullah berjalan cepat itu hanyalah dilakukan antara dua tanda hijau saja, adapun sisanya hanya berjalan biasa saja.
Keempat: Beberapa Kesalahan di Arafah.
  1. Sebagian jama’ah haji ada yang berhenti atau melaksanakan wuquf di luar batas Arafah, dan mereka tetap berada di tempat tersebut hingga terbenam matahari. Kemudian mereka berangkat ke Muzdalifah tanpa wukuf di Arafah. Hal ini adalah kesalahan besar, yang mengakibatkan ibadah haji mereka tidak sah, karena sesungguhnya puncak ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah, orang yang tidak wukuf di Arafah tentu hajinya tidak sah.  
  2. Berdesak-desakan untuk naik ke Jabal Rahmah yang banyak menimbulkan mudarat. Padahal disudut manapun selagi masih berada di lingkungan batas Arafah adalah tempat berwukuf.
  3. Ada sebagian jama’ah haji ketika berdo’a menghadap ke Jabal Rahmah, hal tersebut tidak sesuai dengan sunnah, sebab yang di sunnahkan dalam berdo’a adalah menghadap kiblat.
Kelima: Beberapa Kesalahan di Muzdalifah.
  1. Sebagian jama’ah haji ada yang memahami bahwa untuk melempar jumrah, batu yang digunakan harus diambil di Muzdalifah. Padahal tidak demikian, batu kerikil yang digunakan untuk melempar jumrah tidak musti diambil di Muzdalifah, tetapi boleh juga mengambil batu di Mina. 
  2. Sebagian jama’ah ada pula yang memahami bahwa batu tersebut harus di cuci dengan air, hal itu sebenarnya tidak di syari’atkan.
Keenam: Beberapa Kesalahan Ketika Melontar Jumrah.
  1. Ketika melontar jumrah bila ada jama’ah yang meyakini bahwa dia sedang melempar syaitan, itu adalah suatu kesalahan. Melempar jumrah itu hanya semata-mata melaksanakan satu diantara rangkaian ibadah haji yang niatnya adalah semata-mata ibadah kepada Allah.
  2. Ada jama’ah melontar jumrah dengan sendal, hal itu juga merupakan kesalahan. Yang diwajibkan melontar jumrah adalah dengan batu, dan disunnatkan pula dengan batu yang kecil.
  3. Merupakan kesalahan juga ketika melontar jumrah dengan berdesak-desakan, apalagi saling sikut dan saling menginjak. Yang disyari’atkan adalah agar melontar dengan tenang dan hati-hati, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti orang lain.
  4. Ada jama’ah yang melontar jumrah dengan melontarkan batu sekaligus, yang disyari’atkan adalah dengan melemparkan batu-batu dengan satu persatu sambil bertakbir setiap lontaran.
  5. Merupakan kesalahan pula apabila ada jama’ah haji dia wakilkan melontar jumrah kepada orang lain karena dirinya tidak mau mengalami kesulitan dalam melontar tersebut, padahal sebenarnya dia mampu dan tidak sakit juga tidak ada halangan apa-apa.
Ketujuh: Beberapa Kesalahan dalam thawaf wada’.
  1. Sebagian jama’ah ada yang meninggalkan Mina untuk menuju Makkah pada hari nafar ( tanggal 12 atau 13 Dzulhijjah ) sebelum melontar jumrah pada tanggal tersebut, sesampainya di Makkah mereka laksanakan thawaf wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melontar jumrah. Setelah selesai melontar, mereka langsung pergi atau pulang menuju negeri masing-masing, dengan demikian akhir perjumpaan mereka adalah dengan jumrah bukan dengan Baitullah, padahal Nabi telah bersabda, Artinya:”Janganlah sekali-sekali seseorang meninggalkan Makkkah sebelum mengakhiri perjumpaannya dengan melakukan thawaf di Baitullah”. Maka dari itu thawaf wada’ wajib dilakukan setelah selesai dari semua rangkaian ibadah haji, dan dilakukan beberapa saat akan meninggalkan Makkah. Setelah thawaf wada’ ia tidak lagi menetap di Makkah kecuali untuk sedikit keperluan.
  2. Sebagian jama’ah pada saat selesai melakukan thawaf wada’ ada yang berjalan mundur sambil menghadapkan wajah ke Ka’bah. Mereka beranggapan bahwa hal itu merupakan penghormatan terhadap Ka’bah. Perbuatan itu adalah kesalahan dan bukan yang diperintahkan Rasul.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menambah bekal bagi jama’ah calon haji, dan semoga ibadah haji yang akan dilaksanakan terhindar dari kesalahan-kesalahan. Semoga mendapatkan Haji yang mabrur.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ







Senin, 16 Mei 2011

Gunung Menangis Karena Takut Menjadi Bahan Bakar Neraka


Gunung Menangis Karena
Takut Menjadi Bahan Bakar Neraka

Dikisahkan, pada suatu hari Uqail bin Abi Thalib pergi bersama Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanan tersebut Uqail menyaksikan keajaiban-keajaiban yang terjadi, hal itu menjadikan imannya semakin bertambah teguh. Ada tiga kejadian aneh yang dia lihat saat perjalanannya bersama Rasulullah.
Peristiwa pertama adalah: Bahwa Nabi Muhammad ingin buang hajat ( buang air besar ), dihadapannya ada beberapa batang pohon. Rasulullah berkata kepada Uqail “ Hai Uqail, teruslah kamu berjalan kearah pohon itu dan katakana kepada pohon-pohon itu bahwa Rasulullah berkata agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi dinding baginya, karena Rasulullah akan buang air besar dan berwudhuk”.
Uqail pun pergi menuju pohon-pohon itu, dan sebelum dia menyelesaikan tugas yang diperintahkan Rasul, ternyata pohon-pohon itu sudah tumbang dan mengelilingi Rasulullah untuk menjadi dinding saat Rasul buang hajat tersebut. Setelah Rasul selesai buang hajat, pohon-pohon itu kempali ketempatnya semula. Peristiwa yang terjadi adalah merupakan satu diantara mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa kedua adalah: Bahwa Uqail merasa sangat haus, setelah mencari air kemana-mana, namun air yang dicari tidak dia dapatkan. Maka Rasul SAW berkata kepada Uqail “ Hai Uqail, naiklah kamu ke gunung itu, sampaikan salamku kepadanya dan katakanlah, jika padamu ada air, berilah aku minum”.
Uqail pun pergi mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Namun sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan kalimat yang sangat jelas sekali, “ Katakanlah kepada Rasulullah, bahwa aku tidak punya air lagi, sebab aku terus menangis karena takut menjadi bahan bakar api neraka, dan aku menangis sejak Allah menurunkan ayat ”:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“. ( Q.S. At-Tahrim : 6 ).
Peristiwa ketiga adalah: Ketika Uqail sedang berjalan dengan Nabi Muhammad, tiba-tiba datang seekor unta kehadapan Rasulullah dan unta itu berkata, “ Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu”. Baru saja unta itu selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datang seorang Arab Badui dengan membawa pedang yang terhunus. Melihat orang tersebut Nabi bertanya kepadanya, “ Apa yang akan kamu lakukan dengan unta ini?”. Arab Badui itu menjawab:       “ Wahai Rasulullah, aku telah membeli unta ini dengan harga yang mahal, tetapi dia tidak mau taat dan tidak mau jinak, karena itu aku akan sembelih saja unta ini dan aku manfaatkan dagingnya”. Nabi Muhammad bertanya kepada unta itu. “ Mengapa engkau tidak patuh kepadanya?”. Unta itu menjawab “ Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak mendurhakai perintahnya untuk bekerja, akan tetapi aku mendurhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk. Karena kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, semuanya tidur dan meninggalkan shalat isya’”. Kalau sekiranya dia mau berjanji kepada engkau akan mengerjakan shalat Isya’ , maka aku berjanji tidak akan mendurhakainya lagi, sebab aku takut kalau Allah menurunkan siksaNya kepada mereka, aku juga terkena siksa tersebut, sementara aku berada diantara mereka”.
Subhanallah…….. ! Betapa gunung dan binatang sangat takut akan siksa Allah. Bagaimana dengan kita…………….?.
Jadikan kisah ini sebagai I’tibar / pelajaran bagi kita semua.


Minggu, 15 Mei 2011

Manakala Nabi Muhammad Tidak Lagi di Idolakan

Manakala Nabi Muhammad 
Tidak Lagi di Idolakan
Ummat Islam sesungguhnya mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang mulia (Khuluqun ‘azim). Tidak ada orang yang mampu menandingi kemuliaan akhlaknya. Jangankan kepada teman, kepada lawan pun ia menunjukkan akhlak yang terpuji. Bahkan, saat Aisyah (istri Nabi) ditanya orang tentang bagaimana akhlak Nabi Muhammad, beliau mengatakan akhlak Rasul adalah Al-Qur’an. Maksudnya, apa yang ada dalam Al-Qur’an, semuanya sudah teraplikasi dalam kehidupan Rasulullah SAW.

Pengakuan itu bukan hanya diakui oleh para sahabatnya dan orang-orang yang hidup pada zamannya, tetapi Allah pun menyanjungnya dengan sanjungan yang tinggi, seperti yang tertuang dalam firman Allah pada surat Al-Qolam ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya : “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung“.
Kalau ada ungkapan seperti berikut ini, agaknya yang pantas untuk menerimanya adalah Nabi Muhammad SAW: “ Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan. Senyum simpulnya penuh dengan persahabatan. Uluran tangannya adalah nilai-nilai sodaqoh. Langkah kakinya semangat jihad. Untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasehat. Diamnya pun merupakan zikir dan fikir “.  Inilah sosok manusia yang rindu orang untuk bertemu dengannya, tapi malas orang berpisah pada saat sudah berjumpa dengannya. Dalam hal ini Penulis ingin mengatakan, jangankan bertemu kepada orangnya secara langsung, berada dekat kuburnya saja pun orang malas untuk beranjak meninggalkan kuburnya. Hal yang demikian dapat penulis saksikan pada saat jama’ah haji berziarah ke kuburnya di Madinah Al-Munawwaroh.

Karena itu, tepatlah kalau Allah memerintahkan kepada kita sebagai ummatnya untuk menjadikan Rasulullah sebagai Uswatun hasanah (idola) dalam segala aspek kehidupan; Baik dalam kehidupan berumah tangga, sosial, bahkan politik sekalipun. Akhlak Rasulullah sangat luas, tidak hanya mencakup satu aspek saja. 

Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21 :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “.

Namun sangat disayangkan……..! Kenyataan yang biasa kita lihat saat ini, di zaman yang Modern ini, kebanyakan orang justru meng-idolakan para artis - artis dan bintang sinetron. Bahkan segala gaya hidup sang artis selalu ditiru, baik dari gaya bicara, penampilan, bahkan sampai kepada gaya berpakaian. Padahal sering sekali gaya hidup mereka tidak sesuai dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Bahkan, yang sangat menyedihkan, manakala ada orang yang menerapkan pola kehidupan seperti yang sudah dicontohkan Nabi, ada sementara orang yang memandangnya kolot, tidak jaman, bukan anak gaul, dan tidak mengikuti perkembangan zaman.

Sebab itu wajarlah kalau pola kehidupan masyarakat dewasa ini penuh dengan kekacauan dan kegalauan, sebab Nabi Muhammad yang sepantasnya di idolakan, justru malah sudah jauh ditinggalkan. Betapa hati menjadi pilu, setiap kali kita mengikuti berita, disana-sini terjadi kekacauan, tauran pelajar dan penduduk sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi, berita korupsi dan kolusi di kalangan petinggi negara sudah merupan santapan berita dikalangan publik, Prostitusi dan pemerkosaan sudah merupakan hal yang tidak mengherankan lagi. Semua dekadensi moral itu terjadi tidak lain sumbernya adalah bahwa manusia sudah tidak menjadikan Nabi Muhammad sebagai idola dalam hidupnya.

Apakah kondisi seperti ini dapat kita katakan “ Jahiliyah Modern “?. Tentu jawabannya ada pada diri anda .....................!

Mari kita rubah pola hidup dari yang kurang baik menjadi yang lebih baik, dengan menjadikan Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah dan Idola kita semua.