Menyikapi Pengaruh Globalisasi
Dinia ini rasanya semakin sempit, sebab pristiwa yang terjadi dibelahan bumi yang lain, dengan cepat dan mudah bahkan dengan hitungan detik dapat segera kita ketahui. Rasanya belahan bumi yang satu dengan yang lain menjadi begitu dekat, bahkan tidak ada jarak signifikan yang memisahkan satu negara dengan negara lain.
Mengapa demikian?. Sebab manusia sudah sampai kepada tingkat pengetahuan yang modern dan memiliki alat yang super canggih, baik alat transportasi yang kecepatannya melebihi kecepatan suara, maupun alat komunikasi yang tidak terbatas, sehingga seorang ayah yang memiliki anak nun jauh di belahan bumi yang lain, merasakan seolah-olah anaknya berada dibalik dinding pada saat berkomunikasi lewat alat telefon.
Harus diakui, banyak hal positif yang didapat melalui kemajuan yang dicapai manusia saat ini, dan itu pantas untuk disyukuri. Namun di sisi lain, bukan berarti pengaruh abad modern dan globalisasi ini tidak memiliki dampak negatif bagi hidup dan kehidupan manusia. Dampak negatif tersebut adalah manakala manusia menyalahgunakan kecanggihan yang telah dicapai kepada hal-hal yang merusak, baik merusak kehidupannya secara pribadi maupun kepada masyarakat umum.
Sangat nyata sekali ketika kecanggihan yang diperoleh manusia saat ini disalahgunakan untuk hal-hal yang menyimpang dan merusak tatanan kehidupan manusia, sehingga eksistensi manusia itu menjadi rapuh. Kerusakan yang jelas nampak terlihat dari akibat manusia salah dalam menggunakan kecanggihan ilmu pengetahuan yang dicapai, tidak hanya terkait dengan sikap dan prilaku buruk dari manusia itu, tetapi dampak itupun terasa kepada rusaknya ekosistim alam dimana manusia dengan keserakahannya tidak lagi mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan akibat terlalu berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Akhirnya, bak kata Ebiet G. Ade dalam lagunya, “ Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang “.
Betapa bannyak moral manusia rusak dari akibat pengaruh kecanggihan alat komunikasi, terutama dunia internet yang dengan mudah meng-ekses adegan porno. Hal seperti itu tidak hanya melanda kehidupan para remaja, tetapi orang-orang dewasa bahkan orang tua juga banyak yang terpengaruh kepada hal tersebut. Bahkan yang sangat mengecewakan, Anggota Dewan yang terhormat di Republik ini-pun tertangkap tangan sedang meng-ekses situs-situs porno. Na’uzubillah……………..!
Bila demikian, yang pasti akan terjadi adalah hilangnya identitas dan jati diri. Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam sabdanya, Artinya: "Akan datang suatu masa pada perjalanan hidup manusia, di mana perhatiannya melulu tertuju pada urusan perut. Kemuliaan mereka hanyalah diukur dengan benda (materi) semata. Kiblat mereka adalah wanita. Agama mereka adalah emas dan perak. Sungguh, mereka itu makhluk Allah yang paling buruk, tiada bernilai di sisi Allah." (HR Imam Dailami).
Lantas, bagaimana kita menghadapi gelombang globalisasi yang tadak bisa dihentikan ini?. Bila ditinjau dari sudut pandang agama islam, solusinya tidak lain adalah:
- Untuk masing-masing pribadi, perkuat jati diri yang sesungguhnya dengan senantiasa mempertebal iman kepada Allah SWT. Kemudian, senantiasa beribadah kepadaNya agar diri kita menjadi orang-orang yang bertakwa kepadaNya. Dan untuk wadah bernegara, perkuat nasionalisme kita sebagai bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi dan memiliki budaya dan akhlak yang mulia.
- Jadikan kecanggihan ilmu pengetahuan yang bekembang dewasa ini untuk hal-hal yang positif dan jangan salahgunakan kepada hal-hal yang negatif. Untuk itu, setiap individu harus selalu merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Bila seseorang memiliki sikap seperti ini, tentu pada saat dia berselancar di dunia maya, dia tidak akan berani membuka situs-situ porno, sebab dia merasa diawasi oleh Allah dan perbuatan itu adalah dosa.
- Menanamkan budaya malu. Saat ini kelihatannya budaya malu sudah banyak yang hilang dari kehidupan seseorang, semua itu tentu bersumber dari menipisnya akhlak dalam kehidupannya, sebab orang yang memiliki akhlak dalam kehidupannya tentu akan merasakan malu manakala ia berbuat kesalahan, untuk itu dia tentu akan berupaya secara maksimal untuk menghindarkan diri dari kesalahan.
Mari kita berupaya sekuat daya untuk menjadikan teknologi, kecanggigan informasi dan komunikasi sebagai sarana untuk mencapai kwalitas hidup yang baik, dengan prinsif tetap menjaga nilai-nilai moral untuk tidak tercebur kepada perilaku yang salah dalam menggunakan pengetahuan modern saat ini.
Semoga kita dijauhkan Allah dari sikap hidup yang tidak baik dengan memberikan hidayahnya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi kehidupan ini dengan nilai-nilai pengabdian yang sesungguhnya.
Sabtu, 21 Mei 2011
Menyikapi Pengaruh Globalisasi
Jumat, 20 Mei 2011
Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes
Foto Dr. Yusuf Estes Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes
Dr. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun 1962 hingga 1990 ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat bisnis dengan seorang pengusaha Muslim asal Mesir bernama Muhammad Abd Rahim.Awalnya ia bermaksud meng-Kristenkan pria Mesir itu. Namun akhirnya ia justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak, ayah serta mertuanya. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara regular tampil di PeaceTV , Huda TV , demikian pula Islam Channel yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial televisi Islam untuk anak-anak bertajuk “Qasas Ul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Misalnya, ia menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, da’i di penjara sejak tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di laman web www.islamtomorrow.com Di bawah ini adalah penuturannya.--------------------------------------------------------------------------------------------------------Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk Islam. Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka agama seperti pendeta, rabi (ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya dimanapun mereka berada.
Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak saja terjadi misinformasi tentang Islam. Misalnya Islam selalu diidentikkan dengan hal berbau Arab.
Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau pastur Kristen bisa masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui e-mail kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam. Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya berikut ini. Semoga Allah ridha.
Keluarga Kristen taat.Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut WASP (white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristen yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk bisa berkunjung ke banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu, Budha, Yahudi,hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali, yakni Islam.
Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan menyanyi di berbagai gereja. Di sekitar tahun 1960-an saya mengajar musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya beri nama “Estes Music Studios.” Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment. Kami juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga Florida.
Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah minggu hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah Kristen. Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.
Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat pertanyaan:” Apakah Tuhan yang menulis Bibel?” Biasanya jawabannya adalah: “Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang berasal dari Tuhan.” Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan, “Akan tetapi (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia.” Begitulah.
Mencari Tuhan.Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya “menyerah”. Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental hipokrit. Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat yang sama Dia menjadi “Tiga” atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya, jika Dia “Tuhan Bapa” bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara. Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme, Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu. Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun kata “Trinitas.”Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” tersebut. Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.
Pertemuan dengan pemuda Mesir.Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu seorang Muslim.Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, no way! Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir (maksudnya Ka’bah-red.) . Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu.Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati. Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam “aturan” khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu setelah kegiatan di gereja, sehingga punya “kekuatan” kala bertemu nanti. Saya musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja bertuliskan “Yesus Tuhan Kami.” Istri dan kedua anak perempuan saya juga harus datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam itu.Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung saya tanya pada ayah mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya. Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si Islam yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia tidak bersorban dan tidak pula berjubah. Malah pakai jas.Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal. Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria saya. Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu pikiran, yakni bagaimana meng-Kristenkan pria Mesir itu.
Soal Jawab.Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai menyoal pria Mesir tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? tanya saya mengawali. Pria itu menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar jawabannya. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusan-Nya. Fantastik!Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana mungkin?Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya masuk Kristen. Orang ini sangat potensial menurut saya.
Menjadi mitra bisnis.Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu. Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan Islam dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep Tuhan, arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang Nabi, dan banyak lainnya lagi.Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk tinggal di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya tinggal di rumah kami saja. Ia pun setuju.Satu ketika salah seorang teman saya –seorang pendeta- mengalami serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun tentang Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang kemudian tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas tampaknya pria itu seperti sedang depresi berat.
Pria di kursi roda mencari Tuhan.Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan seorang pendeta. Pria itu justru menjawab; “Sebenarnya saya dulu seorang pendeta.”“Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta ? Saya benar-benar syok kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini sebenarnya?Rupanya pendeta itu –namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini ia malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta Kristen juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa yaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?
Sang pendeta masuk Islam!.Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat saja. Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian apapun?Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah (masuk islam). Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Pendeta masuk Islam?Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya letakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat. Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.
Sekeluarga masuk IslamPagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi, mantan pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa menit kemudian istri saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amiin.Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam. Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran.Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga Atheis. Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni islamalways.com yang punya motto terkenal, ” where we’re always open 24 hours a day and always plenty of free parking.” (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir gratis).Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin.
Kamis, 19 Mei 2011
Delapan Prinsif Hidup Menuju Kebahagiaan Dunia Akhirat
Delapan Prinsif HidupMenuju Kebahagiaan Dunia Akhirat
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berdo’a kepada Allah agar kita diberi kebahagian hidup dunia dan akhirat. Namun perlu disadari bahwa untuk memperoleh kebahagiaan hidup dunia akhirat tersebut ada delapan prinsif hidup yang harus dimiliki dan diterapkan oleh setiap pribadi muslim dalam kehidupannya. Delapan prinsip hidup yang dimaksud adalah :
- Tujuan Hidup. Setiap muslim hendaknya mengetahui tujuan hidupnya, tujuan hidup muslim tidak lain adalah “ لابتغاء مرضات الله “ ( Berupaya untuk mendapatkan keridhaan Allah ). Keridhaan Allah perlu didapatkan, sebab apabila seseorang sudah mendapat keridhaan Allah bisa saja Allah memberikan kemudahan baginya dalam kehidupan ini. Bahkan tidak tertutup kemungkinan pada saat menghadapi sakarotul maut nanti dia tersenyum menghadapi kematiannya, sebab boleh jadi Allah akan menunjukkan syurga kepadanya sebagai tempatnya diakhirat kelak. Allah pun memanggilnya dengan panggilan kasih sayang, sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat Al-Fajr ayat 27-30: “يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي “ Artinya: “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. “.
- Fungsi Hidup. Allah menciptakan manusia di bumi ini berfungsi sebagai KhalifahNya. Khalifah yang dimaksud di sini adalah bahwa manusialah yang diembankan Allah tugas untuk menjalankan risalah agamaNya di muka bumi. Untuk itu, agar kehidupan manusia dapat tertata dengan baik, maka Allah menurunkan syari’atnya melalui Rasul-Rasul yang diutus untuk menyampaikan risalahnya. Disisi lain, khalifah dalam makna yang lebih luas adalah pemimpin, baik pemimpin secara formal maupun non formal. Pimpinan secara formal dalam wadah bernegara sepert: Prisidan, Gubernur, Walikota/Bupati dan seterusnya kebawah sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Namun perlu disadari bahwa pada hakikatnya kita semua adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap diri sendiri. Bagaimana caranya? Pimpinlah mata agar tidak melihat hal-hal yang haram. Pimpinlah telinga agar mampu mendengar hal-hal yang baik, seperti mendengar ayat-ayat Allah dan nasehat-nasehat yang mengarahkan kehidupan kepada nilai-nilai positif dalam kehidupan. Pimpinlah tangan agar tidak mengambil hak orang lain. Pimpinlah perut supaya di isi dengan hal-hal yang halal. Pimpinlah kaki agar tidak melangkah ke tempat-tempat yang maksiat. Seseorang apabila sudah terbiasa memimpin diri sendiri, suatu saat apabila diberi amanat kepemimpinan yang lebih besar, tentu amanat itu akan mudah dia laksanakan, sebab sudah terbiasa memimpin diri sendiri. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 30: “وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً “. Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".
- Tugas Hidup. Secara mendasar tugas manusia di bumi ini adalah untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini hendaknya mempunyai nilai-nilai ibadah di sisi Allah. Oleh sebab itu, kehidupan ini harus di isi dengan aktivitas yang positif dan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Sebab, manusia harus menyadari bahwa hidup ini mempunyai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek adalah menjalani kehidupan di dunia ini dan berusaha mengisinya dengan upaya mencapai kebahagiaan di dalamnya dengan tetap menjaga dan mengamalkan tatanan kehidupan yang sesuai dengan syari’at Allah. Adapun tujuan jangka panjang adalah menuju kehidupan akhirat dengan mempersiapkan bekal dengan nilai-nilai ketakwaan kepada Allah SWT. Firman Allah dalam surat Az-Zariyat ayat 56: “ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالانسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ “. Artinya: “ Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu“.
- Pedoman Hidup. Ummat islam memiliki Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kandungannya memberi tuntunan kepada manusia tentang bagaimana seharusnya manusia menjalankan kehidupan di dunia ini. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, artinya: “Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya, kamu tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul “. Karena itu, ummat islam harus benar-benar menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasullullah sebagai pedoman. Sebab Rasulullah memberikan jaminan keselamatan bagi orang-orang yang senantiasa mengamalkannya. Untuk mengamalkan isi kandungannya kita harus mampu untuk memahaminya, dan untuk sampai kepada tingkat memahaminya tentu kita harus belajar dengan baik dan benar.
- Teman Hidup. Dalam menjalankan kehidupan di dunia ini manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk sosial, artinya manusia selalu memerlukan orang lain dalam kehidupannya, karena itu seseorang harus dapat bersosialisasi dengan baik dengan orang yang ada di sekitarnya. Untuk itu, dalam hidup kita perlu ada orang-orang yang dapat dijadikan teman untuk sama-sama berjuang dan saling membantu. Allah menyatakan bahwa sesama ummat islam itu besaudara. Firman Allah dalam surat Al-Hujurot ayat 10: “إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”. Di sisi lain Allah juga memerintahkan agar kita saling tolong menolong dalam hal kebaikan untuk mencapai takwa, dan tidak boleh saling bekerjasama untuk berbuat dosa yang bisa menyebabkan saling bermusuhan antar sesama. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2: “وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “. Artinya :” Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran “.
- Musuh Hidup. Manusia juga perlu menyadari bahwa dalam kehidupan ini kita tidak terlepas dari adanya musuh dalam kehidupan. Musuh manusia yang terbesar adalah hawa nafsu, kemudian syaitan, dan berikutnya adalah orang-orang kafir yang berupaya menghalangi kita dalam menjalankan dan menegakkan agama islam, apa lagi menarik kita untuk keluar dari agama islam. Menyangkut mengenai hawa nafsu Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 53 : “إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ “. Artinya: “ ..... Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku “. Dalam hal syaitan sebagai musuh dalam kehidupan kita, Allah juga mengingatkan kita, sebagaimana firman Allah yang tercantum dalam surat Al-Baqoroh ayat 208 : “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ “. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu“. Kemudian Allah mengingatkan kita tentang sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kita ummat islam. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 120 : “ وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ “. Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka “.
- Teladan Hidup. Nabi Muhammad adalah manusia paripurna yang pantas untuk dijadikan teladan dalam kehidupan ini, sebab catatan sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad telah meletakkan sendi-sendi kehidupan yang mulia untuk dapat dijadikan teladan oleh manusia, khususnya ummat islam. Dalam tulisan sebelumnya penulis ada mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad itu pantas untuk menerima ungkapan: “Pandangan matanya adalah pandangan mata yang menyejukkan. Senyum simpulnya penuh dengan persahabatan. Uluran tangannya adalah nilai-nilai sodaqoh. Langkah kakinya semangat jihad. Untaian katanya penuh dengan mutiara hikmah dan nasehat. Diamnya pun merupakan zikir dan fikir “. Inilah sosok manusia yang rindu orang untuk bertemu dengannya, tapi malas orang berpisah pada saat sudah berjumpa dengannya. Dalam hal ini Penulis ingin mengatakan, jangankan bertemu kepada orangnya secara langsung, berada dekat kuburnya saja pun orang malas untuk beranjak meninggalkan kuburnya. Hal yang demikian dapat penulis saksikan pada saat jama’ah haji berziarah ke kuburnya di Madinah Al-Munawwaroh. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21 : “لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً “. Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “.
- Istiqoma. Istiqomah maksudnya ialah, teguh pendirian, kuat keyakinan dalam meyakini islam sebagai agama. Ungkapan yang selalu disampaikan dalam mempertahankan keyakinan ini adalah “ Sekali mengucapkan dua kalimah syahadah, sampai mati keyakinan itu tetap dipertahankan “. Allah berfirman dalam surat Hamiim As-Sajadah ayat 30-32. “إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾ “. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Semoga dengan menerapkan delapan prinsif hidup ini, kita akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Langganan:
Postingan (Atom)


