Senin, 30 Mei 2011

Menanamkan Sikap Solidaritas Sosial dihati Ummat

Menanamkan Sikap Solidaritas Sosial dihati Ummat
Syari’at islam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Baik dalam kaitan hubungan manusia kepada sang pencipta ( Allah SWT ), hubungan manusia kepada sesama manusia, maupun hubungan manusia kepada alam lingkungannya.
Menyangkut masalah hubungan manusia kepada sesama manusia, syari’at islam mengajarkan tentang bermasyarakat yang ada kaitannya dengan “ kesejahteraan hidup bersama “. Dalam hal ini yang dimaksud adalah sikap “ Solidaritas Sosial “.
Solidaritas sosial ini akan dapat diterapkan dengan cara:
Pertama: Menjalankan kehidupan bersama dengan cara membina “ Ukhuwah islamiyah “ yang baik antara sesama ummat islam. Sebab islam mengajarkan bahwa sesama ummat islam antara satu dengan yang lainnya adalah bersaudara. Pola hidup bermasyarakat seperti ini akan menimbulkan sikap yang baik, menghilangkan sikap egois dan mau  menang sendiri. Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Hujurot ayat 10  :
“إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ  “.
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat“.
Kedua: Menanamkan sikap “ Tolong Menolong”. Islam mengajarkan sikap tolong menolong ini kepada segenap ummatnya, sebab manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain. Namun perlu disadari bahwa sikap tolong menolong yang harus diterapkan dalam kehidupan masyarakat adalah sesuatu yang menuju kepada kebaikan dan ketakwaan bukan dalam hal keburukan yang mendatangkan dosa. Dalam kaitan ini Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2:
“وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “.
Artinya: “ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran “.
Ketiga: Menerapkan pola hidup “ Saling Menasehati “. Dalam tatanan pergaulan di masyarakat islam, Nabi Muhammad SAW. menggambarkan, bahwa kehidupan masyarakat islam itu seperti satu tubuh, apabila anggota tubuh yang satu merasakan sakit, anggota tubuh yang lain juga ikut merasakannya. Demikian pula diharapkan dalam pergaulan ummat islam, apabila ada seseorang yang sedang mengalami problem dalam kehidupannya, temannya sesama islam hendaklah membantunya untuk keluar dari promlem hidup yang sedang dihadapi saudaranya tersebut, dan memberi nasehat untuk menyikapi problem  yang sedang dihadapi dengan bersabar, sembari berupaya secara maksimal untuk mengatasi segala persoalan kehidupan yang sedang dihadapi. Menyangkut masalah ini Allah SWT. berfirman dalam surat Al-‘Ashr ayat 1-3:
“وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الانسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ “
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran “.
Dengan menerapkan tiga landasan seperti yang telah diuraikan, tentu akan muncul dalam kehidupan masyarakat ( khususnya masyarakat islam ) sikap “Solidaritas Sosial”. Apabila sikap seperti ini yang menghiasi kehidupan masyarakat, maka diyakini kecemburuan sosial akan sirna dari kehidupan masyarakat. Akhirnya yang akan dirasakan oleh masyarakat itu adalah rasa kebersamaan dan rasa kekompakan, dan apabila rasa kebersamaan dan kekompakan sudah dapat diterapkan, maka puncak yang paling dinikmati oleh masyarakat tersebut adalah rasa aman, tentram dan damai. Dan hidup seperti itu adalah dambaan kita semua.

Minggu, 29 Mei 2011

Hasil Final Piala Champions


Hantam MU, Barca Juara Liga Champions
Barcelona keluar sebagai juara Liga Champions. Mereka tampil dominan. Manchester United pun mereka taklukkan dengan skor 3-1.
Barca menciptakan banyak peluang pada pertandingan ini. Sementara United, kendati berhasil menciptakan satu gol ke gawang Barca, tampak kesulitan keluar dari tekanan sang lawan.

United kembali menurunkan Ryan Giggs dan Michael Carrick sebagai starter, alih-alih seperti yang diprediksikan sebelumnya di mana 'Setan Merah' bakal bermain dengan lima gelandang. Namun, Carrick tampak tak berkutik. Park Ji-Sung yang di awal sempat membayangi Lionel Messi, belakangan tak mampu membendung pergerakan pemain asal Argentina itu.
Sebaliknya, gelandang-gelandang Barca justru bermain agresif dengan banyak melepaskan tendangan. Xavi Hernandez adalah salah satu yang bersinar. Dari catatan statistik, akurasi operannya mencapai 98%, ia juga sukses melepaskan tiga tembakan ke arah gawang sepanjang laga.
Pada pertandingan di Wembley, Minggu (29/5/2011) dinihari WIB, ini, gol pertama Barca diciptakan Pedro Rodriguez di menit 27 dengan diawali oleh umpan terobosan Xavi. Pedro tak terkawal bek United dengan baik. Lewat satu penyelesaian tenang, Pedro pun sukses membobol jala Edwin Van der Sar.
Namun, keunggulan Barca hanya sampai menit ke-33. Tusukan Rooney di sisi kanan dilanjutkan dengan operan kepada Ryan Giggs. Bola kemudian dikembalikan oleh Giggs kepada Rooney. Lewat sepakan kaki kanan ke tiang jauh, Rooney pun sukses membobol jala Victor Valdes.
Dari catatan statistik yang dilansir Soccernet, Barca tampil lebih dominan. Mereka memenangi penguasaan bola dengan perbandingan 70:30.
Barca juga melepaskan 10 tembakan dengan tiga di antaranya tepat sasaran. Sementara United hanya melepaskan dua tembakan dengan hanya satu yang tepat sasaran--dan itulah yang menjadi gol.

Barca masih melanjutkan dominasi mereka di awal babak kedua. Dan hasilnya, mereka kembali unggul di menit 54 melalui Lionel Messi.
Gol Messi ini tercipta setelah dirinya menggiring bola sejenak di depan boks penalti United. Ia tak terkawal dan akhirnya langsung melepaskan tendangan kaki kiri melengkung. Barca unggul 2-1.
Sudah unggul, tekanan Barca tak kunjung mengendur. Mereka pun layak untuk mendapatkan gol ketiga ketika pertandingan sudah memasuki menit 68.
Operan-operan Los Cules di depan kotak penalti United berakhir di kaki David Villa. El Guaje lalu melepaskan tendangan melengkung ke sebelah kiri Van der Sar, dan penjaga gawang asal Belanda itu tak mampu menjangkaunya.
Di sisa pertandingan, Barca masih terus mempertahankan keunggulan penguasaan bola. United masih menciptakan satu peluang lewat Nani di menit 84.
Setelah bekerjasama dengan Rooney, ia menggiring bola mendekati kotak penalti Barca dan akhirnya melepaskan tendangan kaki kiri. Sial baginya, bola melebar di samping jala Valdes.
Barca kemudian memainkan Carles Puyol di menit 87, kapten Barca itu akhirnya mencicipi pertandingan final ini. United terus menekan pertahanan Barcelona. Namun tak ada yang benar-benar membahayakan gawang Valdes.
Dari statistik terakhir pertandingan, dominasi Barca memang tidak bisa dibantah. Soccernet melansir, mereka memenangi penguasaan bola dengan perbandingan 68:32.
Secara total, Barca menorehkan 22 tembakan, dengan 12 di antaranya tepat sasaran. Bandingkan dengan United yang hanya menghasilkan empat tembakan dan hanya satu yang tepat sasaran.
Sumber Data:
http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/05/29/021305/1649327/1033/hantam-mu-barca-juara-liga-champions?991101mainnews

Sabtu, 28 Mei 2011

Al-Qur’an Al-Karim Bacaan yang Mahasempurna dan Mahamulia

Al-Qur’an Al-Karim
Bacaan yang Mahasempurna dan Mahamulia

Al-Qur’an secara harfiah berarti “ bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan “. Al-Qur’an Al-Karim berarti “ bacaan yang mahasempurna dan mahamulia”. Kemahamuliaan dan kemahasempurnaan “bacaan” ini agaknya tidak hanya dapat dipahami oleh para pakar, tetapi juga oleh semua orang yang menggunakan “sedikit” pikirannya.

Tidak ada satu bacaan pun sejak peradaban tulis baca dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya maupun tidak kecuali “bacaan yang mahasempurna dan mulia ini”. Bahkan, anehnya juara membacanya adalah mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Al-Qur’an. Bukankah juara-juara MTQ tingkat internasional seringkali diraih oleh putra-putri bangsa kita?.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang dipelajari dan diketahui sejarahnya bukan sekadar secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi tahun, bulan masa dan musim turunnya-malam atau siang, dalam perjalanan atau di tempat berdomisili penerimanya (Nabi saw), bahkan “ sebab-sebab serta saat-saat turunnya”.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al-Qur’an, yang dipelajari redaksinya, bukan hanya dari segi penetapan kata demi kata dalam susunannya serta pemilihan kata tersebut, tetapi mencakup arti kandungannya yang tersurat dan tersirat sampai kepada kesan-kesan yang ditimbulkannya dan yang dikenal dalam bidang studi Al-Qur’an dengan tafsir isyari.

Tidak ada satu bacaan pun,  selain Al-Qur’an, yang dipelajari, dibaca, dan dipelihara aneka macam bacaannya – yang jumlahnya lebih dari sepuluh – serta ditetapkan tata cara membacanya- mana yang harus dipanjangkan atau dipendekkan, dipertebal ucapannya atau diperhalus (ditipiskan), dimana tempat-tempat berhenti yang boleh, yang dianjurkan atau dilarang, bahkan sampai kepada lagu dan irama yang diperkenankan dan yang tidak. Bahkan, lebih jauh lagi, sampai pada sikap dan etika membaca pun mempunyai aturan-aturan tersendiri.

Tidak ada satu bacaan pun,  selain Al-Qur’an, yang diatur dan dipelajari tata cara penulisannya, baik dari segi persesuaian dan perbedaannya dengan penulisan masa kini, sampai kepada mencari rahasia perbedaan penulisan kata “bismi” yang pada wahyu pertama ditulis dengan menggunakan huruf alif setelah ba’. Sedangkan pada ucapan bismillah ditulis tanpa alif dan kemudian ditemukan pertimbangan-pertimbangan yang sangat mengagumkan dari perbedaan perbedaan tersebut.

Pernahkan Anda mengetahui satu bacaan yang sifatnya seperti ini? Kalau tidak, wajarlah bila Kalam Ilahi yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad saw. ini dinamainya dengan Al-Qur’an, bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan.

Sumber: Lentera Hati. M. Quraish Shihab.

Kamis, 26 Mei 2011

Hidayah Allah Kepada Manusia


Hidayah Allah Kepada Manusia
Firman Allah dalam Surat Al-Fatihah ayat 6 :
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
“ Tunjukilah kami jalan yang lurus ”

Ahmad Musthafa Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya yang dikenal dengan tafsir Al-Maraghi menjelaskan, ada beberapa macam hidayah/petunjuk yang diberikan Allah kepada manusia.
Pertama: Hidayah Ilhamiyah ( Naluri atau pembawaan dasar manusia dari sejak lahir). Hidayah ilhamiyah ini terbagi dua:
  1. Hidayah Jasmaniyah. Bahwa manusia selalu merasakan sesuatu dalam tubuhnya, seperti merasakan lapar, haus, sakit dan sebagainya. Kalau seseorang dipukul oleh orang lain dan dia merasakan sakit, maka rasa sakit itu-pun sesungguhnya merupakan hidayah dari Allah. Tetapi manakala seseorang tidak lagi merasakan sesuatu dari sentuhan yang terjadi pada dirinya, berarti itu merupakan pertanda bahwa hidayah jasmaniyah sudah mulai hilang dari kehidupan seseorang.
  2. Hidayah Rohaniyah. Secara rohani seseorang juga merasakan suatu perasaan dalam hidupnya, misalnya: Kalau ada seseorang melakukan suatu perbuatan yang menyimpang dari peraturan yang berlaku ditengah masyarakat, baik peraturan adat yang ada dalam masyarakat, terlebih lagi peraturan agama, dia merasa malu dengan pelanggaran yang telah ia lakukan, itu berarti dalam hidupnya masih ada hidayah rohaniyah. Namun apabila ada seseorang yang melakukan perbuatan yang menyimpang dalam hidupnya, dia tidak merasakan malu sama sekali, berarti orang yang seperti ini sudah hilang hidayah rohaniyah dari kehidupannya.
Kedua: Hidayah Hawasiyah: ( Hidayah panca indra ). Mata yang dapat melihat keindahan panorama alam yang ada. Telinga yang dapat menangkap gelombang-gelombang suara yang ada disekitarnya. Hidung yang mempu merasakan aroma dari sesuatu yang ada didekatnya. Lidah yang mampu berbicara dan merasakan lezatnya citarasa dari makanan, itu semua merupakan hidayah yang diberikan Allah kepada manusia.
Ketiga: Hidayah Dhamirul Qolbi ( kata hati ). Manusia dalam melakukan sesuatu selalu di dorong oleh kata hatinya. Oleh sebab itu, dorongan kata hati yang menjelma kepada perbuatan manusia, sangat menentukan akan nilai dari perbuatan seseorang, apakah perbuatannya baik atau buruk. Karenanya, hati perlu di rawat agar selalu mendorong kita kepada perbuatan yang bernilai positif. Disinilah maksud dari sabda Rasul, “ Ketahuilah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging, apabila dia baik kamu akan termotipasi untuk melakukan kebaikan, namun apabila dia tidak baik, kamu akan terangsang melakukan perbuatan yang tidak baik. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati”.
Keempat: Hidayah ‘Aqliyah ( hidayah akal ). Manusia dikaruniakan Allah akal yang mampu untuk berpikir. Dengan akal pula manusia dapat menentukan hal yang baik dan yang buruk. Oleh sebab itu, akal juga merupakan hal penentu dalam kehidupan manusia dalam melakukan kabaikan maupun keburukan. Namun perlu disadari bahwa kemampuan akal dalam menentukan baik dan buruk sangat terbatas sekali, karenanya perlu hidayah yang lain dalam kehidupan manusia yaitu hidayah agama.
Kelima: Hidayah Diniyah ( Hidayah agama ). Di atas telah dikemukakan bahwa kemampuan akal manusia untuk menentukan baik dan buruk sangat terbatas sekali, karena keterbatasan manusia dalam hal tersebut maka Allah berkenan memberikan hidayah yang lain, yaitu hidayah agama. Agama yang dimaksud disini adalah agama yang diturunkan Allah, yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul yang menjadi utusan Allah. Sebab itu, sesuatu yang menjadi ketetapan agama harus diyakini mutlak kebenarannya. Seorang mukmin wajib mengimani dan mengamalkannya.
Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan seperti demikian: Manusia diciptakan Allah memiliki pembawaan dasar untuk dapat merasakan sesuatu dalam dirinya, baik secara jasmani maupun rohani. Kemudian Allah memberikan perangkat yang lain kepada manusia untuk penopang kehidupannya, yaitu panca indra. Tugas panca indra adalah untuk mengopservasi yang ada dilingkungan hidupnya. Setelah itu, sesuatu yang dilihat dan dirasakan oleh manusia dalam kehidupannya secara reflek dilaporkan kepada hati, kemudian hati mendorong manusia untuk melakukan sesuatu, namun keinginan yang datang dari hati, belum tentu bisa dijamin kebenaran dan kebaikannya, karena itu perlu Badan Pertimbangan untuk memutuskannya, apakah dorongan yang timbul dari hati tadi boleh dilaksanakan atau tidak. Badan pertimbangan itu adalah akal. Rupanya keputusan yang diambil oleh Badan Pertimbangan akal-pun selalu mengalami kebuntuan bahkan kesalahan, untuk itu dibutuhkan pula badan pertimbangan yang lebih tinggi dan mutlak kebenarannya, yaitu syari’at Islam yang diturunkan Allah SWT. Sebab sesuatu yang sudah menjadi ketetapan Allah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sikap seorang mukmin harus “sami’na - wa atha’na” ( kami dengar dan kami patuhi ).
Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh, 147 :
“الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ”.
Artinya : “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu “.
Apabila manusia menyadari tentang beragam hidayah yang diberikan Allah kepadanya, dan dia mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya, maka manusia yang seperti inilah yang akan menempuh jalan yang sesuai dengan kehendak Allah. Apabila jalan kehidupan yang ditempuh sudah sesuai dengan kehendak Allah, insya Allah, keridhaan Allah-pun akan di dapatkan.
Semoga kita termasuk diantara orang-orang yang diridhai Allah .....…………………!
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ