Kamis, 02 Juni 2011

HATI YANG BAIK DAN YANG BURUK

HATI YANG BAIK DAN YANG BURUK
Nabi Muhammad SAW. menginformasikan kepada kita bahwa di dalam tubuh kita ada segumpal daging. Apabila dia baik maka seseorang akan termotipasi melakukan nilai-nilai kebaikan, tetapi apabila dia tidak baik maka seseorang akan terangsang melakukan hal-hal yang tidak baik. Segumpal daging yang dimaksud Rasul itu adalah hati. Bila demikian, perbuatan yang dilakukan seseorang adalah merupakan cermin dari dari apa yang ada dalam hatinya.

Dari ungkapan Nabi Muhammad tersebut dapat dipahami bahwa hati manusia itu ada yang baik dan ada yang buruk.

Pertama: “Hati yang Baik”.
Yaitu hati yang mudah tersentuh untuk menerima ajaran-ajaran yang baik dan benar. Hati orang-orang yang demikian biasanya penuh dengan kelembutan, gampang tersentuh melihat penderitaan orang lain, suka menolong, punya sikap penyantun, penuh kasih sayang kepada siapapun, gemar melakukan ibadah kepada Allah, dan tidak suka dengan kekerasan. Hati yang seperti ini merupakan hati orang yang beriman kepada Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 2-4:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni`mat) yang mulia “.
Kedua: “ Hati yang Buruk”.
Hati yang buruk ini memiliki lima tingkatan yaitu:
  1. Hati yang berpenyakit. Orang yang hatinya berpenyakit biasanya selalu memiliki sikap iri, benci, pendendam, pembohong, munafik, berbuat kasar, pemarah dan lain sebagainya. Berkenaan dengan hati yang berpenyakit ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 2: “ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ “. Artinya : “ Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta “.
  2. Hati yang Keras. Hati seseorang bisa menjadi keras akibat dari hati yang tadinya sakit tapi tidak diobati. Orang yang hatinya keras, apabila melakukan kejahatan dia tidak merasa bahwa kejahatan yang dia lakukan itu merupakan suatu kejahatan, yang dia lakukan menurut pandangannya semuanya benar, itu adalah akibat hatinya tidak lagi memiliki kepekaan. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 43. “فَلَوْلا إِذْ جَاءهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَـكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ “. Artinya: “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan “.
  3. Hati yang Membatu. Hati yang keras apabila tidak segera disadari akan meningkat keburukannya menjadi hati yang membatu atau semakin mengeras dari sebelumnya. Firman Allah dalam surat Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 74: “ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ “. Artinya: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan “.
  4. Hati yang Tertutup. Hati yang sudah tertutup tidak akan dapat lagi menerima getaran petunjuk yang disampaikan kepadanya. Bentuk nasehat dan pengajaran apa-pun yang disampaikan kepadanya hanya dianggap angin lalu. Semua itu adalah akibat kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam kehidupannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Muthoffifin ayat 14: “كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ “. Artinya: “ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka “.
  5. Hati yang Terkunci. Jika hati sudah tertutup, maka untuk tingkat selanjutnya hati itu akan terkunci mati. Terhadap orang yang seperti ini, tidak ada bedanya, dia diberi peringatan atau tidak, tetap tidak mau menerimanya. Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 6-7: “إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ  خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ “. Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat “.
Mari kita jaga hati agar “ tidak berpenyakit”, “tidak menjadi keras”, “tidak membatu”, “tidak tertutup” dan “ tidak terkunci ”.
Semoga Allah membuka hati kita untuk dapat menerima ajaran yang baik dan benar dalam kehidupan kita, sehingga hati kita mempunyai getaran yang baik untuk selalu mendorong kita melakukan kebaikan dalam kehidupan ini.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 01 Juni 2011

Empat Tahap Menuju Jenjang Muttaqin


Empat Tahap Menuju Jenjang Muttaqin
Islam memandang bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta kekayaan yang ia miliki, tidak pada pangkat dan jabatan yang ia emban, dan bukan pula pada status social yang ia sandang. Tetapi kemuliaan seseorang dalam pandangan Allah terletak pada nilai-nilai ketaqwaan yang ia lakukan.
Orang-orang yang dinilai Allah sebagai muttaqin akan dimasukkanNya kedalam Syurga. Hal ini berdasar kepada firman Allah dalam Al-Qur’an, diantaranya pada Surat Ali Imran ayat 133 :
“وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ “.
Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa“.
Perlu disadari bahwa untuk sampai kepada jenjang muttaqin, seseorang harus terlebih dahulu melalui empat tahap, dalam hal ini penulis singkat dengan 4M.
Pertama: Muslim. Seseorang harus menjadi muslim yang baik, rumusan dan ungkapan yang paling sederhana untuk menjadi muslim yang baik adalah seperti yang pernah dinyatakan Nabi Muhammad dalam sabdanya, artinya: “ Muslim yang baik adalah, selamat orang lain dengan lidah dan tangannya”. Lidah dan tangan adalah merupakan perwakilan dari seluruh komponen anggota badan seseorang. Oleh sebab itu, seorang muslim dilarang mengganggu kehidupan orang lain, membuat keonaran dan kekacauan, membuat orang yang ada disekitarnya menjadi resah dan gelisah dan mengganggu ketentraman orang lain. Intinya adalah, kehadiran seorang muslim bisa menjadi kesejukan dan kedamaian  dalam masyarakatnya.
Kedua: Mukmin. Seseorang harus menjadi mukmin yang baik. Upaya yang harus dilakukan untuk menjadi seorang mukmin yang baik adalah dengan membenahi aqidah yang kokoh dengan berpegang teguh kepada konsep islam tentang hal-hal yang wajib di-imani. Seseorang harus benar-benar beriman kepada Allah, kepada rasul-rasulNya, kepada kiab-kitabNya, kepada malaikat-malaikatNya, kepada ketentuan buruk dan baik, dan beriman kepada hari kiamat. Apabila iman seseorang sudah kokoh, tentu imannya pula yang akan mendorongnya untuk beribadah kepada Allah, dan ibadah yang dilaksanakan akan menghantarkan orang tersebut untuk sampai kepada jenjang muttaqin.
Ketiga: Muhsin. Seseorang harus menjadi seorang yang disebut muhsin. Muhsin maksudnya senantiasa melakukan kebaikan dalam hidupnya, terutama melaksanakan ibadah secara langsung kepada Allah. Dalam hal ini Rasul pernah ditanya oleh malaikat jibril tentang apa yang dimaksud dengan ihsan. Rasul menjawab yang maksudnya: “ Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-oleh engkau melihatNya, andai pada kenyataannya engkau tidak melihat Allah, maka yakinkanlah dirimu bahwa engkau dilihat Allah”. Itu artinya, bahwa seorang muslim harus selalu merasa diawasi oleh Allah. Tingkat kesadaran yang seperti ini akan mangantarkan seseorang kepada sikap hidup untuk selalu berhati-hati dalam kehidupannya. Setiap kali dia akan melakukan sesuatu, tentu dia terlebih dahulu berpikir apakah perbuatan yang akan dilakukan, sesuai dengan syariat Allah atau tidak. Daya control seperti ini yang akan menyelamatkan seseorang dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik, dan dengan sikap hidup seperti itu pula yang akan menjadikan seseorang menjadi orang yang muttaqin.
Keempat: Mukhlis. Mukhlis maksudnya adalah orang-orang yang ikhlas dalam menjalankan ibadah. Perlu disadari bahwa segala ibadah dan nilai-nilai kebaikan yang dilaksanakan harus didasari dengan keikhlasan kepada Allah. Sebab Allah tidak akan menerima ibadah orang-orang yang tidak ikhlas. Allah SWT berirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 :
“ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ  “
Artinya: “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus “.
Kelima: Muttaqin. Apabila seseorang sudah menjadi “ muslim “ yang baik”, menjadi “mukmin” yang baik, menjadi seorang yang “ muhsin “ dan “ mukhlis”, tentu dia akan naik kepada jenjang yang ke lima, yaitu menjadi seorang yang “ muttaqin “. Terhadap rang-orang yang “ muttaqin “ dijanjikan Allah untuk masuk kedalam syurganya. Gambaran umum tentang keberadaan orang-orang yang “ muttaqin “ di dalam syurga tersebut, seperti yang difirmankan Allah dalam surat An-Naba’ ayat 31 - 36 :
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازاً حَدَائِقَ وَأَعْنَاباً  وَكَوَاعِبَ أَتْرَاباً  وَكَأْساً دِهَاقاً لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْواً وَلا كِذَّاباً  جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاء حِسَاباً
Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.
Mari kita berupaya secara maksimal untuk menjadikan diri kita sebagai muslim yang baik, menjadi mukmin yang baik, menjadi seorang yang muhsin dan mukhlis agar kita mencapai kederajat muttaqin. Semoga Allah menempatkan kita dalam kelompok orang-orang yang muttaqin.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Selasa, 31 Mei 2011

Bekal Bagi Jama’ah Calon Haji Menuju Haramain

Bekal Bagi Jama’ah Calon Haji
Menuju Haramain
( Drs. Khairul Akmal Rangkuti )

وأذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلى كل ضامر يأتين من كل فج عميق

Artinya : “ Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh “. ( Q. S. Al-Hajj: 27 ).

Ibadah haji adalah salah satu diantara rukun islam yang lima, wajib bagi orang-orang yang mampu untuk berangkat menunaikannya. Kewajiban menunaikan ibadah haji sudah ditentukan tempat dan waktu pelaksanaannya. Adapun tempat pelaksanaannya adalah Makkah Al-Mukarromah, sedangkan waktunya adalah di bulan-bulan haji yaitu, bulan syawal, zulqoidah dan puncaknya adalah dibulan zulhijjah. Untuk itu, setiap jama’ah calon haji harus mempunyai bekal untuk menuju tanah suci tersebut. Adapun bekal yang harus dipersiapkan secara umum ada dua hal.
Pertama: Bekal secara materi. Yaitu, hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan selama dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Seperti, makanan, pakaian, dan lain-lain yang berkenaan dengan ibadah haji tersebut.
Kedua: Bekal secara prilaku dan akhlak. Yaitu, hal-hal yang berkenaan dengan sikap mental prilaku dari jama’ah calon haji yang berkaitan dengan kebaikan dan kesempurnaan ibadah haji yang akan dilaksanakan.
Dari dua katagori bekal yang dikemukakan di atas, yang sangat urgen adalah menyangkut masalah prilaku dan akhlak. Sebab, masalah bekal secara materi pada umumnya jama’ah calon haji yang akan berangkat tentu sudah mempertimbangkan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya. Bahkan, khusus bagi jama’ah calon haji Indonesia, bekal secara materi ini menurut hemat penulis tidaklah menjadi masalah, sebab uang living Cost sebesar 1500,- Riyal/jama’ah, sudah cukup untuk biaya konsumsi dan keperluan lainnya selama dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, ( dengan catatan jama’ah calon haji tersebut tidak terlalu royal dalam membelanjakan uangnya ).
Penulis ingin memberikan satu contoh dari pasangan suami-istri yang mereka berdua berangkat menunaikan ibadah haji bersama dengan penulis, bahkan dari KBIH yang sama, yaitu KBIH KODAM I Bukit Barisan. Menurut penuturan mereka, persediaan uang mereka hanya sebatas uang living Cost, itu berarti uang yang ada pada mereka sebesar 3000.- Riyal. Ternyata dengan uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, bahkan mereka bisa membawakan oleh-oleh untuk keluarga, yang menurut hemat penulis oleh-oleh yang mereka bawa tidak terlalu minim. Disisi lain mereka berdua juga tidak menahan-nahan selera makan, sebab penulis tahu persis karena mereka berdua adalah jama’ah penulis sendiri, dan segala sesuatu yang mereka lakukan selama berada dalam pejalanan haji tersebut, mereka selalu bercerita kepada Penulis. Itulah sebabnya penulis sanggup mengatakan dengan uang living Cost sebesar 1500.- Riyal/jama’ah sebenarnya cukup sebagai bekal selama pelaksanaan ibadah haji.
Di atas Penulis telah mengemukakan bahwa bekal yang paling urgen dalam pelaksanaan ibadah haji adalah menyangkut  masalah prilaku dan akhlak. Dalam hal ini para jama’ah calon haji perlu merujuk kepada firman Allah dalam suroh Al-Baqoroh ayat 197 :
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ
Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal “.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa bagi orang yang melaksanakan ibadah haji dilarang Allah berbuat rafast (Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh ). Kemudian dilarang berbuat fasik, seperti berbohong, mengambil yang bukan miliknya memaki, cakap kotor dan lain-lain. Selanjutnya dilarang berbantah-bantahan, seperti berkelahi, bertengkar apalagi saling memukul dan menyakiti.
Dari tiga larangan di atas, yang selalu nampak jelas adalah “ jidal “, yaitu berkelahi dan bertengkar. Hal ini terjadi terkadang dikarenakan masalah yang sepele, seperti berebut ingin mendapatkan kamar yang dianggap nyaman, berebut masalah tempat duduk di Bis, dan yang paling banyak terjadi adalah berebut untuk mencium Hajar Aswad, bahkan di tempat ini banyak jama’ah yang saling sikut dan saling injak, sehingga ada yang giginya patah, bibirnya pecah dan lain sebagainya.
Saudaraku....................!
Tahukah saudara bekal yang ampuh untuk mengantisipasi hal tersebut.....? Bekal itu adalah “Takwa”. Coba ulang kembali menyimak firman Allah di atas, disana kita temukan kalimat “وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى  “ artinya “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa “. Dari ayat ini kita pahami bahwa Allah ingin memberikan satu tips kepada jama’ah calon haji agar menjadikan takwa sebagai bekal dalam melaksanakan ibadah haji, dan takwa adalah bekal yang terbaik dalam menunaikan haji.
Logikanya adalah, apabila seorang jama’ah mempunyai bekal takwa, tentu segala larangan yang ada dalam pelaksanaan ibadah haji akan mampu ia hindarkan, sebab nilai ketakwaannya yang akan membimbingnya kepada sikap menerima dari ketentuan yang dia hadapi dalam pelaksanaan ibadah haji tersebut.
Apabila ada prilaku orang lain yang dapat menimbulkan emosinya, nilai ketakwaannya jualah yang membuat hatinya untuk bersabar. Kalaupun ada sikap-sikap dan prilaku jama’ah yang ia nilai sudah melampawi batas sehingga dia harus meluruskan sikap dan prilaku orang tersebut, nilai takwanya jualah yang mengarahkannya untuk menasehati orang tersebut dengan bahasa yang santun dan penuh kebijaksanaan tanpa menimbulkan komplin antara satu dengan lainnya.
Apabila setiap jama’ah memiliki bekal takwa ini, maka ibadah haji yang akan dilaksanakan tentu terhindar dari hal-hal yang merusak nilai-nilai haji itu sendiri. Maka status ibadah haji yang        “ mabrur “ pun berpeluang untuk di dapatkan.
Saudaraku....................!
Ketahuilah.........! Bahwa untuk mendapatkan haji yang “ mabrur “  itu sesungguhnya amat berat, karena itu, wahai saudaraku.............! Hindarilah, walau sekecil apa pun yang dapat merusak nilai-nilai ibadah haji yang akan saudara laksanakan.
Wahai saudaraku.............!
Tidak kalah pentingnya yang perlu disadari, setelah pulang pun masih ada hal yang perlu untuk dijaga agar kita tidak riya’ setelah menunaikan ibadah haji.
Ketahuilah..............!
Gelang haji yang tetap melingkar ditangan, apabila tetap anda pakai dengan tujuan agar orang lain tahu bahwa anda adalah seorang yang sudah haji, itu pun bahagian dari sifat riya’ dan pamer yang dapat merusak nilai ibadah haji.
Sorban yang melilit di kepala, apabila anda kenakan dengan tujuan agar orang lain tahu bahwa anda adalah seorang yang sudah haji, itu pun bahagian dari sifat riya’ dan pamer yang dapat merusak nilai ibadah haji .
Manusia barangkali dapat berkilah, Saya mengenakannya tidak ada tujuan apa-apa dan bukan dikarenaka riya’. Al-hamdulillah kalau benar memang itu yang ada dalam hatinya. Tapi ketahuilah bahwa, sekecil apapun gerak hati yang ada di dalam diri kita, sesungguhnya Allah maha mengetahuinya.
Kemudian saudaraku............!
Setelah anda pulang haji nanti, jangan pernah tergores apalagi tersinggung di hati apabila seseorang menulis atau menyebutkan nama saudara tidak menyertakan sebutan atau tulisan haji. Menyikapi itu tidak lain adalah, apabila disebutkan orang bahwa kita adalah seorang yang sudah haji, bersyukurlah atas karunia Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita menunaikan ibadah haji. Namun apabila tidak disebutkan orang haji kita, janganlah ada rasa kecewa, mungkin itu lebih baik bagi kita agar kita terhindar dari sifat riya’.
Ukuran haji itu tidak terletak pada simbol-simbol yang ada, tapi terletak pada sikap untuk lebih menghiasi diri dengan bertaqorrub/mendekatkan diri kepada Allah.
Memang terkadang kondisi dan kebiasaan yang ada di masyarakat yang menjadikan seorang yang sudah melaksanakan haji terikat dengan simbol-simbol yang ada. Untuk itu pandai-pandailah memposisikan diri setelah kita nanti pulang melaksanakan haji.
Penulis sendiri pernah tersentak pada saat setelah pulang menunaikan ibadah haji dan aktif kembali memberikan ceramah di majlis-majlis ta’lim. Di beberapa majlis ta’lim ada jama’ah yang berucap, katanya kepada saya :
“ Pak Ustaz, yang kami bayangkan hari pertama ustaz memberi tausiyah di majlis kami ini setelah pulang menunaikan ibadah haji, ustaz datang dengan pakaian kebesaran haji. ( Maksudnya, mereka membayangkan saya mengenakan pakaian jubah dan sorban melilit di kepala )”.
Saat itu penulis sampaikan kepada mereka, wahai jama’ah sekalian, pakaian seperti yang jama’ah bayangkan itu hanyalah simbol-simbol semata, tidak salah orang memakainya apabila ia mampu menjaga hatinya, adapun saya, saya khawatir tidak mampu menjaga hati saya. Untuk itu saya katakan kepada mereka, tolong doakan saya agar saya bisa menjaga nilai-nilai haji yang sudah saya laksanakan.
Saudaraku...................!
Demikianlah sekelumit uraian sebagai tambahan bekal bagi jama’ah calon haji untuk menuju tanah Haromain. Saya berdo’a, semoga ibadah haji yang akan saudara laksanakan khususnya bagi jama’ah calon haji yang akan menunaikan haji pada tahun 1432 H/2011M ini menjadi haji yang mabrur. امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
Harapanku kepada Saudaraku yang akan menunaikan haji:
“ Masukkanlah namaku dalam setiap do’a yang anda mohonkan kepada Allah dari setiap kebaikan yang anda pinta. Untuk itu terima kasih saya ucapkan.