Jumat, 14 Oktober 2011

Mimbar Jum'at Hari Ini

SYAHADATAIN:
KALIMAT ALLAH PALING AGUNG
Firman Allah dalam surat An-Nahl:36:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

" Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan kita dan yang memberi rezki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita berkelana di atas planet-Nya dalam kebingungan, setelah Allah menciptakan manusia, selanjutnya Allah memberi petunjuk dan rambu-rambu dalam kehidupan manusia, yaitu syari’at islam, juga mengutus rasul untuk menjadi teladan, agar manusia mengetahui bagaimana melaksanakan syariat tersebut. Maka barangsiapa yang mentaati rasul tersebut dia akan masuk surga dan barangsiapa mengingkarinya dia akan masuk neraka.

Firman Allah:
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولاً شَاهِداً عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولاً ﴿١٥﴾ فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذاً وَبِيلاً ﴿١٦﴾

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir`aun. Maka Fir`aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.”. (Al-Muzammil:15-16)

Ketahuilah, bahwa syar’at Islam memberi tuntunan kepada kita agar kita beribadah semata-mata hanya kepada Allah, dengan memurnikan keta’atan kepadanya. Itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh umat manusia dan itu pula yang mendasari penciptaan Allah terhadap manusia.

Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالانسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah (menyembah) kepada-Ku” (Ad-Dzariyat: 56).

Ibadah dalam ayat tersebut artinya tauhid (mengesakan Allah ), dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan keimanan kepadaNya, ikhlas beribadah karena Allah semata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu meyakini adanya tuhan selain Allah dan menyembah kepada selain Allah.

Syahadat “  لااله الا الله” mengandung dua unsur, yaitu: menolak (Nafi) dan menetapkan (Itsbat).  “لااله” adalah menolak segala sesembahan selain Allah. “الا الله” adalah menetapkan bahwa penyembahan itu mutlak hanya kepada Allah. Tidak ada yang boleh dijadikan sekutu di dalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tidak ada yang boleh dijadikan sekutu di dalam kekuasaan-Nya.

Firman Allah dalam surat Al-Bqoroh:165:
............. وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ
" Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”.

.................. وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”.

Dapat dipahami dari ayat ini bahwa syahadat “  لااله الا الله” adalah pemurnian keta’atan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.

Ada tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh manusia dalam ber-syahadat:
 “اشهد ان لااله الاالله و اشهد ان محمدا رسول الله  ” yaitu; mengenal Allah, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad SAW.

MENGENAL ALLAH.

Firman Allah : “الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “  “Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam”. (Surat Al-Faatihah: 1)

Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan manusia adalah salah satu dari semesta alam ini. Selanjutnya jika ditanya: melalui apa anda mengenal Tuhan ? Maka hendaklah dijawab: melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah: Adanya malam, siang, matahari, bulan, tujuh petala langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di antara keduanya. Allah memiliki hak-hak yang harus ditunaikan oleh hamba-hamba-Nya. Dan hak Allah yang terbesar adalah manusia wajib mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Beribadah hanya untuk-Nya. Sebab Allah tidak butuh sekutu. Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah itu, antara lain: Islam yang meliputi Syahadatain, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji, Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas), Khusyu’, Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah. Karena itu barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka dia adalah musyrik dan kafir.

Firman Allah:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

“ Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Al-An'am: 162-163) .

MENGENAL ISLAM.
Islam bukan hanya sekedar slogan dan symbol-simbol belaka. Seperti kalau sudah pakai kopiah sudah islam, kalau sudah namanya Muhammad pasti sudah Islam, Islam bukan hanya termuat dalam tulisan di KTP, Bukan demikian. Tetapi Islam harus diterima, diyakini dan dilaksanakan secara lahir dan batin. Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya, dan menyelamatkan diri dari perbuatan syirik. Dan Islam, dalam pengertian tersebut mempunyai tiga tingkatan yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Agama yang diterima Allah hanyalah Islam. Selain Islam adalah agama sesat dan menyesatkan. Di luar Islam adalah agama yang salah dan batil.

Firman Allah: “إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ “. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam “.(QS Ali-Imron: 19).

“وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ “.
 “ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi ”. (QS Ali-Imron: 85).

Pencipta kehidupan ini telah berfirman secara tegas, bahwa yang berhak diikuti hanyalah petunjuk-Nya, tapi kenyataannya banyak manusia yang berada dalam kesesatan.

Firman Allah:
“شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “.
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Imraan : 18).

“لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ “.
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (At-Taubah : 128).

MENGENAL NABI MUHAMMAD.
Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti: mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarangnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang diajarkannya.

Nabi Muhammad adalah Rasul terakhir yang diutus Allah kepada manusia. Beliau telah menjalankan misi kerasulannya dengan sempurna. Pondasi yang kokoh tentang kehidupan sudah dipancangkannya dengan berlandaskan syari’at Islam. Apabila turun perintah Allah, dialah orang pertama yang melaksanakannya, dan apabila ada larangan Allah dia pula orang pertama yang menjauhinya. Sebab itu, nabi Muhammad adalah teladan dalam kehidupan manusia, karena nilai-nilai kehidupan yang telah beliau lakukan penuh dengan Uswatun hasanah/suri teladan yang baik.

Dalam menyampaikan ajaran agama Allah, nabi Muhammad melaksanakannya melalui dua priode, yang dikenal dengan priode Makkah dan priode Madinah. Pada priode Makkah dakwah beliau lebih terpokus kepada penanaman nilai-nilai keimanan kepada Allah, sementara pada priode Madinah dakwah beliau lebih meluas dan mengarah kepada pembinaan ummat secara total.

Inilah agama yang beliau bawa : Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya dijauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.

Inilah hakekat pengertian Syahadat Tauhid; “اشهد ان لااله الاالله و اشهد ان محمدا رسول الله  ”. Yaitu mengingkari semua jalan-jalan syaitan dan hanya beriman kepada Allah.

Semoga iman kita tetap terpelihara di dalam dada.....................................!

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Sabtu, 08 Oktober 2011

I'tibar Untuk Kehidupan


Kehilangan Yang Membawa Manfa’at
Suatu hari seorang Bapak tua hendak pergi ke kota. Ketika akan menaiki Bus, sebelah sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Ia tidak sempat mengambilnya, sebab pintu tertutup dan Bus langsung berjalan. Lalu…….., Bapak tua tersebut tanpa terlihat sedih diwajahnya, dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah lagi dan melemparkannya melalui jendela Bus ke arah sepatunya yang tertinggal.
Seorang pemuda yang duduk bersebelahan dengannya melihat kejadian itu dan bertanya kepada Bapak tua. “Saya memperhatikan apa yang Bapak lakukan. Mengapa Bapak melemparkan sepatu Bapak yang sebelah lagi?. Bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya”.
Saudaraku……….! Apa yang dapat Anda simpulkan dari cerita di atas………………?.
Ternyata Bapak tua tersebut memahami filosofi dasar dalam hidup,  “Jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya”.
Kita tentu pernah mengalami kehilangan dalam kehidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita. Kalimat di atas tidak hanya dapat diartikan, bahwa kita hanya boleh kehilangan hal-hal yang buruk saja. Kadang, kita juga kehilangan hal yang baik. Ini semua dapat diartikan supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi. Seperti Bapak tua dalam cerita di atas, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu.
Allah sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si-Bapak tua kehilangan sepatunya.
Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya Bapak tersebut nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik. Sebelah sepatu hilang, dan sebelah yang masih ada, tidak akan banyak bernilai bagi si Bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela Bus, tentu sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi orang yang menemukannya.
Berusaha tetap mempertahankan sebelah sepatu, tentu tidak membuat kita menjadi lebih baik. Kita semua harus mampu memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita bisa lebih baik atau bermanfa’at untuk orang lain.
Untuk itu, kita harus banyak belajar tentang makna kehidupan dari orang-orang yang ‘arif dan bijak, agar kelak kitapun bisa menjadi panutan bagi generasi kita di kemudian hari.
Semoga cerita di atas menjadi I’tibar dan bermanfaat untuk kita.

Jumat, 07 Oktober 2011

Mimbar Jum'at Hari ini


Internalisasi Nilai-Nilai Islam
Dalam syari’at Islam, latihan rohani yang diperlukan manusia diperintahkan dalam bentuk ibadah. Semua ibadah dalam Islam, baik dalam bentuk shalat, puasa, zakat, maupun haji, bertujuan untuk membuat rohani manusia agar tetap ingat kepada Allah, bahkan merasa senantiasa dekat pada-Nya. Keadaan merasa senantiasa dekat dengan Allah dapat mempertajam rasa kesucian yang selanjutnya menjadi pengendali bagi hawa nafsunya untuk terhindar dari pelanggaran nilai-nilai moral dan peraturan hukum yang berlaku. Dalam ibadah terjadi kontak kegiatan antara jasmani dan rohani. Ibadah merupakan kontak batin yang tertuju kepada Allah dan dibarengi dengan amal perbuatan yang bersifat lahiriah, yang dilakukan oleh anggota tubuh manusia.
Ibadah baik secara lahiriah dan batiniah seperti itu dapat difahami dari aspek pembawaan dasar dari kehidupan manusia sendiri yang terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Kedua unsur itu menyatu dalam diri manusia. Manusia adalah jasmani yang dirohanikan, dan rohani yang menjasmani, dan manusia seutuhnya adalah manakala kebutuhan jasmani dan rohani dapat disinergikan. Maka, manusia bukan hanya jasmani semata atau rohani semata. Kehidupan manusia dan segala gejalanya tidak sama dengan jasmani binatang, karena jasmaniah manusia adalah jasmani yang dirohanikan dan di dalam jasmani itu terdapat roh yang menjasmani. Oleh karenanya tidak mengherankan jika peristiwa-peristiwa yang dialami manusia secara jasmaniah akan mempengaruhi gerak batin dan rohaninya. Dan sebaliknya situasi rohani seseorang juga akan tercermin dalam sikap dan tingkah laku jasmaniahnya sehari-hari. Karenanya, agar manusia menjadi hamba yang utuh, dalam kehidupannya diperlukan adanya keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan antara jasmani dan rohani, sebab itu manusia perlu  diberi konsumsi jasmaniah dalam bentuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti makan dan minum, dan perlu pula diberi konsumsi rohani dalam bentuk ibadah.
Apabila kebutuhan jasmani dan rohani ini telah terpenuhi maka seseorang dapat menjadi manusia yang utuh. Dan perlu disadari bahwa segala peristiwa rohaniah manusia akan berpengaruh kepada jasmaninya yang menggejala dalam kehidupan lahiriahnya, dan demikian pula sebalik­nya, peristiwa yang dialaminya secara jasmaniah akan berpengaruh pula pada rohaninya yang menggejala dalam kehidupan rohaniahnya.
Ibadah dalam Islam sebenarnya bukan bertujuan supaya Allah disembah seperti penyembahan yang terdapat dalam agama-agama primitif. Kata ibadah yang selalu diterjemahkan dengan menyem­bah, tentu tidak sama dengan penyembahan manusia kepada sesuatu dari selain Allah yang dilatarbelakangi karena adanya rasa takut semata. Tetapi ibadah manusia ( dalam hal ini orang-orang yang beriman ) kepada Allah, tidak hanya semata-mata takut kepada Allah, tetapi juga ingin dikasihi dan disayangi oleh Allah dan melalui resapan dari segenap gerakan dan ucapan yang dilakukan dalam ibadah tesebut diharapkan akan dapat membentuk pribadi-pribadi yang mulia.
Allah adalah Dzat Yang Maha Esa, Maha Kuasa (Wahid, Qodir) di samping Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun (Rohman, Rohim dan Ghofur). Karena itu, Allah yang kita takut kepadaNya, bukan bererti kita harus menjauh daripadaNya, tetapi harus mendekat dan mendekat terus, dan pendekatan tersebut adalah dengan cara senantiasa beribadah kepadanya dengan menunjukkan sikap tunduk dan patuh kepadaNya.
Manusia diciptan Allah terdiri dari jasmani dan rohani, dan merupakan pembawaan dasar pula dalam kehidupan manusia bahwa jasmaninya akan senantiasa kontak dengan batinnya.
Seperti dikemukakan terdahulu bahwa ibadah itu mengandung aspek latihan spiritual untuk mendapatkan kesucian jiwa dan mengandung aspek sebagai latihan moral. Dengan demikian ibadah itu selain berfungsi untuk berbakti kepa­da Allah, juga membawa efek kesucian lahir batin, menjadikan seseorang menjadi baik dan menjauhkannya dari segala bentuk kejahatan. Dengan penghayatan yang demikian diharapkan sitem nilai yang menyangkut keimanan, berpadu dengan sitem norma yang menyangkut syari’at yang di dalamnya termasuk ibadah.
Perlu disadari bahwa nilai-nilai iman yang diha­yati dengan ibadah akan menebalkan iman. Dan norma-norma syari’at yang termasuk di dalamnya ibadah, jika dihayati dengan baik, akan membawa kesucian yang berpengaruh pada moral. Betapa pentingnya aspek spiritual dalam ibadah itu, yang disebut dengan kata khusyu’ atau dzikir, seperti di­isyaratkan dalam ayat Al-Qur’an : قَدْأَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ.الَّذِينَ هُمْ ِفي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ.  , artinya : “Sesung­guhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalat mereka” (QS. Al-Mukminun 1-2).
Shalat yang khusyu’ adalah shalat yang disertai dengan kesadaran batin, patuh dan merendahkan diri di­hadapan Allah Yang Maha Agung. Sedangkan dzikir berarti ingat, sadar, dan tidak lalai. Dengan menjalin hubungan kepada Allah melalui pelaksanaan ibadah yang diperintahkanNya akan tercapai hakikat kehidupan seorang muslim, sebab dengan ibadahnya kepada Allah akan menjadikan dirinya memiliki sifat-sifat terpuji dalam hidupnya, karena ia memiliki hati yang suci, jujur dalam kehidupan, amanah dalam menerima tanggung jawab, tabah dalam menghadapi cobaan, bersyukur dalam menerima sesuatu, tawadhu’ dalam bergaul, zuhud terhadap dunia, dan beragam sikap terpuji lainnya. Sikap mental yang seperti ini akan menjadikan seseorang mulia dihadapan Allah, terhormat dalam kehidupan masyarakatnya. Sebab, kepada Allah dia mengabdi dan kepada manusia dia berbakti.
Semoga kita mampu memadukan antara kebutuhan jasmaniah dan rohaniah dalam kehidupan ini, dengan demikian kita berharap akan mendapat keridhaan dari Allah SWT.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ