Masih Adakah Yang Kita Banggakan?Seorang Ulama’ yang zuhud ditanya seorang murid yang hatinya gelisah melihat perilaku kebanyakan ummat yang tidak lagi mementingkan nilai-nilai kemuliaan.Sang murid: Tuan guru: Dengan kondisi kehidupan ummat yang sikap mentalnya sudah demikian parah, apakah masih ada yang dapat kita banggakan?Ulama’: Ada, yaitu akal yang jernih.Sang murid: Wah, sekarang sudah banyak orang yang akalnya tidak jernih lagi untuk berpikir. Kalau akal yang jernih sudah tidak ada lagi, apa masih ada yang lain guru?Ulama: Ada, yaitu sopan santun yang terjaga.Sang murid: Wah, sekarang orang juga sudah tidak lagi menjaga sopan santun tuan guru! Masih adakah selain yang dua itu tuan guru?Ulama: Ada, yaitu Sahabat sejati.Sang Murid: Waduh... sahabat sejati hari ini juga susah didapat, karena orang tidak lagi membela yang benar tetapi membela yang bayar. Masih adakah selain yang tiga itu wahai tuan guru?Ulama’: Ada, yaitu hati yang peka.Sang Murid: Lagi-lagi yang itu juga jarang didapat guru, sekarang kebanyakan orang hatinya gelap, tidak peka, nuraninya mati, masih adakah yang dapat kita banggakan selain yang empat itu tuan guru?.Ulama: Ada, yaitu banyak diam.Sang Murid: Yah, yah, yah, diam itu emas gumam sang murid di dalam hati, sejenak kemudian diapun berkata lagi. Tapi tuan guru, sekarang ini, semuanya mau berbicara meski asal bicara, dan tidak ada orang yang mau diam untuk merenung. Kalau lima hal itu juga tidak punya, masih adakah yang dapat kita banggakan wahai tuan guru?Ulama: Ada, dan ini adalah yang terakhir, yaitu “Hadirnya Kematian”. “Subhanallaaah” keluar ucapan dari mulut sang murid, setelah itu dia terdiam, yang terdengar hanyalah desah napasnya sambil mengangguk-anggukkan kepala sebagai pertanda ia memahami apa yang dikemukan oleh Ulama tadi.Semoga dialog di atas mampu menjadi I’tibar untuk kita jadikan renungan dalam usaha memperbaiki diri menuju nilai-nilai kebaikan.
Sabtu, 24 Maret 2012
Dialog Seorang Murid Dengan Guru
Jumat, 23 Maret 2012
Tausiyah Untuk Kita Hari Ini
GAYA HIDUP ISLAMI DAN JAHILI
Dalam hidup ini umumnya manusia mencari dua hal, pertama kebaikan dan yang ke dua kebahagian. Namun masing-masing manusia mempunyai pandangan yang berbeda dalam memandang hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.Dalam pandangan Islam gaya hidup tersebut dapat dikelompokkan kepada dua golongan, yaitu:(1) Gaya hidup Islami.(2) Gaya hidup jahili.Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu tauhid. Inilah gaya hidup orang yang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan rapuh, yaitu syirik. Inilah gaya hidup orang-orang kafir.Dari dua gaya hidup dimaksud maka setiap muslim wajib memilih gaya hidup Islami dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَArtinya: Katakanlah,“Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib bagi setiap muslim, dan gaya hidup jahili adalah haram untuknya. Hanya saja dalam kenyataan justru membuat kita sangat prihatin, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang mencerminkan hidup sebagian umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Beliau bersabda, artinya:“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR.Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mereka telah terisi oleh kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain.Kiranya tidak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tidak lagi Islami, malah persis seperti orang kafir. Inilah bencana kepribadian yang paling besar.Kita harus menyadari bahwa mengikuti gaya hidup orang lain yang tidak berlandaskan syari’at islam adalah merupakan hal yang tidak baik dan tercela dalam pandangan islam. Seperti cara berpakaian yang tidak menutup aurat, berperilaku yang tidak baik, mengikuti adat istiadat yang tidak sesuai dengan islam dan lain sebagainya. Ada ungkapan “ Barang siapa yang meniru-niru perilaku suatu kaum, berarti samalah mereka seperti kaum itu”.Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh (meniru-niru orang lain) yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode busana jahili. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at. Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita pada umumnya, yang di Negara ini mayoritas beragama Islam tapi masyarakatnya lebih banyak yang belum menutup aurat ketimbang yang menutup aurat. Disisi lain ada yang sudah merasa menutup aurat dalam berpakaian tapi masih belum memenuhi standar yang sesuai dengan perintah agama, dimana cara berpakaiannya masih menonjolkan bentuk-bentuk tubuh yang kadang menggoda.Saudaraku…………! Marilah kita takut pada ancaman Allah di akhirat kelak dalam masalah ini. Tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di Neraka. Ingatlah, Rasulullah SAW pernah bersabda;Artinya: “Dua golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataan-nya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, shahih).Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporak-porandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab banyak aspek gaya kehidupan ummat ini yang bertasyabbuh atau meniru-niru gaya kehidupan yang bukan islami. Karena itu mari kita renungkan dan amalkan ayat yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَArtinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6).Semoga kita senantiasa diberi Allah hidayah untuk tetap memiliki gaya hidup yang islami dan terhindar dari gaya hidup jahili.امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
Kamis, 22 Maret 2012
Pengorbanan Seorang Ibu
SAYANGI IBUMU( Kisah Seorang Ibu Yang Bermata Satu )
Di sebuah desa ada seorang anak yang masih sekolah di bangku SMP dan hanya memiliki ibu. Tetapi, anak itu sangat membenci ibunya, karena ibunya hanya memiliki satu mata. Sampai-sampai anak itu tidak menganggap kalau ibunya masih ada.Saat sang anak telah tammat sekolah, dia pergi merantau ke Kota, di Kota dia mendapatkan pekerjaan pada sebuah Perusahaan yang terkenal, gaji yang dia dapatkan juga cukup besar. Karena dianggap oleh pemilik perusahaan bahwa anak ini memiliki keahlian dalam mengendalikan perusahaan, Pemilik Perusahaan-pun mempercayakan kepadanya untuk menjadi pimpinan di Perusahaan tersebut, bahkan dia menikahkan putrinya kepada anak tersebut.Sejak pergi merantau sang anak tidak pernah pulang ke kampung untuk menjenguk ibunya, karena memang dia tidak suka kepada ibunya yang cacat (hanya memiliki satu mata ). Sudah limabelas tahun berlalu sejak kepergiannya meninggalkan kampung halamannya. Kerinduan ibunya tidak tertahankan lagi, sang ibu-pun memutuskan untuk mencari anaknya ke Kota. Setelah bertanya kesana kemari, dia-pun mendapatkan alamat anaknya.Pada saat sang ibu datang kerumah anaknya dia sangat terkejut, sebab dia lihat rumah anaknya cukup besar dan mewah, lalu dia-pun memberi salam. Sejenak kemudian pintu rumah terbuka, rupanya cucunya yang membuka pintu, lalu cucunya berkata; “ Papa…… Papa…… Ada orang gila datang ke rumah kita”.Anak ibu yang sudah menjadi kaya raya ini menemui ibu yang dikatakan anaknya orang gila tadi, lalu berkata “Maaf, Ibu ini siapa ya?” Sang ibu menjawab “Nak, ini ibu nak, apa kamu tidak mengingat Ibu?”. Sang istri berkata “ Sayang, kamu masih punya ibu kenapa tidak bilang-bilang?”. Lalu anak ibu itu berkata “Tidak, ibuku sudah lama meninggal, lagipula ibuku tidak cacat seperti dia!”. Lalu sang anak mengusir ibunya sendiri.Beberapa hari kemudian sang anak ingin menemui ibunya untuk sekedar bertemu. Ia bertanya kepada penduduk tentang dimana keberadaan ibunya sembari menyebutkan ciri-ciri tentang ibunya. Lalu penduduk menjawab “Ibu kamu itu sudah meninggal empat hari yang lalu. Dengan santai sang anak menjawab “Oh ya? baguslah sudah tidak ada yang menggangguku lagi”, lalu penduduk mengatakan: “ Sebelum dia meninggal dunia, ibumu meninggalkan surat” ini suratnya kata mereka sambil menyerahkan surat tersebut. Lalu sang anak membaca surat dari ibunya, sambil membaca surat tersebut sang anak menangis tersedu-sedu.Rupanya Surat itu berisi: “Anakku, ibu tahu kalau kamu membenci ibu karena ibu seorang yang cacat dan hanya memiliki satu mata. Tapi ketahuilah anakku, sesungguhnya waktu kamu lahir matamu hanya satu. Karena ayahmu kecewa dan malu memiliki anak yang cacat, Ayah-mu meninggal ibu, jadilah ibu mengurusmu seorang diri sampai kamu dewasa. Lalu karena ibu kasihan kepadamu, akhirnya ibu memberikan satu mata ibu untuk-mu nak. Ibu tidak bilang hal ini kepadamu karena ibu takut kamu bersedih, tetapi kamu malah membenci ibu. Maafkan ibu nak karena tidak berguna untuk-mu di dunia ini”. Sekarang ibu merasa, waktu ibu di dunia ini sudah tinggal sedikit, ibu akan menghadap kepada sang Khaliq, di sana ibu berharap mendapat kasih sayangnya karena ibu tahu Allah maha luas kasih sayangnya, sebab di dunia ini tidak ada manusia yang menyayangi ibu termasuk anak yang sudah ibu asuh dengan kasih sayang.Saudaraku……………! Hargai ibu kita, jangan pernah menyia-nyiakan dan mengecewakan mereka. Jangan sia-siakan kesempatan untuk membahagiakan mereka selagi mereka masih hidup, layani mereka dengan kasih sayang selagi mereka masih bersama kita. Kalau sudah meninggal dunia berdo’a-lah kepada Allah agar mereka mendapat ampunan Allah.Semoga kisah di atas menjadi renungan dan I’tibar bagi kita semua. Dan semoga kita menjadi anak yang “ Birrul Walidain “.امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ
Langganan:
Postingan (Atom)


