Jumat, 04 Maret 2011

Bersyukur Akan Nikmat Allah

Sudahkah Kita Menjadi Manusia yang Bersyukur?

Syukur merupakan perbuatan yang amat utama dan mulia, oleh karena itu Allah SWT. memerintahkan kita semua untuk bersyukur kepada-Nya, mengakui segala keutamaan yang telah Dia berikan, sebagaimana dalam firman Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
Artinya : " Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.” (Al-Baqarah :152)

Allah SWT juga memberitahukan, bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang mau bersyukur, sebagaimana yang difirmankan:

مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِراً عَلِيماً
Artinya : “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman, dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisaa :147)

Orang yang mau bersyukur merupakan kelompok orang yang khusus di hadapan Allah, Allah mencintai kesyukuran dan para pelakunya serta membenci kekufuran dan pelakunya. Dia telah berfirman:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya : “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu. ” (QS Az Zumar:7)

Allah juga menegaskan, bahwa syukur merupakan sebab dari kelangsungan sebuah nikmat, sehingga tidak lenyap dan bahkan malah semakin bertambah, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya : “Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema'lumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim : 7)

Dan masih banyak lagi keutamaan dan manfaat dari syukur kepada Allah, maka tak heran jika Allah menyatakan, bahwa amat sedikit dari hamba-hamba-Nya yang bersyu-kur (dengan sebenarnya).

Hakikat Syukur

Kesyukuran yang hakiki di bangun di atas lima pondasi utama. Barang siapa merealisasikannya, maka dia adalah seorang yang bersyukur dengan benar.  Lima asas tersebut adalah:

  1. Orang yang bersyukur senantiasa merendahkan diri dihadapan yang dia syukuri, yaitu Allah SWT. 
  2. Kecintaannya senantiasa tercurah kepada Sang Pemberi nikmat (Allah).
  3. Mengakui seluruh kenikmatan yang ada, datangnya dari Allah.
  4. Senantiasa memuji-Nya, atas nikmat tersebut.
  5. Tidak menggunakan nikmat yang dia dapatkan untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah.
Maka dengan demikian syukur adalah merupakan bentuk pengakuan atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan serta menyandarkan nikmat tersebut kepada-Nya, memuji Nya dan menyebut-nyebut nikmat itu, kemudian hati senantiasa mencintai Nya, anggota badan taat kepada-Nya serta lisan tak henti-henti menyebut Nya.

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ketika pagi dan sore mengucapkan pujian (dzikir) sebagai berikut, yang artinya:

"Ya Allah tak satu pun kenikmatan yang menyertaiku di pagi /sore ini atau yang tercurah kepada salah satu dari makhluk Mu, maka itu adalah semata dari Mu, tiada sekutu bagi Mu, untuk Mu lah segala puji dan untuk Mu pula segenap syukur."

Macam-Macam Syukur

Imam Ibnu Rajab berkata, "Syukur itu dengan hati, lisan dan anggota badan”.

  1. Syukur dengan hati adalah mengakui nikmat tersebut dari Sang Pemberi nikmat, berasal dari-Nya dan atas keutamaan-Nya. 
  2. Syukur dengan lisan yaitu selalu memuji yang memberi nikmat, menyebut nikmat itu, mengulang-ulangnya serta menampakkan nikmat tersebut, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: Artinya : “Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutNya (dengan bersyukur)”.(QS. 93:11)
  3. Syukur dengan anggota badan yaitu tidak menggunakan nikmat tersebut, kecuali dalam rangka ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, berhati hati dari menggunakan nikmat agar tidak dijadikan untuk berbuat maksiat kepada-Nya.

Kamis, 03 Maret 2011

Nabi Muhammad Sebagai Teladan Hidup





( Irham Khairuddarain Rangkuti Saat Khatam Al-Qur'an )




DI ANTARA AKHLAK
RASULULLAH SAW
Firman Allah dalam Surat Al-Qolam:4.
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya : “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung  “.
Firman Allah dalam Surat Al-Ahzab:21.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “.

Akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah Al-Qur’an, membenci apa yang dibenci Al-Qur’an dan  merasa senang dengan apa yang disenanginya. Tidak dendam dan marah kepada seorang kecuali jika melakukan hal-hal yang diharamkan Allah sehingga kemarahannya karena Allah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam merupakan orang yang paling jujur ucapannya, paling memenuhi tanggung-jawabnya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, lebih pemalu dari perawan dalam pingitan, rendah hati dan selalu berpikir, tidak keji dan pengutuk, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi membalasnya dengan memberi ma’af dan jabat tangan, tidak pernah menolak siapa yang meminta sesuatu kebutuhan kecuali dipenuhi kebutuhannya atau dengan kata-kata yang halus dan tidak dengan hati kasar dan sikap keras, tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali jika bertentangan dengan kebenaran sehingga memotong pembicaraannya dengan larangan atau berdiri, tidak menganggap bohong kepada seseorang, tidak dengki kepadanya dan  tidak memintanya untuk bersumpah.
Rasulullah menghormati tetangganya dan memuliakan tamunya, waktunya tidak pernah berlalu tanpa beramal untuk Allah atau mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan, cinta kepada optimis dan benci kepada pesimis, jika ada dua pilihan beliau memilih yang teringan di antara keduanya selama tidak merupakan dosa, senang menolong orang yang membutuhkan dan membantu orang  yang teraniaya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga senang kepada sahabat-sahabatnya, bermusyarwarah dengan mereka dan memeriksa  keadaan mereka, yang sakit dikunjunginya, yang tidak hadir diundangnya, yang meninggal dunia dido’akannya seerta menerima alasan orang yang uzur kepadanya. Baginya, orang yang kuat dan orang yang lemah mempunyai hak yang sama. Beliau ketika berbicara, jika orang menghitung pembicaraanya tentu akan dapat menghitungnya karena kefasihan dan diuacapkan dengan teratur. disamping itu, beliau juga bergurau, hanya gurauannya tidak berlebihan, dan tidak mengucapkan sesuatu kecuali kebenaran.

Rabu, 02 Maret 2011

Tausiyah Untuk Kita Hari ini

Bumi dilihat dari Angkasa
Iman Dan Islam:
Adalah Nikmat Yang Paling Sempurna
Nikmat yang sangat besar yang harus kita syukuri adalah iman dan Islam serta diciptakannya alam semesta untuk manusia, kemudian dipilihnya Planet bumi yang nyaman untuk kita tempati, dan dibuatNya di alam semesta ini, suatu sunnah/ketetapan yang tidak pernah berubah, sebagaimana firmanNya:
سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً
“… Dan kamu sekali-kali tidak akan menjumpai perubahan pada sunnatulllah.” (QS. Al-Ahzab: 62) dan juga firmanNya:
وَلاَ تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلاً
“… Dan tidak akan kamu dapati suatu perubahan pada ketetapan kami itu.” (QS. Al-Isra’: 77).
Jika kita renungkan, planet bumi yang mengelilingi surya berenang dalam lintasan ellips, merengggang 147 juta km dan maksimal 152 juta km dengan kecepatan 29,79 km/detik, melahap tahun demi tahun dengan kecepatan 11,18 km/detik memulas siang dan malam . Andaikan tidak ada ketetapan/keteraturan dalam sunnatullah ini atau bumi dan planet lainnya tidak mau taat pada aturanNya, seperti kebanyakan sifat manusia, niscaya imbang centripental dan centrifugalnya (gaya/tarikan kedalam dan keluar) akan tersita fatal, lantas bumi akan anjlok ke perihelion dan ephelion lain, yang bisa menyulap bumi akan menjadi gersang ataupun beku sehingga menjadi pemukiman yang tidak membetahkan manusia. Sungguh segala puji bagi Allah yang membuat sunnahNya ini bersifat tetap.
Kita juga melihat keteraturan alam semesta ini pada dunia hewan dan tumbuh-tumbuhan. Mereka senantiasa tunduk kepada aturan-aturan Allah, mereka senantiasa konsisten dengan aturan-aturan yang diciptakan untuk mereka. Ketika Allah telah membuat hidup mereka berpasang-pasangan, hampir tidak pernah kita jumpai, bahkan dalam sebuah kandang sekalipun tidak ada hewan jantan kawin dengan hewan jantan atau sebaliknya. Mereka semua tunduk dan bertasbih kepada Allah sebagaimana firmanNya:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الارْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi. Raja Yang Maha Suci,Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Jumu’ah: 1).
Akan tetapi, manusia yang diberi kelebihan nikmat yang paling utama berupa akal, ternyata tidak merasa cukup dengan aturan-aturan alam ini saja. Manusia dengan akal dan potensi hidup lainnya berupa kebutuhan jasmani, naluri dan hawa nafsunya ternyata bisa dan mampu melakukan penyimpangan dari aturan-aturan Allah, sehingga hal yang tidak kita temui dalam kandang ayam sekalipun justru saat ini kita temui pada kehidupan manusia, kita dapati pria kawin dengan pria, wanita kawin dengan wanita, bahkan manusia kawin dengan alat yang dibuatnya sendiri. Dari akibat ulah manusia semacam inilah kita bisa menyaksikan kerusakan yang dahsyat baik itu berupa penyakit kelamin, kerusakan moral dan kerusakan lain yang terjadi di darat maupun di laut.
Merupakan kenikmatan yang agung, sempurna dan satu-satunya yang akan menjamin tercapainya kebahagiaan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat, yang jika kita bandingkan dengan nikmat alam semesta ini, niscaya alam semesta dan dunia ini tidak berarti apa-apa, itu adalah nikmat Iman dan Islam, sebagaimana firmanNya:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah:3).
Islam dengan aqidah dan syari’ahnya,merupakan aturan sekaligus jalan hidup yang dibuat Allah, pencipta manusia. Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Adil dan Bijaksana yang tidak saja mengatur manusia (dalam hal aqidah dan ibadah) tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya dalam hal mu’amalah dan ‘uqubat (hukuman). Oleh sebab itu Islam merupakan karunia dan nikmat Allah, hanya dengannyalah dapat tercapai keserasian dan kebahagiaan hidup manusia. Tidak ada aturan lain yang bisa memanusiakan manusia semanusiawi mungkin selain aturan dari Pencipta manusia, karena siapa yang lebih tahu hakikat manusia selain Pencipta manusia?. Dialah Allah SWT.
Sungguh agung dan besar nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita berupa Islam dan sesungguhnya kita wajib mensyukurinya, yaitu dengan menggunakan syariat Islam untuk mengatur aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“ Wahai orang-orang yang beriman,masuklah kedalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian maengikuti jejak langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.” (QS. Al-Baqarah: 208).
Dan jika kita menginginkan nikmatNya dengan melecehkan aturan-aturanNya baik sebagian apalagi keseluruhan, sungguh kehinaan hidup di dunia dan azab Allah di akhirat yang akan kita terima, sebagaimana firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dan dalam ayat lain Allah menegaskan:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“ Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha: 124).
Dengan nikmat Allah yang berupa akal dan indra, marilah kita bersama-sama merenungkan kemudian kita bersyukur, betapa matahari yang besarnya 1.303.600 x bumi (satu juta tiga ratus tiga ribu enam ratus kali besar dari bumi) hanyalah ibarat setitik debu dalam galaksi (gugus bintang) Bima Sakti, maka bumi ibarat super debu yang hanya dapat dilihat di bawah mikroskop dan manusia adalah super-super debu yang tertata dari sari tanah, yang diciptakan dari nutfah/air mani yang terpancar. Sungguh betapa besar jagat raya ini, dan batapa Maha Besar Pencipta jagat raya ini dan sungguh betapa kecilnya manusia bila dibandingkan dengan jagat raya ini, betapa sempurnanya Allah yang telah menurunkan ayat-ayatNya, baik yang tersirat dalam alam semesta maupun yang tersurat dalam kitabNya, betapa tinggi dan luasnya ilmu Allah dan betapa kecil dan kerdil manusia, sehingga nikmat yang berupa akal ini justeru digunakan untuk mengkufuri nikmat yang lebih besar yaitu Islam, dengan akalnya, kadang-kadang manusia merasa lebih tahu dari Allah, merasa sombong dan ujub. Sehingga merasa mampu untuk membuat aturan untuk mengatur dirinya sendiri, mengatur keluarganya dan orang sekelilingnya seraya berpaling dari ayat-ayat Allah, berpaling dari Islam, berpaling dari syari’at Allah. Padahal jagat raya yang besar dan luas saja tunduk pada aturanNya, mengapa kadang-kadang menusia berpaling?, bukankah Allah telah berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَن يَهْتَدُوا إِذاً أَبَداً
“ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi:57).
Sungguh sangat rugi orang-orang yang berpaling dari syari’atNya, keseluruhan ataupun sebagian dan sungguh beruntung dan berbahagialah orang–orang yang senantiasa menjalani kehidupannya seraya menyesuaikan dengan perintah dan laranganNya, bahkan Allah telah menjamin suatu bangsa yang penduduknya beriman dan bertaqwa yakni menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan firmanNya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“ Jikalau sekiranya penduduk negeri negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).
Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap istiqomah dalam beriman kepada Allah dan istiqomah menjalankan Islam dalam kehidupan sehari-hari, dengan demikian kita berharap, Allah SWT akan memberikan keridhaannya kepada kita, dan insya Allah kita akan memperoleh kebahagian hidup di dunia ini dan di akhirat kelak.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Selasa, 01 Maret 2011

Ibadah Adalah Tali Penghubung Antara Manusia Dengan Allah

Mengadakan Hubungan Dengan Allah

Seorang muslim dituntut untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala yang dilarangNya. Semakin dekat hubungan manusia kepada Allah akan semakin mulia kedudukannya di sisi Allah, hal ini dikarenakan seseorang yang selalu dekat dengan Allah niscaya dia tidak berani melakukan hal-hal yang menyimpang dari ketentuan Allah dan Rasulnya.

Seluruh peribadatan dalam Islam pada hakikatnya mendidik manusia untuk menjadi orang yang merasa dekat dengan Allah. Shalat, Puasa, Zakat, Haji dan ibadah lainnya merupakan bentuk-bentuk peribadatan yang mendidik manusia untuk selalu merasa diawasi oleh Allah, ini tercermin dari perilaku seorang muslim yang melaksanakan shalat misalnya, bahwa dia tidak berani mengurangi jumlah rakaat dalam shalat meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Begitu juga orang yang melaksanakan puasa, dia tidak akan berani makan dan minum sebelum matahari terbenam di ufuk barat kendatipun dia dalam kesendirian.

Apabila manusia tidak menjalin hubungan kapada Allah dapat mengakibatkan dia merasa tidak memiliki ikatan apa-apa dengan Allah yang akhirnya dapat membuat dirinya merasa bebas dan tidak lagi mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am:153:

وَ اَنَّ هـذ َا صِـرَاطِيْ مُـسْـتـَقِـيْـمـًا فـَـاتـَّبـِـعُـوْهُ وَلاَ تـَتـَّبـِـعُـوا الـسُّـبُـلَ فـَـتـَفـَرَّقَ بـِكُـمْ عَـنْ سَـبـِـيْـلِـه ذلِـكُـمْ وَصّـكُـمْ بـِـه لـَـعَـلـَّـكُـمْ تـَتـَّـقـُـوْنَ .                                                                                                                          
Artinya : Dan ini adalah ( Islam ) jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)  karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

Ada beberapa jalinan hubungan antara manusia dengan Allah yang harus dibina dalam kehidupan ini. Dalam Al-Qur’an paling tidak ada tiga jalinan yang harus kita wujudkan dengan sebaik-baiknya.

Pertama : Hubungan cinta ( Al-mahabbah ).
Yaitu, suatu jalinan yang menunjukkan bahwa manusia lebih mencintai Allah dan Rasulnya dari segala-galanya bahkan Allah murka terhadap orang-orang yang lebih mencintai sesuatu sehingga  mengalahkan cintanya kepada Allah.

Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 24.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ        

Artinya : Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Cinta seorang muslim kepada Allah yang melebihi rasa cintanya kepada yang lain merupakan suatu kemutlakan, karena hal ini sekaligus bukti dari keimanan yang benar yang dimiliki seorang muslim.

Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat : 165.
 
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
                                                                                       

Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim  itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Kedua : Hubungan perdagangan ( Tijarah ).
Dalam dunia dagang biasanya pembeli dan penjual menghendaki sama-sama mendapat keuntungan. Dalam hal ini yang bertindak sebagai pembeli adalah Allah dan penjual adalah manusia.

Allah berfirman dalam surat At-Taubah: 111.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرَاةِ وَاْلإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ                  

Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Selanjutnya Allah berfirman dalam surat Ash-Shof  ayat :10-11.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ . تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون                                                                                                     َ

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasulnya, dan hendaklah kamu berjihad di jalan Allah dengan harta dan dirimu, yang demikian itu adalah merupakan hal yang baik bagi kamu jika kamu mengetahui ”.

Ketiga : Hubungan amal ibadah.
Manusia mempunyai kewajiban melakukan amal ibadah kepada Allah, orang yang melakukan amal ibadah kepada Allah, kelak Allah akan memberikan balasan yang berlipat ganda dan akan memasukkan hamba-hambanya yang bertaqwa ke dalam syurga.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 7-8.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ                                                                           

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.