Minggu, 27 Maret 2011

Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur'an

SENI BACA AL-QUR’AN

( Refleksi: Dalam Kaitan Gebyar MTQ Di S. Utara Tahun 2011 )
Drs. Khairul Akmal Rangkuti
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’: 9:
إِنَّ هَـذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً
“Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar“.
Membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah tentu dambaan setiap muslim. Namun, keindahan itu tentu tidak akan sempurna (atau bahkan berdosa) apabila membaca Al-Qur’an tidak sesuai dengan kaidah bacaannya (ilmu tajwid). Lagu (Nagham) sebagai salah satu komponen penghias Tilawah Al-Quran pun demikian, harus tetap menjaga bacaan sesuai dengan ilmu membaca Al-Qur’an ( dalam hal ini adalah ilmu Tajwid ). Dalam ilmu Tajwid sudah diatur bagaimana menyebut masing-masing huruf yang ada, hukum panjang dan pendek, bacaan yang harus berdengung, hukum izhar, idgham, iqlab, ikhfa’,  dan hukum-hukum lainnya. Dalam membaca Al-Qur’an dapat dilakukan dengan jahr (suara keras), sirr (lirih), atau di baca dalam hati.
Dalam Al-Qur’an disebutkan, membacanya haruslah dengan tartil, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Muzzammil ayat 4: ……. وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً (Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan  ).
Pengertian membaca dengan perlahan-lahan dapat dipahami dengan cara mujawwad dan tartil. Dalam hal ini setidak-tidaknya mencakup enam unsur, yakni : bagus bacaannya, bagus tajwidnya, bagus suaranya, bagus lagu dan variasinya, bagus pengaturan nafasnya, serta bagus mimik wajahnya (sesuai dengan makna ayat yang dibaca).
Lalu, makna tartil itu sendiri apa?. Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah menjelaskan sebagai berikut : Attartiilu huwa tajwiidul huruf wa ma’rifatul wuquf, “ Tartil adalah membaguskan huruf-huruf dan mengerti tentang tempat berhentinya bacaan”. Ada poin penting yang perlu digaris bawahi dari pengertian yang disampaikan oleh Sayyidina ‘Ali RA tersebut, “membaguskan huruf”. Keindahan bacaan huruf Al-Qur’an hendaknya dijaga, bila tidak, kemungkinan besar akan merusak makna ayat yang dibaca. Tersirat juga dalam “membaguskan huruf” ini hendaknya kita menjaga agar tidak merusak makna Al-Qur’an, karena apa yang kita baca didengar oleh Allah dan orang-orang mukmin di sekitar kita. Dari sini akhirnya muncul unsur suara. Tidak heran kalau Rasulullah bersabda, artinya :
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu karena suara yang merdu menambah keindahan Al-Qur’an” (HR Ad Darimi).
Dari Al Barra’ bin ‘Azib RA, ia berkata : telah bersabda Rasulullah SAW :Artinya :”Hiasilah Al Quran dengan suaramu” (HR Abu Dawud, An Nasa’i dan lain-lainnya).
Disini Jelaslah bahwa Al-Qur’an dan Hadist sangat menganjurkan agar Al-Qur’an dibaca dengan bacaan yang bagus, bahkan dengan suara yang merdu karena dengan begitu akan menambah nilai keindahan Al-Qur’an. Suara yang bagus sudah tentu tidak lepas dengan irama yang indah. Nabi Muhammad Bersabda, Artinya : “Bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an. “Bacalah Al Quran dengan luhun (lagu) dan bentuk suara Arab” (HR Imam Malik dala kitabnya Al Muwatttha’ dan Imam Nasa’i dalam sunannya, dari Abu Hudzaifah).
Hal ini diperkuat dengan firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 204 :
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.
Dapat kita rasakan, betapa kita tidak akan merasa nyaman apabila Al-Qur’an yang dibaca oleh seseorang tidak memenuhi ketentuan bacaan yang benar, lebih-lebih bagi pendengar yang sudah mengetahui hukum bacaan Al-Qur’an.
Orang yang beriman sangat gemar mendengarkan bacaan Al Quran, terpanggil jiwanya untuk memahaminya, dan mengkaji isi Al-Qur’an. Hatinya luluh akan keindahan ayat-ayat Al-Qur’an. Hati yang kasar akan menjadi halus, seperti halnya Umar Ibnu Khattab RA saat beliau mendengarkan bacaan Al-Qur’ an yang dikumandangkan oleh adik kandungnya Fatimah.
Allah SWT dalam firmannya menggambarkan tentang sikap orang yang beriman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ  أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni`mat) yang mulia.” ( Q.S. Al-Anfal: 2-4 ).
Dalam riwayat, banyak sekali diceritakan betapa besar pengaruh bacaan Al-Qur‘an pada masa Rasulullah terhadap hati orang-orang kafir. Tidak jarang hati orang-orang kafir yang pada awalnya keras dan marah kepada Nabi Muhammad SAW. akhrnya berbalik menjadi lunak dan bersedia mengikuti ajaran Al-Qur’an.
Imam Al-Karmany mengatakan bahwa membaguskan suara dalam membaca Al-Qur’an sunnah hukumnya, sepanjang tidak menyalahi kaidah-kaidah Tajwid. Selanjutnya, Imam ibnu Jazari juga menegaskan bahwa bacaan Al-Qur’an yang dapat memukau pendengarnya dan dapat melunakkan hati adalah bacaan Al-Qur’an yang baik, bertajwid, dan berirama merdu. Tetapi, meski gaya lagunya merdu namun tidak memperhatikan Ahkamul huruf, Makharijul huruf, dan Shifatul hurufnya hokum-hukum lainnya, maka hukumnya haram.
Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Imam Baihaqi dinyatakan :
“Bacalah Al Quran dengan lahan Arab (cara membaca yang baik dari pada orang Arab) dan cara-cara mereka dalam menyuarakannya. Jauhilah gaya lagu golongan fasiq dan hati-hatilah dari gaya lagu ahli kitab (Yahudi dan Nashrani). Sesungguhnya nanti akan datang beberapa kaum yang mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an hanya karena lagu seperti yang telah dilakukan para rahib (pendeta Yahudi dan Nasrani), seolah-olah mereka bukan membaca Al Quran, apa yang mereka baca tidak membekas pada diri mereka, pengagum-pengagum hanya diselimuti fitnah belaka”.
Penutup Dan Himbauan.
Gebyar MTQ yang dilaksanakan setiap tahunnya ( khususnya di Sumatera Utara ), diharapkan mampu menanamkan semangat kepada ummat islam untuk lebih mencintai Al-Qur’an dan sekaligus berupaya untuk mendalami dan mempelajarinya, baik belajar untuk memperbaiki bacaan maupun belajar untuk mengetahui isi kandungannya.
MTQ yang sudah dilembagakan menjadi tugas Nasional di Republik Indonesia ini, diharapkan tidak semata-mata menjadi tugas rutin belaka, tetapi hendaknya mampu memberikan motivasi bagi segenap masyarakat untuk berupaya menimba ilmu pengetahuan yang ada di dalam Al-Qur’an. Untuk itu, sasarannya tidak hanya tertuju kepada generasi muda islam. Tetapi, juga kepada orang-orang tua, termasuk pejabat setempat sesuai dengan tingkatan dilaksanakannya MTQ tersebut.
Ada tanda tanya besar dibenak penuulis: Apakah pimpinan di suatu Daerah dengan segenap jajarannya yang diwilayahnya dilaksanakan MTQ  sudah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an ? atau kalau sudah bisa membaca Al-Qur’an, sudah benarkah bacaan mereka ?. Jangan sampai para pejabat seperti papatah yang mengatakan tentang Falsapah Lilin: Dia mampu menerangi sekitarnya, namun dirinya sendiri mengalami kegelapan. Ironi dan sangat menyedihkan.
Untuk itu pelaksanaan MTQ hendaknya tidak hanya sekedar rutinitas ritual belaka, tetapi jadikan MTQ sebagai momentum untuk lebih giat mendalami dan mempelajari Al-Qur’an.
Himbauan……………..!
Mari terus belajar dan mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an agar Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk yang menyinari kehidupan kita.
Ingatlah…………..! Orang bijak mengatakan : Seorang muslim yang tidak pandai membaca Al-Qur’an tidak ubahnya seperti orang yang punya perahu tapi patah dayungnya.
( Bila anda berkenan dengat tulisan ini, silakan sampaikan pada teman-teman yang lain, semoga bermanfaat ).

Sabtu, 26 Maret 2011

Waktu Tidak Akan Pernah Berhenti

Jangan Sia-Siakan Waktu

Firman Allah dalam surat Al-Hasyr : 18.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
 Perjalanan kehidupan manusia pasti berkaitan dan terikat dengan waktu yang ia lalui. Waktu itu akan terus berjalan mengiringinya tanpa ada satu makhluk yang dapat menghentikannya. Ia tidak mengenal keadaan makhkuk yang terikat padanya. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi pada dunia dengan perjalannya yang tanpa henti, ia akan terus melaju sesuai dengan ketentuan sang Khalik kepadanya. Waktu itu selalu mempersilahkan manusia untuk berbuat apa saja, waktu tidak mau peduli, apakah manusia mengisinya dengan hal-hal yang positif atau dengan hal-hal yang negatif.
Kejadian demi kejadian selalu timbul dalam perjalanan waktu, ada makhluk yang memperoleh kebahagian dan ada pula yang melarat dan sengsara. Ada yang terjebak dalam kemaksiatan dan ada pula yang selamat dalam mengarunginya. Demikianlah waktu akan terus berjalan sebagaimana yang telah ditetapkan sang Pencipta. Hari berganti kepada minggu, minggu berganti kepada bulan, dan bulan-pun berganti kepada tahun.
Hendaknya kita selalu merenungi kembali apa yang telah kita lalui, karena demikianlah idealnya sebagai manusia ( khususnya ummat islam ), yang memiliki pikiran dan nurani. Karena realita kehidupan manusia yang memiliki kompleksitas kebutuhan dan kemauan yang baik sadar ataupun tidak sadar dapat menghanyutkan manusia itu sendiri. Maka, perkara-perkara yang baik harus dipertahankan sekaligus dijadikan motivasi agar dapat terus lebih baik, sehingga fitrah sebagai makhluk أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ  (sebaik-baik ciptaan) dapat terus hadir dalam diri seorang muslim. Adapun yang buruk harus dijadikan pelajaran dan semaksimal mungkin harus ditinggalkan.
Allah berfirman dalam Al Qur'an:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لاولِي الألْبَابِ  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka ".
Dalam perjalanan hidup, tidak jarang keinginan (baik) kita tidak tercapai karena sesuatu hal. Bahkan, banyak manusia yang menyesali kehidupannya dikarenakan banyaknya waktu terbuang sia-sia dan  tidak menghasilkan manfaat baginya. Hal itu dikarenakan tidak memanfa’atkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Dalam Al-Qur'an banyak ayat yang mengisyaratkan kepada segenap manusia untuk senantiasa mengingat dan memeriksa kegiatan yang ia lakukan setiap harinya. Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُوراً
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”. (Al Furqon: 62).
Mengingat dalam ayat ini berkaitan dengan masa lampau, dan ini selalu menuntut instropeksi dan kesadaran menyangkut semua hal yang telah terjadi, sehingga mengantarkan manusia untuk melakukan peningkatan dan perbaikan. Diantara ayat-ayat itu ada pula yang diakhiri dengan pernyataan, "maka ambilah pelajaran dari peristiwa itu." Demikian pula ayat yang menyuruh manusia bekerja untuk menghadapi masa depan, atau berfikir dan menilai hal yang telah dipersiapkannya untuk masa depan.
Pada dasarnya kesyukuran manusia itu adalah agar ada perbaikan untuk masa-masa yang akan ia lalui. Adapun dalam ayat tersebut yang labih penting diperhatikan adalah, bahwa segala aktifitas atau rencana itu harus dilandasi dan berorientasi kepada ketaqwaan kepada Allah. Maka, selanjutnya ini menjadi ukuran bagi seseorang dalam menilai dirinya sendiri sebagai sebuah perbandingan dengan hari-hari yang telah ia lalui sebelumnya.
Menurut Islam, perjalanan waktu dengan berbagai keadaan yang dialami seseorang sesungguhnya menuntut dirinya agar tetap tegar dan konsisten dengan fitrahnya, tunduk dan patuh terhadap ketentuan-ketentuan Allah Swt. Dengan demikian, perjalanan masa itu akan dapat dilalui dengan mengisi kehidupan kearah yang lebih baik, karena semua yang dilalui adalah pengalaman, dan pengalaman adalah guru terbaik bagi manusia.
Dengan demikian, pada dasarnya apa yang telah kita kerjakan dalam perjalanan waktu itu merupakan suatu berkah tersendiri bila kita memahami bahwa perjalanan waktu yang sesungguhnya hanyalah mengantarkan kita kembali kehadirat Allah. Namun,  dapat pula mengantarkan manusia kepada tempat yang jauh dari sang Khaliknya. Maka, pemanfaatan waktu dengan dasar mengabdikan diri kepada Allah merupakan hal yang paling penting untuk selalu dipahami oleh setiap manusia.
Memanfaatkan waktu sesungguhnya terletak pada manusia yang melalui waktu itu sendiri. Setiap orang memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhinya, dengan demikian pemanfaatan waktu sepenuhnya diserahkan kepada orang yang bersangkutan. Hanya saja, pemanfaatan waktu haruslah dibatasi dengan norma-norma agama dan sosial.
Seseorang yang menghargai waktu akan mencetak dirinya menjadi manusia yang memiliki disiplin dan berimplikasi besar pada kesuksesan. Kemajuan dan kemunduran seseorang sebenarnya terletak pada seberapa besar kemampuannya memanfaatkan waktu yang terus mengalir, sampai akhirnya akan berhenti, terputus, dan di sana akan terlihat hasil dari setiap jam, menit bahkan setiap detik dari waktu yang telah dilalui.
Resapilah selalu akan firman Allah dalam surat Al-‘Ashr : 1-3.
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الانسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣﴾
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Semoga kita termasuk bagian orang yang dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan mampu mengisinya dengan berbagai aktivitas yang positif.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Jumat, 25 Maret 2011

Bersyukur Akan Karunia Allah


Hakikat Bersyukur
Firman Allah dalam surat Ibrahim:34.
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Artinya : " Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah)“.
Banyak karunia yang diberikan Allah kepada manusia, siapapun dia, bagaimanapun kondisinya dan apapun status sosialnya. Bahkan, musibah yang menimpa seorang mukmin yang apabila ia hadapi dengan lapang dada dan mengembalikan musibah itu kepada Allah dengan ucapan:
 “ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ “ (sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami kembali ). Itupun menjadi nikmat tersendiri baginya. Karena Nabi Muhammad menyatakan dalam sabdanya, artinya : “ Keadaan seorang mukmin itu sangat menakjubkan, karena semua keadaannya menjadi kebaikan bagi dirinya, jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka itu mejadi kebaikan baginya, dan jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya ". (HR. Muslim).
Banyak karunia dan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia, yang kadang manusia itu lalai, tidak tahu diri dan tidak mengenal kebaikan dan karunia Allah kepadanya, karena itu Allah mengingatkan manusia dengan firman:
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Artinya : " Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah)“. ( Q.S Ibrahim:34 ).
Pernyataan Allah melalui firmanNya di atas bertujuan agar manusia bersyukur kepadaNya dan memanfa’atkan karunia dan nikmat tersebut kepada jalan yang di ridhaiNya, dan agar manusia tidak menjadi orang yang zalim serta kufur nikmat dan menyadari betapa banyaknya karunia dan nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kepadanya.
Banyak manusia berkeluh kesah dalam hidupnya dan menunjukkan sikap memberontak sembari berucap "Allah sangat tidak adil! Saya yang sudah melakukan kabaikan dan mematuhi perintahNya, namun hidupku selalu sengsara dan do’a-do’a-ku tidak pernah dikabulkan. Sementara orang yang tidak taat kepada Allah dan selalu melakukan kemaksiatan justeru diberi rezki yang berlimpah. Sungguh Allah sangat tidak adil. Begitu banyak ungkapan manusia seperti ini……!
Sebenarnya ungkapan seperti itu bagi orang yang beriman bukanlah merupakan sesuatu yang mengherankan, sebab jauh sebelumnya Allah telah menggambarkan sikap orang yang seperti ini dengan firmanNya dalam surat Al-Fajr : 15 -16 :
فَأَمَّا الانسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ﴿١٥﴾ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ﴿١٦﴾
Artinya :“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".
Biasanya orang yang seperti itu tidak menyadari bahwa karunia yang telah diberikan Allah kepadanya banyak sekali dan tidak terhitung, bahkan dia tidak mensyukurinya. Andaipun ia mensyukurinya tentu syukurnya itu tidak akan dapat mengimbangi kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya.
Seyogianyalah kita manusia menyadari bahwa Allah telah memberi kepada kita mata yang dengannya kita dapat melihat, tentu nilainya tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan matrial, lalu sepadankah kesyukuran kita dengan nikmat penglihatan ini? Bukankah Allah telah menganugerahkan kepadanya akal yang dengannya ia dapat melakukan banyak hal? Relakah akalnya ditukar dengan uang sebanyak kebutuhannya? Lalu bagaimana dengan nikmat sehat, nikmat bisa bernafas, nikmat oksigen, nikmat Islam, nikmat iman, nikmat dapat beribadah dengan baik dan khusyu', nikmat ilmu dan lain-lainnya? Allah berfirman dalam surat Al-Mulk:23.
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالابْصَارَ وَالافْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
Artinya : Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.
Jika nikmat yang ada pada dirinya saja belum mampu untuk dia syukuri, lalu pantaskah ia mengucapkan ungkapan “ Allah itu tidak adil ? “. Tidak tertutup kemungkinan, andaikan Allah memberinya nikmat yang lain malah membuatnya makin tidak bersyukur, sebab yang ada saja belum mampu untuk disyukuri.
Betapa malangnya manusia yang tidak merasakan betapa banyak dan besarnya karunia dan nikmat Allah kepadanya, atau hanya bisa merasakan karunia dan nikmat-Nya pada makanan dan minumannya saja, lalu ia merasa telah bersyukur kepada Allah, karena bisa mengucapkan Alhamdu lillâh sesudahnya.
Abû Dardâ ra pernah mengatakan, " Barang siapa yang tidak melihat (merasakan) nikmat yang Allah berikan kepadanya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka sesungguhnya ilmu (ma`rifat)nya sangat dangkal dan azab pun telah menantinya".
Karunia dan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita (manusia) sungguh tidak dapat kita hitung jumlahnya dan sebanyak apapun kesyukuran manusia kepada Allah atas karunia-Nya tetap tidak akan sebanding, bahkan bisa bersyukur itu sendiri merupakan karunia dan nikmat. Oleh karena itu, hendaknya manusia menyadari, apapun kedudukannya di dunia ini harus selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT.
Ibnu Qayyim (ulama terkemuka) mengatakan bahwa hakikat syukur itu adalah, membekasnya nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan. Membekasnya nikmat Allah pada hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cintanya kepada Allah, dan membekasnya nikmat Allah pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat.
Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa syukur itupun harus memenuhi lima pilar utama dan apabila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur itupun dianggap belum terpenuhi. Adapun lima pilar yang dimaksud adalah :
  1. Kepatuhan orang yang bersukur kepada Pemberi nikmat ( yaitu Allah SWT ).
  2. Mencintai-Nya.
  3. Mengakui bahwa nikmat itu adalah dari-Nya ( dari Allah SWT )
  4. Memuji atas nikmat yang telah diberi-Nya kepada kita
  5. Tidak menggunakan nikmat yang diberikan untuk sesuatu yang tidak disukai Allah.
Ucapan Alhamdulillah saja belum cukup dianggap telah mencerminkan kesyukuran, sebelum adanya pengakuan lisan, sikap tunduk dan taat, rasa cinta serta memanfaatkan kenikmatan dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.
Memang, syukur itu sangat mudah untuk diungkapkan dengan lidah, namun sulit ditunjukkan dengan tindakan. Sebab itu jangan heran kalau Allah menyatakan dalam firmannya:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “ Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih “. ( Q.S. Saba’ : 13).
إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ “ Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah)“ (Q.S. Ibrahim:34).
Untuk menyadarkan kita betapa banyaknya karunia Allah kepada kita coba kita camkan firman Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an pada surat Al-Kahfi ayat 109 : 
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً
Artinya : “Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula) “.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur akan segala nikmat yang dikaruniakanNya kepada kita. Dan semoga kita senantiasa mendapat keridhaan Allah SWT.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ