Kamis, 14 April 2011

Kisah Teladan: Orang Kaya Yang Hidup Sederhana.

Nidzam al-Mahmudi
( Orang Kaya Yang Zuhud )

Ada seorang sufi, beliau bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan sangat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah serang yang kaya raya, mempunyai kebun yang luas terbentang berhektar-hektar, tanam-tanamannya tumbuh subur mendatangkan hasil yang berlimpah ruah. Di sisi lain dia juga mengembangkan usaha dangang yang kian berkembang di beberapa kota. Dengan Bisnis yang dia kelola secara propesional, dia dapat membantu penghidupan ratusan karyawan dan keluarga yang tidak mampu. Bila di lihat secara zhahir, tingkat kemakmuran para karyawannya jauh lebih sejahtera ketimbang beliau sebagai majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa sangat bahagia dan menikmati hidupnya sepanjang perjalanan usianya.
Suatu ketika salah seorang anaknya pernah bertanya kepadanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu untuk membuatnya?.
Nidzam al-Mahmudi menjawab pertanyaan anakknya, Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati gubuk kecil seperti ini.
Pertama: Ayah berpandangan, sebesar apapun rumah kita, ternyata yang kita butuhkan hanyalah tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia hanya mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia jauh dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah.
Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya di dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya.
Kedua: Ayah berpandangan, dengan menempati sebuah gubuk kecil seperti ini, kalian akan cepat menjadi dewasa, sebab dengan kondisi rumah seperti ini, tentu kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih besar. Untuk mencapai keinginan kalian itu tentu kalian akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian kalian menjadi anak yang mandiri dan tidak hanya mengandalkan kekayaan orang tua. Hal yang seperti itu tentu akan menjadikan kalian menjadi orang yang cepat dewasa. Ayah berharap kalian menjadi orang yang seperti itu.
Ketiga: Ayah dan ibu kalian dulu hanya berdua, suatu hari kelak akan menjadi berdua lagi setelah kalian nanti berumah tangga. Apalah artinya rumah yang besar bagi ayah dan ibu apabila pada akhirnya nanti yang menempati rumah itu hanya kami berdua. Bukankah suasana sepi di rumah yang besar itu akan terasa lebih menyiksa ?.
Kemudia anak itu lebih terkesima lagi tatkala ayahnya meneruskan kata-katanya.
Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Allah untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup untuk memuaskan keserakahan, walau hanya keserakahan seorang manusia.
Si anak tercenung sejenak sembari hatinya bergumam…...!  Alangkah bijaknya sikap ayah kami ini, walau nampak lugu dan polos, ternyata ia mempunyai pandangan yang dalam tentang makna kehidupan ini. Ayah adalah seorang hartawan yang kekayaannya melimpah, akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman, padahal ia memiliki karyawan yang banyak. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling sederhana. Ia tidak terlena dalam buaian harta benda, padahal semua itu dia miliki.
Tanpa disadari sang anak, air matanya berlinang dan jatuh membasahi pipinya, sambil terisak ia benamkan wajahnya di pangkuan ayahnya sambil berucap, terima kasih ayah, hari ini ananda paham tentang hakikat kehidupan ini. Ayah…….! Aku bangga pada ayah dan ibu, doakan kami agar kami mampu mencontoh kebaikan yang telah ayah dan ibu lakukan.
Sang ayah mengangkat bahu dan wajah anaknya, dipandangnya wajah anaknya dengan pandangan kasih sayang sembari berucap menambahkan nasihatnya. Anakku………! Kalian boleh mencari harta sebanyak-banyaknya, tapi manakala harta itu telah kau dapatkan gunakanlah ia untuk kebahagiaanmu di akhirat kelak, pandanglah orang yang tidak mampu yang ada disekitarmu. Apabila kelak engkau menjadi orang yang sukses, jadilah engkau sebagai perpanjangan tagan/kekuasaan Allah untuk membantu orang-orang yang tidak mampu, dengan begitu, ananda akan dimuliakan manusia dan diridhai Allah.
Anakku………! Ingatlah firman Allah di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩﴾ وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠﴾ وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١١﴾
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Munafiqun: 9-11).

Saudaraku..................! Mari kita jadikan kisah ini sebagai i’tibar atau pelajaran bagi kita, agar kita tidak terjebak akan kemewahan hidup di dunia. Sebab, mengejar kesenangan dunia hanyalah tujuan jangka pendek semata, namun tujuan jangka panjangnya adalah kehidupan akhirat. Semoga kita bisa melatih diri untuk menjadi orang-orang yang tidak terlena akan kehidupan dunia yang berakibat akan mendatangkan kesengsaraan bagi diri sendiri, terutama di akhirat kelak.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 13 April 2011

Mulailah dari diri sendiri


KISAH SESENDOK MADU
Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran dan kesetiaan warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi dalam pikiran seorang warga terlintas suatu cara untuk mengelak, "Aku tidak akan membawa sesendok madu, tetapi akan membawa sesendok air. Dalam kegelapan malam tentu tidak seorangpun yang tahu bahwa yang aku bawa adalah air, sesendok air tentu tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga. Begitu pikiran yang ada dibenaknya. Maka pada malam hari yang telah ditentukan iapun membawa sesendok air.
Pada saatnya tiba sang raja memeriksa bejana yang diperintahkannya untuk di isi oleh rakyatnya masing-masing sesendok madu, apa yang terjadi ?. Ternyata bejana tersebut hanya berisikan air. Rupanya semua warga berpikiran sama dengan orang yang membawa air. Mereka mengharapkan warga yang lain membawa madu agar mereka bebas dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi, bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai kehidupan masyarakat. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi:
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
" Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik ". (Q. S. Yusuf :108).
Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.
NabiMuhammad saw. pernah bersabda, artinya: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.
Mari kita melatih diri agar sesuatu yang harus dilaksanakan kita mulai dari diri kita sendiri
Sumber: Lentera Hati M. Quraish Shihab

Tilawah Al-Quran Al-Karim

Tilawah Al-Qur'an oleh Qori' Mesir Syaikh Musthafa Ismail

Selasa, 12 April 2011

Perbaiki Diri Dari Kelalaian


LALAI AKAN MEMBAWA CELAKA
Dalam menjalankan kehidupan di bumi ini banyak manusia yang lalai akan kewajibannya kepada Allah. Sifat lalai itu merupakan racun yang sangat mematikan, penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merusak jiwa, serta melumpuhkan gairah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Kelalaian man usia dari mengingat Allah akan merugikannya terutama dalam kehidupan di akhirat kelak. Banyak manusia yang terjebak dengan kesenangan hidup di dunia ini,  angan-angan yang berlebihan telah menipunya. Banyak manusia yang disetir oleh keinginan-keinginan buruk, dipengaruhi dorongan hawa nafsu dan bisikan syaitan yang selalu menyuruh kepada perbuatan tercela, namun sayangnya menusia yang seperti itu masih banyak yang mengira bahwa mereka sudah banyak berbuat kebaikan.
Allah SWT.  berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 1:
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مَّعْرِضُونَ
 Artinya: " Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).
Manusia yang memperturutkan keinginan nafsunya berakibat ia akan lalai dari mengingat Allah, urusan dan kepentingannya terutama untuk kehidupan akhirat akan terabaikan, dia kurang memperhatikan terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan/kebaikan untuk kehidupannya. Manusia yang seperti ini akan selalu menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat, bahkan justru mendatangkan malapetaka baginya.
Dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 103 Allah berfirman :
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman-walaupun kamu sangat menginginkannya”.
Firman Allah dalam surat Al An'am ayat 116
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Artinya: " Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.
Firman Allah dalam surat Yunus ayat 92:
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ  …………………………

Artinya: "………………………Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami".
Manusia yang lalai dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah pada hari kiamat kelak tidak akan dapat memberikan argumen dalam membela diri bahwa kelalaiannya semasa hidupnya di dunia diakibatkan tidak mengetahui kejadian yang akan dialaminya dalam kehidupan akhirat. Argumen apapun tidak akan diterima, sebab Allah telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, melarang untuk menyekutukanNya. Rasul yang diutus menyampaikan kepada manusia agar meninggalkan jalan-jalan yang menyesatkan. Disisi lain Allah telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan agar manusia jangan tertipu akan kehidupan dunia, dan manusia diberi peringatan akan adanya kehidupan akhirat dan dalam kehidupan akhirat itu akan diminta pertanggung jawaban dari segala apa yang dikerjakan manusia semasa hidupnya di dunia. Oleh sebab itu manusia tidak akan dapat mengelak dari tuntutan Allah terhadap kelalaiannya untuk beribadah kepadaNya.
Siksa bagi orang yang lalai .
Orang-orang yang lalai akan kewajibannya untuk beriman dan beribadah kepada Allah akan mendapatkan sangsi, baik di dunia maupun di akhirat. Allah SWT. berfirman tentang ummat Nabi Musa as tatkala mereka mendustakan dan menyakitinya.
فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَكَانُواْ عَنْهَا غَافِلِينَ
Artinya: "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggalamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." (Qs: Al-A'raf: 136) .
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyiapkan neraka Jahannam sebagai tempat siksaan di akhirat bagi orang-orang yang lalai. Firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: " Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Ayat ini menjelaskan bahwa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah neraka Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan tergerak sedikitpun akan pengajaran dan perintan Allah dan RasulNya, hati mereka bagaikan batu, bahkan lebih keras.
Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan dhahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.
Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, kebohongan, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sunnah Rasul-Nya.
Firman Allah dalam surat Yunus ayat 7 -8 :
إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ  أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan “.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menginformasikan bahwa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang ridha dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai.
Allah berfirman An Nahl :106-108.
مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَـكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٠٦﴾ ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّواْ الْحَيَاةَ الْدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿١٠٧﴾ أُولَـئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿١٠٨﴾
Artinya: " Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai.
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas mari kita melakukan intropeksi diri apakah kita termasuk dari golongan manusia yang lalai. Andaikan kita termasuk di dalamnya mari kita segera memperbaiki diri, kejarlah ketinggalan, dan mulailah menata diri dengan cara-cara yang disyari'atkan Allah agar kita mampu melepaskan diri dari cengkaraman kelalaian sepanjang masa, dengan demikian insya Allah kita akan selamat baik di dunia maupun di akhirat, dan kita berharap semoga ridha Allah akan menyertai kita.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Senin, 11 April 2011

TUJUH KRITERIA MENJADI HAMBA YANG SHALIH

KRITERIA HAMBA YANG SHALIH

Banyak menusia yang menginginkan dirinya menjadi hamba Allah yang shalih. Bahkan, saat selesai berwudhu’ kita disunnatkan berdo’a, salah satu do’a yang kita mohon kepada Allah adalah agar kita dijadikan Allah menjadi hamba-hambanya yang shalih.

Nabi Ibrahim AS sebagai seorang nabi-pun berdo'a kepada Allah agar ia dijadikan sebagai hamba yang shalih. Do’a nabi Ibrahim ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu'ara ayat 83:

رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

"(Ibrahim berdo`a): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih”.

Untuk menjadi hamba yang shalih, perlu diketahui kriteria sebagai hamba yang shalih tersebut. Dengan mengetahui kriteria tersebut, diharapkan kita dapat berupaya untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga di hadapan Allah kita termasuk dalam golongan hamba-hambanya yang shalih.

Adapun kriteria hamba yang shalih itu, disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 113-114.

لَيْسُواْ سَوَاء مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللّهِ آنَاء اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ﴿١١٣﴾ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُوْلَـئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١١٤﴾

Artinya : “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh “.

Dalam ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa ada tujuh kreteria sebagai hamba yang shalih, yaitu :

Pertama, orang yang berlaku lurus, memiliki karakter istiqamah. Yakni, teguh pendirian, konsisten, dan memiliki komitmen dalam meyakini dan melakukan kebenaran.

Kedua, senantiasa membaca ayat-ayat Allah, baik yang tertulis maupun yang tercipta di alam yang terbentang ini.

Ketiga, mereka yang senantiasa sujud di tengah keheningan malam, dengan melaksanakan shalat malam.

Keempat, beriman kepada Allah. Setiap perbuatan dan tingkah lakunya dilandasi dengan selalu ingat kepada Allah.  Dengan selalu ingat kepada Allah akan menjadi alat kontrol dan stabilitator baginya dari berbagai kemaksiatan dan dosa.

Kelima, beriman kepada hari akhir. Kehidupan hamba yang shalih senantiasa beroritenasi kepada kehidupan akhirat. Ia mengisi waktunya dengan kegiatan positif yang bernilai ibadah.

Keenam, mengajak orang lain untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan atau kemaksiatan. Ia selalu berupaya menjadi teladan, sehingga orang lain bisa mengikutinya.

Ketujuh, segera melakuan kegiatan positif. Hamba yang shaleh senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan yang dilandasi dengan keikhlasan dan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Tujuh karakter di atas merupakan karakter hamba yang shalih. Dari ayat ini pula dapat disimpulkan bahwa keshalehan tersebut mencakup dua hal, yaitu keshalihan Spritual dan keshalihan sosial.

Semoga kita mempu menerapkan tujuh kriteria di atas sehingga kita termasuk ke dalam katagori orang-orang yang shalih.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

 


Minggu, 10 April 2011

Kunci Meraih Kebahagiaan

Dua Puluh Tiga Kiat Mencapai Bahagia
Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di di dalam kitabnya yang berjudul “Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah” ( Kiat-kiat mencapai kabahagian hidup ) memaparkan, bahwa sekurang-kurangnya ada dua puluh tiga kiat yang dapat diterapkan untuk mencapai hidup bahagia. Di sini dinukilkan kesimpulan dari kitab tersebut:
  1. Beriman dan beramal shalih dengan sebenarnya, sebab orang yang beriman dan beramal shalih akan selalu menyandarkan hidupnya kepada kekuasaan Allah, dan itu akan membuat hatinya bahagia selalu.
  2. Berprilaku baik melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk yang ma’ruf/baik.
  3. Bersikap adil dan bijaksana dalam bergaul, sebab hidup dalam lingkungan pergaulan yang kondusip akan membuat hati menjadi tentram.
  4. Melakukan tindakan-tindakan yang utama/mulia dan tidak membuat orang lain merasa resah.
  5. Menciptakan suasana jernih dibalik kekeruhan yang ada.
  6. Menjadikan ketenangan bathin dan pemusatan pikiran untuk membantu anda dalam menangani pekerjaan penting.
  7. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tanpa menunda-nundanya, sebab kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.
  8. Pandai-pandailah memilih pekerjaan agar tidak terjerumus kepada perbuatan yang mendatangkan dosa.
  9. Jangan terpancing emosi oleh tutur kata buruk dari seseorang yang diarahkan kepada anda.
  10. Arahkan pikiran kepada sesuatu yang bemanfa’at untuk kehidupan akhirat maupun kehidupan dunia.
  11. Menata hati untuk semata-mata mengharap keridhaan Allah dalam berbuat kebajikan.
  12. Konsentrasikan pikiran untuk menghadapi hari ini, sebab dengan demikian pekerjaan akan mudah dilaksanakan dan itu akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri.
  13. Masa kehidupan dunia yang pendek ini jangan dipendekkan lagi dengan kegundahan hati dan larut dalam kekeruhan pikiran.
  14. Yakinkan diri bahwa cobaan dalam hidup adalah kecil bila dibandingkan dengan banyaknya karunia Allah.
  15. Lupakanlah cobaan yang telah berlalu apabila itu mengganggu konsentrasi dan melemahkan semangat dalam kehidupan, namun kenanglah apabila dapat menjadikan intropeksi diri untuk mengarahkan kehidupan kepada yang lebih baik lagi.
  16. Sikapilah cobaan yang menimpa kita adalah merupakan masalah yang ringan, agar tidak melemahkan semangat dalam kehidupan.
  17. Jangan mudah terguncang oleh bayangan buruk, sebab itu akan menjadikan diri anda lemah.
  18. Memohonlah kepada Allah agar segala urusan dimudahkanNya.
  19. Perbanyaklah zikir kepada Allah karena dengan berzikir hati akan menjadi tentram.
  20. Syukurilah  segala nikmat yang diberikan Allah, karena itu akan mendatangkan ridha Allah
  21. Sibukkan diri dengan melakukan suatu pekerjaan atau mengkaji ilmu pengetahuan yang bermanfa’at, sebab dengan ilmu pengetahuan seseorang akan mengalami kemajuan.
  22. Dalam kehidupan dunia pandanglah ke bawah agar kita lebih bersyukur kepada Allah, dan untuk kehidupan akhirat pandanglah ke atas agar semangat beribadah senantiasa meningkat.
  23. Percayalah sepenuhnya akan kekuasaan Allah agar hidup tidak takluk kepada bayangan-bayangan buruk yang menghantui kehidupan.