Sabtu, 16 April 2011

Jangan Tinggalkan Shalat Walau Di Perjalanan


MENJAMA’ SHALAT
Pelaksanaan shalat bagi ummat islam adalah merupakan ibadah pokok, dalam kondisi apapun seseorang itu, namun ibadah shalat tidak boleh ditinggalkan. Bagi orang yang sedang dalam keadaan sakit yang tidak mempu melaksanakan shalat dengan berdiri, dibenarkan melaksanakannya dengan duduk. Dalam keadaan yang lebih sulit lagi shalat boleh dilaksanakan dengan berbaring, bahkan dengan isyarat sekalipun, namun shalat tidak boleh ditinggalkan. Demikian pula bagi orang yang sedang musafir, tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Namun dalam syari’at islam diberikan kelonggaran bagi ummat islam yang sedang musafir tersebut melaksanakan shalat dengan cara mengqoshor atau menjamaknya. Mengqoshor maksudnya adalah shalat wajib yang jumlah raka’atnya empat raka’at (zhuhur, ashar dan isya’), boleh dilaksanakan dengan dua raka’at. Apabila dalam posisi yang lebih sempit lagi boleh menjama’ shalat tersebut, maksudnya menyatukan dua waktu shalat pada waktu shalat yang lain. 
Menjama’ shalat itu dapat dilakukan dengan dua cara:
Pertama : Jama’ Taqdim.
Yaitu, shalat ashar dikerjakan pada waktu zuhur atau shalat isya’ dikerjakan pada waktu maghrib. Cara menjama’ shalat seperti ini disebut jama’ taqdim, sebab shalat ashar dan isya’ yang belum masuk waktunya sudah dikerjakan pada waktu shalat sebelumnya ( yaitu setelah shalat zhuhur dan maghrib ).
Cara pelaksanaannya adalah: Setelah masuk waktu zhuhur, terlebih dahulu dilaksanakan shalat zhuhur, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat ashar. Demikian pula dengan shalat maghrib dan isya’, dengan cara: Pada saat setelah masuk waktu maghrib, terlebih dahulu dilaksanakan shalat maghrib, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat isya’.
Kedua : Jama’ Ta’khir.
Yaitu, shalat zuhur dikerjakan pada waktu ashar atau shalat maghrib  dikerjakan pada waktu isya’. Cara menjama’ shalat seperti ini disebut jama’ ta’khir, sebab shalat zhuhur dan maghrib yang sudah masuk waktunya tidak dikerjakan pada saat itu, tetapi diakhirkan pelaksanaannya pada waktu masuk waktu shalat berikutnya. Yaitu waktu shalat ashar dan isya’.
Cara pelaksanaannya adalah: Setelah masuk waktu ashar, terlebih dahulu dikerjakan shalat zhuhur, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat ashar. Demikian pula dengan shalat maghrib dan isya’, dengan cara: terlebih dahulu dikerjakan shalat maghrib, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat isya’.
Dalam hal menjama’ shalat ini, ada hal lain yang perlu diketahui, yaitu:
  1. Shalat yang dapat dijama’ adalah shalat zhuhur dengan ashar dan shalat maghrib dengan isya’.
  2. Baik menjama’ shalat dengan jama’ taqdim maupun dengan jama’ ta’khir, ada dua pilihan lain dalam pelaksanaannya, yaitu: Menjama’ shalat dengan mengqoshor/memendekkan shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at, atau tetap menyempurnakan empat raka’at bagi shalat yang jumlah raka’atnya empat raka’at. Misalnya, seseorang yang akan menjama’ shalat zhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir, dia dapat melaksanakan shalat zhuhur dan ashar masing-masing empat raka’at, atau shalat maghrib dengan shalat isya’ dengan menyempurnakan jumlah raka’at shalat isya’ dengan empat raka’at. Hal yang demikian disebut menjama’ shalat dengan menyempurnakan jumlah raka’atnya. Tetapi bisa juga seseorang menjama’ shalat zhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir, dia dapat melaksanakan shalat zhuhur dan ashar masing-masing dua raka’at, atau shalat maghrib dengan shalat isya’ dengan mengqoshor shalat isya’ menjadi dua raka’at. Hal yang demikian disebut menjama’ shalat dengan jama’ qoshor.
  3. Menjama’ shalat dengan jama’ taqdim atau dengan jama’ ta’khir dapat dilaksanakan dengan sendirian atau berjama’ah. Tetapi dengan berjama’ah tentu lebih baik atau lebih afdhal.


Jumat, 15 April 2011

Jadilah Ummat Terbaik


Menjadi Manusia Yang Terbaik
Firman Allah dalam surat Ali Imran:110.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Keberadaan ummat islam dalam perkembangan peradaban manusia, dinyatakan oleh Allah sebagai khairu ummah (ummat yang terbaik ). Hal itu akan terwujud apabila ummat islam mampu melaksanakan faktor-faktor yang menghantarkan ummat islam itu menjadi ummat yang terbaik. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firmanNya di atas.
Pertama: Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Amar ma’ruf artinya selalu melakukan dan mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Sedang nahi munkar artinya selalu menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak, dan merendahkan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Kedua upaya ini adalah bahagian dari dakwah. Apabila dua upaya ini dapat terlaksana dan berhasil maka dalam kehidupan manusia akan terasa lebih kondusip, tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dalam kehidupan sehari-hari, sebab dimanapun seseorang berada dia akan merasakan aman, tentram dan damai. Oleh sebab itu ummat islam yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar tersebut pantas mendapat pujian dari Allah dengan sebutan khairu ummah( ummat yang terbaik ).

Kedua: Beriman kepada Allah.
Ummat islam yang disebut Allah sebagai Khairu ummah tersebut tidak cukup hanya sekedar melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar, tetapi harus didasari dengan beriman kepada Allah. Sebab orang yang melakukan sesuatu dengan dasar iman kepada Allah, diharapkan apa yang dilakukannya semata-mata ingin mendapatkan keridhaan Allah swt. Oleh sebab itu keimanan kita kepada Allah harus senantiasa dipupuk agar iman tersebut terus bertambah. Apabila iman semakin bertambah maka akan semakin timbul kesadaran dalam diri seseorang untuk berbuat kebaikan dalam kehidupannya. Apabila kesadaran tersebut merakyat dalam kehidupan ummat, baik dalam skala Lokal atau dalam skala Nasional maupun Internasional dapat diyakini bahwa kehidupan ummat manusia itu akan lebih tercipta keamanan dan kedamaian. Dengan terciptanya kedamaian pada masyarakat di dunia melalui upaya melaksanakan amar ma’mur dan nahi munkar, maka wajarlah terhadap mereka-mereka yang giat melaksanakan dakwah tersebut diberi Allah julukan sebagai Khairu Ummah. Mereka pantas memperoleh kedudukan tinggi, karena mereka selalu mempunyai keyakinan dan keimanan yang benar dan teguh akan adanya Allah SWT dan keesaan-Nya serta beriman akan kebenaran semua ajaran-Nya. Mereka juga selalu melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Hal ini juga diungkapkan Allah pada ayat sebelumnya, yaitu pada surat Ali Imran : 104.
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung“ .
Rasulullah juga bersabda, artinya : “Siapapun di antara kamu melihat kemunkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan (kekuasaan-Nya), kalau dia tidak mampu (tidak memiliki kekuasaan) maka dengan lidah / ucapannya, kalau (yang inipun) dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman” (Al-Hadits).
Tiga ciri tersebut di atas, yaitu beriman kepada Allah, melaksanakan amar ma’ruf, dan nahi munkar merupakan syarat bagi lahirnya suatu masyarakat unggulan (ummat terbaik); yaitu suatu masyarakat yang di dalamnya berlangsung tata ke­hidupan yang manusiawi, tata kehidupan yang sendi-sendinya didasarkan atas persaudaraan, kesetiakawanan, saling percaya, kejujuran dan keadilan. Dalam kondisi ini, setiap warga akan terpenuhi kebutuhan lahiriah dan batiniahnya, duniawi dan akhiratnya, sesuai dengan do’a yang ummat islam selalu berdo’a dengan do’a:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Tuhan kami, ka­runia­kanlah kepada kami di dunia ini kebaikan dan di akhirat (nanti) kebaikan (pula) dan hindarkanlah kami dari siksa neraka” (QS.2 Al Baqarah : 201).
Untuk mewujudkan masyarakat Khairu Ummah semestinya mampu dilakukan oleh ummat islam seperti dinyatakan Allah di atas, maka setiap muslim dalam kedudukan dan dalam profesi apapun, terutama sebagai pemimpin, baik pemimpin rumah tangga, masyarakat dan bangsa harus menghiasi dirinya dengan nilai-nilai yang terpuji. Dalam hal ini Nabi Muhammad adalah contoh yang dapat dijadikan teladan.
Untuk berhasilnya pelaksanaan amar ma’ruf – nahi munkar tersebut, sekurang-kurangnya ada lima hal yang menjadi faktor penopangnya.
1. اَلصِّدْقُ  . Memiliki sifat Kejujuran, kebenaran, kesungguhan, dan keterbukaan.
Bentuk pengamalan ini adalah jujur dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatan. Orang yang menjadikan sifat shiddiq ini sebagai ciri khasnya, ia akan mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah bersama para Nabi dan syuhada. Mereka inilah yang selalu menga­ta­kan yang benar, tidak menutupi kesalahan, baik yang dilakukan dirinya maupun oleh kawannya, serta menjaga satunya kata dengan perbuatan, menjauhi kebohongan, termasuk jujur dalam berdiskusi dan bermusyawarah.
2. الأَمَانَةُ  . Selalu menepati janji dan bertanggung jawab dalam melaksanakan hal-hal yang dipercayakan kepada­nya. Orang-orang yang mengemban amanah ini senantiasa memegang teguh amanat yang dipercayakan kepadanya.
Amanat kepada Allah dengan menyadari tugas kekhalifahannya di bumi sehingga ia selalu menjadi manusia yang bertanggung jawab dan senantiasa melakukan kebaikan, bukan membuat kerusakan.
Amanat kepada keluarga dengan membimbing dan mendidik mereka kepada tuntunan ilahi, serta tidak memberikan nafkah kecuali yang halal lagi baik.
Amanat kepada sesama anggota masyarakat dengan selalu mengajak kepada kebaikan dan kepada kesabaran.
Adapun amanat kepada diri sendiri dengan menghindarkan segala yang haram baik dalam profesi maupun yang dikonsumsi.
Rasulullah bersabda لاَدِيْنَ لِمَنْ لاَاَمَانَةَ لَهُ , artinya : “Tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah” (HR. Addailami).
3. اَلْعَدَالَةُ . Bersikap dan berlaku adil.
Ini mengandung pengertian berpihak dan berpegang kepada yang benar, tidak sewenang-wenang, bertin­dak sepatutnya dan tidak berat sebelah. Bentuk pengamalannya selalu bersedia untuk saling mengingatkan antara sesamanya, saling menyuarakan kebenaran dan sikap kesabaran, serta saling menghar­gai pendapat yang lain, tidak memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mau memahami kepentingan dan kehen­dak pihak lain. Kebenciannya terhadap seseorang atau satu kelompok tidak menjadikannya menahan hak-hak mereka, baik berupa harta ataupun penghargaan prestasi. Sebaliknya, kasih dan sayangnya kepada seseorang, tidak membutakan matanya untuk bersikap tegas dalam memberi hukuman. Karena sesungguhnya sifat adil inilah yang selalu men­dekatkan orang kepada ketakwaan. Allah berfirman : اِعْدِلُوْاهُوَاَقْرَبُ ِللتَّقْوى  “Adillah karena ia lebih dekat kepada takwa” (QS.5 Al Maaidah : 8).

4. اَْلأُخُوَّةُ والتَّعَاوُن . Menjaga persaudaraan dan persatuan serta saling membantu sesamanya.
Untuk itu, setiap muslim harus menyadari bahwa dia bersaudara dengan orang lain, baik sesama muslim (ukhuwwah islâmiyah), sesama bangsanya (ukhuwwah wathoniyah), maupun sesama manusia (ukhuwwah basyariyah). Ketiga macam ukhuwah tersebut tidak perlu diprtentangkan, tetapi harus diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi. Hal ini akan menciptakan rasa kebersamaan, bukan memperuncing perbedaan.
5. الإٍسْتِقَامَةُ . Berlaku konsisten, senantiasa berada dan mengikuti jalan kebenaran menurut Allah. Islam selalu menganjurkan umatnya untuk memiliki sifat istiqomah dalam kebajikan. Bagi mereka yang selalu istiqomah dijamin akan terhindar dari kerisauan, kekhawatiran dan ketakutan, baik dalam kehidupan di dunia ini maupun pada hari kiamat nanti, bahkan mendapat berita gembira dengan janji dan jaminan masuk surga.
Firman Allah dalam surat Fushshilat:30-32.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ ﴿٣٢﴾
Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.
Semoga kita bisa menjadi manusia terbaik dengan mempertahankan keimanan kita kepada Allah dan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.


Kamis, 14 April 2011

Kisah Teladan: Orang Kaya Yang Hidup Sederhana.

Nidzam al-Mahmudi
( Orang Kaya Yang Zuhud )

Ada seorang sufi, beliau bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan sangat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah serang yang kaya raya, mempunyai kebun yang luas terbentang berhektar-hektar, tanam-tanamannya tumbuh subur mendatangkan hasil yang berlimpah ruah. Di sisi lain dia juga mengembangkan usaha dangang yang kian berkembang di beberapa kota. Dengan Bisnis yang dia kelola secara propesional, dia dapat membantu penghidupan ratusan karyawan dan keluarga yang tidak mampu. Bila di lihat secara zhahir, tingkat kemakmuran para karyawannya jauh lebih sejahtera ketimbang beliau sebagai majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa sangat bahagia dan menikmati hidupnya sepanjang perjalanan usianya.
Suatu ketika salah seorang anaknya pernah bertanya kepadanya, `Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu untuk membuatnya?.
Nidzam al-Mahmudi menjawab pertanyaan anakknya, Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati gubuk kecil seperti ini.
Pertama: Ayah berpandangan, sebesar apapun rumah kita, ternyata yang kita butuhkan hanyalah tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia hanya mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia jauh dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah.
Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya di dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya.
Kedua: Ayah berpandangan, dengan menempati sebuah gubuk kecil seperti ini, kalian akan cepat menjadi dewasa, sebab dengan kondisi rumah seperti ini, tentu kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih besar. Untuk mencapai keinginan kalian itu tentu kalian akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian kalian menjadi anak yang mandiri dan tidak hanya mengandalkan kekayaan orang tua. Hal yang seperti itu tentu akan menjadikan kalian menjadi orang yang cepat dewasa. Ayah berharap kalian menjadi orang yang seperti itu.
Ketiga: Ayah dan ibu kalian dulu hanya berdua, suatu hari kelak akan menjadi berdua lagi setelah kalian nanti berumah tangga. Apalah artinya rumah yang besar bagi ayah dan ibu apabila pada akhirnya nanti yang menempati rumah itu hanya kami berdua. Bukankah suasana sepi di rumah yang besar itu akan terasa lebih menyiksa ?.
Kemudia anak itu lebih terkesima lagi tatkala ayahnya meneruskan kata-katanya.
Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Allah untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup untuk memuaskan keserakahan, walau hanya keserakahan seorang manusia.
Si anak tercenung sejenak sembari hatinya bergumam…...!  Alangkah bijaknya sikap ayah kami ini, walau nampak lugu dan polos, ternyata ia mempunyai pandangan yang dalam tentang makna kehidupan ini. Ayah adalah seorang hartawan yang kekayaannya melimpah, akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman, padahal ia memiliki karyawan yang banyak. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling sederhana. Ia tidak terlena dalam buaian harta benda, padahal semua itu dia miliki.
Tanpa disadari sang anak, air matanya berlinang dan jatuh membasahi pipinya, sambil terisak ia benamkan wajahnya di pangkuan ayahnya sambil berucap, terima kasih ayah, hari ini ananda paham tentang hakikat kehidupan ini. Ayah…….! Aku bangga pada ayah dan ibu, doakan kami agar kami mampu mencontoh kebaikan yang telah ayah dan ibu lakukan.
Sang ayah mengangkat bahu dan wajah anaknya, dipandangnya wajah anaknya dengan pandangan kasih sayang sembari berucap menambahkan nasihatnya. Anakku………! Kalian boleh mencari harta sebanyak-banyaknya, tapi manakala harta itu telah kau dapatkan gunakanlah ia untuk kebahagiaanmu di akhirat kelak, pandanglah orang yang tidak mampu yang ada disekitarmu. Apabila kelak engkau menjadi orang yang sukses, jadilah engkau sebagai perpanjangan tagan/kekuasaan Allah untuk membantu orang-orang yang tidak mampu, dengan begitu, ananda akan dimuliakan manusia dan diridhai Allah.
Anakku………! Ingatlah firman Allah di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩﴾ وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠﴾ وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١١﴾
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Munafiqun: 9-11).

Saudaraku..................! Mari kita jadikan kisah ini sebagai i’tibar atau pelajaran bagi kita, agar kita tidak terjebak akan kemewahan hidup di dunia. Sebab, mengejar kesenangan dunia hanyalah tujuan jangka pendek semata, namun tujuan jangka panjangnya adalah kehidupan akhirat. Semoga kita bisa melatih diri untuk menjadi orang-orang yang tidak terlena akan kehidupan dunia yang berakibat akan mendatangkan kesengsaraan bagi diri sendiri, terutama di akhirat kelak.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 13 April 2011

Mulailah dari diri sendiri


KISAH SESENDOK MADU
Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran dan kesetiaan warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi dalam pikiran seorang warga terlintas suatu cara untuk mengelak, "Aku tidak akan membawa sesendok madu, tetapi akan membawa sesendok air. Dalam kegelapan malam tentu tidak seorangpun yang tahu bahwa yang aku bawa adalah air, sesendok air tentu tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga. Begitu pikiran yang ada dibenaknya. Maka pada malam hari yang telah ditentukan iapun membawa sesendok air.
Pada saatnya tiba sang raja memeriksa bejana yang diperintahkannya untuk di isi oleh rakyatnya masing-masing sesendok madu, apa yang terjadi ?. Ternyata bejana tersebut hanya berisikan air. Rupanya semua warga berpikiran sama dengan orang yang membawa air. Mereka mengharapkan warga yang lain membawa madu agar mereka bebas dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi, bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai kehidupan masyarakat. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi:
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
" Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik ". (Q. S. Yusuf :108).
Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.
NabiMuhammad saw. pernah bersabda, artinya: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.
Mari kita melatih diri agar sesuatu yang harus dilaksanakan kita mulai dari diri kita sendiri
Sumber: Lentera Hati M. Quraish Shihab

Tilawah Al-Quran Al-Karim

Tilawah Al-Qur'an oleh Qori' Mesir Syaikh Musthafa Ismail

Selasa, 12 April 2011

Perbaiki Diri Dari Kelalaian


LALAI AKAN MEMBAWA CELAKA
Dalam menjalankan kehidupan di bumi ini banyak manusia yang lalai akan kewajibannya kepada Allah. Sifat lalai itu merupakan racun yang sangat mematikan, penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merusak jiwa, serta melumpuhkan gairah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Kelalaian man usia dari mengingat Allah akan merugikannya terutama dalam kehidupan di akhirat kelak. Banyak manusia yang terjebak dengan kesenangan hidup di dunia ini,  angan-angan yang berlebihan telah menipunya. Banyak manusia yang disetir oleh keinginan-keinginan buruk, dipengaruhi dorongan hawa nafsu dan bisikan syaitan yang selalu menyuruh kepada perbuatan tercela, namun sayangnya menusia yang seperti itu masih banyak yang mengira bahwa mereka sudah banyak berbuat kebaikan.
Allah SWT.  berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 1:
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مَّعْرِضُونَ
 Artinya: " Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).
Manusia yang memperturutkan keinginan nafsunya berakibat ia akan lalai dari mengingat Allah, urusan dan kepentingannya terutama untuk kehidupan akhirat akan terabaikan, dia kurang memperhatikan terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan/kebaikan untuk kehidupannya. Manusia yang seperti ini akan selalu menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat, bahkan justru mendatangkan malapetaka baginya.
Dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 103 Allah berfirman :
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman-walaupun kamu sangat menginginkannya”.
Firman Allah dalam surat Al An'am ayat 116
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Artinya: " Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.
Firman Allah dalam surat Yunus ayat 92:
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ  …………………………

Artinya: "………………………Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami".
Manusia yang lalai dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah pada hari kiamat kelak tidak akan dapat memberikan argumen dalam membela diri bahwa kelalaiannya semasa hidupnya di dunia diakibatkan tidak mengetahui kejadian yang akan dialaminya dalam kehidupan akhirat. Argumen apapun tidak akan diterima, sebab Allah telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, melarang untuk menyekutukanNya. Rasul yang diutus menyampaikan kepada manusia agar meninggalkan jalan-jalan yang menyesatkan. Disisi lain Allah telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan agar manusia jangan tertipu akan kehidupan dunia, dan manusia diberi peringatan akan adanya kehidupan akhirat dan dalam kehidupan akhirat itu akan diminta pertanggung jawaban dari segala apa yang dikerjakan manusia semasa hidupnya di dunia. Oleh sebab itu manusia tidak akan dapat mengelak dari tuntutan Allah terhadap kelalaiannya untuk beribadah kepadaNya.
Siksa bagi orang yang lalai .
Orang-orang yang lalai akan kewajibannya untuk beriman dan beribadah kepada Allah akan mendapatkan sangsi, baik di dunia maupun di akhirat. Allah SWT. berfirman tentang ummat Nabi Musa as tatkala mereka mendustakan dan menyakitinya.
فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَكَانُواْ عَنْهَا غَافِلِينَ
Artinya: "Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggalamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu." (Qs: Al-A'raf: 136) .
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyiapkan neraka Jahannam sebagai tempat siksaan di akhirat bagi orang-orang yang lalai. Firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: " Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Ayat ini menjelaskan bahwa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah neraka Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan tergerak sedikitpun akan pengajaran dan perintan Allah dan RasulNya, hati mereka bagaikan batu, bahkan lebih keras.
Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan dhahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.
Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, kebohongan, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sunnah Rasul-Nya.
Firman Allah dalam surat Yunus ayat 7 -8 :
إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ  أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan “.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menginformasikan bahwa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang ridha dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai.
Allah berfirman An Nahl :106-108.
مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَـكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٠٦﴾ ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّواْ الْحَيَاةَ الْدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿١٠٧﴾ أُولَـئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿١٠٨﴾
Artinya: " Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalai.
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas mari kita melakukan intropeksi diri apakah kita termasuk dari golongan manusia yang lalai. Andaikan kita termasuk di dalamnya mari kita segera memperbaiki diri, kejarlah ketinggalan, dan mulailah menata diri dengan cara-cara yang disyari'atkan Allah agar kita mampu melepaskan diri dari cengkaraman kelalaian sepanjang masa, dengan demikian insya Allah kita akan selamat baik di dunia maupun di akhirat, dan kita berharap semoga ridha Allah akan menyertai kita.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ