Senin, 18 April 2011

Dampak Amal Dalam Kehidupan Manusia

Amal Manusia dan Pengaruhnya
Bagi Kehidupan Dunia dan Akhirat

Amal atau perbuatan manusia terbagi dua, yaitu yang baik ( amal saleh ) dan yang buruk. Amal saleh tidak berarti hanya ibadah dalam arti sempit, tetapi juga mencakup segala pekerjaan yang mengandung nilai kebaikan dan dikerjakan karena Allah swt., seperti memberi makan orang yang lapar, membersihkan jalan, membangun Negara, menegakkan keadilan, dan menghapus kezaliman. Setiap amal atau perbuatan, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk mempunyai pengaruh, baik dalam kehidupan pribadi dan keluarga maupun masyarakat dan bangsa.
Diriwayatkan dalam kitab shahih al-Bukhari jilid II, halaman 259-260 bahwa dizaman dahulu ada tiga orang yang sedang dalam perjalanan. Karena hujan mereka masuk ke dalam gua. Tiba-tiba pintu gua tertutup oleh batu besar. Mereka merasa tidak mungkin lagi keluar dari gua itu melainkan dengan pertolongan Allah. Karena itu masing-masing mereka mengingat amal saleh terbaik yang pernah dilakukannya dengan ikhlas karena Allah. Orang pertama berdoa dengan kebaikannya terhadap karyawannya yang pergi dengan meninggalkan gajinya, akan tetapi, ia memelihara dan mengembangkan gaji karyawannya yang tertinggal itu sampai menjadi beberapa ekor sapi. Kemudian, karyawan itu datang menanyakan upahnya yang dahulu belum diambilnya. Lalu, majikan ini menunjukkan sapi-sapi yang dikembangkan dari modal gaji karyawannya tersebut. Setelah terjadi dialog antara keduanya, karena karyawan tidak dapat membayangkan upahnya menjadi demikian besar, akhirnya ia terima. Sang majikan memohon kepada Allah, seandainya itu amal saleh yang diterima Allah, dia memohon agar pintu gua dibukakan oleh Allah. Ternyata batu yang menutupi pintu gua itu sedikit bergerak.
Orang kedua berdoa dengan kebaikannya menyediakan susu setiap malam buat kedua orang tuanya. Pada suatu malam, ia terlambat pulang sehingga kedua orang tuanya sudah tertidur. Namun demikian, karena segannya membangunkan mereka, ia terus menunggu mereka bangun sampai shubuh dan tidak memberikan susu itu kepada anak-anaknya. Ia memohon kepada Allah, seandainya perbuatan itu terhitung amal saleh yang diterima Allah, kiranya Allah membukakan pintu gua. Batu itupun bergerak dan pintu gua semakin terbuka.
Orang ketiga berdoa dengan maksud baiknya mengurungkan niat berbuat mesum dengan anak pamannya. Pada mulanya, anak pamannya menolak kecuali dengan uang seratus dinar. Setelah ia mengusahakan uang itu dan menyerahkannya, anak pamannya itu menyerahkan dirinya. Ketika dia sudah duduk di antara kedua kaki perempuan itu, ia diingatkan perempuan itu agar takut kepada Allah. Ia pun tersadar, bangun dan pergi serta membiarkan uang itu. Ia berdoa, andaikan meninggalkan perbuatan zina dan mengikhlaskan uang itu menjadi milik perempuan itu merupakan amal yang diterima Allah, ia memohon kepada Allah agar kiranya pintu gua dibukakan. Tiba-tiba pintu gua terbuka lebar, sehingga mereka dapat keluar.
Ini adalah salah satu contoh bahwa amal saleh itu bermanfaat untuk keselamatan di dunia. Memang demikian halnya dengan amal-amal dalam Islam. Manfaatnya bukan hanya untuk kehidupan di akhirat semata, tetapi juga untuk kebaikan hidup manusia di dunia. Sehubungan dengan ini, secara umum dalam Al-Qur’an surat An-Nahl :97,  disebutkan:
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Artinya :” Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. “.
Sebagian mufassir menjelaskan bahwa kehidupan yang baik itu berarti di dunia dan balasan pahala itu berarti di akhirat.
Demikian juga sebaliknya, perbuatan yang tidak baik mempunyai dampak kepada kehidupan manusia, baik kepada pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Allah berfirman dalam surat Al-Anfal :25:
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. “.
Ini didukung oleh teori ilmu pengetahuan hidup modern. Kita tidak ikut menggunduli hutan, tetapi apabila banjir melanda, kita pun ikut terkena banjir, Kita tidak pernah membakar hutan, tetapi kita terkena asapnya. Rumah dan lingkungan kita bersih, tetapi kita bisa digigit nyamuk demam berdarah. Itulah yang dimaksud apabila musibah datang, tidak hanya menimpa orang yang berbuat zalim, tetapi yang lain juga terkena akibatnya. Hal ini mungkin dikarenakan manusia belum maksimal dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
Bila melihat sejarah ummat terdahulu, bencana yang menimpa mereka selalu merupakan balasan dari Allah atas kekufuran dan kezaliman mereka.
Kaum Samud dibinasakan Allah dengan petir yang dahsyat. Kaum ‘Ad dibinasakan dengan anging dingin yang sangat kencang.  Firaun dan pengikutnya pernah dikirim Allah bala dalam bentuk angin topan, belalang, kutu, kodok, dan darah, hal itu dikarenakan mereka menolak ajaran yang disampaikan nabi Musa as. kepada mereka. Kaum Iram pernah membangun 1700 kota, tetapi habis hancur karena kemurkaan Allah. Kisah-kisah ini menunjukkan adanya kemurkaan dan campur tangan Tuhan ( Allah ) dalam menghancurkan bangsa-bangsa terdahulu karena kekafiran dan kezaliman mereka sendiri. Berbagai macam bencana ditimpakan Allah kepada kaum yang melawanNya, menurut Al-Qur’an, itu adalah sunnah Allah yang dapat menimpa kaum mana saja, karena sunnah Allah tidak akan berubah.
Ulat bulu yang menyerang sebagian wilayah di Indonesia ini pun, boleh jadi bagian dari azab Allah, atau sekurang-kurangnya peringatan dariNya. Hanya sayang, banyak manusia yang tidak mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi.
Dampak perbuatan yang tidak baik bisa saja melanda semua orang, termasuk orang Mumin. Orang baik kadang-kadang layak menerima bencana, karena upaya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar belum setimpal dengan kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya. Karena itu, kita perlu introspeksi diri dan meningkatkan perjuangan untuk memperbaiki masyarakat. Dalam menghadapi bencana dan kesulitan, baik bersifat pribadi maupun bersifat umum, seorang mukmin hendaknya selalu melakukan introspeksi diri, meningkatkan iman dan takwa kepada Allah, meningkatkan rasa tanggung jawab sosial, memperbanyak zikir dan doa serta amal-amal lain yang mendekatkan diri kepada Allah di samping ibadah wajib yang disyari’atkan Allah swt, karena amal saleh bukan hanya menjadi pahala di akhirat, tetapi juga membawa maslahat/kebaikan dalam kehidupan di dunia.
Sumber data: Kuliah Agama – Ilmiah Populer. Dr. H. Ramli Abdul Wahid.

Minggu, 17 April 2011

Diduga Pelaku Bom Bunuh Diri

Teman Dekat Yakin Foto yang Disebar Polisi Adalah M Sarip
Jakarta - Kepolisian masih menunggu hasil tes untuk memastikan terduga pelaku pembom Masjid Ad-Zikra di kompleks Mapolres Cirebon adalah Mochamad Sarip atau bukan. Namun salah satu temannya mengenali bila foto yang disebar polisi sebagai pelaku bom bunuh diri adalah Sarip.
"Kalau dilihat dari foto yang dirilis dari polisi itu sangat mirip Sarip. Saya bisa kenali dia," ujar Ketua Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) Cirebon, Andi Mulya saat dihubungi detikcom, Minggu (17/4/2011).
Menurut Andi, ada berapa ciri fisik yang ia kenali dari Sosok Sarip. Salah satu gigi di sebelah kiri Sarip patah.
"Mukanya juga persis begitu, saya sih bisa bilang yakin tapi sebaiknya menunggu kepolisian dulu saja," terangnya.
Andi mengaku mengenal Sarip sejak 3 tahun silam di Masjid At-Taqwa, Cirebon. Namun Sarip tidak pernah masuk dalam organisasi yang dipimpin Andi. Andi juga mengaku ia sering menasehati Sarip, karena pemuda tersebut cenderung tempramental.
"Dia tidak pernah masuk GAPAS. Saya tidak tahu dia punya organisasi atau tidak. Yang jelas dulu kita dekat, karena setiap salat di Masjid ketemu terus," imbuhnya.
Sebelumnya, Mabes Polri telah mengirim sampel darah keluarga M Sarip, terduga pelaku bom bunuh diri di masjid Ad-Zikra, di lingkungan Mapolresta Cirebon. Polri saat ini masih meneliti apakah DNA keluarga dengan DNA jenazah sama.
"Kalau DNA-nya cocok, besok Minggu (hari ini) kira-kira jam 13.00 WIB, kami akan lansir di Mabes Polri," ujar Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam saat dihubungi, Sabtu (16/4).
Anton menjelaskan, Mabes Polri telah membawa sampel darah keluarga M Sarip ke Jakarta. Pernyataan ini sekaligus menepis kabar pihak keluarga M Sarip diboyong ke Jakarta.
"Bukan orangnya, orangnya masih di Cirebon. Kita mau mencocokan dengan jenazah. Kalau cocok, baru mereka boleh melihat dan mengambil jenazahnya di sini," jelas mantan Kapolda Jatim ini.
Sumber data :
http://www.detiknews.com/read/2011/04/17/081614/1619072/10/teman-dekat-yakin-foto-yang-disebar-polisi-adalah-m-sarip?9911022

Ilmu, Fikir Dan Zikir

Memadukan Ilmu, Fikir Dan Zikir

Agama Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu, karena itu Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umatnya agar giat menuntut ilmu dan mendaya­guna­kan akal pikiran dalam menjalani setiap langkah kehidupan serta mengadakan penelitian dan pem­bahasan dalam menemukan pengetahuan guna keperluan hidup dan kehidupan.

Hal itu kita lakukan karena meyakini bahwa ilmu adalah sebagai azas untuk menuju kemajuan dan merupakan tonggak­ bangkitnya peradaban. Perlu dipahami dengan sebaik-baiknya bahwa Islam adalah agama yang menata kehidupan manusia, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Islam adalah agama yang mementingkan keselamatan akhirat, namun tetap menyuruh untuk memperoleh kehidupan yang baik di dunia.

Allah SWT berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Aartinya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS.16 An Nahl : 97).

Untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan pada dua kehidupan tersebut, ajaran Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu, bahkan ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah ayat yang mendorong untuk belajar dalam rangka memperoleh ilmu, sedangkan jalan atau cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah dengan jalan mempergunakan pena dan membaca, yakni tulis baca.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الانسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الانسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. 96 Al-‘Alaq : 1-5).

Allah SWT memuliakan manusia melebihi hewan dengan adanya ilmu yang dimilikinya dan diamalkannya dalam menata hidup dan kehidupannya. Jadi, ilmu itu merupakan sifat khas manusia, yang apabila kehidupan manusia tidak didasari ilmu, niscaya tercabutlah sifat kemanusiaan dari dirinya, dan ilmu pengetahuan adalah merupakan sarana untuk meningkatkan kehidupan dari alam hayawani menjadi alam insani, bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk hormat kepada Adam disebabkan karena Adam a.s. mempunyai kelebihan berupa ilmu tentang nama-nama yang telah diajarkan Allah kepadanya.

Antara ilmu, fikir, dan dzikir harus ada perpaduan, yang direalisasikan dalam bentuk amalan kehidupan yang nyata guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لاوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. 3 Ali Imram : 190-191).

Dari firman Allah tersebut dapat diambil pemahaman bahwa fikir dan dzikir merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam memperkokoh iman kepada Allah SWT. Dalam hal ini kita hanya dibolehkan merenungkan dan memikirkan tentang fenomena alam semesta dan tentang ciptaan Allah terhadap diri kita sendiri, sedangkan mengenai Zat Allah tidak dibenarkan untuk merenung dan memikirkannya.

Rasulullah SAW bersabda : artinya : “Berfikirlah tentang makhluk Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Zat-Nya niscaya kamu akan binasa karenanya” (Al-Hadits).

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa zikir dan fikir haruslah beroreantasi untuk memperkokoh Tauhid Rububiyah maupun Tauhid ‘Uluhiyah kita, yaitu tauhid yang melahirkan pemahaman tentang kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya, dan tauhid yang melahirkan amalan berupa ibadah kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam berbagai bentuk ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lainnya.

Sebenarnya yang paling inti di dalam ajaran Islam itu adalah Tauhid Uluhiyah, yang merupakan ajaran yang dibawa oleh para Nabi terdahulu, yaitu seruan untuk menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dari makhluk-Nya. Sebab kalau hanya Tauhid Rububiyah saja, kaum musyrikin di Makkah pun bertauhid secara Tauhid Rububiyah, karena sebenarnya mereka-pun mengakui Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, namun mereka tetap menyembah berhala, dengan alasan bahwa berhala-berhala itu yang menjadi perentara bagi mereka untuk sampai kepada Allah. Bahkan Iblis pun mengakui Allah sebagai pencipta dirinya sendiri, namun Iblis enggan tunduk melakukan perintah Allah pada saat diperintahkan Allah untuk memberi hormat kepada Adam.

Karena itu marilah kita padukan antara ilmu, fikir, dan dzikir dalam meningkatkan kualitas iman dan kuali­tas ibadah kita kepada Allah SWT. Ilmu merupakan lampu penerang bagi setiap muslim dalam menjalani hidup dan kehidupannya agar tidak salah dalam mengerjakan dan mengamalkan perintah Allah, sedangkan fikir me­ru­pakan penjernihan akal dan jiwa untuk mengakui kebesaran Allah dan memahami kelemahan diri kita, se­da­ngkan dzikir mengarahkan hati kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbagai macam be­n­tuk kegiatan yang bersifat ibadah.

Ibadah inilah sebenarnya menjadi fokus utama kehadiran kita di muka bumi ini, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Adz Dzariyaat : 56 :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
Artinya :“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”.

Mari kita jadikan firman Allah tersebut sebagai petunjuk dan pedoman utama dalam melaksanakan seluruh pengabdian kita kepada Allah SWT dan menjadikannya sebagai dasar setiap amal yang kita lakukan, yang intinya ialah ikhlas semata-mata karena untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Mari kita jadikan ilmu sebagai pelita dalam melalui jalan kehidupan yang penuh dengan rintangan, dan kita jadikan fikir dan dzikir sebagai penjernih jiwa dan pikiran dalam menempuh berbagai macam tantangan. Dengan demikian insya Allah kita akan mampu mengadakan pilihan dan ikhtiar untuk menentukan sikap dalam melaksanakan kewajiban dan amanat yang dipikulkan kepada kita.

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Sabtu, 16 April 2011

Jangan Tinggalkan Shalat Walau Di Perjalanan


MENJAMA’ SHALAT
Pelaksanaan shalat bagi ummat islam adalah merupakan ibadah pokok, dalam kondisi apapun seseorang itu, namun ibadah shalat tidak boleh ditinggalkan. Bagi orang yang sedang dalam keadaan sakit yang tidak mempu melaksanakan shalat dengan berdiri, dibenarkan melaksanakannya dengan duduk. Dalam keadaan yang lebih sulit lagi shalat boleh dilaksanakan dengan berbaring, bahkan dengan isyarat sekalipun, namun shalat tidak boleh ditinggalkan. Demikian pula bagi orang yang sedang musafir, tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Namun dalam syari’at islam diberikan kelonggaran bagi ummat islam yang sedang musafir tersebut melaksanakan shalat dengan cara mengqoshor atau menjamaknya. Mengqoshor maksudnya adalah shalat wajib yang jumlah raka’atnya empat raka’at (zhuhur, ashar dan isya’), boleh dilaksanakan dengan dua raka’at. Apabila dalam posisi yang lebih sempit lagi boleh menjama’ shalat tersebut, maksudnya menyatukan dua waktu shalat pada waktu shalat yang lain. 
Menjama’ shalat itu dapat dilakukan dengan dua cara:
Pertama : Jama’ Taqdim.
Yaitu, shalat ashar dikerjakan pada waktu zuhur atau shalat isya’ dikerjakan pada waktu maghrib. Cara menjama’ shalat seperti ini disebut jama’ taqdim, sebab shalat ashar dan isya’ yang belum masuk waktunya sudah dikerjakan pada waktu shalat sebelumnya ( yaitu setelah shalat zhuhur dan maghrib ).
Cara pelaksanaannya adalah: Setelah masuk waktu zhuhur, terlebih dahulu dilaksanakan shalat zhuhur, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat ashar. Demikian pula dengan shalat maghrib dan isya’, dengan cara: Pada saat setelah masuk waktu maghrib, terlebih dahulu dilaksanakan shalat maghrib, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat isya’.
Kedua : Jama’ Ta’khir.
Yaitu, shalat zuhur dikerjakan pada waktu ashar atau shalat maghrib  dikerjakan pada waktu isya’. Cara menjama’ shalat seperti ini disebut jama’ ta’khir, sebab shalat zhuhur dan maghrib yang sudah masuk waktunya tidak dikerjakan pada saat itu, tetapi diakhirkan pelaksanaannya pada waktu masuk waktu shalat berikutnya. Yaitu waktu shalat ashar dan isya’.
Cara pelaksanaannya adalah: Setelah masuk waktu ashar, terlebih dahulu dikerjakan shalat zhuhur, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat ashar. Demikian pula dengan shalat maghrib dan isya’, dengan cara: terlebih dahulu dikerjakan shalat maghrib, kemudian selesai salam langsung melaksanakan shalat isya’.
Dalam hal menjama’ shalat ini, ada hal lain yang perlu diketahui, yaitu:
  1. Shalat yang dapat dijama’ adalah shalat zhuhur dengan ashar dan shalat maghrib dengan isya’.
  2. Baik menjama’ shalat dengan jama’ taqdim maupun dengan jama’ ta’khir, ada dua pilihan lain dalam pelaksanaannya, yaitu: Menjama’ shalat dengan mengqoshor/memendekkan shalat yang empat raka’at menjadi dua raka’at, atau tetap menyempurnakan empat raka’at bagi shalat yang jumlah raka’atnya empat raka’at. Misalnya, seseorang yang akan menjama’ shalat zhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir, dia dapat melaksanakan shalat zhuhur dan ashar masing-masing empat raka’at, atau shalat maghrib dengan shalat isya’ dengan menyempurnakan jumlah raka’at shalat isya’ dengan empat raka’at. Hal yang demikian disebut menjama’ shalat dengan menyempurnakan jumlah raka’atnya. Tetapi bisa juga seseorang menjama’ shalat zhuhur dengan shalat ashar, baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir, dia dapat melaksanakan shalat zhuhur dan ashar masing-masing dua raka’at, atau shalat maghrib dengan shalat isya’ dengan mengqoshor shalat isya’ menjadi dua raka’at. Hal yang demikian disebut menjama’ shalat dengan jama’ qoshor.
  3. Menjama’ shalat dengan jama’ taqdim atau dengan jama’ ta’khir dapat dilaksanakan dengan sendirian atau berjama’ah. Tetapi dengan berjama’ah tentu lebih baik atau lebih afdhal.