Rabu, 27 April 2011

Orang yang Dinyatakan Rasul Sebagai Penghuni Surga

Penghuni Surga
Suatu ketika Nabi Muhammad saw. duduk di masjid berbincang-bincang dengan sahabatnya. Tiba-tiba beliau bersabda: “ sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari”. Semua mata tertuju ke pintu masjid dan pikiran para hadirin membayangkan seorang yang luar biasa. “Penghuni surga, penghuni surga,” demikian gumam mereka.
Beberapa saat kemudian masuklah seseorang dengan air wudhu’ yang masih membasahi wajahnya dan dengan tangan menjinjing sepasang alas kaki. Apa gerangan keistimewaan orang itu sehingga mendapat jaminan surga?. Tidak seorang pun yang berani bertanya walau seluruh hadirin merindukan jawabannya.
Keesokan harinya peristiwa di atas terulang kembali. Ucapan Nabi dan “si penghuni” surga dengan keadaan yang sama semuanya terulang, bahkan pada hari ketiga pun terjadi hal yang demikian.
Abdullah ibnu ‘Amr tidak tahan lagi, meskipun ia tidak berani bertanya dan khawatir jangan sampai ia mendapat jawaban yang tidak memuaskannya. Maka timbullah sesuatu dalam benaknya. Dia mendatangi si penghuni surga sambil berkata: Saudara…………!, telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan orang tuaku, dapatkah aku menumpang di rumah anda selama tiga hari?.
Tentu, tentu……, jawab si penghuni surga.
Rupanya, Abdullah bermaksud melihat secara langsung “amalan” si penghuni surga.
Tiga hari tiga malam ia memperhatikan, mengamati bahkan mengintip si penghuni surga, tetapi tidak ada sesuatupun yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus yang dilakukan si penghuni surga. Tidak ada shalat malam, tidak pula puasa sunnah. Ia bahkan tidur dengan nyenyaknya hingga beberapa saat sebelum fajar. Memang sesekali ia terbangun dan ketika itu terdengar ia menyebut nama Allah di pembaringannya, tetapi sejenak saja dan tidurnya pun berlanjut.
Pada siang hari si penghuni surga bekerja dengan tekun, Ia ke pasar, sebagaimana halnya semua orang yang ke pasar. “Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau yang tidak sempat kulihat. Aku harus berterus terang kepadanya,” demikian pikir Abdullah.
Apakah yang anda perbuat sehingga anda mendapat jaminan surga? tanya Abdullah.
Apa yang anda lihat ituah! Jawab si penghuni surga.
Dengan kecewa Abdullah bermaksud kembali saja ke rumah, tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata: “ Apa yang anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu saya tidak pernah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Tidak pernah pula saya melakukan penipuan dalam segala aktivitas saya”.
Dengan menundukkan kepala Abdullah meninggalkan si penghuni surga sambil berkata: “Rumanya yang demikian itulah yang menjadikan Anda mendapat jaminan surga”.
Kisah di atas di sadur dari buku Faidh Al-Nubuwah. Petunjuknya demikian jelas, sehingga tidak perlu rasanya diberi komentar guna menjadi pelita hati. Saya hanya berkata: Astaghfirullah, mampukah kita mengikuti jejaknya…..? Wallahu A’lam.
Sember : Lentera Hati, M.Quraish Shihab.

Selasa, 26 April 2011

Tilawah Al-Qur'an Oleh: Syaikh Musthafa Ismail

Bacaan Al-Qur'an Oleh: Syaikh Musthafa Ismail, Qori' Mesir.

Semut, Laba-Laba dan Lebah


Semut, Laba-Laba dan Lebah
Tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an, yaitu An-Naml (semut), Al-‘Ankabut (laba-laba), dan An-Nahl (lebah).
Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga dia berusaha dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.
Dalam surah An-Naml antara lain diuraikan sikap Fir’aun, juga Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia baik sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.
Lain lagi uraian Al-Qur’an tetntang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh.
وَإِنَّ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ …………………
Artinya: …………….. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui).
Namun ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari jenis binatang ini.
Akan halnya lebah, memiliki insting yang dalam bahasa Al-Qur’an “ atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal”.
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Artinya :”Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia".
Sarngnya dibuat berbentuk segi enam bukan lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah saripati kembang dan tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya. Lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lilin digunakan untuk penerang dan madu menurut Al-Qur’an dapat menjadi obat yang menyembuhkan.
ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya :” kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan".(Surah An-Nahl:69).
Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mau mengganggu kecuali dia diganggu, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.
Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia yang hidupnya “berbudaya semut”, yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu tanpa mengolahnya, dan memnumpuk materi atau makanan tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya. Budaya semut adalah budaya menumpuk yang disuburkan oleh budaya mumpung. Tidak sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung dari budaya ini yang mengundang hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukum indah untuk dipandang dan bermanfa’at untuk digunakan. Dapat dipastikan  bahwa dalam masyarakat kita, banyak sekali semut-semut yang berkeliaran.
Entah berapa banyak pula jumlah laba-laba yang berkeliaran disekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagu butuh berpikir apa, di manan dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah siapa lagi yang mereka jadikan mangsa.
Nabi saw. mengibaratkan kehidupan Mukmin seperti lebah, sesuatu yang tidak merusak dan tidak pula menyakiti bila tidak disakiti, tidak memakan sesuatu kecuali yang baik-baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfa’at dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.
Dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba?.
Sember : Lentera Hati, M.Quraish Shihab.

Senin, 25 April 2011

Indikasi Orang-Orang Yang Memakmurkan Masjid


Indikasi Orang-Orang Yang Memakmurkan Masjid
Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti
Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 18:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Artinya: “Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk“.
Dari firman Allah di atas dapat dipahami bahwa ada lima indikasi orang-orang yang memakmurkan Masjid.
Pertama: Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah. Orang yang beriman kepada Allah hatinya selalu terkait untuk senantiasa mengingat Allah, salah satu upaya untuk mengingat Allah adalah mendirikan shalat. Mendirikan shalat sangat dianjurkan untuk berjama’ah dan pelaksanaan shalat berjama’ah yang paling afdhal (terutama untuk kaum laki-laki ) adalah di Masjid. Oleh karena itu wajarlah kalau orang-orang yang beriman kepada Allah selalu berupaya untuk memakmurkan Masjid, sebab di Masjid banyak terdapat kebaikan.
Kedua: Orang-orang yang hidupnya selalu beroriantasi kepada kehidupa akhirat, sebab melalui imannya kepada Allah dia percaya akan adanya kehidupan akhirat. Oleh sebab itu dia senantiasa mempersiapkan diri untuk kebahagiaannya di akhirat kelak, dan tidak menyia-nyiakan hidupnya untuk kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfa’at, apalagi merugikannya di akhirat kelak.
Ketiga: Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat. Orang yang beriman selalu menyadari bahwa ibadah shalat adalah merupakan ibadah yang utama. Dalam sebuah hadits dinyatakan, ibadah yang pertamasekali dihisab/dihitung oleh Allah SWT adalah ibadah shalat. Apabila ibadah shalatnya baik maka ibadah yang lain ikut menjadi baik, dan apabila ibadah shalatnya tidak baik maka ibadah yang lainpun dipandang tidak baik. Demikian pemahaman dari hadits Nabi Muhammad SAW.
Keempat: Mereka adalah orang-orang yang mau mengeluarkan zakat. Orang yang beriman sesungguhnya menyadari bahwa sebagian rezki yang diberikan Allah disana ada hak-hak orang lain. Oleh sebab itu, setiap kali dia  memperoleh rezki, dia ingin berbagi rasa dengan orang lain. Maka dia keluarkan zakatnya, atau andaipun harta yang dia dapatkan tidak sampai kepada kewajiban untuk dizakati, setidaknya dia keluarkan sebagai sedekah sunnah untuk berbagi rasa dengan orang lain.
Kelima: Mereka adalah orang-orang yang hanya takut kepada Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah, percaya kepada adanya kehidupan akhirat, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat tentu tidak ada yang mereka takutkan dalam hidupnya kecuali hanya takut kepada Allah. Sebab itu, dia senantiasa berupaya untuk membina jati diri yang sesungguhnya agar ia menjadi orang-orang yang bertakwa di sisi Allah SWT. Untuk itu hidupnya selalu diwarnai dengan sikap tunduk dan patuh kepada segenap hukum-hukum Allah dengan prinsip, siap melaksanakan perintah Allah, dan siap meninggalkan segala yang dilarangNya.
Semoga lima indikasi yang telah dikemukakan di atas dapat melekat dalam kehidupan kita sehari-hari, dengan demikian kita berharap bahwa kita termasuk orang-orang yang dapat memakmurkan Masjid, dan dengan memakmurkan Masjid kita juga berharap Allah akan memberikan ridhaNya kepada kita. Dengan memiliki indikasi tersebut kita juga berharap Allah akan senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita.

Minggu, 24 April 2011

Mewariskan Kebaikan

Mewariskan Kebaikan

Manusia sebagai makhluk tertinggi dari ciptaan Allah, haruslah menjalankan tugas dan amanat kekhalifahannya di bumi ini dengan baik. Hidup tidak boleh dimaknai hanya sebagai anugerah,  tetapi juga amanah yang menuntut tugas dan tanggung jawab.
Manusia harus bekerja keras agar mampu mewariskan kebaikan yang besar bagi umat manusia. Bahkan kalau bisa, harus lebih besar ketimbang usia yang diberikan Allah kepadanya. Dalam memaknai pekerjaan yang dilakukan, manusia memiliki pemahaman yang beragam dan berbeda-beda. Sekurang-kurangnya, ada empat tingkatan dalam masalah ini.
Pertama, orang yang bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Ia memaknai pekerjaannya sekadar mencari makan dan kebutuhan hidup. Motif utama pekerjaannya adalah fisik-material. Gambaran seperti ini merupakan fenomena kebanyakan orang.
Kedua, orang yang bekerja untuk memperluas pergaulan. Ia memaknai pekerjaannya tidak hanya sekedar mencari harta, tetapi untuk memperbanyak pergaulan dan pertemanan. Motif utama pekerjaannya adalah relasi-sosial, silaturrahmi, atau komunikasi antar sesama manusia. Orang yang seperti ini biasanya memiliki pergaulan yang luas dan memiliki banyak teman.
Ketiga, orang yang bekerja untuk belajar. Ia memaknai pekerjaannya sebagai wahana mencari ilmu, menambah pengalaman, dan menguji kemampuan. Jadi, berbeda dengan kedua orang sebelumnya, motif utama kerja orang ketiga ini adalah intelektual.
Keempat, orang yang bekerja untuk berbagi kenikmatan dan mewariskan kebaikan sebesar-besarnya kepada orang lain. Ia memaknai pekerjaannya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Motif utama pekerjaannya adalah rohani (spiritual). Firman Allah dalam surat Az-Zariyat ayat 56.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالانسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
"Dan, aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Orang keempat inilah orang yang terbaik seperti yang terungkap dalam sabda nabi Muhammad SAW, artinya : “Manusia yang terbaik adalah manuisa yang paling banyak manfa’atnya untuk orang lain". (HR Thabrani dari Jabir).
Manfa’at itu berbentuk ihsan, yakni kemampuan untuk berbagi kebaikan kepada orang lain, baik melalui harta maupun kekuasaan yang di miliki. Manfa’at itu juga bisa juga berupa sesuatu yang bersifat duniawi, seperti bantuan dalam bentuk material, atau berupa sesuatu yang bernilai agama (ukhrawi), seperti ilmu, pemikiran, dan ajaran yang mencerahkan dan membawa manusia kepada kebaikan.

Bahkan
, warisan dalam wujud yang kedua ini dianggap lebih mulia dibanding yang pertama. Mengapa? Sebab, yang kedua ini mendatangkan manfa’at lebih besar bagi manusia, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Wallahu a'lam.

Sabtu, 23 April 2011

Orang Yang Akan Diganti Allah Fasilitas Dunianya dengan Syurga

Orang-Orang Yang Akan Diganti Allah
Fasilitas Dunianya Dengan Syurga

Memiliki pasangan yang ideal, anak-anak yang dapat dibanggakan, harta kekayaan yang berlimpah, alat transport yang memadai, peternakan yang berkembang, sawah-ladang yang menghasilkan, adalah merupakan faktor-faktor yang dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kesenangan di dunia. Hal ini tidak hanya diakui oleh manusia, tetapi Allah juga mengakui hal tersebut. Seperti yang difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 14.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) “.
Namun perlu disadari bahwa, kendatipun ke enam faktor tersebut dapat memberikan kesenangan, itu hanyalah kesenangan dunia semata. Oleh karena itu, Allah mengingatkan bahwa ada yang lebih baik lagi di sisi Allah. Yaitu, bagi orang-orang yang menggunakan fasilitas dunia yang dia miliki sebagai sarana untuk mencapai prediket taqwa di sisi Allah, maka Allah akan mengganti fasilitas dunianya dengan fasilitas akhirat dalam bentuk syurga yang penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan, dan puncak kebahagiaan yang akan dirasakan adalah keridhaan Allah yang mereka dapatkan. Hal ini termuat dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 15.
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Artinya: “Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya “.
Karena itu, seyogianya-lah seorang mukmin selalu berupaya dalam hidupnya agar dapat menggunakan sesuatu yang dia miliki sebagai sarana untuk mencapai gelar muttaqin di sisi Allah SWT.
Adapun indikasi orang-orang yang fasilitas dunianya akan diganti oleh Allah dengan fasilitas akhirat, seperti yang tercantum dalam firman Allah pada surat Ali Imran ayat 16-17:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٦﴾ الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ ﴿١٧﴾
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang berdo`a: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta`at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur “.
Sebagaimana makna ayat di atas, maka dapat di simpulkan ada enam indikasi orang-orang yang akan diganti Allah fasilitas dunianya dengan fasilitas akhirat:
  1. Mereka adalah orang-orang yang menyatakan keimanannya kepada Allah, namun dalam keimanan kepada Allah, merekapun menyadari tentu banyak kesalahan dalam kehidupan ini, karena itu mereka berdoa kepada Allah agar diberi ampunan dan di hindarkan dari azab neraka.
  2. Mereka adalah orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala cobaan yang dihadapi.
  3. Mereka adalah orang-orang yang selalu benar dalam kehidupannya, benar dalam ucapan maupun benar dalam segala tindakan.
  4. Mereka adalah orang-orang yang melestarikan dan menabur nilai-nilai kebaikan dan ketaqwaan dalam kehidupannya.
  5. Mereka adalah orang-orang yang mau medermakan sebagian hartanya untuk menegakkan agama Allah.
  6. Mereka adalah orang-orang yang selalu memohon ampunan Allah di penghujung malam, baik dalam melaksanakan shalat tahajjud, bermunajat kepada Allah atau melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.
Semoga kita termasuk orang-orang  yang akan diganti Allah fasilitas yang kita miliki di dunia ini dengan fasilitas Syurga.
امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ