Rabu, 11 Mei 2011

Indahnya Hidup Bermasyarakat Dengan Berzakat


Indahnya Hidup Bermasyarakat Dengan Berzakat
Dalam kehidupan di masyarakat, strata manusia secara umum terbagi kepada dua keadaan, yaitu Kaya dan Miskin. Kaya dan miskin sepertinya menjadi dua sisi yang berseberangan dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Sebutan kaya tentu tidak aka ada kalau tidak ada yang miskin, demikian pula sebaliknya.
Dalam keadaan yang demikian, dimana sebenarnya posisi Islam sebagai agama yang ajarannya membawa rahmat untuk sekalian alam?. Jawabannya adalah, bahwa Islam berada diantara keduanya. Artinya Islam tidak pernah melarang seseorang menjadi orang kaya, disisi lain Islam juga sangat peduli terhadap orang-orang miskin. Penyeimbangan posisi antara si kaya dan si miskin inilah salah satu missi diturunkannya agama Islam, yang bertujuan untuk menata kehidupan manusia dalam bermasyarakat agar bagaimanapun terjadi kesenjangan sosial ditengah-tengah kehidupan masyarakat, kecemburuan sosial tidak akan terjadi.
Nabi Muhammad SAW. sebagai teladan utama yang menjadi sumber panutan yang terbaik bagi para pengikutnya, memposisikan dirinya untuk akrab dengan orang-orang kaya dan orang-orang miskin.
Kaya dan miskin adalah strata kehidupan yang secara otomatis akan timbul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Untuk menjaga kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat tersebut, tentu tidak boleh dibiarkan masing-masing berposisi di tempat yang saling terpisah dan berjauhan. Itulah sebabnya Allah SWT. menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa di dalam harta orang kaya terdapat bagian yang menjadi hak orang lain ( yaitu orang-orang miskin ). Untuk itu hak-hak mereka harus dikeluarkan dengan cara-cara yang baik dan benar sesuai dengan ketetapan yang telah di syari’atkan oleh Allah SWT. Dalam hal ini adalah berzakat, berinfaq dan bersedekah.
Firman Allah dalam surat Al-Ma’arij 24-25 :
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ ﴿٢٤﴾ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿٢٥﴾
Artinya: “…….dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), “.
Dengan dikeluarkannya zakat dari harta yang dimiliki oleh orang yang kaya, itu berarti bahwa  hartanya telah dibersihkan dari daki-daki kekufuran dan ia terhindar dari memakan atau mengambil hak orang lain. Sementara si miskin akan terangkat harkatnya karena adanya perhatian dari saudaranya yang kaya, namun tidak boleh hidup berpangku tangan dan bermalas-malasan. Bila demikian yang terjadi di masyarakat, maka dalam kehidupan masyarakat tersebut akan tercipta kehidupan yang penuh dengan kasih sayang, sebab dihati orang yang kaya tentu tidak ada lagi kesombongan dan di hati orang yang miskin tidak ada kedengkian dan kebencian, hidup mereka akan terasa aman, nyaman, tentram, dan damai.
Oleh sebab itu berzakat, berinfaq dan bersedekah memang harus benar-benar membudaya di masyarakat, kuncinya tidak lain adalah bahwa di hati mereka-mereka yang memiliki harta memang harus ada semangat untuk berzakat atau bersedekah.
Semoga masyarakat seperti ini tercipta di tengah-tengah kehidupan kita…………….!

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Selasa, 10 Mei 2011

Kemunkaran Musuh Kita Bersama

Kemunkaran Musuh Kita Bersama
Tugas besar dalam dakwah Islam adalah melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, maksudnya mengajak ummat untuk berbuat kebaikan dan mencegah manusia dari berbuat yang munkar. Mengajak kepada kebaikan sesungguhnya lebih mudah daripada mencegah kemunkaran, sebab mencegah kemunkaran akan lebih menghadapi resiko dibandingkan melaksanakan Amar Ma’ruf. Perlu disadari bahwa kemunkaran itu sendiri adalah merupakan produk dari tingkahlaku manusia yang berasal dari kesuksesan syaitan dalam membujuk hati dan pikiran manusia.
Tatkala keimanan dan nilai-nilai moral pada diri seseorang begitu lemah maka bisikan sesat “ sang penggagas” kemunkaran pun merasuk menguasai dirinya, yang mendorong orang menjadi fasiq. Kebiasaan berbuat munkar adalah menjadi bagian  dari cara hidup orang-orang munafiq. Allah menjelaskan tentang hal ini dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 67:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik “.
Terhadap orang-orang munafiq ini Allah mengingatkan akan siksanya kelak di akhirat, seperti firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 68:
وَعَدَ الله الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
Artinya: “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal “.
Berbuat munkar adalah merupakan potensi riel dalam kehidupan setiap manusia. Hanya seberapa mampu seseorang melakukan pengendalian diri untuk mencegah dan menahan diri  dari perbuatan munkar tersebut, tentu terpulang kepada kemampuan manusia menguasai dirinya sendiri. Untuk itu, Allah memerintahkan manusia untuk mendirikan shalat, sebab diantara hikmahnya adalah mempu mencegah manusia dari berbuat keji dan munkar. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 45:
وَأَقِمِ الصَّلَوةَ إِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ .....................
Artinya: “ ..........  dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.  “.
Perhatikan pula nasshat Luqman kepada anaknya, nasehat tersebut diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 17:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الامُورِ
Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) “.
Pada saat seseorang mampu mengendalikan diri, itu adalah indikasi bahwa dia bisa terhindar dari pebuatan keji dan munkar, dan manakala perbuatan keji dan munkar sudah dapat dicegah maka kehidupan manusia baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar akan merasakan ketentraman, kedamaian dan keamanan, dan itu adalah dambaan semua orang.
Semoga kita mampu mencegah kemunkaran dari diri kita dan dari kehidupan masyarakat.

Senin, 09 Mei 2011

Jalan Menuju Kebahagiaan

Jalan Menuju Kebahagiaan
Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq: 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الانسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الاكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الانسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “.

Dalam pandangan Islam, untuk mendapatkan kebahagiaan ada tiga pengenalan pokok yang harus diketahui oleh manusia. Hal itu berangkat dari firman Allah di atas, yaitu:
  1. Pengenalan manusia kepada Allah. 
  2. Pengenalan manusia kepada dirinya sendiri. 
  3. Pengenalan manusia kepada ilmu pengetahuan dan alam lingkungannya.
Pengenalan Manusia Kepada Allah.
Seseorang yang tidak mengenal Allah akan mendapatkan akibat:
  1. Hidupnya akan dilanda kesengsaraan. 
  2. Hidupnya akan dikendalikan syaitan. 
  3. Hidupnya akan seperti hewan.
Jalan untuk mengenal Allah antara lain adalah:
  1. Mengenal adanya Allah. 
  2. Mengenal akan keesaanNya.
  3. Mengenal akan sifat-sifatNya. 
  4. Mengenal nama-namanNya. 
  5. Mengenal hukum-hukumNya.
Pengenalan Manusia Kepada Dirinya Sendiri:
Manusia yang tidak mengenal dirinya adalah:
  1. Manusia yang sedang tidur dan yang sedang pingsan. 
  2. Manusia yang sedang mabuk, baik mabuk yang disengaja maupun yang tidak disengaja. 
  3. Manusia yang gila.
Adapun yang harus dikenal manusia tentang dirinya adalah:
  1. Struktur tubuhnya: Sebagai makhluk terindah dari ciptaan Allah. 
  2. Statusnya di bumi ini:  Sebagai hamba Allah. 
  3. Martabatnya: Lebih mulia dari makhluk yang lain. Hal ini akan tercapai apabila manusia itu tetap beriman dan beribadah kepada Allah. 
  4. Sifat-sifatnya: Harus memiliki sifat-sifat yang terpuji. 
  5. Fitrahnya: Percaya akan adanya Tuhan. 
  6. Fungsinya: Sebagai Khalifah Allah. 
  7. Identitasnya: Sebagai ummat Islam. 
  8. Musuhnya: Hawa nafsu, syaitan, orang-orang kafir yang berupaya menariknya kepada kemusyrikan. 
  9. Teman hdupnya: Secara khusus adalah sesama ummat Islam. 
  10. Nasibnya: Ada yang baik dan ada yang buruk. 
  11. Tanggung jawabnya: Kepada dirinya sendiri, kepada keluarga dan kepada masyarakat.
  12. Perjalanan hidupnya: Menuju negeri akhirat. 
  13. Ciri khasnya: Hendaknya selalu beribadah.
Yang Perlu Diketahu Manusia Tentang Alam.
  1. Alam adalah ciptaan Allah: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-An’am: 73: “وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ وَيَوْمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّوَرِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ “. Artinya: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui “. 
  2. Alam diciptakan Allah dengan ukuran tertentu: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qomar: 49:  إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ   Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran“. 
  3. Alam diciptakan Allah dengan hukum perimbangan: Firman Allah dalam surat Ar-Rahman: 7-8:  وَالسَّمَاء رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ  Artinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu“. 
  4. Alam diciptakan Allah dengan hukum sebab akibat: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi: 84:  إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الارْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَباً  Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu “. 
  5. Alam diciptakan Allah untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk kebahagiaan hidupnya: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Luqman: 20: أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الارْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلا هُدًى وَلا كِتَابٍ مُّنِيرٍ Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan“.
Dengan memiliki pemahaman seperti yang telah dikemukakan di atas, insya Allah seseorang akan memperolah kebahagiaan dalam hidupnya. Untuk itu mari kita terapkan hal tersebut dalam kehidupan kita, semoga kita bahagia di dunia dan akhirat.




















Minggu, 08 Mei 2011

Tausiyah Hari Ini : Tangisan Isam Bin Yusuf


Tangisan Isam Bin Yusuf
Dikisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat wara’ dan sangat khusyu’ dalam shalatnya. Namun demikian dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang baik, karena itu ia selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih baik ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasanya kurang khusyu’ saat melaksanakan shalat.
Pada suatu hari Isam bin Yusuf menghadiri majlis/pengajian seorang ‘abid (yang tekun beribadah), bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: "Wahai Aba Abdurrahman (Nama panggilan untuk Hatim), bagaimanakah caranya tuan melaksanakan shalat?"
Hatim berkata: "Apabila masuk waktu shalat, aku berwudhuk secara lahir dan batin."
Isam bertanya: "Bagaimana wudhuk batin itu?"    
Jawab Hatim: "Wuduk lahir adalah sebagaimana yang biasa dilakukan dengan membasuh semua anggota wudhuk dan menyempurnakannya dengan melaksanakan segala yang di sunnatkan dalam berwudhuk. Sementara wudhuk secara batin ialah dengan tujuh perkara:   
  1. Bertaubat.    
  2. Menyesali segala dosa yang pernah dilakukan.    
  3. Tidak tergila-gila akan kehidupan dunia.    
  4. Tidak mencari atau mengharapkan pujian dari manusia    
  5. Meninggalkan sifat bermegah-megahan dalam kehidupan.    
  6. Meninggalkan sifat khianat dan menipu.    
  7. Meninggalkan sifat dengki.   
Selanjutnya Hatim berkata: "Kemudian aku pergi ke Masjid, kusiapkan diriku lahir dan batin dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kerendahan hati dan aku rasakan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku. Dan kubayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian Shiratol Mustaqim' dan aku menganggap bahwa shalatku kali ini adalah shalat yang terakhir bagiku (kerana aku rasa akan mati selepas shalat ini), kemudian aku bertakbir dan berniat dengan baik. Setiap bacaan dan do’a dalam shalat  kufahami dan kuresapi maknanya, kemudian aku ruku’ dan sujud dengan tawadhuk (merasa rendah), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku laksanakan shalat dengan seikhlas-ikhlashnya. Demikianlah cara shalat yang aku laksanakan selama 30 tahun.
Setelah Isam mendengar penuturan dari Hatim Al-Asam menangislah ia sekuat-kuatnya kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.
Subhanallah…………….! Sedemikian rupa sikap yang ditunjukkan Isam dalam upaya untuk menjadikan shalat yang baik dalam kehidupannya, sehingga ia menangis tersede-sedu karena merasa ibadah shalat yang ia lakukan selama ini belum ada apa-apanya bila ia bandingkan dengan yang dilaksanakan Hatim.
Bagaimana dengan shalat kita………………..?. Semoga kita mampu meningkatkan kwalitas shalat kita.
Ya Allah, jadikanlah kami dan generasi kami menjadi hamba-hambaMu yang senantiasa dapat mendirikan shalat dengan baik dan khusyu’. Dengan serba kekurangan yang ada dalam shalat yang kami laksanakan, kami tetap berharap kepadaMu terimalah ibadah kami, terutama ibadah shalat. Bukakanlah pintu hati kami agar kami selalu termotivasi untuk melakukan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan kami. Ampunkanlah segala kesalahan kami dan kesalahan ibu-bapa kami, dan ampunkan juga saudara-saudara kami sesama ummat islam. Ya Allah, kami yakin dengan ampunan dan ridha yang Engkau berikan kepada kami, tentu kami punya bekal untuk menghadap kehadhiratMu.


Sabtu, 07 Mei 2011

Menggapai Ampunan Allah Untuk Mencapai Surga

Menggapai Ampunan Allah Untuk Mencapai Surga
Al-Qur’an sebagai kitab suci ummat Islam berisikan janji dan ancaman. Janji maksudnya adalah, terhadap orang-orang yang dalam hidupnya senantiasa melakukan nilai-nilai kebajikan, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Ancaman maksudnya, terhadap orang-orang yang senantiasa berbuat dosa akan dimasukkan Allah ke dalam neraka yang amat menyakitkan.
Orang-orang yang bertakwa selalu berupaya untuk mendapatkan ampunan Allah dan berharap surga yang dijanjikanNya, karena itu mereka selalu memohon ampun kepada Allah akan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
Sekurang-kurangnya ada empat indikasi bagi orang-orang yang akan mendapatkan ampunan Allah dan surgaNya.
Pertama : Mereka adalah orang-orang yang dalam hidupnya selalu ingin berbagi rasa dengan orang lain. Maksudnya, apabila ia memperoleh rezki dari Allah, dia sadar bahwa di dalam harta yang ia miliki ada hak-hak orang lain, karena itu ia selalu ingin berbagi rasa dengan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan cara mengeluarkan sedekah wajib dalam bentuk zakat atau memberikan sedekah sunnat.
Kedua : Orang-orang yang mampu mengendalikan emosional. Setiap manusia pada suatu saat pasti akan mengalami goncangan hidup yang dapat menimbulkan emosi. Namun bagi orang-orang yang bertakwa tentu menyadari bahwa emosi yang timbul tidak harus diperturutkan, tetapi harus dikendalikan, sikap seperti ini merupakan sikap yang baik dan terpuji dalam pandangan Allah. Bahkan Nabi Muhammad menyatakan, “orang yang kuat itu bukanlah orang yang hanya sekedar sanggup mambanting musuhnya ke tanah, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang sanggup mengendalikan emosinya”. Demikaian kira-kira maksud dari hadist Nabi.
Ketiga : Orang yang suka memberi ma’af atas kesalahan orang lain. Mema’afkan kesalahan orang lain pada saat setelah ia meminta ma’af adalah suatu kebaikan yang besar nilainya di sisi Allah. Tetapi akan lebih besar lagi nilainya manakala ia mampu mema’afkan orang, sebelum orang tersebut meminta ma’af kepadanya. Dalam hal memberi ma’af, Nabi Muhammad adalah sosok yang pantas dijadikan teladan.
Keempat : Orang-orang yang menyadari akan kesalahan yang pernah dia lakukan, untuk selanjutnya ia bertaubat memohon ampunan Allah dan dia berjanji tidak akan mengulangi kembali perbuatan yang mendatangkan dosa. Sikap orang yang seperti ini sangat disenangi Allah, dan Allah menyukai orang-orang yang mau bertaubat.
Empat indikasi bagi orang-orang yang akan mendapatkan ampunan Allah dan surgaNya, terangkum dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133-135.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٣٥﴾
Artinya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui“.
Terhadap mereka-mereka yang memiliki indikasi tersebut dalam kehidupannya, Allah menjanjikan untuk mereka keampunan dan surga, sebagimana firman Allah dalam surat Ali Imran, 136:
أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Artinya : “Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal “.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat ampunan dan surga Allah…………….!