Sabtu, 14 Mei 2011

Adakah Kebanggaan Yang Tersisa?

Adakah Kebanggaan Yang Tersisa?
Pada abad pertengahan ada seorang hukama’ yang bernama Ahnaf bin Qais. Suatu kesempatan ia pernah ditanya  oleh orang-orang yang gelisah melihat perilaku masyarakat yang sedang mengalami berbagai kebobrokan dalam kehidupan, yang sudah tidak lagi mementingkan nilai-nilai kemuliaan.

Wahai tuan guru, dengan kondisi masyarakat seperti sekarang ini, apakah ada yang tersisa pada kita yang masih dapat kita banggakan?.

Hukama’ tadi menjawab: ‘Aqlun Ghoriziyyun (Akal yang jernih). Orang-orang berkata: Tuan, sekarang sangat sulit mendapatkan orang yang akalnya masih jernih, kalau akal jernih tidak punya lalu adakah hal lain yang dapat dibanggakan?, tanya mereka.

Hukama kembali menjawab: Adabun shalihun (sopan santun yang terjaga). Saat ini masyarakat juga sudah tidak lagi menjaga sopan santun Tuan…..! Apakah ada selain dua hal itu yang dapat kita banggakan?.

Jawab Hukama’: Shohibun muwafiqun (sahabat sejati ). Orang-orang pun berkata: waduh…..! sahabat sejati juga  susah didapat, karena orang tidak lagi membela yang benar tetapi membela yang bayar. Masih adakah selain yang tiga itu wahai tuan guru?

Jawab Hukama’: Qalbun murabbithun (hati yang peka ), Wah, lagi-lagi yang itu juga saat ini jarang  didapat, kata orang-orang. Sekarang kebanyakan orang hatinya gelap, tidak peka, nuraninya mati. Apakah masih ada yang dapat kita banggakan wahai tuan guru?.

Sang Hukama’ kembali menjawab:  Thul as shumti (banyak diam). Benar, benar, benar, sebab diam itu emas, kata mereka. Namun sejenak kemudian diantara mereka ada yang berkata, tapi tuan guru, sekarang ini, semuanya mau bicara meski asal bicara, walaupun yang dibicarakan bukan bidang ilmu yang dikuasainya, sekarang ini sulit mencari orang yang mau diam merenung. Kalau lima hal itu juga tidak punya, masih adakah yang dapat kita banggakan tuan guru?.

Sang guru menjawab, Ada, dan ini adalah yang terakhir, yaitu; Mautun hadirun (hadirnya kematian). Mendengar jawaban dari Hukama tersebut semua yang hadir terdiam dan tertunduk, sejenak kemudian terdengar suara serempak mendesah mengucapkan kalimat “Subhanallaaah”.

Jadikan kisah di atas untuk menjadi renungan bagi kita semua……………….!

Kamis, 12 Mei 2011

Motivasi Dalam Melaksanakan Ibadah


Motivasi Dalam Melaksanakan Ibadah
Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya : Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Dalam menjalankan ibadah kepada Allah, manusia memiliki beragam motivasi, diantaranya adalah:
  1. Seperti sifat pedagang: Yaitu dalam menjalankan ibadah kepada Allah karena ada sesuatu yang diharapkan dari Allah, seperti mengharapkan pahala, syurga dan lain-lain.
  2. Seperti sifat budak: Dia melaksanakan ibadah hanya karena takut kepada Allah, sama seperti seorang budak yang mengerjakan tugasnya hanya sekedar takut kepada tuannya, bukan karena kesadaran yang timbul dari rasa tanggung jawabnya. Biasanya orang yang seperti ini dalam melaksanakan tugasnya apabila ada tuannya semata, namun apabila tuannya sudah tidak mengawasinya dia selalu berleha-leha dan bermalas-malasan. Begitu juga seseorang dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah, apabila dia tidak merasakan bahwa dirinya sedang diawasi oleh Allah maka dia selalu melalaikan ibadahnya.
  3. Sifat orang ‘arif : Dia melaksanakan ibadah karena ia sadar betapa banyak nikmat yang telah ia peroleh dari Allah, untuk itu ia lakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah, karena ia merasa pantas melakukannya tanpa ada keterpaksaan, dan bukan pula sebagai balas jasa kepada Allah, sebab karunia yang diberikan Allah tidak dapat dibalas dengan sesuatu apapun. Dia merasakan bahwa ibadah yang dilaksanakannya semata-mata sebagai pengabdian seorang hamba kepada Allah dan tidak ada pamrih dibalik ibadah yang dilaksanakannya. Dengan dasar ibadah yang seperti ini biasanya seseorang dalam melaksanakannya tidak ada paksaan dari pihak manapun, karena itu ibadah yang dilaksanakannya tentu akan dirasakan sebagai suatu kenikmatan yang tiada taranya, dan pada akhirnya melalui pelaksanaan ibadah tersebut dia akan mendapat ketenangan batin, bahkan hikmah dari ibadah yang dilaksanakannya akan mampu membentuk kepribadian yang baik sehingga prilakunya dalam kehidupan sehari hari selalu menunjukkan sikap yang baik dan benar.
  4. Sifat Robot : Biasanya orang yang seperti ini dalam melakukan ibadah tidak ada motivasi apa-apa. Ia melakukan ibadah hanya menurut apa yang diperintahkan, tanpa mengetahui apa tujuan dari perbuatan yang dia laksanakan. Ibadah yang seperti ini tentu tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap pelakunya, sebab ibadah yang dilakukan hanya sebatas rutinitas ritual belaka ( hanya sekedar melaksanakan kewajiban ).
Dari uraian di atas coba renungkan dimana posisi ibadah kita selama ini......................?. Semoga ibadah kita semakin baik nilainya di sisi Allah.
 امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ

Rabu, 11 Mei 2011

Indahnya Hidup Bermasyarakat Dengan Berzakat


Indahnya Hidup Bermasyarakat Dengan Berzakat
Dalam kehidupan di masyarakat, strata manusia secara umum terbagi kepada dua keadaan, yaitu Kaya dan Miskin. Kaya dan miskin sepertinya menjadi dua sisi yang berseberangan dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Sebutan kaya tentu tidak aka ada kalau tidak ada yang miskin, demikian pula sebaliknya.
Dalam keadaan yang demikian, dimana sebenarnya posisi Islam sebagai agama yang ajarannya membawa rahmat untuk sekalian alam?. Jawabannya adalah, bahwa Islam berada diantara keduanya. Artinya Islam tidak pernah melarang seseorang menjadi orang kaya, disisi lain Islam juga sangat peduli terhadap orang-orang miskin. Penyeimbangan posisi antara si kaya dan si miskin inilah salah satu missi diturunkannya agama Islam, yang bertujuan untuk menata kehidupan manusia dalam bermasyarakat agar bagaimanapun terjadi kesenjangan sosial ditengah-tengah kehidupan masyarakat, kecemburuan sosial tidak akan terjadi.
Nabi Muhammad SAW. sebagai teladan utama yang menjadi sumber panutan yang terbaik bagi para pengikutnya, memposisikan dirinya untuk akrab dengan orang-orang kaya dan orang-orang miskin.
Kaya dan miskin adalah strata kehidupan yang secara otomatis akan timbul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Untuk menjaga kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat tersebut, tentu tidak boleh dibiarkan masing-masing berposisi di tempat yang saling terpisah dan berjauhan. Itulah sebabnya Allah SWT. menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa di dalam harta orang kaya terdapat bagian yang menjadi hak orang lain ( yaitu orang-orang miskin ). Untuk itu hak-hak mereka harus dikeluarkan dengan cara-cara yang baik dan benar sesuai dengan ketetapan yang telah di syari’atkan oleh Allah SWT. Dalam hal ini adalah berzakat, berinfaq dan bersedekah.
Firman Allah dalam surat Al-Ma’arij 24-25 :
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ ﴿٢٤﴾ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿٢٥﴾
Artinya: “…….dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), “.
Dengan dikeluarkannya zakat dari harta yang dimiliki oleh orang yang kaya, itu berarti bahwa  hartanya telah dibersihkan dari daki-daki kekufuran dan ia terhindar dari memakan atau mengambil hak orang lain. Sementara si miskin akan terangkat harkatnya karena adanya perhatian dari saudaranya yang kaya, namun tidak boleh hidup berpangku tangan dan bermalas-malasan. Bila demikian yang terjadi di masyarakat, maka dalam kehidupan masyarakat tersebut akan tercipta kehidupan yang penuh dengan kasih sayang, sebab dihati orang yang kaya tentu tidak ada lagi kesombongan dan di hati orang yang miskin tidak ada kedengkian dan kebencian, hidup mereka akan terasa aman, nyaman, tentram, dan damai.
Oleh sebab itu berzakat, berinfaq dan bersedekah memang harus benar-benar membudaya di masyarakat, kuncinya tidak lain adalah bahwa di hati mereka-mereka yang memiliki harta memang harus ada semangat untuk berzakat atau bersedekah.
Semoga masyarakat seperti ini tercipta di tengah-tengah kehidupan kita…………….!

امـِـيْــنَ يَـا رَبَّ الـْعـَالـَمِـيْـنَ


Selasa, 10 Mei 2011

Kemunkaran Musuh Kita Bersama

Kemunkaran Musuh Kita Bersama
Tugas besar dalam dakwah Islam adalah melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, maksudnya mengajak ummat untuk berbuat kebaikan dan mencegah manusia dari berbuat yang munkar. Mengajak kepada kebaikan sesungguhnya lebih mudah daripada mencegah kemunkaran, sebab mencegah kemunkaran akan lebih menghadapi resiko dibandingkan melaksanakan Amar Ma’ruf. Perlu disadari bahwa kemunkaran itu sendiri adalah merupakan produk dari tingkahlaku manusia yang berasal dari kesuksesan syaitan dalam membujuk hati dan pikiran manusia.
Tatkala keimanan dan nilai-nilai moral pada diri seseorang begitu lemah maka bisikan sesat “ sang penggagas” kemunkaran pun merasuk menguasai dirinya, yang mendorong orang menjadi fasiq. Kebiasaan berbuat munkar adalah menjadi bagian  dari cara hidup orang-orang munafiq. Allah menjelaskan tentang hal ini dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 67:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik “.
Terhadap orang-orang munafiq ini Allah mengingatkan akan siksanya kelak di akhirat, seperti firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 68:
وَعَدَ الله الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ
Artinya: “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah mela`nati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal “.
Berbuat munkar adalah merupakan potensi riel dalam kehidupan setiap manusia. Hanya seberapa mampu seseorang melakukan pengendalian diri untuk mencegah dan menahan diri  dari perbuatan munkar tersebut, tentu terpulang kepada kemampuan manusia menguasai dirinya sendiri. Untuk itu, Allah memerintahkan manusia untuk mendirikan shalat, sebab diantara hikmahnya adalah mempu mencegah manusia dari berbuat keji dan munkar. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 45:
وَأَقِمِ الصَّلَوةَ إِنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ .....................
Artinya: “ ..........  dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.  “.
Perhatikan pula nasshat Luqman kepada anaknya, nasehat tersebut diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 17:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الامُورِ
Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) “.
Pada saat seseorang mampu mengendalikan diri, itu adalah indikasi bahwa dia bisa terhindar dari pebuatan keji dan munkar, dan manakala perbuatan keji dan munkar sudah dapat dicegah maka kehidupan manusia baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar akan merasakan ketentraman, kedamaian dan keamanan, dan itu adalah dambaan semua orang.
Semoga kita mampu mencegah kemunkaran dari diri kita dan dari kehidupan masyarakat.

Senin, 09 Mei 2011

Jalan Menuju Kebahagiaan

Jalan Menuju Kebahagiaan
Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq: 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الانسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الاكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الانسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “.

Dalam pandangan Islam, untuk mendapatkan kebahagiaan ada tiga pengenalan pokok yang harus diketahui oleh manusia. Hal itu berangkat dari firman Allah di atas, yaitu:
  1. Pengenalan manusia kepada Allah. 
  2. Pengenalan manusia kepada dirinya sendiri. 
  3. Pengenalan manusia kepada ilmu pengetahuan dan alam lingkungannya.
Pengenalan Manusia Kepada Allah.
Seseorang yang tidak mengenal Allah akan mendapatkan akibat:
  1. Hidupnya akan dilanda kesengsaraan. 
  2. Hidupnya akan dikendalikan syaitan. 
  3. Hidupnya akan seperti hewan.
Jalan untuk mengenal Allah antara lain adalah:
  1. Mengenal adanya Allah. 
  2. Mengenal akan keesaanNya.
  3. Mengenal akan sifat-sifatNya. 
  4. Mengenal nama-namanNya. 
  5. Mengenal hukum-hukumNya.
Pengenalan Manusia Kepada Dirinya Sendiri:
Manusia yang tidak mengenal dirinya adalah:
  1. Manusia yang sedang tidur dan yang sedang pingsan. 
  2. Manusia yang sedang mabuk, baik mabuk yang disengaja maupun yang tidak disengaja. 
  3. Manusia yang gila.
Adapun yang harus dikenal manusia tentang dirinya adalah:
  1. Struktur tubuhnya: Sebagai makhluk terindah dari ciptaan Allah. 
  2. Statusnya di bumi ini:  Sebagai hamba Allah. 
  3. Martabatnya: Lebih mulia dari makhluk yang lain. Hal ini akan tercapai apabila manusia itu tetap beriman dan beribadah kepada Allah. 
  4. Sifat-sifatnya: Harus memiliki sifat-sifat yang terpuji. 
  5. Fitrahnya: Percaya akan adanya Tuhan. 
  6. Fungsinya: Sebagai Khalifah Allah. 
  7. Identitasnya: Sebagai ummat Islam. 
  8. Musuhnya: Hawa nafsu, syaitan, orang-orang kafir yang berupaya menariknya kepada kemusyrikan. 
  9. Teman hdupnya: Secara khusus adalah sesama ummat Islam. 
  10. Nasibnya: Ada yang baik dan ada yang buruk. 
  11. Tanggung jawabnya: Kepada dirinya sendiri, kepada keluarga dan kepada masyarakat.
  12. Perjalanan hidupnya: Menuju negeri akhirat. 
  13. Ciri khasnya: Hendaknya selalu beribadah.
Yang Perlu Diketahu Manusia Tentang Alam.
  1. Alam adalah ciptaan Allah: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-An’am: 73: “وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ وَيَوْمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّوَرِ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ “. Artinya: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui “. 
  2. Alam diciptakan Allah dengan ukuran tertentu: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qomar: 49:  إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ   Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran“. 
  3. Alam diciptakan Allah dengan hukum perimbangan: Firman Allah dalam surat Ar-Rahman: 7-8:  وَالسَّمَاء رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ  Artinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu“. 
  4. Alam diciptakan Allah dengan hukum sebab akibat: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi: 84:  إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الارْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَباً  Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu “. 
  5. Alam diciptakan Allah untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk kebahagiaan hidupnya: Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Luqman: 20: أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الارْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلا هُدًى وَلا كِتَابٍ مُّنِيرٍ Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan“.
Dengan memiliki pemahaman seperti yang telah dikemukakan di atas, insya Allah seseorang akan memperolah kebahagiaan dalam hidupnya. Untuk itu mari kita terapkan hal tersebut dalam kehidupan kita, semoga kita bahagia di dunia dan akhirat.